e-Journal Kementerian Sosial RI
Not a member yet
599 research outputs found
Sort by
DINAMIKA PSIKOLOGIS PEMENUHAN KEBUTUHAN PENYANDANG DISABILITAS AKIBAT KUSTA DAN IMPLIKASI KESEJAHTERAAN SOSIALNYA. STUDI KASUS DI KOMPLEKS RUMAH SAKIT SITANALA TANGERANG
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika psikologis pemenuhan kebutuhan bagi penyandang disabilitas akibat kusta dan implikasi kesejehteraan sosialnya. Sejalan dengan hal ini masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran dinamika psikologis pemenuhan kebutuhan bekas penyandang disabilitas akibat kusta dan implikasi kesejehteraan sosialnya?. Penelitian dikembangkan dengan pendekatan kualitatif berupa studi kasus di komplek Rumah Sakit Sitanala Tangerang. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi dokumentasi untuk selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitstif. Hasil penelitian menjukkan Dinamika psikologis pemenuhan kebutuhan bagi penyandang disabilitas akibat kusta di komplek Rumah Sakit Sitanala Tangerang bergerak antara tiga unsur dalam struktur kepribadian, yaitu id, ego, dan super ego. Dorongan pemenuhan berupa impuls id yang senantiasa muncul, direspon oleh ego berdasarkan realitas yang dihadapi dengan mempertimbangkan super ego. Untuk mengatasi dorongan id, ego mengurangi tekanan dengan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) seperti denial (penyangkalan diri), represi, sublimasi, rasionalisasi dan displacement. Pada saat yang bersamaan tingkat kesejahteraan sosialnya rendah terkait dengan rehabilitasi sosial yang tidak optimal di rumah sakit, dan kurangnya dukungan sosial dari berbagai pihak terkait. Sejalan dengan hal ini untuk lebih menjamin tingkat kesejahteraan sosial penyandang disabilitas akibat kusta di komplek Rumah Sakit Sitanala Tangerang perlu dioptimalkan keberfungsian Unit Rehabilitasi Sosial dengan merekrut personal yang memenuhi syarat keilmuan untuk tugas tersebut. Pada saat yang sama Kementerian Sosial bersama Dinas Sosial perlu lebih proaktif melakukan kerjasama rehabilitasi dan pemberdayaan sosial sehubungan dengan paradigma yang dibangun dalam UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabiliatas yaitu right based. Berdasarkan intervensi sosial ini diharapkan dinamika psikologis pemenuhan kebutuhan mereka akan lebih produktif.Kata Kunci : Dinamika Psikologis, Pemenuhan Kebutuhan, Penyandang Disabilitas Akibat Kusta, Kesejahteraan Sosia
KONDISI ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA PASUNG, KELUARGA DAN MASYARAKAT LINGKUNGANNYA DI KABUPATEN 50 KOTA
Pasung merupakan salah satu perlakuan yang merampas kebebasan dan kesempatan mereka untuk mendapat perawatan yang memadai dan sekaligus juga mengabaikan martabat mereka sebagai manusia. Pada kenyataannya praktek pemasungan masih banyak terdapat di Indonesia termasuk di Kabupaten 50 Kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: kondisi ODGJ Pasung, kondisi sosial ekonomi, alasan keluarga melakukan paemasungan dan pengetahuan keluarga terhadap ODGJ dan cara pemulihannya, serta pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap ODGJ Pasung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran paralel konvergen (Convergent parallel mixed methodes). Sumber data kuantitatif adalah keluarga ODGJ Pasung, dan masyarakat lingkungannya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan instrumen tertutup (kuantitatif) dan terbuka (kualitatif), observasi, diskusi kelompok dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan kondisi ODGJ pasung masih mengenaskan terutama dalam pemenuhan hak-haknya. Hal ini disebabkan ketidaktahuan keluarga tentang ODGJ dan hak-haknya, dan upaya pemulihan dan rehabilitasi social. Ekonomi keluarga pada umumnya tergolong rendah, sehingga belum bisa fokus mendampingi anggota keluarganya yang ODGJ. Demikian pula halnya dengan masyarakat yaitu masih ada stigma terhadap ODGJ. Mereka belum tahu cara mendukung dan memulihkan (rehabilitasi sosial yang harus dilakukan masyarakat). Berdasarkan hasil penelitian disarankan dinas sosial kabupaten kota bekerja sama dengan dinas kesehatan melakukan kegiatan sosialisasi terhadap keluarga, masyarakat dan pendamping tentang tentang ODGJ, cara pengobatan dan melakukan rehabilitasi sosial dan melakukan kegiatan rehabilitasi sosial berbasiskan keluarga dan masyarakat di kabupaten/kota yang banyak ODGJ Pasung.
Kata kunci: Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), Pemasungan, Peran Keluarga dan Peran Masyarakat
Abstract
Pasung is one of the treatments that deprives them of their freedom and opportunity to receive adequate care and at the same time neglect their human dignity. In fact, the practice of pemasungan is still widely available in Indonesia, including in Kabupaten 50 Kota. The purpose of this research is to know: ODGJ Pasung condition, socio-economic condition, family's reason to do paemasungan and family knowledge to ODGJ and how to recover, and knowledge and attitude of society to ODGJ Pasung. The research method used is convergent parallel mixed method. Quantitative data sources are the ODGJ Pasung family, and the community environment. Data collection is done through interviews using closed instruments (quantitative) and open (qualitative), observation, group discussion and documentation study. The result of the research shows that ODGJ condition of the statue is still harsh, especially in the fulfillment of its rights. This is due to family's ignorance of ODGJ and its rights, and social recovery and rehabilitation efforts. The family economy is generally low, so it can not focus on assisting family members who ODGJ. Similarly, the community is still a stigma against ODGJ. They do not yet know how to support and restore (social rehabilitation to be done by the community). Based on the results of the study, it is suggested that the districts' social offices work together with the health office to carry out socialization activities on families, communities and counselors about the ODGJ, how to treat and conduct social rehabilitation and social rehabilitation activities based on families and communities in districts of ODGJ Pasung.
Keywords: People with mental disorders (ODGJ), stocks of feet in wooden holes, , Family Role and Community Rol
FENOMENA BUNUH DIRI DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL
AbstractThe phenomenon of suicide from mental disorder as the most common causes, symptoms that occur a range of psychiatric conditions of distress. This includes the mental condition of despair, loneliness, anxiety, depression, and it is a lot happening in the Gunungkidul Regency. Descriptive research approach of case study method with the informants specified in purposive sampling, data collection techniques, namely the observation at the site of the suicide incident, interviews with a variety of Government such as police informants related, Office and NGOs are important in the prevention of suicide. The results of the research on the phenomenon of suicide themselves as a human tragedy often occurs in Gunungkidul, perpetrators of the suicide based on gender men more than women. The perpetrators of the most outcome of chronical diseases suicide and depression. Depression is a result of the loss of jobs, insufficient family needs, divorce, infidelity in marriage. While the perpetrators of suicide in older results from chronic illness and loneliness due to the loss of a family member. Almost all of the suicide scene was quiet conditions at home, it can be in the bedroom, bathroom, kitchen means that home is where the most widely as a place to commit suicide. This type of suicide in Gunungkidul tend to egoistik, a person committing suicide because it feels itself a larger importance than social interests. Keywords: Suicide, a phenomenon, the human tragedyÂ
“HEKA HITI HEKA LEHA†SPIRIT BUDAYA PEMERSATU DI TENGAH KELANGGENGAN KONFLIK ORANG KULUR DAN ORANG PORTO KECAMATAN SAPARUA MALUKU TENGAH
Sekalipun banyak kenyataan konflik menimbulkan perpecahan dan kehancuran, tetapi dalam penelitian ini terdapat spirit budaya tertentu yang menjadi kekuatan pengikat antara dua kubu yang setiap waktu berkonflik untuk tetap bisa berdamai serta ada di dalam ikatan solidaritas dan kerjasama yang harmonis. Spirit budaya tersebut adalah: Heka Hiti heka Leha yang mengikat dan senantiasa mempersatukan orang kulur dan porto. Konflik merupakan sebuah konsep yang menjadi simbolisasi dari sebuah proses interaksi sosial yang terjadi dalam bentuk Dis-Asosiatif antara individu atau antar kelompok dalam satu komunitas atau antar komunitas masyarakat. Dalam paradigma konfliktual, konflik menjadi penting dalam rangka menemukan arah perubahan sosial yang dikehendaki. Dalam pengalaman yang spesifik, konflik dapat juga dijadikan sebuah rujukan atau pencapaian berbagai tujuan kehidupan sebuah komunitas. Sekalipun begitu banyak pandangan yang menolak gagasan ini. Bahwa kelanggengan konflik yang terjadi pada sebuah komunitas tidak serta merta dapat menjadi sebuah rujukan pencapaian berbagai kepentingan komunitas. Kelanggengan konflik yang terjadi dalam pengalaman orang Kulur dan orang Porto menjadi sebuah fenomena yang tidak banyak memberikan jawaban atas berbagai kebutuhan masyarakat yang berhubungan dengan rasa aman.Kata Kunci: Kelanggengan konflik dan Heka Hiti Heka LehaÂ
INTEGRASI SOSIAL DI PERDESAAN : KETERKAITAN KAWASAN TRANSMIGRASI DENGAN DESA-DESA SEKITAR
Pengembangan masyarakat lebih efektif dilaksanakan melalui kelembagaan berbasis komunitas dan kawasan. Melalui pendekatan kelembagaan, baik kelembagaan ekonomi maupun sosial dapat mempermudah mengontrol pengambilan keputusan, kebijakan, program, dan pelaksanaan. Kelembagaan dapat menghimpun norma dan aturan yang dibuat dan disepakati dalam mengatur pergaulan hidup dengan tujuan bersama berkisar pada kebutuhan-kebutuhan pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan penelitian adalah menganalisis kondisi integrasi sosial, mempelajari pelaksanaan pengembangan masyarakat yang dikembangkan oleh masyarakat transmigrasi dan merumuskan saran tindak dan pendekatan pengembangan masyarakat yang lebih sesuai dalam pembangunan transmigrasi. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik, kompleks, dinamis, penuh makna dan melihat hubungan gejala yang bersifat interaktif. Melalui kelembagaan dapat mendorong terjadinya dinamika proses seperti interaksi yang intensif, terjadi harmonisasi, toleransi, kegiatan kolektif, dan partisipasi. Dinamika proses yang terjadi menghasilkan integrasi sosial dengan dukungan tiga kekuatan integratif, yaitu koersif di pusat Kota Terpadu Mandiri (KTM), normatif di desa-desa hinterland, dan kawasan KTM dengan integrasi fungsional. Semua unsur melakukan harmonisasi pada derajad tertentu dalam menjamin kelangsungan sistem sosial. Kata kunci: pengembangan masyarakat, integrasi sosial,  transmigrasiCommunity development through community and regional based institutions has seen as an effective approach. Those approach, both economic and social institutions can facilitate in the controlling of decision-making, policy, program, and implementation. The research objective is to analyze the conditions of social integration, between migrant and origin community. The research is a qualitative and uses case studies that looks at social reality as something holistic, complex, dynamic, and full of meaning, as well as seeing the interactive relationship of symptoms. Institutions can lead to such intensive interaction processes, harmonization, tolerance, collective activity, and participation. The dynamics of the processes that occur will generate social integration with the support of three integrative forces, namely coercive forces in the center of the Integrated Independent City (KTM), normative forces in the hinterland villages, and  the KTM regions with functional integration. All elements harmonize at certain degrees in ensuring the continuity of the social system.Keywords: community development, social integration,  transmigrationÂ
FAKTOR-FAKTOR DETERMINAN PENYEBAB PERILAKU AGRESIF REMAJA DI PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA BANDUNG
Secarahipotetis, faktor-faktor determinan penyebab terjadinya perilaku agresif dalam penelitian ini dimodelkan sebagai a). Faktor keluarga/orang tua, b). Faktor rekan sebaya, c). Faktor lingkungan sosial/tetangga, d). Faktor media massa, e). Kondisi internal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji struktur model penyebab terjadinya perilaku agresif di kalangan remaja yang tinggal di permukiman kumuh. Disamping itu juga untuk menguji apakah faktor-faktor penyebab tersebut signifikan berpengaruh terhadap terjadinya perilaku agresif? Penelitian ini melibatkan 311 responden remaja dari tiga kelurahan dengan level kekumuhan yang berbeda. Hasil uji permodelan (SEM) menunjukkan bahwa model hipotetis penyebab perilaku agresif remaja yang tinggal di kawasan permukiman terbukti fit, dan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi perilaku agresif remaja juga terbukti signifikan berpengaruh terhadap perilaku agresif remaja, kecuali faktor rekan sebaya. Beberapa saran direkomendasikan terkait dengan pencegahan perilaku agresif di kalangan remaja yang tinggal di permukiman kumuh yang terbagi ke dalam beberapa aras, yaitu aras mikro, messo maupun makro yang dapat diimplementasikan baik secara individu, keluarga, kelompok, organisasi maupun komunitas.Kata kunci: perilaku agresif, keluarga, rekan sebaya, lingkungan sosial.The research uses hypothesis that aggressive behavior has been clustered into five main root causes that cover a). Family, b). Peers, c). Socialenvironmental/neighbors, d). mass media, and e). Internal conditions. The objective of the study is examine the hypothesis. Moreover, that’s also intended to examine how significant of those factors on the aggressive behavior. This study involved 311 adolescents as respondents from three villages with different levels of slums. The modelling test (Structural Equation modelling) has showed that the hypothetical model causes of adolescent aggressive behavior is fit, and the factors are suspected to affect in adolescent aggressive behavior are significant, excluding peers. This study recommends that preventing of aggressive behavior among adolescents who live in slums area which are divided into several levels; which are in micro, messo and macro level. They are could be implemented either as individuals, families, groups, organizations and communities.Keywords: aggressive behavior, family, peer group, social environment
PEMBERDAYAAN SUKU KAILI DA’A DI KABUPATEN SIGI
abstrakKomunitas Adat Terpecil merupakan salahsatu masalah sosial di Indonesia yang perlu diberdayakan, agar dapat hidup sejahtera lahir dan batin. Penelitian tentang Pemberdayaan Suku Kaili Da’a Berbasis Religius Selaras Dengan Pancasila bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah hasil pemberdayaan Suku Kaili Da’a yang berbasis religius. Adapun aspek yang diberdayakan, yaitu permukiman, pendidikan, kesehatan, kepercayaan dan agama. Lokasi penelitian di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Jenis penelitian deskriptif kualitatif. Jumlah informan 10 orang yang dipilih secara purposive dari tokoh adat, tokoh agama, instansi yang menangani KAT serta warga KAT. Pengumpulan data menggunakan panduan wawancara, observasi, pemotretan, telaah dokumen dan internet. Analisis data menggunakan SWOT. Kesimpulan; Keberhasilan Pemberdayaan Suku Kaili Da’a Berbasis Religius Selaras Dengan Pancasila dipengaruhi oleh seorang tokoh agama yang berjuang dengan gigih untuk memberdayakan Suku Kaili Da’a dengan menerapkan metode dakwah dari walisanga yang bersikap toleren terhadap budaya lokal dengan memperbaiki perumahan, pendidikan, kesehatan dan agama. Rekomendasi kepada Kementerian Sosial RI diharapkan dapat menerapkan modal pemberdayaan KAT berbasis religius dengan memberikan fasilitas pemberdayaan KAT kepada para tokoh agama yang bersedia berjuang untuk menyejahterakan KAT lahir dan batin.  Kata Kunci: Pemberdayaan, Suku Kaili Da’a, Relig
PELAYANAN SOSIAL YAYASAN CIQAL TERHADAP PENYANDANG DISABILITAS
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelayanan sosial Yayasan CIQAL terhadap penyandang disabilitas. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam (in-depth interview), observasi, dan telaah dokumen, adapun informan penelitian ini adalah pengurus Yayasan CIQAL, penyandang disabilitas, dan pengusaha yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dalam bentuk deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yayasan CIQAL merupakan salah satu mitra pemerintah yang memberikan perhatian terhadap penyandang disabilitas. Yayasan CIQAL merupakan wadah bagi penyandang disabilitas sebagai pusat untuk pengembangan kegiatan yang berkualitas untuk mengembangkan kualitas sumber daya/kapasitas diri penyandang disabilitas agar dapat menjalankan peran dan fungsi sosialnya dalam kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas maka direkomendasikan kepada Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial Republik Indonesia untuk memberikan perhatian dan dukungan terhadap Yayasan CIQAL melalui kesempatan mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan kepada pengurus yang erat kaitannya dengan pekerjaan sosial guna meningkatkan kapasitas dirinya dalam memberikan pelayanan sosial kepada penyandang disabilitas. Kata Kunci: Pelayanan Sosial-Yayasan CIQAL-Penyandang Disabilita
MANFAAT KELOMPOK DUKUNGAN BAGI ORANG DENGAN SCHIZOPHRENIA UNTUK MENINGKATKAN PENGENDALIAN DIRI : Studi Kasus Pada Komunitas Peduli Schizophrenia Indonesia (KPSI) Jakarta
Orang dengan schizophrenia (ODS) dicirikan dengan lemahnya pengendalian diri atas tingkah lakunya yang telah dikuasai oleh gejala positif dan negatifnya. Akibatnya, ODS mengalami kesulitan untuk mempertahankan kedudukannya di masyarakat. ODS kehilangan pekerjaan, diisolasi, renggangnya relasi sosial, dan tergantung pada orang lain. Pokok bahasan penelitian ini terletak pada peningkatan kemampuan pengendalian diri untuk mengembalikan pemulihan ODS seperti sebelum mengalami schizophrenia melalui pemanfaatan kelompok dukungan. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang mampu mendeskripsikan tentang elemen pokok pengendalian diri yang diperoleh ODS agar dapat berfungsi kembali di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik purposive samping untuk memilih lima orang ODS sebagai informan penelitian ini. Teknik pengumpulan data mempergunakan wawancara mendalam (in-depth interview), observasi, dan studi dokumentasi. Penelitian ini berlokasi di Komunitas Peduli Schizophrenia Indonesia (KPSI) sebagai salah satu kelompok dukungan di Jakarta. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kunci pengendalian diri ODS terbagi menjadi dua besaran yaitu pengendalian diri atas pikiran dan pengendalian diri atas emosi. Pengendalian diri atas pikiran meliputi mengenali kelemahan, kepekaan terhadap lingkungan, berpikir logis terhadap halusinasi dan delusi, beraktivitas, dan memperbaiki cara pandang. Pengendalian emosi meliputi kemampuan mendeteksi tekanan pemicu depresi, berpikir positif atas stigma, mengendalikan kecemasan, mengakui dan menerima identitas diri. Kemampuan pengendalian diri, menjadi syarat ODS kembali pulih agar siap memasuki lingkungan sosialnya. Kata Kunci: Kelompok dukungan, Pengendalian Diri, Orang dengan Schizophrenia abstractPeople with Schizophrenia have been characterized by lack of self-control over their behaviour due to their overwhelmed by both positive and negative symptoms. Consequently, people with schizophrenia have difficulty on maintaining their existence within their community. There are some cases that people with schizophrenia are lose their jobs, being isolated, tenuous social relationship and depend on others. The subject of this study has concentrated in the improvement of self-control ability to restore the recovery of people with schizophrenia, as before have experienced schizophrenia through the use of support groups. This research is addressed to describe the basic elements of self-control that help people with schizophrenia to reintegrate with their society. This research uses qualitative approach by using purposive sampling technique to choose five people with schizophrenia as informants. Data collection techniques using in-depth interview, observation and documentation studies. This research has been conducted in the Komunitas Peduli Schizophrenia Indonesia (KPSI) as one of support groups in Jakarta. The results of the study shows that the key element of self-control for people with schizophrenia consist of self-control over the mind and self-control over emotion. Self-control over the mind includes recognizing self-weakness, self-sensitivity, logical thinking facing hallucination and delucions, engaging and improving the worldview. Emotion control includes the ability to detect the pressure of the depression triggers, positive thinking about stigma, controlling anxiety, recognizing self identity. Self-control is a requirement for people with schizophrenia to recover and reintegrate with their communities  Keywords: Support Group, Self-Control, People with Schizophrenia Â
KONTRIBUSI KETERHUBUNGAN TERHADAP KESEJAHTERAAN LANJUT USIA DAN IMPLIKASINYA BAGI PEKERJAAN SOSIAL
In social work, spirituality is understood around the search of meaning, life purpose, transcendence, and connectedness. Connection with all of being out of the self is one of the research findings on the older adults’ spirituality. This research explored how the elders live spirituality which is expressed partly through the way they respond life experiences and sufferings. In addition, the exploration was also steered to understand how the elders’ spirituality contributes to their well-being. This qualitative study recruited eleven older persons as beneficiaries of institutional and home care social services. NVivo software was used to help to analyze data and to manage the coding results in a simple manner. The theme connectedness is reflected by some elements ranging from relationships, intimacy, isolation, to prayer. These elements have significant impact in shaping the elderly well-being. As the research implication, integrating spirituality into social work theory can be represented by the theme connectedness, that is by broadening the concept of person and environment in the person-in-environment theory