e-Journal Kementerian Sosial RI
Not a member yet
599 research outputs found
Sort by
MENGENAL PERILAKU TANTRUM DAN BAGAIMANA MENGATASINYA
Secara konsep, tantrum merupakan hal yang baru bagi kebanyakan orangtua, padahal padakenyataannya perilaku ini adalah hal yang lumrah dialami oleh orangtua dalam pengasuhan anak.Perilaku tantrum adalah perilaku yang normal pada anak yang berusia 15 bulan sampai 6 tahun. Karenaitu, orangtua tidak perlu risau jika anak mengalami hal ini. Sekalipun dalam bentuk perilaku yang agresif,perilaku ini bukanlah perilaku permanen yang abnormal. Ini terjadi karena ketidaknyaman yang dirasakanoleh anak dengan beberapa sebab seperti lapar, ngantuk, sakit, keinginannya terhalangi, orang tua salahmerespon kebutuhan anak, diserang atau dikritik, dirampas permainannya atau bertemu dengan orangasing dan beberapa sebab lainnya. Pola pengasuhan yang tidak konsisten juga berkontribusi besarterhadap perilaku ini termasuk jika orang tua terlalu memanjakan dan menuruti keinginan anak. Karenaini adalah perilaku normal, maka orang tua perlu meresponnya secara tepat dan proporsional, sebab jikasalah dalam memberikan perlakuan akan berdampak negatif terhadap perkembangan anak. Tulisan inibertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai apa yang dimaksud dengan perilaku tantrum, teorinya,penyebabnya, serta bagaimana cara menghadapi anak yang mengalami tantrum.Kata Kunci: pengasuhan, tantrum, agrsivitas anak
PERUBAHAN SOSIAL DAN KETAHANAN KELUARGA: MERETAS KEBIJAKAN BERBASIS KEKUATAN LOKAL
Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama proses sosialisasi setiap individu sebagaisumber daya manusia yang berkualitas bagi pembangunan. Oleh karena itu, setiap keluarga diharapkanmemiliki kemampuan untuk melaksanakan fungsi dan peranannya dalam aspek ekonomi, sosial, psikis danbudaya. Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, membawa pengaruh yang tidak menguntungkanbagi keluarga, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Sebagian keluarga tidak mampu bertahan, danmengalami perubahan bentuk, struktur, fungsi dan perannya atau keluarga dalam situasi disorganisasisosial. Tulisan ini membahas permasalahan yang dihadapi keluarga seiring dengan terjadinya perubahandan transformasi sosial di masyarakat. Berdasarkan kajian kepustakaan, dewasa ini telah terjadi perubahanperanan dan fungsi keluarga, yang mengakibatkan ancaman dan gangguan terhadap ketahanan keluarga.Kasus yang cukup mencemaskan akhir-akhir ini, adalah tindak kekerasan dan pembunuhan anak dilakukanoleh orang tua dari rumah tangga miskin yang diakibatkan stress dan deprasi. Merespon posisi strategiskeluarga dalam pengembangan sumber daya manusia, maka diperlukan strategi penguatan ketahanankeluarga. Strategi dimaksud berbasis organisasi lokal yang ada di masyarakat , sebagaimana yang sudahdiinisiasi oleh pemerintah. Pada strategi tersebut dikembangkan jejaring kerja antara organisasi lokal,sehingga sumber daya pada mereka dapat disinergikan untuk tujuan bersama mewujudkan ketahanankeluarga.Kata Kunci: perubahan sosial, kebijakan sosial, ketahanan keluarga, kekuatan lokal
PELAYANAN HARIAN LANJUT USIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA ‘BUDHI DHARMA’ BEKASI
Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia diarahkan agar lansia tetap dapatdiberdayakan sehingga berperan dalam kegiatan pembangunan dengan memperhatikan fungsi, kearifan, pengetahuan, keahlian, keterampilan, pengalaman, usia dan kondisi fi siknya. Salah satu upaya tersebut adalah dalam bentuk Program Harian Lanjut Usia (PHLU). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana proses pelaksanaan Program PHLU di PSTW Budhi Dharma dan melihat kepuasan klien sebagai suatu feedback dari proses pelaksanaan program. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi, menggunakan mix methods dengan metode kualitatif dan survey. Dari hasil penelitian diketahui bahwa PSTW Budhi Dharma belum melaksanakan proses tahapan pelaksanaan sesuai standar prosedur yang ditetapkan oleh perencana program (Direktorat Pelayanan Sosial Lanjut Usia). Ditemukanlebih dari setengah sampel klien merasa kurang puas akan kualitas pelayanan yang telah diberikan oleh PSTW Budhi Dharma. Peneliti menyarankan agar perencana dan pelaksana program dapat memperbaiki proses pelaksanaan program
DUKUNGAN SOSIAL BERBASIS KELOMPOK DUKUNGAN SEBAYA DALAM MENGATASI KETIDAKBERDAYAAN ORANG DENGAN HIV/AIDS
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah proses terbentuknya kelompokdukungan sebaya (KDS), bagaimanakah strategi dan pendekatan yang digunakan KDS dan bagaimanakah program-program dukungan sosial yang diberikan oleh KDS untuk mengatasi ketidakberdayaan ODHA. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Untuk mendapatkan subyek penelitian dilakukan dengan cara snowballing sampling, sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, Focus Group Discussion (FGD) dan indepth interview. Hasil penelitian menunjukan bahwa KDS,merupakan kelompok yang tumbuh dari dan oleh ODHA yang bertujuan untuk menyediakan tempat untuk berbagai informasi, saling memberi dukungan dan motivasi. Sementara itu, strategi yang digunakan untuk memberi dukungan sosial meliputi strategi rekrutmen, strategi penjangkauan, menciptakan rasa aman dan aman, strategi pendanaan, strategi membangun jaringan kerjasama, dan strategi pendekatan baik melalui media teknologi informasi maupun secara konvensional. Sedangkan dukungan sosial untuk mengatasi ketidakberdayaan meliputi dukungan informasi-edukasi, emosional spiritual dan dukungan instrumental. Kata Kunci: Ketidakberdayaan, HIV/AIDS, ODHA, kelompok dukungan sebaya, dukungan sosial
PEMBINAAN LANJUT DAN KONDISI EKS PENERIMA MANFAAT DI PANTI SOSIAL BINA RUNGU WICARA (PSBRW) EFATA NAIBONAT KUPANG
Orang dengan kecacatan (ODK) rungu wicara berhak mendapatkan pemenuhan hak-hak dasarnyadalam bidang kesejahteraan sosial. Dalam upaya mewujudkan hal tersebut dilaksanakan programpelayanan kesejahteraan sosial di PSBRW Efata. Program ini tidak berakhir begitu saja setelah klienmeninggalkan program, namun ada kegiatan yang dilaksanakan oleh PSBRW Efata untuk memantaukondisi eks klien yaitu dengan pembinaan lanjut. Tulisan ini akan menyajikan bahasan tentang pembinaanlanjut dan mengulas bagaimana kondisi eks klien. Pada kasus empat eks klien ODK diketahui meningkatkapasitasnya dengan keterampilan yang dimiliki, dan semakin berdaya ke arah kehidupan normatif secaraú sik, mental dan sosial.Kata Kunci: kecacatan, pembinaan lanjut, keberfungsian sosial
PERSPEKTIF KOMITMEN TIM KERJA DALAM PENGEMBANGAN RUMAH LAYAK HUNI BAGI KELUARGA MISKIN DI BONDOWOSO
Artikel ini membahas bagaimana komitmen tim kerja dalam implementasi program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH) oleh Kementerian Sosial di Kabupaten Bondowoso. Komitmen tim kerja ini perlu dilakukan karena merupakan salah satu pendukung keberhasilan yang penting dalam proses pelaksanaan kegiatan rehabilitasi rumah tidak layak huni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi kinerja pelaku kegiatan RS-RTLH, baik di daerah maupun di tingkat pusat. Keberhasilan program rehabilitasi rumah tidak layak ini akan ditentukan dari dinamika kerjasama tim yang berhubungan dengan komitmen tim kerja itu sendiri sehingga pelaksanaan kegiatan dapat tercapai dengan lancar dan tepatwaktu. Kata kunci: Keluarga miskin, rumah layak huni, tim kerja, komitmen
KESEPIAN DAN ISOLASI SOSIAL YANG DIALAMI LANJUT USIA: TINJAUAN DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGIS
Masalah yang perlu menjadi perhatian serius bagi lanjut usia (lansia) adalah masalah kesepian danisolasi sosial. Kesepian merupakan kondisi kurangnya hubungan sosial yang terjadi pada lansia. Artikel inimembahas mengenai kondisi kesepian dan kondisi isolasi sosial yang dialami oleh lanjut usia, yang ditinjaudari perspektif sosiologis. Dari perspektif sosiologi pendekatan teoritis kesepian difokuskan pada kontekssosial dimana individu mengembangkan (atau tidak) hubungan atau jaringan sosial. Lebih lanjut hubungansosial tersebut akan ditinjau dari perspektif interaksionisme simbolik. Tulisan ini mengungkapkan bahwajaringan sosial pada lansia berpotensial untuk mengurangi kesepian pada lansia.Kata Kunci: kesepian, lanjut usia, perspektif individ
KEBIJAKAN PENANGANAN KEMISKINAN MELALUI KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUBE)
Komitmen Dunia untuk memerangi kemiskinan dikenal dengan “Global call the action againstPoverty Implementasi MDGs†di Indonesia sesuai dengan Undang Undang Dasar Republic Indonesiatahun 1945 Pasal 34 dan Pancasila. Turunan peraturan yang digunakan untuk penanganan kemiskinan diindonesia meliputi Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 1981 Pasal 3 dan 4 , Undang-Undang nomor11 tahun 2009 Bab II Pasal 3 ayat 91) , Pasal 3 dan Pasal 4. Berbagai program telah dilaksanakanoleh pemerintah dalam upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan. Kementerian Sosial RepublikIndonesia, sejak tahun 1983 telah meluncurkan program P2FM-KUBE (KUBE). Era Kabinet Pembangunansalah satu prio-ritas keberhasilan adalah menurunkan angka kemiskinan dari 14% pada tahun 2009menjadi 8 % atau 10 % pada tahun 2014 sesuai target BAPPENAS. Pencapaian implementasi kebijakanpenanganan kemiskinan dilakukan dengan menganalisis implementasi panduan pelaksanaan KUBEBLPS tahun 2010 mengevaluasi dampaknya (outcome dan impact).Lokasi di 4 provinsi. Hasil Evaluasimenunjukkan bahwa kriteria sasaran program belum mengacu pada Kriteria dari BPS (14 kriteriaPenduduk miskin) dan kriteria Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD). Pada Tataran prosespelaksanaan, belum seluruh tahapan dilaksanakan secara runtut. Setiap lokasi menggunakan Panduanberbeda. Pemilihan pendamping dan mekanisme pembagian tugas dan wewenang antara pusat dan daerahbelum mengacu pada Undang-Undang nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial. KesimpulannyaKUBE masih merupakan program alternative dengan catatan dilakukan beberapa pembenahan dalamtahapan pelaksanaan dan melibatkan masyarakat dalam perencanaan. Rekomendasi dalam pencapaiantujuan antara lain: melibatkan masyarakat dalam pemetaan masyarakat miskin pada tahap persiapan (PRA), menyusun aturan turunan ( Juklak dan Juknis).Kata kunci: kemiskinan, pemberdayaan, KUBE