e-Journal Kementerian Sosial RI
Not a member yet
599 research outputs found
Sort by
MERAWAT DAMAI DARI BAWAH UNTUK KESERASIAN SOSIAL: PERAN KELOMPOK KEAGAMAAN DAN LOKAL DALAM PEMELIHARAAN KERUKUNAN BERAGAMA DI MINAHASA UTARA
Sebagai daerah yang multikultur dan multiagama, Sulawesi Utara dikenal sebagai provinsi yang damai. Selain di sini sulit ditemukan konflik etnorelijius, kehidupan sehari-harinya menunjukkan hubungan harmonis dalam masyarakat heterogen. Dari kajian terdahulu, diketahui resep keharmonisan itu adalah pluralitas masyarakat yang telah menyejarah, dan adanya kearifan lokal serta forum-forum lintas agama, seperti BKSAUA dan FKUB. Penelitian ini memperdalam peran kelompok keagamaan atau kelompok lokal yang mendukung kondisi keserasian sosial itu. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui peran mekanisme lokal dalam memelihara keharmonisan sosial masyarakat Minahasa Utara yang plural. Dengan kajian literatur, wawancara, dan pengamatan lapangan, penelitian inimenemukan peran penting kelompok keagamaan lokal seperti BKSAUA dan FKUB, serta sejumlah ‘Rukun’, dalam formula yang berlapis. Pertemuan rutin dan kerjasama sehari-hari diantara masyarakat dapat secara efektif mengelola berbagai permasalahan dan memelihara keharmonisan. Mekanisme lokal berkontribusi pada keharmonisan suatu wilayah
PEKERJAAN SOSIAL PADA PROGRAM KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK (PKSA) DI KOTA BANDUNG
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menganalisis tentang bagaimana Praktik Pekerjaan Sosial Anak pada Program Kesejahteraan Sosial Anak di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus pada sembilan orang informan Sakti Peksos yang telah menjadi sakti peksos minimal tiga tahun dan sedang menangani kasus di kota Bandung. Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sakti Peksos telah melakukan praktik pekerjaan sosial dengan anak pada PKSA walaupun belum sesuai dengan standar praktik pekerjaan sosial dengan anak seperti dirumuskan NASW (2013) dan berdasarkan perspektif pekerjaan sosial dengan anak menurut Petr.C.G (2004) Praktik pekerjaan sosial yang diteliti dilihat dari: 1) praktik membangun relasi dengan anak sebagaian besar dilakukan dengan memperhatikan perkembangan anak, pendekatan dengan anak; 2) praktik asesmen dengan anak sebagaian besar tergantung pada instrument yang tersedia, namun beberapa informan sudah menggunakan ‘tools’asesmen yang mudah bekerja dengan anak; 3) praktik penyusunan rencana intervensi untuk anak belum optimal, dan masih tergantung pada lembaga dimana peksos bekerja sehingga kurang memperhatikan kepentingan terbaik untuk anak; 4) praktik intervensi belum dilakukan secara optimal karena lebih berorientasi pada penyaluran dana PKSA; dan 5) praktik evaluasi atau review masih belum dilaksanakan dan belum adanya supervisi dari supervisor (senior pekerja sosial) yang memantau praktik pekerja sosial anak
Pengantar Redaksi Volume 5 No.1
Pada Vol. 5 Nomor 01 Tahun 2015, SOSIO KONSEPSIA menyajikan topik-topik yang menarik, terkait dengan intervensi pekerjaan sosial dengan anak, asistensi sosial bagi lanjut usia telantar, penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, dan kampung siaga bencana.Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) merupakan pekerja sosial yang tugasnya memberikan pelayanan sosial profesional di bidang pekerjaan sosial. Salah satunya Sakti Peksos pada program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA). Elly Susilowati dkk, melakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas Sakti Peksos dalam PKSA. Hasil penelitian membuktikan, bahwa Sakt Peksos sudah melaksanakan atau mengimplementasikan intervensi pekerjaan sosial, tetapi belum sesuai dengan standar praktik pekerjaan sosial. Permasalahan kesejahteraan sosial berikutnya yang memerlukan perhatian adalah lanjut usia telantar. Kementerian Sosial telah menyelenggarakan pelayanan bagi mereka melalui program Asistensi Sosial Lanjut Usia (Aslut). Mulia Astuti dkk, melakukan penelitian untuk mendalami implementasi kebijakan Aslut tersebut. Hasil penelitian membuktikan, bahwa implementasi program sudah sesuai dengan standar, dan manfaat program tersebut sudah dirasakan oleh lanjut usia.Permasalahan kemiskinan merupakan fenomena sosial yang banyak menarik perhatian berbagai pihak. Kementerian Sosial sudah menyelenggarakan program bagi keluarga miskin, yang salah satunya adalah bantuan subsidi beras yang dikenal dengan Raskin (sekarang dikenalkan dengan beras sejahtera atau rastra). Ruaida Murni melakukan penelitian mengenai Raskin ini, dan hasilnya membuktikan bahwa Raskin belum dipahami dengan tepat oleh masyarakat di NTB. Sementara di Jawa Tengah sudah dipahami sebagai bantuan bagi keluarga miskin.Sebagai upaya percepatan dan penuntasan penanggulangan kemiskinan, Pemerintah Kabupaten Sragen mengembangkan model Pelayanan Satu Pintu dalam Penanggulangan Kemiskinan. Muhtar dan Indah Huruswati melakukan penelitian mengenai model di Sragen tersebut. Kegiatan yang dapat disinkronisasikan pada model tersebut, yaitu pelayan kesehatan, pendidikan, sosial dan ekonomi. Hasil penelitian tersebut membuktikan, bahwa model tersebut efektif dalam penanggulangan kemiskinan di Sragen.Kemudian, sebagaimana diketahui bahwa Indonsia merupakan negara yang rawan bencana alam. Bencana alam yang terjadi, menimbulkan kerugian fisik, sosial dan ekonomi. Kementerian Sosial sudah menyelenggarakan program untuk mengurangi risiko bencana, yang dikenal dengan Kampung Siaga Bencana. Muhammad Belanawane S melalukan penelitian untuk mengetahui implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat tersebut. Hasil penelitian membuktikan, bahwa implemetasi kebijakan tersebut belum sesuai harapan, karena kebijakan KSB dipahami sebagai hasil bukan sebagai proses atau partisipasi masyarakat dalam pengurangan risiko bencana. Pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat merupakan dua konsep yang tidak dapat dilepaskan. Pemberdayaan masyarakat tidak selalu datang dari pemerintah, tetapi masyarakat diberikan ruang yang luas untuk melakukan pemberdayaan masyarakat sendiri. Budiman Mahmud Muthofa dan Jajang Gunanjaya melakukan model pemberdayaan masyarakat berbasis nilainilai lokal di Saung Angklung Udjo di Bandung. Hasil penelitian membuktikan, bahwa model pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan seni angklung telah memberikan pengaruh positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Model pemberdayaan masyarakat yang menggunakan kekuatan masyarakat sendiri juga terjadi di Sragen. Di kabupaten tersebut masyarakat membentuk paguyuban sebagai wahana untuk memberdayakan diri mereka. Hasil penelitian membuktikan, bahwa kegiatan pertanian yang dikelola masyarakat memberikan pengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat desa.Terbitnya Sosio Konsepsia ini berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan itu, disampaikan terima kasih kepada Mitra Bestari, secara khusus kepada Drs. M. Rondang Siahaan, M.Si, tim editor, kontributor naskah dan unsur manajemen. Disadari bahwa penerbitan ini masih ada kekurangan, dan oleh karena itu saran dan kritik sangat diharapkan untuk penyempurnaan volume dan nomor berikutnya
PERAN LEMBAGA LAYANAN TERPADU DALAM PERCEPATAN PENGENTASAN KEMISKINAN (Studi Kasus di Kota Payakumbuh)
Pemerintah daerah mempunyai peran strategis dalam peningkatan kesejahteraan warganya. Kajian kualitatif di Kota Payakumbuh dengan teknik pengumpulan data: wawancara dan diskusi dengan pihak-pihak terkait penyelenggaraan layanan terpadu, serta studi dokumentasi dengan memanfaatkan dokumen yang relevan, membuktikan adanya upaya peningkatan kesejahteraan kelompok rentan khususnya keluarga miskin melalui pelayanan dasar bidang pendidikan dan kesehatan, meskipun masih menggunakan data PPLS tahun 2011, namun telah dilakukan verifikasi terlebih dahulu. Dalam bidang pendidikan dan kesehatan, telah dilakukan layanan bagi 438 keluarga miskin dalam kurun waktu Mei sampai dengan Novenber 2015 dengan menjalin kemitraan dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial Mitra Kenanga. Bantuan perbaikan rumah tidak layak huni dan santunan bagi lanjut usia terlantar juga telah dilakukan melalui kemitraan dengan BRI, Baznas, dan Lazismu. Upaya-upapa tersebut perlu terus dikembangkan dengan meningkatkan status kelembagaan, sumberdaya manusia, sarana prasarana, dan penganggaran
GAYA PENGASUHAN DAN KECERDASAN EMOSI ANAK
Kajian Mengasuh Anak dengan Kecerdasan Emosi, bertujuan untuk mengenalkan pada orang tua bahwa aspek kecerdasan intelektual saja tidak cukup bagi kesuksesan dan prestasi anak saat dewasa nanti. Anak yang pintar dapat masuk ke perguruan tinggi tetapi belum menjamin anak sukses dimasa depan. Kecerdasan emosi memberi solusi agar anak tidak hanya pandai secara intelektual namun juga mampu berelasi dan memiliki kepribadian menyenangkan, Kemampuan tersebut dapat dicapai dengan mengenal emosinya, mengelola emosi sendiri, memotivasi diri, mengenal emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. Orang tua sebagai role model perlu berlatih untuk memiliki kecerdasan emosional yang mumpuni, sehingga pengasuhan menjadi efektif. Kecerdasan emosi dapat diajarkan pada setiap rentang usia, namun lebih efektif hasilnya jika sudah dilatih sejak anak usia balita. Berbagai strategi dan cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional baik bagi anak maupun orang tua, dan orang tua dapat mengenal ciri-ciri seorang anak yang telah memiliki kecerdasan emosi. Orang tua harus berlatih dan berlatih terus agar mencapai hasil optimal, mempertahankan kecerdasan emosi, maka orang tua sebagai pembimbing anak, berperan aktif dalam mendidik emosi anak, mengekpresikan perhatian pada perkembangan anak, mencintai dengan tulus, mendengarkan dengan seksama saat anak bercerita. Beri kesempatan anak untuk bersosialisasi sejak dini, berorganisasi agar anak dapat mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Kata Kunci: orang tua, kecerdasan emosi, pengasuhan,Â
RENCANA TINDAK LANJUT DALAM PENANGANAN KEKERASAN TERHADAP ANAK
Kekerasan anak baik fisik, emosi maupun seksual akhir-akhir ini sangat memprihatinkan karena jumlahnya semakin meningkat, dan pelakunya adalah orang-orang terdekat dengan korban. Kejadiannya bukan hanya di kota-kota besar tetapi sudah sampai ke kabupaten hingga pelosok perdesaan. Sementara lembaga kesejahteraan sosial yang ada belum bisa menjangkau korban karena faktor geografis dan  sejumlah keterbatasan yang dimiliki lembaga tersebut. Berbagai undang-undang hingga Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah diterbitkan. Di tingkat daerah juga telah ada perda, pergub hingga peraturan bupati/walikota, namun implementasinya masih banyak kendala. Penempatan Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) oleh Kementerian Sosial hingga kabupaten/kota merupakan salah satu upaya untuk merespon kasus-kasus kekerasan anak secara cepat dan tepat hingga ke pelosok perdesaan. Kata kunci: Respon plan, kekerasan anak, pekerja sosia
DUKUNGAN KELUARGA BAGI KESEJAHTERAAN LANJUT USIA
Pemenuhan kebutuhan dan hak-hak lanjut usia merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat termasuk keluarga. Permasalahannya adalah masih banyak lanjut usia yang belum terpenuhi kebutuhan dan hak-haknya baik disebabkan oleh faktor kemiskinan maupun karena kurangnya pengetahuan keluarga dan masyarakat tentang kebutuhan dan hak-hak lanjut usia, dan upaya atau cara-cara pemenuhannya. Tulisan ini  bertujuan untuk mengetahui pokok-pok pikiran tentang dukungan keluarga bagi kesejahteraan lanjut usia. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan data sekunder tentang dukungan keluarga bagi kesejahteraan lanjut usia. Hasil kajian menguraikan tentang keluarga dan fungsi-fungsinya, jenis-jenis dukungan keluarga, kesejahteraan lansia yang meliputi kebutuhan dan hak-haknya berdasarkan pendapat para ahli dan peraturan perundang-undangan. Disamping itu juga dikemukakan pokok-pokok pikiran tentang kegiatan dukungan keluarga bagi kesejahteraan lanjut usia. Untuk mempercepat perluasan jangkauan pelayanan dan rehabilitasi bagi lanjut usia, direkomendasikan kepada pemerintah, pemerintah daerah(provinsi, kanupaten/kota), dan pihak-pihak terkait yang peduli kepada kesejahteraan lanjut usia  untuk mengembangkan kegiatan “Dukungan Keluarga bagi Kesejahteraan Lanjut Usia†di seluruh Indonesia.Â
PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA GENERASI MUDA DAN UPAYA REHABILITASINYA
Permasalahan peredaran dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya(Narkoba) menunjukkan peningkatan menyolok, dengan diketemukannya peningkatan jumlah kasus dari tahun ke tahun. Sebagai hal memprihatinkan yang terlibat pada umumnya adalah generasi muda, dimana mereka diharapkan sebagai penerus bangsa yang berkualitas. Tidak semua yang terlibat narkoba dari keluarga broken, namun dalam perkembangannya keluarga harmonispun melahirkan anak·anak yang dapat terjerumus narkoba. Berbagai upaya rehabilitasi dilakukan, baik secara fisik, psikis, dan sosial dengan mengguna kan pendekatan pekerjaan sosial
PELAYANAN SATU PINTU PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI SRAGEN
Otonomi daerah memberikan peluang secara luas kepada daerah untuk melakukan terobosan dalam kerangka peningkatan kesejahterakan rakyat. Dalam konteks itu, kajian ini bertujuan memahami apakah Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan sebagai lembaga layanan publik yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Sragen di era otonomi daerah dapat melakukan koordinasi dan sinkronisasi antar satuan kerja, dan berkontribusi secara positif dalampenanggulangan kemiskinan. Kajian kualitatif di Kabupaten Sragen dengan teknik pengumpulan data: wawancara dengan Kepala Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan, diskusi dengan pihak terkait penyelenggaraan penanggulangan kemiskinan terpadu, dan studi dokumentasi dengan memanfaatkan dokumen yang relevan, membuktikan bahwa Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan mampu melakukan koordinasi dan sinkronisasi antar satuan kerja, serta berkontribusi secara nyata dalam penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sragen. Hal itu terlihat dari layanan yang dilakukan melalui Unit Pelayanan TerpaduPenanggulangan Kemiskinan selama ini khususnya bagi warga miskin di bidang: kesehatan, pendidikan, dan sosial ekonomi. Dalam bidang kesehatan diberlakukan Kartu “Saraswatiâ€, “Kartu Sintawati†di bidang pendidikan, dan bantuan rehab rumah sehat layak huni, serta berbagai bantuan lainnya di bidang sosial ekonomi. Terobosan Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan tersebut dapat menjadi salah satu inspirasi bagi daerah-daerah laindalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat sesuai karakteristik daerah masing-masing
MERUMUSKAN KEMBALI DESAIN PROGRAM RASKIN SEBAGAI PROGRAM PERLINDUNGAN SOSIAL
Kajian ini mempunyai tujuan untuk merumuskan kembali desain Program Raskin sebagai bagian dari programperlindungan sosial. Kajian dilakukan melalui studi kepustakaan. Hasilnya menunjukkan bahwa perumusanulang desain Program Raskin harus dilakukan dengan memperhatikan aspek substansi dan sekaligus aspekteknis administrasi fasilitatif. dengan mempertahankan konsistensi antara ide dasar, kebijakan, program danimplementasi Program Raskin sebagai perlindungan sosial sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaandan Batang Tubuh UUD 1945. Beberapa alternatif desain ulang Program Raskin adalah (1) komoditiberas diganti dengan kartu; (2) menyesuaikan kuota Raskin masing-masing rumah tangga dengan jumlahanggotanya; (3) menambah jumlah peserta program; (4) melanjutkan Program Raskin dengan Anggarandan Pendapatan Belanja Daerah (APBD); (5) menggabungkan Program Raskin dengan Program KeluargaHarapan (PKH); dan (6) mengintegrasikan program perlindungan sosial secara keseluruhan. Semua pilihanini dapat dilakukan secara optional dan bertahap atau langsung keseluruhan secara simultan.Kata Kunci: desain, Program Raskin, perlindungan sosial