e-Journal Kementerian Sosial RI
Not a member yet
599 research outputs found
Sort by
PERILAKU COPING PENERIMA PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) MENJELANG EXIT PROGRAMDI JAKARTA UTARA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku coping penerima Program Keluarga Harapan (PKH) menjelang exit program di wilayah Jakarta Utara pada tahun 2012. Permasalahannya adalah ketika PKH mau diakhiri, bagaimana perilaku copingpenerima PKH? Sejalan dengan permasalahan ini, penelitian dikembangkan dengan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan dipilih secara purposif, yaitu penetapan informan berdasarkan kriteria yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, FGD, dan studi dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sejak awal RTSM sudah memiliki perilaku copingtersendiri dalam mengelola tekanan kebutuhan dan permasalahan dalam dinamika kehidupan keluarga dan atau rumah tangganya. Setiap RTSM senantiasa mengembangkan dua bentuk coping behaviour sekaligus, yaitu problem focused copingdan emotion focused coping, hanya saja emotion focused copinglebih dominan. (2) Memasuki program PKH, walaupun tidak merata perilaku coping RTSM mengalami perubahan berupa perkembangan positif. Mereka tetap mengembangkan dua bentuk coping behavior namun lebih berorientasi pada problem focused copingyang lebih rasional. Menjelang exit program emotion focused copingkembali dominan, terutama bagi peserta yang baru mengetahui issue exit program. Namun bersamaan dengan berjalannya waktu dan didukung dengan pendampingan, mereka kembali mengembangkan problem focused coping.(3) Ini berarti bahwa coping behaviourRTSM belum stabil. Indikasi ini menandakan ketidaksiapan RTSM untuk exit program. Sehubungan dengan hal ini pihak penyelenggara perlu mempertimbangkan kembali waktu dan cara yang akan ditempuh dalam proses exit programsehingga perilaku copingpeserta lebih berorientasi pada problem focused copingkarena bentuk copingini terlihat lebih siap
STRATEGI KEBERHASILAN PROSES PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN KREATIVITAS SENI TRADISI: STUDI KASUS SAUNG ANGKLUNG UDJO, BANDUNG, JAWA BARAT
Pemberdayaan masyarakat dan kreativitas sesungguhnya bukan fenomena yang sama, tetapi keduanya dapat saling melengkapi. Kedua hal tersebut dapat bersinergi dengan baik melalui penciptaan lingkungan yang kondusif. Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan lingkungan kondusif yang sengaja dibuat oleh Udjo (pendiri) untuk mendukung aktivitas pemberdayaan dan pengembangan kreativitas seni tradisi. Artikel ini merupakan hasil penelitian kualitatif yang membahas tentang strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kreativitas seni tradisi di Saung Angklung Udjo (SAU). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan Udjo sebagai pendiri SAU dan aktivitas pemberdayaan masyarakat merupakan kunci utama keberhasilan. Strategi Udjo dalam melakukan aktivitas pemberdayaan masyarakat didasarkan pada unsurunsur budaya lokal dan nilai-nilai tradisi Sunda. Filosofi Sunda terkait dengan nilai silih asah, silih asih, silih asuh merupakan dasar yang digunakan dalam memberdayakan masyarakat dan mengembangkan SAU. Sedangkan proses pemberdayaan masyarakat mengacu pada konsepsi nilai budaya masyarakat Sunda yaitu kudu akur sareng batur sakasur (istri), sadapur (keluarga), sasumur (tetangga), dan salembur (masyarakat luas). Berbagai strategi dan proses pemberdayaan masyarakat tersebut telah berhasil mewujudkan cita-cita Udjo untuk berkontribusi dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kreativitas seni angklung
MANFAAT PROGRAM KESEJAHTERAAN SOSIAL DAERAH TERTINGGAL DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN
Pada hakekatnya daerah tertinggal merupakan daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang, dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Salah satunya adalah kabupaten lebak yang masuk sebagai daerah tertinggal. Oleh sebab itu untuk mengetahui seberapa besar manfaat penyelenggaraan program kesejahteraan sosial di kabupaten lebak, maka perlu dilakukan penelitian yang memberikan gambaran tentang manfaat program kesejahteraan sosial yang sudah di berikan kepada masyarakat penerima program. Adapun penelitian ini bertujuan ingin mengetahui bagaimana pelaksanaan program kesejahteraan sosial, apakah program tersebut menghasilkan dampak positif kemanfaatan bagi penerima program, dalam hal ini adalah penyandang masalah sosial, dan faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program.  Kemudian  yang  menjadi  informan  dalam  penelitian  ini  adalah  penyandang masalah sosial dan para pilar partisipan sebagai pelaksana penyelenggaraan program kesejahteraan sosial. Berdasarkan hasil penelitian terungkap bahwa kemanfaatan program kesejahteraan sosial anak dan program PKH lebih dirasakan manfaatnya dibandingkan dengan program kesejahteraan sosial yang lainnya. Untuk itu di rekomendasikan perlunya sharing budget dari APBD I dan APBD II dalam rangka peningkatan kemanfaatan program kesejahteraan sosial. Jumlah TKSK perlu diperbanyak disesuaikan berdasarkan rasio penyandang masalah sosial
FAKTOR RISIKO ANAK MENJADI KORBAN EKSPLOITASI SEKSUAL (KASUS DI KOTA SURABAYA)
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko anak menjadi korban eksploitasi seksual, melalui penelusuran terhadap riwayat anak menjadi korban eksploitasi seksual. Metode kajian menggunakan pendekatan kasus untuk memperoleh informasi tentang mengapa dan bagaimana seorang anak terjebak menjadi korban eksploitasi seksual. Hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan rumah yang tidak nyaman bagi anak, mendorong anak untuk keluar rumah dan bertemu dengan kelompok sebaya yang beresiko. Kelompok beresiko sebagai tempat pelarian anak terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi, bertemu dengan sebaya yang intim menjadi tumpuan rasa aman, kasih sayang. Loyalitasnya pada kelompok sebaya menjadikan perilaku merokok dan minum minuman keras serta bermain ke tempat hiburan malam atau nonkrong di mall sebagai kegiatannya sehari-hari. Pacar sebagai mediator anak berperilaku seksual aktif menjadikan pintu masuk ke dalam praktek eksploitatif secara seksual. Kegalauan ditinggal pacar, tuntutan kebutuhan sehari-hari mendorong anak untuk menerima tawaran pekerjaan di tempat hiburan malam yang berujung pada pelayanan jasa seks. Latar belakang keluarga miskin mendorong orang tua untuk anak-anak menerima tawaran pekerjaan dengan janji penghasilan tinggi tanpa perlu persyaratatan pendidikan. Kondisi tersebut menjebak anak masuk kedalam perangkap pelaku ekploitasi seksual.  Memahami faktor resiko anak menjadi korban eksploitasi seksual, memberi alternatif bagi program pencegahan jangka pendek berupa Peningkatan Kesadaran terhadap masyarakat atau orang tua/keluarga melalui berbagai media komunikasi, informasi dan edukasi tentang dampak tindak kekerasan terhadap anak dalam rumah, baik kekerasan fisik, emosional, seksual dan pengabaian/penelantaran. Pencegahan jangka panjang melalui Pengurangan Kerentanan anak perempuan di wilayah rentan menjadi incaran pelaku eksploitasi seksual dan trafiking anak.Kata Kunci : remaja perempuan, kekerasan, eksploitasi seksua
PEMBERDAYAAN DIRI LANJUT USIA PESERTA PROGRAM ASISTENSI SOSIAL LANJUT USIA TERLANTAR DI KABUPATEN BANGLI
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika pemberdayaan diri peserta Program Asistensi Sosial Lanjut Usia Terlantar (ASLUT) di Kabupaten Bangli Provinsi Bali. Unit analisis penelitian ini adalah lanjut usia peserta Program ASLUT. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan Focus Group Discussion(FGD) dengan strategi triangulasi. Selanjutnya data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Proses pemberdayaan diri lanjut usia peserta ASLUT berlangsung sesuai dengan kondisi masing-masing lanjut usia dan mengalami pasang surut sejalan kinerja pendampingan, terutama dalam mengontrol penggunaan dana asistensi sosial; dan (2) Program ASLUT mampu memberdayakan diri lanjut usia peserta Program ASLUT, yang ditandai dengan munculnya kesadaran aktualisasi diri, berkembangnya aktivitas atas kemauan sendiri, dan menguatnya perasaan berharga dan berguna. Sejalan dengan hasil penelitian ini, mengingat peran kunci tenaga pendamping, kepada penyelenggara program direkomendasikan agar melakukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan pendampingan sehingga pendamping mampu menstimulasi pemberdayaan diri peserta Program ASLUT
GOTONG ROYONG PADA PROGRAM BANTUAN STIMULAN PEMULIHAN SOSIAL DI MAMUJU, SULAWESI BARAT
Gotong royong merupakan salah satu karakter masyarakat Indonesia, namun nilai-nilai kegotongroyongan mulai memudar. Bantuan stimulan pemulihan sosial (bsps) merupakan bantuan tunai yang diberikan kepada korban bencana untuk rehabilitasi/rekonstruksi/relokasi yang dilakukan oleh masing-masing kelompok secara gotong royong. Oleh karena itu penelitian ini mengkaji gotong royong pada pelaksanaan BSPS di Mamuju, Sulawaesi Barat. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik: data sekunder, in-depth interview, dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian BSPS tidak mampu menumbuhkan kegiatan gotong royong dalam kelompok penerima manfaat. Hal tersebut disebabkan tidak terbangunnya kebersamaan sesama anggota, tidak terampilnya dalam membangun rumah, bahkan bantuan stimulan tersebut menimbulkan kecemburuan pada masyarakat yang tidak menerima bantuan
DAMPAK KETIMPANGAN GENDER TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA
perbaikan dari naskah sebelumny
TINJAUAN YURIDIS DAN EMPIRIS PEMENUHAN HAK-HAK PENYANDANG DISABILITAS BERAT
Setiap warga negara mempunyai hak yang sama termasuk penyandang disabilitas dan disabilitas berat. Permasalahannya pemenuhan hak penyandang disabilitas berat semuanya tergantung pada orang lain disekitarnya. Tulisan ini menguraikan tentang tinjauan yuridis dan kondisi empiris pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas berat . Pengumpulan informasi dilakukan melalui kajian data sekunder yang terdiri dari peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penyandang disabilitas, laporan hasil penelitian, hasil monitoring dan evaluasi, dan buku pedoman pelaksanaan yang dikeluarkan oleh Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa secara yuridis atau payung hukum tentang pemenuhan hak-hak-hak penyandang disabilitas sudah lengkap, hanya saja penerapannya secara empiris di lapangan masih belum semua dapat diterapkan. Belum semua penyandang disabilitas terjangkau oleh kegiatan-kegiatan pemerintah. Demikian pula dengan pemerintah daerah belum semua dapat mengalokasikan APBD nya untuk menudukung kegiatan-kegiatan pemerintah untuk penyandang disabilitas berat. Sehubungan dengan itu perlu adanya kesungguhan pemerintah, masyarakat dan keluarga ikut serta dalam pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas berat. Kata Kunci:Penyandang Disabilitas, Penyandang Disabilitas Berat dan Hak-Hak Penyandang Disabilitas Berat.  Â
INTENSI PROSOSIAL PADA REMAJA DI PERMUKIMAN PADAT - Analisis Berdasarkan Konsep Kepadatan Dan Kesesakan
Jumlah penduduk yang besar memaksa lokasi-lokasi perumahan menjadi berdesak-desakan dan daerah permukiman pun dirasakan semakin sempit. Rumah, yang merupakan lingkungan yang dibuat manusia hanya dapat dipandang sebagai struktur fisik saja (house) tidak dirasakan sebagai suatu fenomena yang bersifat psikologis (home). Keadaan di dalam rumah diwarnai dengan suasana yang sesak dan padat sehingga merupakan faktor penunjang yang kuat untuk munculnya bermacam aktivitas sosial yang negatif.Perkembangan kemampuan sosial seseorang terjadi pada masa remaja dan perilaku prososial sangat penting artinya bagi kesiapan remaja dalam mengarungi kehidupan sosialnya, karena dengan kemampuan prososial ini seseorang akan lebih diterima dalam pergaulan dan akan dirasakan berarti kehadirannya bagi orang lain.Remaja akan selalu menerima nilai·nilai dan norma-norma dari lingkungannya yang dinternalisasi menjadi nilai-nilai dan norma-norma dalam dirinya, semuanya itu akan menentukan dirinya menjadi orang prososial atau tidak
PENANGANAN PERMASALAHAN TAWURAN REMAJA MELALUI PUSAT PENGEMBANGAN REMAJA (PPR) DI CIPINANG BESAR UTARA, JAKARTA TIMUR
Tawuran yang sering dilakukan pada sekelompok remaja seolah sudah tidak lagi menjadi pemberitaan dan pembicaraan asing lagi ditelinga kita. Di kelurahan Cipinang Besar Utara, tawuran seolah olah dianggap hal yang biasa dan dilakukan secara rutin, terutama pada malam minggu. Kekerasan sudah dianggap sebagai pemecah masalah yang sangat efektif yang dilakukan oleh para remaja. Hal ini seolah menjadi bukti nyata bahwa remaja leluasa melakukan hal-hal yang bersifat anarkis. Tentu saja perilaku buruk ini tidak hanya merugikan orang yang terlibat dalam perkelahian atau tawuran itu sendiri, tetapi juga merugikan orang lain yang tidak terlibat secara langsung. Pelayanan kepada remaja dapat di lakukan dengan merespon keinginan positif bagi generasi bangsa Indonesia di masa mendatang. Khusus untuk penerapan konsep pengembangan pelayanan positif bagi remaja, Pusat Pengembangan Remaja (PPR) sebagai salah satu media pelayanan sosial bagi remaja yang memiliki orientasi kedepan yang mampu memberikan berbagai menu pilihan bagi para remaja, khususnya yang merasa kesulitan dan memiliki hambatan dalam mengakses pelayanan sosial lainya. Hambatan sosial yang dimiliki para remaja ini di dasari pada beberapa masalah sosial yang selama ini menjadi landasan pelayanan seperti kemiskinan, keterlantaran, serta permasalahan psikologis di lingkungan rumah dan sebagainya. Tujuan penyediaan menu layanan ini, agar PPR tidak lagi terjebak pada pelayanan konvensional dengan menerima sasaran dari remaja yang hanya putus sekolah saja