e-Journal Kementerian Sosial RI
Not a member yet
599 research outputs found
Sort by
RELEVANSI PROGRAM KESEJAHTERAAN SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Studi Kasus Miangas
Studi ini bertujuan memahami gambaran kehidupan masyarakat lokal dari perspektif kebutuhan sosial dasar, sumber daya yang tersedia, dan interuensi pihak luar dalam kerangka pengembangan masyarakat Miangas. Sebagai acuan utama analisis data lapangan digunakan teori community development. Lokasi adalah Miangas, dengan pertimbangan, daerah perbatasan (maritim) dengan negara tetangga (Philipina). Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif, dengan teknik pengumpulan data: indept-interuiew, obseruasi, dan studi dokumentasi. Sampel ditentukan secara purposive. Atas dasar itu, informan terpilih adalah: masyarakat, pemuka masyarakat (formal-informal), dan aparat instansi terkait. Analisis data dilakukan secara kualitatif, dengan tahapan reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil studi menunjukkan, kemiskinan penduduk merupakan masalah utama warga Miangas, sebagai sebab akibat terbatasnya aksesibilitas warga setempat ke sistem sumber di sekitarnya. Meskipun, sebenarnya tersedia sumber daya lokal yang potensial, dan telah banyak interuensi dari pihak luar (pemerintah, nonpemerintah). Untuk itu, disarankan, program-program (kesejahteraan) sosial yang dilakukan pemerintah dan non-pemerintah dan program bidang lainnya relevan dilakukan di Miangas sebagai langkah interuensi dalam kerangka pengembangan masyarakat. Dalam kerangka pengembangan masyarakat itu, pendampingan yang berasal dari komunitas lokal menjadi prasyarat penting, dengan melakukan bimbingan dan motivasi sosial secara formal dan informal sebelumnya sebagai bagian integral upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM) lokal. Pengembangan SDM tersebut setidaknya diarahkan untuk mengembangkan potensi lokal terkait ketersediaan kebutuhan pokok sehari-hari dan pengembangan produk lokal yang bernilaiekonomi
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PASCA BENCANA BERBASIS PENELITIAN
Wilayah NKRI yang gemah ripah loh jinawi, subur dan memiliki kekayaan alam dan laut yangsangat berlimpah, ternyata juga merupakan wilayah yang rawan terjadinya bencana alam. Bencana alam ini baik yang diakibatkan oleh gempa vulkanik maupun tehtonik, serta akibat ulah manusia.Sudah banyak terjadi bencana alam dan korban jiwa yang berjatuhan, kentgian material yang sudah tak terhitung lagi jumlalmya dan bahkan beberapa tahun belakangan ini bencana tersebut terjadi hampir seluruh provinsi di wilayah NKRI ini.Studi tentang pemberdayaan masyarakat pasca bencana ini mencoba mendeskripsikan berbagai kejadian bencana alam di Indonesia, yang terjadi selama periode tahun 2000 - 2006 dimana pada masa itu banyak terjadi peristiwa bencana alam yang memakan banyak korban jiwa. Melalui kajian dari berbagai sumber informasi maupun hasil penelitian, diharapkan dapat ditemukan model pemberdayaan pasca bencana yang dapat dijadikan acuan bagi para pengguna.Upaya-upaya tersebut salah satunya adalah melakukan pemberdayaan atau penguatan kepada para korban yang telah kehilangan harta benda dan usaha/pekerjaan, melalui pranata sosial/lembaga sosial lokal yang peduli terhadap masalah ini. Membuka akses dan membantu pendampingan pada akses ekononimi lokal, agar mereka dapat eksis lagi menapaki kehidupan dan penghidupan sosial eko11omi di rnasa mendatang
SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM PENGEMBANGAN DESA PESISIR TANGGUH DI TELUKNAGA, TANGERANG, BANTEN
Masyarakat pesisir telah mengalami kerusakan sumber daya alam, perubahan iklim, dan risiko bencana. Pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga lainnya telah mengembangkan berbagai program untuk memperbaiki kondisi wilayah pesisir. Salah satu programnya adalah Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT) yang telah diluncurkan sejak tahun 2011. Pada tahun 2012, program ini dilaksanakan di 48 desa di 16 kabupaten. Keberhasilan program ini tergantung pada respon masyarakat termasuk sikap masyarakat. Penelitian tentang sikap masyarakat terhadap program ini, dilaksanakan di dua desa terpilih di Kabupaten Tangerang. Populasi berjumlah 200 yang merupakan masyarakat pemanfaat program. Responden dipilih secara stratified random sampling berdasarkan fokus kegiatan PDPT (bina sumber daya, bina infrastruktur dan lingkungan, Bina Usaha, dan bina Siaga bencana). Sampel penelitian sebanyak 60 responden yang diambil dari rumah tangga masyarakat pesisir. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri dari pertanyaan tentang karakteristik individu, karakteristik lingkungan sosial, dan pengelolaan program. Wawancara dan observasi lapangan dilakukan untuk mempelajari sikap masyarakat dan pelaksanaan program. Analisis rank-Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel yang berhubungan dengan sikap masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap masyarakat memiliki hubungan yang signifikan dengan karakteristik lingkungan sosial dan tingkat pengelolaan program. Sikap positif masyarakat terhadap program ini dapat ditingkatkan melalui peran tokoh masyarakat, kegiatan program penyuluhan berkelanjutan yang didukung oleh fasilitator lapangan yang kompeten. sikap positif masyarakat terhadap PDPT akan memberikan kontribusi pada keberhasilan pelaksanaan program.Kata kunci: Masyarakat pesisir, PDPT, pemberdayaan masyarakat
PERSEPSI PETANI TERHADAP PERANAN PENYULUH PERTANIAN DI DESA SIDOMULYO DAN MUARI, DISTRIK ORANSBARI, KABUPATEN MANOKWARI SELATAN
Penelitian ini membahas persepsi petani mengenai peranan petugas penyuluh pertanian di Desa Sidomulyo dan Muari, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi petani terhadap peranan penyuluh pertanian (teknisi, fasilitator dan advisor). Faktor tersebut meliputi: (1) faktor internal: karakteristik petani (umur, pendidikan formal, pendidikan non-formal, status kepemilikan lahan dan pengalaman berusaha tani) dan (2) faktor eksternal: sistem sosial petani (keterlibatan petani dalam kelompok dan pengetahuan petani terhadap peranan penyuluh pertanian). Responden sebanyak 80 petani yang masih aktif dalam kegiatan penyuluhan. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan membuat tabel frekuensi dan persentase dan menggunakan uji korelasi Rank Spearman pada taraf kepercayaan 0,05% untuk melihat tingkat keeratan hubungan antara variabel bebas. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) sebagian besar anggota kelompok tani di Desa Sidomulyo dan Muari Distrik Oransbari masih berada pada usia produktif masa bekerja yaitu 35-47 tahun, dengan tingkat pendidikan tamat SLTP, sering mengikuti kegiatan pelatihan yang berhubungan dengan usaha tani, memiliki pengalaman berusaha tani 10-20 tahun, aktif mengikuti petemuan rutin kelompok tani, (2) persepsi petani terhadap peranan penyuluh pertanian sebagai teknisi,fasilitator dan advisor dikategorikan baik, (3) ada hubungan antara faktor internal karakteristik petani dan faktor eksternal (sistem sosial) terhadap persepsi petani terhadap peranan penyuluh pertanian sebagai teknisi, fasilitator dan advisor.Kata kunci: Persepsi, peranan penyuluh pertanian, petani, penyuluh pertanian
KEBIJAKAN PENGENTASAN KEMISKINAN BERBASIS PARTICIPATORY POVERTY ASSESSMENT: Kasus Yogyakarta
Salah satu pertanyaan menarik dalam kebijakan Kemiskinan ialah mengapa penurunan kemiskinan yang telah didukung baik oleh kemauan politik pemerintah yang memadai dan dukungan dana yang mencukupi tetapi tidak menghasilkan penurunan angka kemiskinan yang memadai (masih sekitar 11%)? Kemiskinan memang masalah yang komplek. Selain ia tergantung pada keadaan ekonomi makro yang stabil, kemiskinan juga terkait dengan kebijkan mikro mengenai penurunan kemiskinan itu sendiri. Penelitian ini telah dilakukan di Yogyakarta menggunakan metode kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD), wawancara mendalam dengan berbagai pihak terkait masalah pengentasan kemiskinan (para pejabat pemkot, LSM, para tokoh masyarakat, pendamping program, maupun masyarakat penerima bantuan program kemiskinan) di tiga kecamatan kota yang menjadi Proyek Percontohan. Salah satu temuan yang menarik adalah kurang sabar dan ketakutan mengalami kegagalan program kemiskinan di pihak pelaksana (pemerintah) untuk melibatkan warga miskin secara aktif berperan utama dalam program kemiskinan, justru membuat program pengentasan kemiskinan cenderung hanya memenuhi kebutuhan administrative, dan kurang berhasil dalam mengurangi tingkat kemiskinan dalam arti yang sebenarnya (menciptakan masyarakat yang mampu menolong dirinya sendiri, mandiri, mimiliki harga diri dsb). Dalam riset ini terdapat beberapa hal yang menarik. Dalam hal kebijakan publik, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta telah menekankan arti pentingnya modal sosial (berupa pendidikan) untuk kanak-anak dari keluarga miskin untuk memasuki sekolah-sekolah favorit (sekolah-sekolah terbaik dan berkualitas) melalui kebijakan quota 20%. Pemkot Yogyakarta menyadarai bahwa kemiskinan menyangkut baik masalah dimensi agregat (ekonomi) mau pun dimensi non agregat (non ekonomi). Singkatnya pelajaran yang menyangkut baik kelemahan maupun kelebihan kebijakan pengentasan kemiskinan di kota pelajar ini sangat menarik untuk diambil. Kata Kunci: Kebijakan, Pengentasan Kemiskinan, Menolong diri sendiri, dimensi agregrat dan non-agrega
STUDI TENTANG SIKAP MASYARAKAT TERHADAP TRAFFICKING ANAK DI DAERAH PENGIRIM: Kasus di Kota Singkawang dan Malang
Penelitian ini bertujuan untuk memahami penyebab praktek trafficking anak di daerah pengirim, bagaimana sebenarnya sikap masyarakat terhadap trafficking anak dan apa yang mempengaruhi mereka berprilaku demikina, Diharapkan dari penelitian ini akan diperoleh model intervens
KETIDAKBERDAYAAN (POWERLESSNESS) ORANG DENGAN HIV/ AIDS (ODHA) DI KOTA MALANG
Penelitian tentang ketidakberdayaan (powerlessness) orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dikota Malang adalah bertujuan untuk mengetahui manifestasi ketidakberdayaan ODHA (Fisik,psikologis dan sosial), faktor-faktor yang menyebabkan ketidakberdayaan ODHA dan efek yang dialami ODHA sebagai akibat ketidakberdayaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Untuk mendapatkan subyek penelitian dilakukan dengan cara snowballing sampling, sedangkan teknik pengumpulan data digunakan observasi, Focus Group Discussion (FGD) dan depth interview. Hasil penelitian menunjukan bahwa ODHA mengalami oleh faktor ketidaktahuan dan pengetahuan yang keliru tentang HIV/AIDS, pengaruh infeksi oportunistik, pengaruh obat, stigma dan diskriminasi, hilangnya dukungan sosial, pengobatan yang salah dan jangkauan layanan kesehatan. Kondisi ketidakberdayaan akan memberi efek yang lebih komplek dan luas mulai semakin merebaknya penyebaran virus HIV/AIDS, kematian yang cepat, hingga menjadi beban sosial, baik keluarga, komunitas maupun negara. Kata-kata kunci: ketidakberdayaan, HIV/AIDS, ODHA, stigma, diskriminasi
SOCIAL MAPPING PRANATA EKONOMI PADA KOMUNITAS LOKAL KAWASAN PESISIR (Sebuah Studi Di Desa Kuala Lama, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara)
In the past the need for economic institutions that govern trade patterns is not considered as urgent and important. Each family generally used to meet their need using their own crop, so there's hardly any possibility to came across the interest of other. The economic development of local communities tend to become more complex, while on the other hand the amount of goods and services that are available relatively limited and became more rare, causes the need for a more detailed economic institutions can no longer be sided. The main study in this research is there are no comprehensive economic institutions mapping available to provide a picture of existing economic institutions in a local community in coastal area. The purpose of this study is to get qualitative data about the existence of economic institutions on local communities in that coastal area. The method used in this study is qualitative research method. The informant involved in this study consisted of formal individual (Desa Kuala Lama Apparatus, Camat Pantai Cermin and the Chairman of BPD/ Village Consultative Body) and informal leader (community leaders and leaders of local economic group). The location of this study is in Desa Kuala Lama, Kecamatan Pantai Cermin, Sserdang Bedagai. The result of this research revealed that there is strong indication that the existing economic institutions have a relatively significant role and, to certain limit, tend to overcome minimum basic needs for everyday lives
RANCANG BANGUN MODEL KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI RUMAH TANGGA PADA KAWASAN MASYARAKAT MISKIN DI JABODETABEK
Home Industry is one of the industries that have an important role in achieving a food security in Indonesia. However, in general, the conditions of home industry in Indonesia are still very apprehensive when viewed from the side of capacity, capital and product quality. Based on the Indonesia's home industry problem and high and complex poverty rate, there should be a research that the objective is to develop a model design for the policy on home industrial development on poor region in Greater Jakarta. This research result one major system in designing a policy model for the development of home industry and two subsystems that will support this model in Causal Loop Diagram, created with the help of Power Simulation computer software. This system design has four main variables, namely human resource, economic resource, the growth of home industry and poverty rate. These variables interact with each other