e-Journal Kementerian Sosial RI
Not a member yet
599 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI MODEL PEMBERDAYAAN LEMBAGA PERLINDUNGAN ANAK PASCA-KONFLIK SOSIAL DI KOTA AMBON
Anak merupakan harapan atau dambaan bagi setiap orang dalam keluarga, namun dalam kenyataanya, keberadaan anak di lokasi daerah konflik sosial hak- hak anak banyak yang terabaikan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan kajian mengenai Implementasi Model Pemberdayaan Lembaga Perlindungan Anak Pasca-Konflik Sosial di Kota Ambon melalui pembentukan atau pemanfaatan forum perlindungan anak “Lawamena Kota Ambon†sebagai wadah jejaring kerjasama dalam pelayanan kesejahteraan anak. Hasil penelitian disimpulkan bahwa model pemberdayaan Lembaga Perlindungan Anak di Kota Ambon cukup aplikabel meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat serta berbagai instansi yang kompeten dalam menegakkan hak-hak anak. Meskipun demikian, karena secara kelembagaan Forum Lawamena ini belum didukung oleh peraturan daerah yang dapat memberikan legalitas keberadaannya, membuat kegiatannya kurang berjalan lancar. Direkomendasikan perlu meningkatkan kerjasama antara Forum LPA (Lembaga Perlindungan Anak) ‘Lawamena’ sebagai lembaga yang memiliki visi dan misi memberikan perlindungan dengan Pemerintah Daerah setempat serta menjalin kemitraan dengan berbagai pihak sehingga diharapkan LPA memiliki keberdayaan dalam memberikan perlindungan terhadap anak di Kota Ambon. Kata kunci: Model pemberdayaan kelembagaan perlindungan anak, anak pasca-konflik, lembaga perlindungan anak
DINAMIKA PENYESUAIAN SUAMI -ISTRI DALAM PERKAWINAN BERBEDA AGAMA (THE DYNAMICS OF MARITAL ADJUSTMENT IN THE INTERFAITH MARRIAGE)
Banyak orang yang jatuh cinta dengan orang yang memiliki keyakinan yang berbedadengan mereka dan kemudian melakukan pernikahan antar agama. Fenomena ini semakinbanyak terjadi di Indonesia, terutama pada masyarakat perkotaan. Agama sering dianggapmemiliki peran yang penting dalam stabilitas rumah tangga. Akan tetapi, perbedaan dalamkebiasaan dan kepercayaan dalam beragama dapat menyebabkan kesalahpahaman atauperselisihan dalam hubungan pernikahan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif danmetode studi kasus, dan dengan melakukan wawancara eksplanatori menyeluruh danpengamatan, penelitian ini mencoba mencaritahu penyesuaian yang dilakukan pasanganberbeda agama yang telah menikah selama duapuluh tahun dalam pernikahan mereka. Hasilyang didapatkan dari analisis data penyesuaian pola mengungkapkan bahwa setiap partisipan memiliki harapan yang sama agar anak mereka tidak melakukan pernikahan beda agama seperti yang mereka lakukan, karena melihat dampak yang ditimbulkan kepada mereka sendiri, bukan hanya sebagai individu atau pasangan namun juga sebagai orangtua. Pengaruh keluarga besar dan saudara mereka dianggap sebagai pengaruh sosial yang negative, namun pada saat yang bersamaan juga berfungsi sebagai faktor pendukung dalam dinamika penyesuaian yang dilakukan oleh suami istri, hubungan antara anak-anak dan orangtua mereka, serta antara anak-anak sendiri. Faktor kunci dalam pernikahan langgeng mereka adalah komitmen individual yang didasari oleh manifesto sosiologi untuk mempertahankan pernikahan mereka meskipun sebenarnya mereka tidak bahagia. Kata-kata kunci: penyesuaian dalam pernikahan; pernikahan beda agama; dinamik
IMPLEMENTASI MODEL-MODEL KEBIJAKAN PENANGGULANGAN ANAK JALANAN DI KOTA MAKASSAR
Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan anak jalanan di Kota Makassar,kebijakan penanggulangan, implementasi kebijakan, mengenali faktor pendukung danpenghambat model-model kebijakan penanganan serta mencari alternatif penanggulanganuntuk menjangkau hasil yang lebih efektif dan efisien. Penelitian ini menggunakan deskriptifkualitatif dengan model studi kasus. Dari analisis hasil penelitian didapatkan gambaran bahwaimplementasi model-model kebijakan penanggulangan anak jalanan di Kota Makassarmenggunakan beberapa tahapan pelaksanaan. Dalam pelaksanaannya digunakan empatmodel pendekatan yakni: (1) model pendekatan berbasis panti sosial atau institutional basedservices, (2),model pendekatan berbasis keluarga atau family based services,(3) modelpendekatan berbasis mesyarakat atau community based services dan (4) model pendekatanberbasis semi panti sosial atau half-way house services. Adanya political will dan kemauan keras serta keseriusan Pemda Kota Makassar dalam hal ini waliKota Makassar untuk menjadikan Makassar menjadi kota yang aman, tertib dan bebas dari anak jalanan, yangpenanggulangannya dilakukan oleh para pelaksana program melalui model-model pendekatandi atas, sangat mendukung program penanggulangan anak jalanan di Kota Makassar.Kurangnya koordinasi antar instansi terkait pemerintah dan swasta serta masyarakat dalammenanggulangi anak jalanan merupakan suatu hambatan dalam implementasi model-modelkebijakan penanggulangan anak jalanan di Kota Makassar. Kata kunci : anak jalanan, implementasi kebijakan, model penanggulangan anak jalana
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN BERBASIS PEMANFAATAN SUMBERDAYA LOKAL MELALUI PENDEKATAN SOSIAL ENTERPRENEURSHIP (Studi Kasus di Daerah Tertinggal, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat)
Masalah kemiskinan di Indonesia masih menjadi perhatian khusus Presiden. Perhatian ini ditunjukkan dengan dikeluarkannya Inpres No. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan (daerah tertinggal, kemiskinan). Kabupaten Pasaman merupakan salah satu prioritas untuk daerah tertinggal. Jumlah keluarga miskin di Pasaman cukup tinggi, salah satunya Nagari Taruang-Taruang yang mencapai 30 % dari jumlah kepala keluarga (hasil penelitian Puslitbang Kesos 2011). Sebagian besar keluarga miskin di Nagari Taruang-Tarunag adalah keluarga dengan kepala keluarga perempuan. Oleh karenanya menarik untuk dilakukan penelitian aksi atau “acti research†dengan bertujuan untuk mengetahui: 1) peranan perempuan miskin dalam pemenuhan kebutuhan keluarganya, 2) faktor yang mempengaruhi akses dan kontrol perempuan miskin dalam pemanfaatan sumberdaya lokal untuk pengentasan kemiskinan dan 3) dan model pemberdayaan perempuan miskin dengan pemanfaatan sistem sumber daya lokal untuk dapat mengentaskan mereka dari kemiskinan, melalui pendekatansosial enterpreneurship. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep model dalam penelitian ini dapat diterpkan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan miskin, menciptakan lapangan kerja baru bagi perempuan dengan memanfaatkan potensi ikan lokal.Kata Kunci: Pemberdayaan, Perempuan Miskin, Sumberdaya Lokal dan Sosial, Enterpreunershi
JARINGAN SOSIAL PRAKTEK PROSTITUSI TERSELUBUNG DI KAWASAN WISATA KOTA BATU
Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keresahan akan praktik prostitusi terselubung di kawasan wisata Kota Batu, Malang, yang hampir sama sekali tidak terekspose keberadaanya, namun memiliki potensi dampak negatif bagi masyarakat baik secara sosial, psikologis, agama, dan budaya. Fokus penelitian ini diarahkan kepada: (1) bagaimana bentuk jaringan sosial praktik prostitusi terselubung di kawasan wisata kota Batu; dan (2) bagaimanakah peran dan fungsi masing unit dalam jaringan sosial praktik prostitusi terselubung di kawasan wisata kota Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus (case study). Lokasi penelitian dilakukan di kawasan wisata Songgoriti, Kota Batu. Subyek penelitian ditentukan secara purposive, yakni: pramuwisata (tourguide), tukang ojek, petuah Desa Songgokerto, pemilik villa, warga yang berjualan di sekitar kawasan wisata, dan Pekerja Seks Komersial (PSK). Kerangka teoritik yang dijadikan dasar analisis mengacu kepada perspektif teori jaringan sosial dari Turner. Temuan  penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial praktik prostitusi terselubung terbentuk dengan melibatkan berbagai stakeholders, seperti: Pemakai (user), Tukang Ojek, Tour Guide, Pemilik Villa, Pekerja Seks Komersial (PSK), Pemilik Usaha Hiburan (Karaoke) dan Billiyard), Pihak Oknum Pemerintah, dan Masyarakat. Jaringan sosial tersebut terbentuk karena adanya ikatan kepentingan (interest) yang sama, terutama kepentingan ekonomi. Kata kunci: Jaringan Sosial, Prostitusi Terselubung, Kawasan Wisata Abstract This research has been done due to phenomenon of covert prostitution practice in tourist area of Batu, East Java. Those phenomenon does not completely exposed. However, it seen as have potential negative impact on society, both socially, psychologically, religion, and culture. The focus of this research is aimed to: (1) how does the kind of social networking on the practice of covert prostitution in the tourist area of Batu city; and (2) how the roles and functions of each part of the social network of covert prostitution practice in the tourist area of Batu city. This study uses a qualitative approach with case study. The research location is in the tourist area Songgoriti, Batu City. The research subjects determined by purposive, namely: tour-guide, motorcycle taxis driver, Village leaders of Songgokerto, villa owners, residents around the tourist areas, and commercial sex workers (PSK). The theoretical framework used as the basis of analysis refers to the perspective of social network theory of Turner. The research findings shows that social networking of covert prostitution practice is formed by involving various stakeholders, such as: User, Motorcycle taxis driver, Tour-guide, Villa owners, Commercial Sex Workers (PSK), Business Owners entertainment, such as Karaoke and Billiards,  Government officials, and Society. The social network is formed because of profit interests, especially economic interests. Keywords: Social Networking, Covert Prostitution, Tourism Regions    Â
KELOMPOK BELAJAR "KANCIL" SEBAGAI UPAYA PEMENUHAN HAK PENDIDIKAN ANAK PENJUAL KRESEK DI PASAR UJUNGBERUNG
Child plastic bag seller community in Ujzmgberzmg traditional market is one of the social phenomena that indicate that child's condition is not yet fully prosper. Such children can be categorized as a child labor. In their growth period they should get their right in accordance to their development stage, one of which is the right to get proper education. In 2009 the number of the children in this community reached 35 children. Among this child, 13 of them are classified as most vulnerable. From this most vulnerable classification, 8 children have dropped out of school and 5 children still attending school. The condition of this child plastic bag seller community showed that children's right, especially right to proper education still not optimallyfulfilled. This condition will affect their future. Given that children are our next generation, then we must prepare their future as best as we can. After the assessment is done, these problem then arises a special need, a need for a place to learn together in the fonn of study group, the study group they later name as "kancil" The function of this study group is as a place to learn to prepare those who dropped out of school to take equation test and to help those who still attending school to do their homework/schoolwork, the limited ability and knowledge of the families of this children is the main cause for their inability to learn at home
PERANAN KELUARGA MATRILINEAL MINANGKABAU TERHADAP KESEJAHTERAAN PEREMPUAN LANJUT USIA
Increased of elderly people in every year have to follow by a good service, either by family and also govemment in effort improve their social prosperity. The elderly people placed respectable on course and made happy in family life and young generation suggested in honour and responsible of prosperity of the older family, especially parent itself Thereby, family is the right means to serve the elderly people, especially elder women in family, because family has obligation of moral for remain takecare and serve the elderly people in family.This research explore such problems related with elderly women condition in Minangkabau society in the past and now, acces and pattem of social responsibilihJ to elderly women existence which not affected by values of institutions of elderly people place (panti jompo), so the elderly women existence always get a social security by family in Minangkabau. The research employs qualitative approach by doing a participant method. The data is collected by interviewing the informants using a list of questions. The informants are identified using snow ball technique.The findings show role of matrilineal family in West Sumatra (Minangkabau) to the elderly women existence is holding fully responsibility in giving a good service, so that the elderly women don 't be unemployed and feel happy with condition of family. Besides that, family felt obliged to give freedom in improve their prosperity by following social activities. They have social organization is Mawar group, which formed by sub-district goverment. Existence of social organization in elderly women activities was impact to their health and improve for their skill
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN MELALUI PROGRAM PENGEMBANGAN DISTRIK KAJIAN DI PAPUA
This study is aimed to describe the empowerment of communities through the Distric Development Program (PPD) in Papua. The approach of study is qualitative that emphasizes the essence and substance (the understanding, views, and responses) informans. The data obtained through the docu·mentations and interviews. Informants determined purposively, namely apparatus Village Community Empowerment Board (BPMD) Papua Province as the manager of PPD. The study shows, although in the early implementation of the PPD program capable of executing the construction of basic rural infrastructure to take advantage of some program fu.nds plus local government organizations and channel some other program fu.nds to community groups for productive economic activities, but if observed, in particular the empowerment process has not occurred for the poor, because it has not happened yet transfer power to the poor. The program is utilized by certain circles (only), and the relative lack of social learning processes take place, because the savings and loan program is more nuanced. To that, suggestions are emphasized on the quality of courses at different levels of actors (especially the village level), namely: (a) they need to understand the program wellbriefing importance, (b) the need for implementation of programs to the community properly, which not only spread information, but also needs to be directed at raising awareness about the issues at hand, and the growth of the spirit to solve problems independently, (c) the need for assistance (local facilitators) in a sustainable manner against the perpetrators of the program at the village level, within a certain time, until they are assessed capable of handling the problem of poverty on their own citizens. Therefore, it is necessary escort officer who has the competence, visionis, and has good spirit