Ummat Repository
Not a member yet
5707 research outputs found
Sort by
REDESIGN JEMBATAN MEDAS KECAMATAN GUNUNGSARI LOMBOK BARAT MENGGUNAKAN BETON PRATEGANG TYPE I-GIRDER
Salah satu jembatan yang baru selesai dibangun disekitar pulau Lombok tepatnya di Desa Medas, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat adalah Jembatan Medas dengan tipe jembatan konvensional (beton bertulang). Jembatan beton bertulang termasuk jembatan yang memiliki kekurangan pada kuat tarik yang relatif rendah, sedangkan jembatan beton prategang memiliki kuat tarik yang relatif tinggi, ditambah biaya yang relatif rendah dan pengerjaan yang relatif cepat. Beberapa waktu lalu Jembatan Medas mengalami kerusakan akibar banjir, yang dimana kerusakan yang terjadi diindikasikan terjadi akibat tekanan hidrostatika banjir yang tidak dapat ditahan oleh jembatan. Penelitian ini bertujuan melakukan redesign Jembatan Medas dari jembatan konvensional dengan menggunakan beton prategang dengan type I-Girder.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis manual dengan bantuan Microsoft Excel berdasarkan pada SNI 1725:2016 tentang pembebanan untuk jembatan dan SNI 2833:2016 pembebanan jembatan terhadap gempa.
Hasil perencanaan yang didapatkan berupa dimensi struktur atas jembatan antara lain seperti tiang sandaran dengan tinggi 1,25 m dengan jarak 2 m, plat lantai dengan tebal beton 0,02 m, diafragma dengan panjang 1,2 m, tinggi 1,2 m dan tebal 0,2 m, gelagar I-Girder dengan tinggi 1,25 m lebar 0,7 m yang terdiri dari 4 tendon dengan 12 dari setiap tendon, serta elastomer tebal cover atas 0,04 m cover bawah 0,04 m. Sedangkan, didapatkan dimensi struktur bawah jembatan diantara lain, pondasi sumuran dengan tinggi 3 m, diameter 4 m, tebal dinding 0,4 m. Breast wall atas dengan lebar 10 m, tebal 0,3 m, back wall bawah dengan tebal 0,6 m lebar 10 m serta wing wall dengan tebal 1,2 m dan lebar 3,75 m. Perencanaan dimensi pada struktur atas dan struktur bawah tersebut telah memenuhi syarat yang berlaku.
Kata Kunci : Jembatan Medas, Gelagar, Prategang, I-Girde
PERLINDUNGAN HAK PEKERJA TERHADAP KEBIJAKAN WAKTU ISTIRAHAT MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN (STUDY DI UD RIZKI HIZMAH) DI KOTA MATARAM NUSA TENGGARA BARAT
Ditinjau dari sejarahnya dapat dikatakan bahwa bidang wktu kerja dan waktu istirahat merupakan perintis dari terbentuknya hukum perburuhan, dalam arti perlindungan dari Negara, bagi pihak ekonomi yang lemah (pekerja/buruh) terhadap majikan yang tidak jarang mengeksploitasi buruhnya. Perlindungan Negara bagi warga negaranya yang lemah (pekerja/buruh) dimulai dengan kelompok anak, disusul kelompok remaja/muda dan wanita. Perlindungan dibidang waktu kerja dan waktu istirahat yang merupakan asas dasar yang ditujukan kepada semua buruh dalam keseluruhannya, baik laki-laki maupun wanita, baik muda maupun dewasa dijelmakan terutama kedalam ketentuan yang mencakup waktu kerja, waktu mengaso dan waktu istirahat. Perlindungan buruh khususnya bidang waktu kerja dan waktu istirahat awalnya dimulai dari Negara Inggris dengan adanya revolusi industri pada sekitar abad ke 18 dimulai dengan peraturan legislasi menyangkut perlindungan bagi pekerja anak dan wanita, terus menyebar ke Eropa daratan/continental, Rusia dan ke Indonesia melalui masa penjajahan Hindia Belanda. Perkembangan di Indonesia terakhir melalui Undang- Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan juga peraturan pelaksanaannya, undang-undang ini hanya mengatur sebagian saja, tidak selengkap Undang-Undang sebelumnya. Perlindungan waktu kerja, waktu mengaso dan waktu istirahat merupakan hak asasi dari pekerja, dimana pekerja dapat meningkatkan harkat dan martabatnya. Pelaksanaan peraturan perundang - undangan yang ada/berjalan masih jauh dari yang diharapkan, untuk itu pengawasan dari pengawas instansi yang berwenang sangat diharapkan dapat bekerja secara maksimal agar perlindungan kepada pekerja/buruh dapat tercapai sesuai tujuannya
ANALISIS KAPASITAS FONDASI TIANG PANCANG DI DERMAGA LABUHAN LOMBOK
Fondasi tiang pancang adalah salah satu jenis fondasi dalam yang berfungsi untuk menstabilkan sambungan struktur dan mentransfer beban ke lapisan tanah keras. Kemampuan fondasi dalam menanggung beban menjadi dasar perencanaan yang sangat penting. Namun, setelah fondasi terpasang di lapangan, diperlukan analisis lebih lanjut untuk menilai kemampuan aktual tiang tersebut. Kapasitas tiang dapat dihitung menggunakan data yang diperoleh selama pelaksanaan pemancangan, yaitu melalui data hasil kalendering. Dalam penelitian ini, analisis kapasitas tiang pancang dilakukan dengan menggunakan tiga persamaan dinamik, yaitu: metode Hilley (1930), persamaan Gates (1957), dan persamaan Navy-Mckay. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ketiga metode tersebut guna menentukan metode yang paling tepat dalam mengukur kapasitas tiang. Setelah melakukan analisis dengan metode-metode tersebut, maka dihasilkan daya dukung tiang dengan menggunakan rumus dinamik: persamaan Hilley (1930) menghasilkan kapasitas tiang tunggal sebesar 7194,56 ton; persamaan Gates (1957) memberikan hasil yang cenderung berdekatan dengan persamaan Hilley yaitu sebesar 21196,88 ton; dan persamaan Navy-Mckay menunjukkan hasil kapasitas tiang tunggal yang lebih besar dari keduanya yaitu sebesar 58524,24 ton. Dikarenakan persamaan Hilley (1930) selalu lebih rendah dari pada metode lainnya, maka metode Hilley (1930) dianggap lebih aman. Dalam hal ini Hilley mempertimbangkan beberapa faktor seperti panjang tiang pancang (L), bantalan kepala pada tiang (koefisien restitusi), luas penampang tiang (A), tinggi jatuh pemukul (h), efisiensi pemukul (eh), berat keseluruhan tiang (Wp) dan rata-rata rebound pada 10 pukulan terakhir (k). Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, metode Hilley (1930) memberikan pendekatan yang lebih konservatif dalam menilai kapasitas tiang pancang, sehingga meningkatkan faktor keselamatan dalam perencanaan dan pelaksanaan konstruksi. Pendekatan ini memastikan bahwa tiang pancang memiliki daya dukung yang cukup, sehingga struktur di atasnya tetap stabil dan aman dalam jangka waktu yang lama
STUDI KUAT GESER TANAH KEPASIRAN DENGAN CAMPURAN FIBER POLYPROPYLENE PADA KONDISI DRY SIDE OF OPTIMUM DAN WET SIDE OF OPTIMUM
Tanah berperan penting dalam teknik sipil sebagai bahan konstruksi dan penahan beban. Salah satu jenis tanah, yaitu tanah kepasiran, memiliki porositas tinggi karena butiran pasirnya yang kasar dan longgar, sehingga dapat menyebabkan rendahnya kekuatan geser dan berpotensi menimbulkan masalah dalam konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek penambahan fiber polypropylene pada tanah kepasiran untuk meningkatkan kekuatan gesernya, dengan fokus pada kondisi dry side of optimum dan wet side of optimum.Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah, Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah dengan metode yang digunakan adalah uji geser langsung (direct shear test) untuk menentukan parameter kekuatan geser tanah yaitu nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam (φ), dengan variasi campuran fiber polypropylene sebesar 0%, 0,25%, 0,5%, dan 0,75%. Sampel tanah diambil dari Dusun Bumbang, Desa Mertak, Kec. Pujut, Kab. Lombok Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan fiber polypropylene sebesar 0,5% adalah persentase optimum pada kedua sampel tanah dry side of optimum dan wet side of optimum. Pada sampel dry side of optimum, nilai kohesi (c) yang didapat adalah sebesar 1,042 kg/cm² dan sudut geser dalam (φ) sebesar 30,15°, kemudian pada wet side of optimum, nilai kohesi (c) yang didapat sebesar 0,811 kg/cm² dan sudut geser dalam (φ)sebesar 26,95°
STRATEGI GURU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA SISWA KELAS IV MADRASAH IBTIDAIYAH NURUL QUR’AN PAGUTAN MATARAM
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa kelas IV. Pendekatan yang dilakukan menggunakan metode kualitattif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun Hasil dari penelitian yaitu Strategi Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Siswa Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Pagutan Mataram memberikan motivasi belajar siswa dengan cara, memuji, memberi rasa percaya diri, dan belajar dengan cara menyenangkan. Sedangkan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kreatifitas dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa untuk berani mengeluarkan pendapat, berani bertanya, dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk mengaktifkan siswa dalam belajara demi mendapatkan hasil yang diinginkan, guru harus memiliki kemampuan dari dalam dirinya sendiri untuk membimbing siswa kearah yang lebih baik dengan rasa penuh tanggung jawab, disiplin serta kasih sayang
IMPLEMENTASI PROGRAM GURU PENGGERAK DALAM MENERAPKAN PEMBELAJARAN INTRAKURIKULER PADA SISWA SEKOLAH DASAR KELAS IV SDN 2 DENA TAHUN AJARAN 2023/2024
Pendidikan adalah salah satu faktor yang mendukung kemajuan dari suatu bangsa. Warga Indonesia berhak mendapatkan Pendidikan yang akan menjadi jalan mengubah nasib bangsa. Implementasi juga dapat dikatakan aksi nyata dari teori yang telah dibuat sebelumnya. Implementasi adalah menentukan serangkaian langkah yang diambil untuk melaksanakan hasil dari kinerja. Peranan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan maka pemerintah membuat program untuk mendorong peningkatan kompetensi guru melalui kebijakan merdeka belajar yang salah satu programnya tentang guru penggerak. Dalam hal ini dengan adanya program PGP (Program Guru Penggerak) sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan kompetensi guru demi mewujudkan hasil belajar siswa yang optimal.
Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan hasil dari penelitian secara tertulis berdasarkan hasil dari wawancara ataupun dari sesuatu yang diamati oleh peneliti ketika berada di lapangan. Penelitian dilaksanakan di SDN 2 Dena yang berlokasi di jalan Lintas Woro Campa, Desa Dena Kec. Madapangga Kab. Bima.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut menyoroti peran penting guru penggerak dalam menerapkan pembelajaran yang terintegrasi dengan kurikulum pada siswa sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukan bahwa program tersebut memiliki dampak positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi akademik siswa. Efektivitas program guru penggerak berperan penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran intrakurikuler di kelas IV sekolah dasar. Peningkatan kompetensi guru berhasil meningkatkan kompetensi guru dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Implementasi program ini berpengaruh positif terhadap partisipasi aktif siswa dalam kegiatan intrakurikuler. Pendekatan pembelajaran yang beragam guru penggerak mendorong guru untuk menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih bervariasi, termasuk penggunaan media teknologi yang relevan. Hambatan dan solusi meskipun program ini membawa banyak manfaat terdapat beberapa hambatan seperti keterbatasan fasilitas dan waktu. Solusi untuk mengatasi hambatan ini termasuk penyediaan sumber daya yang memadai, pelatihan berkelanjutan bagi guru, dan peningkatan komunikasi serta kerjasama antar semua pihak terkait
PENGEMBANGAN MODUL AJAR MATEMATIKA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul ajar matematika terhadap hasil belajar matematika kelas IV Sekolah dasar yang valid, praktis dan efektif. Dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan Borg And Gall. Intrumen dalam penelitian ini terdiri dari lembar angket validasi, lembar angket respond siswa, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, dan tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukan pengembangan modul ajar rata-rata dari validator dengan presentase 88% dengan kategori sangat valid, dan nilai rata-rata validator ahli media dengan presentase 87% kategori sangat valid. Hasil angket respond siswa pada uji coba terbatas di SDN 26 Ampenan dengan presentase 86,71% kategori snagat praktis. Hasil uji coba lapangan operasional dengan nilai pretest 48,3%, rata-rata nilai posttest 87,5% dan nilai n-gain 0,74 dengan kategori tinggi. Selain keefektifan modul ajar dapat dilihat dari keterlaksanaan pembelajaran yang diamati dari lembar observasi keterlaksanaan yang diperoleh adalah 100% pada kategori sangat terlaksana
TANGGUNGJAWAB PLN ATAS KERUGIAN KONSUMEN DALAM HAL PENGGUNAAN TENAGA LISTRIK (STUDI DI PT. PLN PERSERO MATARAM)
Hubungan hukum antara PLN sebagai pelaku usaha dengan konsumen adalah hubungan antara penjual barang dan pembeli. Pasal 1243 KUHPerdata mengatur ketentuan yang prinsipil mengenai ganti rugi yang dapat dituntut jika tidak dipenuhinya salah satu prestasi dalam perjanjian. Fokus kajian dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk tanggungjawab yang diberikan PT. PLN (Persero) Mataram kepada masyarakat yang mengalami kerugian akibat pemadaman Listrik ditinjau dari Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan dan untuk mengetahui prosedur pemadaman Listrik secara tiba-tiba yang dilakukan oleh PT. PLN (Persero) Mataram yang mengakibatkan konsumen menderita kerugian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif empiris. Teknik pengumpulan bahan hukum dan data yang digunakan adalah studi kepustakaan dan wawancara. Bahan hukum yang diperoleh baik dari studi kepustakaan maupun dari hasil wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif.
PT. PLN (Persero) Mataram memiliki beberapa prosedur dalam pemadaman Listrik tersebut, diantaranya pemadaman insidentil, pemadaman terjadwal dan pemadaman yang disebabkan oleh faktor konsumen dan non konsumen. PT. PLN (Persero) Mataram juga mengadakan pengumuman melalui media massa mengenai pemadaman arus Listrik dalam jangka waktu yang berkala. Misalnya apabila terjadi bencana alam, atau perbaikan gardu Listrik di daerah tertentu, maka pihak PT. PLN (Persero) Mataram akan melakukan pemadaman arus Listrik guna menjaga kepuasan konsumen dan menghindari hal-hal yang tidak di inginkan demi keselamatan jiwa manusia. Sebagai bentuk tanggungjawab PT. PLN (Persero) Mataram akibat pemadaman arus Listrik secara tiba-tiba yang menimbulkan kerugian pada masyarakat konsumen yaitu dengan mengganti dan memperbaiki kerugian yang diderita konsumen. Terjadinya pemadaman arus Listrik secara tiba-tiba bukan hanya kesalahan dari pihak PT. PLN (Persero) Mataram saja, tetapi faktor alam dan tingkah laku konsumen yang tidak bertanggungjawab juga menentukan terjadinya hal tersebut. Apabila kerugian itu murni timbul karena kesalahan atau kelalaian dari tingkah laku konsumen yang tidak bertanggungjawab, maka pihak PT. PLN (Persero) Mataram tidak akan bertanggungjawab atau tidak akan mengganti kerugian tersebut
ANALISA TINGKAT KESELAMATAN LALU LINTAS PADA SIMPANG EMPAT KAMPUS UMMAT DENGAN METODE TRAFFICT CONFLICT TECHNIQUE (TCT)
Pada simpang Jl. Gajah Mada – Jl. Merdeka Raya – Jl. KH . Ahmad Dahlan, memiliki kepadatan lalu lintas yang relatif tinggi secara bergantian di setiap jalur secara bergantian pada saat jam sibuk yang menyebabkan seringnya terjadi kemacetan. Permasalahan lain yang biasa ditemui di Persimpangan Kampus Ummat antara lain pengemudi memotong jalur, pengemudi melawan arus dan kurang konsentrasi saat berkendara. Permasalahan tersebut seringkali menimbulkan konflik lalu lintas dan dapat berujung pada kecelakaan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Traffic Conflict Tehnique (TCT). Metode yang digunakan untuk mengobservasi suatu kejadian atau konflik yang ada pada jalan raya dengan mengidentifikasi kecelakaan yang hampir saja terjadi (near missed accident) dengan cara mengamati jarak dan kecepatan kendaraan serta melihat pola yang dapat menyebabkan terjadinya suatu kecelakaan di lokasi survei. Setelah menemukan hasil dari analisa lalu diplot ke dalam grafik untuk menemukan hasil nilai time to accident (TA) nilai time to accident adalah nilai untuk melihat apakah Jalan Raya Gajah Mada, Jalan Merdeka Raya dan Jalan KH. Ahmad Dahlan termasuk serious conflict atau non serious conflict. Pada lokasi penelitian yaitu Simpang Empat depan kampus ummat Kota Mataram berpotensi untuk menyebabkan kecelakaan. Persentasi serious conflict 96% dan non serious conflict 4%, hal ini menunjukan bahwa serious conflict lebih banyak dibandingkan dengan non serious conflict. Di Jalan Raya Gajah mada, Jalan Merdeka raya dan Jalan KH. Ahmad Dahlan Simpang 4 depan kampus ummat termasuk simpang dengan serious conflict. Hal ini terjadi karena kelalaian pada pengendara, tidak adanya sinyal lalu lintas, marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas sebagai pengatur arah dan laju kendaraan. Sinyal lalu lintas, marka jalan dan rambu lalu lintas sangat penting agar dapat mengurangi angka kecelakaan pada pengguna jalan
IDENTIFIKASI AKUIFER AIR TANAH DI DUSUN PUARINGAN, DESA PELANGAN, KECAMATAN SEKOTONG, LOMBOK BARAT
Penelitian Dilaksanakan Di Desa Pelangan Dusun Puaringan Kecamatan Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat Tentang Identifikasi Akuifer air tanah mengunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger. Data pada daerah penelitian meliputi 2 titik pengukuran geolistrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedalaman lapisan akuifer dan litologi batuan di Desa Pelangan Dusun Puaringan Kecamatan Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat. Berdasarkan hasil interpretasi dari hasil pengolahan data geolistrik. Kedalaman lapisan akuifer daerah penelitian Kedalaman lapisan akuifer berdasarkan interpretasi nilai resistivitas pada lintasan pertama terletak pada kedalaman Lapisan 5.83-21.11 meter dengan nilai resistivitas 28.46 Ωm dengan lapisan pasir lempung kemukinan bisa di dapatkan air tanah. Kemudian litologi batuan Daerah penelitian pada titik 1 terdiri dari lapisan pertama kedalaman 0.41114 dan ketebalan 1.3634 berupa Soil beton, Tanah kering, Aspal, Air dan agregat, Pada lapisan kedua kedalaman 1.3634 dan ketebalan 113.74 berupa Soil jenuh Air, lanau, Pada lapisan ketiga kedelaman 113.74 dan ketebalan 126.56 berupa Akuifer. Sedangkan interpretasi nilai resistivitas pada lintasan kedua kedalamannya yaitu 12.02-48.17 meter dengan nilai resistivitas 5.31 Ωm dengan lapisan lempung kemukinan potensi air tanahnya banyak. Kemudian litologi batuan Daerah penelitian pada titik 2 terdiri lapisan pertama kedalaman 0.427 dan ketebelan 0.808 berupa Soil beton, Tanah kering, Aspal, Air dan agregat, Pada lapisan kedua kedalaman 0.808 dan ketebelan 1.05 berupa Soil jenuh Air, lanau, Pada lapisan ketiga kedelaman 105 dan keteblan 198 berupa Akuife