E-Journal Politeknik Negeri Samarinda
Not a member yet
6430 research outputs found
Sort by
TINJAUAN JARINGAN DAN FUNGSI JALAN PRIMER BERDASARKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA BALIKPAPAN TAHUN 2012 - 2032
38
Perkembangan kota yang cukup pesat setiap tahunnya, menyebabkan angka pertumbuhan volume kendaraan yang melintas juga ikut meningkat. Hal ini tentu berdampak pada infrastruktur berupa jalan. Berdasarkan kondisi ini, sistem jaringan dan fungsi jalan primer di Kota Balikpapan yang telah ditetapkan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Balikpapan Tahun 2012 - 2032 perlu ditinjau ulang, apakah kondisinya masih sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan serta Peraturan Menteri PU Nomor 03/PRT/M/2012 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penetapan Fungsi dan Status Jalan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa 2 ruas jalan direkomendasikan untuk ditambahkan sebagai jalan arteri dan kolektor primer. 3 ruas jalan berubah fungsinya dari arteri sekunder menjadi arteri primer. Hanya 11 % atau sebanyak 3 segmen jalan dari 28 segmen jalan arteri yang memenuhi persyaratan jalan masuk dibatasi dan untuk jalan kolektor tidak yang memenuhi persyaratan ini
PENINGKATAN KUAT GESER JOINT STRUKTUR KAYU MENGGUNAKAN TYPE SAMBUNGAN KOMBINASI PEREKAT-BAUT
Salah satu aspek penting dari segi kekuatan konstruksi kayu terdapat pada lokasi sambungannya, yang mana titik-titik tersebut berpotensi gagal secara konstruksi karena merupakan titik terlemah konstruksi, oleh karena itu perlu diperhitungkan dengan teliti dan cermat serta pemilihan jenis alat sambung yang sesuai. Pada dasarnya secara teoritis, alat sambung kayu yang paling efisen adalah jenis alat sambung perekat, namun sambungan perekatan sulit diaplikasikan dalam konstruksi karena secara teknis sulit untuk memberikan tekanan pada garis perekatan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kekuatan sambungan tiga jenis kayu olahan (Kempas, Keruing, dan Meranti) dengan sambungan perekat Epoxy dan baut. Peralatan terdiri dari mesin bor kayu; alat pengencang baut, universal testing machine. Kayu diolah menjadi balok-balok ukuran 30 x 120 mm panjang 400 mm, dan 60 x 120 mm panjang 400 mm, benda uji disusun sejajar serat, luas bidang geser sambungan dibuat 120 x 210 mm2, jarak antar baut dibuat setiap70 mm, baut dipasang masing-masing benda uji sebanyak empat buah baut. Benda uji dibuat masing-masing tiga ulangan, terdiri dari 3 ulangan benda uji x 3 jenis kayu x 2 model sambungan (baut, dan kombinasi baut-perekat). Untuk sambungan kombinasi dilakukan dengan cara pelaburan perekat terlebih dahulu, kemudian dipasang baut yang sudah dipasang ring pada kedua sisi luarnya, serta dikencangkan dengan alat pengencang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan-geser sambungan sangat tergantung dari jenis kayu, kayu Meranti dan kayu Keruing memperlihatkan kinerja perekatan yang baik sehingga cocok untuk sambungan kombinasi baut-lem
ALTERNATIF PEMANFAATAN ENERGI GELOMBANG SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN MASYARAKAT PESISIR
Saat ini masyarakat daerah pesisir masih jauh dari ketertinggalan, baik dari segi infrastruktur, maupun pertumbuhan ekonomi, dan masalah yang sering didapati didaerah pesisir adalah pasokan listrik, dan masih banyak wilayah pesisir yang belum terlayani karena kondisi infrastrukturnya yang terbatas, sehingga diperlukan pemikiran untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara pemanfaatan energi gelombang yang ada disekitar pesisir, sementara ini sebagian besar energi yang digunakan rakyat Indonesia saat ini berasal dari bahan bakar fosil yaitu minyak bumi, gas dan batu bara. Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk melakukan penghematan energi, maka perlu dilakukan pencarian sumber energi yang ramah lingkungan dan terbarukan. Lebih dari 70% bagian permukaan bumi adalah lautan, sedangkan Indonesia sendiri merupakan Negara yang memiliki pantai terpanjang kedua di dunia itu artinya Indonesia mempunyai potensi sumber energi alternatif yang melimpah,sehingga Sumber energi dari laut perlu dikaji lebih jauh
PENGARUH PENGGUNAAN CRUMB RUBBER DENGAN MATERIAL PALU DAN FILLER BATU LATERIT TERHADAP NILAI KARAKTERISTIK MARSHALL PADA ASPHALT CONCRETE – BINDER COURSE (AC-BC)
Aspal Concrete – Binder Course ( AC-BC ) adalah Lapisan yang berguna untuk meneruskan beban menuju ke pondasi. Untuk meningkatkan sifat fleksibilitas, salah satunya dengan penggunaan Crumb Rubber berasal dari limbah ban ukuran lolos saringan No. 4 (4,75 mm) sebagai bahan Tambah. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar aspal optimum campuran AC-BC dan mengetahui pengaruh penambahan Crumb Rubber dan filler batu laterit terhadap nilai karakteristik Marshall serta nilai kadar optimum penambahan crumb rubber pada campuran AC-BC. Tahapan awal penelitian mencari Kadar Aspal Optimum (KAO), kemudian dilakukan penambahan Crumb Rubber kadar 0%, 2%, 4%, 6%, dan 8% terhadap total berat benda uji dan filler batu laterit dengan kadar 5 %. Hasil penelitian didapatkan nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar 5,4 % dan Nilai stabilitas, VMA, dan MQ tertinggi didapat pada kadar crumb rubber 2 % adalah 1111 kg dan 16,66%, nilai flow tertinggi pada kadar 8 % adalah 13,18 mm, nilai VIM tertinggi pada kadar 4 % adalah 4,96%. Nilai optimum yang dapat digunakan dalam campuran AC-BC adalah 2%. Penggunaan crumb rubber pada campuran AC-BC mampu menahan kelelehan plastis lebih baik dari campuran aspal konvensional
POLA SAMBUNGAN LAMINA KAYU KAPUR MERUPAKAN ALTERNATIF KUALITAS DARI KAYU SOLID
Desain laminasi Kapur (Kamper) adalah memaksimalkan dimensi dengan meminimalkan material. Tujuan dapat dicapai hasil yang optimal nilai sifat fisika nilai sifat mekanika dan Analisis MOE, MOR pada kayu lamina dan sambungan lamina sebagai kayu konstruksi yang dibuat dengan penyusunan dan pola sambungan jari yang berbeda mempengaruhi dan interaksi dengan kayu solid.
Kadar air rata-rata kayu solid awal 12 % dan setelah diuji nilai kadar air 11.535 % -13,064 %. Kerapatan nilai rata-rata awal 0,61 gr/cm3 - 0,631 gr/cm3. Kekuatan geser kayu solid dengan nilai 117,534 kg/cm2, kekuatan geser // serat lapis dua dengan perekat sintetis nilainya 99,943 kg/cm2. Kekuatan tekan kayu solid untuk yang sejajar serat 493,587 kg/cm2 dan untuk yang tegak lurus serat 90,105 kg/cm2, kayu lapis dua dengan perekat sintetis untuk yang sejajar serat 221,270 kg/cm2 dan untuk yang tegak lurus serat 95,313 kg/cm2. Analisis MOEada pengaruh perbedaan antara perlakuan faktor A dan faktor B. Untuk interaksi faktor A* faktor B tidak ada perbedaan antara perlakuan. Analisis MORada pengaruh perbedaan antara perlakuan faktor A dan faktor B. Untuk interaksi faktor A* faktor B tidak ada perbedaan antara perlakuan.
Pengujian contoh uji kadar air dalam kondisi kering < 14 %. Kuantitas perekat perlu dilakukan dengan komposisi bervariasi. Penyusunan dengan pola sambungan lamina diharapkan sesuai susunan dinding (selang seling sambungan)
PERENCANAAN STRUKTUR BAJA PADA BANGUNAN GEDUNG AKUNTANSI S1 POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR
Perkembangan teknologi membutuhkan suatu program komputer untuk memudahkan perhitungan struktur, salah satunya yaitu program SAP 2000 versi 14 yang memiliki keunggulan lebih cepat mendapatkan hasil perhitungan struktur bangunan dibandingkan metode perhitungan manual. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisa profil struktur baja pada Gedung Kuliah Jurusan Akuntansi S1menggunakan SAP 2000 versi 14 dan untuk mendimensi profil struktur baja menggunakan metode LRFD berdasarkan SNI 13-1729-2002. Perhitungan profil struktur baja dimulai dengan menghitung pembebanan yang mengacu pada PPIUG 1983, lalu diinput kedalam SAP 2000 versi 14 dan didapatkan gaya-gaya dalam berupa momen (M), gaya lintang (D) dan gaya normal (N). Hasil analisa gaya dihitung menggunakan metode LRFD yang mengacu pada SNI 13-1729-2002
Analisis Perhitungan Plat Lantai Jembatan Pada Proyek Penggantian Jembatan Idano Eho
Analisis perhitungan pelat lantai jembatan ini menggunakan konstruksi beton bertulang dan pelat bondek yang sebagai pelapis dasar cor. Perencanaan struktur beton dan pembebanan jembatan mengacu pada RSNI T-12-2004 (perencanaan struktur beton untuk jembatan) dan dan SNI 1725:2016 (peraturan pembebanan untuk jembatan). Tujuan perhitungan ini adalah untuk mengetahui kebutuhan tulangan lentur pada pelat lantai jembatan dan nilai lendutan yang terjadi pada pelat lantai jembatan yang telah terlaksana pada proyek penggantian jembatan Idano Eho yang berlokasi di Nias Selatan apakah aman untuk menghindari keruntuhan berulang pada jembatan tersebut. Permasalahan yang diambil adalah analisis perhitungan pelat lantai jembatan. Analisis perhitungan pelat lantai jembatan tersebut meliputi pelat lantai itu sendiri. Perencanaannya meliputi tulangan lentur positif dan negatif. Beban yang dianalisis meliputi beban hidup, beban lalu lintas, beban gaya rem, beban pengaruh temperatur, beban gempa dan beban akibat angin. Dari hasil analisis, dihasilkan tulangan pokok D16-150 mm dan tulangan bagi D13-200 mm dimana variasi penulangan ini telah sesuai dengan yang ada di lapangan dan nilai lendutan 2,79.10-7 yang aman untuk jembatan. Untuk pelat lantai jembatan digunakan pelat dengan tebal 250 mm, lebar 9000 mm, dan panjang 60000 mm
Karakteristik Marshall pada Perkerasan Aspal AC-WC menggunakan Susbtitusi Reclaimed Asphalt Pavement (RAP)
Pemanfaatan Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) sebagai lapis perkerasan masih jarang dilakukan khususnya di Provinsi Kalimantan Timur. Material RAP tentulah mengalami penurunan kualitas selama masa layannya sehingga diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui kelayakannya sebagai material penyusun perkerasan jalan baru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar maksimum RAP pada campuran AC-WC dan nilai Indeks Kekuatan Sisa (IKS). Dalam penelitian ini dilakukan pengujian Marshall terhadap RAP dengan subtitusi agregat baru dari Palu dengan komposisi RAP sebesar 30%, 35%, dan 40%. RAP diperoleh dari hasil pengelupasan perkerasan jalan pada beberapa titik yang berlokasi di STA 3+400 jalan Simpang 3 Lempake -Simpang 3 Sambera dan Santan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kadar maksimum penggunaan RAP adalah sebesar 35% dengan stabilitas sebesar 1335kg; flow sebesar 3,10mm; VIM sebesar 2,7%; VMA sebesar 14,40%; VFA sebesar 78%; MQ 425%. Indeks Kekuatan Sisa (IKS) 92,79% dengan waktu perendaman 30 menit dan 24 jam, nilai KAO 6,15% di ambil dari pengujian RAP 40% masih memenuhi spesifikasi dan mendapatkan nilai indeks kekuatan sisa
Korelasi Kekuatan Tekan dan Kekuatan Tarik Belah Beton Busa Komposisi Bahan Ramah Lingkungan
Perkembangan infrastruktur di bidang teknik sipil semakin pesat, termasuk material konstruksi yang ringan, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan busa pada komposisi beton dengan berat <2,0 N/mm2 menurut SNI 03 3449 2002 sehingga termasuk dalam kategori beton ringan. Beton busa mempunyai komposisi semen, pasir dan air yang sama dengan mortar, perbedaannya terletak pada penambahan busa cair yang ditambahkan setelah menjadi mortar. Fungsi busa adalah untuk membentuk rongga pada struktur beton busa dan mengurangi penggunaan pasir dan semen. Parameter sampel berbentuk silinder dengan tinggi 20 cm dan diameter 10 cm dengan jumlah 20 buah. Pengeringan udara kering pada umur 3 hari 28 hari. Penelitian menunjukkan bahwa sampel uji mempunyai nilai koreksi kuat tekan dan kuat tarik belah sesuai dengan umur desain sebesar 0,3295. Volume busa yang besar mengakibatkan kuat tekan dan tarik menjadi lebih rendah sebesar 86,92 %, dan perilaku sampel memiliki korelasi tegangan-regangan getas dengan pola elastis. Presentasi kuat tekan dan kuat tarik belah pada umur 28 hari adalah 0,016 %
Analisa Dampak Kesalahan Pemasangan Timing Gear Terhadap Cylinder Head Engine 3406 Caterpillar
Kesalahan pemasangan timing gear pada mesin Caterpillar 3406 dapat menyebabkan dampak serius terhadap performa dan ketahanan mesin, terutama pada komponen kepala silinder (cylinder head). Timing gear yang tidak terpasang dengan benar dapat mengakibatkan ketidaksesuaian antara perputaran poros engkol (crankshaft) dan poros camshaft (camshaft), sehingga timing pembakaran dan pengaturan katup menjadi tidak optimal. Akibatnya, terjadi penurunan efisiensi pembakaran, kerusakan pada komponen internal mesin, serta potensi kerusakan permanen pada cylinder head, seperti benturan katup dengan piston, pemanasan berlebih, dan keausan yang cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kesalahan pemasangan timing gear terhadap cylinder head mesin Caterpillar 3406, dengan fokus pada identifikasi jenis kerusakan yang terjadi, faktor penyebabnya, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan untuk menghindari kerusakan tersebut. Metode penelitian yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan studi pustaka. Literatur yang digunakan adalah SIS 2.0 yang berisi spesifikasi, prosedur pembongkaran dan pemasangan, dan GRPTS. Hasil penelitian membuktikan bahwa posisi timing gear yang tidak tepat dapat mengakibatkan kerusakan pada cylinder head. Cylinder head merupakan komponen yang terdampak akibat dari timing valve saat proses pembakaran tidak sesuai dengan spesifikasinya