E-Journal Politeknik Negeri Samarinda
Not a member yet
6430 research outputs found
Sort by
Scaling Innovations for Plastic Circularity with Investment in ASEAN
This paper presents a study that was
conducted in six AMS and based on an initial assessment of
their SWM systems, these were grouped into two sets of three
countries. Three countries (Cambodia, Indonesia, and the
Philippines) have a nascent solid waste ecosystem that is
characterized by some dedicated waste policies and
regulations, which are poorly enforced, with no support and
incentives for plastic circularity; limited or no waste
segregation at source; poor collection systems with a low
collection ratio; a strong autonomous informal sector that
prioritizes the collection, sorting, and recycling of
high-value plastic; and significant gaps in the
infrastructure for waste recovery and recycling. A second
group of three countries (Malaysia, Thailand, and Vietnam)
have an emerging solid waste ecosystem, with a SWM
regulatory framework; incentives for plastics’ reuse; SUPs’
restriction, collection systems, and recycling facilities in
place in major urban centers; and consumers are educated to
segregate their waste at its source. In addition, Indonesia
and the Philippines are island nations that have unique SWM
challenges. This paper acknowledges that although there are
gaps in plastic and SWM in the six AMS, these shortcomings
in infrastructure and services should not deter them from
supporting plastic waste innovations, which can enhance
plastic and SWM. This paper is intended to enable ASEAN
countries to take stock of the current innovations that are
supporting plastic circularity and the steps needed to
encourage additional capital investment by improving
policies and building innovators’ capacity. Thus, this paper
should assist stakeholders in tackling plastic pollution and
improving plastic circularity by focusing on innovations in
plastic circularity and supporting entrepreneurs and small
and medium enterprises (SMEs)
Educational Responses to Local and Migration Destination Shocks: Evidence from China
Over the last 20 years, China has experienced substantial positive shocks to export-oriented industries, particularly following its accession to the World Trade Organization, which have had major implications for human capital investment. One primary channel through which export expansion can shape choices about human capital accumulation is positive labor-demand shocks, which can be observed both within potential domestic migration destinations and in the locality of birth. Exploiting cross-county variation in the reduction of export tariff uncertainty post-WTO, both locally and at plausible migration destinations, this analysis finds that youth in China reaching the matriculation age post-accession in counties experiencing a larger export shock (either locally or at those destinations) have a lower probability of enrolling in high school. This pattern is observed in a sample that includes both youth who ultimately migrate and those who do not. For urban youth, the effects of local shocks are larger than those of destination shocks, whereas the opposite pattern is observed for rural youth
DESAIN LANSEKAP SEAMEO BOGOR SEBAGAI KAWASAN AGROEDUWISATA
SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) BIOTROP is a center for the study of tropical biology under the coordination of the Ministry of Education, Culture, Research and Technology. Its activities include research, training, networking, and personnel exchange and information dissemination in tropical biology. More than 5000 visitors per year take advantage of the facilities and resources available at BIOTROP. To maximize this potential, BIOTROP has launched an Agro-Edu-Tourism program. The concept of Agro-Edu-Tourism was chosen because the main activities at BIOTROP are research in the field of tropical biology and agriculture in a broad sense, as well as tourism activities are considered as one of the most developing industries in the world. The aim of this research is to design the BIOTROP landscape that can be used as a facility for agroedutourism and enhance ecosystem services. The basic concept of this design is to maximizes the functions of the existing BIOTROP area, which currently serves as a tourist destination with a foundation in agriculture and education. The proposed basic concept is "Familiarizing oneself with Agriculture", where visitors are invited to get closer to agricultural products, engage in recreational activities in agricultural areas, and experience firsthand farming activities such as land cultivation, planting, caring for crops, and harvesting. Additionally, this research contains a series of designs consisting of project acceptance, analysis, conceptual studies, schematic designs, site plan, and construction drawings. The final results of this research are recommendation concept, site plan, detailed drawings, and design illustrations
STUDI EKPLORASI UNSUR IDENTITAS SAMARINDA UNTUK PENGEMBANGAN DESAIN KEMASAN KUE : STUDI KASUS: PENGEMBANGAN KEMASAN BISKUIT GABIN SAMARINDA
Biskuit Gabin merupakan jajanan khas Samarinda yang biasa dijadikan oleh-oleh. Desain kemasan biskuit gabin yang juga merupakan salah satu jenis kue tradisional tidak banyak berubah sejak pertama kali diluncurkan. Sehingga desain kemasan perlu dikembangkan sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya. Dari hasil tugas yang diberikan kepada 75 siswa, terpilihlah desain akhir untuk digunakan sebagai kemasan produk. Dalam penelitian ini menggunakan. Metode Proses Perancangan Struktur Pengemasan, pengemasan biskuit gabin berkembang melalui beberapa tahapan, sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan berbagai aplikasi komputer untuk dikembangkan seperti. Hasil dari proyek ini adalah prototipe kemasan biskuit gabin yang dilengkapi dengan grafik yang menampilkan ikon-ikon daerah terkait menampilkan identitas daerah.
Eksplorasi Es Tradisional khas Pontianak: Ce Hun Tiau dan Es Bongko
Kota Pontianak yang biasa dikenal sebagai Kota Khatulistiwa, menjadi salah satu icon dari Kalimantan Barat yang ternyata menyimpan aneka ragam kulinari pencuci mulut dengan cita rasanya tersendiri. Macam kuliner pencuci mulut yang akan ditelaah lebih lanjut pada pembahasan ini adalah Eksplorasi Es Tradisional Khas Pontianak, Ce Hun Tiau dan Es Bongko. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengenal lebih dalam makanan tradisional Kota Pontianak di Indonesia yang masih memiliki cita rasa yang unik dan khas dari setiap ragam kulinarinya. Ce Hun Tiau merupakan hidangan pencuci mulut asal Pontianak yang sangat kental dengan nuansa Tionghua. Ce Hun Tiau merupakan singkatan dari Ce yang diambil dari kata ciu yang berarti ubi, kata hun yang artinya tepung, dan kata tiau atau tiaw yang berarti balok panjang. Kuliner segar ini disajikan dengan tujuh komposisi bahan utama di dalamnya, yaitu ketan hitam, kacang merah, cincau, bongko (ati pari), santan, gula merah cair dan ce hun tiau itu sendiri sejenis cendol atau candil, berwarna putih yang terbuat dari tepung sagu dengan bentuk yang panjang seperti bentuk mie. Sedangkan Es Bongko atau biasa disebut Ati Pari merupakan minuman segar khas kota pontianak yang biasanya disajikan pada saat bulan Ramadhan, berisikan potongan kue bongko dan bahan pelengkap, seperti nangka, sagu mutiara, ketan hitam, buah-buahan dan cincau hitam
Minat Beli sebagai Mediasi antar Citra Perusahaan dan Keputusan Pembelian Paket Wisata
Fokus kajian ini untuk mengungkap pengaruh antar citra perusahaan dan keputusan pembelian melewati variabel perantara minat beli paket wisata Lampung pada salah satu travel agent di Palembang. Pariwisata memainkan peran penting dalam perekonomian dan merupakan industri yang paling cepat berkembang secara global. Saat ini, pariwisata menjadi industri penting yang menjadi andalan bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Perjalanan wisata yang sebelumnya dianggap sebagai kebutuhan sekunder, di masa ini sudah menjadi kebutuhan primer untuk sebagian besar individu. Hal ini juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang telah memfasilitasi masyarakat dalam mengakses informasi. Salah satu bisnis di industri pariwisata yang menawarkan jasa layanan perjalanan adalah biro perjalanan. Biro perjalanan wisata memainkan peran penting dalam usaha perjalanan yaitu sebagai pengkoordinasi kegiatan perjalanan wisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel non-probability sampling dengan metode selective sampling, yang melibatkan 94 responden yang pernah membeli paket wisata Lampung pada periode Januari 2023 hingga Februari 2024. Penjabaran data dilakukan dengan analisis jalur (path analysis) dengan mempergunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 24. Hasil kajian mengungkapkan bahwa citra perusahaan dan minat beli berdampak signifikan. Citra perusahaan dan keputusan pembelian berdampak signifikan. Minat beli dan keputusan pembelian berdampak signifikan. Minat beli dapat menjadi perantara antara citra perusahaan dan keputusan pembelian.
 
Makanan Khas Bali Di Desa Wisata Bakas Berpotensi Besar Dikembangkan Menjadi Wisata Gastronomi
Bakas Village is one of the tourist villages in Klungkung Regency, Bali, which has begun to offer gastronomic tourism attractions based on traditions that are still maintained by the local community, namely the tradition of cooking traditional Balinese cuisine. This study was conducted to produce a study that explains how Balinese cuisine can become gastronomic tourism in Bakas Tourism Village. This study was conducted using a primary survey method, namely field observation and interviews with key informants from Bakas Tourism Village. Data collection was supported by a checklist instrument consisting of 7 variables with 28 indicators based on qualitative descriptions from the Guidelines for the Development of Gastronomy Tourism book published by the United Nation World Tourism Organization (UNWTO). It was filled in using the Likert scale method with a score range of 1-5. Furthermore, the results of this checklist were described using quantitative and qualitative descriptive analysis methods. Based on observations and data processing, it was found that Bakas Tourism Village has great potential in developing gastronomic tourism. It's just that there are still several sectors that need to be fixed or developed again by Bakas Tourism Village in order to improve gastronomy in this village
Pentingnya Pembelajaran Bahasa Asing Di Program Studi D3 Pariwisata
Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung dunia pariwisata Indonesia belum maksimal penggarapannya, padahal Indonesia memiliki keindahan alam dan beraneka ragam kebudayaan yang memikat wisatawan domestik dan mancanegara. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi SDM adalah penguasaan bahasa asing. Bahasa merupakan alat komunikasi antar manusia yang berperan penting dalam dunia pariwisata. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa asing di kampus, termasuk di Program Studi D3 Pariwisata, menjadi wajib dilaksanakan karena akan menjadi dasar kompetensi mahasiswa bersaing di industri perhotelan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya pembelajaran bahasa asing pada mahasiswa D3 Pariwisata dan bagaimana penerapan bahasa tersebut ketika mahasiswa sudah memasuki dunia industri, seperti di hotel berbintang 4 di Samarinda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dalam penelitian ini berskala 2 yang merupakan luaran dari penelitian dasar. Hasil yang akan dicapai dari penelitian ini yaitu mengetahui penerapan bahasa asing di industri perhotelan dan sebagai salah satu bahan pustaka penelitian dengan tema yang sama serta masyarakat juga dapat mengambil manfaat dengan membaca publikasi hasil penelitian melalui jurnal.
 
ANALISIS KORELASI KAYU LAMINA AKASIA MANGIUM TERHADAP KEKUATAN TEKAN
Kayu lamina merupakan alternatif mengatasi keterbatasan dimensi bahan dasar yang tersedia. Dengan mempersiapkan papan-papan sambung dan melakukan penyusunan serta perekatan pada kedua permukaan sehingga mendapatkan dimensi kayu sesuai kebutuhan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi nilai kekuatan tekan maksimum antara kayu utuh dengan kayu lamina lapis dua dan lapis tiga. Penelitian ini menggunakan kayu Akasia Mangium (Acacia Mangium Willd) termasuk kayu dengan kerapatan kelas kekuatan II. Kayu Lamina dengan ukuran panjang 4 cm, lebar 4 cm, tinggi 6 cm dibagi menjadi lapis dua tebal 2 cm, 2 cm dan lapis tiga 1 cm, 2 cm, 1cm. Digunakan perekat sintetis, berat labur perekat 200-220 gr/m2 pada kedua permukaan. Prosedur pengujian dilakukan di laboratoriun berdasarkan ASTM D413-05 (2005) Methods of Testing Small Clear Specimen of Timber. Alat pengujian menggunakan Universal Testing Machine merk AMSLER made in Western Germany dengan kapasitas 100 kN. Hasil penelitian kadar air 9,723 % - 12 % kurang dari 14 %, Kerapatan 0,7662 gr/cm3, Kekuatan tekan kayu utuh antara 488,48 kg/cm2 - 609,01 kg/cm2, kayu lapis dua antara 610,02 kg/cm2 – 618,82 kg/cm2, dan kayu lapis tiga antara 433,33 kg/cm2 – 444,85 kg/cm2. Ketiganya masuk dalam kekuatan berdasarkan tekannya masuk di kelas kekuatan II (425 kg/cm2 – 650 kg/cm2). Nilai hasil Analisis Korelasi : korelasi Spearman’s rho nilai kayu utuh dengan kayu lapis dua mempunyai hubungan yang positip dan tingkat kepercayaan mencapai 99 %, hubungan kedua variabel adalah signifikan (sig. 0,000 < 0,001) ; korelasi parsial kayu lapis dua dengan balok lapis tiga mempunyai hubungan yang positip dan tingkat kepercayaan mencapai 99 %, hubungan kedua variabel adalah signifikan (sig. 0,000 < 0,001)
PENGARUH PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG KERANG DAN LIMBAH KERAMIK SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT HALUS DAN AGREGAT KASAR PADA BETON TERHADAP KUAT TEKAN BETON
Limbah cangkang kerang dan keramik merupakan limbah yang jumlahnya cukup banyak dan sering ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur khususnya di Kabupaten Kutai Lama.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan limbah berupa cangkang kerang sebagai substitusi sebagian agregat halus dan limbah keramik lantai sebagai substitusi agregat kasar terhadap kuat tekan beton.
Campuran limbah cangkang kerang dengan presentase 5% ditambah limbah keramik dengan presentase yang digunakan masing - masing adalah 13,75%, 27,5%, 41,25%, dan 54%. Pengujian material agregat kasar dan halus yang dilakukan adalah pengujian analisis saringan, kadar air, berat jenis dan penyerapan, bobot isi dan abrasi. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada beton umur 7, 28 dan 35 hari dengan benda uji silinder 10 x 20cm.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa substitusi limbah cangkang kerang dan keramik mempengaruhi kekuatan tekan dan nilai slump beton. Terjadi penurunan kekuatan tekan beton campuran limbah cangkang kerang dan keramik sebesar 10,94%, 3,80% 23,60%, dan 25,88% terhadap campuran beton normal. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa substitusi limbah cangkang kerang sebagai substitusi sebagian agregat halus dan limbah keramik sebagai substitusi agregat kasar dengan proporsi tersebut tidak dapat menaikkan kuat tekan beton