Roma Jurnal STKIP PGRI Sumenep
Not a member yet
313 research outputs found
Sort by
Strategi Pengembangan Pendidikan Karakter di MTs Mashlahatul Hidayah
The purpose of this study is to know the strategy of implementing character education to students and support factors and inhibitors in MTS Mashlahatul Hidayah, in the hope of providing new innovations in the world of education how character education strategies.This research is a qualitative research by expressing field findings by thrilling thoroughly about data obtained in field, method of data collection in this study using interview techniques, observation and documentation, in this case the researcher analyzed data through. 1) data collection, 2) data reduction, 3) data presentation, 4) withdrawal conclusions.The results showed the values of priority character education were 1) Religious characters, with the form of a) Salat Zuhur congied, b) Ngaji Yasin before KBM. 2) Character of the man with a form of activity A) Salim, b) pending, c) down from the motor. 3) discipline characters. 4) character of environmental love
Keefektifan Teknik Structured Learning Approach untuk Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa SMA Negeri 2 Sumenep
This study aims to test the effectiveness of the structured learning approach to improve learning discipline. The design used in this study is one group pretest-posttest design. The subjects of the study were 8 students of class XI IPA who had low discipline learning scores. Measurement of student learning discipline is done repeatedly before and after treatment is given to see the consistency of the research subject conditions. Testing or measurement of effectiveness is carried out using The Wilcoxon Signed-rank test then proceed to the next test that is paired t-test. The findings of this study prove that the structured learning approach is effective in improving the discipline of student learning at Sumenep 2 Public High Schools
Revolusi Industri 4.0 dan Pengaruhnya pada Kenakalan Remaja
The 4.0 revolution era which belongs to digital and internet nowadays has been extremely dominated by teenagers. This has huge impact on various aspects, especially in terms of biological, psychological, social, and spiritual. Adolescence is a time for a transition from childhood to be an adult human. In this era, there are many both behavioral changes and developments that occur in each individual. This paper will try to describe and analyze the industrial revolution 4.0 and juvenile delinquency with a strength-based approach on their adolescent life. The Teenagers nowadays are tend to influenced by the social media environment in establishing their self-concept. It includes the identity search for youth through social media. The netizen’s Positive reactions will strengthen and support the identity of teenagers. On the other hands, netizen\u27s negative reactions will be affected to the identity confusion among teenagers
Konseling Multibudaya Berbasis Konseling KIPAS (Kajian Reflektif atas Pengalaman Konselor di Lembaga Pendidikan Tinggi)
KIPAS Counseling is a summary of Progressive and Adaptively Intensive Counseling in terms of Structure. KIPAS is encouraged as a fresh breeze that is expected to calm all of the parties within BK\u27s scientific disciplines down; from counselors, counselees, teachers, principals, and other elements that support it. KIPAS are present to eliminate the negative judgments that have been inherent in the mind of the counselees. The form of counseling services encouraged by cultural encounters and individual uniqueness proposes a more conducive and representative space, as a formula so that the prescription stipulated is correct. Multicultural Counseling is present as an answer to the uniqueness of each individual in realizing themselves as an autonomous person based on physical sensation and psychological states counselees, respect for the attitude of counselees, religious values, and cultural values of counselees, the flexible and positive attitude, also psychical satisfaction of the subject
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN SEPAK BOLA DENGAN PENDEKATAN PERMAINAN SHOOTING COLOUR PADA SISWA KELAS XII MIPA 2 SMAN 1 AMBUNTEN
Latar belakang penelitian, karena hasil belajar siswa dalam pembelajaran sepak bola pada siswa Kelas XII MIPA 2 SMAN 1 Ambunten, siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, siswa lebih suka menunggu bola datang dari pada bergerak mengejar bola. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour pada siswa Kelas XII MIPA 2 SMAN 1 Ambunten. Jenis Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam siklus 2. Subjek penelitian seluruh siswa Kelas XII MIPA 2 yang berjumlah 34 siswa, terdiri dari 12 orang siswa laki-laki dan 22 orang siswa perempuan. Teknik pengumpulan data observasi berupa dokumen dan foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran penjasorkes dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour meningkat. Terlihat dari persentase ketuntasan belajar siswa dari semua aspek pada siklus I yaitu sebesar 61,76% meningkat pada siklus II menjadi 76,47%. Ketuntasan hasil belajar siswa pada setiap siklus dirata-rata dari aspek pengetahuan, aspek sikap dan aspek keterampilan. Ketuntasan belajar aspek pengetahuan pada siklus I yaitu sebesar 47,06 %, pada siklus II sebesar 76,47%. Ketuntasan belajar aspek sikap pada siklus I yaitu sebesar 73,53%, siklus II sebesar 82,35%. Ketuntasan belajar aspek keterampilan pada siklus I yaitu sebesar 58,82%, siklus II sebesar 82,35%. Peningkatan hasil belajar tiap aspek pada penelitian ini, aspek pengetahuan 29,41%, aspek sikap 8,82%, aspek keterampilan 23,53%. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 14,71%. Saran yang dapat disampaikan dari penelitian ini diharapkan pembelajaran penjas dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam permainan sepak bola
DINAMIKA POLITIK KEAGAMAAN DI INDONESIA
Tulisan ini membahas mengenai perkembangan politik keagamaan pada era Reformasi. Sebelumnya organisasi keagamaan sulit berkembang karena mendapat tekanan kuat dari pemerintah Orde Baru. Berakhirnya Orde Baru ke Reformasi menjadi angin segar bagi kelompok-kelompok tertentu yang semula sudah menyiapkan dasar-dasar organisasinya. Salah satunya adalah Fron Pembela Islam (FPI). Spirit gerakan tersebut didasari atas kekhawatiran akan terkikisnya nilainilai keislaman seiring perkembangan dan kemajuan zaman, sehingga mereka beranggapan perlu adanya perisai untuk menjaga supaya masyarakat tetap eksis dalam penegakan nilai-nilai keislaman sesuai yang terkandung dalam al-Quran. Terlepas dari ideologi dan spirit nilai-nilai keislaman, di sisi lain gerakangerakan FPI cenderung diwarnai dengan aksi-aksi provokatif dan anarkis. Sehingga disinyalir gerakan tersebut bukan saja organisasi keagamaan semata, melainkan sebagai motor politik untuk menghimpun massa dalam kepentikan politik tertentuTulisan ini membahas mengenai perkembangan politik keagamaan pada era Reformasi. Sebelumnya organisasi keagamaan sulit berkembang karena mendapat tekanan kuat dari pemerintah Orde Baru. Berakhirnya Orde Baru ke Reformasi menjadi angin segar bagi kelompok-kelompok tertentu yang semula sudah menyiapkan dasar-dasar organisasinya. Salah satunya adalah Fron Pembela Islam (FPI). Spirit gerakan tersebut didasari atas kekhawatiran akan terkikisnya nilainilai keislaman seiring perkembangan dan kemajuan zaman, sehingga mereka beranggapan perlu adanya perisai untuk menjaga supaya masyarakat tetap eksis dalam penegakan nilai-nilai keislaman sesuai yang terkandung dalam al-Quran. Terlepas dari ideologi dan spirit nilai-nilai keislaman, di sisi lain gerakangerakan FPI cenderung diwarnai dengan aksi-aksi provokatif dan anarkis. Sehingga disinyalir gerakan tersebut bukan saja organisasi keagamaan semata, melainkan sebagai motor politik untuk menghimpun massa dalam kepentikan politik tertent
Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Pelajaran Ekonomi Melalui Model Pembelajaran Quantum Tipe VAK Kelas XI IPS 2 DI SMA Negeri I SUMENEP Kabupaten Sumenep
ABSTRAK
Pembelajaran ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang diminati siswa. Maka upaya yang dilakukan peneliti untuk meningkatkan motivasi belajar ekonomi dan meningkatkan hasil pembelajaran peneliti melakukan inovasi dengan menggunakan model pembelajaran quantum model VAK. Tujuan dari penelitian Tindakan Kelas ini untuk peningkatan motivasi belajar siswa pelajaran ekonomi melalui “Model Pembelajaran Quantum tipe VAK.” Manfaat penelitian ini agar siswa dapat meningkatkan motivasi dalam belajar sehingga prestasi dalam mapal pelajaran ekonomi dapat meningkat, sedangkan bagi guru memperluas dan menambah wawasan serta kreativitas berpikir dalam mengembangkan potensinya sebagai Pendidik. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa klas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Sumenep Setting Penelitian Tindakan Kelas dilakukan di SMA Negeri 1 Sumenep tahun pelajaran 2019-2020.Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa apabila 85% siswa kelas XI IPS 2 (kelas yang diteliti) telah mencapai ketuntasan dengan standar ideal 75. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan Dari hasil kegiatan Pembelajaran yang telah dilakukan setelah tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: Pembelajaran dengan ini Quantum tipe VAK dapat ningkatkan hasil .belajar siswa Kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 1 Sumenep mata Pelajaran Ekonomi yang ditandai dengan ningkatan hasil belajar siswa dan setiap siklus yaitu 65%; 78,33% : 87%. Pembelajaran melalui penerapan model Quantum tipe VAK pada pelajaran Ekonomi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
 
Aplikasi Model Pembelajaran Scramble dalam Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
Penerapan model pembelajaran scramble dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMK. Penelitian tindakan kelas yang diterapkan pada dua siklus ini terdiri dari 3 kali pertemuan pada tiap siklusnya. Data dikumpulkan melalui lembar tes kemampuan pemecahan masalah, observasi, dan angket respon siswa yang selanjutnya dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil yang diperoleh yaitu meningkatnya kemampuan pemecahan masalah matematika dengan kualifikasi baik atau sangat baik yaitu tahap pra siklus sebesar 0% menjadi 43,48% pada siklus I dan siklus II terjadi peningkatan 78,26%. Persentase aktivitas siswa pada siklus I yaitu 39,13% berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi, pada siklus II meningkat menjadi 82,6%. Hasil angket respons siswa tentang kegiatan pembelajaran yang dilakukan menampilkan lebih dari 75% siswa memberikan respon positif pada masing-masing aspek yang direspon. Ketuntasan klasikal juga meningkat dari tahap pra siklus yakni 17,39%, pada siklus I menjadi 60,87% dan pada siklus II meningkat menjadi 86,96%. Ketuntasan klasikal ini digunakan untuk menggambarkan kemampuan pemecahan masalah siswa sehingga model pembelajaran scramble ini terbukti telah mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMK
POLA PRAKTIK PENGGUNAAN POLITIK UANG DALAM PILKADES (Studi fenomenologis transaksi politik dalam proses demokrasi local)
Pemilihan umum merupakan salah satu indicator penting untuk mengukur tingkat kualitas demokrasi suatu Negara termasuk pula pada pemilihan kepala desa. Semakin berkembangnya demokrasi suatu negara maka juga akan semakin meluasnya partisipasi publik masyarakat. Namun ditengah kondisi demokrasi yang masih belum matang, praktek pemilu di Indonesia termasuk lebih ironis lagi pada pemilihan kepala desa masih banyak diwarnai oleh beberapa fenomena umum yang terus mengemuka semisal money politic, patron-klien relationship serta peran blater di dalamnya. Melalui pemikiran inilah tulisan ini hadir untuk melihat 1) Bagaimana proses penetrasi politik elit dalam mempengaruhi preferensi poliik pemilih, 2) bagaimana penggunaan politik uang mampu berpengaruh terhadap preferensi politik pemilih ?
Penelitian deskriptif ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk melihat gejala tertentu secara terperinci, intensif pada fenomena masyarakat yang berkembang melalui proses pengamatan atau analisis sehingga bisa menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis, lisan orang atau bahkan prilaku serta gejala tertentu. Guna memperolah data-data deskriptif tersebut, teknik observasi, wawancara mendalam, dokumentasi digunakan oleh peneliti untuk memperkuat data yang dihasilkan. Sementara untuk menguji validitas datanya peneliti menggunakan teknik trianggulasi sumber dengan cara membandingkan ulang data hasil wawancara dengan isi dokumen.
Hasil penelitian ini menunjukkan pertama bahwa penggunaan bahasa adalah instrument penting dalam komunikasi. Dalam perspektif komunikasi politik, pembentukan wacana memiliki peran penting sekaligus instrument elit penguasa dalam mengubah preferensi politik. Melalui penggunaan bahasa yang sifatnya intimidatif tersebut maka kalangan blater telah mampu mengubah preferensi politik pemilih hingga berhasil memenangkan calon yang di usung. Antara penggunaan bahasa kekuasaan dan fenomena kemenangan calon kepala desa dalam kontestasi pilkades di beberapa tempat termasuk di desa Bajur tentu tidak lepas dari penggunaan bahasa kekuasaan dalam konteks manipulasi ideasional. Elit blater sebagai kelompok masyarakat yang berpengaruh di desa bajur memang sangat lihai menggunakan bahasa ancaman guna mengubah preferensi politik pemilih. Kedua Keterlibatan kelompok elit muda dalam proses pemilihan kepala desa telah mengubah iklim politik sekalgus perilaku pemilih setempat. Keberadaan kelompok elit blater tidak berdiri sendiri, ia lahir dari komunitas social dengan jejaring yang mengakar pada masyarakat. Oleh karena itu dalam meningkatkan elektabilitas politik calon kelompok elit ini tidak bergerak sendiri melainkan mereka bergerak secara kolektif dengan melibatkan tokoh elit blater di desa lain. Bahkan dalam kondisi tertentu kehadiran mereka juga mendapatkan dukungan dari kalangan-kalangan elit-elit formal lainnya seperti aparat keamanan desa maupun kepolisian setempat
ARTIKULASI GERAKAN SOSIAL KOMUNITAS DALAM MENJAGA HARMONI SOSIAL (Model Pemulihan Relasi Social dan Penguatan Kelembagaan Masyarakat Pasca Konflik Kepemilikan Tanah Di Desa Sanalaok)
Tanah merupakan suatu yang sangat bernilai dalam kehidupan masyarakat. Banyaknya konflik kepemilikan atas tanah hampir sebagian besar terjadi di wilayah pedesaan termasuk juga pada wilayah desa sanalaok kecamatan waru pamekasan. Data Badan Pertanahan Nasional (BPN), pada tahun 2012 misalnya menyebutkan bahwa kasus sengketa kepemilikan tanah secara nasional diperkirakan mencapai 10.000 kasus (Suara Merdeka, 19 Oktober 2012). Berdasarkan realitas tersebut tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran serta masyarakat dan kepala Desa Sanalaok dalam menjaga harmoni Sosial masyarakat desa setempat serta seberapa besar tingkat partisipasi serta kendala masyarakat dalam rangka melakukan penguatan kelembagaan Sosial demi menjaga harmoni Sosial masyarakat Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif. Informan kunci dalam penelitian ini adalah pimpinan kepala desa sanalaok dan tokoh masyarakat setempat. Teknik pengumpulan menggunakan sumber data primer berupa studi dokumen, wawancara, dokumentasi dan observasi.
Adapun hasil penelitian ini menujukkan pertama, bahwa melalui mediasai Kepala desa disamping pelibatan tokoh masyarakat setempat dipandang sebagai sebuah gerakan komunitas peduli desa dalam penanganan persoalan social melalui pendekatan-pendekatan restorative dan komunikatif, mengidentifikasi dan mengarahkan kerugian, kebutuhan, dan kewajiban dalam rangka menyembuhkan dan menempatkan hak para pihak sebagai titik yang mungkin dituju untuk diselesaikan. Kedua Desa Sanalaok, desa ini masih terbilang sudah cukup membaik dalam penataan dan penanganan rekonsiliasi konflik social masyarakat setempat. Perubahan ini tentu tidak bisa kita lepaskan dari factor internal masyarakat semisal dorongan kemauan dan tingkat pendidikan masyarakat terutama kalangan pemuda desa yang sudah sebagian besar sudah pernah mengenyam pendidikan tinggi. Disamping factor internal juga ditopang oleh factor eksternal masyarakat seperti kepemimpinan kepala desa setempa