Jurnal SADE (Arsitektur, Planologi dan Teknik Sipil)
Not a member yet
50 research outputs found
Sort by
Preferensi Pengguna terhadap Konsep Biophilic Design untuk Meningkatkan Produktivitas pada Bangunan Perkantoran
Produktivitas pekerja merupakan sumber untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan merupakan faktor penting untuk memaksimalkan sumberdaya. Berdasarkan penelitian terdahulu terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan tingkat produktivitas seorang pekerja, dimana salah satu faktornya adalah Work Environment atau Lingkungan Kerja. Manusia Ketika diberikan pilihan mereka akan memilih untuk lebih dekat dengan alam atau berada di lingkungan alami sehingga mereka dapat merasa lebih baik, sama seperti definisi Biophilia yaitu kecenderungan manusia yang memiliki hubungan dengan alam yang memberikan pengaruh terhadap kesejahteraan mental dan fisik manusia. Pengaplikasian Biophilic kedalam bangunan perkantoran dapat meningkatkan tingkat produktivitas, menurunkan tingkat stress, mendorong kebahagiaan, kreativitas dan mengurangi tingkat kehadiran. Dalam pengaplikasian Biophilic Design kedalam bangunan terdapat beberapa pertimbangan seperti tujuan, pengguna, jenis bangunan hingga lokasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi pengguna terhadap Konsep Biophilic Design untuk meningkatkan produktivitas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yang ditujukan kepada pelaku ekonomi kreatif dengan jumlah responden 270 orang. Hasil dari data kuesioner yang didapatkan menunjukkan terdapat 5 kaidah Biophilic Design yang paling banyak dipilih oleh responden yang dapat meningkatkan produktivitas. Yaitu, Kaidah Non-Visual Connection with Nature, Dynamic & Diffuse Light, Visual Connection with Nature, Non-Rhythmic Sensory Stimuli, dan Connection with Natural System
Perancangan Area Restoran di Arung Rinjani berbasis Nilai Lokal dan Tanggap Covid-19
The North Lombok District has many fascinating and diverse tourist destination potentials. However, over the past two years, the tourism sector has experienced a decline in income due to the Covid-19 pandemic. Some tourism sectors have started to bounce back this year by designing new projects that can attract and ensure tourists form Covid-19 transmission. To develop that project, the new building attraction will be developed from local value and Covid-19 risk transmission. This research was conducted to find out how the criteria of restaurant area can be designed to support the bounce back of tourism in Arung Rinjani. This area is on the regional route of the Senaru Traditional Village. This region is predicted will be popular after the Covid-19 pandemic due to its traditional values and strategic location. Data were collected through field observations and data literature. All data will be analyzed by qualitative descriptive method to design an adaptive restaurant building criteria. The results show that the restaurant area can be designed by transforming local value and attributes to the physical form of buildings to elevate the value of locality. Meanwhile, responsive design for Covid-19 can be achieved by choosing the right furniture, changing the room layout, maintaining the adequate distance between dining areas, maximizing window openings for passive design, and educating visitors to follow health protocols during traveling. These results are expected to be design ideas and programs to design a restaurant area in Arung Rinjani.Kabupaten Lombok Utara memiliki potensi wisata yang sangat menarik dan beragam. Akan tetapi, selama dua tahun terakhir sektor pariwisata banyak mengalami penurunan pemasukan akibat adanya pandemik Covid-19. Untuk membangkitkan pariwisata, maka diperlukan strategi untuk mengembangkan desain yang memiliki daya tarik dan adanya jaminan kesehatan dari penularan Covid-19. Daya tarik bangunan akan dikaji dari pengangkatan nilai lokalitas dan jaminan kesehatan dikaji dari penelitian terdahulu. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kriteria desain area restoran yang tepat untuk mendukung kebangkitan pariwisata baru di Arung Rinjani. Arung Rinjani berada di jalur kawasan menuju Desa Adat Senaru. Area ini diprediksi akan memiliki potensi yang kuat setelah pandemik berakhir karena adanya nilai lokal dan lokasi yang strategis. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan dan mencari literatur data pendukung. Data kemudian diolah dengan metode deskriptif kualitatif dan metode perancangan untuk menghasilkan kriteria perancangan desain restoran yang adaptif. Hasil akhir menunjukkan bahwa area restoran dapat didesain dengan cara mengambil salah satu kebudayaan setempat yang dikembangkan dalam bentuk fisik desain bangunan untuk mengangkat nilai lokal. Desain area restoran yang tanggap Covid-19 dapat dilakukan dengan memilih perabot ruang, mengubah peletakan perabot ruang, menjaga jarak antar tempat makan, memperbanyak bukaan jendela untuk penghawaan alami yang baik, dan edukasi pengunjung untuk mematuhi protokol kesehatan. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi ide gagasan dalam perancangan bangunan restoran. Pemerintah juga dapat membuat kebijakan untuk area restoran serupa agar wisatawan merasa aman saat berwisata
Pariwisata Kreatif Pada Argowisata Perkebunan Teh Gunung Manik Desa Karyamukti Kabupaten Cianjur
Perkebunan teh yang berada di lokasi Desa Karyamukti merupakan perkebunan teh yang dimiliki oleh Perhutani Jawa Barat yang digunakan sebagai lahan Hak Guna Usaha (HGU) oleh PT Sinar Sosro. Argowisata pertanian merupakan salah satu bentuk pariwisata yang menawarkan kegiatan pertanian sebagai daya tarik utama dan memanfaatkan keindahan alam buatan serta melibatkan masyarakat sekitar sebagai pengelola Kawasan wisata tersebut. Selain itu, Pariwisata kreatif adalah pariwisata yang menawarkan kepada pengunjung berbagai pengalaman kreatif. Sehingga pada perkebunan teh yang berlokasi di Desa Karyamukti ini akan dirancangan konsep pariwisata kreatif pada argowisata Perkebunan Teh Gunung Manik akan diciptakan atraksi kepada wisatawan untuk memberikan pengalaman interaksi antara wisatawan dengan masyarakat, dan menjadikan Desa Wisata Karyamukti memiliki bentuk wahana baru dari wisata perkebuna teh yang mengusung konsep pariwisata kreatif.The tea plantation located in the Karyamukti Village location is a tea plantation owned by Perhutani West Java and used as HGU land by PT Sinar Sosro. Agricultural agrotourism is a form of tourism that offers agricultural activities as the main attraction, takes advantage of artificial natural beauty, and involves the surrounding community as the manager of the tourist area. In addition, "creative tourism is tourism that offers visitors a variety of creative experiences. So that the tea plantation located in Karyamukti Village will design a creative tourism concept for the Gunung Manik Tea Plantation agrotourism, create attractions for tourists to provide an experience of interaction between tourists and the community, and make Karyamukti Tourism Village have a new form of vehicle for tea plantation tourism that carries a creative tourism concept
Desain Signage dan Street Furniture di Kawasan Wisata Desa Wisata Karyamukti
Gunung Padang Cultural Heritage Site is a National Cultural Reserve in the form of a stepped punden building that is the largest and oldest in Indonesia. The location is in Karyamukti Village, Campaka District, Cianjur Regency, West Java. The tourist area in Karyamukti Village has a variety of unique tourist areas that can be enjoyed by tourists, including a welcome/reception area that serves to provide information to tourists. Activities carried out by tourists in Karyamukti Tourism Village, of course, must get the attention of tour managers. In the receiving area and some areas that will be used as locations for receiving tourists must be equipped with facilities in the form of signage and street furniture. The existence of signage and street furniture in tourist areas will certainly be able to provide information and meet the needs of tourists who come to tourist locations in Karyamukti Tourism Village. And the character of the signage design and street furniture must also be able to represent the character of the region by raising local wisdom. This signage character is a visual form used to convey a message to the person who sees it. Signage has unique and different characters, depending on the destination and location to be marked. Signage characters can be colors, shapes, sizes, and font types used. Signage can also use symbols and icons to convey messages.
Keywords: culture, tourist village, local wisdom, signage, street furnitureSitus Cagar Budaya Gunung Padang adalah Cagar Budaya Nasional berupa bangunan punden berundak yang berukuran paling besar dan tertua di Indonesia. Lokasinya berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kawasan wisata di Desa Karyamukti memiliki beragam area wisata yang unik yang dapat dinikmati para wisatawan, diantaranya terdapat area sambutan/penerima tamu yang berfungsi untuk memberikan informasi kepada para wisatawan. Aktivitas yang dilakukan oleh para wisatawan di Desa Wisata Karyamukti, tentunya harus mendapatkan perhatian dari para pengelola wisata. Pada area penerima dan beberapa area yang akan dijadikan sebagai lokasi untuk penerimaan wisatawan harus dilengkapi dengan fasilitas berupa signage dan street furniture. Keberadaan dari signage dan street furniture pada kawasan wisata tentunya akan dapat memberikan informasi dan memenuhi kebutuhan dari para wisatawan yang datang ke lokasi wisata di Desa Wisata Karyamukti. Dan karakter dari desain signage dan street furniture juga harus dapat mewakili karakter Kawasan dengan mengangkat kearifan lokal. Karakter signage ini merupakan bentuk visual yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada orang yang melihatnya. Signage memiliki karakter yang unik dan berbeda-beda, tergantung pada tujuan dan lokasi yang akan ditandai. Karakter signage dapat berupa warna, bentuk, ukuran, dan jenis font yang digunakan. Signage juga dapat menggunakan simbol dan ikon untuk menyampaikan pesan.
Kata kunci: budaya, desa wisata, kearifan lokal, signage, street furnitur
Gerbang Sebagai Pembentuk Identitas Kawasan Wisata Situs Gunung Padang
Gerbang Kawasan Wisata Situs Gunung Padang yang berada di Desa Karyamukti Dusun Gunung Padang, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merupakan gerbang sebagai pembentuk identitas atau citra dari Situs Gunung Padang. Situs gunung padang menarik wisatawan dan ilmuan karena situs bebatuannya yang sudah dibangun 8000 SM. Namun kawasan wisata ini akan dikembangkan menjadi kawasan wisata dengan bermacam destinasi wisata untuk menarik lebih banyak wisatawan. Sehingga dibutuhkannya redesain gerbang eksisting yang dapat memberikan identitas Kawasan yang diangkat dari nilai-nilai budaya yang ada di Desa Wisata Karyamukti. Identitas bentuk dari desain gerbang baru diambil dari bentuk kujang, padi pada logo kabupaten dan mewakili perkebunan teh yang ada di Desa Wisata Karyamukti. Dari redesain terhadap gerbang eksisting, diharapkan redesain gerbang akan memberikan nilai tambah kawasan berdasarkan potensi yang akan dikembangkan di Desa Wisata Karyamukti. Untuk penelitian ini metode pengumpulan data menggunakan metode dengan cara survey lapangan, pengamatan langsung di lokasi studi, wawancara dengan narasumber, mengambil dokumentasi foto video dari tiap sudut, pengukuran gerbang untuk menganalisis standar gerbang wisata, sketsa gerbang dan semua data dikumpulkan pada satu penyimpanan untuk penelitian ini.The gate of the Gunung Padang Site Tourism Area located in Karyamukti Village, Gunung Padang Hamlet, Campaka District, Cianjur Regency, West Java, is a gate as a shaper of the identity or image of the Gunung Padang Site. The padang mountain site attracts tourists and scientists because of its rock site that was built in 8000 BC. However, this tourist area will be developed into a tourist area with various tourist destinations to attract more tourists. So that the redesign of the existing gate is needed that can provide an area identity that is lifted from the cultural values in Karyamukti Tourism Village. Identitas the shape of the new gate design is taken from the shape of kujang, rice on the district logo and represents the tea plantations in Karyamukti Tourism Village. From the redesign of the existing gate, it is hoped that the redesign of the gate will provide added value based on the potential that will be developed in Karyamukti Tourism Village. For this study, the data collection method used methods by means of field surveys, direct observations at the study site, interviews with speakers, taking video photo documentation from each angle, gate measurements to analyze tourist gate standards, gate sketches and all data collected in one storage for this study
Karakteristik Kampung Tematik sebagai Public Place untuk Destinasi Wisata Desa Karyamukti, Cianjur
Kampung tematik berdasarkan beberapa teori dikatakan sebagai solusi dari permukiman kumuh yang juga berfungsi sebagai salah satu cara untuk menonjolkan potensi lokal dengan bantuan dari partisipasi masyarakat hingga dapat meningkatkan perekonomian lokal menjadi lebih baik. Kampung tematik ini dikategorikan menjadi sebuah tempat umum atau public place yang memiliki identitas pembeda dari tempat lainnya sehingga kampung tematik dapat dijadikan sebagai destinasi wisata yang berkarakter. Desa Karyamukti merupakan desa sekitar situs Gunung Padang yang belum berkembang baik. Namun Desa ini memiliki potensi untuk menjadi desa wisata dengan mengembangkannya sebagai kampung tematik yang beridentitas UMKM. Tujuan studi ini sebagai langkah awal untuk menunjukkan karakteristik kampung tematik sebagai public place untuk destinasi wisata Desa Karyamukti. Metode yang dilakukan diawali dari pemaknaan kampung tematik, kemudian mengelaborasi informasi dari data dan potensi lalu menncocokkan dengan kriteria. Pada hasilnya didapatkan bahwa Dusun Gunung Malati memenuhi karakteristik kampung tematik yaitu memiliki potensi yang dapat dikembangkan, memiliki ciri khas yang dapat dijadikan sebagai identitas, memiliki masyarakat yang aktif berpartisipasi, memiliki keunikan dan karakteristik tersendiri sebagai pembeda
Evaluasi Penentuan Kawasan Lindung Kota Mataram dalam Perannya Sebagai Kawasan Peresapan Air
Kawasan lindung kota adalah Kawasan yang berfungsi melindungi kelestarian lingkungan hidup dan sumber daya di dalamnya. Pemerintah Kota Mataram telah menetapkan tiga kelurahan yakni Selagalas, Pagutan Timur dan Sayang-sayang sebagai kawasan lindung Kota Mataram. Penelitian ini melakukan pengujian terhadap kemampuan resapan ketiga kawasan lindung tersebut untuk mengukur kinerja ketiganya dalam menjaga tata air sekaligus mencegah kerusakan lingkungan akibat peristiwa alam di wilayah Kota Mataram. Penelitian dilakukan dengan mengukur kemampuan penyerapan air (infiltrasi) di ketiga kelurahan tersebut menggunakan double ring infiltrometer serta menguji sifat fisik tanah di laboratorium. Hasil yang diperoleh adalah bahwa kapasitas infiltrasi kelurahan Selagalas, Pagutan Timur dan sayang-sayang berturut-turut adalah 2.8cm/jam, 2.2cm/jam dan 1.8 cm/jam, dengan jenis tanah yang hampir sama yaitu lempung berpasir. Berdasarkan angka laju resapan menunjukkan bahwa laju penyerapan Pagutan Timur dan Selagalas masuk kategori sedang dan Sayang sayang berkategori sedang lambat. Dengan curah hujan rerata harian antara 12-43 mm/hari, maka potensi penyerapan air rerata dari ketiga lokasi adalah 124.936 m3/tahun untuk Kelurahan Pagutan Timur, Kelurahan Selagalas 284.963 m3/tahun dan Sayang sayang 165.311 m3/tahun. Namun angka potensi ini masih memerlukan penyesuaian mengingat ketiga kelurahan tersebut sudah banyak beralih fungsi menjadi pemukima
Analisis Karakteristik dan Model Kebutuhan Parkir Hotel Aston Inn Mataram
Hotel Aston Inn merupakan hotel bertaraf internasional dan salah satu hotel bintang tiga di Kota Mataram. Selain fasiltas utama, besarnya tarikan pengunjung di hotel juga harus ditunjang dengan fasilitas lain seperti area parkir. Pada saat event tertentu, seperti saat penggunaan meeting room, pihak hotel memanfaatkan badan jalan sebagai tempat parkir. Karena area parkir yang sudah ada belum mampu menampung kendaraan pada saat event tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana penggunaan ruang parkir yang tersedia berdasarkan karakteristik parkir dan untuk mengetahui model kebutuhan parkir pada hotel Aston Inn Mataram. Data karakteristik parkir diperoleh dari survei lapangan, sedangkan untuk membuat model kebutuhan parkir data diperoleh dari pihak manajemen hotel. Dalam pembuatan model, parameter yang ditinjau sebagai variabel bebas adalah kamar terisi, jumlah staf dan pengunjung. Hasil analisis menunjukkan penggunakan ruang parkir mobil sebesar sebesar 119.35% dan sepeda motor sebesar 137.50%. Hal ini mengindikasikan penggunakan area parkir hotel melebihi kapasitasnya. Hasil Analisis regresi menghasilkan kebutuhan ruang parkir mobil dengan persamaan Y = 30.772 X 0.409 dan kebutuhan parkir sepeda motor Y=0.620 e 0.044 X. Variabel yang paling signifikan adalah jumlah pengunjung
Kajian Potensi Wisata Kuliner Pantai Ampenan
Sejak ditetapkannya KEK Mandalika tahun 2017, Pulau Lombok kini menjadi salah satu tujuan utama wisata di Indonesia. Selain jenis wisata alam dan budaya yang ditawarkan, terdapat juga kuliner yang khas seperti plecing kangkung, ayam taliwang, sepat, bebalung yang disukai wisatawan. Aspek kuliner mempunyai peranan yang sangat kuat dalam keberhasilan pengembangan sebuah destinasi (Pepela & O'Halloran, 2014), karena menikmati makanan lokal dapat memberikan peluang bagi wisatawan untuk mempelajari geografi dan budaya masyarakat setempat (Richards, 2002). Pemerintah Kota Mataram menyadari hal tersebut dan menyusun sebuah rencana pembangunan tempat wisata kuliner yang tidak hanya fokus pada kulinernya, namun juga keindahan alam, seni dan budaya. Dinas Pariwisata Kota Mataram bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Mataram melakukan studi kelayakan penataan tempat wisata kuliner kawasan pantai Kota Tua Ampenan, yang diharapkan menghasilkan kajian awal untuk menyusun perencanaan pembangunan dan dasar pengambilan keputusan. Kegiatan studi ini bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan berupa data primer dari hasil observasi dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari dokumen, literatur dan jurnal ilmiah. Berdasarkan hasil analisa, didapatkan kesimpulan bahwa Pantai Ampenan layak dan sangat berpotensi untuk dijadikan tempat wisata kuliner, karena posisinya yang dekat dari pusat kota, dapat memperkuat citra kawasan, mendukung revitalisasi, serta memiliki sarana dan prasarana memadai
(Re)Interpretasi Arsitektur Tropis: Kajian Teoretis tentang Determinasi Arsitektur Vernakular dan Regionalisme
Dalam lingkup dunia arsitektur, teori merupakan aspek penting yang menentukan cara pandang dan arah dalam melangkah. Ranah teori arsitektur mencakup kerangka berpikir dalam proses perancangan arsitektur, penelitian, hingga kritik arsitektur. Di dalam tatanan perancangan arsitektur, teori arsitektur bahkan menjadi fondasi terpenting untuk menopang konsep rancangan. Penelitian ini dilatarbekakangi pentingnya memahami arsitektur tropis. Dengan metode kualitatif, penulis mengkaji arsitektur tropis untuk menemukan interpretasi yang lebih komprehensif dari yang selama ini dipahami. Penelitian ini bertumpu kepada teori-teori yang relevan untuk membangun kerangka berpikir yang holistik, hingga disimpulkan ada sebuah hubungan erat antara arsitekrur tropis dengan arsitektur vernakular dan regionalisme dalam arsitektur. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi siapapun yang hendak mengangkat arsitektur tropis sebagai tumpuan berpikir, baik dalam aktivitas perancangan maupun penelitian.In the field of architecture, theory is an important aspect that determines the perspective and direction in achieving goals. The domain of theory of architecture includes the framework of thinking in architectural design process, research, and architectural criticism. In the order of the architectural design, architectural theory even becomes the most important foundation to support the design concept. This research is motivated by the importance of understanding tropical architecture. Implemented by qualitative methods, author examines tropical architecture to find a more comprehensive interpretation than what has been understood so far. This research relies on relevant theories to build a holistic frame of mind, then concludes that there is a close relationship between tropical architecture, vernacular architecture, and regionalism in architecture. The results of this research are expected to be fundamental framework for anyone who wants to endorse tropical architecture as a foundation of thinking, in design and research