Jurnal SADE (Arsitektur, Planologi dan Teknik Sipil)
Not a member yet
50 research outputs found
Sort by
Transformasi Digital Dalam Merancang Oceanarium Strategi Jitu Menjadi Distenasi Wisata Unggulan
Oseanarium merupakan destinasi wisata populer di Indonesia. Artikel ini membahas transformasi digital dalam merancang oseanarium terkini. Metode penelitian melibatkan survei dan observasi ke 2 lokasi oseanarium utama di Jakarta, satu oseanarium di Singapura dan satu lagi di siam paragon Bangkok, guna mendapatkan gambaran tentang operasional, dan implementasi teknologi digital. Selain itu, penelitian ini juga mengintegrasikan pengalaman penulis sebagai desainer publik Akuarium dan selama 20 tahun sebagai pengelola di salah satu publik akuarium di kawasan Jakarta. Strategi saat ini harus menggunakan teknologi IoT untuk sistem manajemen energi pintar dan pemantauan lingkungan akuatik. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi interaktif di banyak lokasi dapat memberikan pengalaman edukasi yang menarik dan tak terlupakan bagi para pengunjung. Salah satu teknologi yang menarik dan disukai bagi pengunjung adalah penggunaan teknologi hologram, pengunjung dapat merasakan sensasi berada di dalam laut dan berinteraksi dengan hewan-hewan laut dalam lingkungan virtual yang realistis. Hal ini meningkatkan pemahaman mereka tentang kehidupan akuatik dan nilai melindungi lingkungan laut. Transformasi digital ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional oseanarium, tetapi juga memperkaya pengalaman pengunjung melalui penerapan teknologi interaktif. Dengan mengimplementasikan rencana ini, diharapkan oseanarium di Indonesia akan memperluas dan menghasilkan manfaat bagi kelestarian ekosistem laut, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang biologi biota laut, dan memberikan pengalaman berkualitas tinggi bagi pengunjung
Teritorialitas Ruang pada Jalur Pedestrian Kawasan Bisnis Cakranegara, Kota Mataram
Pedestrian Ways are one of the city elements that consist of public open spaces as a container for activities and pedestrian circulation. The existence of pedestrian ways is very important to support urban activities, so the effectiveness of the function of Pedestrian Ways also needs to be considered. The study area is located on the corridor of Jl. A.A. Gede Ngurah, which is part of the Cakranegara Business District (CBD) and known as the center of the business district of Mataram City, so the potential for mobility and pedestrian activities is quite high. Unfortunately, this potential is not supported by the spatial behavior of the community, which tends to form certain spatial claims on pedestrian ways, resulting in a disruption of space function. This research was conducted to determine how the phenomenon of public space claims is formed in the study area. The research method used was a qualitative descriptive method with observation techniques to observe the phenomenon that occurred in the field. In general, from the results of the research, it can be concluded that the spatial claims of the surrounding community in the study area lead to territorial behavior with territorial expansion patterns and privatization of public space for personal interests.Jalur pedestrian merupakan salah satu elemen pembentuk suatu kota yang berupa ruang terbuka publik sebagai wadah bagi aktivitas dan sirkulasi pejalan kaki. Keberadaan jalur pedestrian sangatlah penting untuk menunjang aktivitas perkotaan sehingga efektifitas fungsi dari jalur pedestrian juga perlu diperhatikan.Kawasan studi berada pada koridor Jl. A.A. Gede Ngurah merupakan bagian dari Kawasan Bisnis Cakranegara (KBC) dan dikenal sebagai pusat kawasan bisnis Kota Mataram, sehingga potensi adanya mobilitas dan aktivitas berjalan kaki cukup tinggi. Potensi ini sayangnya, tidak didukung oleh perilaku spasial masyarakat yang cenderung membentuk pola klaim ruang tertentu terhadap jalur pejalan kaki sehingga kemudian berdampak pada terganggunya fungsi dari ruang tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana fenomena klaim ruang publik yang terbentuk pada kawasan studi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi untuk mengamati fenomena yang terjadi di lapangan. Secara umum dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa klaim ruang masyarakat sekitar kawasan studi mengarah pada perilaku teritorialitas dengan pola ekspansi teritorial dan privatisasi ruang publik untuk kepentingan pribadi
Kajian Bentuk dan Motif Ornamen pada Bangunan Cagar Budaya di Kota Bandung : Studi Kasus : GPIB Bethel Bandung
A building certainly has its own philosophy and meaning which can be seen from the shape and details of the building elements. The unique shape of the building becomes an architectural value that invites to be studied because of its visually attractive appearance. But not infrequently architectural values are implied in the architectural details of a building. Of the many historical heritages in the city of Bandung, GPIB Bethel Bandung is a historical building that is more than 50 years old. Bethel GPIB is a class A cultural heritage building. A cultural heritage building is a building that has architectural characteristics both in terms of architectural value, aesthetics and represents a cultural symbol. Apart from having history, Bethel GPIB also has architectural values and implicit and explicit meanings in every element of its building. In this journal, the architectural meaning of the GPIB Bethel Bandung building is written, information obtained from the survey results to the location and the results of interviews with GPIB Bethel Bandung. The data obtained were identified and studied using qualitative and descriptive research methods with the aim of knowing more about the meaning and philosophy.Setiap bangunan memiliki filosofi dan maknanya tersendiri yang dapat terlihat dari bentuk dan detail elemen - elemen bangunannya. Bentuk bangunan yang unik menjadi nilai arsitektur yang mengundang untuk dipelajari karena terlihat menarik secara visual. Tetapi tak jarang juga nilai arsitektur tersebut dibuat secara tersirat dalam detail - detail arsitektural suatu bangunan. Dari banyaknya peninggalan sejarah di Kota Bandung, GPIB Bethel Bandung merupakan salah satu bangunan bersejarah yang berusia lebih dari 50 tahun. GPIB Bethel termasuk bangunan cagar budaya kelas A. Bangunan cagar budaya adalah bangunan yang secara arsitektural memiliki kekhasan baik dari nilai arsitektural, estetika dan mewakili suatu simbol kebudayaan. GPIB Bethel selain memiliki sejarah tentu juga memiliki nilai arsitektur serta makna yang tersirat dan tersurat di setiap elemen bangunannya. Dalam jurnal ini, dituliskan makna-makna arsitektural pada bangunan GPIB Bethel Bandung yang informasinya didapatkan dari hasil survey ke lokasi serta hasil wawancara kepada pihak GPIB Bethel Bandung. Data yang diperoleh diidentifikasi dan dikaji dengan metode penelitian kualitatif dan deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai makna serta filosofinya
Revitalisasi Permukiman Tradisional sebagai Kawasan Wisata Budaya di Desa Karyamukti Cianjur – Jawa Barat
Permukiman tradisional adalah suatu tatanan yang memiliki perbedaan yang dipengaruhi oleh hirarki kesakralannya atau norma-norma adat setempat. Seiring dengan berjalannya waktu, permukiman tradisional banyak dipengaruhi oleh modernitas serta kemajuan informasi disekelilingnya. Beberapa permukiman tradisional mampu mempertahankan kearifan lokalnya namun ada beberapa yang terpengaruh dan menyesuaikan dengan kebutuhan lingkungannya. Seperti yang terjadi di permukiman tradisional yang ada di Desa Karyamukti Dusun Gunung Padang Cianjur. Saat ini kondisi permukiman tradisional tersebut berada sepanjang jalur menuju situs Megalitikum Gunung Padang mengalami efek modernitas tersebut. Tumbuhnya situs Megalitikum sebagai salah satu tujuan wisata, menjadikan permukiman tradisional disekitarnya mengalami perubahan-perubahan terutama kebutuhan penunjang sarana wisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif sehingga mampu mengumpulkan informasi, baik secara verbal maupun visual dari elemen permukiman ruang luar yang ada di Desa Karyamukti. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan revitalisasi pada permukiman tradisional yang ada di Dusun Gunung Padang Desa Wisata Karyamukti, agar tercapai peningkatan kualitas kawasan permukiman serta mampu menjadi salah satu desa wisata yang menunjang sebagai daerah wisata budaya. Usaha revitalisasi yang dilakukan merupakan penataan tanpa merubah total kondisi awal permukiman tradisional yang sudah ada, penataan dilakukan dengan memasukkan unsur-unsur modernitas yang kontekstual dengan kondisi awal, dengan demikian nantinya dapat menjadi acuan bagi penataan permukiman tradisonal yang sudah ada di tempat lain. Diharapkan juga penelitian ini dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan terhadap penataan-penataan permukiman tradisional di tempat lain yang memiliki latar belakang yang sama yaitu sebagai desa wisata.A traditional settlement is an order that has differences that are influenced by its sacred hierarchy or local customary norms. Over time, traditional settlements have been influenced a lot by modernity and the advancement of information around them. Some traditional settlements can maintain their local wisdom but there are some that are affected and adapt to the needs of their environment. As happened in the traditional settlements in Karyamukti village, Gunung Padang Cianjur hamlet. Currently, the condition of these traditional settlements along the path to the Gunung Padang Megalithic site is experiencing the effects of modernity. The growth of the Megalithic site as one of the tourist destinations, makes the surrounding traditional settlements undergo changes, especially the need to support tourist facilities. This research uses descriptive qualitative methods so that it can collect information, both verbally and visually from the element of settlement in Karyamukti village. Based on this, it is necessary to revitalize the traditional settlements in Gunung Padang Hamlet, Karyamukti Tourism Village, to achieve an improvement in the quality of the residential area and be able to become one of the supporting tourist villages as a cultural tourism area. It can contribute science to the arrangement of traditional settlements in other places that have the same background, namely as tourist villages
Pengembangan Sarana Wisata Perkebunan Teh Gunung Manik dengan Konsep Agrowisata di Desa Karyamukti
The Gunung Manik tea garden is under the auspices of PT. Sosro which is used as one of the tourist attractions in Karyamukti village, most of the workers who work in the Gunung Manik tea plantation area are local residents or local residents. Based on the facilities and infrastructure available in the Gunung Manik tea plantation area, there are problems in the area, such as the abandonment of several buildings in the tea plantation area and making the tea plantation area unmaintained and not functioning properly. Therefore, to optimize and maximize the available facilities and infrastructure in the Gunung Manik tea plantation area, it is necessary to develop the available facilities and infrastructure, especially for facilities and infrastructure that have been neglected and aim to make changes for the better in the Gunung tea plantation area.Perkebunan teh gunung manik merupakan salah satu perkebunan teh yang terletak di kecamatan Campaka desa Karyamukti, Kabupaten Cianjur. Kebun teh gunung manik berada di bawah naungan PT. Sosro yang dijadikan sebagai salah satu tempat wisata di desa Karyamukti, sebagian besar pekerja yang bekerja di areal perkebunan teh gunung manik ialah warga sekitar atau warga lokal. Berdasarkan sarana dan prasarana yang tersedia pada kawasan perkebunan teh gunung manik, terdapat permasalahan yang ada pada kawasan tersebut, seperti terbengkalainya beberapa bangunan yang berada di kawasan perkebunan teh dan menjadikan kawasan perkebunan teh tersebut tidak terawat dan tidak berfungsi dengan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan sarana maupun prasarana yang tersedia pada kawasan perkebunan teh gunung manik, perlu dilakukannya pengembangan sarana dan prasarana yang tersedia, khususnya terhadap sarana dan prasarana yang sudah terbengkalai dan bertujuan untuk melakukan perubahan yang lebih baik pada kawasan perkebunan teh gunung manik
Smart Homestay dengan kearifan lokal di Desa Wisata Karyamukti
Permasalahan homestay di Desa Wisata Karyamukti saat ini berkembang dengan kondisi tanpa perencanaan, saat ini homestay yang sudah dilakukan ada perencanaan dengan menerapkan smart homestay seperti sensor lampu dan sensor di pintu toilet atau kamar mandi. Permasalahannya adalah belum adanya pendekatan yang mempertimbangkan kearifan lokal dan memenuhi tuntutan pengunjung yang sudah memanfaatkan kemajuan teknologi. Pengunjung berperan sebagai peneliti sehingga homestay dituntut menggunakan fasilitas teknologi (smart building) yang juga mempertimbangkan kearifan lokal yang ada di lokasi. Tujuan memperoleh pendekatan desain smart homestay yang mempertimbangkan lokalitas dan memanfaatkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna atau pengunjung. Metode dengan melakukan pendekatan deskriptif kualitatif dengan membuat gambaran homestay di Dusun Gunung Padang yang cenderung berkembang sebagai penyedia bagi peneliti atau pengunjung, dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan penerapan teknologi menjadi smart homestay
Kajian Genius Loci Pecinan Suryakancana Sebagai Potensi Wisata Budaya di Kota Bogor
Suryakancana merupakan salah satu kawasan Pecinan serta termasuk dalam kawasan Heritage di Kota Bogor yang memiliki identitas dan kekhasan yang berbeda dengan kawasan lainnya, identitas dan kekhasan kawasan ini akan membuat nilai sebuah kota menjadi kuat. Namun peninggalan kebudayaan dan bangunan-bangunan tua di Kawasan Pecinan perlahan tapi pasti terus berkurang dan mengancam identitas kawasan bersejarah ini. Pertumbuhan Kota yang diiringi dengan pertumbuhan penduduk serta tingginya alih fungsi bentuk bangunan yang disebabkan oleh biaya pemeliharaan yang tinggi, menjadikan perubahan bentuk Kawasan Suryakencana menjadi pusat kota lama yang tidak terkendali sehingga mengurangi bentuk karakter kawasan. Salah satu ciri dari penanda identitas kawasan ini ialah bangunan-bangunan di dalam kawasan itu sendiri, pada bangunan tersebut dapat memberikan ciri khas maupun suasana tempat (Genius Loci) yang berarti pada lingkungan atau kawasannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan, menerangkan dan menjelaskan secara lebih rinci permasalahan yang akan diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam unsur Genius Loci yang melekat pada bangunan di kawasan tersebut sebagai potensi wisata budaya di Kota Bogor
Potensi Nilai Arsitektur Neo-Vernakuler dalam Rumah Adat Bale Tani di Lombok
Sade Village is a unique village which becomes the gate of the nature of the Sasak tribe of Lombok. One of the cultural products of the Sasak tribe is the Bale Tani and Bale Lumbung traditional houses. However, the popularity of Bale Tani is far less popular than Bale Lumbung. This study aims to demonstrate the potential of Bale Tani as a neo-vernacular architectural design that is sustainable against the times. This study describes the comparison between Bale Tani and Bale Lumbung in terms of popularity, utility, and aesthetics. This study also visualizes Bale Tani as a reference for the prototype design of a modern house with the theme Green Building in Tropical. The primary source of this research was obtained from a public survey which was conducted online while the secondary source was obtained from intensive studies of various books and journals, both national and international. The results of the study show that Bale Tani has the potential to be developed into a neo-vernacular building that has aesthetics, utility, and sustainability that is superior to the conventional Bale Tani. Researchers hope that, as a nation rich in culture, we must preserve our culture so that it will not be consumed by the times. This can be done by uniting determination and cooperation between the community and the government. Bale Tani neo-vernacular can be one proof of the preservation of our culture.Desa Sade adalah sebuah desa yang menjadi gerbang dari natur suku Sasak di Lombok. Salah satu produk budaya suku Sasak adalah rumah adat Bale Tani dan Bale Lumbung. Namun, popularitas Bale Tani kalah populer dibandingkan Bale Lumbung. Riset ini bertujuan untuk membedah potensi Bale Tani sebagai desain arsitektur neo-vernakuler yang sustainable terhadap perkembangan zaman. Riset ini memaparkan komparasi antara Bale Tani dan Bale Lumbung dalam hal popularitas, utilitas, dan estetika. Riset ini juga memvisualisasikan Bale Tani sebagai acuan desain prototipe sebuah rumah modern yang bertema Green Building in Tropical Landscape. Sumber primer dari riset ini didapatkan dari survei yang dilaksakan secara daring, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari kajian intensif dari berbagai buku dan jurnal, baik nasional maupun internasional. Hasil riset menunjukkan bahwa Bale Tani memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bangunan neo-vernakuler yang memiliki estetika, utilitas, dan keberlanjutan terhadap perkembangan zaman yang lebih unggul daripada Bale Tani konvensional. Peneliti berharap, sebagai bangsa yang kaya akan budaya, kita harus melestarikan budaya kita akan tidak termakan zaman. Hal itu dapat dilakukan dengan menyatukan tekad dan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah. Bale Tani neo-vernakuler dapat menjadi salah satu bukti pelestarian budaya kita