Ishlah - Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah
Not a member yet
267 research outputs found
Sort by
Cucurak Tradition As A Family Communication Media For Welcoming Ramadan
This study aims to determine the process and meaning of the Cucurak tradition as a communication medium in addition to the tradition of welcoming the month of Ramadan in the people of Bogor City. This research method is qualitative with a phenomenological approach through semi-structured interviews with eight informants to obtain field data. The results of this study found that food consumed as part of health is a reflection of the culture and blessings of the natural surroundings. In addition, the cucurak tradition is a moment of gathering with families who have been separated due to migrating and working/schooling outside the city. Cucurak is a moment for parents to convey messages and noble values to their children and grandchildren in the family. This traditional celebration is carried out as part of gratitude to God for longevity, health, and sustenance given. So that the cucurak tradition in this study is interpreted as a family communication medium, even the media communicates with God and Nature.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan pemaknaan tradisi Cucurak sebagai media komunikasi selain tradisi menyambut bulan Ramadhan di masyarakat Bogor. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui wawancara semi terstruktur dengan delapan narasumber untuk mendapatkan data lapangan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa informan makanan yang dikonsumsi sebagai bagian dari kesehatan, cerminan budaya dan keberkahan alam sekitar. Selain itu tradisi cucurak menjadi momen berkumpul dengan keluarga yang telah terpisah karena merantau dan bekerja/sekolah di luar kota. Cucurak menjadi momen orang tua menyampaikan pesan dan nilai-nilai luhur kepada anak dan cucuk mereka dalam keluarga. Perayaan tradisi ini dilakukan sebagai bagian rasa syukur kepada Tuhan atas umur yang Panjang, kesehatan dan rezeki yang di berikan. Sehingga tradisi cucurak dalam penelitian ini dimaknai sebagai media komunikasi keluarga, bahkan media melakukan komunikasi dengan Tuhan dan Alam
Social Dynamics and Intellectual Traditions During the Umayyad Dynasty
This article aims to analyze the social and intellectual aspects of the reign of the Umayyad Dynasty which was based in Damascus. The Umayyad dynasty was famous for its achievements in conquering territories and spreading the Islamic religion from Asia, North Africa to Europe. These brilliant achievements had an impact on changes in social structures and the strengthening of intellectual traditions. There are two focuses of study in this article, namely changes in the social structure of society and progress in the field of science. The research method used is a library research approach history, namely analysis of texts and information related to the study of the Umayyad Dynasty from various sources, then data analysis including data reduction (data reduction), display data and a picture of the conclusion or verification (conclusion drawing/verification) which is then concluded. The findings of this research are that there were changes in the social structure of society during the Umayyad Dynasty, especially with regard to non-Arab Muslims or conquered communities. Non-Arab people did not have the right to hold office during the Umayyad Dynasty, but they were more involved in intellectual traditions and created the initial foundations of knowledge in Islamic history.
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis sosial kemasyarakatan dan intelektual pada masa pemerintahan Dinasti Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dinasti Bani Umayyah terkenal dengan prestasinya dalam penaklukan wilayah dan menyebarkan agama Islam dari Asia, Afrika Utara sampai ke Eropa, prestasi yang gemilang tersebut berdampak kepada perubahan struktur sosial dan penguatan dalam tradisi intelektual. Ada dua fokus kajian dari artikel ini yaitu perubahan struktur sosial masyarakat dan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan sejarah yaitu analisis teks dan informasi yang terkait dengan kajian tentang Dinasti Bani Umayyah dari berbagai sumber, kemudian dilakukan analisis data meliputi reduksi data (data reduction), display data dan gambaran konklusi atau verifikasi (conclusion drawing/verification) yang kemudian disimpulkan. Temuan dari penelitian ini adalah terdapat perubahan struktur sosial kemasyarakatan pada masa Dinansti Bani Umayyah terutama berkaitan dengan orang-orang Islam nonArab atau masyarakat yang ditaklukkan. Orang-orang nonArab tidak memperoleh hak untuk bisa menjabat pada masa Dinasti Bani Umayyah, namun mereka lebih banyak berkecipung dalam tradisi intelektual dan menciptakan pondasi awal dalam ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam
Narrative Analysis of Peace-Loving Character Values in Surah al-Hujurat (Verses 9–13) and Their Relevance to Religious Moderation Education
This research is motivated by the decline of moral values in society, as reflected in the increasing number of conflicts among community groups, mass organizations, ethnicities, and cultures, some of which have led to bloodshed and loss of life. Alarmingly, such conflicts also occur among intellectuals. This situation calls for strategic efforts to restore social harmony, one of which is by instilling the values of religious moderation found in the Qur’an—particularly through strengthening the peace-loving character that fosters tolerance in society. The main objective of this study is to uncover the meaning of the peace-loving character in Surah al-Hujurat verses 9–13 and its relevance to religious moderation education. More broadly, it aims to identify the values of peace conveyed in these verses and their connection to the principles of religious moderation promoted by Indonesia’s Ministry of Religious Affairs. This study uses a qualitative-descriptive method with a library research approach and content analysis technique. The results show that Surah al-Hujurat verses 9–13 contain values such as conflict resolution through justice, respect for differences, and upholding fairness. These values are strongly aligned with the principles of religious moderation, such as tawassuth (middle path), tasamuh (tolerance), tawazun (balance), i’tidal (justice), and iqtishad (moderation). Therefore, these Qur’anic teachings serve as a vital foundation for shaping moderate and tolerant character through Islamic education
Madani Center Rokan Hulu Mosque: Management of Da'wah Media and Its Impact on the Quality of Community Religion
This article discusses the Madani Islamic Center Rokan Hulu mosque in developing da'wah media and influence on society in religious life. Along with the development of the Times that already refers to the contribution of technology, the Madani Islamic Center Mosque also uses technology in preaching dynamically and to see if the media used has a serious impact on the religious quality of the community in Rokan Hulu. This study uses qualitative descriptive method with the type of Field Research (field research). The source of data in this study is information directly from the informant by using a semi-structured interview system. In data analysis techniques, researchers collect data that is further reduced, presented and then concluded. The results of this study indicate the success of the media da'wah Masjid Madani Islamic Center Rokan Hulu either from planning, organizing, implementation and supervision has brought positive changes for the people of Rokan Hulu. By using da'wah media in the form of radio and television is proven to improve the quality of religious understanding of the people of Rokan Hulu, so as to make people always do good and leave evil in accordance with the conveyed Al-Qur'an and Hadith.
Artikel ini membahas tentang Masjid Madani Islamic Center Rokan Hulu dalam mengembangkan media dakwah serta pengaruh terhadap masyarakat dalam kehidupan keagamaan. Seiring perkembangan zaman yang sudah mengacu kepada kontribusi teknologi maka Masjid Madani Islamic Center ikut menggunakan teknologi dalam berdakwah secara dinamis dan melihat apakah media yang digunakan berdampak serius kepada kualitas keagamaan masyarakat di Rokan Hulu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Sumber data dalam penelitian ini adalah informasi langsung dari informan dengan menggunakan sistem wawancara semi terstruktur. Pada teknik analisis data, peneliti mengumpulkan data yang selanjutnya direduksi, disajikan kemudian disimpulkan. Hasil penelitian ini menunjukkan keberhasilan media dakwah Masjid Madani Islamic Center kabupaten Rokan Hulu baik itu dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan telah membawa perubahan positif bagi masyarakat Rokan Hulu. Dengan menggunakan media dakwah berupa radio dan televisi terbukti dapat meningkatkan kualitas pemahaman agama masyarakat Rokan Hulu, sehingga membuat masyarakat senantiasa mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan sesuai dengan yang disampaikan Al-Qur’an dan Hadist
Study of the Word Rahmah in the Context of Giving Grace to Prophets and Apostles
Arabic is a very unique language among the languages in the world, but between the Arabic used by humans it is very different from the language…..used by the Qur'an, because the language of the Qur’an comes from…the Divine Language so that its literary value is very high when compared to the language used by humans. And many words in the Qur'an are very interesting to study. Among them is, said رحمة (rahmah). In the Qur'an there are 114 words رحمة (rahmah). In this research, the writer will look at the mercy bestowed on the Prophet and Apostle, because the grace given to the Prophet and Apostle is not the same, so it is very interesting to study. It is a method of maudhu’i to find solutions to problems by collecting verses related to the topic. From the results of the research, it was found that the blessings bestowed on the Prophets and Messengers were different and in different contexts and not all Prophets and Apostles received Allah's grace. Among those who received these gifts were: Prophet Muhammad, Zakarya, Zulkifli, Musa, Shuaib , Ayub, Yusuf, Ismail, Lut, Saleh, and Hud and if classified again the Prophet Muhammad was given more grace than the others where the Prophet Muhammad, was given grace starting from birth, before the apostleship and after the apostleship.
Bahasa Arab adalah Bahasa yang sangat unik diantara Bahasa-bahasa yang ada di dunia, namun antara Bahasa Arab yang digunakan oleh manusia sanagatlah berbeda dengan Bahasa yang digunakan al-Qur’an, karena Bahasa al-Qur’an berasal dari Bahasa Ilahi sehingga nilai sastranya sagat tinggi bila dibandingkan dengan Bahasa yang digunakan oleh manusia. Dan banyak kata dalam al-Qur’an yang sangat menarik untuk dikaji. Diantaranya adalah, kata رحمة rahmah. Dalam al-Qur’an ditemukan sebanyak 114 kata رحمة rahmah. Pada penelitian ini penulis akan melihat dari sisi rahamat yang dianugerahkan kepada Nabi dan Rasul, karena rahmat yang diberkan kepada Nabi dan Rasul tidak lah sama sehingga sangat menarik untuk dikaji. Adaupun metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode Maudhu’i, dimana metode maudhu’i adalah metode yang berusaha mencari pemecahan masalah dengan mengumpulkan ayat-ayat yang terkait dengan topik. Dari hasil penelitian didapatlah bahwa rahmat yang dianugerahkan kepada Nabi dan Rasul berbeda-beda dan dalam kontek yang berbeda-beda pula dan tidak semua Nabi dan Rasul mendapatkan anugerah Allah diantara yang memperoleh anugerah tersebut adalah: Nabi Muhammad, Zakarya, zulkifli, musa, Syuaib, Ayub, Yusuf, Ismail, Luth, Shaleh, dan Hud dan jika diklasifikasikan lagi Nabi Muhammad diberi dianugerahi rahmat lebih dibandingkan yang lainnya dimana Nabi Muhammad, diberi rahmat mulai dari lahir, sebelum kerasulan dan setelah kerasulan
Prophetic Communication: Implementation of Da'i Da'wah Strategies in The Millennial Era
As technology advances, the da'wah model used by preachers is becoming more dynamic. The increasingly rapid development of the times requires da’i to change their preaching strategies to make them more relevant to the millennial generation who are familiar with advances in information technology. The new media phenomenon can be applied to spread Islam in the millennial era. One of the da'wah strategies that is relevant in this millennial era is the concept of prophetic communication. This research aims to find out how prophetic communication is used as a concept and strategy for da'wah and how prophetic communication is applied to preachers in the millennial era. This research uses bibliographic methods in several journals and books related to this discussion. The conclusion of this research is that prophetic da'wah in the millennial era emphasizes humanization, social justice and dimensions of spirituality. Adapting messages to the social context and use of mass media is important. Information technology is used to reach a wider audience while enriching religious knowledge with other knowledge. Data supports social change, while social media is used as an effective means of preaching. Da'i need to continue learning, following developments with the times, while maintaining Islamic values in prophetic communication. Adapting da'wah to changing times and technology is very important.
Seiring kemajuan teknologi, model dakwah yang digunakan para da'i semakin dinamis. Pesatnya perkembangan zaman menuntut para da’i mengubah strategi dakwahnya agar lebih relevan dengan generasi milenial yang akrab dengan kemajuan teknologi informasi. Fenomena media baru dapat diterapkan untuk menyebarkan Islam di era milenial. Salah satu strategi dakwah yang relevan di era milenial ini adalah konsep komunikasi profetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan komunikasi profetik sebagai konsep dan strategi dakwah serta bagaimana penerapan komunikasi profetik pada para da’i di era milenial. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan pada beberapa jurnal dan buku yang berkaitan dengan pembahasan ini. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Dakwah profetik di era milenial menekankan humanisasi, keadilan sosial, dan dimensi spiritualitas. Adaptasi pesan dengan konteks sosial dan penggunaan media massa menjadi penting. Teknologi informasi digunakan untuk menjangkau khalayak lebih luas sambil memperkaya ilmu agama dengan ilmu lain. Data mendukung perubahan sosial, sementara media sosial dijadikan sarana dakwah yang efektif. Para da'i perlu terus belajar, mengikuti perkembangan zaman, sambil menjaga nilai-nilai Islam dalam komunikasi profetik. Adaptasi dakwah dengan perubahan zaman dan teknologi sangat penting
Analysis of the Concept of Al-Hubb in the Thought of Zainal Arifin Abbas (1911-1977)
This article seeks to explore Zainal Arifin Abbas' conceptualization of al-Hubb (Love). It poses two central questions: firstly, what is Zainal Arifin Abbas' interpretation of the concept of al-Hubb, and secondly, how does he construct the foundational framework for interpreting al-Hubb? This qualitative research relies on both primary and secondary data sources. The primary data comprises Zainal Arifin Abbas' writings in Tafsir Al-Qur'an al-Karim and Ilmu Tasawuf. Concurrently, secondary data, including articles, dissertations, and supporting information, is incorporated. The data is subjected to content analysis. The findings reveal that al-Hubb serves as a fundamental determinant of behavior, guiding individuals towards peace, security, and a devout faith in brotherhood. Zainal Arifin Abbas imparts a message of love in his works, emphasizing that love originates from knowledge, familiarity, and the reception of goodness.
Artikel ini bertujuan untuk melacak konsepsi pemikiran Zainal Arifin Abbas mengenai Al-Hubb (Cinta). Dalam artikel ini mengajukan pertanyaan, pertama bagaimana konsep penafsiran al-Hubb menurut Zainal Arifin Abbas?, kedua, bagaimana konstruksi dasar penafsiran al-Hub menurut Zainal Arifin Abbas?. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif dengan menggunakan dua sumber data yaitu primer dan sekunder. Data primer yang digunakan dalam artikel ini adalah tulisan Zainal Arifin Abbas dalam Tafsir Al-Qur’an al-Karim dan Ilmu Tasawuf. Sedangkan untuk data sekunder yang digunakan adalah artikel, disertasi, atau data-data yang mendukung dalam penelitian ini. Dari data yang ada akan dianalisis dengan menggunakan content analysis. Dari penelitian ini menunjukkan beberapa al-Hubb (Cinta) sebagai landasan bersikap, yang bisa membawakan manusia kepada kedamaian, keamanan, serta keimanan dan persaudaraan yang suci. Zainal Arifin Abbas juga menawarkan pesan cinta (al-Hubb ) dalam beberapa karyanya. Pesan cinta itu memuat asal lahirnya cinta dari pengetahuan dan perkenalan. Dan cinta itu lahir dari kebaikan yang diterima
The Existence and Dynamics of Muslim Minorities in Southeast Asia
Southeast Asia has the largest Muslim population in the world, although in this region the majority of the population is Muslim, but in some areas, there are also Muslim minority populations who are under non-Muslim rule, causing conflicts and disputes between groups that lead to intimidation, attacks, and mass killings. The purpose of this paper is to find out and analyze the conditions and development of Muslim minorities in Southeast Asia and the government's efforts to reduce conflicts that occur with a focus on three countries, namely Thailand, the Philippines and Myanmar. The condition of Muslim minorities under non-Muslim governments is certainly different from the condition of the Muslim-majority population under the rule of Muslim governments. This research is qualitative research, which collects various data and sources related to the study, both sourced from literature in the form of journal articles, books, and from the mass media using historical methods, namely heuristics, verification, interpretation and historiography. As for the findings of this study, the condition of Muslim minorities in Thailand and the Philippines despite pressure from the authorities, slowly began to be a concern of the government. However, in contrast to the condition of Muslim minorities in Myanmar, especially in Rohingya, they have not yet received recognition of their identity as citizens from the government and the Muslim side has always been concerned.
Asia Tenggara merupakan penduduk Muslim yang terbesar di dunia, meskipun di wilayah ini penduduknya mayoritas Muslim, akan tetapi di sebagian wilayah terdapat juga penduduk minoritas Muslim yang berada dibawah pemerintahan non-Muslim, sehingga menimbulkan konflik dan pertikaian antar kelompok yang berujung pada intimidasi, serangan, dan pembunuhan massal. Adapun tujuan dari tulisan ini untuk mengetahui dan menganalisis kondisi dan perkembangan minoritas Muslim di Asia Tenggara serta upaya pemerintah dalam meredam konflik yang terjadi dengan fokus terhadap tiga negara, yakni Thailand, Filipina dan Myanmar. Kondisi minoritas Muslim dibawah pemerintahan non-Muslim tentunya berbeda dengan kondisi penduduk yang mayoritas Muslim di bawah kekuasan pemerintahan Muslim. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yakni mengumpulkan berbagai data dan sumber yang terkait dengan kajian, baik yang bersumber dari literatur-literatur berupa artikel jurnal, buku, maupun dari media massa dengan menggunakan metode sejarah, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Adapun hasil temuan kajian ini, bahwa kondisi minoritas Muslim di Thailand dan Filipina meskipun mendapat tekanan dari penguasa, namun dengan perlahan mereka mulai menjadi perhatian dari pemerintah. Akan tetapi, berbeda dengan kondisi minoritas Muslim di Myanmar, khususnya di Rohingya, mereka sama sekali belum mendapatkan pengakuan identitas sebagai warganegara dari pemerintah dan pihak Muslim selalu mengalami konflik yang tak kunjung selesai, meskipun beberapa organisasi internasional menjadi pihak penengah, namun konflik dan pertikaian tetap saja dialami oleh minoritas Musli
Media Management of the Nahdlatul Ulama Da'wah Institute in Promoting Religious Moderation in the City of Padang Sidempuan
The focus of this article is on the socialization of religious moderation in the City of Padang Sidimpuan. The city of Padang Sidimpuan has a diverse community, both ethnic, cultural and religious. For peace in the area, it is necessary to cultivate religious moderation in the midst of society which is carried out by the Nahdatul Ulama Da'wah Institute. In this socialization, communication and management are needed because in this process there are a series of concepts that must be prepared in a message before the message is channeled to the communicant. The method used is a qualitative method with data collection techniques using interviews and observation then using descriptive analysis. With the finding that in Padang Sidempuan, the Nahdlatul Ulama Da'wah Institute uses social media as their communication tool in socializing the important role of moderation in people's religious life. The Nahdlatul Ulama Da'wah Institute also thinks about a plan, organization, implementation and supervision that is carried out with the aim of influencing the people of Padang Sidempuan. The Nahdlatul Ulama Da'wah Institute uses social media such as Facebook, Instagram, Whatsapp to disseminate their content which leads to forms of counseling through social media with the aim of stimulating the public for the socialization of religious moderation.
Focus kajian artikel ini tentang sosialisasi moderasai beragama di Kota Padang Sidimpuan. Kota Padang Sidimpuan memiliki masyarakat yang beragam, baik etnis, budaya dan agama. Untuk ketentraman di wilayah tersebut, diperlukan penanaman moderasi beragama di tengah masyarakat yang dilakukan oleh Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama. Di dalam sosialisasi tersebut diperlukan komunikasi dan manajemen sebab proses tersebut terdapat serangkaian konsep yang harus disiapkan pada suatu pesan sebelum pesan tersebut disalurkan kepada komunikan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi kemudian menggunakan analisis deskriptif. Dengan temuan bahwa di Padang Sidempuan, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi mereka dalam mensosialisasikan peran penting moderasi pada kehidupan beragama masyarakat. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama juga memikirkan mengenai suatu rencana, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan dengan tujuan untuk mempengaruhi masyarakat di Padang Sidempuan. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp untuk menyebarkan konten-konten mereka yang mengarah kepada bentuk penyuluhan melalui sosial media dengan tujuan untuk menstimulus masyarakat atas sosialisasi moderasi beragama
Preventing Hoax Issues on Social Media Using the Empowering Eight (E8) Digital Literacy Model
This research aims to identify strategies in realizing an intelligent community in Nagari Batu Basa in responding to hoax issues on Facebook social media. The study aims to describe the attitudes of the Nagari Batu Basa community toward hoax issues on Facebook social media and to identify the strategies employed in providing media literacy to the Nagari Batu Basa community exposed to hoax issues on Facebook social media. This research uses a qualitative descriptive approach. Informant data were obtained using purposive sampling, selecting informants based on specific considerations, resulting in 7 informants. Data collection techniques included media observation, direct interviews to obtain clear and concrete data regarding the attitudes of the Nagari Batu Basa community in responding to hoax issues on Facebook social media. Documentation was directly taken from the issues present on Facebook. The results of the research found an intelligent media-savvy community as they were able to apply most of the E 8 model, which involves identifying issues visible on social media, seeking relevant information from various sites, selecting reliable sources, discussing with those knowledgeable about the circulating issues, and then sharing back to the public if the issue is deemed beneficial to many people.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi Mewujudkan Masyarakat Nagari Batu Basa Cerdas Dalam Menyikapi Isu Hoax di Media Sosial Facebook. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap masyarakat Nagari Batu Basa terhadap Isu hoax di media sosial Facebook dan untuk mengidentifikasi strategi yang dilakukan dalam memberikan literasi terhadap masyarakat Nagari Batu Basa yang terpapar Isu hoax di media sosial Facebook Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Data informan didapatkan dengan metode purposive sampling, yaitu memilih informan berdasarkan pertimbangan tertentu sehingga didapatkan 7 informan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi media, wawancara (interview) secara langsung guna memperoleh dan menggali data secara jelas dan konkret mengenai sikap masyarakat Nagari Batu Basa dalam menyikapi Isu hoax di media sosial Facebook. Dokumentasi yang dilakukan diambil langsung dari Isu yang ada di Facebook. Hasil dari penelitian yang dilakukan ditemukan masyarakat yang cerdas bermedia karena telah mampu mengaplikasikan sebagian besar dari model E 8, yakni mengidentifikasi terlebih dahulu isu yang tampak di media social, mencari informasi yang relevan dari beberapa situs, memilih sumber terpercaya, mendiskusikan kepada orang yang paham tentang isu yang beredar, kemudian men share kembali ke public jika isu tersebut dianggap bermanfaat bagi banyak orang