E-journal Universitas Veteran Bangun Nusantara
Not a member yet
2863 research outputs found
Sort by
ANALISIS STRUKTURALISME GENETIK PADA CERPEN CERITA TANPA CERITA: BERAN, 1949 KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur “Cerita Tanpa Cerita: Beran, 1949” karya Seno Gumira Ajidarma dari aspek instrinsik dan genetik dari cerpen. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Sumber data primer dalam penelitian ini yakni cerpen “Cerita Tanpa Cerita: Beran, 1949” karya Seno Gumira Ajidarma yang dimuat pada laman kompas pada tanggal 18 Desember 2022. Sementara data sekunder diperoleh dari literatur-literatur yang relevan dengan penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca-catat. Analisis data menggunakan teknik dialektik. Hasil penelitian menunjukkan struktur intrinsik cerpen yang terdiri dari: a) tema cerpen yaitu sejarah kemanusiaa; b) tokoh utamanya ialah Anak dan Ibu serta beberapa tokoh tambahan; c) alur cerita campuran; d) latar tempat berada di Yogyakarta; dan e) sudut pandang orang ketiga terbatas. Sementara itu, struktur genetic cerpen terdiri dari fakta kemanusiaan, subjek kolektif, hingga pandangan dunia pengarang yang memuat kritik sosialnya terhadap ketidakadilan pada masa kekuasaan pihak-pihak yang dianggap kejam. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh terhadap isi dari cerita pendek karya Seno Gumira tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan struktur intrinsik beserta struktur genetik dalam cerpen “Cerita Tanpa Cerita: Beran, 1949” karya Seno Gumira Ajidarma. Metode penelitian ialah kualitatif deskriptif, dilakukan melalui pengumpulan data dengan teknik baca-catat dan analisis dialektik. Hasil penelitian menunjukkan struktur intrinsik yang membangun cerpen terdiri dari: a)tema; b)tokoh dan penokohan; c)alur; d)latar (tempat, waktu, dan suasana); serta sudut pandang. Adapun struktur genetik dalam cerpen meliputi fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia pengarang yang secara menyeluruh merepresentasikan fakta sosial dan kritik pengarang terhadap ketidakadilan oleh pihak-pihak yang berkuasa
An Analyzing of Deixis on Donald Trump’s Speech : “State of The Union Address”
This research is a descriptive qualitative research. The data in this study is speech of Donald Trump’s Speech analyzed.Data analysis was performed by categorizing data by type according to theory from Yule of type and function deixis.The goals of this research are to find out five kinds and functions of deixis used in Donald Trump’s Speech and the function of deixis. The techniques of the collecting data in this research are watching, writing and segmenting. After collecting the data the researcher analyzes the data that include five kinds of deixis. From the analysis the researcher found 567 deixis. Those are 404 person deixis, 90 time deixis, 35 place deixis, 18 social deixis and 20 discourse deixis. It found in Donald Trump’s Speech which contain five kinds of deixis: person deixis, time deixis, place deixis, social deixis and discourse deixis. Then, the researcher explains the data by descriptive explanation. The most dominant of types deixis appears in each speech of the person deixis (71,2%). It is becaused the utterance mostly refer to the person or the audience. The submissive of the data are the social deixis (3,1%) because the speaker used the person name more generally than social deixis as the surname. This speech is explaining about purposes and changes of United States. This speech more explain about smuggling, economy, illegal trade, terrorist and cancer in America
Penggunaan Metode Artificial Neural Network dalam Pembuatan Peta Kerentanan Longsor Wilayah Kabupaten Karanganyar
Tanah longsor menjadi bencana alam yang marak terjadi di Indonesia. Selama sepuluh tahun terakhir terdapat 2975 kejadian tanah longsor yang terjadi di Jawa Tengah, di mana 101 kejadian tanah longsor berada di Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini bertujuan untuk membuat peta kerentanan longsor pada wilayah Kabupaten Karanganyar. Peta kerentanan akan dibagi menjadi lima kelas, yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi dengan menggunakan metode natural breaks (jenk’s). Penelitian ini menggunakan 9 faktor pengondisi longsor yaitu jarak terhadap jalan sekunder, jarak terhadap jalan tersier, slope, topographic wetness index (TWI), elevasi, tata guna lahan (landuse), litologi, normalized difference vegetation index (NDVI), dan hujan. Pembuatan peta dilakukan dengan menggunakan Artificial Neural Network dengan bantuan modul scikit learn dan metode ten-folds cross validation digunakan sebagai metode validasi model yang dihasilkan. Nilai landslide density dihitung pada penelitian ini untuk evaluasi performa dari hasil klasifikasi kerentanan longsor. Parameter machine learning yang digunakan pada penelitian ini adalah hidden layer sizes, activation, maximum iteration dan random state. Performa model Artificial Neural Network yang dihasilkan menggunakan parameter tersebut menunjukkan hasil yang excellent. Nilai AUC yang didapat pada penelitian ini sebesar 0,9140 dengan nilai ten-folds cross validation 0,7444
Perbandingan Biaya dan Waktu Pekerjaan Pondasi Bore Pile dan Spun Pile
Decision-making on the work methods used in a construction project is very important. As is the case in selecting the foundation work method to be used because the foundation has a very important role in carrying out substructure work. Choosing the right foundation work implementation method will expedite the work process so it is necessary to know how much cost and time is needed to carry out each foundation work. The purpose of this study is to find out how much the comparison of costs and time is required in carrying out bore pile and spun pile foundation work. The data needed to calculate costs and time for the two foundation work methods include the volume of work, the multiplier coefficient which refers to the Decree of the Minister of PUPR No. 1 of 2022, data on workforce, equipment, as well as the duration and method of carrying out the required work. Based on the researcher's analysis conducted by comparing the implementation of the two foundation work methods, namely using the bore pile and spun pile, the total cost of implementing the bore pile foundation work is Rp. 13,405,153,637 with an execution time of 189 days. Meanwhile, if you use a spun pile foundation, the cost is Rp. 11,590,475,275 with an execution time of 173 days. So that the two methods of carrying out the foundation work have a cost difference of Rp. 1,814,678,362 and a difference of 16 days.Pengambilan keputusan terhadap metode pekerjaan yang digunakan dalam suatu proyek konstruksi merupakan hal yang sangat penting. Seperti halnya dalam pemilihan metode pekerjaan pondasi yang akan digunakan karena pondasi memiliki peran yang sangat penting dalam pelaksanaan pekerjaan struktur bawah. Pemilihan metode pelaksanaan pekerjaan pondasi yang sesuai akan memperlancar proses pekerjaan sehingga perlu diketahui berapa besar biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan masing – masing pekerjaan pondasi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar perbandingan biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan pondasi bore pile dan spun pile. Adapun data yang dibutuhkan untuk menghitung biaya dan waktu pada kedua metode pekerjaan pondasi tersebut meliputi volume pekerjaan, koefisien pengali yang mengacu pada Permen PUPR no. 1 tahun 2022, data tenaga kerja, alat, dan durasi yang dibutuhkan serta metode pelaksanaan pekerjaan. Berdasarkan analisa peneliti yang dilakukan dengan membandingkan pelaksanaan dua metode pekerjaan pondasi yaitu menggunakan bore pile dan spun pile didapatkan biaya total pelaksanaan pekerjaan pondasi bore pile sebesar Rp13.405.153.637 dengan waktu pelaksanaan 189 hari. Sedangkan apabila digunakan pondasi spun pile membutuhkan biaya sebesar Rp11.590.475.275 dengan waktu pelaksanaan 173 hari. Sehingga kedua metode pelaksanaan pekerjaan pondasi tersebut memiliki selisih biaya Rp1.814.678.362 dan selisih waktu 16 hari
Analisis Penentuan Parameter Gempa Untuk Perhitungan Stabilitas Bendungan
Dams have an important role in controlling floods and providing water supply for infrastructure and community needs. The construction of the Pidekso Dam, as part of government efforts, requires research to determine earthquake parameters to ensure the safety of its structure. Pidekso Dam, located in the downstream Bengawan Solo river, is prone to earthquakes because it is adjacent to areas where earthquakes often occur. This study aims to determine the parameters of the earthquake coefficient Operating Basis Earthquakeee (OBE) and MaximumaDesignaEarthquakee (MDE) based on the 2017 earthquake map of Indonesia. Analysis was conducted to assess the risk of dam collapse due to earthquakes. Based on the dam risk class criteria, Pidekso Dam has a high risk class with a total weight of 30. For OBE earthquake analysis, the earthquake coefficient used ranges from 0.1 to 0.15 g, with a probability of being exceeded by 2% in 100 years. As for MDE earthquakes, the earthquake coefficient ranges from 0.5 to 0.6 g, with a repeat period T = 5000 years.Bendungann memiliki peran penting dalam mengendalikan banjir dan menyediakan suplai air untuk kebutuhan infrastruktur dan masyarakat. Pembangunan Bendungann Pidekso, sebagai bagian dari upaya pemerintah, memerlukan penelitian untuk menentukan parameter gempaaguna memastikan keamanan strukturnya. Bendungann Pidekso, terletak di sungai Bengawan Solo bagian hilir, rentan terhadap gempaakarena berdekatan dengan wilayah yang sering terjadi gempa. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter koefisien gempaaOperating Basis Earthquakeee(OBE) dan MaximumaDesignaEarthquakee(MDE) berdasarkan peta gempaa Indonesia tahun 2017. Analisis dilakukan untuk menilai resiko keruntuhan bendungann akibat gempaa. Berdasarkan kriteria kelas resiko bendungann, Bendungann Pidekso memiliki kelas resiko tinggi dengan bobot total 30. Untuk analisis gempaa OBE, koefisien gempaa yang digunakan berkisar antara 0,1 hingga 0,15 g, dengan probabilitas terlampaui 2% dalam 100 tahun. Sedangkan untuk gempaa MDE, koefisien gempaa berkisar antara 0,5 hingga 0,6 g, dengan periode ulang T = 5000 tahun
Potensi Aplikasi Bambu Sebagai Bahan Peredam kebisingan Operasional Kereta Api dengan Menggunakan Model Kristal Sonik Persegi
Noise is the unwanted sound of a business or activity at a certain level and time that can cause disturbances to human health and environmental comfort. One of the transportation activities that can cause high noise is train. The effort to reduce the noise caused by the train is to build a noise-absorbing building in the form of sonic crystals. This research aims to analyze the potential application of bamboo with a square sonic crystal model as a noise reducer for railway activities. This research method is an experimental method using the method of Ministry of Environment No. 48 of 1996. The noise absorber is made of bamboo-based material arranged with a three-layer square lattice type, a diameter of 8.7 cm ± 0.2 cm, and a height of 2 meters. From the results of this study, it was found that the day and night equivalent noise level (LSM) using the barrier was 90.70 dB, 91.20 dB, 92.09 dB at a distance of 1, 2, and 3 meters. The potential of square lattice bamboo-based sonic crystals as a building damper can reduce the noise level by 8.87 dB (8.91%). Bamboo with this square lattice can be an alternative noise dampening building in the residential area around the railroad.Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkann gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Salah satu aktivitas transportasi yang dapat menimbulkan kebising cukup tinggi adalah kereta api. Upaya untuk mengurangi kebisingan akibat kereta api adalah dengan membangun bangunan peredam bising berupa kristal sonik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi aplikasi bambu dengan model kristal sonik persegi sebagai peredam kebisingan aktivitas jalan kereta api. Metode penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan metode KemenLH No. 48 Tahun 1996. Peredam kebisingan terbuat dari material berbahan bambu yang disusun dengan tipe kisi persegi tiga lapis, diameter 8,7 cm ±0,2 cm, dan ketinggian 2 meter. Dari hasil penelitian ini didapatkan tingkat kebisingan ekivalen siang dan malam (LSM) menggunakan barrier diperoleh 90,70 dB, 91,20 dB, 92,09 dB pada jarak 1, 2, dan 3 meter. Potensi kristal sonik berbahan bambu kisi persegi sebagai bangunan peredam dapat mereduksi tingkat kebisingan mencapai 8,87 dB (8,91%). Bambu dengan kisi persegi ini dapat menjadi alternatif bangunan peredam kebisingan di kawasan pemungkiman sekitar rel kereta ap
Empowering the Elderly Community through Acupuncture
The growth of the elderly population continues to increase every year in line with progress in development and health improvements. The elderly group tends to experience declining health and is likely to have disabilities. Musculoskeletal pain is one of the most common complaints from the elderly population. This service activity aims to provide education regarding pain to the elderly through acupuncture. The acupuncture points used are PC6 Neiguan, SP6 Sanyinjiao, ST36 Zusanli, and LI4 Hequ. This service activity can be said to be successful based on the evaluation carried out. Partners of this service activity said that this activity was very useful and hoped that it would be continued and carried out again. Several community members immediately reported changes in joint pain. Evaluation of simple laboratory examination activities showed that his cholesterol and uric acid levels had improved. Evaluation of the level of understanding of acupuncture for musculoskeletal pain, with repeated implementation, shows that partners can demonstrate acupuncture
Effectiveness Stimulus Environment Problem Solving Learning Model for Increase High-level Thinking Skills
Learning with Stimulus Environment Problem Solving (SEPS) is an involved learning process student in a way active good in network nor outside network in reading, writing, doing experiment, and analyze, as well look for solution to the problem social related science environment public. This study aims to know the effectiveness of the Stimulus Environment Problem Solving (SEPS) learning model so that can increase ability think level high among students biology education Universitas Muhammadiyah Surakarta. Method in study this is correlate ability think critical and solving problem 2 groups student a total of 40 students where is one group totaling 20 students use learning model of Stimulus Environment Problem Solving (SEPS) and other groups with Project based Learning. Analysis hypothesis using the t test and effect size. Based on application of the Stimulus Environment Problem Solving (SEPS) model in the classroom experiment experience increase in t test results significant in cycle I and cycle II. Based on the effect size test, the effectiveness of the Stimulus Environment Problem Solving (SEPS) model is included in category tall with value 3.244 so effectiveness of the Stimulus Environment Problem Solving (SEPS) model on Skills think level tall own category tall
Improving the Quality of Education Based on the Role of the School Supervisor
This research reflects the government's initiative to improve access and quality of education in Indonesia, while catching up with more developed countries, and outlines the advantages and disadvantages of education in Indonesia compared to education abroad. The author adopts a research method using the literature study method as a form of preparation using references from various sources, including archives, the internet (both in digital and physical form), and books. The results of the research analysis show that support from all parties is needed to support the ongoing improvement process. Education in Indonesia has a unique identity and local policies that other countries do not have. Even though PISA data shows that the quality of education in Indonesia is still far behind, this does not reduce the enthusiasm of all parties to continue to improve quality. Each system has advantages and disadvantages, and the system implemented should be adapted to the conditions in each region, while maintaining local policies that need to be preserved
Tuturan Imperatif, Apakah Santun? Analisis Kolom Komentar Instagram Presiden Joko Widodo
Tuturan imperatif banyak digunakan dalam instagram sebagai media interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe-tipe kesantunan tuturan imperatif dalam kolom komentar instagram Joko Widodo. Sumber data adalah tuturan warganet dalam kolom komentar pada unggahan di instagram Joko Widodo dengan deskripsi “Seusai Jumatan di Masjid Al Iklhas, Kota Binjai, siang ini, saya bertolak ke Jakarta” tanggal 4 Februari 2022 yang mengandung kesantunan imperatif. Metode yang digunakan adalah metode simak dengan teknik salin. Penyimakan dilakukan dengan cara menyimak tuturan yang mengandung kesantunan imperatif dalam kolom komentar instagram Joko Widodo. Setelah itu, menyalin tuturan yang telah dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua jenis tuturan imperatif, yaitu tuturan kesantunan linguistik imperatif dan tuturan kesantunan pragmatik imperatif. Tuturan kesantunan linguistik imperatif menggunakan penanda tolong yang terdiri dari enam tuturan dan penanda mohon yang terdiri dari tiga tuturan. Tuturan kesantunan pragmatik imperatif terdiri dari dua wujud, yaitu tuturan interogatif dan tuturan deklaratif. Tuturan interogatif terdiri dari dua wujud, yaitu perintah sebanyak empat tuturan dan tuturan ajakan sebanyak dua tuturan. Tuturan deklaratif terdiri dari tiga wujud, yaitu suruhan sebanyak tiga tuturan, ajakan sebanyak tiga tuturan, dan permohan sebanyak dua tuturan.Tuturan imperatif banyak digunakan dalam instagram sebagai media interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe-tipe kesantunan tuturan imperatif dalam kolom komentar instagram Joko Widodo. Sumber data adalah tuturan warganet dalam kolom komentar pada unggahan di instagram Joko Widodo dengan deskripsi “Seusai Jumatan di Masjid Al Iklhas, Kota Binjai, siang ini, saya bertolak ke Jakarta” tanggal 4 Februari 2022 yang mengandung kesantunan imperatif. Metode yang digunakan adalah metode simak dengan teknik salin. Penyimakan dilakukan dengan cara menyimak tuturan yang mengandung kesantunan imperatif dalam kolom komentar instagram Joko Widodo. Setelah itu, menyalin tuturan yang telah dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua jenis tuturan imperatif, yaitu tuturan kesantunan linguistik imperatif dan tuturan kesantunan pragmatik imperatif. Tuturan kesantunan linguistik imperatif menggunakan penanda tolong yang terdiri dari enam tuturan dan penanda mohon yang terdiri dari tiga tuturan. Tuturan kesantunan pragmatik imperatif terdiri dari dua wujud, yaitu tuturan interogatif dan tuturan deklaratif. Tuturan interogatif terdiri dari dua wujud, yaitu perintah sebanyak empat tuturan dan tuturan ajakan sebanyak dua tuturan. Tuturan deklaratif terdiri dari tiga wujud, yaitu suruhan sebanyak tiga tuturan, ajakan sebanyak tiga tuturan, dan permohan sebanyak dua tuturan.