E-Journal Universitas Dwijendra
Not a member yet
1135 research outputs found
Sort by
The Rules of Balinese Nasalization
Balinese has a stratified system called anggah-ungguhing basa Bali. The existence of this system is distinguished it from Indonesian and / or the other regional languages in Indonesia. In addition, Balinese has two major dialects, namely the Bali Aga dialect and the Bali Dataran dialect. The Bali Aga dialect does not recognize the language level system, on the contrary, in the Bali Dataran dialect this system greatly influences the use of Balinese language itself.
The difference in this system was also reflected in its morphological system, especially in forming the words with nasal prefix. It was interesting to be observed. In relation with that, this writing focused on the Balinese nasalization system. The purpose of this research was to find out the rules of Balinese nasalization.
The data in this study were collected by using literature study and observation methods. Then, the data were analyzed using descriptive analysis methods. The theory used in investigating this problem was morphology theory. After analyzing the data that had been collected, it was found that the nasal prefix {N-} in Balinese which was affixed to the original form or the basic form which was preceded by certain phonemes, that had already changed form. The form of this changing was called an allomorph. Thus the allomorphs found from the merging of the nasal prefixes were: n- {n-}, m- {m-}, ng- {ŋ-}., And ny- {ñ-}
Nusantarazation Environmental Paradigm: Sustaining Biodiversity and Culture in Nusantara Malay Archipelago with Local Ecological Knowledge (LEK)
Since Nusantara Malay Archipelago is a maritime community, its indigenous knowledge and local wisdom is largely connected to sea life and water. Nevertheless, there are also mountains, valleys, forests and flatlands; hence, local knowledge is also connected to these landscapes and spaces. This article submits the environmental paradigm of Nusantarazation and its interconnectedness with local ecological knowledge (LEK) as well as reports on findings in the form of case exemplars in the field related to these constructs. The authors argue that Nusantarazation is an epistemological paradigm which is able to decolonize environment knowledge and provide an integrative framework for LEK, sustainable practices and technological know-how. The spatial scope covers mainly areas in Malaysia and Indonesia as these are part of Nusantara. Among the key findings are that LEK tend to be accompanied with seemingly unscientific or mythical narratives but are translated into practices that promote sustainability either in the land or waters. This article also capture various local constructs and beliefs that capture the underlying value systems which are integral to conservation and ecological balance. Nevertheless, the Nusantarazation environmental paradigm encounters challenges from colonial legacies of power modern practices and industrial complex that threaten to harm the environment and humanity
Problem Based Learning (PBL) : Suatu Model Pembelajaran Untuk Mengembangkan Cara Berpikir Kritis Peserta Didik
Abstrak
Pendidikan pada hakekatnya merupakan syarat mutlak bagi pengembangan sumber daya manusia dalam menuju masa depan yang lebih baik. Ketrampilan abad 21 menitikberatkan kepada kemampuan untuk berpikir kritis, menyelesaikan masalah, komunikasi, dan kerjasama yang merupakan bagian dari HOTS (High Order Thinking Skills) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi yang sangat perlu dimiliki oleh peserta didik sebagai bekal dalam menghadapi tantangan global. Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang menuntut aktivitas mental peserta didik untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan. Melalui PBL siswa dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Kemampuan yang dimaksud diantaranya berpikir kritis, inovatif, dan kreatif. Ketika PBL berlangsung, peserta didik dituntut untuk mampu menyelesaikan masalah sendiri dan bekerja mandiri, sehingga peserta didik dapat mengembangkan berpikir kritisnya. Peserta didik dapat dilatih mengembangkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi dan pola berpikir kreatif
Analisis Pola Kalimat Pada Rubrik Olahraga Kompas.com Bulan Maret 2021
Penelitian yang berjudul Analisis Pola Kalimat pada Rubrik Olahraga Kompas.com Bulan Maret 2021 bertujuan mendeskripsikan struktur sintaksis dan pola kalimat yang terdapat pada rubrik olahraga yang disajikan dalam berita online kompas.com edisi Maret 2021. Kajian yang dilihat dari struktur sintaksis adalah pola kalimat berdasarkan kategori, fungsi, dan peran sintaksis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan struktur sintaksis dan menganalisis pola kalimat dasar Bahasa Indonesia. Analisis ini memakai metode kualitatif dan data sekunder seperti buku atau referensi. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan metode pengumpulan data simak yang diterapkan melalui teknik baca dan catat, serta menganalisis dengan menggunakan metode Agih. Terdapat beberapa tahapan dalam analisis pola kalimat ini yaitu tahapan membaca berita online, pencatatan pada data yang sesuai teori, mengidentifikasi, menganalisis, merumuskan, dan menyajikan data. Peneliti menganalisis delapan berita olahraga online pada kompas.com edisi Maret 2021. Analisis data penelitian ini menunjukkan struktur sintaksis pada kumpulan berita olahraga kompas.com yang meliputi pola kalimat berdasarkan fungsi, kategori, dan peran sintaksis
Ragam Bahasa dan Sastra Dalam Geguritan Luh Lutung: Sebagai Media Pendidikan Bagi Masyarakat
Ragam bahasa dan sastra yang terdapat pada karya sastra tradisional Bali dapat dipakai sebagai media pendidikan bagi masyarakat. Salah satunya terdapat dalam teks Geguritan Luh Lutung yang digunakan sebagai objek penelitian. Teks Geguritan Luh Lutung mengandung nilai-nilai filsafat kehidupan yang nantinya dapat dipakai sebagai media pendidikan dalam tradisi mabebasan. Tradisi mabebasan merupakan perihal berbahasa tentang pemberian arti dan pemberian makna dalam karya sastra tradisional. Permasalahan yang ada dalam penelitian ini adalah bagaimanakah ragam bahasa dan ragam sastra dalam teks Geguritan Luh Lutung sebagai media pendidikan bagi masyarakat?. Tujuan dari penelitian ini untuk melestarikan khazanah budaya khususnya dalam karya sastra tradisional Bali. Selain itu, untuk mengetahui ragam bahasa dan ragam sastra dalam teks Geguritan Luh Lutung sebagai media pendidikan bagi masyarakat. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analitik. Metode deskriptif analitik adalah suatu metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau sampel. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adala teori stilistika. Istilah gaya bahasa dengan stile (sebagai pengindonesiaan dari style) pada hakikatnya merupakan teknik, teknik pemilihan ungkapan kebahasaan, dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan. Hasil analisis dalam penelitian ini, berupa: (1) ragam bahasa dalam teks Geguritan Luh Lutung yang ditemukan berupa stratifikasi Bahasa Bali. Penggunaan Bahasa Bali Alus ditemukan pada ranah keluarga percakapan antartokoh Made Saliksik kepada orang tuanya dan ranah masyarakat dalam percakapan antartokoh Made Saliksik dan Luh Lutung terhadap gurunya. (2) Ragam sastra dalam teks Geguritan Luh Lutung yang digunakan dalam penelitian ini berupa gaya bahasa perbandingan, seperti: perumpamaan, personifikasi, antitesis. Gaya bahasa pertentangan, seperti: Hiperbola, dan litotes. Gaya bahasa pertautan, seperti: Eufemisme, dan antonomasia
Fungsi Dan Bentuk Angkul - Angkul Di Desa Gunaksa, Klungkung - Bali
Arsitektur merupakan salah satu unsur kebudayaan. Arsitektur tercipta dari ide (gagasan), cara mewujudkan, dan hasil perwujudan ide tersebut.tiga aspek tersebut, mengalami perubahan seiringin dengan perkembangan jaman, baik fungsi dari angkul –angkul, bentuk dan bahan yang di gunakan dalam membangunnya. Angkul – angkul merupakan bangunan tradisonal sebagai pintu masuk kepekaranganyang fungsi awalanya hanya sebagai akses keluar masuk manusia atau penghuni rumah, namum dalam perkembangan jaman fungsi angkul – angkul tidak lagi hanya sebagai akses keluar masuk manusia, namun juga sebagai akses keluar masuk kendaraan bermotor. Dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk identifikasi perubahan atau pelestarian angkul –angkul serta faktor – fakor yang melatar belakangi perubahan atau pelestarian angkul – angkul tersebu
Tradisi Siri Bongkok Pada Rumah Adat Mbaru Gendang Di Desa Todo Kabupaten Manggarai - NTT
Kampung Todo merupakan salah satu kampung bersejarah yang sampai saat ini masih mempertahankan adat. Salah satu upacara adat yang masih di lestarikan oleh masyarakat todo adalah tradisi tiang utama (Siri Bongkok) pada rumah adat (mbaru gendang). Siri bongkok merupakan salah satu tiang yang sakral dari semua tiang yang ada di rumah adat (mbaru Gendang)
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menjunjung tinggi nilai gotong royong dalam mewujutkan persatuan dan kesatuan masyarakat Todo juga masyarakat manggarai pada umumnya, selain itu agar generasi penerus mengerti dan memahami makna simbolik siri bongok sebagai pemersatu kehidupan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pola pikir Induktif dalam membahas tradisi siri bongkok diantaranya Studi literartur, Wawancara dan Observasi. Berdasarkan hasil penelitian, penyusun dapat menyimpulkan bahwa Mbaru Gendang memiliki makna simbolik. Makna simbolik Mbaru gendang Masyarakat Manggarai terdiri atas makna individual, makna social dan makna religius. Makna-makna tersebut didasarkan atas interpretasi Masyarakat itu sendiri. salah satu simbolik dalam rumah adat (mbaru gendang) adalah siri bongkok yaitu pemersatu kehidupan masyarakat Todo dan manggarai pada umumnya
Perancangan Bale Agung
Bali memiliki kesan yg magis diantara pulau di Indonesia. Bali terkenal dengan sebutan pulau seribu pura. Dikatakan demikian karena disetiap daerah dan disetiap desa dibangun sebuah pura dari ujung timur sampai ujung barat. Setiap Pura memiliki pelinggih dengan pemujaan yg berbeda beda, namun yg jarang diketahui atau diperhatikan oleh orang yg baru datang di Bali yaitu sebuah tempat seperti Bale yg panjang dengan sebutan Bale Agung.
Banyak yg bertanya Bale Agung itu fungsinya apa? Karena Bale Agung mirip dengan Bale santai atau nama orang di sekitar dengan sebutan Bale Bengong. Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut. Apa itu Bale Agung? Bagaimana Fungsi Bale Agung? Bagaimana Merancang Bale Agung
Metode penelitian yang di pakai yakni metode pengumpulan data yang meliputi data primer dengan teknik wawancara dan observasi, data sekunder yakni dengan studi kepustakaan dan buku penunjang literatur berupa Bale Agung. Metode analisis data yang meliputi pengelompokan data, analisis dan sintesis dan yang terakhir adalah Metode penarikan kesimpulan yang meliputi metode induktif dan dedukatif.
Dalam perencanaan Bale Agung menggunakan Konsep Dasar Tradisional dimana dilihat dari Bale Agung tersebut. Penggunaan Tema Arsitektur Tradisional Lokal pada Bale Agung ini bertujuan agar memahami apa itu Bale Agung, Fungsinya dan Merancangnya
Penerapan Eco Airport Pada Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai
Meningkatnya aktifitas di bandar udara berpengaruh terhadap meningkatnya lalu lintas udara yang dapat berpengaruh terhadap kualitas udara lokal yang dapat menggangu kesehatan masyarakat, ini karena berdasarkan Intergoernmental panel on climate change (IPCC) tahun 1992, transportasi udara menyumbang sekitar 3,5% dari total anthroponegic radiative forcing, di indonesia sendiri telah di atur di dalam peraturan pemerintah nomor 40 tahun 2012 tentang pembangunan dan kelestarian lingkungan hidup Bandar Udara. Untuk penerapan eco airpot, dimana eco airport merupakan bandar udara yang telah menjalani pengukuran yang terukur terhadap aspek-aspek yang berpotensi menyebabkan dampak lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penerapan eco airport pada bandar udara I Gusti Ngurah Rai, Di Indonesia terdapat lima bandar udara yang telah menerapkan eco airport di antaranya Soekarno Hatta (jakarta), Ngurah Rai (Denpasar), Hang Nadim (Batam), Juanda (Surabaya), dan Sultan Mahmud Badarudin II (Palembang), dalam penerapan eco airport terdapat dua langkah yang di lakukan di antaranya Pembentukan eco airport council dan Penyusunan airport environment plan (AEvP). Dalam penentuan penyusunan AEvP terdapat Konsep dasar yang menjadi penentu diantaranya adalah udara, energi, kebisingan/getaran, air, limbah, lingkungan alamiah, di bandar Udara I Gusti Ngurah Rai sendiri telah menerapkan komponen-komponen pendukung dalam terlaksananya eco airport di antaranya telah menggunakan penggunaan kendaraan listrik, pemanfaatan energi alami, pemanfaatan air hujan, pengelolaan limbah, dan penanaman poho