Jurnal Health Sains (JHS)
Not a member yet
    676 research outputs found

    Pengaruh Intervensi Edukasi terhadap Pemahaman Berolahraga Pada Masyarakat Indonesia Berusia 18 Sampai 64 Tahun

    Get PDF
    Education is a process to educate aimed to develop knowledge and potential. Based on SUSENAS – 2018, there are only 35,7% of our Indonesian that exercise regularly. This survey proved that there are only about one third people that actually exercise actively. With so many benefits and positive impacts that we could get by exercising, it is expected to see our society to have decent knowledge and understanding about physical exercise. Therefore, this study is aimed to find out how the educated intervention impact physical exercise knowledge of Indonesians with age range from 18 until 64 years old, therefore will achieve healthy society with great health quality that will further impact on our national life expectancy. This study was done by using the experimental method (one group pretest-posttest design) towards the 110 samples of Indonesians with age from 18 until 64 years old with purposive sampling and Wilcoxon analitic study. The participants participated in the webinar and completes questionnaires before and after the intervention to asses their level of knowledge about exercise. The findings revealed a difference in the mean level of knowledge among respondents before and after the webinar, with pre-test score of 79,18 and post-test score of 96,82 out of 100 as the total score.  There were significant difference in the mean level of knowledge and results showed that the intervention education increased the knowledge of participant with P<0,001. In conclusion, intervention education is proven to increase participant’s knowledge about physical exercise in Indonesian with age range from 18 until 64 years old.Edukasi adalah proses pengajaran dengan tujuan agar dapat mengembangkan pengetahuan dan potensi. Berdasarkan SUSENAS –tahun 2018 terdapat 35,7% masyarakat Indonesia yang aktif berolahraga. Data ini menunjukan bahwa hanya terdapat kurang lebih sepertiga masyarakat Indonesia yang aktif berolahraga. Melihat manfaat olahraga yang begitu banyak, maka diharapkan masyarakat memiliki pemahaman yang baik dan benar mengenai kegiatan berolahraga. Untuk itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana edukasi memberikan pengaruh terhadap pemahaman masyarakat Indonesia berusia 18 sampai 64 tahun, dalam hal berolahraga demi mencapai masyarakat Indonesia yang sehat dan masyarakat yang memiliki kualitas kesehatan yang baik dan juga berdampak pada angka harapan hidup nasional. Penelitian ini menggunakan metode studi eksperimental (one group pretest-posttest design) terhadap 110 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, dengan teknik sampling purposive dan uji korelasi Wilcoxon. Responden mengikuti seminar daring kemudian mengisi kuesioner sebelum dan sesudah intervensi untuk diukur tingkat pengetahuannya mengenai berolarhaga. Hasil penelitian menunjukan perbedaan tingkat rata-rata pengetahuan sebelum seminar daring dan sesudah seminar daring. Rata-rata nilai tes sebelum adalah sebesar 79,18 dan rata-rata nilai tes sesudah adalah sebesar 96,82 dari total skor 100. Hal ini berarti bahwa, edukasi meningkatkan pemahaman tentang berolahraga dengan P<0,001. Oleh karena itu, edukasi terbukti meningkatkan pemahaman berolaraga pada masyarakat Indonesia berusia 18 sampai 64 tahun

    Does Knowledge Management Affect Competence and Workload in Nurses' Work Performance at Mitra Medika Pontianak Hospital

    Get PDF
    In the management of hospital management, it appears that there are problems in terms of nurses' work performance that is not optimal. This is thought to be influenced by various factors, including competence, workload, and knowledge management. So this study aims to describe, analyze, and determine the effect of competence, workload, and knowledge management on the performance of nurses at Mitra Medika Hospital Pontianak. This study analyzed the problem, using 148 respondents. The data collection technique used a survey method with a closed questionnaire. Data analysis was carried out by path analysis using SPSS software version 18.00. From the results of the study, it was found that the competence variable had an influence on work performance with a beta value of 0.316, a significance of 0.000; Workload has no effect on work performance with a beta value of 0.086, a significance of 0.86; Knowledge management has a significant effect on work performance with a beta value of 0.525, a significance of 0.000. Knowledge management is the variable with the most dominant influence on work performance.In the management of hospital management, it appears that there are problems in terms of nurses' work performance that is not optimal. This is thought to be influenced by various factors, including competence, workload, and knowledge management. So this study aims to describe, analyze, and determine the effect of competence, workload, and knowledge management on the performance of nurses at Mitra Medika Hospital Pontianak. This study analyzed the problem, using 148 respondents. The data collection technique used a survey method with a closed questionnaire. Data analysis was carried out by path analysis using SPSS software version 18.00. From the results of the study, it was found that the competence variable had an influence on work performance with a beta value of 0.316, a significance of 0.000; Workload has no effect on work performance with a beta value of 0.086, a significance of 0.86; Knowledge management has a significant effect on work performance with a beta value of 0.525, a significance of 0.000. Knowledge management is the variable with the most dominant influence on work performance

    Hubungan Pengendalian Diabetes Melitus Type 2 Dengan Kejadian Retinopati Diabetes Di Rsud Dr Chasan Boesoirie Ternate

    Get PDF
    Background: Controlling type 2 diabetes mellitus (DMT2) is very important in reducing the possibility of complications. The incidence of complications of DMT2 includes macrovascular and microvascular. An important microvascular complication is diabetic retinopathy, which is strongly influenced by the duration of diabetes, hyperglycemia and hypertension. Many studies with mixed results regarding the relationship of controlled diabetes with the incidence of diabetic retinopathy. Purpose: This study aims to determine the relationship between T2DM control and the incidence of diabetic retinopathy at Dr Chasan Boesoirie Hospital Ternate. Methods: This study used an analytic observation design with a cross sectional approach. DMT2 patients who visit the internal medicine polyclinic are examined for HbA1c and examined by an ophthalmologist to diagnose the presence or absence of diabetic retinopathy. Samples were taken by purposive sampling. Correlation test analysis was carried out with the Chi Square test. Results: In DMT2 who visited the Internal Medicine Polyclinic at Dr. Chasan Boesoirie found. Conclusion: There is a non-significant relationship with p=0.179 between controlled T2DM and the incidence of diabetic retinopathy. Early detection of diabetic retinopathy is required by funduscopic examination with regard to the status of T2DM controlLatar belakang: Pengendalian diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) merupakan hal yang sangat penting dalam mengurangi kemungkinan komplikasi. Kejadian komplikasi DMT2 meliputi makrovaskular dan mikrovaskular. Komplikasi mikrovaskular yang penting adalah retinopati diabetes, yang sangat dipengaruhi oleh lamanya menderita DM, hiperglikemia dan hipertensi. Banyak penelitian dengan hasil yang beragam mengenai hubungan terkendalinya diabetes dengan kejadian retinopati diabetes. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengendalian DMT2 dengan kejadian retinopati diabetes di RSUD dr Chasan Boesoirie Ternate. Metode: Penelitian ini menggunakan disain observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Pasien DMT2 yang berkunjung di poliklinik penyakit dalam dilakukan pemeriksaan HbA1c dan dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis mata untuk mendiagnosis ada atau tidaknya retinopati diabetes. Sampel diambil secara purposive sampling Dilakukan analisa uji korelasi dengan uji Chi Square. Hasil: Pada DMT2 yang berkunjung ke poli Penyakit dalam RSUD dr Chasan Boesoirie didapatkan. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang tidak bermakna dengan p= 0.179      antara terkendalinya DMT2 dengan kejadian retinopati diabetes. Perlu deteksi dini retinopati diabetes dengan pemeriksaan fundus kopi dengan mempertimbangkan status pengendalian DMT2 nya

    Komunikasi Word Of Mouth Di Era Pandemi Covid-19

    Get PDF
    World Health Organization memberi nama virus jenis baru yaitu Severe Acute Respiratory Syndrom Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya adalah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Virus ini dapat menyebabkan kematian pada manusia dan berkembang menjadi pandemi yang berbahaya bagi manusia di seluruh penjuru dunia. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah mereview komunikasi word of mouth sebagai salah satu media komunikasi yang efektif dan efisien guna menyampaikan informasi dari pemerintah mengenai COVID-19 khususnya penggunaan APD masker bagi masyarakat. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah literature review secara komprehensif. Pencarian literatur mengenai COVID-19 baik nasional maupun internasional yang dilakukan dengan menggunakan pencarian database meliputi Google Scholar, Scopus, Sage Publications. Hasil review dari benerapa artikel, didapatkan jawaban yang berupa pentingnya penggunaan masker pada era COVID-19, pentingnya pemanfaatan komunikasi dalam penanganan masalah COVID-19 dan word of mouth (WOM) sebagai salah satu komunikasi yang biasa digunakan dalam dunia kesehatan sehingga WOM dapat menjadi komunikasi yang efisien dan efektif guna menangani masalah dalam era pandemi COVID-19. Kesimpulan dari review artikel ini adalah penggunaan masker merupakan suatu kewajiban dalam era pandemi COVID-19; WOM merupakan salah satu jenis komunikasi dari mulut ke mulut yang berhasil diterapkan dalam bidang kesehatan. Penggunaan WOM pada era pandemi COVID-19 merupakan salah satu pilihan yang dapat diambil oleh pemerintah guna meningkatkan keefisienan dan keefektifan dalam penyampaian informasi, memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya penggunaan masker di era pandemi COVID-19.World Health Organization memberi nama virus jenis baru yaitu Severe Acute Respiratory Syndrom Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan nama penyakitnya adalah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Virus ini dapat menyebabkan kematian pada manusia dan berkembang menjadi pandemi yang berbahaya bagi manusia di seluruh penjuru dunia. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah mereview komunikasi word of mouth sebagai salah satu media komunikasi yang efektif dan efisien guna menyampaikan informasi dari pemerintah mengenai Covid-19 khususnya penggunaan APD masker bagi masyarakat. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah literature review ini secara komprehensif. Pencarian literatur mengenai Covid-19 baik nasional maupun internasional yang menggunakan pencarian database yang digunakan meliputi Google Scholar, Scopus, Sage Publications. Hasil review dari benerapa artikel, didapatkan jawaban yang berupa pentingnya penggunaan masker pada era Covid-19, pentingnya pemanfaatan komunikasi dalam penanganan masalah Covid-19 dan word of mouth (WOM) sebagai salah satu komunikasi yang biasa digunakan dalam dunia kesehatan sehingga sekiranya WOM dapat menjadi komunikasi yang efisien dan efektif guna menangani masalah dalam era pandemi Covid-19. Kesimpulan dari review artikel ini adalah penggunaan masker merupakan suatu kewajiban dalam era pandemi Covid-19; WOM merupakan salah satu jenis komunikasi dari mulut ke mulut yang berhasil diterapkan dalam bidang kesehatan. Penggunaan WOM pada era pandemi Covid-19 merupakan salah satu pilihan yang dapat diambil oleh pemerintah guna meningkatkan keefisienan dan keefektifan dalam penyampaian informasi, memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya penggunaan masker di era pandemi Covid-19

    Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Keluarga Terhadap Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue

    Get PDF
    Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu kejadian inkonvensional (KLB) yang masih sering terjadi di dunia saat ini. Kasus DBD terbanyak terjadi di Kabupaten Majalengka yaitu UPTD Puskesmas Cigasong sebanyak 15 kasus (13,3%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cigasong Kabupaten Majalengka Tahun 2018. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif di Cigasong, Kabupaten Majalenka, pada tahun 2018 sebanyak 99 orang menggunakan teknik auxiliary purpose. Analisis data meliputi analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh (30,3%) rumah tangga yang telah memberantas sarang nyamuk DBD, kurang dari separuh (46,5%) rumah tangga yang tidak berpengetahuan, dan sebagian kecil (20,2%) rumah tangga yang bersikap negatif. Hubungan pengetahuan keluarga dan sikap keluarga terhadap pemberantasan sarang nyamuk DBD terjadi di wilayah kerja Puskesmas Cigasong Kabupaten Majalenka tahun 2018. Petugas kesehatan perlu meningkatkan kegiatan sosialisasi untuk pemberantasan sarang nyamuk, melaksanakan program pemberantasan nyamuk secara konvensional melalui pengurangan dan pemberantasan kabut, serta membiarkan keluarga atau masyarakat membasmi sarang nyamuk melalui penguburan, drainase dan daur ulang waduk agar tidak terpengaruh oleh kerja sama bersama. menjadi sarang nyamuk, dan aktif memperoleh informasi dari berbagai media pemberantasan sarang nyamuk.Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu kejadian inkonvensional (KLB) yang masih sering terjadi di dunia saat ini. Kasus DBD terbanyak terjadi di Kabupaten Majalengka yaitu UPTD Puskesmas Cigasong sebanyak 15 kasus (13,3%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap keluarga tentang pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cigasong Kabupaten Majalengka Tahun 2018. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif di Cigasong, Kabupaten Majalenka, pada tahun 2018 sebanyak 99 orang menggunakan teknik auxiliary purpose. Analisis data meliputi analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh (30,3%) rumah tangga yang telah memberantas sarang nyamuk DBD, kurang dari separuh (46,5%) rumah tangga yang tidak berpengetahuan, dan sebagian kecil (20,2%) rumah tangga yang bersikap negatif. Hubungan pengetahuan keluarga dan sikap keluarga terhadap pemberantasan sarang nyamuk DBD terjadi di wilayah kerja Puskesmas Cigasong Kabupaten Majalenka tahun 2018. Petugas kesehatan perlu meningkatkan kegiatan sosialisasi untuk pemberantasan sarang nyamuk, melaksanakan program pemberantasan nyamuk secara konvensional melalui pengurangan dan pemberantasan kabut, serta membiarkan keluarga atau masyarakat membasmi sarang nyamuk melalui penguburan, drainase dan daur ulang waduk agar tidak terpengaruh oleh kerja sama bersama. menjadi sarang nyamuk, dan aktif memperoleh informasi dari berbagai media pemberantasan sarang nyamuk

    Pengaruh Kerjasama Tim Terhadap Upaya Pengurangan Risiko Infeksi Di Unit Rawat Inap Rs

    Get PDF
    Tanggal 11 Maret 2020 WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemik. Di Indonesia sampai dengan Juni 2020 menurut data dari PHEOC Kemenkes kasus Covid-19 terkonfirmasi sudah mencapai 56.385 kasus diantaranya 2.976 kasus meninggal dunia. Dalam era pandemic Covid-19, RS X Pulomas menerapkan berbagai upaya dalam mengurangi risiko infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi dan kerjasama tim yang dimediasi oleh kepemimpinan terhadap upaya pengurangan risiko infeksi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit X, Pulomas. Model penelitian yang digunakan adalah korelasi multipel, dimana menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode survey. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Upaya Pengurangan Risiko Infeksi dengan variabel-variabel bebas adalah: Komunikasi, Kerjasama Tim dan Kepemimpinan sebagai variabel mediasi.  Sampel dalam penelitian ini merupakan sampel jenuh yaitu sebanyak 60 perawat di unit rawat inap, menggunakan instrument kuesioner dengan pengukuran skala Likert. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan SPSS 25 dan AMOS 20.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Komunikasi dan kerjasama tim berpengaruh signifikan terhadap upaya pengurangan risiko infeksi. Variabel kerjasama tim merupakan variabel yang paling berpengaruh dalam upaya pengurangan risiko infeksi. Hasil analisis lainnya didapatkan kepemimpinan tidak memediasi antara komunikasi dan kerjasama tim terhadap upaya pengurangan risiko infeksi.Tanggal 11 Maret 2020 WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemik. Di Indonesia sampai dengan Juni 2020 menurut data dari PHEOC Kemenkes kasus Covid-19 terkonfirmasi sudah mencapai 56.385 kasus diantaranya 2.976 kasus meninggal dunia. Dalam era pandemic Covid-19, RS X Pulomas menerapkan berbagai upaya dalam mengurangi risiko infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi dan kerjasama tim yang dimediasi oleh kepemimpinan terhadap upaya pengurangan risiko infeksi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit X, Pulomas. Model penelitian yang digunakan adalah korelasi multipel, dimana menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode survey. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Upaya Pengurangan Risiko Infeksi dengan variabel-variabel bebas adalah: Komunikasi, Kerjasama Tim dan Kepemimpinan sebagai variabel mediasi. Sampel dalam penelitian ini merupakan sampel jenuh yaitu sebanyak 60 perawat di unit rawat inap, menggunakan instrument kuesioner dengan pengukuran skala Likert. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan SPSS 25 dan AMOS 20.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Komunikasi dan kerjasama tim berpengaruh signifikan terhadap upaya pengurangan risiko infeksi. Variabel kerjasama tim merupakan variabel yang paling berpengaruh dalam upaya pengurangan risiko infeksi. Hasil analisis lainnya didapatkan kepemimpinan tidak memediasi antara komunikasi dan kerjasama tim terhadap upaya pengurangan risiko infeks

    Pengaruh Model Deteksi Dini Kartu Kendali Stroke terhadap Kemampuan Klien dalam Pengendalian Faktor Resiko Stroke

    Get PDF
    Stroke is a degenerative disease that currently occurs as much as it occurs. This is due to changes in people's unhealthy lifestyles, such as reduced activity, unhealthy diet, lack of rest, and many other factors. The general purpose of this study is to identify the influence of stroke control card education on the client's ability to control stroke risk factors. In this study using Quasi-Experimental with Pretest-Posttest with Control Group Desaign approach. In this design, researchers conducted an assessment on the control group and intervention group before stroke control card (KKS) education. The intervention group was treated with KKS education, then measured (post test) the level of knowledge ability and attitude to control stroke risk factors while the control group was not treated but measured. This study is titled the influence of early detection models through stroke control card education on the client's ability to control stroke risk factors. The study sampled 80 people for the control group and 80 people in the intervention group with the criteria of the sample of patients with stroke risk factors. Research site in South Jakarta with a research duration of 4 months.Stroke merupakan penyakit degeneratif yang saat ini semankin banyak terjadi. Hal ini disebabkan adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang kurang sehat, seperti makin berkurangnya aktivitas, pola makan yang tidak sehat, istirahat yang kurang, dan banyak faktor lainnya. Tujuan umum penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh edukasi kartu kendali stroke terhadap kemampuan klien dalam pengendalian faktor resiko stroke. Pada penelitian ini menggunakan Quasi-Experimental dengan pendekatan Pretest-Posttest with Control Group Desaign. Pada desain ini peneliti melakukan penilaian pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sebelum edukasi Kartu Kendali Stroke (KKS). Kelompok intervensi dilakukan perlakukan dengan edukasi KKS, kemudian diukur (post test) tingkat kemampuan pengetahuan dan sikap terhadap pengendalian factor risiko stroke sedangkan kelompok kontrol tidak dilakukan perlakuan tetapi diukur. Penelitian ini berjudul pengaruh model deteksi dini melalui edukasi kartu kendali stroke terhadap kemampuan klien dalam pengendalian faktor resiko stroke. Sampel penelitian ini sebanyak 80 orang untuk kelompok kontrol dan 80 orang kelompok intervensi dengan kriteria sampel penderita dengan factor resiko stroke. Tempat penelitian di Jakarta Selatan dengan lama penelitian 4 bula

    Pelatihan Kecerdasan Emosional terhadap Self-Efficacy Mahasiswa Praktik Klinik Keperawatan Gawat Darurat

    Get PDF
    Self-efficacy becomes one of the important elements in the process of nursing education of the emergency department, because the situation in the emergency department with high workload, stress and anxiety can lead to not achieved in learning outcome. Interventions that can improve self-efficacy are training emotional intelligence. The purpose of the study was to explain the effect of emotional intelligence training on self-efficacy of students practicing emergency nursing clinics. Type of quasi experimental research with nonequivalent control group design design. A large sample of 42 people were taken with total sampling and divided into experimental and control groups, each group numbering 21 people. Emotional intelligence training is provided in 5 sessions (each session is 100 minutes). Self-efficacy is measured using General Self efficacy Scala (GSES). The research was conducted in April 2021 at the Nusa Nipa University. Data analysis using paired t test and independent t-test test. The results of the study showed there is an influence of emotional intelligence training on student self-efficacy (p 0.000). Before being given emotional intelligence training in the treatment group there was no difference in self-efficacy in the two groups (p 0.872), but after being given the training there was a difference of self-efficacy in the two groups (p 0.000). Emotional intelligence training can improve students' self-efficacy, it is expected that emotional intelligence and self-efficacy are considered and applied in the nursing curriculum.Self-efficacy menjadi salah satu unsur penting dalam proses pendidikan keperawatan departemen gawat darurat, karena situasi di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan beban kerja, stress dan kecemasan tinggi dapat menyebabkan tidak tercapainya capaian pembelajaran. Intervensi yang dapat meningkatkan self-efficacy adalah pelatihan kecerdasan emosional. Tujuan penelitian untuk menjelaskan pengaruh pelatihan kecerdasan emosional terhadap self-efficacy mahasiswa praktik klinik keperawatan gawat darurat. Jenis penelitian quasi experimental dengan rancangan nonequivalent control group design. Besar sampel sebanyak 42 orang yang diambil dengan total sampling dan dibagi dalam kelompok perlakuan dan kontrol, masing-masing kelompok berjumlah 21 orang. Pelatihan kecerdasan emosional diberikan dalam 5 sesi (tiap sesi 100 menit). Self-efficacy diukur menggunakan General Self Efficacy Scala (GSES). Penelitian dilaksanakan pada bulan April tahun 2021 di Universitas Nusa Nipa. Analisis data menggunakan uji paired t test dan uji independent t-test. Hasil penelitian menunujukkan ada pengaruh pelatihan kecerdasan emosional terhadap self-efficacy mahasiswa (p 0.000). Sebelum diberikan pelatihan kecerdasan emosional pada kelompok perlakuan tidak ada perbedaan self-efficacy pada ke dua kelompok (p 0.872), akan tetapi setelah diberikan pelatihan ada perbedaan self-efficacy pada ke dua kelompok (p 0.000). Pelatihan kecerdasan emosional dapat meningkatkan self-efficacy mahasiswa, diharapkan kecerdasan emosional dan self-efficacy dipertimbangkan dan diterapkan dalam kurikulum keperawatan

    Pengaruh Kepemimpinan Kepala Ruangan, Beban Kerja serta Budaya Organisasi Terhadap Stres Kerja Perawat Ruang Rawat Inap RSAU dr. Esnawan Antariksa

    Get PDF
    The success of a hospital is strongly influenced by its human resources, nurses are the largest human resources in the hospital, therefore nurses are the spearhead of the hospital in the process of health services but sometimes nurses also experience stress in working, especially inpatient nurses. This study aims to influence the leadership of the head of the room, workload and culture of the organization to the work stress of inpatient room nurses hospital or space hospital. This study uses quantitative research method using causality survey approach. This suggests that workload needs to be improved on indicators measured against work stress, while for leadership and culture the organization needs to be maintained or leveled so as to lower the work stress of inpatient nurses. Based on data analysis and discussion of the results of the study, it can be concluded that the variables of leadership, workload and organizational culture directly or simultaneously affect the work stress of rsau inpatient room nurses dr. Esnawan Antariksa, which means that the better the leadership, workload and culture of the organization, the lower the work stress.Keberhasilan suatu rumah sakit sangat dipengaruhi oleh sumber daya manusianya, perawat merupakan sumber daya manusia yang paling besar yang ada di rumah sakit, oleh karena itu perawat merupakan ujung tombak rumah sakit dalam proses pelayanan kesehatan namun terkadang perawat juga mengalami stres dalam bekerja khususnya perawat ruang rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh kepemimpinan kepala ruangan, beban kerja serta budaya organisasi terhadap stres kerja perawat ruang rawat inap rsau dr. esnawan antariksa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan survey kausalitas. Hal ini menunjukkan bahwa beban kerja perlu dilakukan perbaikan pada indikator yang di ukur terhadap stres kerja, sementara untuk kepemimpinan dan budaya organisasi perlu dipertahankan atau ditingkat sehingga menurunkan stres kerja perawat ruang rawat inap. Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan variabel kepemimpinan, beban kerja serta budaya organisasi secara langsung atau simultan berpengaruh terhadap stres kerja perawat ruang rawat inap RSAU dr. Esnawan Antariksa, yang artinya semakin baik kepemimpinan, beban kerja serta budaya organisasi maka stres kerja akan semakin rendah

    Pengaruh Perawatan Metode Kangguru terhadap Stress Hemodinamik pada Bayi Berat Lahir Rendah di RS Annisa Tangerang 2020

    Get PDF
    Conditions in Neonatology in the form of noise, lighting, smells, the use of tools and procedures that can cause stress and pain greatly contribute to morbidity. Newborns are often exposed to a number of procedures that cause pain, both diagnostic procedures, therapeutic procedures, and installation of monitoring tools. Physiological parameters. All of these actions can put stress on the baby. The impact if the baby is stressed is a change in  the baby's physiological functions, such as hypothermia, an increase in the baby's heart rate, the frequency of breath will cause repeated apnea, the presentation of hemoglobin bound by oxygen (SPO2) tends to decrease. The purpose of this study was to determine the effect of Kangaroo Treatment Method on Physiological Stress in Low Birth Weight Infants at Rs Annisa Tangerang 2020. The research method used in this study was a quasi experimental design: one group pre test and post test design. The population in this study amounted to 35 respondents. The technique used for data collection is accidental sampling. Results: Based on the statistical test that the p-value <0.05, it can be stated that HO is rejected, meaning that there is an influence between Kangaroo Method Treatment on Physiological Stress in Low Birth Weight Infants at Rs Annisa Tangerang 2020. There is an influence between Kangaroo  Treatment  Methods  on  Stress Physiology of Low Birth Weight Babies at Rs Annisa Tangerang 2020.Kondisi di Neonatologi berupa kebisingan, pencahayaan, bau-bauan, penggunaan alat dan prosedur yang dapat menimbulkan stress dan nyeri sangat berkontribusi terhadap morbiditas. Bayi baru lahir sering terpapar dengan sejumlah prosedur yang menyebabkan nyeri baik prosedur diagnostic, prosedur terapeutik, maupun pemasangan alat untuk monitoring parameter fisiologis. Semua tindakan ini bisa menimbulkan stress pada bayi. Dampak jika bayi stress adalah perubahan pada fungsi fisiologis bayi, seperti hipotermi, peningkatan denyut jantung bayi, frekuensi nafas akan menyebabkan apneu berulang, presentasi Hemoglobin yang di ikat oleh oksigen (SPO2) cenderung menurun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perawatan metode kangguru terhadap stress hemodinamik pada bayi berat lahir rendah di Rumah Sakit Annisa tangerang 2020. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimental design: one group pre test and post test design. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 35 responden. Tehnik yang digunakan untuk pengambilan data adalah accidental sampling. Hasil penelitian: Berdasarkan uji statistik bahwa p-value < 0,05 maka dapat dinyatakan HO ditolak artinya ada pengaruh antara Perawatan Metode Kangguru Terhadap Stress Hemodinamik Pada Bayi Berat Lahir Rendah Di RS Annisa Tangerang 2020. ada pengaruh antara Perawatan Metode Kangguru Terhadap Stress Hemodinamik Pada Bayi Berat Lahir Rendah Di Rs Annisa Tangerang 2020

    637

    full texts

    676

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Health Sains (JHS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇