Portal Jurnal Online Universitas Tulang Bawang Lampung
Not a member yet
1307 research outputs found
Sort by
PENAMPILAN ORGAN INTERNAL BROILER DENGAN PEMBERIAN INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum): Appearance of Broiler Internal Organs Giving Infusa of Bay Leaf (Syzygium polyanthum)
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian daun salam terhadap organ internal broiler. Penelitian ini menggunakan 100 ekor DOC broiler dengan pemeliharaan selama 28 hari. Penelitian dilaksanakan dengan RAL (4 perlakuan dan 5 ulangan). Perlakuan penelitian adalah pemberian infusa daun salam pada air minum broiler yaitu A (kontrol), B (10 ml infusa/liter air minum), C (20 ml infusa/liter air minum), dan D (30 ml infusa/liter air minum). Variabel penelitian terdiri dari persentase hati, persentase jantung, persentase limpa, dan persentase empedu broiler. Hasil penelitian ini ditemukan pemberian larutan daun salam tidak berpengaruh signifikan (P>0,05) pada persentase hati, persentase jantung, persentase limpa, dan persentase empedu broiler. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian daun salam tidak memberikan pengaruh terhadap organ internal broiler.
Kata kunci: Broiler, Daun Salam, Organ Internal Broile
Pengukuran Efektivitas Kinerja Mesin Rapier 180 Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE)
Optimal and maximal production is determined by three factors there is machines, raw material and human. PT AM is a weaving company which use Rapier 180 Loom machines in their process production. In the last five months, historically, the production of the Rapier 180 engine at PT. AM shows a comparison of the quality of grades A was decreased. So, it is necessary to measure the performance of the Rapier machine as an evaluation for the company to determine the next step. The observation method used is the OEE (Overall Equipment Effectiveness) which is a method to evaluate the magnitude of the performance and reliability of a machine. Several data are need for calculation about the Rapier 180 such as target production, actual production, product defects, target run hours, actual run hours, and stop hours. Based on OEE calculations, we find that the Rapier 180 machines in PT AM have a avaibility rate 96%, performance rate 96%, and Quality rate 57% base from that we find OEE of rapier is 52% and based on JIPM (Japan Institute of Plant Maintenance) the performance of the machine is classified as reasonable production but shows that there is still a lot of room for improvement. The factors that cause the OEE value of the Rapier 180 engine to only reach 52% are the lack of maintenance, lack of control and quality checks, and the environment around the machine.
Keywords: Effectiveness, OEE, Performance, Production Process, Rapier Machin
PENGEMBANGAN APLIKASI BERBASIS WEB TERAPI UNTUK PENYEDIAAN INFORMASI PELAYANAN OBAT DI KOTA PALU: TERAPI WEB-BASED APPLICATION DEVELOPMENT FOR DRUG SERVICES INFORMATION PROVISION IN PALU CITY
Advancements in technology have been widely adopted across industries, including pharmaceutical services. Numerous online pharmacies have emerged, offering convenience to consumers but unfortunately, to some extent, diminished the role of pharmacists. This study aims to develop a web-based application called TERAPI, an online pharmacy that does not reduce the role of pharmacists. The work includes designing the operational configuration, and the user interface. The development utilizes technologies like Google Sites, third-party applications, embedded code, and artificial intelligence. The process includes programming validation, menu layouting, and database creation.TERAPI provides six features: Drug, Pharmacy, Consultation, Hospital, ICU, and Order. There are six different test cases (TC): TC A01 verifies dashboard accessibility, TC B01 and B02 indicate that users with valid credentials can create an account (Sign Up), and get into the application (Log In). TC C01, C02, and C03 verify the accessibility of menus Drug, Pharmacy, and Consultation. This application follows the standards and regulations of online drug distribution and does not provide prescription and psychotropic drugs due to safety reasons.
Keywords: Application, drugs, pharmacy, service, webKemajuan teknologi telah diadpsi secara luas dalam berbagai industri termasuk layanan farmasi. Banyak apotek daring yang bermunculan dan menawarkan kenyamanan kepada pengguna yang sayangnya, pada titik tertentu, telah mengesampingkan peran apoteker. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi berbasis web bernama TERAPI, apotek daring yang berjalan tanpa mengesampingkan peran apoteker. Penelitian ini mencakup perancangan pengaturan operasional dan antar muka aplikasi. Pengembangan aplikasi mengkombinasikan berbagai metode dan teknologi meliputi pemanfaatan Google Sites, aplikasi pihak ketiga, kode tertanam dan kecerdasan buatan. Proses pengembangan aplikasi mencakup validasi pemrograman, tata letak menu, dan pembuatan basis data. TERAPI menawarkan enam fitur utama: Obat, Apotek, Konsultasi, Rumah Sakit, UGD dan Pemesanan. Terdapat enam uji kasus (Test Cases/TC): TC A01 memverifikasi aksesibilitas beranda, TC B01 dan B02 menunjukkan pengguna dengan data pribadi yang valid dapat membuat akun (Daftar), dan masuk ke dalam aplikasi (Log In), TC C01, C02 dan C03 memverifikasi aksesibilitas menu Obat, Apotek dan Konsultasi. Aplikasi ini mengikuti standar dan peraturan yang berlaku terkait distribusi obat secara daring dan tidak melayani obat keras dan psikotropika karena alasan keamanan
ANALISIS DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI LAMPUNG JANUARI-JUNI 2024: DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) ANALYSIS OF ANTIPSYCHOTIC USE IN SCHIZOPHRENIA PATIENTS AT THE MENTAL HOSPITAL OF LAMPUNG PROVINCE JANUARY-JUNE 2024
Schizophrenia is severe mental disorder that affects an individual’s thought, feelings, and behavior. Antipsychotics are the primary treatment for schizophrenia and used for a long preiod of time which increases the risk of Drug Related Problems (DRPs) and cause ineffective therapeutic results. The purpose of this study was to analyze the incidience of DRPs on the use antipsychotic in scizhoprenia patients at The Mental Hospital Of Lampung Province January-June 2024. This research study is a descriptive study with purposive sampling technique. The number of samples used was 86 samples of schizophrenia in patients at Mental Hospital Of Lampung Province in January-June 2024. The results showed that the characteristics of schizophrenia patiens based on gender were 77 men (89,5%) and 9 women (10,5%). Characteristic based on age are26-35 years old 35 people (40,7%). The Characteristics of the most patients occupations were not working 68 people (79,1%). The most prevalent kind of schizophrenia patients was paranoid schizophrenia as 82 cases (94,2%). The most prescribed drugs for schizophrenia patients were risperidone 82 prescriptions, chlorpromazine 70 prescriptions, and trihexyphenidyl 86 prescriptions. The incidence of DRPs in the category of inappropriate drug combinations was 86 cases (100%), drug dose too low was 23 cases (27%), drug dose too high 0%, and inapproprate of drug administration was 0%. The conclusion of this study is the precentage of Drug Related Problems (DRPs) in schizophrenia patients at the Mental Hospital Of Lampung Province is 32%.
Keywords : Antipsychotics, DRPs, SchizophreniaSkizofrenia adalah gangguan mental berat yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Antipsikotik merupakan pengobatan utama untuk skizofrenia dan digunakan dalam jangka waktu yang lama sehingga meningkatkan risiko terjadinya Drug Related Problems (DRPs) dan menyebabkan hasil terapi yang tidak efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kejadian DRPs pada penggunaan antipsikotik pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung Bulan Januari-Juni Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 86 rekam medik pasien rawat inap skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung Bulan Januari-Juni Tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pasien skizofrenia berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki sebanyak 77 orang (89,5%) dan perempuan sebanyak 9 orang (10,5%). Karakteristik berdasarkan usia yaitu usia 26-35 tahun sebanyak 35 orang (40,7%). Karakteristik pekerjaan pasien terbanyak adalah pasien tidak bekerja 68 orang (79,1%). Jenis skizofrenia yang paling banyak diderita oleh pasien skizofrenia adalah skizofrenia paranoid sebanyak 82 kasus (94,2%). Obat yang paling banyak diresepkan untuk pasien skizofrenia adalah risperidone sebanyak 82 resep, klorpromazin sebanyak 70 resep, dan triheksifenidil sebanyak 86 resep. Kejadian DRPs pada kategori kombinasi obat yang tidak tepat sebanyak 86 kasus (100%), dosis obat terlalu rendah sebanyak 23 kasus (27%), dosis obat terlalu tinggi 0%, dan pemberian obat tidak tepat sebanyak 23 kasus (27)%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah angka kejadian Drug Related Problems (DRPs) pada pasien skizofrenia di rumah sakit jiwa provinsi lampung sebesar 32%.
Kata Kunci: Antipsikotik, DRPs, dan Skizofreni
IDENTIFIKASI KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ANTI EPILEPSI PADA PASIEN EPILEPSI RAWAT JALAN DI RSUD DR. MOEWARDI PERIODE JANUARI - JUNI 2024: THE CORRECT IDENTIFICATION OF A CURE FOR EPILEPSY IN AN OUTPATIENT EPILEPTIC WARD AT DR. MOEWARIN JANUARY - JUNE 2024
Epilepsy is a chronic disorder as a result of brain dysfunction that is characterized by repeated seizures. A major therapy for epilepsy was the administration of anti-epileptic drugs (AEDs). AED identification is important in epileptic patients because anti-epileptic drugs are used over a long period of time. The purpose of this study is to understand the precise rate of use of antiepileptic drugs in outpatient epilepsy at Dr. Moewarin January-June 2024. The study USES descriptive methods with data retrieval retrospectively. The instruments used in this study are the patient\u27s medical records. Identify the correct use of drugs in this study using Doxide (meetings of the Indonesian nerve specialist) 2019 and hospital formulations 2024 -2025 with precise criteria of indicative, precise patients, precise drugs and precise doses. Research indicates that the use of anti-epileptic drugs in an outpatient setting at Dr. Moewarin in the January-June 2024 period is the exact rate 100%, exact patients 100%, exact drugs 100%, and exact dosage 94%.
Keywords: Epilepsy, precise indications, proper patients, right medication, right dosage.Epilepsi merupakan suatu kelainan kronis sebagai akibat adanya gangguan fungsi otak yang ditandai dengan kejang secara berulang. Terapi utama epilepsi adalah dengan pemberian obat anti epilepsi (OAE). Identifikasi penggunaan OAE penting pada pasien epilepsi karena obat anti epilepsi digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui presentase ketepatan penggunaan obat anti epilepsi pada pasien epilepsi rawat jalan di RSUD Dr. Moewardi periode Januari – Juni 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah catatan rekam medis pasien. Identifikasi ketepatan penggunaan obat pada penelitian ini menggunakan PERDOSSI (Perhimpunan Dokter Spesalis Saraf Indonesia) 2019 dan Formularium Rumah Sakit 2024 -2025 dengan kriteria tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat dan tepat dosis. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat anti epilepsi pada pasien rawat jalan di RSUD Dr. Moewardi periode Januari -Juni 2024 yaitu tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%, tepat obat 100% dan tepat dosis 94%
PREDIKSI TOKSISITAS, ANALISIS ADME DAN DOCKING MOLEKULER ASIATICOSIDE TERHADAP PENGHAMBATAN ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME: TOXICITY PREDICTION, ADME ANALYSIS AND MOLECULAR DOCKING OF ASIATICOSIDE AGAINST ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME INHIBITION
The presence of risk factors related to the severity of cardiovascular disease is a key consideration in adjunct therapy as an immunostimulant.One of the plants with potential as a cardioprotective immunostimulant is pegagan.Asiaticoside in pegagan leaves can inhibit AT1R and reduce NF-κβ activity.This study aims to predict the interaction of ligands with the receptor of cardioprotective immunostimulant agents.This study uses Molecular Docking simulations with molecular docking using Autodock Tools 1.5.6 and visualization using BIOVIA Discovery Studio Visualizer 24.1.The target macromolecule used is AT1R (PDB 4ZUD) which was downloaded from the PDB.The molecular docking parameters were analyzed based on binding energy.Pharmacokinetic characteristics were evaluated using the SwissADME tool.The binding result of the test ligand molecule to AT1R is -4.50 ±0.595 kcal/mol. The reference ligand has an AT1R binding value of -7.74±0.036 kcal/mol. Validation of the molecular docking method has an RMSD value of 1.857±0.356 Å. The toxicity prediction of the compound Asiatikoside at LD50 4000mg/kg and pharmacokinetic analysis were conducted using the boiled-egg method, which indicates that Asiatikoside is predicted cannot cross the blood-brain barrier. The ADME prediction results show that the Asiatikoside has 3 parameters that do not meet the bioavailability parameters, namely a molecular weight of 959.12g/mol, TPSA polarity of 315.21A, and flexibility of 10. Conclusion Asiaticosides is predicted to have limitations in terms of oral bioavailability, so special formulations such as nanoencapsulation techniques are needed to help improve its bioavailability
Keywords: Asiaticosides; ACE Inhibition; Molecular DockingAdanya faktor risiko yang berhubungan dengan keparahan penyakit kardiovaskular merupakan hal utama dalam terapi tambahan sebagai imunostimulan. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai imunostimulan kardioprotektor adalah pegagan. Asiatikosida pada daun pegagan dapat menghambat AT1R dan menurunkan aktivitas NF-κβ. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediksi interaksi ligan dengan reseptor agen imunostimulan kardioprotektor. Penelitian ini menggunakan simulasi Molecular Docking dengan penambatan molekul menggunakan Autodock dan visualisasi menggunakan BIOVIA Discovery Studio Visualizer. Makromolekul target yang digunakan adalah AT1R (PDB 4ZUD) yang diunduh melalui PDB. Parameter docking molekuler dianalisis berdasarkan energi pengikatan. Karakteristik farmakokinetik dievaluasi dengan menggunakan alat SwissADME. Hasil penambatan molekul ligan uji ke AT1R adalah -4,50 kkal/mol±0,595. Sebaliknya, ligan pembanding memiliki nilai penambatan AT1R sebesar -7,74 kkal/mol±0,036. Validasi metode penambatan molekul memiliki nilai RMSD sebesar 1,857±0,356. Prediksi toksisitas senyawa Asiatikosida pada LD50 4000mg/kg dan analisis farmakokinetik dilakukan dengan menggunakan metode boiled-egg yang menunjukkan bahwa senyawa uji Asiatikosida diprediksi sebagai senyawa yang tidak dapat menembus sawar darah otak. Hasil prediksi ADME menunjukkan bahwa senyawa Asiatikosida memiliki 3 parameter yang tidak memenuhi parameter bioavailabilitas, yaitu berat molekul 959,12 g/mol, polaritas TPSA 315,21 A dan fleksibilitas 10
Penilaian Pengetahuan Masyarakat tentang Swamedikasi Gastritis: Studi Cross-Sectional Nasional di Indonesia: Assessing Community Knowledge on Gastritis Self-Medication: A Nationwide Cross-Sectional Study in Indonesia
Gastritis is a common gastrointestinal disorder that affects global population, including Indonesia. Many individuals choose self-medication as a primary approach to manage gastritis symptoms. Inappropriate self-medication practices can lead to worsening symptoms and complications. Understanding the knowledge level is essential to improve self-medication safety. This study aims to assess the level of community knowledge regarding gastritis self-medication in Indonesia. An observational study with cross-sectional design conducted among Indonesia community. Data were collected through an e-questionnaire, which was distributed across 34 provinces. The instrument in this study has been tested for validity and reliability using Content Validity, Face Validity, and Cronbach\u27s Alpha tests. Descriptive statistical analysis was performed using SPSS to summarize the characteristics of the respondents and to categorize knowledge levels into low, moderate, and high. The results of this study indicated that 921 respondents (78.1%) had a high knowledge level, 247 respondents (21%) had a moderate knowledge level, and 11 respondents (0.9%) had a low knowledge level of gastritis self-medication. In conclusion, knowledge level of Indonesian community regarding gastritis self-medication is categorized as high. Limited number of respondents still have low to moderate knowledge level, indicating the necessity for further roles and strategies from healthcare professionals in gastritis self-medication education.
Keywords: Gastritis, Knowledge, Self-medication, IndonesiaGastritis merupakan gangguan saluran pencernaan yang umum terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Banyak individu memilih melakukan swamedikasi sebagai pendekatan utama untuk mengatasi gejala gastritis. Praktik swamedikasi yang tidak tepat dapat menyebabkan gejala memburuk dan risiko komplikasi. Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat sangat penting untuk meningkatkan keamanan swamedikasi. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai swamedikasi gastritis. Studi observasional dengan desain cross-sectional dilakukan pada masyarakat Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan e-kuesioner yang didistribusikan ke 34 provinsi. Instrumen yang digunakan telah tervalidasi dan reliabel. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengkategorikan tingkat pengetahuan responden menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan 11 responden (0,9%) memiliki tingkat pengetahuan rendah, 247 responden (21%) tingkat pengetahuan sedang, dan 921 responden (78,1%) memiliki tingkat pengetahuan tinggi terkait swamedikasi gastritis. Secara keseluruhan, tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia tentang swamedikasi gastritis tergolong tinggi. Namun, masih terdapat sebagian responden dengan tingkat pengetahuan sedang hingga rendah, sehingga diperlukan peran dan strategi lebih lanjut dari tenaga kesehatan dalam mengedukasi masyarakat terkait swamedikasi gastritis
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI Archidendron clypearia TERHADAP Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi : ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST OF ETANOL EXTRACT AND FRACTIONS OF Archidendron clypearia OF Staphylococcus aureus and Salmonella typhi
Infection is one of the most common causes of disease in society. One type of infection caused by Staphylococcus aureus is a bacterium that causes skin infections in humans characterized by purulent abscesses. In addition, Salmonella typhi is also a pathogenic bacterium that can cause typhoid fever. Infections caused by microorganisms can be overcome by administering antimicrobials. One of the natural ingredients that has the potential as an antimicrobial is the petai belalang plant (Archidendron clypearia). This study aims to test the antibacterial activity of ethanol extracts and fractions of petai belalang leaves against Staphylococcus aureus and Salmonella typhi bacteria. This experimental research includes plants determination, sampling, making simplisia, fractionation, phytochemical screening, and antibacterial activity tests. Extracts and fractions were prepared in concentrations of 1%, 5%, 10%, and 15%, with positive control of amoxicillin 0.1% and negative control of DMSO 1%. The antibacterial activity test was performed using disc diffusion and pitting diffusion methods to measure the zone of inhibition. Data were statistically analyzed using the Kruskal-Wallis test. The results showed that in the disc diffusion method, the inhibition zone against Staphylococcus aureus was 7.3-10.8 mm, and against Salmonella typhi was 7.6-10.1 mm. In the well diffusion method, the zone of inhibition against Staphylococcus aureus ranged from 12.1-16.8 mm, and against Salmonella typhi it ranged from 12.5-16.8 mm. The ethyl acetate fraction obtained the largest inhibition zone with a diameter of 16.8 mm in the well diffusion method. Statistical analysis showed a significant difference in antibacterial activity on positive and negative bacteria with a substantial value of 0.005 in the disc method and 0.006 in the well method.
Keywords: Antibacterial, petai belalang, Staphylococcus aureus, Salmonella typhiInfeksi merupakan salah satu penyebab penyakit yang sering terjadi di masyarakat. Salah satu jenis infeksi disebabkan oleh Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab infeksi kulit pada manusia yang ditandai dengan abses bernanah. Selain itu, Salmonella typhi juga merupakan bakteri patogen yang dapat menyebabkan demam tifoid. Infeksi akibat mikroorganisme dapat diatasi dengan pemberian antimikroba. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antimikroba adalah tumbuhan petai belalang (Archidendron clypearia). Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan fraksi daun petai belalang terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan tahapan meliputi determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pembuatan simplisia, ekstraksi dan fraksinasi, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri. Ekstrak dan fraksi dibuat dalam konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%, dengan kontrol positif amoksisilin 0,1% dan kontrol negatif DMSO 1%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dan difusi sumuran untuk mengukur zona hambat. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada metode difusi cakram, zona hambat terhadap Staphylococcus aureus berada pada kisaran 7,3–10,8 mm, dan terhadap Salmonella typhi sebesar 7,6–10,1 mm. Pada metode difusi sumuran, zona hambat terhadap Staphylococcus aureus berkisar antara 12,1–16,8 mm, dan terhadap Salmonella typhi sebesar 12,5–16,8 mm. Zona hambat terbesar diperoleh dari fraksi etil asetat dengan diameter 16,8 mm pada metode difusi sumuran. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap aktivitas antibakteri pada bakteri gram positif dan gram negatif dengan nilai signifikan 0,005 pada metode cakram dan 0,006 pada metode sumuran
Strategi Public Relations dalam Membangun Citra Pemerintah: Studi Kasus BAPPEDALITBANG Kabupaten Banyumas
Public Relations (PR) memiliki peran krusial dalam lembaga pemerintahan, terutama dalam menentukan kelayakan informasi yang disampaikan kepada publik serta membangun citra positif pemerintahan. PR tidak hanya bertanggung jawab atas transparansi dan akuntabilitas, tetapi juga berperan dalam memperkuat komunikasi internal dan eksternal. Penelitian ini berfokus pada strategi PR yang diterapkan oleh BAPPEDALITBANG Kabupaten Banyumas dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan dan program pemerintah daerah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan metode wawancara mendalam dan tselaah literatur. Analisis dilakukan berdasarkan konsep strategi PR yang terdiri dari publications (publikasi dan dokumentasi), events (acara), dan news (pesan/berita), serta menggunakan Teori Citra (Image Theory) oleh Frank Jefkins, yang menekankan pentingnya membangun kesan dan impresi yang sesuai dengan realitas, Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi PR yang diterapkan oleh BAPPEDALITBANG telah berjalan dengan baik, terutama dalam meningkatkan transparansi informasi dan keterlibatan masyarakat. Namun, tingkat efektivitas dari setiap strategi bervariasi, dengan beberapa kegiatan yang membutuhkan optimalisasi lebih lanjut agar dampaknya lebih signifikan. Dengan demikian, peran PR dalam lembaga pemerintah tidak hanya berfokus pada penyebaran informasi, tetapi juga pada pembentukan citra yang kredibel dan berkelanjutan, guna meningkatkan hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat.Public Relations (PR) memiliki peran krusial dal
Public Relations (PR) memiliki peran krusial dalam lembaga pemerintahan, terutama dalam menentukan kelayakan informasi yang disampaikan kepada publik serta membangun citra positif pemerintahan. PR tidak hanya bertanggung jawab atas transparansi dan akuntabilitas, tetapi juga berperan dalam memperkuat komunikasi internal dan eksternal. Penelitian ini berfokus pada strategi PR yang diterapkan oleh BAPPEDALITBANG Kabupaten Banyumas dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan dan program pemerintah daerah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan metode wawancara mendalam dan tselaah literatur. Analisis dilakukan berdasarkan konsep strategi PR yang terdiri dari publications (publikasi dan dokumentasi), events (acara), dan news (pesan/berita), serta menggunakan Teori Citra (Image Theory) oleh Frank Jefkins, yang menekankan pentingnya membangun kesan dan impresi yang sesuai dengan realitas, Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi PR yang diterapkan oleh BAPPEDALITBANG telah berjalan dengan baik, terutama dalam meningkatkan transparansi informasi dan keterlibatan masyarakat. Namun, tingkat efektivitas dari setiap strategi bervariasi, dengan beberapa kegiatan yang membutuhkan optimalisasi lebih lanjut agar dampaknya lebih signifikan. Dengan demikian, peran PR dalam lembaga pemerintah tidak hanya berfokus pada penyebaran informasi, tetapi juga pada pembentukan citra yang kredibel dan berkelanjutan, guna meningkatkan hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat.
am lembaga pemerintahan, terutama dalam menentukan kelayakan informasi yang disampaikan kepada publik serta membangun citra positif pemerintahan. PR tidak hanya bertanggung jawab atas transparansi dan akuntabilitas, tetapi juga berperan dalam memperkuat komunikasi internal dan eksternal. Penelitian ini berfokus pada strategi PR yang diterapkan oleh BAPPEDALITBANG Kabupaten Banyumas dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan dan program pemerintah daerah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan metode wawancara mendalam dan tselaah literatur. Analisis dilakukan berdasarkan konsep strategi PR yang terdiri dari publications (publikasi dan dokumentasi), events (acara), dan news (pesan/berita), serta menggunakan Teori Citra (Image Theory) oleh Frank Jefkins, yang menekankan pentingnya membangun kesan dan impresi yang sesuai dengan realitas, Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi PR yang diterapkan oleh BAPPEDALITBANG telah berjalan dengan baik, terutama dalam meningkatkan transparansi informasi dan keterlibatan masyarakat. Namun, tingkat efektivitas dari setiap strategi bervariasi, dengan beberapa kegiatan yang membutuhkan optimalisasi lebih lanjut agar dampaknya lebih signifikan. Dengan demikian, peran PR dalam lembaga pemerintah tidak hanya berfokus pada penyebaran informasi, tetapi juga pada pembentukan citra yang kredibel dan berkelanjutan, guna meningkatkan hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat.
Peran Humas Kemnaker RI dalam Meningkatkan Komunikasi Pelayanan Publik Melalui Portal Pusat Bantuan Kemnaker.go.id
Perkembangan teknologi digital menuntut instansi pemerintah, termasuk Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI), untuk meningkatkan pelayanan publik yang responsif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penguatan peran hubungan masyarakat (humas) dalam komunikasi digital, khususnya melalui Portal Pusat Bantuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Humas Kemnaker RI dalam meningkatkan komunikasi pelayanan publik digital melalui portal tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap aktivitas humas, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari hasil literatur seperti jurnal, dan buku. Penelitian ini menggunakan teori Computer-Mediated Communication (CMC) sebagai landasan untuk memahami interaksi digital antara instansi pemerintah dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Humas Kemnaker memiliki peran yang penting sebagai fasilitator, dan komunikator antara masyarakat dan pemerintah. Selain itu, dalam menjalankan tugasnya humas juga melakukan mekanisme eskalasi pengaduan, dengan meneruskan pertanyaan atau permasalahan yang bersifat teknis kepada unit terkait agar dapat ditangani secara lebih tepat. Meskipun demikian, tantangan masih ditemukan dalam hal literasi digital masyarakat dan keterbatasan sumber daya manusia. Oleh karena itu, peran Humas Kemnaker RI disini sangat penting dalam mendukung transformasi pelayanan publik digital. Penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan peningkatan sosialisasi menjadi kunci keberlanjutan komunikasi pelayanan publik yang efektif di era digital.Perkembangan teknologi digital menuntut instansi pemerintah, termasuk Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI), untuk meningkatkan pelayanan publik yang responsif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penguatan peran hubungan masyarakat (humas) dalam komunikasi digital, khususnya melalui Portal Pusat Bantuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Humas Kemnaker RI dalam meningkatkan komunikasi pelayanan publik digital melalui portal tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap aktivitas humas, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari hasil literatur seperti jurnal, dan buku. Penelitian ini menggunakan teori Computer-Mediated Communication (CMC) sebagai landasan untuk memahami interaksi digital antara instansi pemerintah dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Humas Kemnaker memiliki peran yang penting sebagai fasilitator, dan komunikator antara masyarakat dan pemerintah. Selain itu, dalam menjalankan tugasnya humas juga melakukan mekanisme eskalasi pengaduan, dengan meneruskan pertanyaan atau permasalahan yang bersifat teknis kepada unit terkait agar dapat ditangani secara lebih tepat. Meskipun demikian, tantangan masih ditemukan dalam hal literasi digital masyarakat dan keterbatasan sumber daya manusia. Oleh karena itu, peran Humas Kemnaker RI disini sangat penting dalam mendukung transformasi pelayanan publik digital. Penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan peningkatan sosialisasi menjadi kunci keberlanjutan komunikasi pelayanan publik yang efektif di era digital