Journal of Education Research
Not a member yet
1292 research outputs found
Sort by
Meningkatkan Kualitas Deep Learning dengan Pendekatan Artificial Intelligence
Artificial intelligence (AI) sedang berkembang pesat di berbagai bidang antara lain pendidikan, yang mempengaruhi pendekatan pembelajaran yaitu deep learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana artificial intelligence dapat meningkatkan kualitas deep learning, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Penulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi pustaka, dengan cara menganalisis referensi berupa buku-buku dan artikel-artikel yang linear dengan topik penelitian. Selanjutnya teknik analisis data menggunakan analisis isi dengan cara mengumpulkan teks-teks, menentukan unit, menentukan kategori dan koding, serta melakukan koding dan menganaslis hasil penelitian selanjutnya menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa artificial intelligence dapat meningkatkan kualitas deep learning, karena artificial intelligence dapat membantu guru dari keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Permasalahan yang timbul adalah keterbatasan guru dalam menggunakan artificial intelligence dan tersedianya sarana prasarana
Efektivitas Media G-Box dalam Meningkatkan Kemampuan Mengelompokkan Bentuk Geometri Anak Usia Dini
Efektivitas Media G-Box dalam Meningkatkan Kemampuan Mengelompokkan Bentuk Geometri Anak Usia Din
Transformasi Sektor melalui Augmented Reality: Manfaat, Tantangan, dan Masa Depan Strategis
Augmented Reality (AR) telah berkembang pesat sebagai salah satu teknologi utama dalam era digital, dengan penerapan luas di berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, industri, dan hiburan. Penelitian ini melakukan tinjauan literatur terhadap 10 jurnal terkini (2023–2024) untuk menganalisis manfaat, tantangan, dan peluang pengembangan AR. Hasil analisis menunjukkan bahwa AR memiliki dampak signifikan, khususnya dalam meningkatkan interaktivitas dan pemahaman pengguna. Di sektor pendidikan, aplikasi AR seperti media pembelajaran tumbuhan mencapai skor usability hingga 79,83%, menunjukkan efektivitasnya dalam meningkatkan keterlibatan siswa. Di bidang pemasaran, AR meningkatkan keputusan pembelian hingga 30% melalui pengalaman promosi interaktif. Di sektor budaya, AR membantu pelestarian lokal, seperti pengenalan Aksara Lampung, dengan skor learnability 4,78/5. Selain itu, dalam infrastruktur, AR meningkatkan efisiensi pekerjaan teknis melalui visualisasi interaktif. Namun, adopsi AR masih menghadapi tantangan berupa biaya pengembangan yang tinggi, keterbatasan perangkat keras, dan kebutuhan desain antarmuka yang ramah pengguna. Sebagian besar pengembangan AR dalam studi ini didukung oleh metode Multimedia Development Life Cycle (MDLC), yang memastikan efektivitas teknis dan relevansi aplikasi dengan kebutuhan pengguna. Penelitian ini merekomendasikan integrasi AR dengan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk memaksimalkan potensinya. Kajian ini memberikan wawasan strategis bagi peneliti dan praktisi untuk mengoptimalkan penerapan AR dalam berbagai sektor, sehingga mendorong inovasi dan transformasi digital secara global
Analisis Kebutuhan UPTD BTIKP sebagai Designer Platform Merdeka Mengajar Guru di Kota Gorontalo
Balai Teknologi Informasi Komunikasi Pendidikan mempunyai tugas membantu Gubernur melaksanakan kegiatan teknis operasional Dinas Pendidikan Provinsi yang meliputi Pengembangan, Pemanfaatan, Pembinaan, Pelatihan, Evaluasi Kegiatan Teknologi Pendidikan dan Pendayagunaan Teknologi, Informasi dan Komunikasi Pendidikan serta sebagai Pusat Data dan Publikasi Pendidikan. BTIKP sangat membantu pelaksanaan pendidikan, apalagi sekarang ini para Guru dituntut untuk dapat melaksanakan PMM di sekolah. Survey lapangan menunjukkan bahwa 75% Guru di Kota Gorontalo belum memahami platform merdeka mengajar dan proporsi guru yang merasa perlu pelatihan PMM berdasarkan jenis dukungan yang diinginkan guru adalah sekitar 14,09%, hal ini ditunjukkan dengan pernyataan Guru SD, SLTP dan SMK pada Google-Form yang sudah dishare peneliti. Keberadaan UPTD BTIKP di Provinsi Gorontalo dibutuhkan untuk memberikan pelatihan secara berkesinambungan, mengingat administrasi merdeka mengajar adalah wajib. Hasil Penelitian dengan teknik wawancara melalui Google-Form menunjukkan bahwa UPTD BTIKP sangat dibutuhkan untuk mendukung platform merdeka mengajar Guru di Kota Gorontalo. Secara keseluruhan jawaban Responden mengungkapkan bahwa kesulitan yang dialami adalah pada ketersediaan jaringan internet. Pengadaan UPTD BTIKP sangat dibutuhkan dalam hal pemberian tutorial, pelatihan dan sosialisasi untuk memberikan solusi terkait administrasi yang wajib dilaksanakan Guru di Kota Gorontalo. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan penelitian selanjutnya yang tidak kalah penting yaitu “Peran UPTD BTIKP sebagai Designer Platform Merdeka Mengajar Guru di Kota Gorontalo”. Hal ini dilaksanakan agar kesesuaian antara pecapaian pembelajaran di sekolah dan pengadaan administrasi platform merdeka belajar dapat seimbang
Metode Pengajaran Sejarah dan Tahapan Implementasinya dalam Perspektif Kisah Ashhabu Al-Kahfi
Sejarah harus menjadi solusi bagi masyarakat, dengan menjadikannya sebagai bahan pelajaran yang berhubungan nyata dengan kehidupan, sehingga sejarah itu hidup di masyarakat dalam bentuk nilai-nilai penting yang dapat diamalkan, oleh karena itu sejarah harus benar dari segi bahan ajar dan juga metode pengajarannya yang sesuai dengan konsep Islam, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode pengajaran sejarah dan tahapan implementasinya perspektif sejarah Ashhabu al-Kahfi, metode yang digunakan adalah metode kualitatif studi pustaka dengan mengkaji litelatur tafsir dan sumber lainnya yang mendukung, penelitian ini menyatakan bahwa dalam pengajaran sejarah dibutuhkan tiga tahapan, yaitu: pendahuluan, pengajaran dan penutupan, dalam pendahuluan disebutkan realita sejarah yang terjadi disertai pandangan yang benar tentang realita tersebut, dalam pengajaran sejarah diperlukan pemilihan sejarah yang sesuai dengan realita tersebut, selanjutnya sejarah disampaikan secara umum terlebih dahulu, kemudian secara terperinci, dengan menjadikan materi kognitif sejarah sebagai perantara untuk mencapai tujuan afektif dan psikomotorik, pengajaran ini menggunaka kata ganti yang bervariasi dengan mengikut sertakan pendidik dan peserta didik secara aktif di dalamnya, disela pengajaran tersebut, pengajar menekankan beberapa makna penting sejarah kepada peserta didik dan pendidik juga menyebutkan beberapa isu sejarah yang beredar beserta pandangan yang benar, dalam penutupan pelajaran sejarah disampaikan hal-hal inti dalam sejarah tersebut yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, yang berkaitan erat dengan realita yang telah disebutkan dalam pendahuluan dan pembelajaran sejarah tersebut
Strategi dan Tantangan dalam Menerapkan Pembelajaran Inklusif pada Anak Usia Dini (Studi Kasus di Tadika Tunasku Sayang Al-Fikh Orchard, Port Klang, Selangor, Malaysia)
Pembelajaran inklusif berupaya memberikan kesempatan yang setara bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun, implementasinya menghadapi berbagai tantangan yang perlu diidentifikasi dan diatasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan serta strategi dalam menerapkan pembelajaran inklusif pada anak usia dini di Tadika Tunasku Sayang Al Fikh Orchard, Port Klang, Selangor, Malaysia. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara mendalam dengan tenaga pendidik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam pembelajaran inklusif di tingkat PAUD adalah keterbatasan sumber daya dan fasilitas, serta kurangnya pelatihan bagi guru dalam menangani anak dengan kebutuhan khusus. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berfokus pada hambatan umum, penelitian ini menawarkan strategi konkret seperti penyediaan ruang sensorik, peningkatan jumlah tenaga pendidik, pelatihan bahasa isyarat, serta penggunaan media pembelajaran yang lebih adaptif. Selain itu, peningkatan kapasitas guru melalui program pelatihan berkelanjutan menjadi langkah kunci dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran inklusif. Implikasi dari penelitian ini tidak hanya relevan bagi Tadika Tunasku Sayang, tetapi juga dapat diterapkan di institusi pendidikan anak usia dini lainnya. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi pembuat kebijakan dalam merancang kebijakan pendidikan inklusif yang lebih efektif, termasuk alokasi dana untuk pengembangan fasilitas dan program pelatihan guru. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat praktik pendidikan inklusif yang lebih optimal dan berkelanjutan
Machine Learning-Based Teacher Education Student Placement Model Via Interest Profile and Diagnostic Test
Traditional student placement in college programs based on academic performance, interviews, and student choice may not always yield optimal results. This study proposes a machine learning-based model for teacher education program placement, integrating student interests and diagnostic test results across various specializations. Data from 208 freshmen in a teacher education institution (AY 2024-2025) were collected using a validated interest profile questionnaire and diagnostic test. Various machine learning methods were evaluated for classification performance. Results showed that most students exhibited strong interest in their chosen specialization, highlighting interest as a key placement factor. Diagnostic test performance trends further indicated that students tend to excel in their respective fields. The final placement model employed artificial neural networks, support vector machines, gradient boosting, and adaptive boosting, each achieving at least 80% classification accuracy and F1 score. This model offers a systematic and data-driven approach to optimizing teacher education student placement
Effectiveness of Problem-Based Learning (PBL) Versus Traditional Lectures in Medical Education.
Medical education has evolved significantly to incorporate active learning strategies, with problem-based learning (PBL) being widely adopted. This study compares the effectiveness of PBL and traditional lectures in enhancing knowledge retention, critical thinking, and student engagement among medical students. Conducted at the Umanand Prasad School of Medicine & Health Sciences (UPSMHS), University of Fiji (UniFiji), from 2019 to 2022, this study involved 500 medical students. Quantitative results showed that students in the PBL group scored on average 12% higher in critical thinking assessments and demonstrated 15% greater improvement in case-based performance tasks compared to the lecture group (p < 0.05). Survey results also indicated that 78% of PBL students reported higher engagement and satisfaction with the learning process. These findings suggest that PBL promotes deeper learning and skill acquisition, while traditional lectures efficiently deliver foundational knowledge. A hybrid model integrating both approaches could foster comprehensive medical education by combining knowledge transmission with critical skill development. Such a model has significant implications for curriculum design, suggesting a move toward curricular integration and educational reform that emphasizes self-directed learning and clinical reasoning from early training stages
Adat Mandi Tolak Balak (BEPAPAI) Pada Calon Pengantin Suku Banjar Kuala Tungkal
Ritual bapapai merupakan mandi kembang untuk pengantin yang dilaksanakan setelah akad nikah dan biasanya pada waktu malam hari sebelum perayaan atau resepsi pernikahan. Kata papai dalam bahasa Indonesia berarti percik. Dalam praktiknya, bapapai seperti memercik-mercikkan air menggunakan mayang pinang kepada pengantin yang sedang dimandikan. Hasil menunjukkan Adat pernikahan Indonesia menunjukkan berbagai variasi, dengan masing-masing kelompok etnis memiliki tradisi yang berbeda. Upacara pernikahan berbeda secara signifikan antara bangsa, etnis, agama, budaya, dan kelas sosial. Kebiasaan dan peraturan tertentu sering dikaitkan dengan hukum agama tertentu. Dikalangan pada Suku Banjar Kuala Tungkal Provinsi Jambi yang dinamakan mengawinkan (bekawinan) itu adalah kegiatan aruhan (walimah atau pesta) dalam rangka perkawinan seseorang, pada waktu kedua mempelai disandingkan (betataian). Ritual mandi-mandi pengantin bisa dilakukankan serentak oleh kedua calon pengantin atau dirumahnya masing-masing. Jika calon pengantin belum dinikahkan, maka upacara mandi dilakukan secara terpisah dan apabila sudah menikah dimandikan bersama-sama. Kesimpulan upacara mandi pengantin (Bepapai) pada masyarakat Suku Banjar di Kuala-Tungkal, Jambi, merupakan ritual yang memiliki makna mendalam baik secara spiritual, sosial, maupun pendidikan. Ritual ini dilaksanakan setelah akad nikah dengan tujuan untuk membersihkan pengantin dari bala atau musibah, serta untuk memastikan kelancaran pernikahan yang akan datang
Analysing the Illucutionary Speech Act in Underrated Characters of the Animated Film Luck
This qualitative study investigates the functional realization of illocutionary acts by secondary characters in the animated film Luck, focusing on pragmalinguistic patterns in their dialogue. The researchers identified relevant characters by analyzing user-generated viewer comments, then extracted and segmented their scripted utterances for pragmatic analysis. The study aims to deepen theoretical understanding of illocutionary acts in non-central characters—an underexplored area in speech act research—and to offer new insights into character construction through language. The researchers applied Searle’s (1976) taxonomy of illocutionary acts and operationalized the analysis using Miles, Huberman, and Saldaña’s (2014) interactive model of data condensation, display, and conclusion drawing. They analyzed the illocutionary functions of Sam and Bob in relation to their narrative roles and interpersonal strategies within the film’s discourse. The analysis identified four categories of illocutionary acts that serve specific character-building functions. Sam predominantly used expressive and directive acts, highlighting her desire to escape the misfortune that shapes her identity. In contrast, Bob consistently used assertive acts, conveying information and opinions with clarity and confidence. Theoretically, the study enhances our understanding of how illocutionary acts shape character identity in animated narratives, a domain where pragmatic functions often receive limited attention. Practically, the findings provide valuable input for English educators and learners by illustrating the real-world application of speech acts in emotionally nuanced contexts