Journal of Education Research
Not a member yet
1292 research outputs found
Sort by
Problem Solving Ability of Remboken 1 Middle School Students in Solving Story Problems in Algebraic Form Based on Polya's Steps
Problem-solving abilities are essential for the development of students' mathematical abilities. This ability must be described clearly to contribute to problem-solving and mathematical problem-solving abilities. This research aimed to describe problem-solving abilities in solving algebraic story problems based on Polya's steps: understanding the problem, formulating a plan, implementing the problem, and checking again. The subjects in this research were three students selected from 12 students in class VII-C at SMP Negeri 1 Remboken, consisting of students with high, medium and low abilities based on the mathematical problem-solving ability test results. The data collection techniques used were through written tests, interviews and documentation. The results of the research that has been explained show that problem-solving abilities in solving questions are divided into three categories, namely high, medium and low. Students with high-category abilities can master 4 Polya steps with up to 5 questions. Students with the medium ability category can master 4 Polya steps for questions number 2, 4 and 5, master 3 of the 4 Polya steps, namely steps 1, 2 and 3 for question number 1, and can master 2 of the 4 Polya steps, namely step 1 and 2. Meanwhile, students with low ability categories can master the 4 Polya steps only in question number 1, master 2 of the 4 Polya steps, namely steps 1 and 2 for question number 2, and questions number 3, 4 and 5 for subjects with low ability do not able to do i
Pengembangan Media Pembelajaran E-Modul pada Mata Pelajaran Fikih Kelas VII MTsN Padang Panjang
Penelitian ini dilatar belakangi oleh belum adanya modul yang berbentuk elektronik sebagai sumber bahan ajar. Untuk Sumber bahan ajar yang digunakan guru hanya powerpoint dan buku cetak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran E-Modul pada mata pelajaran Fikih yang telah teruji kelayakan oleh Ahli materi dan ahli media. Serta untuk mengetahui respon siswa terhadap E-Modul pada mata pelajaran Fikih. Penelitian ini menggunakan model pengembangan empat D yaitu define, design, development, dan desseminate. Responden penelitian terdiri dari tiga orang ahli materi, satu orang ahli media dan tiga puluh dua siswa kelas VII D MTsN Padang Panjang. Teknik pengumpulan data menggunakan angket untuk menjaring data kualitas materi, data kualitas media dan data respon siswa. Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini, hasil validasi ahli materi secara keseluruhan termasuk kategori Sangat Layak dengan persentase skor sebesar sembiln puluh enam persen persen. Hasil validasi ahli media secara keseluruhan termasuk kategori Sangat Layak. Hasil respon siswa terhadap media memperoleh kategori Sangat Baik. Dengan demikian, media pembelajaran E-Modul pada Mata Pelajaran Fikih Materi Memahami Alat Bersuci dari Najis dan Hadas sangat baik digunakan dalam proses pembelajaran
Perbedaan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Inquiry dan Discovery Learning di Sekolah SMPN 8 Biring Bulu
Pada dasarnya pendidikan memiliki dua sisi, antara guru dan siswa yang tujuannya adalah untuk meningkatkan hasil belajar. Jika pendidik hanya menggunakan pendekatan pembelajaran dua arah seperti ceramah. Akibatnya siswa akan cepat mengalami kebosanan, mengantuk, dan akhirnya tidak mampu menyerap atau menerima dengan baik pelajaran yang diajarkan oleh pendidik. Tujuan penelitian yaitu untuk membandingkan model pembelajaan discovery learning dan inquiri guna meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian ini menggunakan eksperimen semu, dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning dan inkuiri karena peneliti ingin membandingkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Balgi siswal kelals VIII.AL peneralpaln model pembelajaran inkuiri menghailkan persentase yang tergolong sedang daln memiliki interpretasi yalng cukup efektif sedang model pembelajaran discovery learning menghasilkan persentase pada siswa kelas VIII yalng termasuk dalam kategori sedang dan menghasilkan interpretasi yalng kurang efektif. Disimpulkan bahwa untuk meningkaltkan hasil belajar siswa model pembelajaran inkuiri lebih efektif digunalkaln dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning pada siswa kelas VIII.B di SMPN 8 Biring Bul
Pengaruh Gaya Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa
Dasar penelitian ini adalah observasi yang dilakukan di SMA Negeri satu Sawo yang menemukan hubungan gaya belajar terhadap hasil belajar siswa. Gaya belajar dibagi tiga kelompok, yaitu belajar dengan melihat atau Visual Learning, belajar dengan mendengar atau Auditory Learning, belajar dengan melakukan atau Kinesthetic Learning. Gaya belajar yang berbeda – beda akan mempengruhi hasil belajar siswa. Hasil belajar merupakan pencapaian hasil yang diperoleh pembelajaran. Hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar Tujuannya dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh gaya belajar terhadap hasil belajar siswa di SMA Negeri satu Sawo. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat atau instrumen untuk mengumpulkan data yaitu angket gaya belajar dan dokumentasi berupa hasil belajar siswa Pada penelitian ini melibatkan peserta didik Kelas XI-MIPA satu sebagai sampel penelitian sebanyak tiga puluh dua orang siswa. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian terdapat adanya pengaruh gaya belajar visual, auditori, kinestetik terhadap hasil belajar siswa Kelas XI-MIPA satu di SMA Negeri satu Sawo
Pembelajaran Sosial Emosional: Tinjauan Filsafat Humanisme terhadap Kebahagiaan dalam Pembelajaran
Dalam dunia pendidikan, perkembangan sosial-emosional merupakan hal yang penting selain perkembangan kognitif dan psikomotorik. Perkembangan sosial-emosional sangat berpengaruh kepada kebahagiaan dan ketentraman peserta didik dalam pembelajaran. Salah satu paham yang menjadi pijakan perkembangan ini adalah humanisme. Humanistik memandang kemampuan bertindak positif sebagai potensi manusia dan tugas guru adalah mengembangkan potensi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinjauan filsafat humanisme terhadap pembelajaran sosial emosional dan dampaknya terhadap kebahagiaan dan kenyamanan siswa selama pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi pustaka. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mencari, meninjau dan menganalisis informasi dari berbagi sumber yang relevan dengan judul penelitian seperti jurnal, buku, penelitian dan sumber informasi lainnnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi emosi yang positif akan mendukung pengalaman belajar yang bermakna sehingga siswa merasa senang selama pembelajaran. Peran guru adalah sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan dan menuntun siswa dalam belajar, termasuk memperhatikan perkembangan sosial emosionalnya supaya pembelajaran menjadi nyaman, bahagia dan tanpa tekanan dengan berdasar pada asas kemanusiaan. Penelitian ini memberikan landasan yang kuat bagi pendidik untuk merancang pembelajaran yang mendukung perkembangan holistik siswa, salah satunya adalah pembelajaran sosial emosional yang berusaha menumbuhkan dan melatih kompetensi sosial emosional siswa yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab
Kesalahan Berbahasa di Kelas Berbicara BIPA 3 KBRI Moskow 2023
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan berbahasa di kelas berbicara BIPA tiga KBRI Moskow dua ribu dua puluh tiga, dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dan sumber data berupa video rekaman. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan metode agih dengan metodologi analisis kesalahan berbahasa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi sebanyak tiga puluh enam data, morfologi sebanyak delapan data, sintaksis sebanyak empat belas data dan semantik sebanyak sebelas data. Adanya kesalahan berbahasa yang terjadi karena pengaruh dari bahasa pertama. Untuk itu, penelitian ini diharapkan dapat membantu pemelajar dalam usaha perbaikan dan menentukan pijakan materi agar kesalahan tersebut tidak terjadi secara berulan
Pengetahuan dan Motivasi Penyalahgunaan Narkoba di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat (Studi Kasus pada Remaja di Kelurahan Soromandi)
Kecenderungan remaja laki-laki untuk melakukan hal -hal yang dianggap menantang meningkat dibandingkan remaja perempuan. Kita semua menanggung risiko mengasuh anak seburuk itu. Tujuan : Mengetahui segala bahaya dan dampak dari penggunaan narkoba itu sendiri dan untuk berhenti mengkonsumsi narkoba karena adanya kebutuhan akan rasa aman dari ancaman dari luar. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus , Informan dalam penelitian ini adalah pihak - pihak yang terlibat dalam pelaksanaan analisis pengetahuan dan motivasi putra pemuda secara substansi. Hasil: Penelitian yang peneliti lakukan belum sesuai dengan taksonomi teori bahwa pengetahuan akan menunjang terbentuknya sikap positif, namun pengetahuan tetap tidak melahirkan sikap positif melainkan melahirkan penyimpangan, teori subjektivitas dalam memandang permasalahan sehingga telanjang itu hambatan untuk menjawab kenyataan yang begitu kaku dengan perubahan zaman yang begitu cepat . Taksonomi melahirkan teori pada waktu dan tempat dimana dia lahir, sedangkan teori terjadi karena dua hal yaitu waktu dan tempat sehingga sulit menjawan realitas kontemporer. Teori teori sosial jarang bertahan diatas diatas 50 tahun selalu bertahan atau berlaku dibawah 50 tahun karena proses perubahannya begitu cepat dan perlu infensi ( Temuan baru teori). Kesimpulan: Pengetahuan informan S dan Infoman D tentang dampak dan bahaya penganiayaan menunjukkan bahwa mereka mengetahui segala bahaya dan dampak dari penggunaan pergaulan bebas ini sendiri , Informan S dan informan D merupakan lulusan Sarjana 1 , walaupun tingkat fisioterapinya tinggi dan _ mempunyai pengetahuan yang memumpuni terhadap dampak dan bahaya penyalahgunaan , namun tidak menjadi jaminan untuk menghindari dan tidak menyalahgunakan narkoba , menyebabkan ketersediakan kehidupan pergaulan bebas di sekitar Pelapor begitu mudah didapat. Motivasi dalam penyalahgunaan zat infoman S dan informan _ D sedikit berbeda tetapi ke arah salah satu arahnya adalah dengan menyegarkan kembali pikiran dalam setiap permasalahan yang mereka temui dalam kehidupan sehari- hari
Analisis Kalimat Tidak Efektif pada Teks Karangan Argumentasi Mahasiswa Teologi di Jakarta
Dalam penelitian ini, peneliti berusaha mendeskripsikan kalimat-kalimat tidak efektif dalam karangan argumentasi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketidakefektifan kalimat pada karangan argumentasi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi di Jakarta yang menjadi UAS mata kuliah Bahasa Indonesia. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini adalah karangan argumentasi mahasiswa. Objek penelitian adalah kalimat tidak efektif yang ditemukan dalam karangan argumentasi mahasiswa. Sumber data yang digunakan peneliti adalah sumber data primer yang diambil dari kumpulan karangan argumentasi di Jakarta. Teknik yang digunakan untuk menganalisis kesalahan berbahasa meliputi kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan, mengindentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan kesalahan, mengklasifikasi kesalahan, dan mengevaluasi kesalahannya. Hasil penelitian menemukan tujuh puluh kalimat tidak efektif. Simpulan, hasil penelitian menunjukkan perlunya mahasiswa memahami struktur sintaksis S-P-O-K-Pel sebagai dasar pengetahuan penulisan kalimat efektif dan menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam kalimat efektif masih perlu ditingkatkan lagi dalam pengajaran Mata Kuliah Bahasa Indonesia di STTRI Jakarta.
Self-Regulated Learning terhadap Prokrastinasi Penyelesaian Studi Akhir
Proses penyelesaian skripsi sering sekali tidak sesuai dengan harapan. Tujuan penelitian ini. pertama, menguraikan permasalahan prokrastinasi dalam menyelesaikan skripsi yang dialami oleh mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe; kedua, menguraikan penerapan dari program pemberdayaan Self-Regulated Learning kepada mahasiswa yang mengalami permasalahan prokrastinasi; dan ketiga, menguraikan dampak dari adanya penerapan program pemberdayaan Self-Regulated Learning. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan PAR digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan prokrastinasi dalam menyelesaikan skripsi terjadi disebabkan adanya persepsi dan anggapan bahwa skripsi merupakan pekerjaan yang sulit, pekerjaan yang berat, dan adanya ketakutan gagal dalam penyelesaian skripsi; Penerapan program pemberdayaan Self-Regulated Learning dilakukan melalui proses yang mampu melahirkan dan menggerakkan serta mendorong lahirnya perilaku, kognisi, dan afeksi mahasiswa yang mengalami prokrastinasi secara sistematis yang berorientasi ke arah pencapaian tujuan, proses-proses tersebut terdiri dari observasi diri, keputusan diri dan refleksi diri; dan dampak adanya penerapan program pemberdayaan Self-Regulated Learning bagi mahasiswa menunjukkan telah berhasil
Peran Pemimpin Pemuda sebagai Agen Perubahan dalam Peribadatan
Orang muda memiliki peran yang signifikan dalam masyarakat dan menjadi tiang penyokong dalam membawa perubahan dan harapan di masa kini dan masa yang akan datang. Orang muda dapat memberikan dampak yang baik maupun buruk terutama dalam konteks peribadatan. Pemimpin rohani memegang peran penting dalam membangun, mengarahkan, dan merangkul orang muda sehingga mereka dapat menunjukkan minat dan potensi dengan baik di dalam peribadatan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan untuk mencari tahu peranan pemimpin pemuda Kristen dalam merangkul orang-orang muda di dalam peribadatan. Pemimpin pemuda Kristen haruslah menjadi contoh dalam kehidupan dan dalam peribadatan, membangun komunikasi yang baik, mampu menciptakan dan membuat aktivitas yang menarik di dalam gereja, dan mampu mengajak para orang muda untuk dapat berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan gereja. Hal ini membutuhkan komitmen dan usaha dari pemimpin pemuda. Dengan demikian, orang muda dalam gereja dapat mengembangkan peran mereka dengan baik di dalam takut akan Tuhan