Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Not a member yet
    100 research outputs found

    Pengaruh yoga terhadap memori jangka pendek pada dewasa muda

    Get PDF
    LATAR BELAKANGYoga adalah sebuah gaya hidup, suatu sistem pendidikan yang terpadu antara tubuh, pikiran, dan jiwa, dan merupakan metode yang berpengaruh dan dinilai efektif terhadap fungsi kognitif termasuk didalamnya fungsi memori jangka pendek. Yoga merangsang penurunan aktifitas saraf simpatis dan peningkatan akitifitas saraf parasimpatis yang berpengaruh pada penurunan hormon adrenalin, norepinefrin dan katekolamin serta vasodilatasi pada pembuluh darah yang mengakibatkan transpor oksigen ke seluruh tubuh terutama ke otak menjadi lancar sehingga dapat meningkatkan fungsi kognitif. METODEPenelitian ini menggunakan desain eksperimental metode potong lintang, menggambarkan fungsi memori jangka pendek dengan dan tanpa yoga. Penilaian memori jangka pendek menggunakan Digit Span Test di mana komponennya berupa deretan angka maju (Digit Forward) maupun mundur (Digit Backward). Penelitian ini melibatkan 47 subyek dewasa muda berusia 17-20 tahun dengan kriteria inklusi bersedia rutin mengikuti pelatihan yoga selama 21 hari dengan durasi 15-30 menit untuk sekali latihan yoga dan kriteria eklusi menderita suatu penyakit yang tidak dapat melakukan yoga, menderita gangguan pendengarandan mengalami penurunan kesadaran. Latihan yoga diberikan oleh instruktur yoga. Penilaian digit span dilakukan pada sebelum latihan yoga dan sesudah melakukan latihan yoga selama 21 hari. Analisis data dilakukan untuk menilai perbedaan skor fungsi memori jangka pendek masing-masing kelompok sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan uji T Dependent/berpasangan atau uji Wilcoxon. Nilai p < 0.5 dianggap bermakna dengan 95% interval kepercayaan. HASILTerdapat 61.7% responden perempuan, 40.4% memiliki skor tinggi pada memori jangka pendek sebelum yoga dan 59.6% memiliki skor tinggi sesudah yoga. Pengaruh yoga terhadap memori jangka pendek memiliki nilai p=0.000 (p < 0.05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor memori jangka pendek sebelum dan sesudah melakukan yoga. KESIMPULANYoga memberikan dampak pada peningkatan digit span pada kelompok dewasa muda

    Hubungan akomodasi insufisiensi dan astenopia pada remaja di Jakarta Barat

    Get PDF
    LATAR BELAKANGAstenopia adalah gangguan pada indera penglihatan berupa ketidaknyamanan seperti gangguan membaca, sensitif terhadap cahaya, penglihatan kabur, diplopia dan distorsi persepsi. Salah satu etiologi astenopia adalah akomodasi insufisiensi. Penderita akomodasi insufisiensi tidak dapat mempertahankan akomodasi saat melihat dekat seperti membaca dan menulis. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan akademisnya. Sehingga pada penelitian ini ingin diketahui hubungan akomodasi insufisiensi dan astenopia. METODEPenelitian merupakan studi cross sectional dengan desain analitik observasional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dilakukan pada 141 sampel yang didapatkan menggunakan consecutive sampling di sebuah Sekolah Menengah Atas di Jakarta Barat pada bulan Mei-Juni 2017. Pengukuran amplitudo akomodasi menggunakan Royal Air Force accommodation vergence measurement binocular Gauge. Analisis data menggunakan uji Fisher dengan tingkat kemaknaan p<0,05. HASILPrevalensi astenopia pada usia 15-17 tahun sebesar 83,7% dengan sebagian besar etiologi yang belum diketahui. Prevalensi akomodasi insufisiensi sebesar 14,2%. Pada usia tersebut ditemukan 54,2% dengan amplitudo akomodasi 20D. Pada analisis dengan menggunakan uji Fisher menunjukkan tidak terdapat hubungan antara akomodasi insufisiensi dan astenopia (p=0,197). KESIMPULANTidak terdapat hubungan yang bermakna antara akomodasi insufisiensi dan astenopia pada remaja pertengahan

    Pemakaian sepatu hak tinggi berhubungan dengan nyeri otot betis pada pramuniaga

    Get PDF
    LATAR BELAKANGPada tahun 2014, American Pediatric Medical Association (APMA) mencatat sebanyak 49% wanita menggunakan sepatu hak tinggi dengan 77% mengalami masalah pada kaki. Selain itu Badan survei di Amerika Serikat juga mencatat 59% wanita menggunakan sepatu hak tinggi kurang lebih satu sampai delapan jam perharinya. Bahkan ada yang memakai lebih dari sepuluh jam secara terus-menerus setiap hari. Dalam hal ini, pramuniaga merupakan salah satu pekerjaan yang menggunakan sepatu hak tinggi dalam pekerjaan sehari-hari. METODEPenelitian menggunakan studi pendekatan observasional dan metode potong silang (Cross-sectional) yang dilakukan pada 84 subjek di Departement Store X di Bogor. Data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik responden, dan mengukur derajat nyeri otot menggunakan metode Visual Analog Scale (VAS). Variabel yang diteliti adalah posisi saat bekerja, masa kerja, tinggi dan jenis hak sepatu, serta nyeri otot betis. Analisis data menggunakan Uji Chi-square yang diolah dengan program SPSS V.21 dengan tingkat kemaknaan adalah nilai p<0.005. HASILHasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara tinggi hak sepatu (p=0.004) dan masa kerja (p=0.042) dengan nyeri otot betis pada pramuniaga, sedangkan hasil analisis antara posisi saat bekerja, dan jenis hak sepatu tinggi dengan nyeri otot betis tidak didapatkan hubungan yang bermakna (p=0.169; 0.082). KESIMPULANPenelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara masa kerja dan tinggi hak sepatu dengan nyeri otot betis pada pramuniaga perempuan

    Prevalensi masalah kesehatan mata di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk

    Get PDF
    LATAR BELAKANGGangguan penglihatan dan kebutaan masih menjadi masalah di Indonesia. Akibat dari gangguan penglihatan dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita dan juga orang di sekelilingnya. Puskesmas sebagai pelayanan fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki peran dalam gangguan penglihatan dan kebutaan. Banyak usaha dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan penglihatan. Upaya deteksi dini, pengobatan penyakit mata dan rujukan bagi kasus sulit telah dilakukan. Pencatatan kasus mata di Puskesmas juga memiliki peran di mana dapat memberikan informasi mengenai masalah kesehatan mata di fasilitas tingkat pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi masalah mata di Puskesmas Kecamatan Kebun Jeruk. METODEPenelitian ini menggunakan studi deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Data diperoleh dari data sekunder. Sebanyak 320.809 pasien berkunjung ke Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk terhitung bulan Januari hingga Juli 2018. Dan kasus mata yang ditangani di Puskesmas sebanyak 3623 kasus. Hasil dianalisa dengan SPSS V21. HASILHasilnya adalah kasus mata terbanyak adalah kelainan lensa (39%), kelainan konjungtiva (29%), kelainan kelopak, sistem lakrimalis dan orbita (22%), sebesar 3% kelainan sklera, iris, dan korpus siliaris, kelainan koroid dan retina, dan glaukoma, dan sebesar 1% kelainan korpus vitreus dan bola mata. KESIMPULANKelainan Lensa masih menjadi penyebab tertinggi masalah kesehatan Mata di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk

    Hubungan antara konsumsi vitamin D dan gangguan depresi pada lanjut usia

    Get PDF
    LATAR BELAKANGDepresi merupakan salah satu penyakit yang memerlukan perhatian khusus dikarenakan penyebarannya yang sudah cukup mengglobal dan lansia merupakan penderita utamanya. Gangguan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti riwayat kejiwaan hingga nutrisi. Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbedaan kesehatan mental berdasarkan kecukupan konsumsi vitamin D. Oleh karenanya, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat hubungan antara konsumsi vitamin D dan gangguan depresi pada lanjut usia. METODEPenelitian menggunakan studi observasional dengan desain potong lintang di Panti Sosial Tresna Werda Budi Mulia 2. Data dikumpulkan dengan cara wawancara terpimpin menggunakan kuesioner yang meliputi usia, jenis kelamin, kuesioner frekuensi makanan, dan skala depresi geriatrik. Analisis data menggunakan program statistik dengan tingkat kemaknaan 0,05. HASILDari 79 responden, terdapat 82,3% berusia Young-Old, 50,6% dengan jenis kelamin perempuan, 93,7% kurang mengkonsumsi vitamin D, 68,4% mengkonsumsi vitamin D di bawah rata-rata, dan 50,6% mengalami depresi. Rata-rata konsumsi vitamin D adalah 5,05 mcg. Hubungan antara usia, jenis kelamin, konsumsi vitamin D, dan rata-rata konsumsi vitamin D dengan gangguan depresi memiliki nilai p > 0,05. KESIMPULANPenelitian ini menujukkan tidak ada hubungan bermakna antara usia, jenis kelamin, konsumsi vitamin D, dan gangguan depresi pada lansia

    Lensa kontak: keamanan dan pencegahan komplikasi

    Get PDF
    Lensa kontak saat ini dikenal oleh masyarakat secara luas dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.(1) Lensa kontak adalah alat bantu yang diletakkan di permukaan kornea, mudah digunakan, nyaman untuk beraktivitas dan berolahraga. Fungsi utamanya adalah  untuk mengatasi gangguan refraksi dengan keunggulan memberikan lapang pandang lebih luas dan lebih baik secara estetik.(2)Saat ini penggunaannya telah berkembang menjadi atribut mode dan estetika.(3)  Indikasi penggunaan lensa kontak lainnya adalah terapeutik (ulkus kornea, erosi kornea, albino, aniridia, post operasi kornea), preventif simblefaron, diagnostik dan occupational (olahragawam, pilot, aktor).(2)Lensa kontak yang sering digunakan adalah lensa kontak lunak (softlens) yang berbahan hidrogel atau silicon hidrogel.(4

    Hubungan konseling antenatal dan pemilihan kontrasepsi ibu hamil primigravida

    Get PDF
    oai:jbiomedkes.org:article/4LATAR BELAKANGKebutuhan akan kontrasepsi pada masa setelah persalinan perlu direncanakan sejak masa kehamilan termasuk juga dalam memilih kontrasepsi yang tepat sesuai kondisi dan kebutuhan. Informasi mengenai kontrasepsi perlu diberikan melalui konseling selama pelayanan antenatal. Konseling antenatal merupakan bentuk dari konseling yang membantu dalam pemilihan kontrasepsi yang paling sesuai dan meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai risiko, keuntungan, dan efek samping kontrasepsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konseling antenatal dan pemilihan kontrasepsi ibu hamil primigravida. METODEPenelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Delapan puluh sembilan (89) reponden primigravida yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan bersedia berpartisipasi diikutsertakan sebagai sampel penelitian. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai Desember 2017 di Puskesmas Pasekan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner, meliputi karakteristik demografi, konseling antenatal, pengetahuan, sikap, pemilihan alat kontrasepsi setelah persalinan. Pengisian kuesioner tersebut didampingi langsung oleh peneliti sehingga seluruh kuesioner terisi lengkap. Data dianalisis dengan menggunakan uji Fisher exact dengan tingkat kemaknaan p<0,05. HASILPengetahuan ibu primigravida yang termasuk kategori baik sebanyak 22 orang (24,7%), kategori cukup sebanyak 63 orang (70,8%), dan kategori kurang sebanyak 4 orang (4,5%). Dari sikap, terdapat 76 orang (85,4%) kategori baik, kategori cukup sebanyak 12 orang (13,5%), dan kategori kurang sebanyak 1 orang (1,1%). Hasil uji Fisher antara konseling antenatal dan pemilihan kontrasepsi menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna dengan nilai p=0,02. KESIMPULANTerdapat hubungan yang bermakna antara konseling antenatal dan pemilihan kontrasepsi pada ibu hamil primigravida

    Diabetes melitus meningkatkan kejadian pruritus vulva pada perempuan lanjut usia

    Get PDF
    LATAR BELAKANGPada lanjut usia (lansia) terjadi proses penuaan serta penurunan kapasitas fisik seseorang akibatnya menjadi kurang produktif, rentan, dan banyak bergantung pada orang lain. Perempuan lansia biasanya sudah mengalami menopause dan penurunan fisik berhubungan dengan perubahan hormonal. Menurunnya kadar estrogen pada menopause mengakibatkan perubahan pada vulva dan vagina yang memudahkan perempuan lansia mengalami infeksi bakterial. Women’s health initiative menunjukkan prevalensi perempuan lansia yang menderita pruritus vulva mencapai 27%. Pruritus vulva seringkali dikaitkan dengan diabetes melitus walaupun hal ini masih kontroversial. Tujuan penelitian ini untuk menentukan hubungan antara diabetes melitus dan pruritus vulva pada perempuan lansia. METODESebuah studi analisis observasional dengan pendekatan desain penelitian potong silang mengikutsertakan 197 perempuan lansia. Penelitian dilaksanakan bulan September-November 2017. Sebuah kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data mengenai usia, pendidikan, status pernikahan dan pekerjaan. Kadar gula darah sewaktu diukur menggunakan glukometer Unesco dan kuesioner digunakan untuk mengukur pruritus vulva. Analisis data dengan menggunakan uji Chi- square untuk menganalisis data dengan tingkat kemaknaan 0,05. HASILSebanyak 91,9% subjek berusia antara 60-69 tahun, 62,4% mengalami diabetes melitus (kadar gula darah sewaktu > 200 mg/dL) dan 71,9% mengalami pruritus vulva. Hasil uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara diabetes melitus dan pruritus vulva (p=0,000). KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan diabetes melitus meningkatkan kejadian pruritus vulvae pada perempuan lansia, sebaiknya dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kadar gula darah sewaktu secara berkala untuk mencegah terjadinya pruritus vulvae

    Pengaruh ekstrak biji pala (Myristica fragrans Houtt) sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa

    Get PDF
    LATAR BELAKANGPseudomonas aeruginosa merupakan bakteri negatif-gram yang menjadi penyebab tersering infeksi di lingkungan Rumah Sakit yang dikenal dengan istilah infeksi nosokomial. Saat ini penggunaan antibakteri dari bahan alami mulai dikembangkan. Di seluruh dunia, ratusan tanaman dapat digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai pengobatan untuk infeksi bakteri. Biji buah pala (Myristica fragrans Houtt) mengandung minyak atsiri, saponin, terpenoid, flavonoid, yang diketahui berpotensi sebagai antibakteri. Maka dari itu penulis ingin mengetahui aktivitas antibakteri pada biji pala (Myristica fragrans Houtt) terhadap pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa. METODEDesain penelitian ini adalah eksperimental sesungguhnya (True Experimental) laboratorium in vitro, menggunakan metode difusi cakram, dengan menggunakan sampel ekstrak biji pala (Myristica fragrans Houtt) dan bakteri Pseudomonas aeruginosa. Terdapat 4 kelompok perlakuan dan 2 kelompok kontrol. Zona hambat yang terbentuk akan diukur menggunakan penggaris. Analisis data dengan menggunakan SPSS versi 22. HASILHasil penelitian menunjukkan ekstrak biji pala (Myristica fragrans Houtt) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa, hal ini dibuktikan dengan terbentuknya zona hambat pada kertas cakram. Zona hambat yang terbentuk bervariasi, semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin luas zona hambat yang terbentuk. KESIMPULANEkstrak biji pala (Myristica fragrans Houtt) dapat menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa dengan kategori lemah

    Hubungan antara durasi aktivitas membaca dengan astenopia pada mahasiswa

    Get PDF
    LATAR BELAKANGPenggunaan perangkat digital dan berkembangnya internet di era global semakin menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dan berdampak pada kesehatan kesehatan mata, yakni astenopia. Astenopia merupakan melemahnya kekuatan penglihatan akibat ketegangan karena penggunaan kedua bola mata yang berlebihan. Pada mahasiswa kedokteran saat ini ebooks dan jurnal ilmiah yang mudah didapat berpengaruh besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi aktivitas membaca dengan astenopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. METODEPenelitian menggunakan desain potong silang pada 249 mahasiswa kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. Kuesioner digunakan untuk mendapatkan data jenis kelamin, kelemahan otot ekstraokuler, durasi membaca dengan hardcopy serta komputer pada hari kerja dan akhir pekan, akumulasi aktivitas jarak dekat, dan gejala mata lelah. Analisis data menggunakan Chi-square dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05. HASILPada durasi aktivitas membaca cukup (≤5360 jam) ditemukan 85 mahasiswa (41,3%) dengan astenopia, sedangkan durasi membaca lama (5361–9520 jam) dan sangat lama (≥9521 jam) ditemukan astenopia berturut-turut 55 mahasiswa (26,7%) dan 66 mahasiswa (32%). Tidak terdapat hubungan antara aktivitas membaca dengan astenopia nilai (p=0,128). KESIMPULANTidak terdapat hubungan bermakna antara durasi aktivitas membaca dengan astenopia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakt

    94

    full texts

    100

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Biomedika dan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇