Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Not a member yet
100 research outputs found
Sort by
Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada lanjut usia di panti sosial
LATAR BELAKANGSeiring dengan meningkatnya jumlah lansia di Indonesia, semakin banyak lansia yang berisiko terhadap penyakit degeneratif salah satunya adalah Diabetes melitus (DM). Jenis DM lebih sering ditemukan yaitu 85- 90% dari total penderita DM. Faktor resiko DM tipe 2 pada lansia yaitu antara lain aktivitas fisik rendah, pola makan tinggi karbohidrat, gaya hidup dan obesitas. Aktivitas fisik adalah salah satu yang memungkinkan untuk dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa pada lansia.
METODEPenelitian dilakukan terhadap 86 orang lansia, berusia 60 -74 tahun. Dilakukan pada bulan Agustus - Oktober tahun 2017 di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2, Cengkareng, Kota Jakarta Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan potong silang (cross sectional). Variabel yang dinilai adalah tingkat aktivitas fisik yang dinilai menggunakan IPAQ, serta kadar gula darah puasa yang dinilai menggunakan ACCU-chek. Data yang didapatkan dianalisis dengan uji korelasi Spearman.
HASILHasil penelitian di dapatkan dari 86 responden dengan rerata usia 66.71, rerata berjenis kelamin laki-laki, rerata kadar gula darah 81.85, rerata tingkat aktivitas fisik 332.53. Hasil uji korelasi spearman menyatakan tidak terdapat korelasi antara aktivitas fisik dan kadar gula darah puasa pada lansia (r= -0.134)(p = 0.220) dimana nilai p> alpha 0,05..
KESIMPULANBerdasarkan hasil penelitian, rerata kadar gula darah puasa pada lansia di panti adalah normal, rerata tingkat aktivitas fisik adalah aktif minimal, dan tidak terdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa pada lansia di panti jompo PSTW Budi Mulya 2
Derajat merokok berhubungan dengan kadar hemoglobin pada pria usia 30-40 tahun
LATAR BELAKANGMerokok merupakan kebiasaan yang sering ditemui di seluruh dunia, walaupun sudah diketahui secara umum bahwa rokok dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Beberapa penelitian meyakini bahwa merokok merupakan salah satu penyebab peningkatan konsentrasi hemoglobin dalam darah. Penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan kebiasaan merokok dan kadar hemoglobin pria berusia 30-40 tahun.
METODEPenelitian observasional-analitik dengan pendekatan cross-sectional mengikutsertakan 71 pria usia 30-40 tahun di Kota Bima. Pengumpulan data kebiasaan merokok dengan wawancara kuesioner kepada responden. Kadar hemoglobin diperoleh dari pengukuran menggunakan alat Hbmeter. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan sebesar 0,05.
HASILHasil menunjukkan dari 71 responden, 35 responden tergolong derajat merokok ringan, 16 responden dengan derajat merokok sedang dan 20 responden dengan derajat berat. Terdapat 37 responden dengan jenis rokok nonfilter sedangkan 34 responden dengan jenis rokok filter. Responden dengan lama merokok lebih dari 15 tahun berjumlah 47 orang sedangkan kurang dari 15 tahun berjumlah 24 orang. Kadar hemoglobin tinggi sebanyak 37 orang, kadar hemoglobin rendah sebanyak 21 orang dan kadar hemoglobin normal sebanyak 13 orang. Analisis bivariat menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara derajat merokok dan kadar hemoglobin dengan nilai p = 0,047.
KESIMPULANDerajat merokok mempengaruhi kadar hemoglobin. Hal ini kemungkinan merupakan kompensasi tubuh terhadap kekurangan oksigen akibat afinitas Hb dengan karbonmonoksida yang terdapat dalam rokok.
 
Hubungan e-cigarettes dan risiko cardiovascular disease pada usia 25-65 tahun
LATAR BELAKANGCardiovascular disease (CVD) adalah penyakit yang sering menyebabkan kematian dengan salah satu faktor risiko adalah merokok. Menurut World Health Organization (WHO), Indonesia berada di peringkat ketiga dengan jumlah perokok terbanyak. Rokok saat ini terbagi menjadi dua yaitu rokok konvensional dan e-cigarettes. Beralihnya penggunaan rokok konvesional ke e-cigarettes karena rokok konvensional lebih banyak mengandung nikotin dibandingkan dengan e-cigarettes. Karena hal tersebut, pengguna e-cigarettes merasa lebih aman dari risiko terjadinya CVD dibandingkan pengguna rokok konvensional. Hal tersebut masih perlu dibuktikan kebenarannya lebih lanjut. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara e-cigarettes dengan risiko CVD.
METODEDesain penelitian secara observasional analitik dengan pendekatan potong lintang yang diikuti oleh 84 orang pengguna e-cigarettes di lima toko e-cigarettes yang ada di Jakarta Barat pada bulan Desember 2017. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara meliputi karakteristik responden, lama penggunaan e-cigarettes, frekuensi penggunaan e-cigarettes, pengukuran risiko CVD yang disesuaikan dengan Jakarta Cardiovascular Score. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan p<0,05 menggunakan perangkat komputer SPSS 25.0 for Windows
HASILMayoritas pengguna e-cigarettes adalah usia 25-34 tahun, berjenis kelamin pria, frekuensi penggunaan e-cigarettes termasuk kategori berat (≥12 dripping/hari), lama penggunaan e-cigarettes termasuk kategori lama (>3 bulan) dan risiko CVD menengah. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara e-cigarettes dan risiko CVD.
KESIMPULANTidak terdapat hubungan yang bermakna antara e-cigarettes dan risiko CVD pada usia 25-65 tahun
Hubungan kadar hemoglobin A1c dengan kualitas tidur pada pasien diabetes mellitus tipe-2
LATAR BELAKANGDiabetes mellitus (DM) banyak dijumpai di negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Salah satu pemeriksaan glukosa darah pada pasien DM adalah pemeriksaan kadar HbA1c yang telah terstandarisasi sesuai The Diabetes Control and Complication Trial (DCCT). Kadar HbA1c menunjukkan kadar glukosa di dalam hemoglobin pasien, sehingga kadar HbA1c yang tinggi biasanya akan disertai dengan gejala klinis DM yang semakin jelas, salah satunya poliuria. Poliuria ini dapat berpengaruh pada beberapa hal, salah satunya adalah kualitas tidur pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien DM tipe-2.
METODEPenelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan desain cross sectional. Sampel penelitian ini diambil dengan teknik consecutive non-random sampling yang berjumlah 44 responden. Data responden diperoleh melalui wawancara pengisian kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan pengambilan data HbA1c dari rekam medis. Analisis data yang diolah dengan program SPSS versi 23 ini dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistic Fisher.
HASILPenelitian ini diikuti oleh 44 orang pasien DM tipe-2 yang memiliki hasil kadar HbA1c. Berdasarkan hasil statistik didapatkan p sebesar 0,69 dimana p>0,05 sehingga tidak terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.
KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien DM tipe-2.
 
Krim ekstrak daun Lantana camara Linn. 4% stabil setelah disimpan selama 1 tahun
LATAR BELAKANGTumbuhan mengandung metabolit sekunder yang dapat berpotensi sebagai antioksidan, diantaranya adalah alkaloid, flavonoid, senyawa fenol, steroid, dan terpenoid. Lantana camara Linn. (tembelekan) merupakan tanaman liar yang tumbuh tanpa perawatan khusus yang digunakan masyarakat secara empiris untuk mengobati beberapa macam penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan kadar flavonoid krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4%, 5% setelah disimpan selama 1 tahun.
METODEPenelitian ini merupakan studi observasional dengan desain potong lintang yang menggunakan krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5%. Pengukuran pH, daya sebar dan uji organoleptik dilakukan di Laboratorium Biologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti, sedangkan pengukuran kadar flavonoid dilakukan di Laboratorium Pengujian Penelitian Terpadu UGM. Pengukuran kadar flavonoid terhadap ketiga sampel tersebut menggunakan spektrofotometer. Data yang diperoleh diuji normalitas dan homogenitasnya. Apabila data normal dan homogen dilanjutkan dengan uji one way anova, apabila data tidak normal dan atau tidak homogen dilakukan uji Kruskall-Wallis dengan tingkat kemaknaan 0,05.
HASILKrim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5% memiliki pH yang sama yaitu 6. Daya sebar krim ekstrak daun L. camara Linn. 3% sebesar 2.44 senti meter (cm), sedangkan untuk krim ekstrak daun L. camara Linn. 4% sebesar 2.12 cm dan krim ekstrak daun L. camara Linn. 5% sebesar 2.29 cm. Hasil uji organoleptik terhadap krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5% memperlihatkan bentuk sediaan setengah padat, warna hijau tua dan bau khas ekstrak. Setelah disimpan selama 1 tahun, perubahan kadar flavonoid pada krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5% masing-masing sebesar +85.6%, -1.07% dan +54.7% (p=0.001).
KESIMPULANSetelah disimpan selama 1 tahun, krim ekstrak daun L. camara Linn. 3%, 4% dan 5% memiliki pH 6, masing-masing krim memiliki daya sebar dan organoleptik yang sama. Krim ekstrak daun L. camara Linn. 4% paling stabil dibanding krim ekstrak daun L. camara Linn. 3% dan 5%
Hubungan intensitas penggunaan game online dengan visus mata pada siswa SMA
LATAR BELAKANGPenglihatan yang optimal hanya dapat dicapai bila terdapat suatu jalur saraf visual yang utuh, struktur mata yang sehat serta kemampuan fokus mata yang tepat. Etiologi dari penurunan visus bersifat multifaktoral. Berdasarkan data dari World Health Organization, diseluruh dunia pada tahun 2010 terdapat sebanyak 285 juta orang (4,24%) populasi dengan gangguan penglihatan; 39 juta (0,58%) dengan kebutaan; dan 246 juta (3,65%) dengan low vision. Penyebab gangguan penglihatan tertinggi di seluruh dunia adalah kelainan refraksi (43%).
METODEJenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan rancangan potong silang. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan menggunakan kuesioner untuk intensitas penggunaan game online dan pemeriksaan menggunakan kartu Snellen serta Pinhole untuk visus di SMAN 23 Tomang – Jakarta Barat. Responden berjumlah 149 orang, analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Analisis diolah dengan program SPSS 21,0.
HASILUji Fisher’s didapatkan nilai probabilitas p=0,551 dimana didapatkan p>0,05, sehingga tidak terdapat hubungan antara intensitas penggunaan game online dengan penurunan visus.
KESIMPULANTidak terdapat hubungan bermakna antara intensitas penggunaan game online dengan penurunan visus pada siswa kelas X - SMAN 23 Tomang Jakarta Barat
Kejadian bayi berat lahir rendah berhubungan dengan ibu hamil bersuamikan perokok aktif
LATAR BELAKANGBayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian perinatal dan neonatal. Prevalensi BBLR di seluruh dunia mencapai 15% dari seluruh kelahiran, dan > 97% di antaranya terjadi di negara berkembang. Perilaku negatif selama kehamilan seperti paparan asap rokok dapat menurunkan perfusi plasenta sehingga menurunkan penerimaan O2 bagi janin, yang akan meningkatkan risiko kelahiran BBLR. Paparan asap pembakaran tembakau juga menurunkan 20% kadar asam folat di dalam tubuh yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan janin di dalam rahim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan asap rokok pada ibu hamil yang bersuamikan perokok aktif dan kejadian BBLR.
METODEPenelitian dengan disain observasional analitik dan pendekatan potong-lintang untuk mengetahui hubungan antara ibu hamil bersuamikan perokok aktif (variabel bebas) dan kejadian BBLR (variabel tergantung). Populasi terjangkau adalah ibu hamil yang melahirkan di RSUD Karawang pada bulan Januari sampai Agustus 2017, dan pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana. Data penelitian ini merupakan data primer dan sekunder, yaitu berupa data kuesioner yang didapat dari ibu hamil bersuamikan perokok aktif dan rekam medik untuk data bayi BBLR. Pengolahan dan analisis data menggunakan Statistical Package for Social Sciences (SPSS), dan uji chi square dengan derajat kepercayaan (CI) 95% dan batas kemaknaan 0,05.
HASILSubyek penelitian berjumlah 132 orang, dan terdapat 96 bayi (73%) dengan kasus BBLR. Terdapat hubungan bermakna antara ibu hamil bersuamikan perokok aktif dan kejadian BBLR (p = 0.000 (p ≤ 0,05)).
KESIMPULANTerdapat hubungan antara ibu hamil bersuamikan perokok aktif dan kejadian BBLR
Computer vision syndrome
Computer Vision Syndrome (CVS) adalah keluhan gangguan penglihatan yang disebabkan oleh penggunaan komputer. Keluhan ini berhubungan dengan penggunaan Visual Display Terminal (VDT). Pada kehidupan modern, VDT adalah alat yang telah menjadi sebuah kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari dan alat-alat ini harus selalu tersedia sebagai sarana di intitusi pendidikan, perkantoran dan di rumah. Alat yang termasuk VDT adalah monitor komputer, telepon genggam, tablet, laptop, handheld konsol dan lain-lain. Saat ini komputer sangat membantu aktivitas manusia namun monitor komputer mengeuarkan radiasi dan gelombang seperti sinar ultraviolet dan sinar X yang bila terpapar dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan gangguan fisiologis pada mata.
Pevalensi CVS mencapai 64-90% pada pengguna VDT dengan jumlah penderita di seluruh dunia diperkirakan sebesar 60 juta orang dan setiap tahun akan terus muncul 1 juta kasus baru. Prevalensi CVS pada mahasiswa teknik mencapai 81,9% lebih tinggi dibandingkan mahasiswa kedokteran yaitu sebesar 78,6%. Computer Vision Syndrome dapat terjadi pada anak-anak dan keluhan CVS pada ada anak-anak akan muncul lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa. Komputer didisain untuk digunakan oleh orang dewasakomputer tidak ergonomik untuk digunakan oleh anak-anak. Hal ini menyebabkan CVS pada anak-anak akan disertai dengan keluhan muskuloskeletal
Tingkat depresi dan jenis kelamin berhubungan dengan perilaku anti sosial pada pelajar SMA
LATAR BELAKANG Prevalensi penderita depresi pada usia remaja meningkat sangat tinggi dibandingkan dengan usia kanak‐kanak dan dewasa. Prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur 15 tahun ke atas di Indonesia mencapai 6%. Remaja rentan terkena depresi karena banyaknya proses adaptasi terhadap berbagai stressor kehidupan yang ada, bila tidak diawasi dapat menimbulkan gangguan perilaku anti sosial yang dapat menetap menjadi gangguan kepribadian antisosial pada saat dewasa. Studi ini dilakukan untuk menilai hubungan antara tingkat depresi dengan perilaku anti sosial pada pelajar SMA.
METODE Studi ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan dari bulan Agustus hingga Desember 2017. Populasi penelitian adalah pelajar SMAN 6 Bogor dengan total sampel sebanyak 350 responden. Cara pengambilan sampel digunakan teknik Consecutive Non random sampling dan pengambilan data primer didapatkan dari pengisian kuesioner The Mansion Evaluation untuk menilai ada tidaknya perilaku anti sosial dan kuesioner Beck Depression Inventory-II guna mengukur tingkat depresi pada respondents. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan tes Chi Square guna menilai hubungan antara tingkat depresi dengan munculnya perilaku antisosial.
HASIL Dari 350 responden didapatkan 193 responden (55,1%) yang mengalami depresi dari tingkat ringan sampai berat. Sebanyak 222 respoden (63,4%) memiliki kecenderungan untuk berperilaku anti sosial dan lebih banyak didapatkan pada pelajar laki-laki. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan bermakna antara tingkat depresi dengan perilaku anti sosial dimana makin tinggi tingkat depresi maka makin besar kejadian perilaku anti sosial (p value = 0,000). Selain itu didapatkan pula bahwa jenis kelamin juga memiliki hubungan bermakna dengan munculnya perilaku anti sosial (p value = 0,020).
KESIMPULAN Terdapat hubungan antara tingkat depresi dan jenis kelamin dengan perilaku anti sosial pada pelajar SMA
Pengetahuan tentang osteoporosis yang rendah menurunkan konsumsi susu pada murid SMA
BACKROUND
Milk is also a main source of calcium and phospor that very important for bone formation. Milk is very good to consumed for adolesence, because there’s bone tissue development that was a preparation phase to reach the top of bone mass growth while on adolesence stage. Osteoporosis is a disease that can be marked with poor bone mass and decline the structure of bone tissue, that can lead to vulnerability of bone and increase the risk of fracture. This research aims to determine the relationship between knowledge of osteoporosis and milk consumption in senior high school students.
METHODS
This study was used an analytic observational with a cross-sectional design that was conducted from July to October 2017. Samples was took with cluster sampling and simple random sampling in 182 respondent in SMA Negeri 2 Mejayan. Data were collected using an osteoporosis knowledge questionnaire and a questionnaire of milk consumption behavior.The data were analyzed with Chi-Square test
RESULTS
Subjects with knowledge of low osteoporosis, 27 (50.0%) did not drink milk significantly higher than subjects with high osteoporosis knowledge of 5 people (3.9%). The analysis result based on Chi-Square test showed that there was a significant relationship between knowledge of osteoporosis and milk consumption in senior high school students (p = 0.000).
CONCLUSION
This study showed that there was a significant correlation between knowledge of osteoporosis and milk consumption insenior high school students.LATAR BELAKANGSusu merupakan sumber utama kalsium dan fosfor yang sangat penting untuk pembentukan tulang. Susu sangat baik dikonsumsi pada masa remaja, karena pada masa remaja terjadi pembentukan jaringan tulang yang merupakan masa persiapan untuk mencapai puncak pertumbuhan massa tulang. Osteoporosis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan massa tulang yang rendah dan terjadi kemunduran struktur jaringan tulang, sehingga menyebabkan kerentanan tulang dan peningkatan risiko patah tulang. Minum susu saat remaja diharapkan dapat meningkatkan massa tulang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara pengetahuan tentang osteoporosis dan konsumsi susu pada murid SMA.
METODESebuah penelitian analitik observasional dengan pendekatan desain cross sectional digunakan dengan mengikutsertakan 182 siswa dan siswi Sekolah Menegah Atas (SMA). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang meliputi karakteristik subjek (usia, gender dan pendidikan orang tua. Pengetahuan mengenai osteoporosis dan konsumsi susu diukur menggunakan kuesioner. Uji chi-square digunakan untuk analisis data dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASILSebanyak 128 (70,32%) subjek memiliki pengetahuan tentang osteoporosis yang baik dan 36 (19,8) subjek minum susu sebanyak 2-3 gelas per hari. Pada subyek yang berpengetahuan tentang osteoporosis rendah didapatkan 27 orang (50,0%) tidak minum susu lebih besar secara bermakna dibandingkan subyek yang berpengetahuan osteoporosis tinggi sebanyak 5 orang (3,9%). Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang osteoporosis dan konsumsi susu pada murid SMA (p=0,000).
KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang osteoporosis dan konsumsi susu pada murid SMA. Penyuluhan mengenai konsumsi minum susu harus dilakukan pada murid SMA untuk meningkatkan pengetahuannya mengenai osteoporosis