Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Not a member yet
    100 research outputs found

    Spondilitis tuberkulosis: perbaikan yang signifikan setelah intervensi dini

    Get PDF
    LATAR BELAKANGTuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis. Salah satu bentuk TB ekstra paru adalah Spondilitis TB atau biasa dikenal dengan Pott’s disease (PD). DESKRIPSI KASUSPerempuan berusia 40 tahun datang ke unit gawat darurat (UGD) Rumah Sakit Hermina Daan Mogot dengan keluhan nyeri punggung bawah yang memberat sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan demam, batuk lama, penurunan berat badan disangkal. Terdapat kontak dengan penderita TB.  Pemeriksaan fisik didapatkan numeric rating scale (NRS) 10, dan kekuatan motorik normal (5555) pada keempat anggota gerak. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis. Pemeriksaan radiologi rontgen lumbosakral menunjukkan penyempitan diskus intervertebralis pada vertebra L2 dan L3. Pasien kemudian diberikan tata laksana nyeri Non Steroidal Anti-Inflamatory Drugs (NSAID), antidepresan, dan opioid. Dalam perawatan pasien mengalami kelemahan tungkai kiri, kekuatan motorik turun menjadi ‘1155’. Pasien dirujuk untuk dilakukan Magnetic Resonance Imaging (MRI) lumbal dengan kontras dan tindakan operasi. Hasil MRI menunjukkan proses destruktif yang melibatkan L1, L2, dan L3 dan bukti ekstensi kanal paraspinal dan spinal yang menekan kantung thecal dan menyebabkan stenosis berat pada medula spinalis. Radiografi thoraks dalam batas normal. Dilakukan operasi dekompresi dan stabilisasi tulang belakang dan pemberian regimen standar obat anti tuberkulosis (OAT). Setelah menjalani operasi, klinis pasien menunjukkan perbaikan signifikan. Kekuatan motorik meningkat ke '5555' dan NRS turun menjadi 4. Pasien saat ini mengkonsumsi OAT bulan ke-14.   KESIMPULANSpondilitis TB adalah infeksi tulang belakang kronis yang dapat terjadi dengan atau tanpa tuberkulosis paru. Intervensi dini dapat memberikan perbaikan yang signifikan dan prognosis yang lebih baik

    Ketepatan hasil pengukuran keratometri dengan ukuran astigmatisme pada ametropia

    Get PDF
    LATAR BELAKANGEmetropia adalah kondisi mata yang tidak memiliki kelainan refraksi atau mata normal. Sinar sejajar yang datang dari jarak tak berhingga akan difokuskan tepat di retina (makula). Sedangkan kondisi mata yang memiliki kelainan refraksi dikenal dengan ametropia, yaitu sinar sejajar yang datang dari jarak tak berhingga tidak dapat difokuskan tepat di makula. Ametropia terdiri dari miopia, hipermetropia dan astigmatisme. Astigmastisme adalah keadaan di mana sinar-sinar sejajar tidak dibiaskan pada satu titik fokus. Pengukuran astigmatisme dilakukan dengan obyektif dan subyektif. Secara obyektif  dilakukan pengukuran keratometri dengan alat keratometer. Pengukuran secara subjektif dilakukan dengan pemeriksaan refraksi. Kedua hasil pengukuran tersebut dapat berbeda sehingga dapat berpengaruh pada tatalaksananya. Pengukuran astigmatisme kornea yang tepat sangat penting pada tatalaksanan astigmatisme. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk mengetahui ketepatan hasil pengukuran keratometri dengan ukuran astigmatisme pada ametropia. METODEPenelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Masmitra, Bekasi pada bulan Februari-April 2019 dengan sampel 186 mata. Data keratometri dan astigmatisme didapatkan dari rekam medis yang dilakukan oleh dokter spesialis mata. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan sebesar 0.05. HASILAnalisis Chi-square menunjukkan astigmatisme lebih banyak ditemukan pada usia lansia (p=0.785). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ketepatan hasil pengukuran keratometeri dengan astigmatisme pada berbagai kelompok usia (p=0.062). KESIMPULANTidak terdapat hubungan antara ketepatan hasil keratometri dan astigmatisme pada ametropia

    Hubungan pemberian kapsul vitamin A dan pengetahuan caregiver dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan

    Get PDF
    LATAR BELAKANGStunting adalah masalah gizi kronik yang sering terjadi pada anak usia 24-59 bulan dan akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Hasil Riskesdas 2018, terdapat 30.8% kejadian stunting di Indonesia. Salah satu faktor risiko stunting adalah vitamin A dan pengetahuan caregiver. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian kapsul vitamin A program pemerintah dan pengetahuan caregiver dengan stunting pada anak usia 24-59 bulan di Puskesmas Kecamatan Grogol Kusuma Wijaya tahun 2019. METODEDesain Penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 123 anak yang didapat dengan cara consecutive non random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Oktober 2019. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tinggi badan anak dan wawancara kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan uji Fisher-exact. HASILProporsi anak stunting di Puskesmas Kecamatan Grogol Kusuma Wijaya mencapai 22%, kelengkapan vitamin A sebesar 92.7%, dan pengetahuan caregiver sebagian besar sedang yaitu 49,6%. Analisis uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara vitamin A dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan (p=0.024). Dan menunjukan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan caregiver dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan (p=0.000). KESIMPULANPemberian kapsul vitamin A dan pengetahuan caregiver dalam penelitian ini berhubungan dengan terjadinya stunting

    Stres berhubungan dengan atensi pada siswa sekolah menegah atas

    Get PDF
    LATAR BELAKANGAtensi merupakan komponen kecil dalam tahap memori saat seseorang melakukan proses berpikir. Bila terdapat gangguan pada atensi, maka seseorang akan sulit untuk menerima atau mempelajari hal yang baru. Atensi dipengaruhi oleh berbagai situasi, salah satunya adalah stres. Stres merupakan masalah umum yang terjadi dalam kehidupan manusia dan menjadi bagian hidup yang tidak dapat dielakkan. Siswa sekolahpun dapat mengalami stres yang dapat berpengaruh terhadap atensi dan mempengaruhi tingkat prestasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan stres dengan atensi pada siswa sekolah menengah atas. METODEPenelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional yang mengikusertakan 173 siswa sekolah menengah atas. Responden diperoleh dengan teknik cluster sampling. Stres diukur dengan menggunakan perceive stress scale dan atensi diukur dengan menggunakan digit span test. Analisis data menggunakan uji Chi-square untuk mengetahui hubungan antara stres dengan atensi. HASILDidapatkan jumlah responden sebanyak 173 orang dengan 26% siswa dengan tingkat atensi yang buruk dan 28.3% yang mengalami stres. Dari hasil analisis bivariat terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan atensi pada siswa sekolah menengah atas (p=0.000). KESIMPULANTerdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan atensi pada siswa sekolah menengah atas

    Review: penyakit virus corona baru 2019 (COVID-19)

    Get PDF
    Sebuah virus corona baru diidentifikasi sebagai SARS-CoV-2, pertama kali teridentifikasi di Wuhan, Cina, pada Desember 2019 dan dikenal dengan nama COVID-19. Memiliki 85% homologi dengan SARS-CoV, S-protein pada virus ini akan mengikat reseptor target (ACE2) pada manusia terutama pada paru, jantung, dan ginjal. COVID-19 memiliki masa inkubasi lebih lama dan penularannya lebih tinggi. Penularan terjadi melalui droplet saluran nafas dan kontak erat dengan penderita. Pandemi terjadi dengan sangat cepat,  hingga 19 Mei 2020 telah teridentifikasi 4.943.077 kasus dengan angka kematian 321.998 orang dari 212 negara. Gejala yang paling sering muncul adalah demam, fatique, batuk kering, myalgia, dan sesak. Tingkat keparahan penyakit meningkat pada lansia dan penderita dengan komorbid (penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit paru kronis, hipertensi, dan kanker). Infeksi ini memiliki CFR sebesar 2.3% dan komplikasi yang paling sering menyebabkan kematian adalah komplikasi pada jantung dan paru. Hingga saat ini belum ditemukan pengobatan yang tepat maupun vaksin untuk penyakit ini, namun penelitian guna pengembangan pengobatan dan vaksin terus dilakukan di seluruh dunia. Upaya maksimal harus dilakukan karena wabah ini mempengaruhi infrastruktur kesehatan publik, ekonomi, dan seluruh aspek di semua negara di dunia. Tindakan pencegahan adalah sangat penting sebagai upaya memutus mata rantai penularan COVID-19

    Hubungan antara merokok dan katarak pada usia 45-59 tahun

    Get PDF
    LATAR BELAKANGKatarak merupakan suatu keadaan di mana lensa mata yang biasanya jernih menjadi keruh. Di dalam rokok terdapat tembakau yang didalamnya mengandung nikotin, radikal bebas, dan karbon monoksida, yangdapat meningkatkan stres oksidatif dan memiliki peran penting dalam patogenesis katarak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara merokok dan katarak pada usia 45-59 tahun. METODEPenelitian ini menggunakan metode case control study. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan data sekunder rekam medik katarak dan kuesioner indeks Brinkman di Rumah Sakit Haji Jakarta Timur pada bulan September-Oktober 2019. Jumlah rekam medik sebanyak 74 sampel yang terdiri dari 37 sampel katarak dan 37 sampel tidak katarak sebagai kontrol. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square. HASILSebanyak 27 responden (73.0%) menderita katarak dan merokok, 10 responden (27.0%) menderita katarak dan tidak merokok. Kemudian untuk kontrol didapatkan 15 responden (40.5%) tidak menderita katarak dan merokok, 22 responden(59.5%) tidak menderita katarak dan tidak merokok. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara merokokdan katarakdengan p=0.005 (p < 0.05). KESIMPULANDapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara merokok dan katarak

    Hubungan antara tekanan darah dengan keparahan stroke menggunakan National Institute Health Stroke Scale

    Get PDF
    LATAR BELAKANGStroke merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan tingkat kematian dan disabilitas yang tinggi. Sebesar 75% dari faktor risiko stroke adalah hipertensi. Semenjak tingkat mortalitas stroke mengalami penurunan, kesempatan hidup pasien pasca-stroke dengan gejala sisa yang diakibatkannya semakin meningkat. Sampai saat in masih diperoleh hasil yang kontroversi antara hubungan tekanan darah dengan keparahan stroke menggunakan National Institute Health Stroke Scale (NIHSS), diperoleh hasil penelitian yang menyatakan tidak terdapat hubungan yang signifikan dan sebagian lain menjumpai hubungan yang signifikan. Penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan tekanan darah dengan hasil keparahan stroke menggunakan NIHSS. METODEPenelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive non random sampling pada data rekam medik pasien stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), Jakarta Timur dari November hingga Desember 2018. Jumlah rekam medik yang diambil adalah 235 buah. Pengambilan data menggunakan data sekunder. NIHSS merupakan skala penilaian valid yang dapat dipercaya dan efisien untuk mengukur derajat neurologis pasien selama stroke akut dan mengukur hasil keluaran klinis setelah terapi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji korelasi Spearman. HASILTerdapat hubungan antara tekanan darah sistolik (p=0.01) dan tekanan darah diastolik (p=0.004) dengan tingkat keparahan stroke. KESIMPULANTerdapat hubungan antara tekanan darah dan keparahan stroke menggunakan NIHSS pada pasien stroke yang dirawat di RSPON

    Hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia

    Get PDF
    LATAR BELAKANGSeiring dengan meningkatnya jumlah lansia khususnya di Indonesia, semakin meningkat pula permasalahan penyakit akibat proses degeneratif. Tiga puluh dua koma empat persen lansia di Indonesia mengalami gangguan pada fungsi kognitifnya. Fungsi kognitif merupakan salah satu bagian terbesar yang diatur oleh otak. Penuaan menyebabkan terjadinya banyak perubahan pada otak yang dapat mengarah pada kemunduran fungsi neurokognitif. Terdapat beberapa faktor yang diduga dapat memperlambat penurunan fungsi kognitif, salah satunya adalah aktivitas fisik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia. METODEJenis penelitian ini merupakan observational analitic dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan November 2015. Sampel diambil secara simple random sampling pada 60 lansia di Posyandu Lansia X, Jakarta. Seluruh lansia yang memenuhi kriteria inklusi dinilai aktivitas fisiknya dari pengisian kuesioner Rapid Assessment of Physical Activity (RAPA), sedangkan nilai fungsi kognitif diperoleh dengan wawancara berdasarkan Mini Mental State Examination (MMSE). Analisis data dilakukan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia digunakan uji Chi-square. HASILTerdapat hubungan bermakna secara statistik antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif pada lansia (p=0.000). KESIMPULANAktivitas fisik dapat mempengaruhi fungsi kognitif pada lansia. Lansia dengan aktivitas fisik golongan regular sampai dengan active memiliki nilai fungsi kognitif yang normal dibandingkan lansia tanpa aktivitas fisik atau termasuk ke dalam golongan under-active

    Hubungan saturasi oksigen dengan risiko terjadinya obstructive sleep apnea pada pria usia 30 - 60 tahun

    Get PDF
    LATAR BELAKANGObstructive sleep apnea (OSA) merupakan kondisi umum pada saat tidur ditandai dengan mendengkur. Di Indonesia, data prevalensi OSA masih sangat sedikit, namun pada penelitian di Jakarta tahun 2013 didapatkan 70% pada laki-laki dengan rentang usia 35-73 tahun menderita OSA. Kejadian OSA dapat mengganggu sistem pernapasan serta fungsi kognitif seseorang. Hal ini ditandai dengan hipoksia yang dapat menimbulkan fase arousal pada risiko OSA. Namun, pada beberapa penelitian ditemukan tidak terdapatnya hubungan kadar saturasi oksigen pada penderita OSA sehingga membuat peneliti hendak menilai kembali. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan saturasi oksigen dengan risiko terjadinya OSA pada pria usia 30-60 tahun. METODEPenelitian ini menggunakan studi observasional analitik dengan desain studi potong lintang (cross-sectional) yang dilakukan pada bulan April hingga Juni 2019. Penentuan sampel menggunakan teknik random sampling, pada 64 orang pria usia 30-60 tahun. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner Berlin untuk mengetahui ada tidaknya OSA dan dilakukan pengukuran saturasi oksigen menggunakan pulse oximetry. Analisis hipotesis dilakukan dengan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan yang digunakan p < 0.05. HASILDidapatkan responden 64 orang dengan 42 orang (65.6%) memiliki risiko tinggi OSA, dan 22 orang (34.4%) lainnya memiliki risiko rendah OSA, sedangkan pada uji Chi-square untuk melihat hubungan kadar saturasi oksigen dengan resiko terjadinya OSA didapatkan p=1.000. KESIMPULANPenelitian ini menunjukan tidak ada hubungan bermakna antara kadar saturasi oksigen dengan risiko terjadinya OSA

    Pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang berhubungan dengan perkembangan anak usia 1-3 tahun

    Get PDF
    LATAR BELAKANGSaat ini keterlambatan perkembangan masih menjadi masalah serius di negara maju maupun negara berkembang. Profil kesehatan Indonesia tahun 2016, mengemukakan sekitar 56.4% anak usia di bawah lima tahun di Indonesia mengalami gangguan tumbuh kembang. Apabila deteksi tumbuh kembang terlambat, maka dapat mengakibatkan penyimpangan pada anak yang sukar diperbaiki. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan perkembangan anak adalah pengetahuan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang dengan perkembangan anak usia 1-3 tahun. METODEPenelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong zlintang. Perhitungan besar sampel studi menggunakan rumus potong lintang. Sampel dipilih secara consecutive non-random sampling yang mengikutsertakan 367 responden di wilayah kerja Puskesmas Waena, Jayapura Papua, yang dilakukan pada bulan April sampai Juni 2019. Variabel yang diteliti adalah pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang dan perkembangan pada anak usia 1-3 tahun. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mengunakan kuesioner pengetahuan tumbuh kembang dan kuesinoner pra skrining perkembangan (KPSP). Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 0.05. HASILHasil penelitian didapatkan 83.7% ibu berpengetahuan baik dengan perkembangan anak sesuai usia. Sebanyak 83.7% ibu berpendidikan tinggi memiliki anak dengan perkembangan sesuai usia. Uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan pendidikan ibu dengan perkembangan anak usia 1-3 tahun (p< 0.05). KESIMPULANPengetahuan dan pendidikan ibu tentang tumbuh kembang berhubungan dengan perkembangan anak usia 1-3 tahun

    94

    full texts

    100

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Biomedika dan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇