Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Not a member yet
    100 research outputs found

    Asupan kafein dari kopi dan teh serta hubungannya dengan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause

    Get PDF
    LATAR BELAKANGOsteoporosis merupakan kondisi patologis tulang dengan karakteristik bone mineral density (BMD) yang rendah disertai perubahan mikro-arsitektur jaringan tulang, sehingga meningkatkan risiko fraktur. Faktor risiko osteoporosis yaitu perempuan pascamenopause, genetik, indeks massa tubuh, aktivitas fisik, asupan gizi dan mineral, merokok, serta asupan alkohol, dan kafein. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek kafein dari kopi dan teh terhadap kepadatan tulang pada perempuan pascamenoapuse. METODEPenelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah perempuan pascamenopause yang berusia >40 tahun berjumlah 92 orang. Asupan kafein dinilai dari total asupan yang berasal dari kopi dan teh dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Perhitungan asupan total kafein diperhitungkan dengan penyetaraan asupan kopi dan teh per minggu. Kepadatan tulang dinilai menggunakan alat calcaneal quantitative ultrasound untuk menetukan nilai-T sebagai parameter osteoporosis. Subjek dikelompokkan sebagai kepadatan tulang normal (nilai-T≥-1), osteopenia (nilai-T antara -1 sampai -2.5) dan osteoporosis (nilai-T<-2.5) Analisis statistik dilakukan untuk menilai hubungan kedua variabel dilakukan dengan uji Chi-square. HASILRerata (simpang baku) usia subjek adalah 57.84 ± 7.57. Sebanyak 26 (28.3%) subjek dengan kategori osteoporosis, 50 (54.3%) osteopenia, dan 16 (17.4%) normal. Asupan kafein didapatkan 69 subjek (75%) dengan kategori rendah dan 23 (25%) tinggi. Hasil analisis didapatkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan kafein dan kepadatan tulang (p=0.419; p>0.05). KESIMPULANTidak terdapat hubungan antara asupan kafein dari kopi dan teh dengan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause

    Penghentian obat anti tuberkulosis pada meningitis tuberkulosis

    Get PDF
    LATAR BELAKANGPenghentian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada dugaan Meningitis Tuberkulosa (METB) dapat dilakukan dengan penilaian gejala klinis, dan Computerized Tomography (CT) Scan kepala dengan kontras. DESKRIPSI KASUSPasien laki-laki, usia 36 tahun, dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) RS Hermina Daan Mogot dengan keluhan penurunan kesadaran bertahap sejak 1 hari yang lalu. Pasien mengeluh nyeri kepala yang memberat dalam 3 bulan, demam naik turun sejak 1 bulan. Pasien memiliki riwayat kontak serumah dengan penderita Tuberkulosis (TB). Pada pemeriksaan neurologi didapatkan, Glasgow Coma Scale (GCS) E3M5V2, tanda rangsangan meningeal (+) dan test HIV (-). CT Scan kepala dengan kontras didapatkan penyengatan kontras minimal di daerah sisterna silvii bilateral dan sisterna basalis dan kronik iskemik serebral infark pada frontoparietal kanan. Pasien mendapatkan tata laksana antiedema dan OAT kategori I. Setelah terdapat perbaikan klinis berupa perbaikan kesadaran menjadi compos mentis dan derajat nyeri kepala berkurang, pasien pulang dengan tata laksana antiedema, OAT dan antiplatelet. Saat rawat jalan pasien masih mengeluhkan nyeri kepala, dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala, masih terdapat penyengatan kontras hingga bulan ke-12 dan ke-15. Pada bulan ke-18 pasien sudah tidak mengeluhkan nyeri kepala dan tidak terdapat penyengatan kontras pada CT scan kepala sehingga OAT dapat dihentikan. KESIMPULANPemberian OAT bervariasi pada setiap individu. Perpanjangan dan penghentian terapi dipertimbangan berdasarkan kondisi pasien dan dapat didukung dengan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan kepala

    Paradigma baru penggunaan statin: efek kardioprotektif atau penyebab onset baru diabetes melitus?

    Get PDF
    3-Hydroxy-3-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reductase inhibitors atau yang biasa disebut sebagai statin, merupakan obat yang sudah digunakan sejak 30 tahun silam dan merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan untuk terapi dislipidemia. Menurut hasil terbaru dari banyak studi observasional, randomized controlled trials (RCTs) dan meta-analyses telah mengonfirmasi adanya korelasi kejadian diabetes melitus (new-onset diabetes mellitus/NODM) setelah inisiasi penggunaan statin. Mekanisme spesifik terkait pengaruh statin terhadap kejadian diabetes melitus masih belum sepenuhnya dipahami, namun gangguan fungsi sel beta pankreas melalui calcium channel blockade, berkurangnya sensitivitas jaringan terhadap insulin akibat berkurangnya ekspresi GLUT 4, rendahnya kadar adiponektin dan mungkin mekanisme lainnya diduga menjadi faktor pencetus NODM. Sebagaimana yang kita tahu, statin digunakan dalam terapi dislipidemia serta pencegahan baik primer maupun sekunder terhadap kejadian penyakit kardiovaskular melalui efek pleiotropiknya. Namun, dengan adanya keterkaitan kejadian NODM maka makna protektif penggunaan statin menjadi berkurang. Pada artikel ini akan dibahas mengenai kemungkinan mekanisme statin terkait kejadian NODM dan makna penggunaanya sebagai pencegahan penyakit kardiovaskular

    Importance of nutrition and lifestyle for elderly during the COVID-19 pandemic

    Get PDF
    Presently the world is experiencing a pandemic of a global magnitude never before witnessed and recorded by human civilization. No one is excluded from this disease and the most vulnerable are the very young and/the very old in our population. It is the most highly communicable and severe viral infection and most of our reproductive age population show practically no signs or symptoms of infection unless they are tested positive using the PCR method or arrive at the hospital in acute respiratory distress.(1) The infection spreads mostly in: 1) closed environment with poor ventilation such as clubs, café, restaurants, meeting rooms; 2) among crowds of people such as in public stations, malls, religious gatherings, and cinemas as well as; 3) within close contact with people usually friends, family or co-workers who form the cluster most likely to be infected with the virus.(2

    Di masa COVID-19, bagaimana cara melindungi diri sendiri dan orang lain?

    Get PDF
    Coronaviruses are a big identified group of viruses that could result in sickness in humans and animals. It was confirmed that many of these viruses caused respiratory diseases among humans and their symptoms range from popular colds to more serious diseases, such as the Middle East respiratory syndrome (MERS) and severe acute respiratory syndrome (SARS). The recently detected Coronavirus (called SARS-CoV-2) causes the COVID-19 pandemic, which causes a serious threat worldwide. There was no previous knowledge of this virus before the outbreak of Wuhan city in China in December 2019.  However, there is progress in defining, understanding and dealing with this virus.  In this review, we are focusing on the common questions regarding coronavirus transition and spread, and how to prevent the infection.  Coronavirus adalah kelompok besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Telah dipastikan bahwa banyak dari virus ini menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia dan gejalanya berkisar dari pilek populer hingga penyakit yang lebih serius, seperti sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) dan sindrom pernapasan akut yang parah (SARS). Virus Corona yang baru terdeteksi (disebut SARS-CoV-2) menyebabkan pandemi COVID-19, menyebabkan ancaman serius di seluruh dunia. Belum ada pengetahuan sebelumnya tentang virus ini sebelum merebak di kota Wuhan (China) pada Desember 2019 lalu. Namun, ada kemajuan dalam pendefinisian, pemahaman, dan penanganan virus ini. Dalam ulasan ini, kami berfokus pada pertanyaan umum mengenai transisi dan penyebaran virus corona, serta cara mencegah infeksi

    Aktivitas berjalan meningkatkan bone mineral density pada perempuan pascamenopause

    Get PDF
    LATAR BELAKANGOsteoporosis merupakan penyakit tulang yang ditandai dengan rendahnya bone mineral density (BMD) disertai perubahan pada mikroarsitektur tulang. BMD yang rendah menandai adanya penurunan kepadatan pada tulang dan meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Penurunan kadar estrogen pada kondisi pascamenopause, gaya hidup yang meliputi aktivitas fisik dan kebiasaan berjalan  sangat berperanan dalam progresivitas osteoporosis. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan antara aktivitas berjalan dengan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause. METODEPenelitian analitik observasional dengan metode cross-sectional dilakukan pada perempuan pascamenopause berusia 45-70 tahun pada periode Agustus-Oktober 2018. Penilaian aktivitas  berjalan dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Aktivitas berjalan dinilai dari jumlah langkah berjalan/hari yang dikonversikan dari jarak tempuh subjek berjalan kaki setiap harinya. Pengukuran BMD menggunakan calcaneal quantitative ultrasound (QUS), hasil pengukuran BMD membedakan kepadatan tulang berdasarkan nilai-T. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Chi Square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILSebanyak 88 perempuan pascamenopause ikut berpartisipasi sebagai subjek penelitian  dengan usia (rerata ± simpang baku) 57.91 ± 7.25 tahun. Distribusi aktivitas berjalan didapatkan 71 (80.7%) kurang aktif, 12 (13.6%) aktivitas sedang, dan 5 (5.7%) aktif. Distribusi hasil penilaian kepadatan tulang didapatkan sebanyak 18 (20.5%) normal, 49 (55.75%) osteopenia dan 21 (23.9%) osteoporosis. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas berjalan dan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause (p=0.009). KESIMPULANTerdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas berjalan dan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause

    Hubungan paparan bising dengan hipertensi pada karyawan pabrik industri kabel

    Get PDF
    LATAR BELAKANGHipertensi didefinisikans jika tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. RISKESDAS 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 34.11%. Hipertensi merupakan risiko kesehatan umum pada pekerja yang terpapar kebisingan keras (≥85dB(A)). Frekuensi, intensitas, durasi paparan, tipe bising dapat mengganggu aktivitas tubuh seperti sistem pendengaran dan non-pendengaran. Hipertensi merupakan penyakit multi-faktorial yang dapat dipicu dari berbagai sumber seperti paparan bising. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara paparan bising dan hipertensi. METODEPenelitian ini dilakukan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan potong lintang pada 78 responden laki-laki berusia 22-53 tahun di pabrik kabel, Jawa Barat. Data dikumpulkan dengan kuesioner sosiodemografi, sphygmomanometer, microtoise, dan timbangan berat badan. Variabel yang diteliti adalah hipertensi, intensitas bising, tipe bising, masa kerja, usia, jumlah konsumsi rokok. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Kolmogorov-Smirnov dengan p<0.05. HASILTekanan darah normal 23.1%, prehipertensi 39.7%, hipertensi 37.1%. Intensitas bising <85 dB(A) 32.1%, ≥85 dB(A) 67.9%. Tipe bising kontinu + intermittent 93.6%, impulsif 6.4%. Masa kerja <10 tahun 23.1%, ≥10 tahun 76.9%. Tidak merokok 35.9%, merokok 1-10 batang 24.4%, >10 batang 39.7%. Hubungan bermakna antara intensitas bising dan usia dengan hipertensi (p=0.007; p=0.019). Hubungan tidak bermakna antara tipe bising, masa kerja, dan konsumsi rokok dengan hipertensi (p=0.281; p=0.139; p=0.257). KESIMPULANTerdapat hubungan bermakna antara intensitas bising dan usia dengan hipertensi pada karyawan pabrik industri kabel, namun tidak didapatkan hubungan bermakna antara tipe bising, masa kerja, dan jumlah konsumsi rokok dengan hipertensi.LATAR BELAKANG Hipertensi didefinisikan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. RISKESDAS 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia adalah  34,11%. Hipertensi merupakan risiko kesehatan umum pada pekerja yang terpapar kebisingan keras (≥ 85 dB(A)). Frekuensi, intensitas, durasi paparan, tipe bising dapat mengganggu aktivitas tubuh: sistem pendengaran dan non-pendengaran. Hipertensi merupakan penyakit multi-faktor yang dapat dipicu dari berbagai sumber seperti paparan bising. Sehingga penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan paparan bising dengan hipertensi. METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan potong lintang yang mengikutsertakan 78 responden laki-laki dari 22-53 tahun di PT. X pabrik kabel yang beroperasi di Jawa Barat. Alat pengumpul data berupa kuesioner sosiodemografi, spyghmomanometer, microtoise, timbangan berat badan. Variabel yang diteliti adalah hipertensi, intensitas bising, tipe bising, masa kerja, usia, jumlah konsumsi rokok. Analisis data menggunakan uji chi-square dan Kolmogorov-Smirnov dengan SPSS (p<0,05).  HASIL Didapatkan tekanan darah normal 23,1%, pre-hipertensi 39,7%, hipertensi 1 25,6%, hipertensi 2 11,5%.Intensitas bising <85 dB(A) 32,1%, ≥85 dB(A) 67,9%. Tipe bising kontinu 12,8%, intermitten 80,8%, impulsif 6,4%. Masa kerja <10 tahun 23,1%, ≥10 tahun 76,9%. Pekerja tidak merokok 35,9%, merokok 1-10 batang 24,4%, >10 batang 39,7%. KESIMPULAN Terdapat hubungan bermakna antara intensitas bising dan usia dengan hipertensi pada karyawan pabrik industri kabel (p=0,007; p=0,019). Tidak terdapat hubungan bermakna antara tipe bising, masa kerja, dan jumlah konsumsi rokok dengan hipertensi (p=0,281; p=0,139; p=0,257). KATA KUNCI Hipertensi, paparan bising, usia, intensitas bising, tipe bisin

    Hubungan sikap tubuh saat bekerja dengan keluhan muskuloskeletal akibat kerja pada karyawan

    Get PDF
    LATAR BELAKANG Gangguan muskuloskeletal akibat kerja adalah gangguan pada struktur muskuloskeletal pada leher, punggung, ekstremitas atas dan bawah yang disebabkan oleh mikro-trauma kumulatif akibat biomekanikal atau pajanan lain dari pekerjaan. Gangguan ini jarang mengancam jiwa, tetapi dapat meningkatkan absenteisme, menurunkan produktivitas kerja, menurunkan kualitas hidup, dan meningkatkan beban finansial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan risiko sikap tubuh saat bekerja dengan timbulnya keluhan muskuloskeletal. Selain itu penelitian juga melihat faktor lain seperti masa kerja dan karakteristik jenis kelamin serta hubungannya dengan keluhan muskuloskeletal. METODEPenelitian menggunakan studi observasional analitik cross-sectional dengan jumlah responden 60 pekerja kantor. Risiko sikap kerja dinilai dengan menggunakan Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dan keluhan muskuloskeletal dinilai dengan menggunakan Nordic Body Map (NBM). Selain itu juga dikumpulkan data tentang jenis kelamin dan masa kerja. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan uji Fisher. HASILHampir sebagian besar pekerja (91.7%) mengalami keluhan muskuloskeletal dan sebagian besar di antaranya adalah pekerja laki-laki (96.9%). Keluhan muskuloskeletal yang tinggi didapatkan pada pekerja yang sudah bekerja lebih dari 4 tahun (96.7%) dan juga pada pekerja dengan sikap kerja berisiko tinggi (90%) namun berdasarkan hasil uji statistik tidak didapatkan hubungan antara jenis kelamin, masa kerja dan tingkat risiko sikap tubuh dengan keluhan muskuloskeletal (p> 0.005). KESIMPULANPrevalensi keluhan muskuloskeletal pada pekerja kantor sangat tinggi demikian juga dengan tingkat risiko sikap tubuh saat bekerja. Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara risiko sikap tubuh, jenis kelamin dan masa kerja dengan keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian perlu diteliti faktor-faktor lain yang mungkin menyebabkan keluhan ini. Walaupun tidak didapatkan hubungan yang bermakna, angka prevalensi yang tinggi ini perlu menjadi perhatian bagi perusahaan

    Virus Corona (2019-nCoV) penyebab COVID-19

    Get PDF
    Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei di China tengah, adalah provinsi ketujuh terbesar di negara itu dengan populasi 11 juta orang. Pada awal Desember 2019 seorang pasien didiagnosis menderita pneumonia yang tidak biasa. Pada 31 Desember, kantor regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Beijing telah menerima pemberitahuan tentang sekelompok pasien dengan pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya dari kota yang sama.(1

    Hubungan pes planus dan keseimbangan statis pada anak sekolah dasar

    Get PDF
    LATAR BELAKANGKeseimbangan merupakan kemampuan tubuh untuk mempertahankan pusat massa tubuh terhadap axis tubuh untuk melawan gravitasi bumi yang dipengaruhi oleh proses sensorik atau sistem saraf, motorik atau muskuloskeletal. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan pada anak yaitu, gangguan muskuloskeletal berupa kelainan bentuk telapak kaki. Hasil penelitian yang sudah ada masih menunjukkan kontroversi sehubungan dengan hal tersebut. Penelitian ini dibuat untuk melihat lebih lanjut hubungan pes planus (kaki datar) dengan keseimbangan statis terutama pada anak sekolah dasar. METODEPenelitian menggunakan metode studi observasional dengan desain cross-sectional yang mengikutsertakan 145 siswa-siswa SD X di Tangerang dan SD Y di Batam. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Keseimbangan statis diukur dengan metode Standing Stork Test, sedangkan diagnosa pes planus didapatkan dengan metode Wet Foot Print untuk mendapatkan batas lengkung arkus longitudinal medial kaki. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan yang digunakan 0.05. HASILDari 145 responden, didapatkan 18 anak (12.4%) memiliki keseimbangan statis yang buruk dan 42 anak (29%) didiagnosa dengan pes planus. Terdapat 18 anak dengan keseimbangan statis yang buruk dengan 16 (88.9%) diantaranya memiliki pes planus. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara keseimbangan statis dengan pes planus pada anak sekolah dasar (p=0.000). KESIMPULANTerdapat hubungan signifikan antara pes planus dan keseimbangan statis

    94

    full texts

    100

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Biomedika dan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇