Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Not a member yet
100 research outputs found
Sort by
Respon imun hospes terhadap Sarcoptes scabiei
Skabies, penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya, masih menjadi masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 2017 menyatakan bahwa skabies termasuk dalam Neglected Tropical Disease (NTD) yang memerlukan pengontrolan skala besar. S. scabiei spesifik terhadap hospes dan hal tersebut akibat perbedaan fisiologis tungau dan variabel hospes seperti diet, bau, respon imun, dan faktor-faktor fisik. Manifestasi klinis pada manusia berupa inflamasi kulit akan timbul lebih dari 4 minggu setelah terinfestasi. Lambatnya respon imun itu adalah efek dari kemampuan S.scabiei dalam memodulasi berbagai aspek respon imun dan inflamasi hospes. Telur, feses, ekskreta, saliva, dan tubuh S.scabiei yang mati juga menstimulasi respon imun. S.scabiei mendorong keluarnya anti-inflammatory cytokine interleukin-1 receptor antagonist (IL-1ra) dari sel fibroblas manusia. IL-1ra menginhibisi sitokin proinflamasi IL-1 dengan mengikat reseptor IL-1 yang ada dalam sel limfosit T, sel limfosit B, natural killer cell, makrofag dan neutrofil. Berdasarkan patogenesis skabies, antigen tungau merangsang respon imun adaptif pada manusia agar muncul produksi imunoglobulin. Pengetahuan mengenai respon imun hospes terhadap Sarcoptes scabiei ini dapat dijadikan dasar untuk pengembangan metode serodiagnostik dalam rangka menegakkan diagnosis skabies, sehingga membantu eliminasi skabies di Indonesia
Hubungan antara ekspresi vascular endothelial growth factor (VEGF) jaringan dengan respon kemoradiasi pada pasien kanker serviks
LATAR BELAKANGKanker serviks masih merupakan masalah keganasan utama yang dihadapi wanita seluruh dunia. Tidak adanya gejala pada penderita kanker serviks stadium awal, sering menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis. Vascular endothelial growth factor (VEGF) merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam proses angiogenesis dan merupakan sinyal yang digunakan oleh sel kekurangan oksigen untuk memicu pertumbuhan pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan membandingkan respon klinik kemoradiasi pada pasien kanker serviks yang mempunyai ekspresi VEGF tinggi, sedang dan rendah.
METODEPenelitian ini menggunakan rancangan studi kasus kontrol untuk mencari hubungan antara ekspresi VEGF dengan respon kemoradiasi pada penderita kanker serviks. Sebagai kelompok kasus adalah pasien dengan respon terapi parsial dan kelompok kontrol adalah pasien dengan respon terapi komplit. Empat puluh lima pasien, masing-masing terdiri dari 15 pasien kelompok kasus dan 30 pasien kelompok kontrol. Data sekunder diambil dari rekam medis RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Dilakukan penelusuran blok parafin ke bagian Patologi Anatomi RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Pemeriksaan ekspresi VEGF dilakukan terhadap jaringan biopsi kanker serviks sebelum kemoterapi.
HASILPada faktor risiko umur, didapatkan nilai p=0.18 dan OR 0.37. Maka tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik, namun secara klinik mempunyai nilai protektif lemah. Pada analisa lebih lanjut hanya didapatkan 2 pasien usia ≥ 50 tahun yang mempunyai ekspresi VEGF kuat. Pada faktor risiko stadium, diferensiasi sel, dan body mass index (BMI) berturut-turut mempunyai nilai p 1; 0.46 dan 1, sedangkan nilai OR 1; 2 dan 1, maka tidak bermakana secara statistik dan klinik. Jenis histologi nilai p 0.19 dan OR 3.27 secara statistik tidak bermakna namun secara klinik bermakna. Ekspresi VEGF mempunyai nilai p 0.03 dan OR 0.45 jadi secara statistik dan klinik bermakna. Setelah dilakukan analisis multi variat maka yang mempunyai hubungan paling bermakna secara statistik dan klinik dengan respon terapi adalah ekspresi VEGF.
KESIMPULANEkspresi VEGF yang kuat akan memberikan respon terapi/outcome yang buruk
Hubungan kebiasaan berolahraga dan merokok dengan obesitas abdominal pada karyawan usia produktif
LATAR BELAKANGObesitas abdominal adalah keadaan kelebihan lemak yang terpusat pada perut (intra-abdominal fat). Secara nasional, prevalensi obesitas abdominal tahun 2013 adalah 26.6%. Adanya perubahan gaya hidup seperti kurangnya olahraga dan merokok dinilai menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya obesitas abdominal. Namun demikian, masih terdapat kontradiksi pengaruh kedua faktor tersebut dan hal ini membuat peneliti ingin menilai kembali hubungan keduanya dengan munculnya obesitas abdominal. Tujuan penelitian mengetahui hubungan kebiasaan berolahraga dan merokok dengan obesitas abdominal pada karyawan usia produktif.
METODEPenelitian ini menggunakan rancangan potong silang pada 103 karyawan. Pengukuran kebiasaan berolahraga menggunakan kuesioner Beacke. Pengukuran kebiasaan merokok menggunakan kuesioner Global Adult Tobacco Survey (GATS). Pengukuran lingkar perut sesuai dengan standard pengukuran
HASILDari 103 orang karyawan didapatkan mayoritas responden adalah laki-laki dengan kelompok usia terbanyak adalah >35 tahun. Responden yang memiliki kebiasaan berolahraga aktif sebanyak 50.5%. Responden yang merokok sebanyak 46.6%. Responden yang mengalami obesitas abdominal sebanyak 54.4%. Uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kebiasaan berolahraga dengan obesitas abdominal (p=0.037) dan tidak ada hubungan bermakna antara merokok dengan obesitas abdominal (p=0.720).
KESIMPULANDidapatkan hubungan antara kebiasaan olahraga dengan munculnya obesitas abdominal namun sebaliknya tidak terdapat hubungan antara merokok dengan obesitas abdominal
Gambaran gangguan mental emosional pada penduduk Desa Banfanu, Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur
LATAR BELAKANGKesehatan jiwa merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas, gangguan mental emosional pada populasi Indonesia tahun 2013 adalah 6%, kemudian pada tahun 2018 meningkat menjadi 9.8%. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati urutan ketiga tertinggi dengan prevalensi 15.7%. Di NTT, penelitian mengenai gangguan mental emosional belum banyak dilakukan, serta belum terfokus pada daerah terpencil atau tertinggal yang ada di dalamnya. Berdasarkan pemaparan tersebut maka peneliti tertarik untuk menggambarkan pola gangguan mental emosional pada penduduk di Desa Banfanu, NTT melalui berbagai faktor sosiodemografik yang menyertai.
METODEPenelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang melibatkan 80 responden di Desa Banfanu, Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Teknik pengambilan data secara accidental sampling menggunakan instrumen Self Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi. Data yang sudah diklasifikasikan, disajikan dalam bentuk tabel.
HASILResponden yang mengalami gangguan mental emosional 8.8% dari 80 responden. Karakteristik penduduk yang paling banyak mengalami gangguan mental emosional adalah perempuan (6.3%), usia muda (15-34 tahun) sebesar 5%, pendidikan rendah (5%), dan tidak bekerja (6.3%). Gejala somatik (fisik) mendominasi kelompok penduduk umum dan yang mengalami gangguan mental emosional. Beberapa gejala antara lain sakit kepala, sulit tidur, mudah lelah, merasa cemas, tegang atau khawatir, tidak nafsu makan, dan rasa tidak enak di perut.
KESIMPULANGangguan mental emosional penduduk di Desa Banfanu, Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 8.8%, dan terbanyak mengalami gejala somatik
Pentingnya olahraga selama pandemi COVID-19
BACKGROUND
Many women complain of uncomfortable symptoms a few days before menstruation in the form of emotional problems to discomfort in the abdominal area, this condition is called premenstrual syndrome.Lack of nutrients, one of which is vitamin B6, is a risk factor for premenstrual syndrome. This study was conducted to assess the relationship between vitamin B6 intake and premenstrual syndrome in junior high school students.
METHODS
The study used an analytical observational method with a cross-sectionaldesign, in 162 students of SMPN 75 Jakarta, which was taken with cluster random samplingand simple random samplingtechniques. Measurement of the incidence of premenstrual syndrome was carried out using sPAF questionnaires and vitamin B6 intake using SQ-FFQ questionnaires. The data from the study were analyzed using thechi-squaretest. The research was conducted after obtaining the approval of the number ethics 7/KER-FK/II/2022.
RESULTS
The results showed that female students who experienced premenstrual syndrome were mostly aged 15-16 years (20.8%), had menarche at the age of under 12 years (16.4%), did less exercise (15.6%), had a body mass index (BMI) in the category of excess nutrition (25.0%), andconsumed foods that contained enough vitamin B6 (15.0%). The results of the bivariate analysis between free and dependent variables found no meaningful relationship between premenstrual syndrome and age (p = 0.054), menarche age (p = 0.630), exercise (p = 0.726), BMI (p = 0.131), and vitamin B6 intake (p = 1.000).
CONCLUSIONS
There was no relationship between vitamin B6 intake, sociodemographic characteristics (age, menarche age), exercise, and body mass index (BMI) and premenstrual syndrome.BACKGROUND
Many women complain of uncomfortable symptoms a few days before menstruation in the form of emotional problems to discomfort in the abdominal area, this condition is called premenstrual syndrome.Lack of nutrients, one of which is vitamin B6, is a risk factor for premenstrual syndrome. This study was conducted to assess the relationship between vitamin B6 intake and premenstrual syndrome in junior high school students.
METHODS
The study used an analytical observational method with a cross-sectionaldesign, in 162 students of SMPN 75 Jakarta, which was taken with cluster random samplingand simple random samplingtechniques. Measurement of the incidence of premenstrual syndrome was carried out using sPAF questionnaires and vitamin B6 intake using SQ-FFQ questionnaires. The data from the study were analyzed using thechi-squaretest. The research was conducted after obtaining the approval of the number ethics 7/KER-FK/II/2022.
RESULTS
The results showed that female students who experienced premenstrual syndrome were mostly aged 15-16 years (20.8%), had menarche at the age of under 12 years (16.4%), did less exercise (15.6%), had a body mass index (BMI) in the category of excess nutrition (25.0%), andconsumed foods that contained enough vitamin B6 (15.0%). The results of the bivariate analysis between free and dependent variables found no meaningful relationship between premenstrual syndrome and age (p = 0.054), menarche age (p = 0.630), exercise (p = 0.726), BMI (p = 0.131), and vitamin B6 intake (p = 1.000).
CONCLUSIONS
There was no relationship between vitamin B6 intake, sociodemographic characteristics (age, menarche age), exercise, and body mass index (BMI) and premenstrual syndrome
Kekambuhan asma pada perempuan dan berbagai faktor yang memengaruhinya
Asma merupakan penyakit multifaktorial yang terjadi pada saluran napas akibat reaksi inflamasi kronik yang menyebabkan hiperresponsif jalan napas dengan gejala mengi, sesak napas dan dada terasa berat disertai batuk dan gejalanya umumnya terjadi malam hari atau menjelang pagi. Bila asma tidak terkontrol dapat menyebabkan kematian. Sesungguhnya asma tidak dapat sembuh sempurna hanya dapat menghilangkan gejalanya. Setelah pubertas, asma menjadi lebih umum terjadi bahkan dapat semakin parah pada seorang perempuan, dan paling tinggi terjadi pada perempuan dengan menarche dini atau dengan kehamilan banyak. Mekanisme yang mendasari perbedaan gender dalam prevalensi asma masih diselidiki tetapi sebagian besar merujuk pada perbedaan hormon dan perbedaan dalam kapasitas paru-paru. Peranan reseptor estrogen ditemukan pada banyak sel pengatur imun dan memengaruhi respons imunologis ke arah perkembangan alergi. Beberapa faktor yang memengaruhi kekambuhan asma pada perempuan antara lain faktor genetik dengan adanya polimorfisme pada gen yang berhubungan dengan asma, faktor pulmoner yaitu adanya penghambatan produksi surfaktan oleh estrogen yang meningkatkan kerentanan terhadap alergi, faktor persepsi dan perilaku perempuan terhadap gejala asma yang dialami sehingga menyebabkan kualitas hidup lebih buruk, dan faktor obesitas menyebabkan peningkatan aromatase yang berefek meningkatkan estrogen serta peningkatan kadar leptin yang berperan dalam pengaturan berat badan dan meningkatkan mediator proinflamasi.Asma merupakan gangguan yang terjadi pada saluran nafas akibat reaksi inflamasi kronik yang menyebabkan peningkatan respon jalan napas dengan gejala mengi, sesak nafas dan dada terasa berat disertai batuk. Gejala asma biasanya terjadi malam hari atau menjelang pagi. Bila asma tidak terkontrol dapat menyebabkan kematian. Sesungguhnya asma tidak dapat sembuh sempurna hanya dapat menghilangkan gejalanya. Setelah pubertas, asma menjadi lebih umum terjadi bahkan dapat semakin parah pada seorang perempuan, dan paling tinggi terjadi pada perempuan dengan menarche dini atau dengan kehamilan multiple. Hal ini menunjukan adanya peran hormon seks dalam patogenesis asma. Namun, pengaruh hormon seks pada patofisiologi asma masih membingungkan dan sulit dibedakan dari usia, obesitas, atopi, maupun paparan lingkungan terkait gender lainnya. Mekanisme yang mendasari perbedaan gender dalam prevalensi asma masih diselidiki tetapi sebagian besar merujuk pada perbedaan hormon dan perbedaan dalam kapasitas paru-paru. Terdapat bukti kuat yang mendukung efek gender pada kejadian dan tingkat keparahan asma. Banyak studi epidemiologis menunjukkan bahwa perempuan berisiko lebih tinggi terkena asma awitan dewasa dan juga menderita penyakit yang lebih parah daripada pria. Perbedaan gender ini tampaknya merupakan produk dari perbedaan biologis dan perbedaan sosiokultural serta lingkungan. Perbedaan biologis terkait jenis kelamin termasuk faktor genetik, dan paru.
METODE
Penelusuran kepustakaan dilakukan melalui Google Scholar dan basis data PubMed dengan kata kunci asma, faktor risiko asma, perempuan, hormon seks, jenis kelamin. Kepustakaan diambil dari jurnal yang membahas kekambuhan asma pada perempuan dan faktor yang memengaruhinya.
KESIMPULAN
Studi epidemiologis menunjukkan bahwa perempuan berisiko lebih tinggi terkena asma awitan dewasa dan juga menderita penyakit yang lebih parah daripada pria. Perbedaan gender ini tampaknya merupakan produk dari perbedaan biologis dan perbedaan sosiokultural serta lingkungan. Perbedaan biologis terkait jenis kelamin termasuk faktor genetik, dan paru
Kanker lambung: kenali penyebab sampai pencegahannya
Kanker lambung merupakan kelompok penyakit keganasan yang mempunyai penyebab multifaktorial yaitu dari faktor genetik, gaya hidup dan lingkungan. Kelainan gen pada kromosom ke - 16 dapat menyebabkan Hereditary Difuse Gastric Cancer (HDGC). Selain faktor genetik, adanya pola diet yang tidak tepat, kebiasaan merokok dan alkohol juga dapat menjadi faktor risiko seseorang menderita kanker lambung. Pola diet yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya kolonisasi dari bakteri Helicobacter pylori di dalam lambung yang dalam perkembangannya, bakteri ini dapat menimbulkan keganasan. Selain infeksi bakteri H. pylori, terdapat juga infeksi Virus Epstein Barr (EBV) sebagai faktor risiko dari kanker lambung. Adanya infeksi EBV pada penderita kanker lambung memberikan gambaran sistem imun penderita di mana kondisi ini dapat mempengaruhi prognosis penderita. Angka kejadian kenker lambung meningkat pada Negara di Asia Timur, Eropa Tengah dan Timur serta Amerika Selatan. Kanker lambung lebih banyak dijumpai pada laki-laki dan diatas usia 50 tahun. Kanker lambung Gejala yang ditimbulkan oleh kanker lambung pada awalnya tidak khas seperti gejala pada keluhan pencernaan umumnya. Kanker lambung sering kali ditemukan pada stadium yang sudah lanjut dan mengakibatkan prognosis yang kurang baik. Oleh karena itu diperlukan adanya diagnosa dini pada penderita kanker lambung yaitu dengan tindakan endoskopi sebagai tindakan deteksi stadium dini. Tata laksanaanker lambung tergantung pada kondisi stadium yang ditemukan. Pada stadium awal, tata laksana yang diberikan hanya tindakan reseksi minimal sedangkan pada stadium lanjut dapat dilakukan tata laksana dengan prinsip multi modalitas yang melibatkan tindakan pembedahan dan tindakan kuratif
Aktivitas antimikroba dan potensi penyembuhan luka ekstrak tembelekan (Lantana camara Linn.)
Salah satu tanaman yang digunakan secara turun-temurun dalam pengobatan adalah tembelekan (Lantana camara Linn.). L. camara Linn. mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat karena jumlahnya yang sangat banyak dan mudah dibudidayakan.
Hasil ekstraksi L. camara Linn. diketahui mengandung alkaloid, terpenoid, flavonoid, steroid, polifenol, tanin. Ekstrak L. camara Linn. juga telah dibuat atau diformulasikan dalam berbagai jenis sediaan farmasi dalam bentuk semisolid seperti salep, krim maupun gel.
Ekstrak methanol daun L. camara Linn. memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli. Ekstrak daun L. camara Linn. menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, etanol juga memperlihatkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram positif (Staphylococcus pyogenesis dan Micrococcus luteus) dan bakteri Gram negatif (Vibrio cholera dan Shigella dysenteriae). Selain itu, sediaan farmasi ekstrak L. camara Linn. juga memperlihatkan aktivitas antimikroba terhadap Salmonella typhi, Vibrio alginolyctus dan S. aureus. Aktifitas antifungi dari ekstrak etanol daun L. camara Linn. juga telah diuji terhadap jamur Trichophyton concentricum L. Sediaan farmasi ekstrak L. camara Linn. juga telah diuji aktifitas penyembuhan luka pada kulit hewan uji.  
Pendeteksian petanda kepuncaan glioblastoma multiforme
Glioblastoma multiforme (GBM) adalah tumor otak ganas yang memiliki populasi sel punca kanker yang dapat mempertahankan formasi tumor. Peranan sel punca kanker telah banyak dipelajari yang memiliki tanggung jawab terhadap resistensi dan rekurensi terapi GBM seperti radiasi dan kemoterapi. Beberapa petanda kepuncaan dapat dipakai diantaranya CD133, Nestin, A2B5, CD44, SOX2 and OCT4. Pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan tumor yang dioperasi menjadi standar baku untuk menentukan derajat, tingkat keganasan, dan prognosis keganasan. Namun di sisi lain, kehadiran populasi sel punca yang memiliki sifat mampu memperbaharui diri dan mampu menginduksi pembentukan tumor memerlukan pemeriksaan yang lebih mendalam mengenai karakteristik biologi sel tumor. Pemeriksaan sel punca dilakukan menggunakan flowcytometry dan imunohistokimia.
Pemeriksaan petanda kepuncaan glioblastoma dilakukan dengan quantitative Reverse Transcriptase Real Time Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR), Enzyme Linked Immunoabsorbent Assay (ELISA), Western Blot, Imunohistokimia dan flowcytometry. Petanda CD133 ditemukan ekspresinya meningkat pada berbagai pemeriksaan. CD133 digunakan sebagai prognostik GBM
Tes serologi dan polimerase chain reaction (PCR) untuk deteksi SARS-CoV-2/COVID-19
Penyebaran penyakit virus corona 2019 (COVID-19) di dunia meningkat sangat cepat, sehingga oleh World Health Organization (WHO) dinyatakan sebagai suatu pandemi global. Pada kondisi pandemi ini, lansia dan populasi yang rentan perlu mendapat perlindungan dari penyebaran COVID-19. Sebagian besar individu yang terinfeksi virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) tidak menunjukkan gejala atau hanya bergejala ringan sampai sedang, dengan gejala mirip flu atau infeksi flu lainnya, sehingga bila kita kehilangan kemampuan untuk mengikuti jejak semua orang yang pernah terinfeksi SARS-CoV-2 maka proses identifikasi individu yang potensial terinfeksi akan menjadi sulit. Untuk dapat memproteksi populasi yang rentan maka diperlukan status dari seseorang yang pernah kontak dengan pasien COVID-19 secara cepat.(1