Kumpulan Jurnal Universitas Madako
Not a member yet
    744 research outputs found

    Analisa Efektivitas Mesin Paletizer dengan Metode OEE dan FMEA

    Full text link
    The manufacturing industry demands high production machine effectiveness to ensure smooth operations and maintain competitiveness. Issues related to machine effectiveness also occur at PT Tirta Fresindo Jaya, where the Palletizer machine recorded the highest downtime of 0.21%, compared to other production machines, indicating the need for a comprehensive performance evaluation. This study aims to analyze the effectiveness of the Palletizer machine using the Overall Equipment Effectiveness (OEE) method and to identify potential failures through Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). A quantitative approach was employed in this research, with primary data collected through direct observation and recording of machine operational variables, while secondary data were obtained from production reports and company maintenance records. The OEE analysis was conducted based on three main parameters: availability, performance, and quality rate, whereas FMEA was applied to identify failure modes using the Risk Priority Number (RPN) as the assessment indicator. The results reveal that the OEE value of the Palletizer machine ranged between 84.42% and 90.10%, with both availability and quality rate meeting international standards, while performance remained below the world-class OEE benchmark. The Six Big Losses analysis indicated that the largest loss was caused by equipment failure, contributing 1.72% of the total downtime. Furthermore, the FMEA results showed that the sleding conveyor had the highest RPN value (343), followed by the push box and hydraulic pallet (336). Based on these findings, improvement efforts are recommended to focus on preventive maintenance of the sleding motor, scheduled replacement of hydraulic components, and routine inspections of the push box to minimize failure risks. Therefore, the integration of OEE and FMEA not only evaluates machine effectiveness but also provides strategic recommendations to reduce downtime and enhance sustainable productivityIndustri manufaktur menuntut efektivitas mesin produksi yang tinggi agar dapat menjaga kelancaran proses dan daya saing perusahaan. Permasalahan terkait efektivitas mesin juga terjadi  di PT Tirta Fresindo Jaya, mesin Paletizer tercatat memiliki downtime tertinggi sebesar 0,21% dibandingkan mesin produksi lainnya, sehingga perlu dilakukan evaluasi efektivitas secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas mesin Paletizer dengan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) serta mengidentifikasi potensi kegagalan menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data primer melalui observasi langsung dan pencatatan variabel operasional mesin, sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan produksi dan catatan perawatan perusahaan. Analisis OEE dilakukan melalui tiga parameter utama, yaitu availability, performance, dan quality rate, sedangkan FMEA digunakan untuk mengidentifikasi mode kegagalan berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai OEE mesin Paletizer berkisar antara 84,42% hingga 90,10%, dengan nilai availability dan quality rate yang sudah sesuai standar internasional, namun nilai performance masih berada di bawah standar world class OEE. Analisis Six Big Losses menemukan kerugian terbesar berasal dari equipment failure sebesar 1,72%. FMEA menunjukkan bahwa sleding conveyor memiliki nilai RPN tertinggi (343), diikuti push box dan hidrolik palet (336). Berdasarkan hasil tersebut, usulan perbaikan difokuskan pada perawatan preventif motor sleding, penggantian komponen hidrolik secara berkala, serta inspeksi rutin pada push box untuk menurunkan risiko kegagalan. Dengan demikian, kombinasi OEE dan FMEA tidak hanya mampu mengevaluasi efektivitas mesin, tetapi juga memberikan rekomendasi strategis untuk menekan downtime dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan

    Merancang Kurikulum dengan Sentuhan Kemanusiaan: Perspektif Dimensi Manusia

    Full text link
    Curriculum planning is an essential aspect of creating an effective education system. From a human dimension perspective, curriculum planning not only focuses on learning materials but also needs to consider the characteristics, needs, and potential of the students. The background issue in this research is the mismatch between the existing curriculum and the evolving needs and interests of students, which are becoming increasingly diverse. The aim of this study is to analyze the importance of involving the human dimension in curriculum planning and making it a guideline in its development. The methodology used is library research, which reviews various theories of curriculum planning from the human dimension perspective. The findings indicate that the success of curriculum planning highly depends on the understanding of individual student needs, including their cognitive, social, and emotional aspects. Curriculum planning based on student characteristics is expected to result in more effective and relevant learning experiences, in line with the needs of the times. The conclusion of this study is that effective curriculum planning must comprehensively involve the human dimension to positively impact the intellectual, emotional, and social development of students in Indonesia

    Pengaruh pengelolaan sarana dan prasarana terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah

    Full text link
    Every human being has the right to develop their potential, and education is the primary means to achieve this. The government plays a crucial role in regulating the education system to ensure effective learning and the production of competent and competitive human resources. This study aims to analyze the management of facilities and infrastructure in improving the quality of education. The method used is a qualitative research method with a library research approach, which is sourced from books, scientific journals, articles, and theses relevant to the research topic. Educational facilities and infrastructure, often referred to as infrastructure, are essential and interrelated components that support the smooth running of the learning process in schools. The study results indicate that good management of facilities and infrastructure, including planning, procurement, utilization, and maintenance, contributes significantly to improving the quality of education. With optimal management, teaching and learning activities become more effective, students feel comfortable, and teachers can carry out their duties optimally. Therefore, the management of facilities and infrastructure is not merely a technical support but a strategic factor in realizing quality education.Setiap manusia memiliki hak untuk mengembangkan potensi dirinya, dan pendidikan merupakan sarana utama dalam mewujudkan hal tersebut. Pemerintah memiliki peran penting dalam mengatur sistem pendidikan agar proses pembelajaran berjalan secara efektif sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen sarana dan prasarana dalam meningkatkan mutu pendidikan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) yang bersumber dari buku, jurnal ilmiah, artikel, serta tesis yang relevan dengan topik penelitian. Sarana dan prasarana pendidikan atau yang sering disebut infrastruktur merupakan komponen penting yang saling berkaitan guna mendukung kelancaran proses pembelajaran di sekolah. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan sarana dan prasarana yang baik, mencakup perencanaan, pengadaan, pemanfaatan, dan pemeliharaan, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan. Dengan pengelolaan yang optimal, kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif, peserta didik merasa nyaman, serta guru dapat menjalankan tugasnya dengan maksimal. Oleh karena itu, manajemen sarana dan prasarana bukan hanya sebagai penunjang teknis, tetapi merupakan faktor strategis dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas

    Pemberdayaan Suami Dalam Kelas Hamil Pro Untuk Meningkatkan Kesehatan Ibu Dan Keharmonisan Rumah Tangga

    Full text link
    Pregnancy is a transformative period that demands comprehensive support for the mother. The role of the husband as the main support system is often overlooked in conventional pregnancy class programs. This community service activity aims to implement and evaluate the “Pregnancy Class Pro Husband Support” to improve maternal health and household harmony at the Kualu Kampar Midwife Clinic. The implementation methods included interactive workshops, practical simulations, and group discussions involving 25 couples of pregnant women and husbands. Data were collected through pre-test and post-test questionnaires to measure knowledge improvement, as well as questionnaires on perceived husband support and household harmony. Results showed a significant increase in knowledge scores of mothers (from fair 48% to good 84%) and husbands (from fair 52% to good 80%), an increase in perceived husband support (from negative 56% to positive 84%), and an increase in perceived household harmony (from negative 60% to positive 80%). The program proved effective in empowering husbands to be actively involved, which was positively correlated with maternal health and family dynamics. Recommendations include integrating the model into Puskesmas and PMB programs and developing further materials.  Kehamilan merupakan periode transformatif yang menuntut dukungan komprehensif bagi ibu. Peran suami sebagai support system utama seringkali terabaikan dalam program kelas ibu hamil konvensional. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan dan mengevaluasi "Kelas Hamil Pro Dukungan Suami" guna meningkatkan kesehatan ibu dan keharmonisan rumah tangga di Klinik Bidan Kualu Kampar, Metode pelaksanaan meliputi lokakarya interaktif, simulasi praktik, dan diskusi kelompok yang melibatkan 25 pasangan ibu hamil dan suami. Data dikumpulkan melalui kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan, serta kuesioner persepsi dukungan suami dan keharmonisan rumah tangga. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada skor pengetahuan ibu (dari cukup 48% menjadi baik 84%) dan suami (dari cukup 52% menjadi baik 80%), peningkatan persepsi dukungan suami (dari negatif 56% menjadi positif 84%), serta peningkatan persepsi keharmonisan rumah tangga (dari negatif 60% menjadi positif 80%). Program ini terbukti efektif dalam memberdayakan suami untuk terlibat aktif, yang berkorelasi positif dengan kesehatan maternal dan dinamika keluarga. Rekomendasi meliputi integrasi model ini ke dalam program Puskesmas maupun PMB dan pengembangan materi lanjutan

    Kontribusi Dan Efektivitas Pajak Reklame Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tolitoli Tahun 2019-2023

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi dan efektivitas pajak reklame terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Tolitoli Tahun 2019-2023. Penelitian termasuk jenis penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan survey yang dilakukan di Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Tolitoli dengan meneliti dokumen laporan realisasi serta target penerimaan pajak reklame dan pendapatan asli daerah. Hasil penelitian ini menunjukkan, kontribusi pajak reklame Kabupaten Tolitoli tahun 2019-2023 mengalami penurunan tiap tahunnya, tahun 2019 sebesar 0,62%, tahun 2020 sebesar 0,51%, tahun 2021 sebesar 0,36%, tahun 2022 sebesar 0,35% dan tahun 2023 sebesar 0,34%, diakibatkan karena kurangnya peminat industri untuk memasang reklame dan kurangnya pengawasan pemda. Dengan nilai rata-rata 0,44% sangat kurang. Tingkat efektivitas pajak reklame tahun 2019 dan 2023 juga mengalami penurunan tiap tahunnya. Tahun 2019 sebesar 86,74%, tahun 2020 84,60%, tahun 2021 45%, tahun 2022 35% dan tahun 2023 sebesar 18,86%, diakibatkan kurangnya pengawasan dan sosialisai pada wajib reklame. Efektivitas dengan nilai rata-rata 52,81% yang berarti kurang efektif.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi dan efektivitas pajak reklame terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Tolitoli Tahun 2019-2023. Penelitian termasuk jenis penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan survey yang dilakukan di Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Tolitoli dengan meneliti dokumen laporan realisasi serta target penerimaan pajak reklame dan pendapatan asli daerah. Hasil penelitian ini menunjukkan, kontribusi pajak reklame Kabupaten Tolitoli tahun 2019-2023 mengalami penurunan tiap tahunnya, tahun 2019 sebesar 0,62%, tahun 2020 sebesar 0,51%, tahun 2021 sebesar 0,36%, tahun 2022 sebesar 0,35% dan tahun 2023 sebesar 0,34%, diakibatkan karena kurangnya peminat industri untuk memasang reklame dan kurangnya pengawasan pemda. Dengan nilai rata-rata 0,44% sangat kurang. Tingkat efektivitas pajak reklame tahun 2019 dan 2023 juga mengalami penurunan tiap tahunnya. Tahun 2019 sebesar 86,74%, tahun 2020 84,60%, tahun 2021 45%, tahun 2022 35% dan tahun 2023 sebesar 18,86%, diakibatkan kurangnya pengawasan dan sosialisai pada wajib reklame. Efektivitas dengan nilai rata-rata 52,81% yang berarti kurang efektif

    Analisis Mitigasi Risiko Usaha Kecambah Kacang Hijau Menggunakan Skema Mudharabah di Pasar Labuhan Sreseh Kabupaten Sampang

    Full text link
    Penelitian ini mengkaji mitigasi risiko pada usaha mikro kecambah kacang hijau melalui penerapan skema mudharabah sebagai alternatif pembiayaan berbasis kemitraan. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk risiko yang dihadapi pelaku usaha dan menilai relevansi mudharabah sebagai instrumen mitigasi risiko yang mampu memperkuat keberlanjutan usaha. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali pengalaman produsen di Pasar Labuhan Sreseh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi guna memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai dinamika produksi, pasar, dan modal kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku usaha menghadapi risiko produksi akibat ketidakstabilan bahan baku dan kondisi lingkungan, risiko pasar yang dipicu fluktuasi permintaan dan kualitas produk, serta risiko likuiditas karena keterbatasan modal. Temuan ini menunjukkan bahwa mudharabah memiliki potensi sebagai skema mitigasi yang memberikan pembagian risiko yang adil, mengurangi beban keuangan produsen, dan meningkatkan disiplin pengelolaan usaha. Selain menegaskan relevansi pembiayaan syariah dalam konteks usaha mikro, penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan model pembiayaan komunitas yang responsif terhadap karakteristik usaha pangan segar.Penelitian ini mengkaji mitigasi risiko pada usaha mikro kecambah kacang hijau melalui penerapan skema mudharabah sebagai alternatif pembiayaan berbasis kemitraan. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk risiko yang dihadapi pelaku usaha dan menilai relevansi mudharabah sebagai instrumen mitigasi risiko yang mampu memperkuat keberlanjutan usaha. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali pengalaman produsen di Pasar Labuhan Sreseh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi guna memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai dinamika produksi, pasar, dan modal kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku usaha menghadapi risiko produksi akibat ketidakstabilan bahan baku dan kondisi lingkungan, risiko pasar yang dipicu fluktuasi permintaan dan kualitas produk, serta risiko likuiditas karena keterbatasan modal. Temuan ini menunjukkan bahwa mudharabah memiliki potensi sebagai skema mitigasi yang memberikan pembagian risiko yang adil, mengurangi beban keuangan produsen, dan meningkatkan disiplin pengelolaan usaha. Selain menegaskan relevansi pembiayaan syariah dalam konteks usaha mikro, penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan model pembiayaan komunitas yang responsif terhadap karakteristik usaha pangan segar

    Analisis Pengaruh Permintaan Ayam Pedaging terhadap Pendapatan Pedagang Pengecer di Kabupaten Tolitoli

    Full text link
    Broiler chicken is one of the most important poultry commodities in meeting the protein needs of Indonesian society. Demand for broiler meat in traditional markets is influenced by various social, demographic, and economic factors, which require further investigation. This study aims to analyze the effect of age, gender, education, family dependents, income, and broiler chicken prices on demand in Susumbolan Market and Bumi Harapan Market, Tolitoli Regency. The research employed a survey method involving 30 broiler meat traders selected through purposive sampling. Data were collected through interviews using a structured questionnaire and analyzed using multiple linear regression to determine the effect of each variable on broiler chicken demand. The results revealed that income and price variables had a significant effect on demand, while age, gender, education, and family dependents showed no significant influence. Simultaneously, all independent variables affected the demand for broiler meat in both markets. These findings indicate that economic factors are more dominant than demographic factors in determining broiler chicken demand. It can be concluded that higher consumer income increases demand for broiler chicken, while higher prices decrease demand. This study provides valuable insights for traders, farmers, and policymakers in formulating marketing strategies and pricing policies to enhance competitiveness and improve the welfare of livestock sector stakeholders.Ayam pedaging merupakan komoditas unggas yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Permintaan ayam pedaging di pasar tradisional dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, demografis, dan ekonomi, sehingga perlu dikaji secara lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, pendapatan, dan harga ayam pedaging terhadap permintaan di Pasar Susumbolan dan Pasar Bumi Harapan Kabupaten Tolitoli. Penelitian menggunakan metode survei dengan jumlah responden sebanyak 30 pedagang ayam pedaging yang ditentukan secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, serta dianalisis dengan regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel terhadap permintaan ayam pedaging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, variabel pendapatan dan harga ayam pedaging berpengaruh signifikan terhadap permintaan, sedangkan variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, dan jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata. Secara simultan, seluruh variabel independen berpengaruh terhadap permintaan ayam pedaging di kedua pasar. Hal ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi lebih dominan dibanding faktor demografis dalam menentukan permintaan ayam pedaging. Disimpulkan bahwa peningkatan pendapatan konsumen akan mendorong kenaikan permintaan ayam pedaging, sementara kenaikan harga justru menurunkan permintaan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pedagang, peternak, dan pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi pemasaran serta kebijakan harga yang lebih efektif guna meningkatkan daya saing dan kesejahteraan pelaku usaha di sektor peternakan

    Pengaruh Lama Perendaman Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap Kualitas Organoleptik Telur Asin Itik

    Full text link
    This study aimed to evaluate the effect of garlic soaking duration on the organoleptic quality of salted duck eggs. Garlic (Allium sativum L.) contains bioactive compounds such as allicin, diallyl disulfide, and phenolic compounds that act as natural antimicrobial and antioxidant agents, thereby potentially improving the sensory quality of salted eggs. The experiment was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with four soaking duration treatments: P0 (without garlic soaking), P1 (10 days), P2 (15 days), and P3 (20 days), each with three replications. A total of 60 duck eggs were used in this study. The soaking solution was prepared from a mixture of water, salt, and garlic, with the garlic amounting to 20% of the salt weight. After soaking, the eggs were steamed for 30 minutes and then subjected to organoleptic testing by 15 semi-trained panelists on four sensory parameters—color, aroma, texture, and taste—using a 1–5 hedonic scale. Data were analyzed using ANOVA and followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) when significant differences were observed (P<0.05). The results showed that the duration of garlic soaking had a highly significant effect (P<0.01) on all organoleptic parameters. Panelists’ preference scores decreased with increasing soaking duration. Treatments P1 (10 days) and P2 (15 days) produced sensory scores that were still well accepted by the panelists, whereas P3 (20 days) resulted in a significant decline in color, aroma, and texture. It can be concluded that garlic soaking duration significantly affects the organoleptic quality of salted duck eggs, with an optimal duration of 10–15 days to achieve the best sensory characteristics.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh lama perendaman bawang putih terhadap kualitas organoleptik telur asin itik. Bawang putih (Allium sativum L) mengandung senyawa bioaktif seperti allicin, diallyl disulfide, dan senyawa fenolik yang berfungsi sebagai antimikroba dan antioksidan alami, sehingga berpotensi meningkatkan mutu sensori telur asin. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan lama perendaman, yaitu P0 (tanpa perendaman bawang putih), P1 (10 hari), P2 (15 hari), dan P3 (20 hari), masing-masing dengan tiga ulangan. Sebanyak 60 butir telur itik digunakan dalam penelitian ini. Larutan perendaman dibuat dari campuran air, garam, dan bawang putih sebanyak 20% dari berat garam. Setelah perendaman, telur dikukus selama 30 menit, kemudian diuji organoleptik oleh 15 panelis semi-terlatih terhadap empat parameter: warna, aroma, tekstur, dan rasa, menggunakan skala hedonik 1–5. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan uji Duncan (DMRT) jika terdapat perbedaan nyata (P<0,05). Hasil menunjukkan bahwa lama perendaman bawang putih berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap seluruh parameter organoleptik. Nilai kesukaan panelis menurun seiring lamanya waktu perendaman. Perlakuan P1 (10 hari) dan P2 (15 hari) menghasilkan skor sensori yang masih disukai panelis, sedangkan P3 (20 hari) menyebabkan penurunan nyata pada warna, aroma, dan tekstur. Lama perendaman bawang putih memengaruhi kualitas organoleptik telur asin itik, dan durasi optimum berada pada kisaran 10–15 hari untuk menghasilkan telur asin dengan mutu sensori terbaik

    Kualitas Pelayanan Kunjungan Keluarga Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tolitoli

    Full text link
    Penelitian ini mengeksplorasi kualitas pelayanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tolitoli dengan menggunakan 5 dimensi yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance dan empathy. Tujuan penelitian untuk kualitas pelayanan kunjungan keluarga narapidana di  Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tolitoli. Jenis Penelitian kualitatif, sumber data primer dan sekunder, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan penelitian 7 orang terdiri dari pegawai Lembaga Pemasyarakatan dan Pengunjung Narapidana. Teknik analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi tangible menunjukkan kebutuhan untuk peningkatan, terutama dalam menangani lonjakan pengunjung yang dapat menyebabkan penundaan dalam proses pelayanan. Meskipun demikian, dimensi reliability telah terpenuhi dengan baik melalui penerapan standar yang jelas dan konsisten dalam pelayanan. Responsiveness masih memerlukan perbaikan meskipun ada kemajuan dalam respons terhadap kebutuhan pengunjung. Dimensi assurance menunjukkan tantangan terkait jaminan waktu dalam pelayanan dan transparansi biaya. Sementara itu, dimensi empathy dinilai sudah baik dengan pelayanan yang ramah dan perhatian terhadap kebutuhan pengunjung. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya meningkatkan kualitas pelayanan untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung keluarga narapidana, sekaligus memastikan bahwa standar pelayanan tetap terjaga sesuai dengan regulasi yang berlaku dan harapan masyarakat.Penelitian ini mengeksplorasi kualitas pelayanan di lembaga Pemasyarakatan kelas IIB dengan menggunakan kerangka kerja Zeithaml dkk 1990 yang terdiri dari lima dimensi, yaitu Tangible, Reliability, Responsiveness, Assurance, dan Empathy. Tujuan dari penelitian untuk menganalisa Kualitas Pelayanan kunjungan keluarga Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tolitoli. Jenis Penelitian kualitatif, Jenis data primer dan sekunder, tekknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan penelitian sebanyak 7 orang terdiri dari Pegawai lembaga pemasyarakatan dan Pengunjung Narapidana. Teknik analisis data yang digunakan yaitu Pengumpulan Data, Reduksi Data, Penyajian data dan Penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi Tangible menunjukkan kebutuhan untuk peningkatan, terutama dalam menangani lonjakan pengunjung yang dapat menyebabkan penundaan dalam proses pelayanan. Meskipun demikian, dimensi Reliability telah terpenuhi dengan baik melalui penerapan standar yang jelas dan konsisten dalam pelayanan. Responsiveness masih memerlukan perbaikan meskipun ada kemajuan dalam respons terhadap kebutuhan pengunjung. Dimensi Assurance menunjukkan tantangan terkait jaminan waktu dalam pelayanan dan transparansi biaya. Sementara itu, dimensi Empathy dinilai sudah baik dengan pelayanan yang ramah dan perhatian terhadap kebutuhan pengunjung. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya terus meningkatkan kualitas pelayanan untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung keluarga Narapidana, sekaligus memastikan bahwa standar pelayanan yang tinggi tetap terjaga sesuai dengan harapan masyarakat dan regulasi yang berlaku

    PENINGKATAN PEMAHAMAN INTELEKTUAL SISWA SD MELALUI VIDEO ANIMASI INTERAKTIF BERBASIS MEDIA DIGITAL DAN PROYEKTOR DI SD

    Full text link
    Primary education plays a crucial role in establishing students’ cognitive foundations, including logical reasoning, conceptual understanding, and critical thinking skills. However, teaching and learning processes at this level often face challenges, particularly in delivering materials in a way that is engaging and aligned with children\u27s learning styles. To address these issues, this community service activity aimed to enhance students’ intellectual understanding by integrating interactive animated videos projected through digital media. The activity took place on July 15, 2025, at SD Negeri 1 Nalu, involving 33 sixth-grade students. The instructional content focused on the theme of environmental preservation within the IPAS (Science and Social Studies) subject. A participatory approach was employed, including teacher training, pre- and post-tests, animated video presentations, and interactive discussions. The results showed a significant increase in students’ comprehension, as evidenced by higher post-test scores. Students also demonstrated enthusiasm and active participation throughout the learning process. In conclusion, the integration of projector-based interactive animation proves to be an effective instructional strategy, enhancing not only students’ conceptual grasp but also fostering early awareness of environmental responsibility.Pendidikan dasar berperan penting dalam membangun fondasi berpikir siswa, baik dalam aspek logika, pemahaman konsep, maupun kemampuan berpikir kritis. Namun dalam praktiknya, proses belajar mengajar di tingkat ini sering kali kurang menarik dan belum sepenuhnya sesuai dengan cara belajar anak-anak. Untuk menjawab tantangan tersebut, kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman intelektual siswa melalui pemanfaatan media video animasi interaktif yang diproyeksikan secara visual. Kegiatan dilaksanakan pada 15 Juli 2025 di SD Negeri 1 Nalu dengan melibatkan 33 siswa kelas VI. Materi yang disampaikan berfokus pada topik pelestarian lingkungan dalam pelajaran IPAS. Metode partisipatif digunakan, mencakup pelatihan guru, pre-test dan post-test siswa, pemutaran video animasi, serta diskusi interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap materi, ditandai dengan skor post-test yang lebih tinggi dibandingkan pre-test. Siswa juga menunjukkan partisipasi aktif dan antusiasme yang tinggi selama proses pembelajaran berlangsung. Kesimpulannya, penggunaan video animasi interaktif berbasis proyektor terbukti menjadi pendekatan pembelajaran yang efektif, tidak hanya dalam meningkatkan pemahaman konseptual siswa, tetapi juga dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini

    696

    full texts

    744

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kumpulan Jurnal Universitas Madako
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇