Kumpulan Jurnal Universitas Madako
Not a member yet
744 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN DAYA TARIK PENGUNJUNG PADA OBJEK WISATA AIR TERJUN MALANE DI DESA MALANGGA KECAMATAN GALANG KABUPATEN TOLITOLI
Desa malangga adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pengembangan daya tarik wisata air terjun malane di Desa Malangga. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Dalam penelitian ini terdapat 7 informan yang dipilih secara purposive dan yang menjadi informan kunci adalah Kepala Desa Malangga. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan daya tarik wisata Air Terjun Malane belum berjalan dengan maksimal karena adanya kawasan dari instansi Dinas Kehutanan yang tidak bisa dikelola tanpa ada izin, akses jalan untuk menuju tempat wisata yang kurang bagus (Bebatuan, curam dan ketika hujan licin), pihak pemerintah Desa Malangga tidak fokus melakukan pengembangan daya tarik wisata tersebut, sehingga hal ini menyebabkan pengembangan daya tarik wisata Air Terjun Malane belum menunjukkan hasil yang optimal.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana Pengembangan daya tarik pengujung pada objek wisata air terjun malane desa malangga kecamatan galang kabupaten tolitoli.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekataran deskriptif, Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Dalam penelitian ini terdapat 7 informan yang dipilih dan yang menjadi informan kunci adalah kepala desa malangga. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan objek wisata Air Terjun Malane Desa Malangga Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli belum berjalan dengan maksimal karena adanya kawasan dari instansi Dinas Kehutanan yang tidak bisa dikelola tanpa ada izin, akses jalan untuk menuju tempat wisata yang kurang bagus (Bebatuan, curam dan ketika hujan licin), pihak pemerintah Desa Malangga tidak memfokuskan untuk melakukan pengembangan objek wisata tersebut serta tindakan yang dilakukan untuk pengembangan tidak ada sama sekali, sehingga hal inilah yang menyebabkan objek wisata Air Terjun Malane belum ada pengembangan atau pengelolaa
EFEKTIFITAS USULAN PROGRAM DESA MULYASARI PADA MUSRENBANG KECAMATANTAN LAMPASIO KABUPATEN TOLITOLI
Musrenbang tingkat kecamatan merupakan salah satu agenda tahunan yang menjadi wadah bagi desa untuk menyampaikan usulan program, termasuk usulan pembangunan infrastruktur desa seperti jalan, kantor desa, balai desa dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas pelaksanaan musrenbang pada tingkat kecamatan dalam rangka realisasi usulan program Desa Mulyasari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Ada 8 informan yang dipilih melalui teknik purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas musrenbang di tingkat kecamatan dalan merealisasikan usulan Desa Mulyasari belum berjalan efektif karena usulan program Desa Mulyasari belum menjadi usulan prioritas di tingkat kecamatan. Pada indikator pencapaian tujuan menunjukkan bahwa efektivitas pelaksanaan musrenbang Kecamatan Lampasio belum mencapai hasil yang diharapkan. Hal ini terlihat dari ketidaksesuaian antara target yang ditetapkan pada usulan program Desa Mulyasari dengan harapan pemerintah desa dan masyarakat lokal. Indikator integrasi, pemerintah kecamatan telah mengambil keputusan terkait usulan program, namun pemerintah Desa Mulyasari belum melakukan sosialisasi kembali kepada masyarakat mengenai hasil Musrenbang tingkat kecamatan. Selain itu, pemerintah kecamatan kurang memberikan informasi yang memadai tentang pelaksanaan Musrenbang desa, sehingga pemerintah desa terhambat mempersiapkan usulan-usulan lainnya yang sangat mendesak di tingkat desa. Indikator adaptasi, pemerintah Desa Mulyasari belum menyampaikan hasil musrenbang kepada masyarakat. Kondisi ini menyebabkan kerap kali masyarakat merasa kebingungan dan sering mempertanyakan status atau hasil usulan program yang dibahas pada tingkat kecamatan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan Musrenbang tingkat kecamatan dalam realisasi usulan program Desa Mulyasari Kecamatan Lampasio, Kabupaten Tolitoli. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini terdapat 8 informan yang dipilih melalui teknik purposive. Hasil penelitian yang di analisis dengan teori pengukuran efektifitas menurut Duncan Ricard, 2005 terkait efektivitas musrenbang tingkat kecamatan dalan program usulan Desa Mulyasari Kecamatan Lampasio Kabupaten Tolitoli, belum berjalan secara efektif. Usulan Program Desa Mulyasari belum menjadi usulan prioritas tingkat kecamatan. 1.Pencapaian tujuan menunjukkan bahwa efektivitas pelaksanaan Musrenbang Kecamatan Lampasio, Kabupaten Tolitoli, belum mencapai tingkat yang diharapkan. Hal ini terutama terlihat dari ketidaksesuaian antara kurun waktu pelaksanaan dan target yang ditetapkan pada usulan program Desa Mulyasari tahun 2022 dan 2023 dengan harapan pemerintah desa maupun masyarakat setempat.2.integrasi, pemerintah kecamatan telah mengambil keputusan terkait usulan program. Namun, pemerintah Desa Mulyasari belum melakukan sosialisasi ulang kepada masyarakat mengenai hasil Musrenbang tingkat kecamatan. Selain itu, pemerintah kecamatan kurang memberikan informasi yang memadai tentang pelaksanaan Musrenbang desa, sehingga pemerintah Desa Mulyasari mengalami kekurangan dalam mempersiapkan usulan-usulan lain yang sangat mendesak bagi desa.3.Adaptasi, pelaksanaan Musrenbang Kecamatan dalam pengusulan program oleh pemerintah Desa Mulyasari belum menyampaikan hasil Musrenbang tingkat kecamatan kepada masyarakat. Kondisi ini menyebabkan masyarakat Desa Mulyasari kerap kali merasa kebingungan dan sering mempertanyakan status hasil usulan program yang dibahas pada tingkat kecamatan
Implementasi Kebijakan Pembebasan Bersyarat Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tolitoli
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi kebijakan pembebasan bersyarat narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tolitoli dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Informan sebanyak 7 orang dipilih melalui teknik purposive. Analisis data mengacu pada pendekatan Miles dan Huberman meliputi; pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan. Teori yang digunakan merujuk pada indikator implementasi kebijakan menurut Edward III, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi. Hasil penelitian, meskipun indikator disposisi dan struktur birokrasi telah berjalan dengan baik, namun indikator komunikasi dan sumber daya masih menghadapi hambatan. Komunikasi terkait kebijakan pembebasan bersyarat belum optimal terutama dalam hal teknis pelaksanaan, sementara sumber daya seperti beban kerja yang berat dan kurangnya pengetahuan teknis staf menghadirkan tantangan tersendiri. Namun demikian, para pelaksana kebijakan telah menunjukkan komitmen dan integritas yang tinggi dalam menjalankan tanggung jawab. Dalam hal struktur birokrasi, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tolitoli telah mengimplementasikan kebijakan pembebasan bersyarat dengan baik berdasarkan petunjuk teknis dan aturan yang ada serta berkoordinasi dengan lembaga vertikal seperti Kejaksaan Negeri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan pembebasan bersyarat narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tolitoli dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Informan sebanyak 7 orang dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis data mengacu pada pendekatan Miles dan Huberman, yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Teori yang digunakan merujuk pada indikator implementasi kebijakan menurut George Edward III, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun indikator disposisi dan struktur birokrasi telah terpenuhi dengan baik, indikator komunikasi dan sumber daya masih menghadapi hambatan. Komunikasi tentang kebijakan pembebasan bersyarat belum optimal terutama dalam hal teknis pelaksanaan, sementara sumber daya seperti beban kerja yang berat dan kurangnya pengetahuan teknis di antara staf menghadirkan tantangan tersendiri. Namun demikian, para pelaksana kebijakan telah menunjukkan komitmen yang tinggi dan integritas dalam menjalankan tugas mereka. Dalam hal struktur birokrasi, yaitu Lapas Kelas IIB Tolitoli telah mengimplementasikan kebijakan pembebasan bersyarat dengan baik berdasarkan petunjuk teknis dan aturan yang ada dan berkoordinasi dengan baik dengan lembaga vertikal seperti Bapas dan Kejaksaan Negeri, dalam proses persyaratan administrasi
MENINGKATKAN KUALITAS PETERNAKAN LOKAL: DISKUSI TERBUKA MANAJEMEN PEMELIHARAAN KAMBING DI DESA TINABOGAN KABUPATEN TOLITOLI
Tinabogan Village in Tolitoli Regency has great potential for goat farming development, but still faces various challenges in goat husbandry management. This community service activity aims to improve the capacity of farmers through a participatory approach in the form of open discussions. The method used refers to the Participatory Rural Appraisal (PRA) concept, with stages including problem identification, conducting discussion forums, and evaluating and developing recommendations. The activity was held at the Tinabogan Village Hall and involved 22 local farmers and resource persons from the Madako University Tolitoli Community Service Program (KKN) team. The discussion results revealed key issues such as suboptimal feeding, poor pen sanitation, limited animal health services, and the lack of production records. The discussion forum also generated several local solutions and good practices that can be directly implemented by farmers. This activity demonstrates that a dialogic and participatory approach can improve farmers\u27 practical knowledge and strengthen collaboration between actors. Thus, open discussions are an effective medium for promoting sustainable empowerment in the rural livestock sector,Desa Tinabogan di Kabupaten Tolitoli memiliki potensi besar dalam pengembangan peternakan kambing, namun masih menghadapi berbagai kendala dalam manajemen pemeliharaan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peternak melalui pendekatan partisipatif berupa diskusi terbuka. Metode yang digunakan mengacu pada konsep Participatory Rural Appraisal (PRA), dengan tahapan meliputi identifikasi permasalahan, pelaksanaan forum diskusi, hingga evaluasi dan penyusunan rekomendasi. Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Tinabogan dan melibatkan 22 peternak lokal serta narasumber dari tim KKN Universitas Madako Tolitoli. Hasil diskusi mengungkap permasalahan utama seperti pemberian pakan yang belum optimal, sanitasi kandang yang kurang terjaga, keterbatasan layanan kesehatan hewan, dan ketiadaan pencatatan produksi. Forum diskusi ini juga menghasilkan sejumlah solusi lokal dan praktik baik yang dapat diterapkan langsung oleh peternak. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan dialogis dan partisipatif mampu meningkatkan pengetahuan praktis peternak serta memperkuat kolaborasi antarpelaku. Dengan demikian, diskusi terbuka menjadi media efektif dalam mendorong pemberdayaan berkelanjutan di sektor peternakan pedesaan
EDUKASI STOP BULLYING SEBAGAI STRATEGI MEMBANGUN SEKOLAH RAMAH ANAK DI SD NEGERI 3 BANGKIR
This community service is motivated by the rampant cases of bullying in elementary schools that can disrupt the psychological, social, and academic development of students. The purpose of this community service is to describe the implementation of Stop Bullying education as a strategy to build a child-friendly school at SD Negeri 3 Bangkir. The community service uses a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through observation, interviews with teachers and students, and documentation of activities. The results of the community service show that the Stop Bullying education program is implemented through socialization, thematic learning, and extracurricular activities that instill the values of tolerance, empathy, and skills to resolve conflicts without violence. In addition, the support of teachers, principals, and parents plays an important role in the success of the program. The community service findings indicate that Stop Bullying education is able to reduce the intensity of bullying, increase student awareness of the impact of Bullying, and create a safer, more inclusive, and child-friendly school environment. Thus, this strategy can be a model for implementation in other elementary schools to realize character-based education and protect children\u27s rights.Pengabdian ini dilatar belakangi oleh maraknya kasus perundungan (bullying) dilingkuangan sekolah dasar yang dapat mengganggu perkembangan psikologis,social, dan akademik peserta didik.Tujuan pengabdian ini adalah untuk mendeskriosikan pelaksanaan edukasi Stop bullying sebagai strategi membangun sekolah ramah anak di SD Negri 3 Bangkir. Pengabdian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpul melalui observasi, wawancara dengan guru dan siswa, serta dukumentasi kegiatan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa program edukasi Stop Bullying dilaksanakan melalui sosialisasi, pembelajaran tematik, dan kegiatan ekstrakurikuler yang menanamkan nilai toleransi, empati, serta keterampilan meyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Selain itu, dukungan guru, kepala sekolah, dan orang tua berperan penting dalam keberhasilan program. Temuan pengabdian mengindikasikan bahwa edukasi Stop bullying mampu menurunkan intensitas perundungan, meningkatkan kesadaran siswa tentanf dampak Bullying, serta menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, inkluksi, dan ramah anak. Dengan demikian, strategi ini dapat menjadi model implementasi di sekolah dasar lain untuk mewujudkan Pendidikan yang berkarakter dan melindungi hak-hak anak
PERAN STRATEGIS PEMETAAN KAWASAN DALAM MEWUJUDKAN TATA RUANG DESA OGOGILI YANG BERKELANJUTAN
Pemetaan kawasan desa merupakan salah satu langkah penting dalam mendukung perencanaan tata ruang yang efektif dan berkelanjutan. Melalui pemetaan, potensi dan permasalahan yang ada di desa dapat diidentifikasi secara detail, mulai dari kondisi fisik wilayah, penggunaan lahan, infrastruktur, hingga aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran pemetaan kawasan dalam menunjang penyusunan tata ruang desa yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan masyarakat lokal. Metode yang digunakan adalah studi literatur serta analisis deskriptif terhadap praktik pemetaan desa di beberapa wilayah. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemetaan kawasan berfungsi sebagai dasar perumusan kebijakan pembangunan, penentuan zonasi pemanfaatan lahan, serta pengembangan infrastruktur yang sesuai dengan karakteristik desa. Dengan demikian, pemetaan kawasan tidak hanya menjadi alat teknis, tetapi juga sarana strategis untuk mewujudkan tata ruang desa yang tertata, partisipatif, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, setiap Pemerintah Desa harus melakukan penataan ruang desa terlebih dahulu sebagai dasar penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa, sehingga mengetahui potensi dan rencana pembangunan yang ada di wilayahnya, serta menyadari pentingnya dilakukan penataan ruang desa (Rohiani2021)
Penanaman Pohon Di Desa Wisata Malangga: Solusi Hijau Menghadapi Bencana Banjir
Kegiatan penanaman pohon di bantaran sungai di Desa Wisata Malangga merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen Prodi Ilmu Administrasi Negara dan dosen Prodi Ilmu Pemerintahan serta melibatkan mahasiswa Fisip Universitas Madako Tolitoli, kegiatan pengabdian ini merupakan hasil kerja sama dengan Kejaksaan Negeri Tolitoli, anggota Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Malangga, beberapa instansi terkait di Kabupaten Tolitoli, Komunitas Bumi Kita, Pemerintah Desa Malangga dan peran serta masyarakat lokal. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat lokal sebagai upaya mitigasi bencana serta pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Metode pelaksanaan meliputi tahapan perencanaan, penetapan lokasi, penanaman bibit pohon dan pemeliharaan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa keterlibatan berbagai pihak dan peran aktif pemerintah desa serta masyarakat lokal mampu meningkatkan efektivitas pelestarian lingkungan khususnya di wilayah bantaran sungai demi menekan kerugian dari bencana banjir
Pemberdayaan Peternak Sapi Melalui Teknologi Fermentasi Rumput Gajah Dan Daun Gamal Di Kelurahan Tambun Kabupaten Tolitoli
This community service activity aims to improve the knowledge and skills of cattle breeders in Tambun Village in processing local green fodder through fermentation technology. The main problems cattle breeders face are the limited availability of quality feed during the dry season and the minimal use of feed processing technology. The implementation method includes socialisation, theoretical training, practice of fermenting green fodder based on elephant grass and gamal leaves, and evaluation of fermentation results. The activity results indicate increased livestock breeders\u27 understanding of fermentation technology, success in producing fermented products suitable for livestock, and high enthusiasm among farmers to develop independently. This activity has had a positive impact in the form of increasing human resource capacity in the livestock sector, opening up opportunities for further development through direct application in livestock maintenance and strengthening the institutionalisation of livestock breeder groups in Tambun Village.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak sapi di Desa Tambun dalam mengolah pakan hijauan lokal melalui penerapan teknologi fermentasi. Permasalahan utama yang dihadapi peternak adalah keterbatasan ketersediaan pakan berkualitas saat musim kemarau serta minimnya pemanfaatan teknologi pengolahan pakan. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan teori, praktik fermentasi hijauan berbasis rumput gajah dan daun gamal, serta evaluasi hasil fermentasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peternak terhadap teknologi fermentasi, keberhasilan dalam pembuatan produk fermentasi yang layak diberikan pada ternak, serta tingginya antusiasme peternak untuk mengembangkan secara mandiri. Kegiatan ini memberikan dampak positif berupa peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang peternakan, serta membuka peluang pengembangan lanjutan melalui penerapan langsung pada pemeliharaan ternak dan penguatan kelembagaan kelompok peternak di Kelurahan Tambun
Pengaruh Jenis Kemasan dan Suhu Penyimpanan Terhadap Kualitas Mutu Organoleptik dan Fisik Buah Salak Pondoh
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh jenis kemasan (PP, PE, dan vakum) dan suhu penyimpanan (suhu ruang dan suhu rendah) terhadap mutu salak pondoh potong (Salacca edulis Reinw). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor suhu dan dua kali pengulangan (duplo) pada setiap perlakuan. Analisis data dilakukan secara deskriptif, sedangkan penentuan masa simpan menggunakan metode Extend Storage Study (ESS). Uji organoleptik dilakukan dengan uji hedonik oleh 15 panelis semi-terlatih terhadap parameter warna, rasa, aroma, dan tekstur selama penyimpanan 0–3 hari. Uji fisik meliputi pengukuran kecerahan warna (L*), kadar gula (°Brix), dan susut bobot. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi kemasan vakum dan suhu rendah paling efektif dalam mempertahankan mutu organoleptik dan fisik, serta memperpanjang masa simpan salak pondoh potong dibandingkan perlakuan lainnya.Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh jenis kemasan (PP, PE, dan vakum) dan suhu penyimpanan (suhu ruang dan suhu rendah) terhadap mutu salak pondoh potong (Salacca edulis Reinw). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor suhu dan dua kali pengulangan (duplo) pada setiap perlakuan. Analisis data dilakukan secara deskriptif, sedangkan penentuan masa simpan menggunakan metode Extend Storage Study (ESS). Uji organoleptik dilakukan dengan uji hedonik oleh 15 panelis semi-terlatih terhadap parameter warna, rasa, aroma, dan tekstur selama penyimpanan 0–3 hari. Uji fisik meliputi pengukuran kecerahan warna (L*), kadar gula (°Brix), dan susut bobot. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi kemasan vakum dan suhu rendah paling efektif dalam mempertahankan mutu organoleptik dan fisik, serta memperpanjang masa simpan salak pondoh potong dibandingkan perlakuan lainnya
Perbandingan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan di Kecamatan Sakra Timur Kabupaten Lombok Timur
Sektor pertanian, khususnya usahatani padi sawah, memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan pendapatan usahatani padi sawah berdasarkan status kepemilikan lahan (milik sendiri, sewa, dan sakap) di Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian dilakukan di tiga desa dengan produksi padi tertinggi menggunakan metode Snowball Sampling terhadap 45 petani. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif, termasuk analisis biaya dan pendapatan, serta uji beda ANOVA dan post hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi per hektar relatif serupa pada ketiga sistem, yaitu berkisar antara Rp 28 juta–Rp 29 juta, dengan biaya tenaga kerja sebagai komponen terbesar. Pendapatan usahatani padi sawah tertinggi diperoleh petani pemilik lahan (Rp 8.992.416/ha), diikuti petani sewa (Rp 8.509.205/ha), dan terendah pada petani sakap (Rp 5.776.509/ha). Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan (F = 9,350; p < 0,001), dan uji post hoc mengungkapkan bahwa perbedaan signifikan terdapat antara kelompok milik sendiri dengan sakap, serta sewa dengan sakap, sedangkan perbedaan antara milik sendiri dan sewa tidak signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa status kepemilikan lahan berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani, di mana sistem sakap cenderung menurunkan keuntungan penggarap. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan dalam meningkatkan kesejahteraan petani padi sawah di daerah penelitian.Sektor pertanian, khususnya usahatani padi sawah, memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan pendapatan usahatani padi sawah berdasarkan status kepemilikan lahan (milik sendiri, sewa, dan sakap) di Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian dilakukan di tiga desa dengan produksi padi tertinggi menggunakan metode Snowball Sampling terhadap 45 petani. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif, termasuk analisis biaya dan pendapatan, serta uji beda ANOVA dan post hoc Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi per hektar relatif serupa pada ketiga sistem, yaitu berkisar antara Rp 28 juta–Rp 29 juta, dengan biaya tenaga kerja sebagai komponen terbesar. Pendapatan usahatani padi sawah tertinggi diperoleh petani pemilik lahan (Rp 8.992.416/ha), diikuti petani sewa (Rp 8.509.205/ha), dan terendah pada petani sakap (Rp 5.776.509/ha). Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan (F = 9,350; p < 0,001), dan uji post hoc mengungkapkan bahwa perbedaan signifikan terdapat antara kelompok milik sendiri dengan sakap, serta sewa dengan sakap, sedangkan perbedaan antara milik sendiri dan sewa tidak signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa status kepemilikan lahan berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani, di mana sistem sakap cenderung menurunkan keuntungan penggarap. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan dalam meningkatkan kesejahteraan petani padi sawah di daerah penelitian