Kumpulan Jurnal Universitas Madako
Not a member yet
744 research outputs found
Sort by
UPAYA PENCEGAHAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA TANAH MELALUI PENYULUHAN DI DESA BANAGAN
Land disputes are one of the most common social problems in rural communities, often caused by unclear boundaries, overlapping ownership, inheritance issues, and limited legal awareness regarding land administration. This community service program aimed to provide legal counseling to the people of Banagan Village, Dampal Utara District, as both a preventive and curative effort to address and resolve land disputes. The activity was carried out through legal counseling sessions and interactive discussions involving 50 participants, including village officials, community leaders, and landowners. The results indicate a significant increase in participants’ understanding of land certification, preventive measures, and dispute resolution mechanisms through village deliberation, mediation, and litigation. Based on the pre-test and post-test results, participants’ understanding improved from around 25–40% before the counseling to 70–85% after the activity. These findings confirm that legal counseling is effective in enhancing legal awareness, strengthening the culture of deliberation, and providing preventive solutions to potential social conflicts in rural areas. Therefore, this program makes a tangible contribution to building a more legally conscious, just, and harmonious society.Sengketa tanah merupakan salah satu permasalahan sosial yang sering muncul di masyarakat pedesaan akibat ketidakjelasan batas wilayah, tumpang tindih kepemilikan, pewarisan yang tidak jelas, serta minimnya kesadaran hukum masyarakat mengenai administrasi pertanahan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan hukum kepada masyarakat Desa Banagan, Kecamatan Dampal Utara, sebagai langkah preventif sekaligus kuratif dalam mencegah dan menyelesaikan sengketa tanah. Metode pelaksanaan kegiatan berupa penyuluhan dan diskusi interaktif dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri dari aparat desa, tokoh masyarakat, dan warga pemilik tanah. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman masyarakat mengenai pentingnya sertifikat tanah, mekanisme pencegahan sengketa, serta jalur penyelesaian konflik baik melalui musyawarah desa, mediasi, maupun jalur litigasi. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, pemahaman peserta meningkat dari kisaran 25–40% sebelum penyuluhan menjadi 70–85% sesudah penyuluhan. Temuan ini menegaskan bahwa penyuluhan hukum efektif dalam meningkatkan kesadaran hukum masyarakat, memperkuat budaya musyawarah, serta memberikan solusi preventif terhadap potensi konflik sosial di pedesaan. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi nyata dalam mendukung terciptanya masyarakat yang lebih sadar hukum, adil, dan harmonis
PERAN EDUKASI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM MENINGKATKAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN DAN PARTISIPASI KEWARGAAN DI KALANGAN MASYARAKAT DI DESA SESE
This community service aims to analyse the role of education in empowering women to increase environmental awareness and civic participation among the Sese Village community. Women\u27s involvement in realising sustainable village development is low. Using a descriptive qualitative approach, activities were implemented in counselling, training, and mentoring for village women\u27s groups. Data collection was conducted through interviews, observations, and documentation of activities. The study results indicate that structured and participatory education can increase women\u27s understanding and awareness of the importance of protecting the environment and their role in social community activities, such as waste management, reforestation, and village deliberations. This education also strengthens women\u27s roles as drivers of change in the family and the surrounding environment. Thus, women\u27s empowerment education activities have proven effective in fostering environmental awareness and increasing civic participation, and can be used as a strategy to support participatory-based village development.Pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis peran edukasi dalam pemberdayaan perempuan guna meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan partisipasi kewargaan di kalangan masyarakat Desa Sese. Rendahnya keterlibatan perempuan dalam mengwujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, kegiatan dilaksanakan dalam bentuk penyeluhan, pelatihan, dan pendampingan terhadap kelompok perempuan desa. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi yang terstruktur dan berbasis partisipasi mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran perempuan terhadap pentingnya menjaga lingkungan peran mereka dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti pengelolaan sampah, penghijauan, dan musyawarah desa. Edukasi ini juga memperkuat peran perempuan sebagai penggerak perubahan dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, kegiatan edukasi pemberdayaan perempuan terbukti efektif dalam menumbuhkan kepedulian lingkungan dan meningkatkan partisipasi kewargaan, serta dapat dijadikan strategi dalam mendukung pembangunan desa berbasis partisipatif
Implementasi sistem katalogisasi digital dalam meningkatkan efisiensi layanan perpustakaan sekolah
From the understanding that OPAC is a catalog stored on a PC (digitized), so it can be accessed online and used to search for information about collections in the library. So that users can easily and quickly search for various book collections in the library. In conducting this research I used the Library research method (Literature Study) in searching for data and sources related to catalog digitization. Purpose and Function of OPAC There are several purposes for creating OPAC, including: Users can directly access the library database. Reduce costs and time spent by users to search for information. Reduce the workload of database management to improve work efficiency. Speed up information searches. Able to meet the information needs of the community comprehensively. In the digital age, libraries are a place that must keep up with technological developments. Because libraries are places where people fulfill their information needs. To meet library information needs in the short term, libraries must have a catalog. Therefore, the tool of the current digitalization era, libraries must provide OPAC. OPAC is a computer catalog that can be used online and can be used to track information on library collections and other library information.Dari pengertian bahwa OPAC adalah katalog yang disimpan di PC (ter digitalisasi), sehingga dapat diakses secara online dan digunakan untuk mencari informasi tentang koleksi di perpustakaan. Agar pengguna dapat dengan mudah dan cepat mencari berbagai macam koleksi buku di perpustakaan. Dalam melakukan penelitian ini saya menggunakan metode Library research (Studi Pustaka) dalam mencari data dan sumber sumber yang terkait dengan digitalisasi katalog. Tujuan dan Fungsi OPAC Ada beberapa yang menjadi tujuan diciptakannya OPAC, antara lain ialah :Pengguna dapat langsung mengakses database perpustakaan. Mengurangi biaya dan waktu yang dihabiskan pengguna untuk mencari informasi.Kurangi beban kerja manajemen basis data untuk meningkatkan efisiensi kerja. Mempercepat pencarian informasi. Mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat secara komprehensif. Di zaman digital, perpustakaan merupakan wadah yang wajib mengikuti perkembangan teknologi. Karena perpustakaan merupakan tempat dimana orang-orang mencukupi keperluan informasinya. Untuk memenuhi keperluan nformasi perpustakaan dalam jangka pendek, perpustakaan harus memiliki katalog. Oleh karena itu, alat era digitalisasi saat ini, perpustakaan harus menyediakan OPAC. OPAC ialah katalog komputer yang bisa digunakan secara daring serta dapat diperuntukkan melacak informasi koleksi perpustakaan dan informasi perpustakaan lainny
Study of Chicory Utilization as Animal Feed: Analysis of Potential and Implementation Challenges in the Tropics
Cichorium intybus L. (chicory) is a perennial forage with considerable potential to support sustainable livestock systems, particularly in tropical regions. This study aims to evaluate its nutritional composition, agronomic performance, and livestock response. A literature-based review supported by field trial data was employed, focusing on nutrient analysis, cultivation practices, animal feeding performance, and economic viability. Quantitative findings indicate that chicory contains 14–22% crude protein and 10–20% inulin (dry weight basis), with forage yields reaching 8–12 t DM/ha/year under optimal management. Feeding trials demonstrate improvements in milk yield by 5–12%, reductions in nitrogen excretion by 10–15%, and decreases in gastrointestinal parasite load by 30–40% compared with conventional grass-based diets. Agronomically, chicory thrives in well-drained soils with balanced fertilization and responds positively to high-frequency irrigation and integrated pest management, although breeding for tropical adaptation remains essential. Despite its high nutritive value and bioactive properties, economic challenges such as high input costs and limited market access constrain broader adoption. Overall, chicory represents a promising alternative forage crop that enhances animal productivity, health, and environmental efficiency, while contributing to climate-resilient livestock production systems in tropical settings.Cichorium intybus L. (chicory) is a perennial forage with considerable potential to support sustainable livestock systems, particularly in tropical regions. This study aims to evaluate its nutritional composition, agronomic performance, and livestock response. A literature-based review supported by field trial data was employed, focusing on nutrient analysis, cultivation practices, animal feeding performance, and economic viability. Quantitative findings indicate that chicory contains 14–22% crude protein and 10–20% inulin (dry weight basis), with forage yields reaching 8–12 t DM/ha/year under optimal management. Feeding trials demonstrate improvements in milk yield by 5–12%, reductions in nitrogen excretion by 10–15%, and decreases in gastrointestinal parasite load by 30–40% compared with conventional grass-based diets. Agronomically, chicory thrives in well-drained soils with balanced fertilization and responds positively to high-frequency irrigation and integrated pest management, although breeding for tropical adaptation remains essential. Despite its high nutritive value and bioactive properties, economic challenges such as high input costs and limited market access constrain broader adoption. Overall, chicory represents a promising alternative forage crop that enhances animal productivity, health, and environmental efficiency, while contributing to climate-resilient livestock production systems in tropical settings
The Impact of Coastal Livestock Activities on the Health of Dugong (Dugong dugon) Habitats: A One Health Approach in Tropical Regions
The Dugong dugon a vulnerable marine herbivore, is closely tied to the health of seagrass ecosystems, which are increasingly threatened by land-based livestock activities in tropical coastal areas. This review explores how nutrient runoff, heavy metal contamination, and microplastics “primarily from livestock farming” contribute to eutrophication, biodiversity loss, and degradation of dugong forage quality. Moreover, the proximity of livestock to marine environments raises risks of zoonotic disease transmission, physiological stress, and mortality in dugongs. Using a One Health framework, this article highlights the ecological and health implications of terrestrial–marine interactions and identifies gaps in research and policy. Recommendations include integrated monitoring, sustainable livestock management, and transdisciplinary collaboration to protect dugong populations and their habitats.The Dugong dugon a vulnerable marine herbivore, is closely tied to the health of seagrass ecosystems, which are increasingly threatened by land-based livestock activities in tropical coastal areas. This review explores how nutrient runoff, heavy metal contamination, and microplastics “primarily from livestock farming” contribute to eutrophication, biodiversity loss, and degradation of dugong forage quality. Moreover, the proximity of livestock to marine environments raises risks of zoonotic disease transmission, physiological stress, and mortality in dugongs. Using a One Health framework, this article highlights the ecological and health implications of terrestrial–marine interactions and identifies gaps in research and policy. Recommendations include integrated monitoring, sustainable livestock management, and transdisciplinary collaboration to protect dugong populations and their habitats
Kulit Sehat, Remaja Hebat: Edukasi Pemilihan Kosmetik Dan Skincare Yang Tepat Untuk Remaja Putri Desa Sobokerto
Sekitar 80% remaja putri di Indonesia mengalami masalah kulit seperti jerawat karena ketidakseimbangan hormon, masa pubertas, dan faktor genetik. Hal ini menyebabkan banyak wanita mulai merawat kulit wajah mereka sejak usia remaja. Desa Sobokerto yang terletak di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, merupakan wilayah dengan karakteristik penduduk mayoritas remaja putri yang memiliki keterbatasan akses informasi mengenai pemilihan kosmetik dan skincare. Berdasarkan data observasi di lapangan, diketahui kondisi sosial ekonomi didominasi oleh keluarga dengan pendapatan menengah ke bawah serta minimnya fasilitas layanan kesehatan menyebabkan tingginya risiko penggunaan produk kecantikan yang tidak sesuai dan berpotensi merugikan kesehatan kulit. Maka dari itu, tujuan dilakukan kegiatan edukasi pemilihan kosmetik dan skincare yang aman yaitu untuk memberikan edukasi yang tepat dan terarah kepada remaja, khususnya Desa Sobokerto agar mereka dapat memahami prinsip dasar perawatan kulit. Metode yang digunakan yaitu sosialisasi yang dipadukan dengan sesi diskusi. Kegiatan sosialisasi dilakukan secara interaktif yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman signifikan di kalangan remaja. Banyak peserta yang berbagi pengalaman pribadi mengenai masalah kulit yang mereka alami dan merasa terbantu dengan informasi yang didapat dari sosialisasi ini. Peserta memperoleh pengetahuan yang berguna dan dapat langsung diterapkan dalam memilih produk kosmetik yang aman dan sesuai dengan kebutuhan kulit mereka.Sekitar 80% remaja putri di Indonesia mengalami masalah kulit seperti jerawat karena ketidakseimbangan hormon, masa pubertas, dan faktor genetik. Hal ini menyebabkan banyak wanita mulai merawat kulit wajah mereka sejak usia remaja. Desa Sobokerto yang terletak di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, merupakan wilayah dengan karakteristik penduduk mayoritas remaja putri yang memiliki keterbatasan akses informasi mengenai pemilihan kosmetik dan skincare. Berdasarkan data observasi di lapangan, diketahui kondisi sosial ekonomi didominasi oleh keluarga dengan pendapatan menengah ke bawah serta minimnya fasilitas layanan kesehatan menyebabkan tingginya risiko penggunaan produk kecantikan yang tidak sesuai dan berpotensi merugikan kesehatan kulit. Maka dari itu, tujuan dilakukan kegiatan edukasi pemilihan kosmetik dan skincare yang aman yaitu untuk memberikan edukasi yang tepat dan terarah kepada remaja, khususnya Desa Sobokerto agar mereka dapat memahami prinsip dasar perawatan kulit. Metode yang digunakan yaitu sosialisasi yang dipadukan dengan sesi diskusi. Kegiatan sosialisasi dilakukan secara interaktif yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman signifikan di kalangan remaja. Banyak peserta yang berbagi pengalaman pribadi mengenai masalah kulit yang mereka alami dan merasa terbantu dengan informasi yang didapat dari sosialisasi ini. Peserta memperoleh pengetahuan yang berguna dan dapat langsung diterapkan dalam memilih produk kosmetik yang aman dan sesuai dengan kebutuhan kulit mereka
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pendidikan melalui Program PELITA BORNEO: Kajian Program Peningkatan Kualitas Lingkungan oleh TJSL PT. KPI Unit Balikpapan
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pemberdayaan masyarakat pada Program Pelita Borneo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, validitas data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan tringaluasi data. Hasil penelitian mengenai proses pemberdayaan masyarakat pada Program Pelita Borneo yaitu Pada tahap pertama, penyadaran dilakukan dengan sosialisasi dan diskusi kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah. Proses ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Tahap kedua adalah transformasi kemampuan, di mana masyarakat diberikan pendidikan nonformal berupa pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam mengolah sampah menjadi produk yang berguna. Tahap terakhir adalah peningkatan kemampuan intelektual untuk membangun kemandirian masyarakat dengan memberikan kuasa masyarakat untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari dengan pendampingan awal dari pengelola program.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pemberdayaan masyarakat pada Program Pelita Borneo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, validitas data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan tringaluasi data. Hasil penelitian mengenai proses pemberdayaan masyarakat pada Program Pelita Borneo yaitu Pada tahap pertama, penyadaran dilakukan dengan sosialisasi dan diskusi kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah. Proses ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Tahap kedua adalah transformasi kemampuan, di mana masyarakat diberikan pendidikan nonformal berupa pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam mengolah sampah menjadi produk yang berguna. Tahap terakhir adalah peningkatan kemampuan intelektual untuk membangun kemandirian masyarakat dengan memberikan kuasa masyarakat untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari dengan pendampingan awal dari pengelola program
Pengaruh Pemberian Minyak Daun Cengkeh (Syzgium aromaticum L) terhadap Cita Rasa dan Daya Simpan Olahan Nugget Ayam
This study aimed to determine the effect of clove leaf oil (Syzgium aromaticum L) addition on the flavor and shelf life of chicken nuggets. The experiment was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments and five replications. The treatments were P0 (without clove leaf oil), P1 (addition of 4 mL clove leaf oil), P2 (8 mL), and P3 (12 mL). The observed parameters included organoleptic evaluation of flavor (aroma, color, texture) and the shelf life of chicken nuggets. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), and significant differences were further tested using appropriate post-hoc tests. The results showed that clove leaf oil significantly affected the improvement of flavor and shelf life of chicken nuggets. The best treatment was obtained from the addition of 8 mL clove leaf oil, which produced the most preferred aroma and texture as well as a longer shelf life compared to other treatments.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak daun cengkeh (Syzgium aromaticum L) terhadap cita rasa dan daya simpan olahan nugget ayam. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas P0 (tanpa pemberian minyak daun cengkeh), P1 (penambahan 4 mL minyak daun cengkeh), P2 (8 mL), dan P3 (12 mL). Parameter yang diamati meliputi uji organoleptik terhadap cita rasa (aroma, warna, tekstur) serta daya simpan nugget ayam. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA), dan apabila terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji lanjut yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian minyak daun cengkeh berpengaruh nyata terhadap peningkatan cita rasa dan daya simpan nugget ayam. Perlakuan terbaik diperoleh pada penambahan 8 mL minyak daun cengkeh yang menghasilkan aroma dan tekstur paling disukai panelis serta daya simpan yang lebih lama dibandingkan perlakuan lainnya
Optimalisasi Jumlah Bibit dan Dosis Pupuk Organik Magau terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) Varietas Inpari 32
This study aimed to determine the effect of the number of seeds per planting hole and the dose of magau organic fertilizer on the growth and yield of Inpari 32 rice variety. The study was conducted in Ginunggung Village, Tolitoli Regency, Central Sulawesi, from December 2023 to May 2024 using a 2×3 factorial Randomized Block Design (RAK) with 27 experimental units. The results showed a significant interaction between the number of seeds and organic fertilizer on plant height at 15 days after planting and wet grain weight, with the best combination at 7 seeds per planting hole and a fertilizer dose of 2 kg (20 tons/ha). The number of seeds significantly affected plant height, number of tillers, number of panicles, and wet grain weight, while magau organic fertilizer significantly affected plant height, number of tillers, and dry grain weight. Several other parameters, such as panicle length, number of filled and empty grains, grain weight per plot, and 1,000-grain weight, did not show a significant effect.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah bibit per lubang tanam dan dosis pupuk organik magau terhadap pertumbuhan serta hasil tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di Desa Ginunggung, Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, mulai Desember 2023 hingga Mei 2024. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu jumlah bibit per lubang tanam (J) terdiri atas J1 = 3 bibit, J2 = 5 bibit, dan J3 = 7 bibit, serta dosis pupuk organik magau (P) terdiri atas P0 = tanpa pupuk (kontrol), P1 = 1 kg setara 10 ton/ha, dan P2 = 2 kg setara 20 ton/ha. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi nyata antara jumlah bibit per lubang tanam dan pupuk organik magau terhadap tinggi tanaman umur 15 HST dan berat gabah basah. Kombinasi perlakuan terbaik diperoleh pada 7 bibit per lubang tanam dengan dosis pupuk 2 kg (20 ton/ha). Faktor tunggal jumlah bibit per lubang tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 dan 22 HST, jumlah anakan umur 15–29 HST, jumlah malai, serta berat gabah basah, dengan hasil terbaik pada 7 bibit per lubang tanam. Faktor tunggal pupuk organik magau juga berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 15–43 HST, jumlah anakan umur 15–29 HST, berat gabah basah per sampel, dan berat gabah kering, dengan hasil tertinggi pada dosis 1 kg (10 ton/ha). Sementara itu, perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 36 HST, jumlah anakan umur 36 HST, panjang malai, jumlah gabah berisi, jumlah gabah hampa, berat gabah per petak, dan bobot 1000 butir
ECOBRICK INOVATIF: MENGUBAH SAMPAH PLASTIK MENJADI WAJAH DESA PUSE KABUPATEN TOLITOLI
The problem of plastic waste has become a national issue that requires serious attention, including in Tolitoli Regency. The local government continues to strive to improve overall waste management. Plastic that is difficult to decompose can pollute the soil, water, and air, and harm public health. Therefore, innovative strategies are needed that are not only able to reduce the volume of waste but also provide tangible benefits to the community. This community service aims to increase public awareness about the importance of creative and sustainable plastic waste management. The activity was carried out in January–February 2025 in Puse Village, South Dampal District, Tolitoli Regency, involving village officials, youth organisations, and the community. The implementation method included socialisation, plastic waste collection, ecobrick making training, and assembling ecobricks on an iron frame to form a village nameplate. The activity results showed an increase in public awareness in waste management, new skills in ecobrick making, and the realisation of an aesthetic and functional ecobrick-based village nameplate. This community service concludes that the ecobrick method has proven effective as a strategy for reducing plastic waste and strengthening village identity. With active community participation, this activity has the potential to be replicated in other villages as a model of sustainable, environmentally friendly innovationMasalah sampah plastik menjadi isu nasional yang memerlukan perhatian serius, termasuk di Kabupaten Tolitoli. Pemerintah daerah terus berupaya untuk meningkatkan pengelolaan sampah secara keseluruhan, Plastik yang sulit terurai dapat mencemari tanah, air, dan udara, serta membawa dampak negatif bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan strategi inovatif yang tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah plastik secara kreatif dan berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Januari–Februari 2025 di Desa Puse, Kecamatan Dampal Selatan Kabupaten Tolitoli, dengan melibatkan perangkat desa, karang taruna, dan masyarakat. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pengumpulan sampah plastik, pelatihan pembuatan ecobrick, hingga perakitan ecobrick pada kerangka besi membentuk plang nama desa. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah, keterampilan baru dalam pembuatan ecobrick, serta terwujudnya plang nama desa berbasis ecobrick yang estetik dan fungsional. Simpulan pengabdian ini adalah bahwa metode ecobrick terbukti efektif sebagai strategi pengurangan limbah plastik sekaligus sarana memperkuat identitas desa. Dengan adanya partisipasi aktif masyarakat, kegiatan ini berpotensi untuk direplikasi pada desa lain sebagai model inovasi ramah lingkungan yang berkelanjutan