Kumpulan Jurnal Universitas Madako
Not a member yet
    744 research outputs found

    Analisis Resiko Pailit Pada UMKM Tas Rajut Homemade Di Dusun Kedungdowo Akibat Segmentasi Pasar Yang Keliru

    Full text link
    UMKM memainkan peran penting dalam mendukung perekonomian lokal,  namun ketidakmampuan dalam menentukan segmentasi pasar yang tepat sering kali menjadi pemicu risiko pailit.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko pailit pada UMKM di Dusun Kedungdowo akibat kesalahan dalam segmentasi pasar.Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode wawancara mendalam,observasi dan analisis dokumen untu mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesalahan segmentasi pasar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakpahaman terhadap kebutuhan konsumen ,kurangnya data pasar yang valid,dan strategi pemasaran yang tidak sesuai menjadi penyebab utama.Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi segmentasi pasar yang lebih efektif untuk mengurangi risiko pailit dan meningkatkan keberlanjutan UMKMUMKM memainkan peran penting dalam mendukung perekonomian lokal,namun ketidakmampuan dalam menentukan segmentasi pasar yang tepat sering kali menjadi pemicu risiko pailit.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko pailit pada UMKM di Dusun Kedungdowo akibat kesalahan dalam segmentasi pasar.Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode wawancara mendalam,observasi dan analisis dokumen untu mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesalahan segmentasi pasar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakpahaman terhadap kebutuhan konsumen ,kurangnya data pasar yang valid,dan strategi pemasaran yang tidak sesuai menjadi penyebab utama.Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi segmentasi pasar yang lebih efektif untuk mengurangi risiko pailit dan meningkatkan keberlanjutan UMK

    Analisis Pakan Alami Ikan Gelodok (Periopthalmus sp.) di Habitat Mangrove Desa Lelean Nono

    Full text link
    Ikan gelodok (Periopthalmus sp.) merupakan salah satu komponen penting dalam rantai makanan ekosistem mangrove, terutama karena perannya sebagai predator organisme kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebiasaan makan ikan gelodok di Hutan Mangrove Desa Lelean Nono melalui analisis isi lambung. Penelitian dilakukan pada Juli 2024 dengan metode purposive sampling. Isi lambung dianalisis secara mikroskopis untuk mengidentifikasi jenis makanan dan menentukan tipe trofiknya. Hasil menunjukkan bahwa makanan ikan gelodok dihabitat alaminya adalah crustacea, insekta, polychaeta, fitoplankton dan zooplankton. Analisis panjang relatif usus menunjukkan bahwa ikan gelodok tergolong karnivora. Temuan ini memberikan informasi penting terkait ekologi spesies ini dan kontribusinya terhadap stabilitas ekosistem mangrove.Ikan gelodok (Periopthalmus sp.) merupakan salah satu komponen penting dalam rantai makanan ekosistem mangrove, terutama karena perannya sebagai predator organisme kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebiasaan makan ikan gelodok di Hutan Mangrove Desa Lelean Nono melalui analisis isi lambung. Penelitian dilakukan pada Juli 2024 dengan metode purposive sampling. Isi lambung dianalisis secara mikroskopis untuk mengidentifikasi jenis makanan dan menentukan tipe trofiknya. Hasil menunjukkan bahwa makanan ikan gelodok dihabitat alaminya adalah crustacea, insekta, polychaeta, fitoplankton dan zooplankton. Analisis panjang relatif usus menunjukkan bahwa ikan gelodok tergolong karnivora. Temuan ini memberikan informasi penting terkait ekologi spesies ini dan kontribusinya terhadap stabilitas ekosistem mangrove

    Profil Organoleptik Kopi Arabika dan Robusta Berdasarkan Variasi Teknik Pascapanen

    Full text link
    Kopi merupakan komoditas perkebunan strategis yang kualitas sensorinya sangat dipengaruhi oleh perlakuan pascapanen. Perbedaan karakteristik kimia antara Coffea arabica dan Coffea canephora (Robusta) menyebabkan respons yang berbeda terhadap teknik pengolahan, sehingga pemilihan metode pascapanen menjadi krusial untuk menghasilkan mutu sensori optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh empat teknik pascapanen—natural, honey, semi-washed, dan wine process terhadap profil organoleptik kopi Arabika dan Robusta. Uji organoleptik dilakukan dengan metode cupping berdasarkan standar Specialty Coffee Association (SCA) terhadap atribut aroma, flavor, keasaman, body, aftertaste, dan skor keseluruhan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dua arah dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wine process menghasilkan skor tertinggi pada Arabika (keasaman 8,80; flavor 8,70; aroma 8,60; overall 8,55), yang berbeda signifikan dibanding metode lain dan mencerminkan kompleksitas flavor dengan aftertaste panjang. Pada Robusta, metode yang sama meningkatkan skor sensori secara signifikan (overall 7,50), menjadikannya lebih kompetitif untuk kategori fine Robusta. Honey process menghasilkan profil seimbang dengan cita rasa manis alami, natural process menonjolkan aroma fruity, sedangkan semi-washed memberikan rasa yang kurang kompleks. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan teknik pascapanen yang sesuai varietas mampu mengoptimalkan potensi sensori kopi, sekaligus memberikan rekomendasi praktis bagi pengembangan kopi specialty di Indonesia. Keywords: Arabica, Robusta Coffee, Postharvest Techniques, Wine Process, Sensory Test.Kopi merupakan komoditas perkebunan strategis yang kualitas sensorinya sangat dipengaruhi oleh perlakuan pascapanen. Perbedaan karakteristik kimia antara Coffea arabica dan Coffea canephora (Robusta) menyebabkan respons yang berbeda terhadap teknik pengolahan, sehingga pemilihan metode pascapanen menjadi krusial untuk menghasilkan mutu sensori optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh empat teknik pascapanen—natural, honey, semi-washed, dan wine process terhadap profil organoleptik kopi Arabika dan Robusta. Uji organoleptik dilakukan dengan metode cupping berdasarkan standar Specialty Coffee Association (SCA) terhadap atribut aroma, flavor, keasaman, body, aftertaste, dan skor keseluruhan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dua arah dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wine process menghasilkan skor tertinggi pada Arabika (keasaman 8,80; flavor 8,70; aroma 8,60; overall 8,55), yang berbeda signifikan dibanding metode lain dan mencerminkan kompleksitas flavor dengan aftertaste panjang. Pada Robusta, metode yang sama meningkatkan skor sensori secara signifikan (overall 7,50), menjadikannya lebih kompetitif untuk kategori fine Robusta. Honey process menghasilkan profil seimbang dengan cita rasa manis alami, natural process menonjolkan aroma fruity, sedangkan semi-washed memberikan rasa yang kurang kompleks. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan teknik pascapanen yang sesuai varietas mampu mengoptimalkan potensi sensori kopi, sekaligus memberikan rekomendasi praktis bagi pengembangan kopi specialty di Indonesia. Kata Kunci: Kopi Arabika, Robusta, Teknik Pascapanen, Wine Process, Uji Sensori

    Asuhan Kebidanan Berkesinambungan pada Ny. A dengan Penerapan Pregnancy Massage terhadap Nyeri Punggung pada Masa Kehamilan Trimester III di PMB Dince Safrina Kota Pekanbaru

    Full text link
    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Praktik Mandiri Bidan (PMB) Dince Safrina, Kota Pekanbaru, dengan sasaran seorang ibu hamil trimester III (Ny. A) yang mengalami keluhan nyeri punggung. Pemilihan sasaran dilakukan berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan mitra, di mana sebagian besar ibu hamil yang datang untuk pemeriksaan antenatal care di PMB mengeluhkan nyeri punggung namun belum mendapatkan intervensi non-farmakologis yang terstruktur. Metode pengabdian dilakukan melalui pendampingan individual berbasis asuhan kebidanan berkesinambungan, meliputi edukasi, diskusi, dan praktik langsung pregnancy massage. Intervensi dilaksanakan selama empat kali (30 menit per sesi, dua kali seminggu selama dua minggu). Evaluasi dilakukan dengan pengukuran intensitas nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) serta refleksi pengalaman subjektif ibu setelah intervensi. Hasil kegiatan menunjukkan penurunan intensitas nyeri dari skala 6 (nyeri sedang) menjadi skala 2 (nyeri ringan). Selain manfaat fisik, pregnancy massage juga meningkatkan kenyamanan psikologis ibu dan menumbuhkan kepercayaan diri dalam menghadapi kehamilan. Dampak bagi mitra adalah bertambahnya wawasan bidan mengenai intervensi non-farmakologis yang dapat diintegrasikan dalam pelayanan antenatal care. Kegiatan ini berpotensi direplikasi di PMB lain dengan penyesuaian sumber daya, melalui penyusunan SOP pregnancy massage dan pelatihan tenaga kesehatan. Dengan demikian, program ini memiliki keberlanjutan dan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan kebidanan berbasis kebutuhan masyarakat.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Praktik Mandiri Bidan (PMB) Dince Safrina, Kota Pekanbaru, dengan sasaran seorang ibu hamil trimester III (Ny. A) yang mengalami keluhan nyeri punggung. Pemilihan sasaran dilakukan berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan mitra, di mana sebagian besar ibu hamil yang datang untuk pemeriksaan antenatal care di PMB mengeluhkan nyeri punggung namun belum mendapatkan intervensi non-farmakologis yang terstruktur. Metode pengabdian dilakukan melalui pendampingan individual berbasis asuhan kebidanan berkesinambungan, meliputi edukasi, diskusi, dan praktik langsung pregnancy massage. Intervensi dilaksanakan selama empat kali (30 menit per sesi, dua kali seminggu selama dua minggu). Evaluasi dilakukan dengan pengukuran intensitas nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) serta refleksi pengalaman subjektif ibu setelah intervensi. Hasil kegiatan menunjukkan penurunan intensitas nyeri dari skala 6 (nyeri sedang) menjadi skala 2 (nyeri ringan). Selain manfaat fisik, pregnancy massage juga meningkatkan kenyamanan psikologis ibu dan menumbuhkan kepercayaan diri dalam menghadapi kehamilan. Dampak bagi mitra adalah bertambahnya wawasan bidan mengenai intervensi non-farmakologis yang dapat diintegrasikan dalam pelayanan antenatal care. Kegiatan ini berpotensi direplikasi di PMB lain dengan penyesuaian sumber daya, melalui penyusunan SOP pregnancy massage dan pelatihan tenaga kesehatan. Dengan demikian, program ini memiliki keberlanjutan dan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan kebidanan berbasis kebutuhan masyarakat

    Peran Sertifikasi Halal Dalam Meningkatkan Kualitas Produk Dan Kepercayaan Konsumen Masyarakat Kabupaten Sumenep

    Full text link
    Sertifikasi halal merupakan suatu prosedur yang diterapkan guna memperoleh sertifikat halal, yang melibatkan serangkaian tahapan untuk memverifikasi bahwa bahan baku, proses produksi, serta Sistem Jaminan Halal (SJH) sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Lembaga Pengkajian Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peran sertifikasi halal dapat memperbaiki dan mendorong peningkatan kualitas produk yang dihasilkan oleh produsen atau pelaku usaha setempat, serta bagaimana sertifikasi tersebut mampu memberikan jaminan dan memperkuat kepercayaan konsumen di kalangan masyarakat Kabupaten Sumenep. Selain itu, penelitian ini juga mengukur sejauh mana sertifikasi halal berkontribusi terhadap peningkatan daya saing produk di antara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lainnya atau di pasar, termasuk aspek seperti peningkatan volume penjualan atau keberlanjutan operasional usaha masyarakat lokal. Dengan demikian, penelitian ini akan menganalisis kontribusi sertifikasi halal terhadap perbaikan kualitas produk lokal bagi produsen di Kabupaten Sumenep, serta bagaimana sertifikasi tersebut dapat menumbuhkan kepercayaan pada tingkat keyakinan konsumen di wilayah setempat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan sifat deskriptif, di mana pengumpulan data informasi dilakukan melalui teknik wawancara terhadap produsen atau UMKM yang telah memperoleh sertifikasi halal, serta konsumen di masyarakat Kabupaten Sumenep    Sertifikasi halal merupakan suatu prosedur yang diterapkan guna memperoleh sertifikat halal, yang melibatkan serangkaian tahapan untuk memverifikasi bahwa bahan baku, proses produksi, serta Sistem Jaminan Halal (SJH) sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Lembaga Pengkajian Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peran sertifikasi halal dapat memperbaiki dan mendorong peningkatan kualitas produk yang dihasilkan oleh produsen atau pelaku usaha setempat, serta bagaimana sertifikasi tersebut mampu memberikan jaminan dan memperkuat kepercayaan konsumen di kalangan masyarakat Kabupaten Sumenep. Selain itu, penelitian ini juga mengukur sejauh mana sertifikasi halal berkontribusi terhadap peningkatan daya saing produk di antara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lainnya atau di pasar, termasuk aspek seperti peningkatan volume penjualan atau keberlanjutan operasional usaha masyarakat lokal. Dengan demikian, penelitian ini akan menganalisis kontribusi sertifikasi halal terhadap perbaikan kualitas produk lokal bagi produsen di Kabupaten Sumenep, serta bagaimana sertifikasi tersebut dapat menumbuhkan kepercayaan pada tingkat keyakinan konsumen di wilayah setempat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan sifat deskriptif, di mana pengumpulan data informasi dilakukan melalui teknik wawancara terhadap produsen atau UMKM yang telah memperoleh sertifikasi halal, serta konsumen di masyarakat Kabupaten Sumenep.   &nbsp

    Persepsi Masyarakat terhadap Dampak Bau dan Kebersihan Lingkungan Akibat Limbah Peternakan Sapi Bali

    Full text link
    This study aims to determine the public perception of the impact of Bali cattle farm waste, focusing on aspects of odor and environmental cleanliness. The research employed a quantitative descriptive method with a field survey approach, involving 50 respondents selected through simple random sampling. Data were collected using questionnaires and direct interviews, then analyzed using a five-point Likert scale to assess the level of community disturbance caused by livestock waste. The results showed that the community experienced a high level of disturbance from the presence of Bali cattle waste. The total perception score reached 901, consisting of 448 for the odor sub-variable and 453 for the cleanliness sub-variable. This indicates that the community felt highly disturbed by the impact of livestock waste, particularly due to the strong, persistent odor and scattered cow dung in residential areas. The unpleasant odor was generated from the decomposition of organic materials in cattle feces and urine, which produced gases such as ammonia (NH3), methane (CH4), and hydrogen sulfide (H2S). Inadequate waste management also led to a decline in environmental cleanliness and an increase in fly populations. These findings confirm that improper management of Bali cattle farm waste has a significant negative impact on community comfort and environmental quality in the surrounding areas.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap dampak limbah peternakan sapi Bali yang meliputi aspek bau dan kebersihan lingkungan. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survei lapangan terhadap 50 responden yang dipilih secara simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara langsung, kemudian dianalisis menggunakan skala Likert lima tingkat untuk menilai tingkat gangguan masyarakat terhadap limbah peternakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat merasakan gangguan yang tinggi terhadap keberadaan limbah peternakan sapi Bali. Nilai total persepsi masyarakat mencapai 901, dengan rincian 448 pada subvariabel bau dan 453 pada subvariabel kebersihan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tergolong sangat terganggu terhadap dampak limbah peternakan, terutama akibat bau menyengat yang tidak mudah hilang dan kotoran sapi yang berserakan di lingkungan sekitar. Bau yang dihasilkan berasal dari proses dekomposisi bahan organik dalam feses dan urin sapi yang menghasilkan gas amonia (NH3), metana (CH4), dan hidrogen sulfida (H2S), sementara kurangnya pengelolaan limbah menyebabkan penurunan kebersihan lingkungan serta peningkatan populasi lalat. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan limbah peternakan sapi Bali yang tidak optimal menimbulkan dampak nyata terhadap kenyamanan dan kualitas lingkungan masyarakat di sekitarnya

    Performa Reproduksi dan Mortalitas Kambing Lokal di Lahan Perkebunan Rakyat Desa Kayu Lompa

    Full text link
    Goats have good adaptability to tropical environments; however, scientific information regarding the reproductive performance and mortality rate of local goats under smallholder farming systems remains limited. This study aimed to evaluate the reproductive characteristics and mortality of local goats raised in smallholder plantation systems. The research employed a quantitative descriptive method with a survey approach. Data were collected through field observations, structured interviews with farmers, and recording of biological parameters of the animals. Data analysis was carried out descriptively by calculating means, standard deviations, and percentages, which were then compared with relevant literature. The results showed that local goats in Kayu Lompa Village had an average age at first estrus of 6.45 months, age at first mating of 7.18 months, and age at first kidding of 13.18 months. The average gestation length was 5.64 months with a kidding interval of 6.73 months. The average litter size was 2.00 kids per kidding with a birth weight of 1.045 kg, while the average weaning age was 4 months. The sex ratio of kids born was 1:2 (male:female). The mortality rate of kids was 2.44% and adult does 3.40%, which are considered low compared to previous reports. This study provides empirical data on the reproductive performance and mortality of local goats under smallholder plantation systems, which can serve as a basis for improving herd management, enhancing productivity, and supporting the development of local goat genetic resources in Indonesia.Kambing memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis, namun informasi ilmiah mengenai performa reproduksi dan tingkat mortalitas kambing lokal pada sistem pemeliharaan rakyat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik reproduksi dan tingkat mortalitas kambing lokal yang dipelihara di lahan perkebunan rakyat. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur dengan peternak, serta pencatatan parameter biologis ternak. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung nilai rataan, simpangan baku, dan persentase, kemudian dibandingkan dengan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambing lokal di Desa Kayu Lompa memiliki umur pertama berahi 6,45 bulan, umur kawin pertama 7,18 bulan, dan umur beranak pertama 13,18 bulan. Lama kebuntingan rata-rata 5,64 bulan dengan jarak kelahiran 6,73 bulan. Litter size tercatat 2,00 ekor/kelahiran dengan bobot lahir anak 1,045 kg, sedangkan umur sapih rata-rata 4 bulan. Rasio jenis kelamin anak yang lahir adalah 1:2 (jantan:betina). Tingkat mortalitas cempe tercatat 2,44% dan mortalitas induk 3,40%, yang tergolong rendah dibandingkan laporan sebelumnya. Penelitian ini memberikan data empiris mengenai performa reproduksi dan mortalitas kambing lokal pada sistem perkebunan rakyat, yang dapat digunakan sebagai dasar perbaikan manajemen pemeliharaan, peningkatan produktivitas, serta pengembangan sumber daya genetik kambing lokal di Indonesia

    Peran Pemerintah Desa Dalam Penataan Lingkungan Pemukiman Desa Kinopasan Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana peran yang dijalankan oleh pemerintah desa dalam upaya penataan lingkungan pemukiman, khususnya penataan jalan menuju kantong produksi perkebunan masyarakat, serta faktor apa saja pendukung dan penghambat dalam penataan jalan di Desa Kinopasan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah 7 orang yang dipilih melalui teknik purposive, yang terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris, Kepala Dusun, Ketua BPD, Serta tiga orang masyarakat lokal. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala Desa Kinopasan. Proses analisis data yang digunakan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan 6 indikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi instruktif sudah terpenuhi karena kepala desa menjalankan peran kepemimpinan dengan baik, memberi arahan bijak dalam penataan lingkungan permukiman demi kepentingan masyarakat. Fungsi konsulatif sudah optimal karena pemerintah desa mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, khususnya yang terkait penataan jalan di Desa Kinopasan. Fungsi pelayanan masyarakat juga sudah cukup baik karena pelayanan pemerintah desa dinilai cukup baik, namun masih terkendala anggaran dalam penataan fisik, terutama perbaikan jalan. Fungsi pengembangan masyarakat sudah terpenuhi karena pemerintah desa selalu melibatkan masyarakat secara gotong royong dalam pembangunan dan menjadikan mereka sebagai penilai kebutuhan desa. Partisipasi pikiran masyarakat sudah terpenuhi karena mereka dilibatkan dalam memberi gagasan pada saat perencanaan pembangunan desa. Partisipasi tenaga kerja masyarakat di Desa Kinopasan sudah cukup baik melalui gotong royong, namun belum maksimal karena keterbatasan waktu yang diakibatkan oleh kesibukan pekerjaan masing-masing.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana peran yang dijalankan oleh pemerintah desa dalam upaya penataan lingkungan pemukiman, khusunya dalam penataan pemukiman jalan menuju kantong produksi perkebunan masyarakat di Desa Kinopasan dan apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam penataan lingkungan pemukiman di Desa Kinopasan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh orang yang dipilih melalui teknik purposive, yang terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris, Kepala Dusun, Ketua BPD, Serta tiga orang perwakilan masyarakat Desa Kinopasan. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala Desa Kinopasan. Proses analisis data yang digunakan peneliti yaitu melalui tahapan pengumpulkan data, Reduksi data, Penyajian Data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori Veithzal Rivai 2006 yang mencakup enam indikator peran kepemimpinan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi instruktif sudah terpenuhi karena kepala desa menjalankan peran kepemimpinan dengan baik, memberi arahan bijak dalam penataan lingkungan permukiman demi kepentingan masyarakat. Fungsi konsulatif sudah terpenuhi karena pemerintah desa mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, khususnya terkait penataan jalan di Kinopasan. Fungsi pelayanan masyarakat sudah cukup baik karena Pelayanan pemerintah desa dinilai cukup baik dalam hal komunikasi dan keterbukaan, namun masih terkendala anggaran dalam penataan fisik, terutama perbaikan jalan. fungsi pengembangan masyarakat sudah terpenuhi karena pemerintah desa selalu melibatkan warga secara gotong royong dalam pembangunan dan menjadikan mereka sebagai penilai kebutuhan desa. Partisipasi pikiran masyarakat sudah terpenuhi karena mereka dilibatkan dalam memberi ide dan gagasan saat perencanaan pembangunan desa. Partisipasi tenaga kerja masyarakat Desa Kinopasan Keterlibatan tenaga masyarakat cukup baik melalui gotong royong, namun belum maksimal karena keterbatasan waktu dan kesibukan pekerjaan masyarakat (terutama petani)

    Peran Pemerintah Desa Mengembangkan Pulau Wisata Ratu Ampat Di Desa Malala Kabupaten Tolitoli

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana peran pemerintah desa dalam mengembangkan pulau wisata Ratu Ampat di Desa Malala Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan desakriptif. Pengumpulan data mengunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive. Informan penelitian ini sebanyak 6 orang yang terdiri dari Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Desa Malala, Sekertaris Desa Malala, pengelola pulau wisata Ratu Ampat dan 2 orang masyarakat lokal. Teknik analisis data terdiri dari tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa indikator motivator sudah terpenuhi, hal ini bisa dilihat dari upaya pemerintah desa yang telah memperomosikan pulau Ratu Ampat melalui media sosial kepada masyarakat luas. Terkait peran pemerintah desa sebagai fasilitator secara umum dapat dikatakan belum memadai, hal ini dapat dilihat dari upaya pemerintah desa dalam menyediakan sarana dan prasarana yang sampai dengan saat ini masih sangat terbatas. Begitupun peran pemerintah desa sebagai dinamisator, pemerintah desa belum optimal mengalokasikan anggaran pembangunan pariwisata di Ratu Ampat.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam bagaimana peran pemerintah desa dalam mengembangkan pulau wisata Ratu Ampat di Desa Malala Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan desakriptif. Pengumpulan data mengunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive. Informan penelitian ini sebanyak 6 orang yang terdiri dari Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Desa Malala, Sekertaris Desa Malala, pengelola pulau wisata Ratu Ampat dan 2 orang masyarakat lokal. Teknik analisis data terdiri dari tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa indikator motivator sudah terpenuhi, hal ini bisa dilihat dari upaya pemerintah desa yang telah memperomosikan pulau Ratu Ampat melalui media sosial kepada masyarakat luas. Terkait peran pemerintah desa sebagai fasilitator secara umum dapat dikatakan belum memadai, hal ini dapat dilihat dari upaya pemerintah desa dalam menyediakan sarana dan prasarana yang sampai dengan saat ini masih sangat terbatas. Begitupun peran pemerintah desa sebagai dinamisator, pemerintah desa belum optimal mengalokasikan anggaran pembangunan pariwisata di Ratu Ampat

    Respon Pemberian Berbagai Dosis Bokashi Kulit Buah Kakao Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L)

    No full text
    This study aims to determine the response of giving various doses of cocoa pod husk bokashi on the growth of cocoa seedlings (Theobroma cacao L) which was carried out in Kalangkangan Village, Galang District, Tolitoli Regency, Central Sulawesi Province. This study was conducted from April to June 2018. In this study, a completely randomized design (CRD) was used which consisted of 6 (six) levels, namely: P0 = no treatment (control), P1 = cocoa pod husk bokashi fertilizer 50 g / polybag, P2 = cocoa pod husk bokashi fertilizer 100 g / polybag, P3 = cocoa pod husk bokashi fertilizer 150 g / polybag, P4 = cocoa pod husk bokashi fertilizer 200 g / polybag, P5 = cocoa pod husk bokashi fertilizer 250 g / polybag, each treatment was repeated 3 (three) times so that there were 18 polybags per treatment. The results of the study showed that the provision of cocoa pod husk bokashi with a dose of 150 g/polybag, provided results that had a very significant effect on the growth of cocoa plant seedlings, at the age of 13 MST the observation parameters showed an average plant height of 38.67 cm, as well as the observation parameters for the number of leaves at the age of 13 MST on average, namely 18 leaves, providing the best growth of cocoa plant seedlings compared to other treatments, but had no significant effect on stem diameter, root length and root volume.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Respon Pemberian Berbagai Dosis Bokasi Kulit Buah Kakao Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao  L) yang dilaksanakan di Desa Kalangkangan Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Bulan Juni 2018. Dalam penelitian ini digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 (enam) taraf yaitu : P0 = tanpa perlakuan (control), P1 = pupuk bokasi kuliy buah kakao 50 g/polybag, P2 = pupuk bokasi kulit buah kakao 100 g/polybag, P3 = pupuk bokasi kuliy buah kakao 150 g/polybag, P4 = pupuk bokasi kuliy buah kakao 200 g/polybag, P5 = pupuk bokasi kuliy buah kakao 250 g/polybag, masing – masing perlakuan diulang sebanyak 3 (tiga) kali sehingga terdapat 18 polybag per perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokasi kulit buah kakao dengan dosis 150 g/polybag, memberikan hasil yang berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan bibit tanaman kakao, pada umur 13 MST parameter pengamatan menunjukkan tinggi tanaman rata – rata yaitu 38,67 cm, demikian pula dengan parameter pengamatan jumlah daun pada umur 13 MST rata – rata yaitu 18 helai daun memberikan pertumbuhan bibit tanaman kakao yang terbaik dibandingkan perlakuan lainnya, tetapi tidak berpengaruh nyata pada diameter batang, Panjang akar dan volume akar

    696

    full texts

    744

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kumpulan Jurnal Universitas Madako
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇