Jurnal Bastrindo - Kajian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
    42 research outputs found

    Hubungan Novel Demian The Story of Emil Sinclair’s Youth Karya Hermann Hesse dengan Lirik Lagu Grup Musik BTS dalam Album Wings, serta Pengaruhnya Terhadap ARMY Indonesia: The Connection of Demian’s Novel the Story of Emil Sinclair’s Youth by Hermann Hesse with the Song Lyrics of the BTS Music Group in the Wings Album, and Its Effect on the Indonesian ARMY

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan novel Demian The Story of Emil Sinclair’s Youth karya Hermann Hesse dengan lirik lagu yang terdapat dalam album Wings yang dibawakan oleh BTS, serta pengaruhnya terhadap ARMY Indonesia. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif menggunakan teori interpretatif simbolik Clifford Geertz dengan pendekatan sosiologi sastra. Berdasarkan hasil analisis diketahui terdapat tiga simbol kebudayaan, yakni simbol agama, simbol pantang menyerah, dan simbol kritik. Adapun pengaruh terhadap ARMY Indonesia adalah (1) sikap toleransi antarumat beragama di kalangan ARMY semakin kuat, (2) sikap pantang menyerah yang diteladani ARMY diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan (3) menumbuhkan sikap berani berpendapat terhadap fenomena sosial  yang ada  melalui berbagai cara, seperti saling berbagi pesan kebaikan melalui forum ARMY di sosial media, membantu me-repost berita terkait dengan isu sosial, dan menulis. Abstract: The study aims to find out the relation of Demian’s novel The Story of Emil Sinclair’s Youth by Hermann Hesse and the  lyrics from the Wings album, as well as its effect on the Indonesian ARMY. The gathered data is analysed using Clifford Geertz's symbolic interpretation theory with a sociology of literature approach and is presented using qualitative method. The result reveals that three cultural symbols are used in the album, namely religious symbols, signs of permissiveness, and symbols of criticism. Furthermore, three major impacts on the Indonesian ARMY are found, they are: (1) the growing religious tolerance among the ARMY community, (2) exemplifying of unyielding attitude and their implementation in daily life, and (3) increasing courage to speak up about social issues, including sharing messages of kindness in the ARMY forums, and rising awareness about social issues by reposting news and writing.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang terjadi di komunitas ARMY dalam menikmati musik BTS dengan munculnya istilah “Teori Big Hit”. Salah satunya adalah hasil interpretasi yang dilakukan pada album Wings. Hal ini dikarenakan album tersebut memiliki keterkaaitan dengan novel Demian The Story of Emil Sinclair’s Youth karya Hermann Hesse. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan novel Demian The Story of Emil Sinclair’s Youth karya Hermann Hesse dengan lirik lagu yang terdapat dalam album Wings yang dibawakan oleh BTS, serta pengaruhnya terhadap ARMY Indonesia. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif menggunakan teori interpretatif simbolik Clifford Geertz dengan pendekatan sosiologi sastra. Berdasarkan hasil analisis diketahui terdapat tiga simbol kebudayaan, yakni simbol agama, simbol pantang menyerah, dan simbol kritik. Adapun pengaruh terhadap ARMY Indonesia adalah (1) sikap toleransi antarumat beragama di kalangan ARMY semakin kuat, (2) sikap pantang menyerah yang diteladani ARMY diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan (3) menumbuhkan sikap berani berpendapat terhadap fenomena sosial  yang ada  melalui berbagai cara, seperti saling berbagi pesan kebaikan melalui forum  ARMY di sosial media, membantu me-repost berita terkait dengan isu sosial, dan menulis

    Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Provinsi Banten Sebagai Upaya Mengembangkan Sejarah Kebudayaan Banten: Local Wisdom in Folklore of Banten Province As an Effort to Develop the Cultural History of Banten

    No full text
    Abstrak: Pengetahuan tentang kebudayaan daerah oleh generasi muda di Provinsi Banten merupakan salah satu fenomena kebudayaan yang perlu disikapi dengan serius oleh semua kalang. Saat ini terdapat beberapa kebiasaan dari generasi muda pada saat ini yang menandai gejala kemunduran pengetahuan tentang kebudayaan dari diri mereka. Salah satu akibatnya yaitu minimnya pengetahuan tentang kebudayaan daerah mereka sendiri dan semakin lama kebudayaan daerah tersebut akan punah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pengembangan sejarah kebudayaan yang ada di Provinsi Banten melalui media cerita rakyat di Provinsi Banten. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis isi. Penyajian data dalam penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, hingga sampai pada tahap kesimpulan atau verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa cerita rakyat yang berasal dari Provinsi Banten seperti Raksasa Dari Ujung Kulon, Asal-Usul Kampung Kariyan, dan Tuah Pendekar Sakti dapat menjadi sarana untuk menambah serta mengenalkan kembali salah satu kearifan lokal yang ada di Provinsi Banten. Hal tersebut dapat menjadikan generasi muda dapat lebih mencintai serta dapat menghidupkan kembali nilai-nilai budaya khas Provinsi Banten. Abstract: Knowledge of regional culture by the younger generation in Banten Province is one of the cultural phenomena that needs to be taken seriously by all circles. Currently there are several some habits of now younger generation that mark symptoms of a decline in knowledge of the culture of themselves. One of the consequences is the lack of knowledge about the culture of their own region and the longer the culture of the area will be extinct. The purpose of this research is to find out if through the development of folklore in Banten Province can grow and develop the cultural history in Banten Province. The research approach used is qualitative descriptive. The data analysis techniques in this study use content analysis techniques. The presentation of data in this study uses data reduction, data presentation, to the conclusion stage or data verification. The results of this study show that from folklore originating from Banten Province such as Giant From Ujung Kulon, The Origin of Kariyan Village, and Tuah Pendekar Sakti can be a means to add and reintrodut one of the local wisdom in Banten Province. Iit can make the younger generation can love more and can revive the cultural values typical of Banten Province.Pengetahuan tentang kebudayaan daerah oleh generasi muda di Provinsi Banten merupakan salah satu fenomena kebudayaan yang perlu disikapi dengan serius oleh semua kalang. Terdapat beberapa kebiasaan dari generasi muda pada saat ini yang menandai gejala kemunduran pengetahuan tentang kebudayaan dari diri mereka. Salah satu akibatnya yaitu minimnya pengetahuan tentang kebudayaan daerah mereka sendiri dan semakin lama kebudayaan daerah tersebut akan punah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah melalui pengembangan cerita rakyat yang ada di Provinsi Banten dapat menumbuhkan serta mengembangkan sejarah kebudayaan yang ada di Provinsi Banten. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis isi. Penyajian data dalam penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, hingga sampai pada tahap kesimpulan atau verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari cerita rakyat yang berasal dari Provinsi Banten seperti Raksasa Dari Ujung Kulon, Asal-Usul Kampung Kariyan, dan Tuah Pendekar Sakti dapat menjadi sarana untuk menambah serta mengenalkan kembali salah satu kearifan lokal yang ada di Provinsi Banten. Sehingga hal tersebut dapat menjadikan generasi muda dapat lebih mencintai serta dapat menghidupkan kembali nilai-nilai budaya khas Provinsi Banten. Kata kunci: Banten, Cerita Rakyat, Kearifan lokal, Kebudayaa

    Reading Literacy Problems Of Senior High School Students: Problematics Of Reading Literacy Culture In SMAN 1 Aikmel

    No full text
    Abstrak: Latar belakang penelitian ini mengacu pada peringkat literasi masyarakat Indonesia berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Program untuk Penilaian Siswa Internasional) pada tahun 2019 yang belum meningkat secara signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, pemerintah Indonesia telah melakukan program peningkatan literasi, terutama di sekolah dasar dan menengah. Selain itu, belum banyak penelitian tentang literasi membaca di Indonesia, khususnya di daerah Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah literasi membaca yang dihadapi oleh siswa di SMAN 1 Aikmel, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan studi kasus sebagai metode penelitian. Informan penelitian ini adalah guru sekolah, siswa, dan staf perpustakaan di lokasi penelitian. Tindakan, pernyataan, dan dokumentasi peserta yang terkait dengan masalah literasi membaca digunakan sebagai sumber data. Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi dan implementasi program GLS di sekolah. Temuan dari pengamatan kemudian diklarifikasi dengan mewawancarai kepala sekolah, guru, siswa, dan pegawai sekolah yang berhubungan dengan kegiatan GLS di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada empat masalah literasi yang dihadapi oleh siswa sekolah menengah dalam literasi membaca, yaitu (1) kurangnya minat siswa dalam membaca buku nonpelajaran, (2) kurangnya ketersediaan bahan bacaan selain buku pelajaran, (3) lingkungan membaca yang kurang kondusif dan mendukung, serta (4) keterbatasan dalam menerapkan program GLS. Abstract:  The background of this research was carried out referring to the literacy ranking of the Indonesian people based on the results of research conducted by PISA (Program for the Assessment of International Students) in 2019 which had not increased significantly compared to the previous year. Meanwhile, the Indonesian government has carried out literacy improvement programs, especially in primary and secondary schools. In addition, there has not been much research on reading literacy in Indonesia, especially in the West Nusa Tenggara region. This study aims to identify reading literacy problems faced by students in SMAN 1 Aikmel , Lombok East, West Nusa Tenggara. This research design uses a qualitative approach and uses case studies as a research method. The informants for this research were school teachers, students, and library staff at the research location. Participants' actions, statements, and documentation related to the problem literacy  reading was used as a data source. Observations were made to determine the condition and implementation of the program GLS at school. Findings from observations were then clarified by interviewing head  school, teacher, student , and  employee  school which relate  with  activity GLS in school . The results of the study show that there are four literacy problems faced by middle school students literacy  reading, namely (1) lack of  students' interest in reading  book  non-lessons, (2) lack of  availability of reading material  besides  book  lesson, (3) reading environment which not enough  conducive  and  support, and (4) limitations in implementing the program GLS.Latar belakang penelitian ini dilakukan mengacu pada peringkat literasi masyarakat Indonesia berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Program untuk Penilaian Siswa Internasional) pada tahun 2019 yang belum meningkat secara signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, pemerintah Indonesia telah melakukan program peningkatan literasi, terutama di sekolah dasar dan menengah. Selain itu, belum banyak penelitian tentang literasi membaca di Indonesia, khususnya di daerah Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah literasi membaca yang dihadapi oleh siswa di Sekolah Menengah Atas di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan studi kasus sebagai metode penelitian. Informan penelitian ini adalah guru sekolah, siswa, dan staf perpustakaan di lokasi penelitian. Tindakan, pernyataan, dan dokumentasi peserta yang terkait dengan masalah membaca literasi digunakan sebagai sumber data. Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi dan implementasi program di sekolah. Temuan dari pengamatan kemudian diklarifikasi dengan mewawancarai para peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada empat masalah literasi yang dihadapi oleh siswa sekolah menengah dalam membaca literasi, yaitu (1) minat siswa dalam membaca, (2) ketersediaan bahan bacaan, (3) lingkungan membaca, dan (4) keterbatasan dalam menerapkan program sekolah literasi

    Bentuk dan Makna Ragam Bahasa Prokem Penggemar Leslar (Lesti-Billar) di Media Sosial: The Form and Meaning of the Language of Leslar Fans (Lesti-Billar) on Social Media

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian tentang ragam bahasa prokem dari penggemar Leslar (Lesti Bilar) dalam media sosial. Prokem penggemar Leslar dikaji menggunakan ilmu sosiolinguistik. Prokem merupakan variasi bahasa yang disesuaikan dengan konteks penggunaan bahasa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian ini untuk menemukan beberapa hal, yaitu 1) bentuk prokem Leslar, dan 2) makna prokem Leslar. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tertulis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode pengumpulan data, analisis data, dan penyajian analisis data. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan catat yang berhubungan dengan penggemar Leslar di media sosial Instagram. Analisis data menggunakan analisis prokem, yaitu menganalisis kosakata khusus yang dipakai dalam komunitas tertentu. Metode penyajian hasil analisis data adalah metode informal, yaitu menggunakan kata-kata yang mudah dipahami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa prokem Leslar yaitu anjay, kiyut, dede, vitamin, osas, uwu, meninggoy, terleslar-leslar, markonah, pansos, baper, bucin, setingan, dan virus leslar. Abstract: This research is a research about prokem language of Leslar fans (Lesti Bilar) in social media. Leslar's fan program was studied using sociolinguistics. Prokem is a variation of language that is adapted to the context of language use. This type of research is descriptive qualitative research. The purpose of this study was to find out several things, namely 1) the form of the Leslar program, and 2) the meaning of the Leslar program. The data used in this research is written data. The method used in this study, namely the method of data collection, data analysis, and presentation of data analysis. Data collection uses the listen and note method related to Leslar fans on Instagram social media. Data analysis uses program analysis, which is to analyze the special vocabulary used in certain communities. The method of presenting the results of data analysis is an informal method, using words that are easy to understand. The results showed that there were several prokem for Leslar, namely anjay, kiyut, dede, vitamin, osas, uwu, meninggoy, terleslar-leslar, markonah, pansos, baper, bucin, setingan, virus leslar.Penelitian ini merupakan penelitian tentang bahasa prokem dari penggemar Leslar (Lesti Bilar) dalam media sosial. Prokem penggemar Leslar dikaji menggunakan ilmu sosiolinguistik. Prokem merupakan variasi bahasa yang disesuaikan dengan konteks penggunaan bahasa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian ini untuk menemukan beberapa hal, yaitu 1) bentuk prokem Leslar, dan 2) makna prokem Leslar. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tertulis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode pengumpulan data, analisis data, dan penyajian analisis data. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan catat yang berhubungan dengan penggemar Leslar di media sosial Instagram. Analisis data menggunakan analisis prokem, yaitu menganalisis kosakata khusus yang dipakai dalam komunitas tertentu. Metode penyajian hasil analisis data adalah metode informal, yaitu menggunakan kata-kata yang mudah dipahami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa prokem Leslar yaitu anjay, kiyut, dede, vitamin, osas, uwu, meninggoy, terleslar-leslar, markonah, pansos, baper, bucin, setingan, vdan virus leslar

    Penggunaan Eufemisme dalam Harian Kompas Rubrik Politik dan Hukum : The Use of Euphemisms in Kompas Daily Political and Legal Rubric

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan persentase pemakaian eufemisme dalam harian Kompas pada Rubrik Politik dan Hukum. Metode pengumpulan datanya adalah simak/dokumentasi teknik catat (yang terbit pada Februari 2020), sedangkan analisis data menggunakan metode padan intralingual dan padan ekstralingual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan jenis eufemisme dari 62 data yaitu (1) ekspresi figuratif, (2) metafora, (3) flipansi, (4) substitusi satu satu (one for one substation), (5) sirkumlokusi, (6) hiperbola, (7) jargon, dan (8) penggunaan kata serapan. Bahwa kata-kata tersebut bermakna denotatif dan makna konotatif. Dilihat ditemukan 20 ekspresi figuratif (35%); 2 metafora (3,5%); 3 flipansi (5%); 4 substitusi satu satu (7%); 5 sirkumlokasi (23%); 6 hiperbola (5%); 7 jargon (3,5%), serta 8 penggunaan kata serapan (18%). Penggunaan eufemisme yang berbentuk ekpresi figuratif karena pembaca yang disasar oleh harian ini adalah kalangan terdidik sehingga informasi disampaikan secara kiasan, pelambangan, dan tidak langsung. Abstract: This study aims to describe the type and percentage of euphemisms used in the Political and Law rubric of Kompas (February Edition 2020). The data collection method in this research is using documentation method with note taking technique. The data to analyzed, used intralingual and extralingual comparative method. The research found 8 types of euphemisms from 62 data, that is: (1) figurative expressions, (2) metaphors, (3) flipansi, (4) one for one substitution, (5) circumlocution, (6) hyperbole, (7) jargon, and (8) absorbed words. The meaning contained in the data on the use of euphemisms is denotative meaning and connotative meaning. The details of the amount of data and the percentage good of: 20 (35%) figurative expressions; 2 (3,5%) metaphors; 3 (5%) flipansi; 4 (7%) one for one substitution, 13 (23%) circumlocations, 3 (5%) hyperbole, 2 (3,5%) jargon, and 10 (18%) usage of loan words. So, the most dominant form of euphemism in February 2020 in the political and legal rubric of Kompas daily is a form of figurative expression with a percentage of 35%.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan kecenderungan penggunaan eufemisme dalam harian Kompas pada Rubrik Politik dan Hukum. Metode pengumpulan datanya adalah simak/dokumentasi teknik catat (yang terbit pada Februari 2020), sedangkan analisis data menggunakan metode padan intralingual dan padan ekstralingual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan jenis eufemisme dari 62 data yaitu (1) ekspresi figuratif, (2) metafora, (3) flipansi, (4) one for one substation, (5) sirkumlokusi, (6) hiperbola, (7) jargon, dan (8) penggunaan kata serapan. Bahwa kata-kata tersebut bermakna denotatif dan makna konotatif. Dilihat dari kecenderungannya ditemukan 20 ekspresi figuratif (35%); 2 metafora (3,5%); 3 flipansi (5%); 4 one for ne Substution (7%); 13 sirkumlokasi (23%); 3 hiperbola (5%); 2 jargon (3,5%), serta 10 penggunaan kata serapan (18%). Penggunaan eufemisme yang berbentuk ekpresi figuratif karena pembaca yang disasar oleh harian ini adalah kalangan terdidik sehingga informasi disampaikan secara kiasan, pelambangan, dan tidak langsung

    Hibriditas Kebahasaan dalam “Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru”: Sebuah Kajian Etnopuitika: Linguistic Hybridity in “Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru”: An Ethnopuitics Study

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur pembentuk struktur dan bunyi bahasa puitika-pentas teks Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru (WRMPB) dan menjelaskan pernik-pernik budaya lokal yang mewarnai teks WRMPB ketika dilisankan/dinyanyikan. Secara metodologis, metode pengumpulan data (baik data primer maupun sekunder) dalam penelitian ini mencakup studi kepustakaan (khususnya yang terkait dengan data teoretis), observasi partisipasi, wawancara mendalam, rekaman (audiovisual), foto, dan transkripsi-penerjemahan. Sementara metode analisis data menggunakan metode analisis puitika yang dikemukakan Tedlock (1992), yakni membuat konvensi-konvensi ortografis baru dan menambahkannya ke dalam sistem tulisan yang ada (dari teks WRMPB saat dilisankan) yang dilanjutkan dengan analisis intertekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi the art of sounding the narrative texts ‘seni pengucapan teks’, teks WRMPB memiliki konvensi-konvensi ortografis baru yang sekaligus melekat dalam sistem tulisan yang ada. Sementara dari segi budaya lokal yang mewarnai bahasa dan pentas sastra teks WRMPB, kearifan lokal Sasak-Lombok menjadi salah satu fitur penguat dan pengunci teks tersebut. Misalnya, kearifan lokal berupa sesenggak ‘peribahasa’, idiom, dan sejenisnya dipakai untuk mengunci maksud bait-bait tertentu. Ini merupakan wujud kesadaran pengarang bahwa dalam bahasa lokal terkandung nilai-nilai, konsep-konsep, dan ciri-ciri budaya tertentu yang tidak ada pada bahasa lain. Dengan demikian, pengetahuan lokal berperan besar dalam mewadahi totalitas kandungan maksud teks tersebut. Abstract: This study aims to identify the elements that make up the structure and sound of the poetic language of the text of the Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru  (WRMPB) and explain the local cultural trinkets that color the WRMPB text when it is spoken. Methodologically, the data collection methods (both primary and secondary data) in this study include literature study (especially those related to theoretical data), participatory observation, in-depth interviews, recordings, photographs, and transcription-translation. Meanwhile, the data analysis method uses the poetic analysis method proposed by Tedlock (1992), namely making new orthographic conventions and adding them to the existing writing system (from the WRMPB text when it is spoken) followed by intertextual analysis. The results show that from the point of view of the art of sounding the narrative texts, the WRMPB text has new orthographic conventions which are at the same time inherent in the existing writing system. Meanwhile, in terms of local culture that characterizes the language and literary performances of the WRMPB text, the local wisdom of Sasak-Lombok is one of the reinforcing and locking features of the text. For example, local wisdom in the form of proverbs, idioms, and the like is used to lock the meaning of certain verses. This is a manifestation of the author's awareness that the local language contains certain values, concepts, and cultural characteristics that do not exist in other languages. Thus, local knowledge plays a major role in accommodating the totality of the content of the text's intent.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur pembentuk struktur dan bunyi bahasa puitika-pentas teks Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru (WRMPB) dan menjelaskan pernik-pernik budaya lokal yang mewarnai teks WRMPB ketika dilisankan. Identifikasi dimaksudkan untuk mengetahui unsur-unsur pembentuk struktur dan bunyi bahasa puitika-pentas teks WRMPB. Selanjutnya, penjelasan pernik-pernik budaya yang mewarnai teks WRMPB dimaksudkan untuk memahami pengetahuan lokal atau ciri-ciri lokal yang khas dalam pentas sastra teks WRMPB. Secara metodologis, metode pengumpulan data (baik data primer maupun sekunder) dalam penelitian ini mencakup studi kepustakaan (khususnya yang terkait dengan data teoretis), observasi partisipasi, wawancara mendalam, rekaman (audiovisual), foto, dan transkripsi-penerjemahan. Adapun metode analisis data menggunakan metode analisis puitika yang dikemukakan Tedlock (1992), yakni membuat konvensi-konvensi ortografis baru dan menambahkannya ke dalam sistem tulisan yang ada (dari teks WRMPB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi the art of sounding the narrative texts ‘seni pengucapan teks’, teks WRMPB memiliki konvensi-konvensi ortografis baru yang sekaligus melekat dalam sistem tulisan yang ada. Sementara dari segi budaya lokal yang mewarnai bahasa dan pentas sastra teks WRMPB, kearifan lokal Sasak-Lombok menjadi salah satu fitur penguat dan pengunci teks tersebut. Misalnya, kearifan lokal berupa sesenggak ‘peribahasa’, idiom, dan sejenisnya dipakai untuk mengunci maksud bait-bait tertentu. Dengan demikian, pengetahuan lokal berperan besar dalam mewadahi totalitas kandungan maksud teks tersebut

    Rekonkretisasi Pendekatan Komunikatif Via Model “Patang Go, Unine” Pembelajaran Paramasastra di SD Masa Pandemi Covid-19: Reconcretization of Communicative Approach Via Model “Patang Go, Unine” Paramasastra Learning in Elementary School During the Covid-19 Pandemic

    No full text
    Abstrak: Covid-19 menurunkan semangat belajar siswa pada pembelajaran  online. Guru harus mempunyai model pembelajaran yang menyenangkan. Penelitian ini memberikan sebuah nama model pembelajaran yang baru yang dikemas secara menyenangkan yang disebut dengan istilah model “patang go, unine”. Model ini terdiri dari  go-wa (golek swara), go-bung (golek tembung), go-kar (golek ukara), go-bar (golek gambar), dan unine (bunyinya). Model “patang go, unine” disajikan dalam tataran linguistik dan keterampilan berbahasa, yaitu golek swara  fonologi dan membaca, golek tembung pada morfologi dan mendengarkan-menulis, golek ukara pada sintaksis dan membaca-menulis, golek gambar pada aspek melihat, unine berada pada tataran morfologi dan sintaksis, serta berbicara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan inovasi konkretisasi pendekatan komunikatif pada pembelajaran bahasa Jawa melalui model “patang go, unine”. Penelitian ini berfokus pada paramasastra ‘tata bahasa’. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian ini ialah siswa merasa tertarik dan antusias. Itu karena model “patang go, unine” dikemas dalam suatu permainan mencari bentuk satuan lingual dan dikombinasikan dengan e-modul dan video conference. Selain itu, siswa dapat meningkatkan penguasaan kosakata sehingga lebih memahami bacaan; meningkatkan keterampilan berbahasa dan  analisis fungsi sintaksis; membentuk pola pikir tentang pengetahuan paramasastra; membantu dalam penilaian satuan lingual; dan memperkenalkan budaya Jawa. Abstract: Covid-19 reduces students' enthusiasm for learning in online learning. Teachers must have a fun learning model. This research gives a name for a new learning model that is packaged in a fun way called the "patang go, unine" model. This model consists of go-wa (golek swara), go-bung (golek tembung), go-kar (golek ukara), go-bar (golek picture), and unine (golek). The “patang go, unine” model is presented at the level of linguistics and language skills, namely phonology and reading swara golek, tembung golek on morphology and listening-writing, ukara golek on syntax and reading-writing, picture show on seeing aspect, unine on the level of morphology and syntax, and speech. This study aims to describe the concretization innovation of a communicative approach to Javanese language learning through the "patang go, unine" model. This study focuses on paramasastra 'grammar'. This research uses classroom action research method. The results of this study are students feel interested and enthusiastic. That's because the “patang go, unine” model is packaged in a game to find the form of a lingual unit and is combined with e-modules and video conferencing. In addition, students can improve vocabulary mastery so that they better understand the reading; improve language skills and analysis of syntactic functions; form a mindset about paramasastra knowledge; assist in the assessment of lingual units; and introduce Javanese culture.Abstrak: Covid-19 menurunkan semangat belajar siswa pada pembelajaran  online. Guru harus mempunyai model pembelajaran yang menyenangkan. Penelitian ini memberikan sebuah nama model pembelajaran yang baru yang dikemas secara menyenangkan yang disebut dengan istilah model “patang go, unine”. Model ini terdiri dari  go-wa (golek swara), go-bung (golek tembung), go-kar (golek ukara), go-bar (golek gambar), dan unine (bunyinya). Model “patang go, unine” disajikan dalam tataran linguistik dan keterampilan berbahasa, yaitu golek swara  fonologi dan membaca, golek tembung pada morfologi dan mendengarkan-menulis, golek ukara pada sintaksis dan membaca-menulis, golek gambar pada aspek melihat, unine berada pada tataran morfologi dan sintaksis, serta berbicara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan inovasi konkretisasi pendekatan komunikatif pada pembelajaran bahasa Jawa melalui model “patang go, unine”. Penelitian ini berfokus pada paramasastra ‘tata bahasa’. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian ini ialah siswa merasa tertarik dan antusias. Itu karena model “patang go, unine” dikemas dalam suatu permainan mencari bentuk satuan lingual dan dikombinasikan dengan e-modul dan video conference. Selain itu, siswa dapat meningkatkan penguasaan kosakata sehingga lebih memahami bacaan; meningkatkan keterampilan berbahasa dan  analisis fungsi sintaksis; membentuk pola pikir tentang pengetahuan paramasastra; membantu dalam penilaian satuan lingual; dan memperkenalkan budaya Jawa

    English: Pola Komunikasi di Pasar Tradisional “Pasar Sari Mulia” Kota Kapuas

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini membahas tentang investigasi pola komunikasi di pasar tradisional “Pasar Sari Mulia” di Kota Kapuas. Masalah utama dalam penelitian ini adalah pola komunikasi yang digunakan di pasar tradisional. Selain itu, penelitian ini juga menemukan tentang bagaimana komunikasi nonverbal pembeli dan penjual di pasar tradisional. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan data dianalisis tentang pengaruh budaya suatu bahasa dan bagaimana bahasa itu sendiri akan membentuk suatu budaya dalam suatu domain. Data diperoleh dari observasi dan menggunakan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Banjar merupakan bahasa yang umum digunakan di pasar tradisional. Alih kode dan kalimat persuasif biasa digunakan dalam melakukan transaksi. Pembeli dan penjual menggunakan pola komunikasi yang unik dan komunikasi non-verbal terutama dalam menarik, proses tawar-menawar dan ekspresi penutupan perdagangan. Namun bagi penjual, komunikasi yang digunakan cenderung membujuk pembeli untuk segera membeli barangnya. Abstract: This research deals with the investigation of communication patterns in the traditional market “Pasar Sari Mulia” in Kapuas City. The major issues in this research were the communication patterns which were used in the traditional market. Besides, this research also found about how are non-verbal communication of buyer and seller in the traditional market. Using qualitative approach and the data were analyzed about culture influences a language and how language itself will make a culture in a domain. The data were gotten from observation and used library research. The results showed that the Banjarese language was a common language which was used in the traditional market. Code switching and persuasive sentence were commonly used in doing transaction. The buyers and sellers used unique communication patterns and non-verbal communication especially in attracting, bargaining process and closing expression of trading. However, for the sellers, the communication used tends to persuade buyers to immediately buy their goods

    NARASI PIDATO NADIEM MAKARIM PADA HARI GURU NASIONAL 2019: KAJIAN RELASI MAKNA SEMANTIK: Narrative of Nadiem Makarim's Speech on National Teacher's Day 2019: Study of Semantic Relations

    No full text
    Abstrak: Hari guru merupakan sebuah momentum saat para guru diberi amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan dasar dan menengah dan pendidikan tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan relasi makna yang digunakan oleh Mendikbud, Nadiem Makarim pada pidatonya di Hari Guru Nasional tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Data diambil dari pidato Nadiem makarim. Pengumpulan data melalui metode observasi dan teknik catat. Analisis data menggunakan instrumen relasi makna yang mencakup sinonim, antonim, metonimi, polisemi, hiponimi dan kolokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pidato yang disampaikan oleh Medikbud Nadiem Makarim sedikitnya enam jenis relasi semantik, yaitu sinonimi, antonimi, metonimi, polisemi, hiponimi dan kolokasi. Sebagai rincian, terdapat enam relasi semantik seperti 12 sinonim, 10 antonim, 7 metonimi, 6 polisemi, 6 hiponimi dan 8 kolokasi. Simpulanya hasil dalam pidato yang cukup singkat ini menunjukkan adanya eksistensi teoretikal dan praktikal dari kajian semantik. Abstract: Teacher’s Day is monumental event for teacher to educate nation through educatinal level either elementary school, high school or university. This article aims at describing semantic relation in Nadiem Makarim speech on Teacher’s Day in 2019. The method of the research employs qualitative descriptive which is describing some matters relating to the problem found in the data source. The data was taken from Nadiem Makarim’s speech. Observational method with note-taking, watching are used to collect data. The writer uses semantic relation’s theory that covers synonymy, antonymy, metonymy, polysemy, hyponymy and collocations. The result shows semantic relation in Nadiem Makarim’s speech on Teacher’s Day 2019 in general. There are six semantic relations such as synonymy, antonymy, metonymy, polysemy, hyponymy and collocations. For the details, in the form of 12 synonymy, 10 antonymy, 7 metonymy, 6 polysemy, 6 hyponymy and 8 collocations. This speech shows the existance of semantic relation in theoretically and practically.Abstrak: Hari guru merupakan sebuah momentum saat para guru diberi amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan dasar dan menengah dan pendidikan tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan relasi makna yang digunakan oleh Mendikbud, Nadiem Makarim pada pidatonya di Hari Guru Nasional tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Data diambil dari pidato Nadiem makarim. Pengumpulan data melalui metode observasi dan teknik catat. Analisis data menggunakan instrumen relasi makna yang mencakup sinonim, antonim, metonimi, polisemi, hiponimi dan kolokasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pidato yang disampaikan oleh Medikbud Nadiem Makarim sedikitnya enam jenis relasi semantik, yaitu sinonimi, antonimi, metonimi, polisemi, hiponimi dan kolokasi. Sebagai rincian, terdapat enam relasi semantik seperti 12 sinonim, 10 antonim, 7 metonimi, 6 polisemi, 6 hiponimi dan 8 kolokasi. Simpulanya hasil dalam pidato yang cukup singkat ini menunjukkan adanya eksistensi teoretikal dan praktikal dari kajian semantik

    Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Daring Teks Prosedur oleh Guru Kelas VII SMP se-Kota Mataram Selama Pandemi Covid-19: The Drafting of The Online Lesson Plan (RPP) Procedure Text by The Teacher of Class VII Junior High School of Mataram During the Covid-19 Pandemic

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) daring teks prosedur oleh guru kelas VII SMP se-Kota Mataram selama pandemi covid-19. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskripftif. Data-data yang diperoleh berupa implementasi tujuan, langkah-langkah bagian kegiatan inti, dan penilaian RPP daring teks prosedur di enam sekolah. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa RPP daring teks prosedur SMP Negeri 3 Mataram, SMP Negeri 4 Mataram, SMP Negeri 5 Mataram, SMP Negeri 9 Mataram, SMP Negeri 15 Mataram, dan SMP Negeri 21 Mataram telah disusun dan digunakan oleh guru kelas VII masing-masing sekolah dengan penerapan dua model RPP daring teks prosedur, yakni (1) model pembelajaran berbasis teks yang terintegrasi dengan keterampilan 4C dan literasi serta (2) model pembelajaran berbasis teks yang terintegrasi dengan pendekatan saintifik yang disusun dengan teori yang berlaku dan dengan format yang berbeda-beda (berdasarkan MGMP Kota Mataram, MGMP guru mata pelajaran di sekolah tersebut, dan kelompok guru CPNS mata pelajaran se-Kota Mataram). Abstract: The research aims to know the drafting of the Planned Implementation of Learning (RPP) online text procedure by class teacher VII SMP of Mataram during the covid-19 pandemic. With the type of qualitative research, descriptive qualitative methods, data obtained from objective implementation forms, core activity measures, and RPP assessment of the online text procedure in six schools. Based on the results of research and discussion to answer how the preparation of the online Learning Implementation Plan (RPP) for procedure text by junior high school teachers throughout the city of Mataram during the covid-19 pandemic? Thus, it was found that the online lesson plans for the procedural texts of SMP Negeri 3 Mataram, SMP Negeri 4 Mataram, SMP Negeri 5 Mataram, SMP Negeri 9 Mataram, SMP Negeri 15 Mataram, and SMP Negeri 21 Mataram had been prepared and used by grade VII teachers of each school. with the application of two online lesson plans for procedural texts, namely (1) a text-based learning model that is integrated with 4C and literacy skills and (2) a text-based learning model that is integrated with a scientific approach, which is compiled with applicable theories, and in a different format (based on the MGMP of Mataram City, the MGMP of subject teachers at the school, and the group of CPNS teachers of subjects throughout the city of Mataram).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) daring teks prosedur oleh guru kelas VII SMP se-Kota Mataram selama pandemi covid-19. Dengan jenis penelitian kualitatif, metode kualitatif deskripftif, data-data yang diperoleh berupa bentuk implementasi tujuan, langkah-langkah bagian kegiatan inti, dan penilaian RPP daring teks prosedur di enam sekolah. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tersebut didapati bahwa RPP daring teks prosedur SMP Negeri 3 Mataram, SMP Negeri 4 Mataram, SMP Negeri 5 Mataram, SMP Negeri 9 Mataram, SMP Negeri 15 Mataram, dan SMP Negeri 21 Mataram tersebut telah disusun dan digunakan dua model RPP daring teks prosedur, yakni (1) model pembelajaran berbasis teks yang terintegrasi dengan keterampilan 4C dan literasi serta (2) model pembelajaran berbasis teks yang terintegrasi dengan pendekatan saintifik, yang disusun dengan teori yang berlaku, dan dengan format yang berbeda-beda (berdasarkan MGMP Kota Mataram, MGMP guru mata pelajaran di sekolah tersebut, dan kelompok guru CPNS mata pelajaran se-Kota Mataram)

    0

    full texts

    42

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Bastrindo - Kajian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇