Jurnal Bastrindo - Kajian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
42 research outputs found
Sort by
KAJIAN NEW HISTORISME DALAM NOVEL HATI SINDEN KARYA DWI RAHYUNINGSIH: A Study Of New Historicism In The Novel Of Hati Sinden By Dwi Rahyuningsih
Abstrak: Penelitian ini menggunakan perspektif new historisme dengan tujuan untuk mengidentifikasi sejarah dan budaya Indonesia dalam novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih. Data dalam penelitian berupa teks, baik berupa kata, kalimat, atau wacana yang sesuai dengan rumusan masalah. Adapun sumber data dalam penelitian ini yaitu novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih yang diterbitkan oleh Diva Press pada tahun 2011. Instrumen dalam penelitian ini yaitu penulis yang berorientasi pada penelitian tentang sejarah dan budaya Indonesia dalam novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan yaitu baca dan catat. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu kategorisasi, deskripsi, dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, dalam novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih terdapat representasi sejarah Indonesia yaitu tentang Partai Komunis Indonesia. Kedua, representasi unsur budaya dalam novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih yang terdiri dari unsur budaya pada sistem kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem kepercayaan.
Abstract: This research used new historicism perspective with the aim of identifying Indonesian history and culture in the novel of Hati Sinden by Dwi Rahyuningsih. The data in this research is the form of text, either the form of words, sentences, or discourse in accordance with the formulation of problem. The data source in this research is novel of Hati Sinden by Dwi Rahyuningsih, published by Diva Press in 2011. The instrument in this research is the author who oriented towards research on Indonesian history and culture in the novel of Hati Sinden by Dwi Rahyuningsih. The data collection technique in this research was carried out in two stages, namely reading and taking notes. The data analysis technique was carried out in three stages, namely categorization, description, and presentation of the data. The results show that first, in the novel of Hati Sinden by Dwi Rahyuningsih, there is a representation of Indonesian history, namely the Indonesian Communist Party. Second, the representation of cultural elements in the novel of Hati Sinden by Dwi Rahyuningsih, which consists of cultural elements in the art system, livelihood system, and belief system.Penelitian ini menggunakan perspektif new historisme dengan tujuan untuk mengidentifikasi sejarah dan budaya Indonesia dalam novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih. Data dalam penelitian yaitu berupa teks, baik berupa kata, kalimat, atau wacana yang sesuai dengan rumusan masalah. Adapun sumber data dalam penelitian ini yaitu novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih yang diterbitkan oleh Diva Press pada tahun 2011. Instrumen dalam penelitian ini yaitu penulis yang berorientasi pada penelitian tentang sejarah dan budaya Indonesia dalam novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan yaitu baca dan catat. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu kategorisasi, deskripsi, dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, dalam novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih terdapat representasi sejarah Indonesia yaitu tentang Partai Komunis Indonesia. Kedua, representasi unsur budaya dalam novel Hati Sinden karya Dwi Rahyuningsih yang terdiri dari unsur budaya pada sistem kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem kepercayaan
Unsur Realisme dalam Naskah Drama Guru Bahasa Indonesia pada Pembelajaran Drama di SMAS Laboratorium Undiksha: Realism Elements in the Drama Script of the Indonesian Teacher at SMAS Laboratorium Undiksha
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur realisme di dalam naskah drama karya guru Bahasa Indonesia di SMAS Laboratorium Undiksha. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah naskah drama pada pembelajaran drama di SMAS Laboratorium Undiksha, khususnya yang digunakan sebagai bahan ajar pengganti naskah drama yang terdapat di dalam buku teks Bahasa Indonesia edisi revisi tahun 2017; di kelas XI pada Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Objek penelitian ini adalah unsur realisme di dalam naskah drama guru Bahasa Indonesia. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa unsur realisme yang terkandung di dalam naskah drama yang dibuat oleh guru Bahasa Indonesia di SMAS Laboroatorium Undiksha, meliputi: (1) realisme sosial, (2) realisme psikologis, dan (3) realisme magis. Unsur reaslisme sosial terdapat pada naskah berjudul Grubug dan Anjing Sambada; unsur realisme psikologis terdapat pada naskah berjudul Siapa Aku?; dan unsur realisme magis terdapat pada naskah berjudul Sungsang.
Abstract: This research aims to describe the realism element in drama scripts by Indonesian teachers at SMAS Laboratorium Undiksha. The research method used is descriptive qualitative. The subjects of this research are drama scripts in drama learning at SMAS Laboratorium Undiksha, especially those used as teaching materials to replace drama scripts contained in the revised 2017 edition of Indonesian textbooks; in class XI in the Department of Mathematics and Natural Sciences (MIPA). The object of this research is the realism element in the drama script of the Indonesian teacher. The data collection method used is literature study. The results of this study indicate that realism elements contained in the drama script made by the Indonesian teacher at SMAS Laboroatorium Undiksha, include: (1) social realism, (2) psychological realism, and (3) magical realism. Social realism elements are found in the text entitled Grubug and Anjing Sambada; psychological realism elements are found in the manuscript entitled Siapa Aku?; Magical realism elements are found in the manuscript entitled Sungsang.: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur realisme di dalam naskah drama karya guru Bahasa Indonesia di SMAS Laboratorium Undiksha. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah naskah drama pada pembelajaran drama di SMAS Laboratorium Undiksha, khususnya yang digunakan sebagai bahan ajar pengganti naskah drama yang terdapat di dalam buku teks Bahasa Indonesia edisi revisi tahun 2017; di kelas XI pada Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Objek penelitian ini adalah unsur realisme di dalam naskah drama guru Bahasa Indonesia. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa unsur realisme yang terkandung di dalam naskah drama yang dibuat oleh guru Bahasa Indonesia di SMAS Laboroatorium Undiksha, meliputi: (1) realisme sosial, (2) realisme psikologis, dan (3) realisme magis. Unsur reaslisme sosial terdapat pada naskah berjudul Grubug dan Anjing Sambada; unsur realisme psikologis terdapat pada naskah berjudul Siapa Aku?; dan unsur realisme magis terdapat pada naskah berjudul Sungsang
Perbandingan Leksikon Bahasa Jawa Dialek Malang dan Bahasa Jawa Dialek Blitar: The Lexicon Comparison of The Malang Dialect and The Blitar Dialect in Javanese Language
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan leksikon bahasa Jawa dialek Malang dan bahasa Jawa Dialek Blitar berdasarkan bentuk dan makna kedua bahasa tersebut. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa leksikon yang terdapat dalam tuturan masyarakat bahasa Jawa dialek Malang dan masyarakat bahasa Jawa dialek Blitar. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik dasar berupa teknik simak, libat, dan cakap yang dilanjutkan dengan teknik cakap secara virtual dan teknik catat. Metode yang digunakan adalah metode agih dan padan. Analisis data yang digunakan adalah metode padan dengan teknik menyesuaikan dengan karakter data yang diperoleh dan tujuan penelitian, yaitu teknik pilah unsur penentu sebagai teknik dasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat leksikon yang memiliki bentuk berbeda, tetapi maknanya sama pada bahasa Jawa dialek Malang (BJM) dan bahasa Jawa Dialek Blitar (BJB); (2) terdapat leksikon yang memiliki bentuk mirip dan makna yang sama pada bahasa Jawa dialek Malang (BJM) dan bahasa Jawa Dialek Blitar (BJB); dan (3) terdapat leksikon yang memiliki bentuk sama, tetapi maknanya berbeda pada bahasa Jawa dialek Malang (BJM) dan bahasa Jawa Dialek Blitar (BJB).
Abstract: This study aims to compare the Javanese lexicon Malang dialect and the Blitar dialect based on the forms and meanings of the two languages. This research is a descriptive research with a qualitative approach. The data in this study are in the form of lexicons contained in the speech of the Javanese language community in the Malang dialect and the Javanese language community in the Blitar dialect. Collecting data in this study using the observation method with basic techniques in the form of listening, engaging, and proficient techniques followed by virtual proficient techniques and note-taking techniques. The method used is the agih and matching method. The data analysis used is the equivalent method with the technique of adapting to the character of the data obtained and the research objectives, namely the technique of sorting the determining elements as a basic technique. The results of this study indicate that (1) there is a lexicon that has the different form and meaning in the Javanese Malang dialect (BJM) and the Javanese Blitar dialect (BJB); (2) there is a lexicon which has a similar shape and meaning in the Javanese Malang dialect (BJM) and the Javanese Blitar dialect (BJB); and (3) there is a lexicon which has the same shape, while the meaning is different in the Javanese Malang dialect (BJM) and the Javanese Blitar dialect (BJB).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan leksikon bahasa Jawa dialek Malang dan bahasa Jawa Dialek Blitar berdasarkan bentuk dan makna kedua bahasa tersebut. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa leksikon yang terdapat dalam tuturan masyarakat bahasa Jawa dialek Malang dan masyarakat bahasa Jawa dialek Blitar. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik dasar berupa teknik simak, libat, dan cakap yang dilanjutkan dengan teknik cakap secara virtual dan teknik catat. Metode yang digunakan adalah metode agih dan padan. Analisis data yang digunakan adalah metode padan dengan teknik menyesuaikan dengan karakter data yang diperoleh dan tujuan penelitian, yaitu teknik pilah unsur penentu sebagai teknik dasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat leksikon yang memiliki bentuk berbeda, tetapi maknanya sama pada bahasa Jawa dialek Malang (BJM) dan bahasa Jawa Dialek Blitar (BJB); (2) terdapat leksikon yang memiliki bentuk mirip dan makna yang sama pada bahasa Jawa dialek Malang (BJM) dan bahasa Jawa Dialek Blitar (BJB); dan (3) terdapat leksikon yang memiliki bentuk sama, tetapi maknanya berbeda pada bahasa Jawa dialek Malang (BJM) dan bahasa Jawa Dialek Blitar (BJB)
Informal Bound Morphs in Indonesian: Morf Terikat Informal dalam Bahasa Indonesia
Abstrak: Makalah ini membahas penggunaan morf terikat informal dalam bahasa Indonesia. Ada beberapa masalah yang ingin dijawab, yaitu apa morf terikat bahasa Indonesia yang biasa ditemukan dalam situasi tutur informal, berbagai makna gramatikal dapat diungkapkan oleh morf terikat tersebut, dan bagaimana kata-kata yang mengandung morf tersebut dapat diparafrasekan untuk mengidentifikasi padanan formalnya. Dengan menggunakan data yang dikumpulkan dari beberapa sumber dan menciptakan penggunaan kontekstualnya secara introspektif, ditemukan bahwa setidaknya ada lima morf terikat informal dalam penggunaan bahasa Indonesia. Beberapa dari morf terikat tersebut bersifat informal dalam semua penggunaan kontekstual, dan beberapa lainnya hanya demikian dalam mengungkapkan makna tertentu. Semua morf informal tersebut memiliki korespondensi formal meskipun dalam kasus yang sangat jarang parafrasenya tampak sangat aneh dan sulit dimengerti.
Abstract: This paper deals with the use of informal bound morphs in Indonesian. There are several issues intend to be answered, i.e what are Indonesian bound morphs commonly found in informal speech situations, various grammatical meanings can be expressed by those bound morphs, and how the words containing such morphs could be paraphrased to identify their formal equivalents. By using data collected from several sources and creating their contextual usage introspectively, it is found that there are at least five informal bound morphs in the use of Indonesian. Several of those bound morphs are informal in all contextual usages, and several others are only so in expressing certain meanings. All of those informal morphs have formal correspondences eventhough in very rare cases the paraphrases seem very strange and hard to understand. Tulisan ini membahas penggunaan morf terikat informal dalam bahasa Indonesia. Ada beberapa masalah yang ingin dijawab, yaitu apa morf terikat bahasa Indonesia yang biasa ditemukan dalam situasi tutur informal, berbagai makna gramatikal dapat diungkapkan oleh morf terikat tersebut, dan bagaimana kata-kata yang mengandung morf tersebut dapat diparafrasekan untuk mengidentifikasi padanan formalnya. Dengan menggunakan data yang dikumpulkan dari beberapa sumber dan menciptakan penggunaan kontekstualnya secara introspektif, ditemukan bahwa setidaknya ada lima morf terikat informal dalam penggunaan bahasa Indonesia. Beberapa dari morf terikat tersebut bersifat informal dalam semua penggunaan kontekstual, dan beberapa lainnya hanya demikian dalam mengungkapkan makna tertentu. Semua morf informal tersebut memiliki korespondensi formal meskipun dalam kasus yang sangat jarang parafrasenya tampak sangat aneh dan sulit dimengerti
Nilai Religius dalam Prosesi adat Nede di Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah: Religious Values in The Traditional Procession of Nede in Sengkerang Village, Praya Timur District, Central Lombok Regency
Abstrak: Penelitian ini berjudul Nilai Religius dalam Prosesi adat Nede di Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah nilai religiusitas dalam prosesi adat Nede di Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah. Peneitian ini dibuat berdasarkan tiga alasan yaitu yang pertama adanya sebuah ritual di tengah masyarakat desa Sengkerang kecamatan Praya Timur yang bernama Nede yang merupakan implementasi dari kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan gaib atau roh-roh halus dan benda-benda keramat yang merupakan satu bentuk kearifan budaya lokal, kedua adalah terjadinya akulturasi pasca masuknya Islam, dan yang ketiga adalah banyaknya nilai-nilai agama yang dapat dipetik dalam ritual tersebut yang dapat dijadikan pelajaran dalam hidup bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis nilai religiusitas yang terdapat pada tradisi Nede di Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Adapun tahapan dalam penelitian ini adalah yang pertama tahap reduksi data dengan menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi, tahapan yang kedua adalah tahap display data dan terakhir adalah penyajian data. Adapun teori yang digunakan untuk menganalisis data dalam kajian ini adalah teori kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam prosesi adat Nede terdapat banyak nilai agama yang terangkum dalam tiga katagori yaitu nilai ibadah, nilai akidah dan akhlak.
Abstract: This study is entitled religious values ??in the traditional procession of Nede in Sengkerang Village, Praya Timur District, Central Lombok Regency. The formulation of the problem in this study is how the value of religiosity in the traditional Nede procession in Sengkerang Village, Praya Timur District, Central Lombok Regency. This research was made based on three reasons, namely the existence of a ritual in the community of Sengkerang village, Praya Timur sub-district called Nede, which is an implementation of the community's belief in supernatural powers or spirits and sacred objects which are a form of local cultural wisdom, secondly, the occurrence of acculturation after the entry of Islam and the third is the number of religious values ??that can be learned in these rituals which can be used as lessons in social life. This study aims to describe and analyze the value of religiosity contained in the Nede tradition in Sengkerang Village, Praya Timur District. This research is a qualitative descriptive study. The stages in this research are the first stage of data reduction using three methods, namely observation, interviews, and documentation, the second stage is the data display and the last is the presentation of the data. The theory to analyze the data in this study is the theory of culture. The results showed that in the traditional Nede procession there were many religious values ??summarized in three categories, namely the value of worship, the value of Akidah and morals.Abstrak
Penelitian ini berjudul Nilai religius dalam prosesi adat Nede di Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur kabupaten Lombok Tengah. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah nilai religiusitas dalam prosesi adat Nede di Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah. Peneitian ini dibuat berdasarkan pada tiga alasan yaitu yang pertama adanya sebuah ritual di tengah masyarakat desa Sengkerang kecamatan Praya Timur yang bernama Nede yang merupakan implementasi dari kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan ghaib atau roh-roh halus dan benda-benda keramat yang merupakan satu bentuk kearifan budaya lokal, kedua adalah terjadinya akulturasi pasca masuknya islam dan yang ketiga adalah banyaknya nilai-nilai agama yang dapat dipetik dalam ritual tersebut yang dapat di jadikan pelajaran dalam hidup bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis nilai religiusitas yang terdapat pada tradisi Nede di Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Adapun tahapan dalam penelitian ini adalah yang pertama tahap reduksi data dengan menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi, tahapan yang kedua adalah tahap display data dan terakhir adalah penyajian data. Adapun teori yang di gunakan untuk menganalisis data dalam kajian ini adalah teori kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam prosesi adat Nede terdapat banyak nilai agama yang terangkum dalam tiga katagori yaitu nilai ibadah, nilai Aqidah dan akhlak.
Kata Kunci: Nilai Religius, Adat, Nede
FRAME DAN MODEL KOGNITIF IDEAL DIALOG ANTARA BU TEJO DAN YU NING DALAM FILM TILIK: Frame and Ideal Cognitive Model in The Dialogue between Bu Tejo and Yu Ning in Tilik Film
Abstrak: Proses konseptualisasi gagasan atau ide tidak hanya dalam pikiran, tetapi juga terdapat dalam tuturan manusia. Penelitian yang dilakukan memiliki dua permasalahan yang akan diteliti yaitu frame dan model kognitif ideal tokoh Dian berdasarkan dialog Bu Tejo dan Yu Ning. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan frame dalam dialog antara Bu Tejo dan Yu Ning dan mengidentifikasi model kognitif ideal tokoh Dian dalam film Tilik. Data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah transkripsi dialog bahasa Indonesia Bu Tejo dan Yu Ning. Analisis data menggunakan teori frame dan model kognitif ideal dalam lingkup linguistik kognitif. Penyajian hasil pemorakan data akan disajikan dalam bentuk penyajian secara informal dengan bagan arus. Pembentukan frame berasal dari latar belakang pengetahuan dalam setiap individu. Dalam dialog antara Bu Tejo dan Yu Ning, terdapat tujuh frame pembentuk seperti frame pekerjaan, kekayaan, kebenaran, kehamilan, kampanye, kenyamanan, dan kebudayaan. Aktivitas berbahasa dalam dialog antara Bu Tejo dan Yu Ning juga menghasilkan dua model kognitif ideal tokoh Dian. Dari hasil transkripsi percakapan ditemukan pula dua model kognitif ideal menurut Bu Tejo dan Yu Ning. Perbedaan ini terjadi karena keduanya memiliki pengalaman sosial yang berbeda dalam berinteraksi dengan tokoh Dian.
Abstract: The process of conceptualizing ideas is not only in the mind but also in human speech. Two problems that will be examined in this research are the frame and ideal cognitive model of Dian's character based on the dialogue of Bu Tejo and Yu Ning. The purpose of this research is to describe the frame in the dialogue between Bu Tejo and Yu Ning and to identify the ideal cognitive model of Dian in Tilik film. The data used in this research is the transcription of the Indonesian dialogue between Bu Tejo and Yu Ning. Data analysis used frame theory and ideal cognitive models within the scope of cognitive linguistics. Presentation of the results of the data alignment will be presented in the form of an informal presentation with a flow chart. The formation of the frames comes from the background knowledge of each individual. In the dialogue between Bu Tejo and Yu Ning, there are seven forming frames as the frame of work, wealth, truth, pregnancy, campaign, comfort, and culture. Language activity in the dialogue between Bu Tejo and Yu Ning also produced two ideal cognitive models for Dian. The transcription results of the conversation also found two ideal cognitive models according to Bu Tejo and Yu Ning. This difference occurs because both of them have different social experiences in interacting with Dian.Penelitian yang dilakukan memiliki dua permasalah yang akan diteliti. Pertama, mendeskripsikan frame dalam dialog Bu Tejo dan Yu Ning. Kedua, mendeskripsikan model kognitif ideal tokoh Dian berdasarkan dialog Bu Tejo dan Yu Ning. Tujuan dari penelitian dilakukan yaitu dapat mendeskripsikan frame dalam dialog antara Bu Tejo dan Yu Ning dan mengidentifikasi model kognitif ideal tokoh Dian dalam film Tilik. Data yang dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah transkripsi dialog bahasa Indonesia Bu Tejo dan Yu Ning. Analisis data menggunakan teori frame dan model kognitif ideal dalam lingkup linguistik kognitif. Penyajian hasil pemorakan data akan disajikan dalam bentuk penyajian secara informal dengan bagan arus. Pembentukan frame berasal dari latar belakang pengetahuan dalam setiap individu.Dalam dialog antara Bu Tejo dan Yu Ning, terdapat tujuh frame pembentuk seperti frame pekerjaan, kekayaan, kebenaran, kehamilan, kampanye, kenyamanan, dan kebudayaan. Aktivitas berbahasa dalam dialog antara Bu Tejo dan Yu Ning juga menghasilkan dua model kognitif ideal tokoh Dian. Dari hasil transkripsi percakapan ditemukan pula dua model kognitif ideal menurut Bu Tejo dan Yu Ning. Perbedaan ini terjadi karena keduanya memiliki pengalaman sosial yang berbeda dalam berinteraksi dengan tokoh Dian
Interaksi Sosial pada Kumpulan Cerpen Jendela Cinta dan Hubungannya dengan Pembelajaran Sastra di SMA: The Social Interactions in Jendela Cinta and Relationships to Literature Learning in Senior High School
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk interaksi sosial dalam ketujuh cerpen pada kumpulan cerpen Jendela Cinta karya Fahri Asiza dkk. dan (2) mendeskripsikan pemanfaatan cerpen dalam kumpulan cerpen Jendela Cinta sebagai pembelajaran sastra di SMA. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu dokumentasi. Selanjutnya data dianalisis dengan teknik deskriptif analitis yang meliputi pengidentifikasian, pengklasifikasian, dan penyimpulan pada data-data yang terkumpul dari kumpulan cerpen Jendela Cinta karya Fahri Asiza dkk. dengan pendekatan sosiologi sastra, yakni teori interaksi sosial Georg Simmel. Bentuk interaksi sosial dalam teori ini berupa superordinasi dan subordinasi, pertukaran, konflik, prostitusi, dan sosiabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan 37 data dengan rincian data 8 bukti data superordinasi dan subordinasi, 6 bukti data pertukaran, 11 bukti data konflik, 3 bukti data prostitusi, dan 9bukti data sosiabilitas. Pada bentuk interaksi superordinasi dan subordinasi satu di antaranya tergambar dalam hubungan antara tokoh majikan dan tokoh pembantu pada cerpen berjudul “Dia!”, bentuk pertukaran salah satunya tampak melalui tokoh Ratna dan ketiga adiknya pada cerpen “Malam Biru” saat bertukar informasi, bentuk konflik ditemukan satu di antaranya dalam perselisihan antara GAM dan TNI di Aceh yang diceritakan dalam cerpen “Terapung” dan “Bidadari Kecilku”, bentuk prostitusi ditemukan dalam cerpen “Bulan Mengapung” melalui tokoh Parjo dan teman-temannya, dan bentuk sosiabilitas satu di antaranya tergambar melalui keramahan tokoh Aminah dalam cerpen “Jendela Cinta”.
Abstract: This research aims to (1) describe the forms of social interactions in the seven short stories called Jendela Cinta by Fahri Asiza et al. and (2) describe the use of short stories in the collection of Jendela Cinta short story as literary learning in senior high school. The method use is descriptive qualitative method. The data collection technique is documentation. Furthermore, the data were analyzed using descriptive analitytical techniques which include identifying, classifying, and inferring data collected from the short story collection of Jendela Cinta by Fahri Asiza et al. with a sociological approach to literature, based on Georg Simmel’s theory of social interaction. The form of social interaction in this theory is in the form of superordination and subordination, exchange, conflict, prostitution, and sociability. The result of this research indicate that found 37 data with 8 data details of superordination and subordination data, 6 evidence of exchange data, 11 evidence of conflict data, 3 evidence of prostitution data, and 9 evidence of sociability data. In the form interaction of superordination and subordination, one of them is illustrated in the relationship between the employer and the maid in the short story “Dia!”, one form of exchange was seen through the character Ratna and her three younger siblings in the short story “Malam Biru” when exchanging information, one form of conflict was seen in a dispute between GAM and TNI in Aceh which was told in the short stories “Terapung” and “Bidadari Kecilku”, a form of prostitution found in the short story “Bulan Mengapung” through Parjo figures and friends, and one form of sociability was seen through Aminah figures in the short story “Jendela Cinta”
Nilai Didaktis dalam Cerita Putri Denda Mandalika Versi S.S.T. Wisnu Sasangka dan Hubungannya dengan Pembelajaran Sastra di SMA: Didactic Values of Putri Denda Mandalika Story Of S.S.T. Wisnu Sasangka Version and It’s Correlation with The Study of Literature in Senior High School
Abstrak: Upaya mengembangkan karakter siswa salah satunya dapat dilakukan dengan membangun pemahaman pada diri siswa melalui nilai-nilai didaktis dalam cerita rakyat Putri Denda Mandalika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai didaktis dalam cerita Putri Denda Mandalika versi S.S.T Wisnu Sasangka dan hubungannya dengan pembelajaran sastra di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif kualitatif yang menggunakan metode analisis deksriptif. Data yang terkumpul dianalisis, diidentifikasi, diklasifikasi, dan dideskripsikan. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku cerita Putri Denda Mandalika versi S.S.T Wisnu Sasangka. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode kepustakaan yakni teknik yang menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai didaktis dalam cerita rakyat Putri Denda Mandalika versi S.S.T Wisnu Sasangka dan terdapat hubungan antara nilai-nilai didaktis yang ditemukan dengan pembelajaran sastra di SMA. Adapun nilai-nilai didaktis yang ditemukan yakni nilai moral, nilai sosial, nilai religius, dan nilai budaya. Sedangkan hubungan nilai-nilai didaktis dalam cerita rakyat Putri Denda Mandalika dengan pembelajaran sastra di SMA adalah dengan dimasukkannya cerita rakyat Putri Denda Mandalika sebagai bahan ajar dalam memenuhi standar kompetensi dasar no 3.7 dan 4.7.
Abstract: One of the efforts to develop student character can be done by building understanding in students through didactic values ??in the folklore of Putri Denda Mandalika. This study aims to determine the didactic values ??in the story of Putri Denda Mandalika S.S.T Wisnu Sasangka version and its relationship with literature learning in high school. This research is a qualitative descriptive study using descriptive analysis method. The collected data is analyzed, identified, classified and described. The data source in this research is the story book of Putri Denda Mandalika S.S.T version of Wisnu Sasangka. Data collection is done by using the literature method which is a technique that uses written sources to obtain data. Analysis of the data in this study used descriptive analysis with a pragmatic approach. The results showed that there were didactic values ??in the S.S.T Wisnu Sasangka version of Putri Denda Mandalika folklore and there was a relationship between didactic values ??found and literary learning in high school. The didactic values ??found were moral values, social values, religious values, and cultural values. Whereas the relationship between didactic values ??in the Putri Denda Mandalika folklore with literary learning in high school is the inclusion of Putri Denda Mandalika folklore as teaching material in meeting basic competency standards no. 3.7 and 4.7.
Homografi dalam Bahasa Sasak di Kelurahan Tanjung Kabupaten Lombok Timur: Homography in Sasak Language in Tanjung Village East Lombok District
Abstrak: Permasalahan dalam penelitian ini, yaitu (1) Bagaimanakah wujud homografi dalam bahasa Sasak di Kelurahan Tanjung Kabupaten Lombok Timur? (2) Bagaimanakah distribusi homografi dalam pembentukan kalimat ? (3) Bagaimanakah makna leksem homografi ? Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengidentifikasi wujud homografi dalam bahasa Sasak di Kelurahan Tanjung Kabupaten Lombok Timur, (2) mengidentifikasi distribusi homografi dalam pembentukan kalimat, (3) mendeskripsikan makna leksem homografi. Dalam pengumpulan data digunakan beberapa metode, yaitu: 1) metode introspeksi, 2) metode cakap, dan 3) metode simak. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan intralingual dan metode padan ekstralingual. Hasil penelitian ini adalah (1) wujud leksem berhomografi walaupun memiliki wujud yang sama tetapi lafal dan maknanya berbeda, sehingga dikategorikan sebagai homografi. Contohnya, leksem lekaq [lEka?] yang bermakna ‘jalan’ dan leksem lekaq [l?ka?] yang bermakna ‘lepas’, (2) distribusi leksem homografi dalam pembentukan kalimat yaitu secara umum leksem homografi dapat menempati posisi di awal kalimat, di tengah kalimat, dan di akhir kalimat. Namun, ada beberapa leksem homografi yang tidak berdistribusi lengkap, (3) makna masing-masing leksem homografi berbeda-beda dan mengacu pada makna leksikalnya. Akan tetapi, berdasarkan distribusi leksem homografi dalam kalimat, makna leksem tersebut tidak selalu sama dengan makna leksikalnya. Selain itu, makna leksem homografi ini mengalami perubahan saat berada di dalam konteks kalimat yang berbeda.
Abstract: The problems in this study, namely (1) How is the form of homography in Sasak in Tanjung subdistrict, East Lombok Regency ? (2) What is the distribution of homography in sentence formation ? (3) What is the meaning of homographic lexeme ? The purpose of this study was to (1) identify homogeneous forms in Sasak in Tanjung Subdistrict, East Lombok Regency, (2) identify homographic distributions in sentence formation, (3) describe the meaning of homographic lexemes. In collecting data, several methods are used, namely: 1) the introspection method, 2) the competent method, and 3) the listening method. Data analysis methods used are the intralingual equivalent method and the extralingual equivalent method. The results of this study are (1) the shape of the lexeme having a homograph even though it has the same form but the pronunciation and meaning are different, so they are categorized as homography. For example, leksem lekaq [lEka?] which means 'path' and leksem lekaq [l?ka?] Which means 'loose', (2) the distribution of homographic lexemes in sentence formation that is generally homographic lexemes can occupy positions at the beginning of a sentence, in the middle of a sentence , and at the end of the sentence. However, there are some homographical lexemes that are not fully distributed, (3) the meanings of each homographic lexeme are different and refer to the lexical meaning. However, based on the distribution of homographic lexemes in sentences, the meaning of the lexeme is not always the same as the lexical meaning. In addition, the meaning of this homographic lexeme changes when it is in the context of different sentences
Inkonsistensi Kaidah dalam Buku Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia dengan KBBI dan PUEBI: Inconsistency in Counseling Book Series by Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Abstrak: Penelitian ini hadir dalam rangka menguak inkonsistensi dalam Buku Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia yang dipublikasikan oleh Badan Bahasa di laman resminya. Buku yang menjadi objek penelitian ini adalah buku Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Ejaan dan buku Seri Penyuluhan Bahasa Indonesai: Bentuk dan Pilihan Kata. Data yang ditinjau kritis dalam objek penelitian ini adalah data yang menyimpang dari kaidah terbaru yang berlaku. Prosedur penelitian ini mengikuti dua prosedur analisis kontrastif yang di dalam pembahasannya juga membicarakan kesalahan berbahasa. Prosedur penelitiannya adalah pengidentifikasian masalah dan pendeskripsian masalah. Pengidentifikasian masalah dilakukan dengan Metode Simak dan Teknik Catat. Setiap ditemukan inkonsistensi, peneliti mencatat dan sekaligus mengidentifikasi bentuk inkonsistensi itu pada kartu data, termasuk dalam tahap ini adalah pengklasifikasian data. Pada tahapan pendeskripsian masalah, digunakan pembandingan antara penjelasan dan contoh yang ada di objek penelitian dengan kaidah yang tercantum di dalam KBBI dan PUEBI. Perbedaan itu kemudian dideskripsikan sehingga didapatkanlah uraian yang representatif mengenai inkonsistensi kaidah dalam objek penelitian. Simpulan penelitian menyatakan bahwa terdapat penjelasan dan data yang ada di dalam objek penelitian bertentangan dengan kaidah terbaru yang berlaku. Pertentangan atau inkonsistensi itu ditemukan dalam setiap bagian objek penelitian.
Abstract: This research is present in order to uncover inconsistencies in the Indonesian Counseling Book Series published by Badan Bahasa on its official page. The books that are the object of this research are the Spelling Counseling Series, the Forms and Choice of Counseling Series, the Grammar Counseling Series, and the Sentence Counseling Series. The data that is critically reviewed in this research object is data that deviates from the latest applicable rules. The procedure of this research follows two language error analysis procedures. The research procedures namely problem identification and problem description. Identifying the problem is done using Simak Method and Catat Technique. Every time an inconsistency is found, the researcher notes and simultaneously identifies the form of the inconsistency on the data card. At the stage of describing the problem, a comparison is used between the explanation and examples in the object of research with the rules that applied in KBBI and PUEBI. The difference found then described in order to obtain a representative description of the inconsistencies in the object of research. The conclusion of the study stated that there are explanations and data contained in the object of research contrary to the latest rules that applied. These contradictions or inconsistencies are found in every part of the research object