Jurnal Bastrindo - Kajian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
    42 research outputs found

    Tinjauan Materi Ajar Mata Kuliah Wajib Kurikulum Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi: Review of Teaching Materials for MKWK Bahasa Indonesia in College

    No full text
    Abstrak: Bahan ajar Mata Kuliah Wajib Kurikulm (MKWK) bahasa Indonesia dari beberapa penerbit memiliki variasi dan kedalaman serta keluasan materi yang berbeda, meskipun kompetensi yang ditetapkan sama. Hal tersebut mengimplikasikan ketidakpaduan pada proses ketercapaian atau keterbacaan materi demi mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Penelitian ini memiliki tujuan merumuskan struktur materi dan bahan kajian MKWK bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Rumusan struktur materi dan bahan kajian tersebut diperoleh berdasarkan pembandingan seluruh buku ajar MKWK bahasa Indonesia yang ada, baik cetak maupun digital. Irisan dari materi dan bahan kajian itulah yang dijadikan sebagai rekomendasi struktur materi MKWK bahasa Indonesia di perguruan tinggi yang representatif, yaitu dapat mewakili amanah substansi kajian yang telah digariskan dalam Pedoman Pelaksanaan Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum Pendidikan Tinggi, kebutuhan mahasiswa dan dosen, serta kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Penelitian ini menggunakan model studi Pustaka dengan Teknik pengumpulan data berupa dokumen buku ajar MKWK bahasa Indonesia dari berbagai penerbit secara cetak dan digital. Teknik analisis data menggunakan metode kontrastif, yaitu pembandingan dan penentuan irisan materi dari berbagai buku ajar. Pada tahapan penyajian hasil penganalisisan data, digunakan metode informal, yaitu menjelaskan pemaparan perbedaan dari irisan materi yang ditelaah untuk memberikan rekomendasi penyusunan bahan ajar yang representatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat irisan materi dari keseluruhan buku ajar yang diperbandingkan yang mencakup kelompok materi kaidah kebahasaan, kelompok materi notasi ilmiah, kelompok materi wacana, kelompok materi kebahasaan, kelompok materi pengayaan bahasa Indonesia, dan kelompok materi wacana yang mencakup keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Keterampilan menulis memiliki porsi yang paling tinggi, namun kurang dari sisi pemahaman mengenai aspek dasar kebahasaan. Selain itu, keterampilan berbicara tidak secara lugas dijelaskan karena keterampilan tersebut penting untuk mengasah kegiatan presentasi mahasiswa dalam kegiatan akademik. Oleh karena itu, diharapkan rekomendasi berupa bahan ajar MKWK harus memuat semua kompetensi dalam amanat kurikulum yang disesuaikan dengan tingkat bahan ajar yang mudah dipahami dan merangsang pengembangan kompetensi berbahasa mahasiswa. Abstract: Teaching materials for Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) from several publishers have different variations and depth and breadth of material, even though the competencies determined are the same. This implies an incoherence in the process of achieving or reading the material in order to achieve the specified competency. This research aims to formulate the structure of Indonesian MKWK material and study materials in higher education. The formulation of the material structure and study materials was obtained based on a comparison of all existing MKWK Indonesian  language textbooks, both print and digital. Slices of material and study material are used as recommendations for the structure of Indonesian language MKWK material in representative universities, that is, they can represent the mandate of the study substance that has been outlined in the guidelines for implementing higher education curriculum, the needs of students and lecturers, as well as world needs. business and industrial world. This research uses a library study model with data collection techniques in the form of Indonesian MKWK textbook documents from various print and digital publishers. The data analysis technique uses a contrastive method, namely comparing and determining sections of material from various textbooks. At the stage of presenting the results of data analysis, an informal method is used, namely explaining the differences between the sections of material studied to provide recommendations for preparing representative teaching materials. The results of the research show that there are sections of material from all the compared textbooks which include the linguistic rules material group, the scientific notation material group, the discourse material group, the linguistic material group, the Indonesian language enrichment material group, and the discourse material group which includes listening, reading and learning skills. speaking, and writing. Writing skills have the highest portion, but understanding of basic aspects of language is lacking. Apart from that, speaking skills are not specifically explained even though these skills are important to shape students' presentation skills in academic activities. Therefore, it is hoped that recommendations in the form of MKWK teaching materials must contain all the competencies in the curriculum mandate that are adjusted to the level of teaching materials that are easy to understand and stimulate the development of students' language competencies

    Penggunaan Bahasa Sunda Pada Mahasiswa PBSI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Tinjauan Sosiolinguistik): The Usage of Sundanese Languagae Among Students from PBSI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    No full text
    Abstrak: Bahasa Sunda merupakan bahasa daerah yang berasal dari Provinsi Jawa Barat. Dalam bahasa Sunda terkandung undak usuk basa: tata krama dalam aktivitas tuturan Bahasa Sunda. Perbedaan bahasa yang digunakan dalam tuturan tersebut disesuaikan dengan mitra tutur. Bahasa yang digunakan kepada orang tua atau dihormati akan berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan kawan atau orang yang usianya lebih muda. Pada penelitian ini, peneliti meneliti sejauh mana pemakaian bahasa Sunda pada mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, apakah mereka menaati undak usuk basa atau mengabaikannya. Di dalam penelitian ini dikaji mengenai bagaimana komunikasi Bahasa Sunda mereka, seberapa sering mereka menggunakan Bahasa Sunda, seberapa bangga mereka menggunakan Bahasa Sunda, dan undak usuk basa bahasa Sunda seperti apa yang biasanya mereka gunakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan angket kepada mahasiswa PBSI yang dapat berbahasa Sunda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa eksistensi penggunaan bahasa Sunda di kalangan mahasiswa cukup intensif. Fakta menyebutkan bahwa saat ini bahasa Sunda tidak hanya dituturkan oleh mahasiswa yang berasal dari Jawa Barat, melainkan juga dari luar Jawa Barat. Faktor yang menyebabkan hal tersebut antara lain karena faktor lingkungan, kebiasaan, hingga faktor kesukaan kepada sebuah bahasa. Abstract: Sundanese is a regional language originating from West Java Province.  In Sundanese, there are steps for usuk  basa: manners in Sundanese speech activities.  The difference in language used in the speech is adjusted to the speech partner.  The language used by parents or respects will be different from the language used when talking to friends or younger people.  In this study, researchers examined the extent to which the use of Sundanese by Indonesian Language and Literature Education students at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, did they obey the usuk basa steps, or ignored them.  This research examines their Sundanese communication, how often they use Sundanese, how proud they are of using Sundanese, and what Sundanese undak usuk basa they usually use.  This study used the descriptive qualitative method.  Data collection is done by distributing questionnaires to PBSI students who can speak Sundanese.  The results of this study indicate that the existence of the use of Sundanese among students is quite intensive.  It is a fact that currently, Sundanese is not only spoken by students from West Java but also from outside West Java.  Factors that cause this include environmental factors, habits, and preference for a language.Bahasa Sunda merupakan bahasa daerah yang berasal dari Provinsi Jawa Barat. Dalam Bahasa Sunda terkandung undak usuk basa: tatakrama dalam aktivitas tuturan Bahasa Sunda. Perbedaan bahasa yang digunakan dalam tuturan tersebut disesuaikan dengan mitra tutur. Bahasa yang digunakan kepada orang tua atau dihormati akan berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan kawan atau orang yang usianya lebih muda. Pada penelitian ini, peneliti meneliti sejauh mana pemakaian Bahasa Sunda pada mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, apakah mereka menaati undak usuk basa atau mengabaikannya. Di dalam penelitian ini dikaji mengenai bagaimana komunikasi Bahasa Sunda mereka, seberapa sering mereka menggunakan Bahasa Sunda, seberapa bangga mereka menggunakan Bahasa Sunda, dan jenis Bahasa Sunda seperti apa yang biasanya mereka gunakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan angket kepada mahasiswa PBSI yang dapat berbahasa Sunda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa eksistensi penggunaan Bahasa Sunda dikalangan mahasiswa cukup intensif. Fakta menyebutkan bahwa saat ini Bahasa Sunda tidak hanya dituturkan oleh mahasiswa yang berasal dari Jawa Barat, melainkan dari luar Jawa Barat. Faktor yang menyebabkan hal tersebut antara lain karena faktor lingkungan, kebiasaan, hingga faktor kesukaan kepada sebuah bahasa

    Leksikon Gender Bahasa Sasak sebagai Pengungkap Nilai-Nilai Kearifan Lokal Kesantunan: The Gender Lexicon Study of the Sasak Language as a Disclosure of the Values of Principles' Local Wisdom

    No full text
    Abstrak: Tujuan penelitian ini mendeskripsikan satuan lingual leksikon gender bahasa Sasak dan menelaah pemaknaannya sebagai pengungkap nilai-nilai kearifan lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa Sasak memiliki leksikon gender yang direalisasikan melalui seperangkat dyad leksem yang pemakaiannya ditemukan pada ranah-ranah sosial-budaya kehidupan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Sasak. Leksikon gender yang ditemukan digunakan sebagai penanda gender pada ranah (1) sistem nama diri, (2) sistem kekerabatan, (3) pronomina persona kedua, dan pada (4) fase siklus kehidupan. Dalam kehidupan keseharian masyarakat Sasak, ranah-ranah penanda gender ini biasa dipakai sebagai sapaan. Dalam pemaknaan, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya  merealisasikan tentang pentingnya menjaga kesantunan yaitu sikap/perilaku saling menghormati dan menghargai antarlaki-laki dan perempuan. Pada hakikatnya, nilai-nilai kearifan lokal tentang kesantunan leksikon gender bahasa Sasak mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang alamiah yang telah ada dalam konteks kehidupan laki-laki dan perempuan sebagai bagian anggota masyarakat Sasak. Nilai- nilai kearifan lokal tersebut telah menjadi suatu konvensi dalam kehidupan laki-laki dan perempuan Sasak, sehingga nilai-nilai kesantunan yang ada akan senantiasa diterapkan dan terus berlangsung dalam kehidupan laki-laki dan perempuan Sasak. Abstract: The goal of this study is to explain the Sasak gender lexicon's linguistic unit and investigate its meaning as a manifestation of local wisdom values. The descriptive qualitative method was used in this study. The findings show that the Sasak language has a gender lexicon, which is realized through a collection of dyad lexemes that are used in the socio-cultural spheres of men and women's lives in Sasak culture. The discovered gender lexicon was employed as a gender marker in the realms of (1) self-name system, (2) kinship system, (3) second personal pronouns, and (4) life cycle phases. These gender identifiers are often. Local wisdom values have established a convention in the lives of Sasak men and women, ensuring that existing politeness values are always applied and continue to occur in Sasak men and women's lives. Used as greetings by the Sasak people in their daily lives. In other words, the values of local knowledge inherent in it recognize the necessity of sustaining civility, i.e., men and women's mutual respect and appreciation attitude/behavior. In essence, the gender lexicon of the Sasak language reflects the principles of natural local wisdom that already exist in the context of men and women's lives as members of the Sasak community. Local wisdom values have established a norm in the lives of Sasak men and women, ensuring that existing politeness values are always applied and continue to occur in Sasak men's lives.Tujuan penelitian ini mendeskripsikan satuan lingual leksikon gender bahasa Sasak dan menelaah pemaknaannya sebagai pengungkap nilai-nilai kearifan lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa Sasak memiliki leksikon gender yang direalisasikan melalui seperangkat dyad leksem yang pemakaiannya ditemukan pada ranah-ranah sosial-budaya kehidupan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Sasak. Leksikon gender yang ditemukan, digunakan sebagai penanda gender pada ranah (1) sistem nama diri, (2) sistem kekerabatan, (3) pronomina persona kedua dan pada (4) fase siklus kehidupan. Dalam kehidupan keseharian masyarakat Sasak, ranah-ranah penanda gender ini biasa  digunakan sebagai sapaan. Dalam pemaknaan, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya  merealisasikan tentang pentingnya menjaga kesantunan yaitu sikap/perilaku saling menghormati dan menghargai antarlaki-laki dan perempuan. Pada hakikatnya, nilai-nilai kearifan lokal tentang kesantunan  dalam leksikon gender bahasa Sasak mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang alamiah yang telah ada dalam konteks kehidupan laki-laki dan perempuan sebagai bagian anggota masyarakat Sasak. Nilai- nilai kearifan lokal tersebut telah menjadi suatu konvensi dalam kehidupan laki-laki dan perempuan Sasak, sehingga nilai-nilai kesantunan yang ada akan senantiasa  diterapkan dan terus berlangsung dalam kehidupan laki-laki dan perempuan Sasak

    Kekerasan dalam Novel Dari Dalam Kubur Karya Soe Tjen Marching: Perspektif Johan Galtung: Violence in the Novel Dari Dalam Kubur by Soe Tjen Marching: Johan Galtung's perspective

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kekerasan yang terdapat dalam novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching menggunakan perspektif Johan Galtung. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan teknik baca-catat dan dianalisis menggunakan metode formal dan metode deskriptif analisis. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma M.H. Abrams berupa pendekatan objektif yang berfokus pada karya sastra, yakni novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching dan pendekatan mimetik yang berfokus pada realitas dan semesta, yakni tindak kekerasan dalam novel Dari Dalam Kubur. Teori yang digunakan dalam penelitian merupakan teori stuktural yang digunakan untuk mengkaji analisis struktural dan teori kekerasan perspektif Johan Galtung. Penelitian ini menghasilkan analisis struktural dan tindak kekerasan dalam novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching. Dalam analisis struktural ditemukan bahwa dalam novel terdapat dua tokoh utama dan 45 tokoh tambahan. Tokoh utama dan tokoh tambahan menjadi korban kekerasan. Namun demikian, beberapa tokoh tambahan sekaligus menjadi pelaku kekerasan. Analisis latar menunjukkan sebagian besar latar tempat menjadi lokasi tindakan kekerasan. Latar waktu menunjuk pada masa di Indonesia terjadi kekerasan masal, yaitu tahun 1946-1947, 1965, dan 1998. Latar sosial dominan menggambarkan tradisi Tionghoa dan kehidupan keagamaan Katolik. Penelitian tindak kekerasan menghasilkan tiga bentuk kekerasan, yakni (1) kekerasan langsung, (2) kekerasan kultural atau budaya, dan (3) kekerasan struktural. Ketiga bentuk kekerasan tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kuasa terhadap tokoh utama dan tokoh tambahan. Namun demikian, beberapa tokoh tambahan juga melakukan tindak kekerasan terhadap tokoh utama dan sesama tokoh tambahan. Abstract: This study aims to examine the violence contained in the novel Dari Dalam Kubur by Soe Tjen Marching using the perspective of Johan Galtung. The data in this study were collected using a reading-note technique and analyzed using a formal method and a descriptive analysis method. The paradigm used in this research is the paradigm of M.H. Abrams takes the form of an objective approach that focuses on literary works, namely the novel Dari Dalam Kubur by Soe Tjen Marching, and a mimetic approach that focuses on reality and the universe, namely the acts of violence in the novel Dari Dalam Kubur. The theory used in this research is a structural theory which is used to examine the intrinsic elements and the theory of violence from Johan Galtung's perspective. This research produces an analysis of the intrinsic elements and acts of violence in the novel Dari Dalam Kubur by Soe Tjen Marching. The intrinsic elements consist of characters and characterizations as well as the setting. Characters and characterizations are divided into main characters and additional characters. In the novel, there are two main characters and 45 additional characters. The main character and supporting characters become victims of violence. However, several additional characters also become perpetrators of violence. The background analysis shows that most of the settings are the locations for acts of violence. The time setting refers to the period when mass violence occurred in Indonesia, namely 1965 and 1998. The dominant social setting describes Chinese traditions and Catholic religious life. Violence research produces three forms of violence, namely (1) direct violence, (2) cultural or cultural violence, and (3) structural violence. The three forms of violence are carried out by parties who have power over the main character and secondary characters. However, several additional characters also commit acts of violence against the main character and fellow additional characters.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kekerasan yang terdapat dalam novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching menggunakan perspektif Johan Galtung. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan analisis struktural berupa tokoh dan penokohan dan latar, serta (2) mendeskripsikan bentuk-bentuk kekerasan dalam novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan teknik baca-catat dan dianalisis menggunakan metode formal dan metode deskriptif analisis. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini dalah paradigma M.H. Abrams berupa pendekatan objektif yang berfokus pada karya sastra, yakni novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching, dan pendekatan mimetik yang berfokus pada realitas dan semesta, yakni tindak kekerasan dalam novel Dari Dalam Kubur. Teori yang digunakan dalam penelitian merupakan teori stuktural yang digunakan untuk mengkaji analisis struktural, dan teori kekerasan perspektif Johan Galtung. Penelitian ini menghasilkan analisis struktural dan tindak kekerasan dalam novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching. Analisis struktural itu terdiri atas tokoh dan penokohan serta latar. Tokoh dan penokohan terbagi menjadi tokoh utama, dan tokoh tambahan.  Dalam novel, terdapat dua tokoh utama dan 45 tokoh tambahan. Latar terbagi menjadi (1) latar tempat yang berjumlah 19, (2) Latar waktu yang berjumlah 10, dan (3) Latar sosial-budaya yang berjumlah tiga. Penelitian tindak kekerasan menghasilkan tiga bentuk kekerasan, yakni (1) kekerasan langsung, (2) kekerasan kultural atau budaya, dan (3) kekerasan struktural. Kekerasan langsung dibagi menjadi 10, kekerasan struktural dibagi menjadi tiga, dan kekerasan kultural atau budaya dibagi menjadi dua

    Aspek Sejarah dan Budaya Cina Benteng pada Variasi Toponim Sewan : Sebuah Kajian Linguistik: Historical and Cultural Aspects on Sewan’s Toponym Variation

    No full text
    Objek penelitian ini adalah nama tempat atau toponim. Toponim merupakan bagian dari identitas budaya. Penelitian in bertujuan untuk mendeskripsikan tiga aspek nama yaitu 1) bentuk, 2) makna, dan 3) latar belakang penamaan tempat-tempat bersejarah terkait masyarakat Cina Benteng, Tangerang, Banten. Nama tempat adalah salah satu bentuk data bahasa yang berisi seperangkat nilai kearifan lokal yang harus dipahami, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pada kajian linguistik nama dianggap sebagai satuan lingual secara bentuk, memiliki makna, dan memiliki fungsi baik ditingkatan bahasa maupun konteks sosial. Secara praktis nama digunakan untuk identifikasi wilayah, dan mempermudah proses perpindahan atau migrasi masyarakat. Secara kebahasaan, penamaan tempat merupakan dokumentasi bahasa yang berfungsi baik secara individu sebagai bentuk pemahaman diri dan secara kolektif sebagai bentuk identitas kolektif sebuah etnis atau masyarakat. Penelitian ini menggunakan Cina Benteng sebagai objek penelitian. Etnis Cina Benteng memiliki keunikan baik dalam ciri – ciri fisik maupun aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Data penelitian ini berupa variasi toponim sewan yang ditemukan sebanyak 12 variasi. Penelitian deskriptif kualitatif ini memanfaatkan teori etnosemantik dan linguistik antropologi. Penelitian ini memanfaatkan data primer yang diambil dengan pendekatan etnografi melalui teknik libat, cakap, catat, dan rekam. Hasil penelitian menggambarkan variasi toponim sewan menggambarkan aspek sejarah dan budaya yang mencakup 1)tokoh setempat yang berpengaruh, 2) peristiwa sejarah di sebuah lokasi, dan 3)pengetahuan lokal terkait budaya setempat

    PENGEMBANGAN MEDIA BERBASIS EKOSENTRIS DALAM PEMBELAJARAN TEKS PERSUASI KELAS VIII: KAJIAN ETNOPEDAGOGI: Development of Ecocentric-Based Media in Learning Persuasion Texts for Class VIII: Ethnopedagogical Studies

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini merupakan jenis penelitian research and development. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIII SMPN 2 Gunungsari. Adapun objek dalam penelitian ini yaitu pengembangan media ekosentris dalam pembelajaran teks persuasi kelas VIII. Model pengembangan dalam penelitian ini yaitu model pengembangan ADDIE dengan tahapan analisis, desain, pengembangan, implementasi, serta penilaian. Instrumen dalam penelitian ini berupa lembar penilaian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan kuesioner. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini melalui tahapan reduksi, penyajian, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini dikategorikan layak. Hal itu dapat dilihat dari hasil validasi ahli pertama yang menunjukkan nilai rata-rata sebesar 4,8. Hasil rata-rata validasi ahli materi dan ahli media yang kedua menghasilkan nilai yang sama dengan rata-rata validasi pertama, yaitu 4,8. Hasil rata-rata uji coba satu-satu yang dilakukan menunjukkan skor 4,2 yang berarti bahwa media ini berada pada kategori layak untuk digunakan. Selanjutnya uji coba kelompok kecil menunjukkan skor rata-rata 4,3 yang berkategori sangat layak sehingga dapat diketahui bahwa media pembelajaran yang dikembangkan sangat layak untuk digunakan. Abstract: The type of this research is research and development research. The subjects in this research were class VIII students of SMPN 2 Gunungsari. The object of this research is the development of ecocentric media in learning persuasive texts for class VIII. The development model in this research is the ADDIE development model with the stages of analysis, design, development, implementation, and assessment. The instrument in this research was an assessment sheet. Data collection techniques used in this research were observation, interviews, and questionnaires. The data analysis technique used in this research was through the stages of data reduction, presentation, and interpretation. The results showed that the learning media developed in this research were categorized as feasible. This can be seen from the results of the first expert validation which showed an average value of 4.8. The average results of the second validation of material experts and media experts produced the same value as the first validation average, which was 4.8. The average results of the one-on-one trials carried out showed a score of 4.2, which means that this media is in the category suitable for use. Furthermore, the small group trial showed an average score of 4.3 which was categorized as very feasible, so it can be seen that the learning media developed was very feasible to use.Penelitian ini merupakan jenis penelitian research and devolpment. Jenis reserach and development dalam penelitian ini yaitu pengembangan media pembelajaran berbasis ekosentris dalam pembelajaran teks persuasif pada kelas VIII. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lombok Barat mulai Bulan Februari sampai Agustus 2021. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VIII SMPN 2 Gunungsari. Adapun objek dalam penelitian ini yaitu pengembangan media ekosentris dalam pembelajaran teks persuasi kelas VIII. Model pengembangan (research and development) dalam penelitian ini yaitu model pengembangan ADDIE yaitu singkatan dari Analysis, Design, Development, Implementation dan Evaluation. Prosedur pengembangan media dalam penelitian ini dilakukan melalui tahapan analisis, desain, pengembangan, implementasi, serta penilaian. Instrumen dalam penelitian ini berupa lembar penilaian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan kuesioner. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini melalui beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau interpretasi data. Berdasarkan hasil penelitian  dapat disimpulkan bahwa proses pengembangan media ekosentris pada pembelajaran teks persuasif melalui multimedia berbasis Etnopedagogi dikembangkan dengan model ADDIE. Bentuk media ekosenstris pada pembelajaran teks persuasif ada berbagai jenis pemanfaatan media. Durasi waktu yang optimal untuk sebuah media pembelajaran, agar tidak membosankan. Prosedur penggunaan media pembelajaran teks persuasif dalam penelitian ini dilakukan dengan cara membuat link youtobe dan  grup whatsapp  yang digunakan untuk membagikan media pembelajaran, dan grup whatshapp digunakan oleh siswa untuk mengirim tugas membuat teks persuasif. Melalui dua media sosial ini, guru dapat melakukan evaluasi pembelajaran dan bisa mengontrol siswa dari luar ruang kelas. Kelayakan media pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat dilihat dari hasil validasi ahli materi dan ahli media, hasil angket, tes kognitif, tes psikomotorik, dan tes afektif.  Valiadasi ahli yang pertama menunjukkan nilai rata-rata sebesar 4,8. Berdasarkan Pendekatan Acuan Patokan (PAP) yang dikembangkan oleh Widoyoko dalam Anggraeni (2015), nilai 4,8>4,2 sehingga media pembelajaran dikategorikan sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Hasil rata-rata validasi ahli materi dan ahli media yang kedua, menghasilkan nilai yang sama dengan rata-rata validasi pertama, yaitu 4,8. Skor rata-rata ini menunjukkan bahwa media pembelajaran sangat layak untuk digunakan. Hasil rata-rata uji coba satu-satu yang dilakukan menunjukkan skor 4,2 yang berarti bahwa media ini berada pada kategori layak untuk digunakan. Selanjutnya uji coba kelompok kecil yang telah dilakukan menunjukkan skor rata-rata 4,3 yang berkategori sangat layak, sehingga melalui ujia coba kelompok kecil dapat diketahui bahwa media pembelajaran yang dikembangkan sangat layak untuk digunakan

    Pergeseran Makna Gramatikal pada Proses Morfologis dalam Esai Cinta yang Berakhir untuk KPK: Shifting Grammatical Meaning in Morphological Process in the Essay on Love that Ends for the KPK

    No full text
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang bagaimana wujud afiks dan proses pergeseran yang secara morfologis dalam memperoleh makna gramatikal esai Cinta yang Berakhir untuk KPK. Dalam hal ini, jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dan metode simak dengan teknik lanjutan yaitu teknik catat. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan intralingual dengan teknik pilah unsur penentu dan teknik HBSP. Dari hasi analisis, ditemukan 111 data morfem dengan makna gramatikal dengan variasi yang disesuaikan dengan morfem dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen makna ‘mempunyai atau memiliki’ dan ‘melakukan’ ditemukan pada morfem afiks {ber_}, {me_}, dan {_an} sebanyak 18%, sedangkan 82% sisa datanya menunjukkan makna gramatikal yang lain seperti pada konfiks tertentu berupa {ke_an}. Selanjutnya, proses pergeseran makna gramatikal dipengaruhi dengan bagaimana morfem afiks yang mengikat morfem dasar dengan kelas kata tertentu, misalnya morfem pembentuk verba dan nomina. Morfem-morfem tersebut mengalami pergeseran makna dengan mempertimbangkan dasar kelas kata sebelum dan sesudahnya. Abstract: This study aims to describe how affixes form and morphologically shift processes in obtaining grammatical meanings of essay of Love which ends for the KPK. In this case, this type of research is qualitative descriptive. The data collection method used is documentation method and listen method with advanced techniques, namely note technique. Data analysis in this study using intralingual matching method with sorting techniques and HBSP techniques. From the results of the analysis, found 111 morpheme data with grammatical meaning with variations adjusted to the basic morpheme. The results showed that the meaning components of 'having or own’ and ’perfrom' were found in the affix morphemes {ber_}, {me_}, and {_an} as much as 18%, while the remaining 82% of the data showed other grammatical meanings such as in certain confixes in the form of {ke_an}. Furthermore, the process of shifting grammatical meaning is influenced by how affix morphemes bind basic morphemes to certain word classes, such as verb-and noun-forming morphemes. The morphemes undergo a shift in meaning by considering the basis of the word class before and after.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang bagaimana wujud afiks dan proses pergeseran yang secara morfologis dalammemperoleh makna gramatikal esai Cinta yang Berakhir untuk KPK. Dalam hal ini, jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dan metode simak dengan teknik lanjutan yaitu teknik catat.Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan intralingual dengan teknik pilah unsur penentu dan teknik HBSP. Dari hasi analisis, ditemukan 111 data morfem dengan makna gramatikal dengan variasiyang disesuaikan dengan morfem dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen makna ‘mempunyai atau memiliki’ dan ‘melakukan’ ditemukan pada morfem afiks {ber_}, {me_}, dan {_an} sebanyak 18%, sedangkan 82% sisa datanya menunjukkan makna gramatikal yang lain seperti pada konfiks tertentu berupa {ke_an}.Selanjutnya, proses pergeseran makna gramatikal dipengaruhi dengan bagaimana morfem afiks yang mengikat morfem dasar dengan kelas kata tertentu, misalnya morfem pembentuk verba dan nomina.Morfem-morfem tersebut mengalami pergeseran makna dengan mempertimbangkan dasar kelas kata sebelum dan sesudahnya

    Pengembangan Buku Pengayaan Menulis Karangan Naratif yang Berwawasan Kesantunan Bagi Peserta Didik Kelas VII SMP: Development of Enrichment Books Writing Narrative Essays with Politeness Insights for Grade VII Junior High School Students

    No full text
    Abstrak: Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh penurunan tingkat kesantunan siswa karena adanya penggunaan bahan ajar yang tidak sesuai dengan norma, ada beberapa buku yang menyimpang sehingga merusak etika siswa dalam berperilaku dan bertutur. Salah satu bentuk bahan ajar  adalah buku pengayaan yang dapat meningkatkan kompetensi peserta didik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki peserta didik adalah kompetensi kebahasaan yang meliputi keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Buku-buku pengayaan yang berkembang harusnya memperhatikan aspek isi, penyajian, dan kegrafikkan sehingga sesuai dengan porsi peserta didik. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan kebutuhan pengembangan buku, prinsip pengembangan buku, merumuskan prototipe pengembangan buku, dan memperoleh hasil pengujian buku sehingga layak digunakan sebagai sarana penanaman nilai kesantunan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan model Borg and Gall dengan tujuh tahap, yaitu mulai dari analisis kebutuhan sampai uji terbatas produk. Instrumen data yang digunakan meliputi: pedoman pengamatan, wawancara, angket, dan instrumen penilaian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk telah baik dan layak sebagai sebagai sarana belajar. Selanjutnya, berdasarkan hasil uji keefektifan produk dalam pembelajaran, efektif dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membuat karangan naratif yang santun. Penggunaan kalimat yang jelas, santun, dan  komunikatif juga memudahkan peserta didik dalam memahami isi buku tersebut. Abstract: This development research is motivated by politeness level of student guidance to the use of teaching materials that are not in accordance with the norm, there are some books that deviate so damaging ethics in behaving and speaking. One form of teaching materials is an enrichment book that can improve the competence of learners. One of the competencies that must be owned by students is language  the skills of reading, writing, speaking, and listening. Enrichment books that attention to aspects of content, presentation, and infographics so that they are in accordance with the portion of students. The purpose of research is to describe book development needs, book development principles, book development prototypes, and obtain book testing results so that they are worthy of use as a means of planting guide values. This research on the development of the Borg and Gall model with seven stages, ranging from needs analysis to product limited testing. Data instruments  used include: observation guidelines, interviews, questionnaires, and assessment instruments. The results of this study show that the product has been well and feasible as a means of learning. Furthermore, based on the results of product effectiveness tests in learning, it can effectively improve the ability of learners a narrative essay. The use of clear, polite and communicative also facilitate students in understanding the material of the book.Abstrak: Penelitian pengembangan ini dilatar belakangi oleh penurunan tingkat kesantunan siswa dikarenakan adanya penggunaan bahan ajar yang tidak sesuai dengan norma, ada beberapa buku yang menyimpang sehingga merusak etika siswa dalam berperilaku dan bertutur. Salah satu bentuk bahan ajar  adalah buku pengayaan yang dapat meningkatkan kompetensi peserta didik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki peserta didik adalah kompetensi kebahasaan yang meliputi keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Buku-buku pengayaan yang berkembang harusnya memperhatikan aspek isi, penyajian, dan kegrafikkan sehingga sesuai dengan porsi peserta didik. Tujuan penelitian  untuk mendeskripsikan kebutuhan pengembangan buku, prinsip pengembangan buku, merumuskan prototipe pengembangan buku, dan memperoleh hasil pengujian buku sehingga layak digunakan sebagai sarana penanaman nilai kesantunan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan model Borg and Gall dengan tujuh tahap, yaitu mulai dari analisis kebutuhan sampai uji terbatas produk. Instrumen data yang digunakan meliputi: pedoman pengamatan, wawancara, angket, dan instrumen penilaian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk telah baik dan layak sebagai sebagai sarana belajar. Selanjutnya, berdasarkan hasil uji keefektifan produk dalam pembelajaran, efektif dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membuat karangan naratif yang santun. Penggunaan kalimat yang jelas, santun dan  komunikatif juga memudahkan peserta didik dalam memahami isi buku tersebut

    Peristiwa Nika Baronta Sebagai Upaya Perlawanan Terhadap Penjajahan: Nika Baronta: Narrative of the Struggle in Maintaining the Dignity of Bima Women from Japanese Colonizers

    No full text
    Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tindakan-tindakan yang dilakukan Sultan Bima dalam melawan penjajahan sebagaimana tergambarkan pada novel Nika Baronta karya Alan Malingi. Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode studi pustaka dan metode baca-catat. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa tindakan sosial yang dilakukan oleh Sultan Bima dalam novel Nika Baronta, yaitu tindakan rasional instrumental, tindakan rasional nilai, tindakan afektif, dan tindakan tradisional. Adapun tujuan dilakukan tindakan-tindakan ini adalah melindungi gadis-gadis Bima dari kekejaman para penjajah yang ingin merusak gadis-gadis Bima dan ingin menjadikan gadis-gadis Bima tersebut sebagai jugun ianfu (wanita penghibur atau pemuas kebutuhan seksual) oleh penjajah Jepang, tindakan melindungi gadis-gadis ini melalui “nikah paksa” dikenal dengan tindakan nika baronta. Abstract: This research aims to find out the actions taken by Sultan Bima against colonialism as described in the novel Nika Baronta by Alan Malingi. The research methods used in data collection are the literature study and note-reading methods. The data analysis method used in this research is the descriptive method. The results of this study found that the social actions carried out by Sultan Bima in the novel Nika Baronta were rational instrumental actions, value rational actions, affective actions, and traditional actions. The purpose of these actions was to protect the Bima girls from the cruelty of the colonialists who wanted to destroy the Bima girls and wanted to make the Bima girls as jugun ianfu (comfort women or satisfying sexual needs) by the Japanese colonialists. Protecting these girls through “forced marriages” is known as the nika baronta act.Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah upaya perlawanan Sultan Bima di dalam melawanan panjajahan sebagaimana tergambar pada novel Nika Baronta berdasarkan perspektif Maximilian Weber. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tindakan-tindakan yang dilakukan Sultan Bima dalam melawan penjajahan yang terdapat pada novel Nika Baronta karya Alan Malingi. Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu metode studi pustaka dan metode baca-catat. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini, ditemukan bahwa tindakan sosial yang dilakukan oleh Sultan Bima dalam novel Nika Baronta, yaitu tindakan rasional instrumental, tindakan rasional nilai, tindakan afektif, dan tindakan tradisional. Adapun tujuan dilakukan tindakan-tindakan ini untuk melindungi gadis-gadis Bima dari kekejaman para penjajah yang ingin merusak gadis-gadis Bima dan ingin menjadikan gadis-gadis Bima tersebut sebagai jagun lanfu (pemuas kebutuhan seksual) oleh penjajah, tindakan melindungi gadis-gadis ini dikenal dengan tindakan Nika Baronta

    Representasi Perilaku Seks Bebas dalam Hubungan Friend With Benefit Pada Media Daring (Analisis Wacana Kritis Pemberitaan FWB Pada Situs merdeka.com): Representation of Free Sex Behavior in Friend With Benefits Relationship on Online Media (Critical Discourse Analysis of FWB News on the merdeka.com website)

    No full text
    Abstrak: Friend with benefit atau FWB merupakan sebuah bentuk perilaku seks bebas yang mengancam kehidupan moral bangsa. Tumbuh suburnya FWB tidak lepas dari gencarnya media dalam memberitakan FWB. FWB tidak dipandang sebagai penyimpangan sosial, melainkan sebagai sesuatu yang baik dan wajar. Penelitian ini bermaksud memaparkan representasi FWB yang terdapat dalam situs merdeka.com. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan model analisis wacana kritis Norman Fairclough. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan FWB pada situs merdeka.com memandang perilaku FWB sebagai sesuatu yang tidak negatif dan normal. FWB direpresentrasikan sebagai bentuk alternatif pola hubungan yang wajar. Hal ini tampak pada aspek kebahasaan dalam produksi teks situs merdeka.com yang meliputi pemilihan judul serta pemilihan kata dalam setiap paragraf, kalimat, maupun anak kalimat. Penelitian ini diharapkan dapat membantu upaya menyadarkan masyarakat untuk bersikap peka dan kritis terhadap pemberitaan-pemberitaan di media massa, khususnya yang berkaitan dengan perilaku seks bebas. Abstract: Friend with benefit or FWB is a form of free sex behavior that endangers the moral life of the nation. The thriving of FWB cannot be separated from the incessant media in reporting on FWB. FWB is not seen as a social deviation, but as something good and natural. The purpose of this study is to describe the representation of FWB contained on the merdeka.com website. This study is a qualitative method with critical discourse analysis model by Norman Fairclough. The results of this study indicate the FWB reporting on the merdeka.com website that views about FWB behavior is not negative and normal. FWB is represented as an alternative form of reasonable relationship pattern. This can be seen in the linguistic aspects of the text production on the merdeka.com website that includes the titles choice and its selection of the words in each paragraph, sentence and clause. This research is expected could to assist for raising public awareness to be sensitive and critical of the media reports, especially those relating to free sex behavior.  Abstrak: Friend with benefit atau FWB merupakan sebuah bentuk perilaku seks bebas yang mengancam kehidupan moral bangsa. Tumbuh suburnya FWB tidak lepas dari gencarnya media dalam memberitakan FWB. FWB tidak dipandang sebagai penyimpangan sosial, melainkan sebagai sesuatu yang baik dan wajar. Tujuan penelitian ini bermaksud memaparkan representasi FWB yang terdapat dalam situs Merdeka.com. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan model analisis wacana kritis Norman Fairclough. Hasil penelitian ini menunjukkan pemberitaan yang tidak negatif terhadap perilaku FWB. Kata Kunci: friend with benefit, seks bebas, pemberitaan, wacana kriti

    0

    full texts

    42

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Bastrindo - Kajian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇