Jurnal Online Fakultas Syariah dan Hukum (UIN Sunan Ampel Surabaya)
Not a member yet
    974 research outputs found

    Pemikiran Kyai NU tentang Relasi Agama dan Negara

    Get PDF
    From time to time, the kyai (indonesian traditional muslim leaders) which are the main actors of Nahdlatul Ulama have played important roles in the making of fundamental policies in the relationship between religion and the state. Occassionaly, their policies are considered opportunistic. Such labels are drawn from  their political manourvres during the period of Soekarno’s Guided Democracy and Soeharto’s New Order. For example, it was NU that initiate the status of waly al-amr al-darury bi al-shaukah (the real power holder) to Soekarno during his Guided Democracy. On the other occasion, Nahdlatul Ulama worked closely with other Islamic parties to fight for Islam as national ideology in constitution committee during the period of parliamentary democracy.Indeed, the kyai always look up all decisions on the ground of Islamic jurisprudence, including political ones. One particular principle in Shafi’iy school of law is a legal maxim saying that the state is an institution whose task is to generate welfare for community, in the world and hereafter. As a consequence, one must not act against the government. Rebel and treason is prohibited. Moreover, status qou is better than chaos and anarchy in the absence of authority. In this way, the relationship between religion and state is a mutual one

    Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis ‎Masjid ‎(Pengalaman BMT Masjid Nurul Jannah ‎Petrokimia Gresik)‎

    No full text
    This article explores the concept of muslim community empowerment through Baitul Mal wat-Tamwil (BMT) or community treasury. The potentials of this economy institution is often undermined, even by muslims.  BMT is considered out of dtae to tackle nowadays community’s economic challenges. The profile and business of BMT Nurul Jannah is uncovered to illustrate muslim community empowerment in Gresik. It turns out that the BMT which was established by the Nurul Jannah mosque foundation is designed to increase the role of the mosque in improving economic empowerment of the surrounding muslim community. BMT has two functions; it collects and distributes zakat (alms). In adition, it also channels credits for economic activities of muslim community in its surrounding

    عادات Ø§Ù„Ø®ÙØ·Ø¨Ø©â€Ž ‎بجاوة ÙÙŠ نظر الشريعة الإسلامية

    No full text
    كتب الباحث ÙÙŠ هذا المقال عن عادات Ø§Ù„Ø®ÙØ·Ø¨Ø© ÙÙŠ جزيرة جاوة Ùˆ نظرها عند الشريعة الإسلامية. إن الخطبة هي الأمر الذي يعمله الرجل لطلب النكاح من المرأة. ÙÙŠ عادة جاوة تتكون الخطبة من ثلاثة برامج، هي: برنامج قبل النكاح وبرنامج ÙØ§Ù†ÙŠÙ†Ø³ÙŠØª وبرنامج تحديد يوم Ø§Ù„Ø²ÙØ§Ù. برنامج قبل النكاح يتكون من اختيار الزوج والنظر إلى المخطوبة والخطبة، وبرنامج إعطاء ÙØ§Ù†ÙŠÙ†Ø³ÙŠØª وهو بإحضار البضائع المعينة إلى أسرة المخطوبة من المال والملابس وبعض الأطعمة وبعض الÙواكه، Ùˆ أما برنامج تحديد يوم Ø§Ù„Ø²ÙØ§Ù هو بالمشاورة ÙÙŠ الأمور المتعلقة باليوم، والتاريخ، والساعة، والمكان لتنÙيذ برنامج عقد النكاح ووليمة العرس، ولتحديد هذا الحال طلب أسرتا العروسين المساعدة إلى رجل ماهر لقراءة كتاب بريمبون. من هذا البحث يستنتج الباحث أن عادات الخطبة ÙÙŠ جاوة منها ما يطابق بالشريعة الإسلامية ومنها ما يخالÙها. من عادات الخطبة التي تلائم الشريعة الإسلامية كالعادة ÙÙŠ اختيار الزوج بالنظر إلى بيبيت وببت وبوبوت ÙØ¥Ù†Ù‡ مطابق بشرط Ø§Ù„ÙƒÙØ§Ø¡Ø© ÙÙŠ الزواج ÙÙŠ الÙقه الإسلامي، والنظر إلى المخطوبة ÙØ¥Ù†Ù‡ مشروع ÙÙŠ الإسلام، وعدم الخطبة على خطبة أخيه لأن الإسلام حرّمه. ومما يخالÙها كاختيار الزوج بالنظر إلى تاريخ ولادة العروسين وكتحديد يوم Ø§Ù„Ø²ÙØ§Ù بالنظر إلى بريمبون لأنه كالتنجيم المحرم ÙÙŠ الإسلام

    Kajian Hukum Islam terhadap Aplikasi ‎Kafalah pada Asuransi Takaful

    Get PDF
    Operasional Asuransi pada umumnya bertumpu kepada kepentingan bisnis untuk mendapatkan laba (maximizing profit)  sedangkan kafalah adalah akad tabarru’ yang bertumpu pada nilai kebajikan sosial. Keduanya mendasari terbentuknya akad pada Asuransi Takaful, maka evaluasi terhadapnya perlu dilakukan untuk memastikan kembali apakah praktik yang ada sesuai dengan idealism Islam atau malah sebalikya. Nampaknya akad kafalah dapat dikembangkan dan diaplikasikan pada Asuransi Takaful dengan  mengikuti tiga pola pembayaran klaim atau manfaat takaful. Pertama: Peserta meninggal dunia dalam masa pertanggungan, maka Kafalah yang dapat diaplikasikan  adalah kafalah bi al-dayn yaitu kewajiban membayar hutang yang menjadi tanggung jawab orang  lain. Bagi peserta yang meninggal dunia dalam masa pertanggungan menjadi orang yang ditanggung ( makful ‘anhu ). Sedangkan peserta lainnya secara bersama-sama menjadi kafil ( penjamin) untuk melunasi hutang makful ‘anhu berupa sisa premi yang belum terbayar sebagai Makful bih-nya Sedangkan pihak penerima jaminan ( makful lahu) adalah perusahaan asuransi takaful. Kedua : Peserta masih hidup hingga masa pertanggungan selesai maka aplikasi kafalah-nya dapat menggunakan  cara ta’liq ( kafÄlah al-muallaqah ), yaitu kafalah yang pelaksanaan jaminannya dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain yang disyaratkan atau digantungkan kepada suatu hal tertentu. Maka pada posisi ini  dia berkedudukan sebagai kafil yang menjamin peserta lain (makful ‘anhu) apabila ada yang mendapat musibah atau meninggal dunia. Untuk melunasi sisa premi yang menjadi tanggungjawabnya (makful bihi) melalui dana tabarru’ yang telah terkumpul kepada perusahaan asuransi sebagai pihak yang menerima jaminan ( makful lahu ). Ketiga : Peserta mengundurkan diri sebelum masa pertanggungan selesai maka akad kafalah-nya berakhir atau batal karena akad kafalah merupakan akad tabarru’at yang hukum asalnya bersifat tidak mengikat meskipun tidak secara mutlak. Artinya peserta asuransi dapat mengakhiri masa pertanggungannya kapan saja selama yang dikehendaki dengan persetujuan pihak ketiga yaitu penerima jaminan ( makful lahu)

    Uji Materiil Undang-undang Peradilan ‎Agama dalam Prespektif Fikih Siyasah

    Get PDF
    Abstract: This paper is an analysis of the decision of the Constitutional Court Number 19/PUU-VI/2008 on jucicial review of Law No. 7 Year 1989 About the Religious Courts. In the conclusion, that: The Constitutional Court can not fulfill what the will of the applicant for Religious Courts Law is not against the law, in addition to the Constitutional Court to act as a negative legislator, not positive legislator who could add to the formulation of Islamic criminal law into law Religious Courts. Furthermore, based on the study of fiqh siyasah Constitutional Court Decision No. 19/PUU-VI/2008, that the provisions of article 49 paragraph (1) of the Law of Religious Courts did not reduce the applicant's rights and freedom of religion and to worship according religion. That Islamic law is not just symbolism moral teaching that is carried out ritual alone but is the teaching that should be applied in human life. Abstrak: Tulisan ini merupakan analisa terhadap putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 19/PUU-VI/2008 tentang Uji Materiil Undang-undang No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Dalam kesimpulannya dikemukakan bahwa: Putusan Mahkamah Konstitusi tidak dapat memenuhi apa yang menjadi kehendak si pemohon karena Undang-Undang Peradilan Agama tidaklah bertentangan dengan undang-undang, selain itu Mahkamah Konstitusi bertindak sebagai negatif legislator, bukan positif legislator yang bisa menambah rumusan hukum pidana Islam ke dalam Undang-Undang Peradilan Agama. Selanjutnya, berdasarkan kajian fiqh siyasah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 19/PUU-VI/2008 Bahwa ketentuan pasal 49 ayat (1) Undang-undang Peradilan Agama sama sekali tidak mengurangi hak dan kebebasan pemohon untuk memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Bahwa syariat Islam bukan hanya simbolisme ajaran moral yang dilaksanakan secara ritual saja tetapi merupakan ajaran yang mesti diaplikasikan dalam kehidupan manusia

    Fungsi Budgeting Badan Anggaran DPRD ‎Kota dalam Prespektif Fiqh Siyasah

    Get PDF
    Abstract: This paper wants to reveal two things: (1) the agency's role in the budget of the city parliament performs the function of budgeting; and (2) the views of Fiqh Siyasah about the role of the Parliament budget city/county in realizing the function of budgeting. In the end of this paper concluded that, first, the DPRD budget agency has carried out the duties and functions that have been set by the Act. No. 27 of the MPR, DPR, DPD and DPRD 2009, to discuss and approve draft local regulations regarding the budget revenue and expenditure Surabaya proposed by the mayor. Second, the city parliament budget agency in the review of Fiqh Siyasah is as ahl al-halli wa al-'aqd must be trustworthy in carrying out tasks that have been given of the people, in relation to the budget management functions as an institution of shura which represents the aspirations and will of the people. Abstrak: Tulisan ini ingin mengungkap dua hal, yaitu: (1) peran badan anggaran DPRD kota/kabupaten dalam melakukan fungsi budgeting; dan (2) pandangan Fiqh Siyasah tentang peran badan anggaran DPRD kota/kabupaten dalam merealisasikan fungsi budgeting. Dalam akhir tulisan ini dismpulkan bahwa, pertama, badan anggaran DPRD telah melaksanakan tugas dan fungsi yang telah diatur oleh UU. No. 27 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD tahun 2009, membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah Kota Surabaya yang diajukan oleh walikota. Kedua, badan anggaran DPRD kota/kabupaten dalam perspektif Fiqh Siyasah adalah ahl al-halli wa al-'aqd harus amanah dalam melaksanakan tugas yang telah diberikan rakyat, dalam kaitannya dengan pengelolaan anggaran berfungsi sebagai lembaga syura yang mewakili aspirasi dan kehendak rakyat

    Hak Pemanfaatan Sumber Daya Alam Perspektif ‎Hukum Islam

    Get PDF
    Abstract: Islam gives freedom to people to utilize the public natural resources, because everyone has the irtifâq right namely to use immovable good, whether it belongs to an individual or public property. Common ownership is allowed in Islamic law if an object which is intended and used for the public. The principle of freedom granted by Islam for the right holders to use is not without limit, but constrained by accountability and adherence to sharia. The right holders in using theirs’ is to be in line with the principle of maqâshid al-syarî’ah. On the basis of this principle, they are prohibited to use their rights in excess which lead to infringement and damages to the interests of the others as well as the rights and interests of the general public. Of course, this can be jailed (ta’zîr) by the judge.Keywords: Right holder, natural resources, Islamic law. Abstrak: Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam yang bersifat publik, karena setiap orang memiliki hak irtifâq yaitu hak pemanfaatan benda tidak bergerak, baik benda itu milik individu atau milik umumâ€. Kepemilikan umum dimungkinkan dalam hukum Islam jika suatu benda pemanfaatannya diperuntukan bagi masyarakat umum yang mana masing-masing saling membutuhkan. Prinsip kebebasan yang diberikan Islam bagi pemilik hak untuk mempergunakan haknya bukanlah bebas tanpa batas, namun dibatasi oleh pertanggungjawaban dan kepatuhan pada syariah. Pemegang hak dalam menggunakan haknya harus sejalan dengan maqâshid al-syarî’ah. Atas dasar prinsip ini pemilik hak dilarang mempergunakan haknya secara berlebihan yang menimbulkan pelanggaran hak dan kerugian terhadap kepentingan orang lain maupun terhadap hak dan kepentingan masyarakat umum dan dapat dikenai hukuman penjara (ta’zîr) oleh hakim.Kata Kunci: Hak pemanfaatan, sumber daya alam, hukum Islam

    RADIKALISME ISLAM DI PERGURUAN TINGGI PERSPEKTIF POLITIK ISLAM

    Get PDF
    Abstract: this article analyzes Islamic radicalism in Indonesian Islamic universities. From time to time, there is always a radical group in the campus, either extreme left or extreme right. One of the causes is the conversion from an institution that merely focuses on Islamic studies to become a university that also teaches exact and social sciences. By this conversion, many students graduating from general high schools enter Islamic universities. They soon found the passion of learning Islam by joining Islamic study groups which are not supervised by the campus authority. Some of those study groups have tendency to radicalism which for students become their freedom to express their religious thirst. From the perspective of Islamic political concept, Islamic radicalism is contradictory to the concept of jihad. No single verse of the Holy Qur’an on the issue of jihad legalizes war and violence to resolve disagreement. In contrast, the concept of jihad is clearly intended to improve devotion to God almighty, using the ritual and social involvement.Keywords: Islamic radicalism, Islamic university Abstrak: Artikel ini mengkaji tentang radikalisme Islam di Perguruan Tinggi melalui perspektif politik Islam. Kajian ini menggunakan pendekatan komparasi, yaitu membandingkan radikalisme Islam yang terjadi pada era modern dengan radikalisme pada era klasik. Maraknya gerakan radikalisme Islam di kalangan kaum muda Islam sejak beberapa tahun terakhir ini menarik perhatian besar dari khalayak luas. Perguruan tinggi merupakan wadah bagi mahasiswa yang memiliki banyak keanekaragaman potensi yang dimiliki setiap perorangannya. Radikalisme menginfiltrasi kalangan akademisi di berbagai perguruan tinggi. Dari masa ke masa di lingkungan kampus hampir selalu ada kelompok radikal, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Perilaku radikalisme dalam Islam, umumnya terjadi berkaitan dengan persoalan politik saat dan pasca kekuasaan Ali bin Abi Thalib. Sebutlah sebuah aliran dalam Islam, yaitu Khawarij adalah contoh aliran kalam yang paling terkenal dengan fahamnya yang radikal, dan tidak kenal kompromi. Hal ini dibuktikan dengan tindakan kekerasan dalam mencapai tujuannya, yaitu diantaranya melakukan pembunuhan terhadap sahabat nabi pasca Perjanjian atau Tahkim (arbitrase) yang dianggap telah menyeleweng dari ajaran Tuhan. Dapat diketahui bahwa cikal bakal lahirnya aliran atau kelompok maupun organisasi Islam radikal kontemporer, adalah bersumber dari sejarah Islam itu sendiri, yang mulanya dipelopori oleh kelompok Khawarij. Oleh karena itu, satu hal yang penting dilakukan oleh para ulama, guru agama di sekolah, kiai di pondok pesantren, dan para dosen agama di perguruan tinggi, sangat penting untuk menjelaskan tentang pengertian konsep jihad dalam Islam yang sebenarnya. Selain itu, umat Islam juga harus merevitalisasi dan meletakkan divinitas dan universalitas keimanan dan syariahnya dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Dengan demikian, tidak benar bahwa Islam adalah agama kekerasan dan agama radikal. Pandangan dan tindakan radikal atas nama Tuhan dalam Islam sangat bertolak belakang dengan konsep rahmatan li al-‘alamin. Kata Kunci: Radikalisme Islam, Perguruan Tinggi, Mutakallimi

    Bagian Ahli Waris Non Muslim melalui Wasiat Wajibah

    Get PDF
    It has been a virtually consensus that the ultimate objective of Islamic law is justice and welfare. On top of that, the goal is compassion (rahmah). About this rahmah in Islamic law, this article is a significant case in point. It elaborates how children are denied from their inheritance rights merely because of difference in religion, and whether they are remain denied as long as they do not convert to Islam? This article, which is presented as descriptive and analytical, is not intended to provide legal stratagem to circumvent the seemingly unfair inheritance rule, but  to locate compromises between determinacy of law and justice of law. The two aspects are of importance in Islamic law. It concludes that non-Muslims heirs may become legitimate heirs through the mechanism of “wasiya wajibah†or obligatory bequeath. The conclusion is supported by normative arguments in Islamic law and empirical cases from Indonesian Supreme Court, such as case number 51 K / AG / 1999 that gave ruling that non-Muslims heirs have the same rights with their Muslims heirs using the aforementioned mechanism

    Konsep Kepemilikan Islam untuk Akuntansi Syariah

    Get PDF
    The attempt of creating justice, weathness (social dan economy) and protecting to the ownership is the goal of Islamic accounting and economy. Islam teaches us that everything is created by Allah, it can be owned by human collectively. Juridically, individual human right for owning the thing, such as the right for having, enjoying, and replecing the wealthy, is certified and roled by Islam. However, they have moral responsibility to give their wealthy since the other people (social) are also on the right part of such wealthy. In concerning with the matter, Islamic accounting is trying to activate the activa scoring as an important basic to the treasure that the zakah is suppossed to be paid out

    830

    full texts

    974

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Fakultas Syariah dan Hukum (UIN Sunan Ampel Surabaya)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇