Murhum - Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini
Not a member yet
641 research outputs found
Sort by
Peningkatan Kemampuan Kognitif Anak melalui Penerapan Metode Mind Mapping di PAUD
Kemampuan berpikir merupakan salah satu aspek yang memengaruhi munculnya kreativitas pada siswa PAUD. Tujuan Penelitian ini adalah deskripsi tentang peran guru dalam upaya meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui penerapan metode mind mapping di PAUD. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif, subjek penelitian adalah 15 siswa PAUD Pambudi Luhur Karanganyar. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara mendalam serta observasi. Analisis data kualitatif yang dugunakan adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikandata, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, memanifestasikannya, mencari dan menemukan apa yang penting dalam proses penelitian. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Metode mind mapping adalah pendekatan inovatif yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga efektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini. Dengan penerapan yang kreatif dan sistematis, mind mapping dapat membantu anak belajar dengan cara yang lebih terstruktur dan menyenangkan. Saran yang dapat peneliti berikan yaitu sebaiknya guru menggunakan pembelajaran dengan berbagai macam media sehingga siswa merasa senang, antusias, dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran. Sebaiknya penggunaan Mind Mapping dapat diterapkan dalam setiap pembelajaran
Pemahaman Gender pada Anak Usia Dini melalui Video Animasi Bermuatan Gender
Anak usia dini merupakan suatu masa-masa emas yang disebut (golden age) dari seluruh distribusi usia perkembangan manusia. Periode ini adalah masa sensitif terhadap keberadaan anak tersebut. sangat peka terhadap rangsangan lingkungan. Beberapa faktor penyebabnya ialah media pada video animasi yang telah mencapai standar yang sangat tinggi dan lebih layak digunakan pada saat pembelajaran, dikarenakan media ini memiliki andil dalam membantu menambah motivasi belajar pada anak usia dini. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pemahaman gender anak usia dini melalui video animasi bermuatan gender. Metode deskriptif kualitatif diaplikasikan sebagai metode penelitian pada riset ini guna menggambarkan sikap responden secara menyeluruh. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dokumentasi, wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini penelitian ini dimana video animasi sangat efektif dalam mendidik anak-anak tentang kesetaraan gender dan memberikan informasi tentang pengetahuan mengenai gender yang harus di tanamkan sejak dini, program pendidikan gender ini dirancang untuk tidak hanya mencakup anak-anak tetapi juga Keterlibatan orang tua dan guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kesetaraan gender. Anak-anak yang menonton video animasi dengan pendidikan gender cenderung memiliki persepsi yang lebih inklusif mengenai peran gender
Peran Guru Laki-Laki dalam Membentuk Motorik Kasar dan Prososial Anak Usia Dini : Study Kasus
Guru yang baik akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, mendorong anak untuk aktif belajar, serta menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru laki-laki dalam membentuk Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, yang bertujuan untuk menggambarkan secara rinci kontribusi guru laki-laki dalam perkembangan motorik kasar dan prososial anak di taman kanak-kanak (TK) di Sidoarjo. Subjek penelitian terdiri dari guru laki-laki yang mengajar di TK serta anak-anak usia dini sebagai peserta didik. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi, dengan fokus pada kegiatan yang melibatkan keterampilan motorik kasar dan prososial anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru laki-laki memainkan peran yang signifikan dalam perkembangan motorik kasar anak, antara lain melalui kegiatan fisik seperti berlari, melompat, dan permainan yang melibatkan koordinasi tubuh. Selain itu, mereka juga berperan dalam mengajarkan keterampilan prososial, seperti empati, berbagi, dan kerja sama, melalui interaksi sosial dan permainan kelompok. Guru laki-laki memberikan teladan dalam pengembangan karakter sosial dan mendukung anak-anak dalam gabungan kata
Guru sebagai Pelestari Nilai Budaya: Analisis Kompetensi dan Praktik Pembelajaran Kontekstual
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru dalam mempertahankan nilai-nilai budaya melalui pembelajaran seni di TK ABA Karangkajen. Fokus penelitian terletak pada bagaimana penerapan pembelajaran seni dalam konteks budaya, peran guru dalam merancang pembelajaran seni berbasis budaya, respon anak terhadap pembelajaran seni berbasis budaya, serta faktor pendukung dan tantangan terhadap kegiatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipan dan wawancara mendalam terhadap guru serta kepala sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan seni yang diterapkan melalui tembang Jawa, dolanan tradisional, dan berbahasa Krama dalam menanamkan nilai-nilai budaya seperti gotong royong, tata krama, dan cinta terhadap budaya lokal. Guru memainkan peran sentral dalam merancang kegiatan pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan tema harian dan karakteristik anak. Anak-anak menunjukkan antusiasme dan perkembangan yang tinggi dalam seni, afektif, sosial, serta keterampilan motorik. Meskipun pelaksanaan masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan kompetensi guru dan waktu pembelajaran, pembelajaran seni terbukti memberikan kontribusi signifikan dalam pembentukan identitas budaya anak
Pengaruh Tipe Kepribadian terhadap Pengelolaan Stres Kerja pada Guru PAUD
Perubahan kurikulum, besarnya tanggungjawab, fasilitas yang kurang memadai dan gaji yang rata-rata dibawah UMR menjadi tekanan tersendiri bagi guru PAUD. Namun setiap individu pasti memiliki cara tersendiri untuk mengelola tekanan tersebut. Perbedaan pada setiap individu dapat diukur menggunakan tes kepribadian seperti myers briggs type indicator (MBTI). MBTI membagi tipe kepribadian menjadi empat dimensi, yaitu ekstrovert/introvert, sensing/intuition, thinkin/feeling, serta perceiving/judging. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tipe kepribadian berdasarkan pengukuruan MBTI terhadap pengelolaan stress kerja guru PAUD. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan penelitian survey menggunakan penyebaran kuesioner kepada 50 guru dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Berdasarkan data yang telah didapatkan terdapat tiga nilai signifikansi yang lebih tinggi dari nilai α (α=0,05), sehingga tidak ada pengaruh antara tipe kepribadian introvert/ekstrovert, sensing/intuition, dan judging/perceiving terhadap tingkat stress kerja dan pengelolaan stress kerja guru paud. Sedangkan satu nilai menunjukkan bahwa ada pengaruh antara tipe kepribadian thinking/feeling terhadap pengelolaan stress kerja. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa terdapat faktor lain diluar kepribadian yang dapat mempengaruhi pengelolaan stress kerja
Bahasa : Media Pembelajaran BACALIS untuk Anak Usia Dini
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak dengan kemampuan membaca dan menulis menggunakan media Bacalis di kelas B. Penelitian ini termasuk dalam jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus mencakup empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi observasi, dokumentasi, dan wawancara. Keberhasilan penelitian ditandai dengan tercapainya peningkatan kemampuan bahasa anak, khususnya dalam membaca dan menulis menggunakan media Bacalis, dengan target minimal 85%. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan anak. Pada tahap pratindakan, sebanyak 14 anak (87,5%) masih berada pada kategori Belum Berkembang (BB), 2 anak (12,5%) termasuk dalam kategori Mulai Berkembang (MB), dan belum ada anak yang mencapai kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) maupun Berkembang Sangat Baik (BSB). Pada pelaksanaan siklus I, terjadi kemajuan dengan 5 anak (19%) berada di kategori BB, 4 anak (25%) di kategori MB, 4 anak (25%) mencapai kategori BSH, dan 3 anak (31%) sudah berada di kategori BSB. Selanjutnya, pada siklus II, peningkatan signifikan terlihat dengan tidak adanya anak yang masih berada di kategori BB, hanya 1 anak (6%) di kategori MB, 1 anak (6%) di kategori BSH, dan sebagian besar, yaitu 14 anak (88%), telah mencapai kategori BSB
Thematic Network Analysis Instrumen Penilaian Visitasi Akreditasi PAUD
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur tematik dan keterkaitan indikator dalam Instrumen Penilaian Visitasi (IPV) Akreditasi PAUD, sebagai dasar dalam pemetaan potensi reusabilitas bukti kinerja antar indikator. Penelitian dapat dikeleompokkan ke dalam penelitian kepustakan dengan pendekatan analisis dokumen. Sumber data penelitian adalah dokumen Instrumen Penilaian Visitasi (IPV) Akreditasi PAUD. Seluruh komponen, butir, dan indikator yang terdapta dalam IPV Akreditasi PAUD dianalisis dan diekstrak menggunakan metode Thematic Network Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 99 indikator tersebut memiliki substansi yang saling terkait dan dapat diekstrak ke dalam struktur tematik yang lebih sederhana dan sistematis. Terdapat 9 tema dasar yang berhasil diekstrak, lalu dipadatkan lagi menjadi 4 tema pengorganisasi, dan akhirnya disintesis lagi ke dalam tiga tema umum berdasarkan kinerja unsur utama, yaitu pendidik, satuan PAUD, dan orang tua. Ekstraksi menjadi 3 tema umum ini memberikan penekanan akan pentingnya kontribusi dan akuntabilitas masing-masing aktor, terutama pendidik, dalam menentukan mutu layanan PAUD. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi satuan PAUD dalam penyusunan portofolio kinerja, dan bagi asesor, dapat menjadi panduan awal dalam mengidentifikasi bukti kinerja untuk suatu indikator yang dapat digunakan juga untuk indikator lain
Penerapan Layanan Bimbingan Konseling melalui Strategi Interaktif Edukatif dalam Pembentukan Akhlak Anak Usia Dini
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penerapan layanan bimbingan konseling melalui strategi interaktif edukatif dalam pembentukan akhlak anak usia dini. Membentuk akhlak pada peserta didik sejak usia dini merupakan pembinaan keutamaan budi pekerti yang penting untuk dimiliki dan dijadikan pembiasaan pada anak sejak usia dini. Metode penelitian yang digunakan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian yaitu pada Guru kelas A berjumlah 2 orang dan anak kelas A berjumlah 33 orang. Berdasarkan hasil pengambilan data menunjukkan bahwa penerapan layanan bimbingan konseling strategi interaktif edukatif berperan penting dalam membentuk akhlak anak usia dini dengan mengikuti apa yang diperintahkan oleh guru seperti membuang sampah di tempat sampah, anak mentaati guru dengan duduk dengan rapi dan tenang, anak memberi salam dan menyalami guru saat masuk ke kelas dan waktu akan pulang sekolah. Penerapan layanan bimbingan konseling melalui strategi interaktif edukatif dalam pembentukan akhlak anak usia dini (AUD) tersebut diberlakukan kepada seluruh peserta didiknya efektif dan berjalan lancar
Pengaruh Pola Asuh Demokratis terhadap Perkembangan Bahasa dan Sosial Emosional Anak
Masa kanak-kanak merupakan periode krusial bagi perkembangan bahasa dan sosial emosional anak. Salah satu faktor penting yang memengaruhi dua aspek perkembangan ini adalah pola asuh orang tua. Pola asuh demokratis dicirikan oleh komunikasi dua arah antara orang tua dan anak, pemberian kebebasan yang disertai tanggung jawab, serta sikap menghargai pendapat anak. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pola asuh demokratis diyakini mampu meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan komunikasi, dan kemampuan bersosialisasi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua demokratis terhadap perkembangan bahasa dan sosial emosional anak usia dini di RA Mina Jadid Mojoanyar Mojokerto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas orang tua menerapkan pola asuh demokratis, dan sebagian besar anak berada pada kategori sedang hingga tinggi dalam perkembangan bahasa dan sosial emosional. Analisis statistik menggunakan uji normalitas, linearitas, dan regresi sederhana menunjukkan adanya pengaruh signifikan pola asuh demokratis terhadap kedua aspek perkembangan anak. Hasil analisis regresi menunjukkan kontribusi sebesar 47,5% terhadap perkembangan bahasa dan 49,6% terhadap perkembangan sosial emosional. Temuan ini menunjukkan pentingnya pola asuh demokratis dalam mendukung pertumbuhan optimal anak usia dini, terutama dalam aspek komunikasi, emosi, dan interaksi sosial
Persepsi Guru tentang Penerapan Pembelajaran Mendalam (deep learning) di Lembaga PAUD
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan sistem pendidikan yang fokus pada perkembangan anak usia dini melalui prinsip, strategi, dan stimulasi yang sejalan dengan Kurikulum Nasional. Salah satu strategi yang dianggap sejalan yaitu pembelajaran deep learning. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi para guru PAUD di kota Pekanbaru terkait pembelajaran deep learning, termasuk konsep pemahaman, relevansi dan manfaat, serta hambatan saat penerapan. Penelitian ini menggunakan Deskriptif Kuantitatif dan menggunakan kuesioner di skala Likert yang didistribusikan secara online. partisipan adalah 82 Guru PAUD di sekitar Kota Pekanbaru. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar guru berpandangan positif terhadap pembelajaran deep learning dengan 39% baik dan 34% sangat baik, dan aspek manfaat 37% baik dan 31% sangat baik. Namun, masih terdapat guru sebesar 37% pada kategori kurang baik dan 27% tidak baik yang menghadapi hambatan, terutama pada sarana seperti teknologi, kurangnya pelatihan berkelanjutan, serta tuntutan administrasi yang tinggi. Dengan demikian implikasi hasil penelitian ini yaitu kebutuhan untuk intervensi berkelanjutan dalam bentuk pelatihan professional bagi guru, dukungan pendidikan berupa seminar, serta menyediakan sarana dan media yang memadai sehingga guru dapat melakukan kegiatan belajar sesuai dengan capaian pembelajaran