JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Plasenta Previa Sebagai Faktor Protektif Kejadian Preeklamsia Pada Ibu Hamil
Background Placenta previa is partial or complete closure of the cervix by the placenta. The incidence of placenta previa is significantly related to the presence of uterine and endometrial injuries such as curettage, previous placenta previa events and cesarean scar. Gestational hypertension and preeclampsia are the most common complications that occur in pregnancy. The incidence reaches 6-8%. Preeclampsia increases the risk of adverse fetuses, such as preterm birth, intrauterine growth restriction, fetal death and antepartum hemorrhage.Content: Some research states that the incidence of placenta previa in pregnant women is a protective factor for the occurrence of preeclampsia. This can occur through a good mechanism of trophoblast invasion in pregnant women with placenta previa, where the trophoblast attaches deeper than its normal attachment and attachment site which is rich in oxygen, so that fetomaternal blood flow becomes good. Conclusion: There are protective factors present in patients with placenta previa thereby reducing the incidence of preeclampsia.Pendahuluan, plasenta previa adalah tertutupnya serviks secara parsial atau komplit oleh plasenta Kejadian plasenta previa secara signifikan berhubungan dengan adanya luka pada uterus dan endometrial seperti kuret, kejadian plasenta previa sebelumnya dan bekas luka operasi sesar. Hipertensi gestasional dan preeklamsia adalah komplikasi tersering yang terjadi pada kehamilan. Insidensinya mencapai 6-8%. Preeklamsia meningkatkan risiko buruk pada janin, seperti kelahiran preterm, intrauterine growth restriction, kematian janin dan perdarahan antepartum. Isi beberapa penelitian menyatakan bahwa kejadian plasenta previa pada ibu hamil merupakan faktor protektif terjadinya preeklamsia. Hal ini bisa terjadi melalui mekanisme invasi trofoblast yang baik pada ibu hamil dengan plasenta previa, dimana trofoblas melekat lebih dalam dari perlekatan normalnya dan tempat perlekatan yang kaya akan oksigen, sehingga aliran darah fetomaternal menjadi baik. Kesimpulan, terdapat faktor protektif yang ada pada pasien plasenta previa sehingga menurunkan kejadian preeklamsi
Crocus sativus dan Insomnia
Crocus sativus L. from the Iridaceae family, commonly known as saffron, is a medicinal herb that is widely cultivated in Iran and other countries, such as India and China. The effect of saffron and its elements on anxiety and insomnia shows a promising result. The effect of saffron is similar to the activity of diazepam. Diazepam can be used as benzodiazepines, anxiolytics, analgesics, relaxants, and hypnotic agents. Saffron extracts and their constituents, safranal and crocin (crocin and crocetin hydrolysis products), are shown to affect various neuronal pathways that are relevant to sleep. Research shows that this effect affects the sleep rhythm and triggers for sleepCrocus sativus L. dari keluarga Iridaceae, umumnya dikenal sebagai safron, adalah ramuan obat yang banyak dibudidayakan di Iran dan negara-negara lain, seperti India dan Cina. Efek safron dan unsur-unsurnya pada kecemasan dan insomnia menunjukan hsil yang menjanjikan, Efek safron mirip dengan aktivitas diazepam. Diazepam dapat digunakan sebagai benzodiazepin, ansiolitik, analgesik, relaksan, dan agen hypnosis. Ekstrak safron dan konstituennya, safranal dan crocin (crocin dan crocetin produk hidrolisisnya), ditunjukkan untuk mempengaruhi berbagai jalur neuron yang relevan dengan tidur. Penelitian menujukkan bahwa efek ini berpengaruh pada irama tidur dan pemicu untuk tidu
Daun Jeruk Pamelo (Citrus maxima Merr) Sebagai Terapi Diabetes Melitus
Penyakit tidak menular (PTM) beberapa tahun belakangan ini menjadi salah satu isu kesehatan baik secara nasional maupun internasional. Salah satu tipe penyakit tidak menular adalah diabetes melitus. Prevalensi kejadian diabetes melitus di Indonesia paling banyak terjadi pada usia 55 hingga 64 tahun dengan DKI Jakarta sebagai daerah dengan angka kejadian tertinggi. Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia disertai keluhan klasik seperti poliuria, polifagia, dan polidipsia. Diabetes melitus jika dibiarkan dapat menyebabkan berbagai komplikasi bahkan kegawatdaruratan yang dapat berujung pada kematian. Oleh karena itu, diperlukan penatalaksanaan pada diabetes melitus berupa perubahan gaya hidup, pola diet rendah gula, dan medikamentosa. Daun jeruk pomelo (Citrus maxima Merr.) sudah dikenal sejak lama memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan, salah satunya sebagai antihiperglikemia. Daun jeruk pamelo mengandung senyawa bioaktif yang bekerja dalam memperbaiki kerusakan sel beta pankreas dan meningkatkan sensitivitas reseptor insulin serta membantu kerja enzim pengatur glukosa hati.A non-communicable diseases (NCD) in recent years has become one of the national and international health issues. One type of non-communicable disease is diabetes mellitus. The highest prevalence of diabetes mellitus in Indonesia is at the age of 55 to 64 years with DKI Jakarta as the region with the highest incidence. Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hyperglycemia with classic symptoms such as polyuria, polyphagia, and polydipsia. Diabetes mellitus if left untreated can cause various complications and even emergencies that can lead to death. Therefore, the management of diabetes mellitus is lifestyle changes, low-sugar diets, and medicine. Pomelo leaves (Citrus maxima Merr.) has well-known have various health benefits, one of its benefits are antihyperglycemia. Pamelo leaves contain bioactive compounds that work in repairing pancreatic beta cell damage and increasing insulin sensitivity and helping the action of liver regulating enzymes
Peran Jintan Hitam (Nigella sativa) Sebagai Pengobatan Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus (DM) is a disease characterized by an increase in glucose in the blood (hyperglycemia) and occurs when the pancreas does not produce insulin or when the body cannot effectively use insulin. The results of Indonesia Basic Health Research in 2018, showed the prevalence of DM in Indonesia increased and almost each province has increased. This is caused by unchanging risk factors such as sex, age, and genetic factors, the second is risk factors that can be changed such as smoking habits, education level, occupation, physical activity, smoking habits, alcohol consumption, body mass index, waist circumference and age. This disease is called the silent killer because it can affect all organs of the body and cause various kinds of complication. Management of it uses the four pillars such as educational management, lifestyle modification, exercise and the use of anti-diabetes drugs. However, herbal medicine is currently being developed to help overcome this degenerative disease in order to reduce the prevalence with using black cumin or Nigella Sativa. Black cumin is a plant that is high in fiber with a low glycemic index and contains high nutritional value including monosaccharides, rhamnose, xylose, arabinose, and non-starch polysaccharides. Black cumin can be processed into powder, extract or oil. Antidiabetic mechanisms of cumin seeds through the protective effect of beta cells on oxidative stress, induction of cell-â proliferation, reducing MDA levels in pancreatic tissue, decreasing plasma levels of the hormone leptin, increasing Glut-4 expression and decreasing gluconeogenesis in the liver.Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan glukosa dalam darah (hiperglikemia) dan terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan insulin atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin. Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018, menunjukan prevalensi DM di Indonesia meningkat dan hampir disetiap provinsi mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya jenis kelamin, umur, dan faktor genetik yang kedua adalah faktor risiko yang dapat diubah misalnya kebiasaan merokok tingkat pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, Indeks Masa Tubuh, lingkar pinggang dan umur. Penyakit ini disebut dengan the silent killer karena dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Penatalaksanaan yang diterapkan saat ini dengan menggunakan empat pilar tatalaksana edukasi, modifikasi gaya hidup, olahraga dan penggunaan obat anti diabetes. Namun, saat ini sedang dikembangkan pengobatan herbal untuk membantu mengatasi penyakit degeneratif ini agar dapat menurunkan prevalensi yang terjadi dengan menggunakan jintan hitam atau Nigella Sativa. Jintan hitam adalah tumbuhan yang tinggi serat dengan indeks glikemik yang rendah dan mengandung nilai gizi yang tinggi diantaranya monosakarida, rhamnose, xilosa, arabinose, dan polisakarida non-pati. Jintan hitam dapat diolah menjadi serbuk, ekstrak atau minyak. Mekanisme antidiabetik biji jintan melalui efek protektif sel beta terhadap stres oksidatif, induksi proliferasi sel-â, menurunkan kadar MDA di jaringan pankreas, penurunan kadar plasma hormon leptin, meningkatkan ekspresi Glut-4 dan penurunan glukoneogenesis di hati
Efek Bawang Putih (Allium Sativum L) Sebagai Pengobatan Penyakit Jantung Koroner
Coronary heart disease is the leading cause of death in the world. Around 7.4 million people died from coronary heart disease in 2012, which represented 31% of total world deaths and occurred in developing countries with low incomes. Non-pharmacological treatment by maintaining lifestyle such as diet, increasing activity and reducing cigarette consumption (if a smoker). In addition, pharmacological treatment by lowering LDL levels uses statins, bile acid sequestrants, and PCSK-9 inhibitors. However, recently traditional treatments are being developed to reduce the prevalence of atherosclerosis by using garlic or Allium sativum L. Garlic contains more than 100 secondary metabolites that are biologically very useful for the body. Non-volatile amino acids γ glutamyl- Salk (en) il-L-cysteine ​​and essential oils Salk (en) ilsistein sulfoxide or alliin are two of the most important organosulfur compounds in garlic bulbs, that is, and are precursors for most other organosulfur compounds with their levels reached 82% of the total. Garlic has been widely studied in vivo and in vitro. Research that has been developed shows that garlic has pharmacological effects in entity tumorigenesis, antibiosis, inhibition of cancer growth and antianterosclerosis.Penyakit jantung koroner penyebab kematian utama di dunia. Sekitar 7,4 juta orang meninggal dunia akibat Penyakit Jantung Koroner pada tahun 2012 yang menggambarkan 31% dari total kematian dunia dan terjadi dinegara berkembang yang memiliki pendapatan rendah. Pengobatan non farmakologi dengan menjaga pola hidup seperti diet, meningkatkan aktivitas dan mengurangi konsumsi rokok (jika perokok). Selain itu, pengobatan farmakologi dengan menurunkan tingkat LDL menggunakan statin, bile acid sequestrants dan PCSK-9 inhibitors. Namun, akhir- akhir ini sedang dikembangkan pengobatan tradisional untuk menurunkan prevalensi aterosklerosis dengan menggunakan bawang putih atau Allium sativum L. Bawang putih mengandung lebih dari 100 metabolit sekunder yang secara biologi sangat berguna bagi tubuh. Asam amino non-volatil γ glutamil- Salk (en)il- L-sistein dan minyak atsiri Salk(en) ilsistein sulfoksida atau alliin merupakan dua senyawa organosulfur paling penting dalam umbi bawang putih, yaitu dan menjadi precursor sebagian besar senyawa organosulfur lainnya dengan kadarnya mencapai 82% dari keseluruhan. Bawang putih telah banyak diteliti secara in vivo dan in vitro. Penelitian yang telah dikembangkan menunjukkan bahwa bawang putih mempunyai efek farmakologis dalam antitumorigenesis, antibiosis, penghambatan pertumbuhan kanker dan anti anterosklerosi
Potensi Sari Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi. L) Sebagai Terapi Adjuvan Retinopati Diabetes
Diabetes mellitus is a disorder of glucose metabolism in the body caused by abnormalities in secretion and/or insulin secretion. The prevalence of diabetes mellitus based on the World Health Organization in 2014 is around 422 million adults or around 8.5% of the world's population. The prevalence in Indonesia in 2016 is 6.9% of Indonesia's population. Diabetes Mellitus patients who are not managed properly will cause various kinds of complications. One of the highest complications is Diabetic Retinopathy. Diabetic retinopathy if not treated promptly can cause blindness. In recent years people prefer traditional medication for their medicine because it has fewer side effects. Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi. L) is a plant that has many health benefits. One of the benefits is to have antidiabetic effects and as adjuvant therapy for diabetic retinopathy. Belimbing wealth (Averrhoa Bilimbi. L) contains several active compounds, there are flavonoids, saponins, and vitamin C. All three of these active ingredients work by inhibiting the pathway of polyols, inflammation, and free radicals.Diabetes Melitus adalah kelainan metabolisme glukosa dalam tubuh berupa kelainan dalam sekresi dan/atau sekresi insulin. Prevalensi penderita diabetes melitus berdasarkan World Health Organization pada tahun 2014 yaitu sekitar 422 juta orang dewasa atau sekitar 8,5% populasi dunia. Prevalensi di Indonesia sendiri pada tahun 2016 yaitu 6,9% dari jumlah penduduk Indonesia. Penderita diabetes melitus yang tidak ditatalaksana dengan baik, akan menimbulkan berbagai macam komplikasi. Salah satu komplikasi yang tertinggi adalah Retinopati Diabetes. Retinopati Diabetes apabila tidak ditatalaksana dengan segera dapat menyebabkan kebutaan. Belakangan ini masyarakat cenderung memilih pengobatan tradisional karena memiliki efek samping yang lebih sedikit. Buah belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi. L) merupakan tanaman yang memiliki banyak khasiat dalam kesehatan. Salah satu khasiatnya adalah memiliki efek antidiabetes dan sebagai terapi adjuvan retinopati diabetes. Buah belimbing wuluh mengandung beberapa senyawa aktif yaitu flavonoid, saponin, dan vitamin C. Ketiga bahan aktif tersebut bekerja dengan menghambat jalur poliol, inflamasi, dan radikal bebas
Hubungan Pemeliharaan Hewan Ternak Dengan Prevalensi Kasus Malaria
Malaria is a life threatening disease that are wide spread and has long-term effect upon living and economical quality of it’s patients. Infection is caused by the bite of Anopheles mosquito which is the vector of Plasmodium parasite. Animals has the role of diverting mosquito bite from humans, so it may deny the transmission of parasite to human (zooprophylaxis). Animals, in this case, cattles, may also increase the chance of mosquito as a vector to continously breed and increases malaria transmission (zoopotentation). Studies has been conducted on different villages and shows the positive relation between ownership of cattles and parasite rate, thus making ownership of cattles increases the probability of malaria transmission.Malaria adalah penyakit mengancam hidup yang memiliki persebaran yang luas dan efek jangka panjang terhadap kualitas hidup dan ekonomi pengidapnya. Infeksi diakibatkan dari gigitan nyamuk Anopheles yang merupakan vektor dari parasit Plasmodium. Hewan memiliki peran dalam mengalihkan nyamuk dari menggigit manusia, sehingga mencegah terjadinya transmisi parasit ke manusia (zooprophylaxis). Dengan adanya hewan ternak juga dapat meningkatkan kemungkinan nyamuk sebagai vektor untuk berkembang biak menjadi lebih banyak dan meningkatkan transmisi malaria (zoopotentation). Dari beberapa penelitian yang dilakukan terhadap desa yang berbeda didapatkan adanya korelasi positif antara memelihara hewan ternak dengan tingkat parasit, sehingga pemeliharaan hewan ternak memiliki kecenderungan untuk meningkatkan transmisi malaria.
 
Studi Kasus Pada Pasien Demam Berdarah Dengue
Background dengue Hemorrhagic Fever is an infectious disease caused by dengue virus and transmitted by Aedes mosquitoes. Dengue virus infection causes high mortality and morbidity throughout the world. The aim is to apply nursing care to clients with Dengue Hemorrhagic Fever which includes assessment, diagnosis, intervention, implementation and evaluation of nursing. Method, the research design used is descriptive using case study methods. Participation used was 1 pediatric patient with a diagnosis of Dengue Hemorrhagic Fever. Results, Nursing problems that arise in the case that I get is hyperthermia associated with the process of dengue virus infection, ineffective airway clearance associated with secretions, and the risk of nutritional imbalance less than the body's needs associated with inadequate nutrient intake due to nausea, vomiting and appetite decreased. After 3 x 24 hours of nursing action, the results of hyperthermia are resolved, the ineffectiveness of the airway clearance is resolved, and the risk of nutritional imbalances is resolved. The data was obtained from interviews, observations, and documentation. In conclusion, the application of nursing care in accordance with the nursing process will achieve good results in accordance with predetermined outcome criteria. Achieving the success of nursing care requires collaboration between the health team, the patient and the patient's family.Latar belakang, Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi yang sebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk aedes. Infeksi virus dengue menyebabkan kematian dan kesakitan yang tinggi di seluruh dunia. Tujuan, untuk menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan Demam Berdarah Dengue yang meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan. Metode, desain penelitian yang digunakan merupakan deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus. Partisipasi yang digunakan adalah 1 pasien anak dengan diagnosa medik Demam Berdarah Dengue. Hasil, Masalah keperawatan yang muncul pada kasus yang saya dapat adalah hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue, ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan adanya sekret, serta resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual muntah dan nafsu makan menurun. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam di dapatkan hasil hipertermi teratasi, ketidakefektifan bersihan jalan napas teratasi, dan resiko ketidakseimbangan nutrisi teratasi. Data tersebut diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kesimpulan, penerapan asuhan keperawatan yang sesuai dengan proses keperawatan akan mencapai hasil yang baik sesuai dengan kriteria hasil yang telah ditetapkan. Untuk mencapai keberhasilan asuhan keperawatan dibutuhkan kerjasama antara tim kesehatan, pasien dan keluarga pasie
Pengaruh Sari Kacang Ijo Dan Tablet Fe Terhadap Peningkatan Kadar Hb Ibu Hamil dengan Anemia
This study aims to determine the effect of green bean extract and fe tablets on increasing Hb levels in anemic pregnant women at Bara Baraya Makassar Health Center in 2018. The type of research Quasi Experimental Design is research conducted by giving experiments or treatments. This study used the Nonequivalent Control Group Design design, namely the intervention group (pregnant women who were given green beans and Fe tablets) and control groups (pregnant women who consumed Fe tablets). The population is all pregnant women who visited on April 9 - June 9 at the Bara Baraya Health Center Makassar in 2018, amounting to 200 pregnant women, while the sample in this study were 30 respondents with sampling using the proposive sampling technique. From the results of this study, the value of data analysis was obtained by using Wilcoxon test and Mann Whitney test. There was an effect of green bean juice and fe tablet on increasing Hb levels in anemia pregnant women where the value of Ï = 0.00 <α = 0.05 and sig value or value of , 002 <α = 0.05. which means Ho is rejected and Ha is accepted.Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui pengaruh sari kacang ijo dan tablet fe terhadap peningkatan kadar Hb pada ibu hamil yang anemia di Puskesmas Bara Baraya Makassar tahun 2018. Jenis penelitian Quasi Experimental Design adalah penelitian yang di lakukan dengan memberikan percobaan atau perlakuan. Penelitian ini menggunakan rancangan Nonequivalent Control Group Design yaitu kelompok intervensi (ibu hamil yang diberi sari kacang ijo dan tablet Fe) dan kelompok control (ibu hamil yang komsumsi tablet Fe). Populasinya adalah semua ibu hamil yang berkunjung pada tanggal 09 April – 09 Juni di Puskesmas Bara Baraya Makassar tahun 2018 yang berjumlah 200 ibu hamil, adapun sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 responden dengan pengambilan sampel dengan tehnik proposive sampling. Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai analisa data dengan menggunakan uji wilcoxon dan uji mann whitney ada pengaruh sari kacang ijo dan tablet fe terhadap peningkatan kadar Hb Pada ibu hamil yang anemia dimana nilai Ï = 0.00 < α = 0,05 dan nilai sig atau nilai sebesar ,002 < α = 0,05 . yang berarti Ho ditolak dan Ha diterim
Glutathione sebagai pemutih kulit
GSH is one of the compounds that inhibits melanin production by inhibiting tyrosinase activity. Antimelanogenic properties of glutathione have resulted in doctors often giving it as a "miracle" medicine for skin lightening and treatment of hyperpigmentation, especially in ethnic populations with darker skin tones. However, its uncontrolled use, especially as a parenteral formulation, seems unjustified, given the lack of research in supporting this theory. Although there are mechanisms that inhibit the process of melanogenesis by considering the side effects in the form of impaired liver function. Its safety as an intravenous drug is also questionable. The use of Gluthatione as a skin lightening agent, either topically, orally, or intravenously shows mixed results in an enlightening effect. Further research must be carried out to ensure the safe use of this substance, some studies report that oral use shows better effectiveness than topical or intravenous, but the side effects that are also dangerous such as impaired liver functionGSH adalah salah satu senyawa yang menghambat produksi melanin dengan cara menghambat aktivitas tyrosinase. Sifat antimelanogenik glutathione telah mengakibatkan dokter sering memberikannya sebagai obat "ajaib" untuk pencerah kulit dan pengobatan hiperpigmentasi, terutama pada populasi etnis dengan warna kulit yang lebih gelap. Namun, penggunaannya yang tidak terkendali, terutama sebagai formulasi parenteral, tampaknya tidak dapat dibenarkan, mengingat kurangnya penelitian dalam menyokong teori ini. Walaupun terdapat mekanisme menghambat proses melanogenesis dengan mempertimbangkan efek sampingnya yaitu berupa gangguan fungsi hati. Keamanannya sebagai obat intravena juga dipertanyakan. Penggunaan Gluthatione sebagai agen pencerah kulit, baik secara topical, oral, maupun intravena menunjukan hasil yang beragam dalam efek mencerahkan. Penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk memastikan keaamanan penggunaan zat ini, beberapa penelitian melaporkan bahwa penggunaan oral menunjukan efektifitas yang lebih baik dibandingkan topical maupun intravena, namun efek samping yang ditimbulkan juga berbahaya seperti gangguan fungsi hat