JIKSH: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Not a member yet
583 research outputs found
Sort by
Korelasi antara Nilai HbA1c dengan Kadar Kreatinin pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder caused by decreased insulin production or effectively produced insulin resistance. Insulin is a hormone to regulate blood sugar levels. With the development of the era of many food choices and unhealthy lifestyles spread throughout the community, this has led to an increase in the number of degenerative diseases and type 2 diabetes is one of the degenerative diseases. This study was to determine the correlation between HbA1c values ​​and creatinine levels in type 2 diabetes mellitus patients. This study used a quantitative method with a correlative analytic design with a cross-sectional approach. The subjects in the study were 48 patients. The instrument used was medical record data. The results of statistical analysis using the Spearman correlation test showed a p-value of 0.021 (p-value <0.05) which means that there was a significant correlation with the strength of a moderate positive correlation between HbA1c values ​​and creatinine levels in type 2 diabetes mellitus patients at Pertamina Bintang Hospital Amin Bandar Lampung in 2019. There is a correlation between HbA1c values ​​and creatinine levels in type 2 Diabetes Mellitus patients at Pertamina Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung in 2019.Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolic menahun yang diakibatkan oleh penurunan produksi insulin atau resistensi insulin yang diproduksi secara efektif. Insulin merupakan hormon untuk mengatur kadar gula darah. Dengan adanya perkembangan zaman banyak pilihan menu makanan dan gaya hidup kurang sehat ini menyebar keseluruh lapisan masyarakat, hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penyakit degeneratif dan DM tipe 2 merupakan salah satu penyakit degeneratif tersebut. Penelitian ini untuk mengetahui korelasi antara nilai HbA1c dengan kadar kreatinin pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Subjek dalam penelitian berjumlah 48 pasien. Instrumen yang digunakan adalah Data rekam medis. Hasil analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan p-value sebesar 0,021 (p-value < 0,05) yang berarti bahwa terdapat korelasi bermakna dengan kekuatan korelasi sedang positif antara nilai HbA1c dengan kadar kreatinin pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 2019. Terdapat korelasi antara nilai HbA1c dengan kadar kreatinin pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 201
Korelasi antara Nilai HbA1c dengan Kadar Trigliserida Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Diabetes mellitus (DM) is a disease or metabolic disorder with typical symptoms of hyperglycemia followed by carbohydrate, lipid and protein metabolic disorders caused by lack of insulin production or ineffectiveness of insulin, or it can occur simultaneously. The higher levels of sugar in the blood cause an increase in the enzyme lipoprotein lipase in adipose tissue, therefore increasing the level of triglycerides which can trigger the formation of sclerosis. To find the correlation between HbA1c values with triglyceride levels in patients with type 2 diabetes mellitus. This type of research is quantitative analytic correlative with a cross-sectional approach. The sample of this study was 49 people obtained from medical record data at Pertamina Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung 2019. Respondents with a HbA1c value ≥9% were 31 people (63.3%), while respondents with a HbA1c value <9% 18 people (36.7%). Triglyceride levels for respondents ≥150 mg / dl 33 people (67.3%), while respondents with triglyceride levels <150 mg / dl 16 people (32.7%). From the Spearman test, there is a correlation between the HbA1c value with triglyceride levels in type 2 diabetes mellitus patients (p = 0.002). With (r = +0.439) which means the strength of the correlation is moderate. There is a correlation between HbA1c values with triglyceride levels in type 2 diabetes mellitus patients at Pertamina Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung in 2019.Diabetes mellitus (DM) suatu penyakit atau gangguan metabolisme dengan gejala yang khas berupa hiperglikemia diikuti gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein yang disebabkan oleh kurangnya produksi insulin atau inefektifitas dari insulin, atau dapat terjadi secara bersamaan. Semakin tinggi kadar gula dalam darah mengakibatkan peningkatan enzim lipoprotein lipase di jaringan adipose meningkat sehingga mengakibatkan peningkatan kadar trigliserida yang dapat memicu terbentuknya sklerosis. Untuk mengetahui korelasi antara nilai HbA1c dengan kadar trigliserida pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Jenis penelitian ini adalah analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 49 orang yang diperoleh dari data rekam medik di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 2019. Nilai HbA1c ≥9% sebanyak 31 orang (63,3%), sedangkan nilai HbA1c <9% sebanyak 18 orang (36,7%) pada pasien DM tipe 2. Kadar Trigliserida ≥150mg/dl sebanyak 33 orang (67,3%) sedangkan <150mg/dl sebanyak 16 orang (32,7%) pada pasien DM tipe 2. Hasil uji Spearman didapatkan p= 0,002 dan r= +0,439 yang dapat dinyatakan terdapat korelasi bermakna dengan kekuatan korelasi positif sedang
Hubungan Kadar Feritin Serum dengan Kadar Enzim SGOT dan SGPT pada Pasien Thalasemia β Mayor
Thalassemia is a genetic blood disorder that can cause hemolysis in hemoglobin. So the patient must get a transfusion for life. The transfusion is done continuously, this is what causes patients with thalassemia β major to have iron buildup in their body. So the levels of Ferritin, SGOT, and SGPT enzymes can be increased in patients with β major thalassemia. This study aims to determine the relationship between serum ferritin with SGOT and SGPT enzymes in thalassemia β major patients. This research uses an analytic method with a cross-sectional approach. The subjects in this study were 60 samples. The instrument used was the patient's medical record data. Statistical analysis using the Chi-Square test showed a p-value 0.005 (p-value <0.05) for serum ferritin with SGOT. And for serum ferritin with SGPT enzymes, p-value 0.004 (p-value <0.05), it means that there is a relationship between serum ferritin and SGOT and SGPT enzymes. There is a correlation between serum ferritin with SGOT and SGPT enzymes in β major thalassemia patients at Abdul Moeloek Hospital Bandar Lampung.Thalasemia merupakan kelainan darah genetik yang dapat menyebabkan hemolysis pada hemoglobin. Sehingga penderita harus mendapatkan transfusi seumur hidup. Transfusi dilakukan secara terus-menerus, hal ini yang menyebabkan penderita thalasemia β mayor mengalami penumpukan zat besi dalam tubuh. Sehingga kadar Feritin dan enzim SGOT dan SGPT dapat mengalami peningkatan pada penderita thalasemia β mayor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara feritin serum dengan enzim SGOT dan SGPT pada pasien thalasemia β mayor.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek dalam penelitian berjumlah 60 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan purvosive sampling. Pengumpulan data menggunakan rekam medik pasien.Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat (Chi-square).Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukan p-value sebesar 0,005 (p-value<0,05) untuk feritin serum dengan sgot. Dan untuk feritin serum dengan enzim sgpt di dapatkan p-value Âsebesar 0,004 (p-value<0,05), yang berarti bahwa terdapat hubungan antara feritin serum dengan enzim sgot dan sgpt.Terdapat hubungan antara feritin serum dengan enzim sgot dan sgpt pada pasien thalasemia β mayor di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung tahun 2019
Hubungan Rinosinusitis Kronik Dengan Rinitis Alergi
Allergic rhinitis is an inflammatory disease caused by an allergic reaction in patients who have a history of atopy who have previously been sensitized with the same allergens. In Indonesia, the prevalence of allergic rhinitis varies between 1.5% - 12% and has increased every year. Many etiological and predisposing factors that can cause chronic rhinosinusitis include ARI due to viruses, various types of rhinitis, especially allergic rhinitis. This type of research is an observational analytic study with a cross-sectional study design. The data used are secondary data with medical record data in the ENT Polyclinic, Bintang Amin Hospital, Bandar Lampung in 2018-2019. Relationship analysis was performed using the Chi-Square test. Then the data that has been obtained is processed using the Statical Product and Service Solution (SPSS) program. Respondents with an HbA1c value≥9% were 31 people (63.3%), while Obtained respondents with the frequency distribution of allergic rhinitis in Bintang Amin Hospital Bandar Lampung in 2018-2019 with a frequency of 26 people (63.4%). Respondents with Chronic rhinosinusitis frequency distribution in Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung in 2018-2019 were 25 people (61.0%). The Relationship between Chronic Rhinosinusitis and Alerfi Rhinitis in Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung in 2018-2019. Evidently there is a relationship with p> 0.006 tested by Chi-Square. Which means there is a relationship between chronic rhinosinusitis and allergic rhinitisRinitis Alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh adanya reaksi alergi pada pasien yang mempunyai riwayat atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama. Di Indonesia sendiri prevalensi rinitis alergi bervariasi antara 1,5 % - 12 % dan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Banyak faktor etiologi dan predisposisi yang dapat menyebabkan terjadinya rinosinusitis kronik antara lain adalah ISPA akibat virus, berbagai macam jenis rinitis terutama rinitis alergi. Jenis penelitian yang digunkan adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan studi cross-sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan data rekam medik yang ada di Poli THT RS Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 2018-2019. Analisis hubungan dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square. Kemudian data yang telah didapat diolah dengan menggunakan program Statical Product and Service Solution (SPSS). Didapatkan Responden dengan Distribusi frekuensi Rinitis Alergi di RS Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 2018-2019 dengan frekuensi yaitu 26 orang (63,4 %). Responden dengan Distribusi frekuensi Rinosinusitis Kronik di RS Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 2018-2019 yaitu sebanyak 25 orang (61,0 %)
Karakteristik Klinis Ikterus Obstruktif Disebabkan Tumor di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung
Latar Belakang : Ikterus atau jaundice adalah perubahan warna jaringan menjadi kekuningan akibat pengendapan bilirubin. Tumor merupakan salah satu penyebab ikterus obstruktif yang paling sering. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan gambaran klinis ikterus obstruktif yang disebabkan tumor berdasarkan umur, jenis kelamin, tatalaksana, gambaran CT Scan, Histopatologi. Tujuan Penelitian : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran klinis ikterus obstruktif yang disebabkan tumor di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Periode 2017. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medik. Sampel penelitian ini menggunakan teknik Total Sampling. Hasil Penelitian : Sampel penelitian ini sebanyak 60 pasien. Frekuensi terbanyak ditemukan pada kelompok umur 50-59 tahun sebanyak 15 pasien (25%) dan 32 pasien (53.3%) pada laki-laki. Penatalaksanaan dilakukan tindakan operatif sebanyak 51.7%. Dari hasil pemeriksaan CT Scan didapatkan pada hati sebanyak 51.7% dan dari hasil histopatologi didapatkan Hepatocellular Ca sebanyak 26.7%. Kesimpulan : Gambaran klinis terbanyak ditemukan pada kelompok umur 50-59 tahun, jenis kelamin laki-laki dengan dilakukan tindakan operatif, gambaran CT Scan pelebaran intrahepatic atau ekstrahepatic pada hati, histopatologi Hepatocellular Ca. Background: Jaundice or jaundice is a color change of the tissue to yellow due to the deposition of bilirubin. Tumors are one of the most common causes of obstructive jaundice. Some previous researches have shown clinical characteristics of obstructive jaundice caused by tumors based on age, sex, management, CT scan, histopathology. Objective: This research aims to find out the clinical characteristics of obstructive jaundice caused by tumors in RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung in 2017. Method: The method of this research is retrospective descriptive which used secondary data from the medical records. Purposive sampling technique was used to collect the data. Result: The highest frequency was found in the 50-59 age group which are 15 patients (25%) and 32 patients (53.3%) in men. Management performed of operative action as much as 51.7%. From the CT scan result was obtained in the liver as much as 51.7% and from the histopathological result was obtained Hepatocellular Ca as much as 26.7%. Conclusion: The characteristics were mostly found in the 50-59 age group and male with operative action, CT scan of intrahepatic or extrahepatic widening of the liver, histopathology of Hepatocellular Ca
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan kadar HDL pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2
Diabetes mellitus type 2 is a metabolic disease characterized by an increase in insulin released by pancreatic beta cells and / or insulin resistance. Excessive nutrition with excess body fat accumulation increases the risk of suffering from degenerative diseases. The purpose of this study was to study whether there was a relationship between Body Mass Index with HDL levels in patients with type 2 Diabetes Mellitus FKTP patients at the Independent Practitioner Doctor K. Hakikiyah, Lampung Tengah in 2019. This research method used observational analytic with cross sectional design. The sampling technique in this study used the total sampling quota method with a total sample of 56 people collected. Data analysis using Pearson trial. The highest BMI was the excess BB category by 33 people (58.9%), the highest HDL frequency distribution, namely the Low category by 29 people (51.8%), and obtained (p-value = 0.034 and r = -0.284 Related to Body Mass Index with HDL levels having a weak direction and a negative direction, is if BMI increases, HDL levels increase and vice versa.Diabetes mellitus tipe 2 adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan kenaikan glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau resistensi insulin. Gizi berlebih dengan akumulasi lemak tubuh berlebih meingkatkan risiko menderita penyakit degeneratif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan kadar HDL pada pasien FKTP Diabetes Mellitus tipe 2 di Dokter Praktik Mandiri K. Hakikiyah Lampung Tengah Tahun 2019. Metode penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode kuota total sampling dengan keseluruhan sampel berjumlah 56 orang. Analisis data menggunakan uji korelasi pearson. Hasilnya diketahui distribusi frekuensi IMT terbanyak yaitu kategori BB Berlebih sebanyak 33 orang (58,9%), distribusi frekuensi kadar HDL terbanyak yaitu kategori Rendah sebanyak 29 orang (51,8%), dan didapatkan (p-value = 0,034 dan r = -0,284) sehingga terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan kadar HDL memiliki korelasi lemah dan arah negatif yaitu jika IMT meningkat maka kadar HDL menurun dan sebaliknya
Efek Penambahan Nanokitosan 1% Kedalam Berbagai Konsentrasi Ekstrak Kulit Kelengkeng Streptococcus Mutans
Longan skin (Dimocarpus longan Lour) contains flavonoid compounds, glycosides, saponins, and tannins, so it has an antibacterial capacity. 1% Nanocitosan mixed into plant extracts can increase the inhibitory growth of bacteria in the oral cavity. This study aims to compare the effectiveness of longan skin extract (Dimocarpus longan Lour) added 1% nano chitosan in inhibiting Streptococcusmutans at various concentrations, namely 40%, 60%, and 80%. Longan skin extract is made by maceration method and made with a concentration of 40%, 60%, and 80%. Whereas 1% of nano chitosan is made by the ionic glass method. The two ingredients were mixed in a ratio of 1: 1, and the effectiveness of inhibition was tested by the disk diffusion method. The results showed the mean and standard deviation of longan skin extract at concentrations of 40%, 60% and 80% with 1% nano chitosan was 6.86 ± 0.471 mm; 7.62 ± 0.533 mm and 8.53 ± 0.395 mm. Inhibition with a diameter> 7 mm indicates medium-strength antibacterial. The Shapiro-Wilk test proves that the data are normally distributed. Statistical analysis with one-way Analysis of Variance (ANOVA) showed longan skin extract (Dimocarpus longan Lour) mixed with 1% nano chitosan most effective in inhibiting Streptococcus mutans at 80% concentration, where p = 0,000 (0 <0.05). This is due to an increase in the concentration of phytochemical compoundsKulit Kelengkeng (Dimocarpus longan Lour) mengandung senyawa flavonoid, glikosida, saponin dan tannin, sehingga memiliki kapasitas antibakteri.Nanokitosan 1% yang dicampurkan ke dalam ekstrak tumbuhan mampu meningkatkan daya hambat pertumbuhan bakteri di rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas ekstrak kulit kelengkeng (Dimocarpus longan Lour) yang ditambahkan nanokitosan 1% dalam menghambat Streptococcusmutans pada berbagai konsentrasi, yaitu 40%, 60% dan 80%. Pembuatan ekstrak kulitkelengkeng dilakukan dengan metode maserasi dan dibuat dengan konsentrasi 40%, 60% dan 80%. Sedangkan nanokitosan 1% dibuat dengan metode gelas ionik. Kedua bahan dicampur dalam rasio 1:1, dan diuji efektivitas daya hambatnya dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan nilai mean dan standar deviasi ekstrak kulit kelengkeng pada konsentrasi 40%, 60% dan 80% dengan nanokitosan 1% adalah 6,86 ± 0,471 mm; 7,62 ± 0,533 mm dan 8,53 ± 0,395 mm. Daya hambat dengan diameter >7 mm menunjukkan antibakteri kekuatan sedang. Uji Shapiro-Wilk membuktikan bahwa data terdistribusi normal. Hasil analisis statistik dengan one way Analysis of Variance (ANOVA) menunjukkan ekstrak kulit kelengkeng (Dimocarpus longan Lour) dicampurkan dengan nanokitosan 1% paling efektif dalam menghambat Streptococcus mutans pada konsentrasi 80%, di mana p = 0,000 (0<0,05). Hal ini disebabkan adanya peningkatan konsentrasi senyawa fitokimi
Analisis Seri Kasus Pseudoaneurysm Setelah Trauma Ginjal Tumpul pada Tahun 2016-2020
Introduction: Renal trauma occurs about 1-5% of all trauma events and about 10% of patients experience abdominal tarauma. Pseudoaneurysm is a vascular complication that rarely occurs after blunt trauma. The purpose of this paper is to analyze pseudoaneurysm cases after blunt kidney trauma. Method: The design used in the study literature uses a literature review design. The analysis used by the writer is a narrative review analysis. Search for articles using PubMed and Google Scholar according to the chosen theme then do a review. Results: Of the 5 articles that experienced pseudoaneurysm after blunt kidney injury suffered the most in men. Four cases were caused due to falls. Signs and symptoms of five cases are decreased blood hemoglobin levels and gross hematuria. Four cases had blunt kidney trauma on the right side and the CT scan showed 3 cases in grade III. Discussion: Among adults who are often found are men at productive age. A person's age is a risk factor for pseudoaneurysm after blunt kidney injury. Hematocrit examination accompanied by examination of blood hemoglobin plays a role in identifying signs of active bleeding that are suspected of having decreased hemoglobin levels. Conclusion: Analysis of the five articles found a sign of gross hematuria and a decrease in blood hemoglobin levels and a medical treatment that is often used is embolization.
Keywords: Pseudoaneurysm, Kidney, Blunt Trauma, Embolization, Analysis.Pendahuluan: Trauma ginjal terjadi sekitar 1-5% dari kejadian seluruh trauma dan sekitar 10% pasien mengalami tarauma abdomen. Pseudoaneurysm merupakan komplikasi vaskular yang jarang terjadi setelah trauma tumpul. Tujuan dari penulisan ini ingin menganalisis kasus-kasus pseudoaneurysm setelah trauma ginjal tumpul. Metode: Desain yang digunakan dalam study literature ini menggunakan desain literature review. Analisis yang digunakan penulis yaitu analisis narrative review. Pencarian artikel menggunakan PubMed dan Google Scholar sesuai tema yang dipilih kemudian dilakukan review. Hasil: Dari 5 artikel yang mengalami pseudoaneurysm setelah trauma tumpul ginjal diderita terbanyak pada laki-laki. Empat kasus disebabkan karena jatuh. Tanda dan gejala dari lima kasus yaitu penurunan kadar hemoglobin darah dan gross hematuria. Empat kasus mengalami trauma ginjal tumpul dibagian kanan dan hasil CT Scan menunjukkan 3 kasus pada derajat III. Diskusi: Pada kalangan dewasa yang sering ditemukan yaitu laki-laki saat usia produktif. Umur seseorang menjadi faktor resiko terjadinya pseudoaneurysm setelah trauma tumpul ginjal. Pemeriksaan hematokrit disertai dengan pemeriksaan hemoglobin darah berperan untuk mengetahui tanda perdarahan aktif yang dicurigai adanya penurunan kadar hemoglobin. Kesimpulan: Analisis dari ke lima artikel didapatkan adanya tanda gross hematuria dan penurunan kadar hemoglobin darah serta tindakan medis yang sering digunakan yaitu embolisasi.
Kata Kunci: Pseudoaneurysm, Ginjal, Trauma Tumpul, Embolisasi, Analisi
Potensi Daun Alpukat Sebagai Antibakteri
Background: Excessive microorganisms can disturb the body's balance and cause infection. Infectious disease is a major health problem that occurs in several countries, especially Indonesia. Antibiotics are the main drug of choice used in dealing with infectious diseases. Irrational use of antibiotics can cause antibiotic resistance problems. This causes people to choose alternative or traditional medicine as a treatment for infectious diseases. One type of plant that can be used as traditional medicine is the Avocado Plant (Persea Americana Mill). Avocado plant parts that can be used as medicine are avocado leaves. The existence of secondary metabolites, namely alkaloids, flavonoids, tannins, and saponins on avocado leaves can inhibit the growth of bacteria (antibacterial) Objective: find out more about the potential of avocado leaves as an antibacterial. Method: The method used by the author is the study of literature from various national and international journals. This method is used with the aim of presenting, increasing knowledge and understanding of the topics covered by summarizing the material that has been published and providing information on facts or new analysis from the review of relevant literature then comparing the results in the article. Results: Avocado leaves have the ability to inhibit the growth of bacteria (antibacterial). Conclusion: Avocado (Persea Americana mill) leaves have potential as an antibacterial. That is because of the content of secondary metabolites found in avocado leaves. Secondary metabolites that have mechanisms to inhibit bacteria on avocado leaves are flavonoids, alkaloids, tannins, and questionsLatar Belakang : Mikroorganisme yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan tubuh dan menyebabkan infeksi. Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan utama yang terjadi di beberapa negara khususnya Indonesia. Antibiotik merupakan obat pilihan utama yang digunakan dalam mengatasi penyakit infeksi. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan masalah resistensi antibiotik. Hal tersebut menyebabkan masyarakat memilih obat alternatif atau tradisional sebagai pengobatan terhadap penyakit infeksi. Salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah Tanaman Alpukat (Persea americana mill). Bagian tanaman alpukat yang dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah daun alpukat. Adanya metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavoniod, tanin, dan saponin pada daun alpukat dapat menghambat pertumbuhan bakteri (antibakteri) Tujuan : mengetahui lebih lanjut tentang potensi daun alpukat sebagai antibakteri. Metode : Metode yang digunakan oleh penulis adalah studi literatur dari berbagai jurnal nasional maupun internasional. Metode ini digunakan dengan tujuan menyajikan, menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai topik yang dibahas dengan meringkas materi yang telah diterbitkan serta memberikan informasi fakta atau analisis baru dari tinjauan literatur yang relevan kemudian membandingkan hasil tersebut dalam artikel. Hasil : Daun alpukat memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri (antibakteri). Kesimpulan : Daun alpukat (Persea americana mill) memiliki potensi sebagai antibakteri. Hal tersebut dikarenakan kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada daun alpukat. Senyawa metabolit sekunder yang memiliki mekanisme untuk menghambat bakteri pada daun alpukat adalah flavonoid, alkaloid, tanin dan quersetin
Pengaruh Radiasi Gelombang Elektromagnetik Telepon Genggam Terhadap Perkembangan Sperma
Background: Increased use of mobile phones has made users have to pay more attention to the side effects of cell phone use on human health. men who carry a cell phone in a pants pocket can reduce sperm productivity by 70% and even worse the sperm produced will not be able, to fertilize until infertile because it has been damaged by the electromagnetic wave radiation emitted by a cell phone. Objective: to determine the effect of cell phone electromagnetic radiation radiation on sperm development Method: Using literature studies from both national and international journals by summarizing the topic of discussion and comparing the results presented in each article. Results: Exposure to mobile electromagnetic waves can cause increased production of Reactive Oxygen Species (ROS) such as Malondialdehyde (MDA) and decreased antioxidant activity such as catalase, Superoxide Dismutase (SOD) and Gluthatione Peroxidase (GSH). The amount of ROS that exceeds protective antioxidants in the body can cause oxidative stress, cell damage, and tissue. Oxidative stress can increase lipid peroxidation of unsaturated fatty acids in spermatozoa cell membranes. Seminiferous tubular degeneration can also occur due to increased ROS which can cause decreased spermatozoa motility, dysfunction of Leydig cells and Sertoli cells. Conclusion: cell phone use has been proven to have a negative effect on the male reproductive system.Latar Belakang: Peningkatan penggunaan telepon genggam membuat para pengguna harus lebih mencermati efek samping penggunaan telepon genggam terhadap kesehatan manusia. kaum pria yang membawa telepon genggam di saku celana dapat menurunkan 70% produktivitas sperma dan lebih parah lagi sperma yang dihasilkan tidak akan dapat membuahi sama sekali alias mandul karena telah rusak akibat radiasi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh telepon genggam. Tujuan: mengetahui pengaruh radiasi gelombang elektromagnetik telepon genggam terhadap perkembangan sperma Metode: Menggunakan studi literatur dari jurnal baik nasional maupun internasional dengan cara meringkas topik pembahasan dan membandingkan hasil yang disajikan dalam setiap artikel. Hasil:Paparan gelombang elektromagnetik handphone dapat menyebabkan peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) seperti Malondialdehyde (MDA) dan penurunan aktivitas antioksidan seperti katalase, Superoxide Dismutase (SOD) dan Gluthatione Peroxidase (GSH). Jumlah ROS yang melebihi antioksidan protektif dalam tubuh dapat menyebabkan stres oksidatif, kerusakan sel, dan jaringan. Stres oksidatif dapat meningkatkan peroksidasi lipid asam lemak tak jenuh pada membran sel spermatozoa. Degenerasi tubulus seminiferus juga dapat terjadi akibat ROS akan meningkat dapat menyebabkan penurunan motilitas spermatozoa, disfungsi sel Leydig dan sel Sertoli. Kesimpulan: penggunaan telepon genggam terbukti memberikan efek negative pada sistem reproduksi pria