USM Indonesia E-journal (Universitas Sari Mutiara)
Not a member yet
3657 research outputs found
Sort by
Edukasi Diet Anak Dengan Luekimia
Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik yang beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid. Malnutrisi pada penderita kanker dapat menurunkan angka toleransi kemoterapi serta dapat meningkatkan potensi terjadinya komplikasi. Pengobatan untuk penderita leukemia juga dapat dilakukan dengan cara menjalani hidup sehat melalui makanan yang dikonsumsi serta menghindari zat beradiasi atau karsinogenik. Pola hidup sehat serta pola makan dengan mengonsumsi makanan yang sehat serta bergizi secara teratur merupakan bagian penting dalam pengobatan penyakit leukemia. Tujuan dari kegiatan poengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan pemahaman orangtua tentang pemberian diet dan cara pengolahannya pada anak dengan leukimia. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah edukasi. Kegiatan ini diikuti oleh orangtua anak dengan diagnosa leukimia sebanyak 15 orang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini telah berhasil mencapai tujuan utama yaitu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman orangtua tentang diet pada anak dengan leukimia.  
Penanggulangan Bencana Serta Peningkatan Kapasitas Dan Pengurangan Risiko Bencana Di UPT Puskesmas Sukaramai Kota Medan
Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana merupakan aspek penting dalam sistem layanan kesehatan, terutama di tingkat fasilitas kesehatan primer seperti Puskesmas. UPT Puskesmas Sukaramai Kota Medan berada di wilayah yang rentan terhadap bencana, seperti banjir dan kebakaran, yang dapat mengganggu pelayanan kesehatan serta membahayakan tenaga medis dan masyarakat sekitar. Namun, tingkat kesiapan tenaga kesehatan dan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat masih tergolong rendah. Oleh karena itu, program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan masyarakat dalam menghadapi bencana serta mengurangi risiko yang ditimbulkan. Metode yang digunakan dalam program ini meliputi sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi tenaga medis dan masyarakat, simulasi tanggap darurat, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan, serta pengadaan fasilitas dan alat-alat penunjang evakuasi di Puskesmas. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta, observasi selama simulasi bencana, serta survei kepuasan peserta terhadap program yang dijalankan. Lokasi pengmas ini dilaksanakan di UPT Puskesmas Sukaramai Kota Medan, dan waktu pelaksanaan pada bulan September-November 2024. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan tenaga medis serta masyarakat dalam menghadapi situasi bencana. Simulasi evakuasi juga membantu mengidentifikasi jalur evakuasi yang lebih efektif serta memastikan bahwa peralatan medis darurat tersedia dan dapat digunakan dengan optimal. Program ini diharapkan dapat menjadi model dalam penguatan sistem kesiapsiagaan bencana di tingkat Puskesmas serta mendorong keberlanjutan program mitigasi bencana di lingkungan kesehatan dan masyarakat sekitar
THE RELATIONSHIP BETWEEN SPIRITUALITY AND QUALITY OF LIFE OF PATIENTS WITH CORONARY HEART DISEASE
Background: Patients with Coronary Heart Disease (CHD) tend to have a low Quality of Life
Purpose: This study aims to identify the relationship between spirituality and the QoL of Patients with CHD.
Methods: Descriptive correlational statistics with a cross-sectional design involving inpatients of CHD at the Adventist General Hospital, Medan. There were 89 patients who were selected using a purposive sampling technique. This study used the Daily Spiritual Experience Scale (DSES) and Quality of Life Index (QLI). Spearman Rank Correlation was used to analyze the relationship between the two variables.
Results: The results of this study showed that 56.9% of CHD patients had low spirituality, and 52.8% had poor QoL. There is a significant relationship between spirituality and the QoL of CHD patients (r = -0.533; P = 0.001 <0.05).
Conclusion: CHD patients with low spirituality have poor QoL. It is very important to provide interventions to improve the spirituality of patients with CHD which can ultimately improve their (QoL), which affects the recovery process. Several QoL. literatures note that the need for spirituality plays an important role in recovery in chronic patients
PERHITUNGAN CELAH ENERGI DAN ANALISIS UV SENYAWA KOMPLEKS BIS (DIBENZOILMETANA)2FE MENGGUNAKAN METODE SEMI EMPIRIS PM3
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis celah energi dan spektroskopi UV-Vis dari ligan dibenzoilmetana dan kompleks BIS(Dibenzoilmetana)2Fe menggunakan metode semi empiris PM3. Pada komputasi kimia digunakan software Hyperchem mode PM3 dengan basis set 32767 untuk mengoptimalkan struktur geometrinya sehingga data deskriptor HOMO dan LUMO diperoleh secara optimal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kompleks ini memiliki struktur geometri yang stabil sesuai dengan data eksperimental. Terkonjugasinya Fe sebagai atom pusat pada kompleks BIS(Dibenzoilmetana)2Fe mempengaruhi perhitungan celah energi menjadi 8,0434552 eV yang sebelumnya 8,4493405 eV. Analisis atom Fe pada molekul kompleks menunjukkan kontribusi signifikan dari orbital d pada atom Fe. Hal ini akan mempengaruhi kepekaan cahaya dari kompleks tersebut sehingga panjang gelombang pada kompleks BIS(Dibenzoilmetana)2Fe dan ligan dibenzoilmetana akan berbeda. Sehingga studi komputasi ini dapat menjelaskan tentang karakteristik elektronik dan spektroskopi dari kompleks BIS(Dibenzoilmetana)2Fe dan ligan dibenzoilmetana yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar penelitian di laboratorium dan dapat merancang kompleks dengan logam transisi baru yang diaplikasikan potensial dalam katalisis dan material fungsional
Peningkatan Kreativitas Melalui Kerajinan Tangan Origami dan Permainan Edukatif Bagi Siswa SD. Swasta Hasanuddin
Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar. Permainan yang dipilih biasanya yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Kreativitas kerajinan anak adalah salah satu potensi yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Setiap anak pasti memiliki bakat kreatif yang dapat dikembangkan. Bakat kreatif anak yang tidak dikembangkan sejak dini maka akan menghambat kreativitas mereka atau secara tidak langsung mereka terlambat untuk berkembang secara optimal. Kreativitas merupakan aspek penting dalam perkembangan anak, mendukung kemampuan problem-solving dan berpikir kritis, yang sangat dibutuhkan dalam pendidikan abad 21. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan sangat diperlukan, terutama pada jenjang pendidikan dasar. Tim Pengabdian pada masyakat bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa SD Swasta Hasanuddin melalui kegiatan kerajinan tangan berbasis origami dan permainan edukatif. Kegiatan ini dilakukan dengan dua aktivitas utama: origami dan permainan edukatif. Origami dipilih sebagai media yang melatih koordinasi tangan-mata, kesabaran, dan daya imajinasi siswa, sementara permainan edukatif digunakan untuk merangsang kemampuan berpikir logis, kerja sama, serta meningkatkan semangat belajar melalui aktivitas yang menyenangkan. Penerapan origami dan permainan edukatif terbukti efektif dalam meningkatkan kreativitas dan keterampilan sosial siswa SD Swasta Hasanuddin
RANCANG BANGUN MONITORING KETINGGIAN AIR BERBASIS IOT UNTUK DETEKSI DINI BANJIR PADA BENDUNGAN SUNGAI DELI
Banjir merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Kota Medan, khususnya di sekitar aliran Sungai Deli, akibat tingginya curah hujan dan kurangnya sistem peringatan dini yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem monitoring ketinggian air berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendeteksi dini potensi banjir. Penelitian dilakukan secara prototipe di laboratorium menggunakan desain penelitian Design and Creation, tanpa melibatkan partisipan manusia. Sistem terdiri dari mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan tiga sensor utama: sensor ultrasonik SRF-05 untuk mengukur ketinggian air, water flow sensor G1/2 untuk mengukur debit aliran air, dan raindrop sensor untuk mendeteksi keberadaan hujan. Data dari sensor dikirimkan secara real-time ke platform ThingSpeak dan dapat dimonitor melalui aplikasi ThingView pada smartphone. Pengumpulan data dilakukan selama simulasi kondisi banjir dalam akuarium, dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa sistem dapat mengukur ketinggian air dengan akurasi ±1 cm dan mengirimkan data setiap 15 detik secara stabil. Selain itu, indikator LED dan buzzer aktif ketika air mencapai level siaga, menunjukkan respons sistem terhadap kondisi kritis. Rancangan ini menunjukkan potensi besar sebagai sistem deteksi banjir yang efisien, murah, dan mudah digunakan masyarakat serta instansi terkait untuk mengurangi dampak bencana banjir di wilayah Sungai Deli
HUBUNGAN MENOPOUSE DENGAN ANGKA KEJADIAN RHEUMATOID ARTHRITIS
Rheumatoid arthritis (RA) adalah salah satu penyakit autoimun yang paling sering terjadi di masyarakat. Penyakit ini ditandai dengan peradangan pada lapisan sinovium sendi. Hingga sekarang penyebab dari RA masih belum diketahui, ada yang menyebutkan faktor genetik dan faktor lingkungan dapat meningkatkan risiko penyakit RA Hasil Rheumatoid Factor (RF) ditemukan lebih dari 70% penderita RA. Kebanyakan penyakit RA berlangsung lama/ kronis yaitu sembuh dan kambuh kembali secara berulang-ulang sehingga menyebabkan kerusakan sendi secara menetap. Masalah yang disebabkan oleh penyakit RA tidak hanya berupa keterbatasan yang tampak jelas pada mobilitas dan aktivitas hidup sehari- hari tetapi juga efek sistemik yang tidak jelas yang dapat menimbulkan kegagalan organ.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya hubungan menopouse dengan kejadian Rheumatoid Arthritis. Jenis penelitian ini observasional analitik dengan teknik accidental sampling. Penelitian dilakukan di Laboratorium Klinik Prodia Cepu dengan pemeriksaan RF metode aglutinasi. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel 30 responden. Variabel penelitian ini adalah menopouse dan nilai Rheumatoid Factor. Hasil uji statistik dengan SPSS menggunakan Fisher’s exact test didapatkan nilai sig = 0,005. Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan antara menopause disertai nyeri sendi dengan kejadian Rheumatoid Arhtritis
EFEKTIVITAS PEMBERIAN INTERVENSI PIJAT OKSITOSIN PADA PASIEN POST SECTIO CAESAREA DENGAN MASALAH MENYUSUI TIDAK EFEKTIF
Latar belakang: Post partum merupakan periode pemulihan organ reproduksi setelah persalinan, yang melibatkan adaptasi fisiologis dan psikologis ibu. Kecemasan sering terjadi pada ibu post sectio caesarea yang dapat menghambat produksi Air Susu Ibu (ASI). Penurunan produksi ASI dapat disebabkan oleh keterlambatan inisiasi menyusui, efek anestesi, serta kurangnya stimulasi hormon oksitosin dan prolaktin. Pijat oksitosin merupakan metode yang terbukti efektif meningkatkan produksi ASI dengan merangsang hormon oksitosin.
Tujuan: Mengetahui efektivitas pijat oksitosin dalam mengatasi kecemasan dan menyusui tidak efektif pada ibu post sectio caesarea di ruang maternal KIAT RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
Metode: Laporan kasus asuhan keperawatan dari tahap pengkajian hingga tahap evaluasi.
Hasil: Terdapat peningkatan produksi ASI setelah 2 hari diberikan intervensi pijat oksitosin dengan 15 menit tiap pertemuan.
Simpulan: Pijat oksitosin terbukti efektif dalam mengatasi masalah menyusui tidak efektif pada ibu post partum, yang ditunjukkan dengan meningkatnya produksi ASI.
Saran: Perawat disarankan untuk menerapkan pijat oksitosin sebagai intervensi bagi pasien dengan masalah menyusui tidak efektif sesuai dengan perkembangan teori. Selain itu, perawat juga perlu memberikan edukasi kepada suami dan keluarga agar mereka dapat berperan aktif dalam mendukung proses menyusui, termasuk dalam penerapan pijat oksitosin
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KELELAHAN KERJA PADA PENGEMUDI OJEK ONLINE DI GRESIK TAHUN 2025
Latar Belakang: Kelelahan kerja ialah isu kesehatan yang umum dialami pengemudi ojek online dan dapat menurunkan keselamatan serta produktivitas. Faktor seperti usia, durasi tidur, jam kerja, serta masa kerja diduga berperan dalam hal ini.
Tujuan: Studi ini bertujuan guna mengidentifikasi faktor-faktor yang memiliki keterkaitan dengan tingkat kelelahan kerja pada pengemudi ojek online di Kabupaten Gresik tahun 2025.
Metode: Studi ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, di mana data dikumpulkan pada satu waktu tertentu. Sebanyak 100 responden dilibatkan dalam penelitian ini, yang pemilihannya dilakukan secara sengaja melalui pendekatan purposive sampling, yakni metode pemilihan sampel secara sengaja berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan sebelumnya. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner, dan analisis hubungan antar variabel dijalankan menerapkan uji statistik Spearman Rank.
Hasil: Mayoritas responden tercatat mengalami kelelahan kerja pada tingkat sedang, ialah sebesar 71%. Berdasarkan hasil analisis statistik, ditemukan adanya hubungan yang bermakna secara signifikan antara variabel durasi tidur (p = 0,046) serta jam kerja (p = 0,041) dengan tingkat kelelahan kerja. Sementara itu, variabel usia (p = 0,186) serta masa kerja (p = 0,591) tidak menunjukkan korelasi yang signifikan terhadap tingkat kelelahan yang dialami oleh responden.
Simpulan: Durasi tidur serta jam kerja ialah faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja. Perlu upaya edukasi manajemen waktu dan intervensi kebijakan dari aplikator untuk mengurangi risiko kelelahan pada pengemudi ojek online
HUBUNGAN POSTUR KERJA DAN DURASI KERJA DENGAN KEJADIAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PENGEMUDI BUS TRANSJATIM
Latar belakang: Data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa MSDs menempati peringkat ke-2 penyakit akibat kerja (PAK) di Indonesia setelah gangguan pernapasan, dengan 52.500 kasus terdaftar dalam periode 2021-2023. Penelitian yang melibatkan 9.482 pekerja di 12 kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa gangguan muskuloskeletal (MSDs) merupakan kondisi paling umum dengan proporsi 16%, diikuti oleh penyakit kardiovaskular sebesar 8%, gangguan sistem saraf 5%, gangguan pernapasan 3%, serta penyakit pada telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) sebesar 1,5%.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara postur kerja
dan durasi kerja dengan kejadian MSDs.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 54 pengemudi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Nordic Body Map (NBM) untuk mengukur keluhan MSDs dan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk menilai postur kerja. Analisis data menggunakan uji Spearman dan Somers’d.
Hasil: Mayoritas pengemudi memiliki postur kerja dengan risiko rendah (55,6%) dan durasi kerja lebih dari 10 jam per hari (77,8%). Sebagian besar responden mengalami keluhan MSDs ringan (59,3%). Terdapat hubungan yang signifikan antara postur kerja dengan kejadian MSDs (p = 0,000; ρ = 0,489) dan antara durasi kerja dengan kejadian MSDs (p = 0,000; r = 0,524).
Simpulan: Postur kerja dan durasi kerja berkontribusi terhadap kejadian MSDs pada pengemudi. Penelitian ini merekomendasikan perbaikan aspek ergonomi kerja serta manajemen waktu kerja guna mengurangi risiko MSD