Jurnal Geosains dan Remote Sensing (JGRS)
Not a member yet
84 research outputs found
Sort by
Prediction of Land Cover Model for Central Ambon City in 2041 Using the Cellular Automata Markov Chains Method
The Ambon city center area based on the 2021-2041 RDTR is a center of economic, educational and cultural activities, this makes economic and population growth focused in this region. This also triggers the arrival of residents from other areas to Ambon City and will have an impact on increasing the provision of land for settlements. This condition is expected to trigger land conversion in this area. This study aims to analyze land cover changes in Ambon City in 2001, 2011, 2021 and predict land cover in 2041. This study uses Cellular Automata Markov Chains modeling to predict land cover in the central area of Ambon City in 2041. The results show that the type of built-up land cover and open land continued to increase in area, while agricultural and non-agricultural areas continued to experience a decrease in area and water bodies did not experience a decrease in area. The results of this study are expected to be used as a reference in managing the development of sustainable residential areas and as an effort to arrange land use in the Ambon City center area in the future based on ecological aspects
Korelasi Data Citra Satelit Radar dan Geologi Untuk Analisis Deformasi Permukaan, Studi Kasus Gempa Ambon September 2019
Maluku terletak di antara tiga lempeng dunia yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik yang menyebabkan terbentuknya tatanan geologi Pulau Maluku yang kompleks dan berpotensi tinggi terjadinya bencana gempa bumi salah satunya gempa Ambon 26 September 2019. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait perubahan permukaan paskah terjadinya gempa yang melanda Ambon pada 26 September 2019. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan DInSAR dengan mengolah citra SAR Sentinel-1. Hasil analisis citra tersebut menunjukkan gempa tersebut menyebabkan terjadinya penurunan muka tanah (subsidence) dengan nilai deformasi berkisar -8 cm sampai -14 cm pada daerah Tulehu dan Liang. Daerah Liang dan Tulehu didominasi oleh batuan sedimen yaitu batugamping dan endapan aluvial yang berumur Kuarter yang dapat memperkuat efek guncangan sehingga rawan terjadi guncangan gempa bumi yang berdampak pada deformasi yang terjadi di daerah tersebut. Sedangkan pada daerah di sekitarnya yang juga terkena dampak deformasi yaitu Pulau Haruku mengalami kenaikan muka tanah (uplift) dengan nilai deformasi berkisar +4 cm sampai +10 cm. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber referensi dalam pemantauan dan pemulihan berdasarkan sejarah gempa yang terjadi di Pulau Ambon yang sangat berguna dalam mitigasi bencana untuk mengurangi risiko dari dampak yang ditimbulkan akibat gempa bumi, di masa mendatang
Kajian Rencana Pola Ruang Dalam Mitigasi Ancaman Bahaya Tanah Longsor di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Bogor
Indonesia adalah negara dengan multi-bencana khususnya bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor. Perencanaan tata ruang wilayah di Indonesia harus menyesuaikan dengan potensi kebencanaan di wilayah tersebut untuk menekan angka kerugian dan korban jiwa. Pemerintah Kabupaten Bogor telah menetapkan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Bogor untuk tahun 2016-2036. Mengingat wilayah Bogor kerap mengalami bencana gerakan tanah atau tanah longsor, maka diperlukan adanya kajian kesesuaian rencana pola ruang wilayah dari aspek kebencanaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian rencana pola ruang Kabupaten Bogor khususnya di Kecamatan Sukamakmur terhadap indeks kerentanan bencana longsor. Pengolahan data dilakukan dengan metode bivariate statistik menggunakan teknologi sistem informasi geospasial (GIS) dengan penilaian kelas dan overlay. Data yang digunakan adalah Digital Elevation Model (DEM) resolusi 8 meter untuk ekstraksi kemiringan lereng serta data zona kerentanan gerakan tanah. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa hampir 90% dari total rencana pola ruang Kecamatan Sukamakmur berada di wilayah beresiko bencana longsor. Sekitar 14% dari rencana kawasan pemukiman dan sebesar 23% alokasi perencanaan kawasan hutan produksi tetap berada di wilayah dengan zona kerentanan bahaya tanah longsor tinggi
Analisis Kerentanan Airtanah Terhadap Pencemaran Menggunakan Metode Drastic di Kabupaten Rembang Bagian Barat
Kabupaten Rembang bagian barat merupakan salah satu daerah di pesisir utara Jawa Tengah yang memiliki sistem akuifer dangkal. Kondisi geologi daerah penelitian disusun oleh litologi batupasir dan batugamping yang bersifat porous sehingga cenderung memiliki potensi kerentanan airtanah terhadap pencemaran cukup tinggi dan dapat mempengaruhi kualitas airtanah. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui zona dan tingkat kerentanan airtanah di Kabupaten Rembang bagian barat dengan menggunakan metode DRASTIC. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan secara spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode DRASTIC mampu merepresentasikan kerentanan air tanah dengan pendekatan hidrogeologi yang didasarkan pada tujuh parameter yang meliputi kedalaman muka air tanah (D), imbuhan air (R), media akuifer (A), media tanah (S), kemiringan lereng (T), zona vadose (I), dan konduktivitas hidrolik (C). Berdasarkan hasil analisis diperoleh rentang nilai DRASTIC Index (DI) dari 83-172 yang dibagi dalam tiga tingkat kerentanan. Daerah dengan tingkat kerentanan rendah memiliki rentang nilai DI 83-124 dengan luas 216,07 km2 (46,62%) dimana tingkat kerentanan ini bersifat dapat tercemar oleh polutan tertentu yang dibuang secara menerus. Daerah dengan tingkat kerentanan sedang memiliki rentang nilai DI 124 –144 dengan luas 118,095 km2 (25,48%) dimana tingkat kerentanan ini bersifat dapat tercemar oleh polutan yang dibuang secara menerus. Sedangkan daerah dengan tingkat kerentanan tinggi memiliki rentang nilai DI 144-172 dengan luas 129,28 km2 (27, 90%) dimana tingkat kerentanan ini bersifat dapat tercemar semua polutan kecuali yang memerlukan daya serap tinggi dan mudah berubah dalam beberapa kondisi
Identifikasi Parameter Petrofisika dan Jenis Fluida Berdasarkan Sw dan Sequence Stratigraphy di Pesisir Cekungan Sumatra Tengah
Parameter petrofisika dan jenis fluida perlu diketahui pada setiap sumur di lapangan ‘X’ pesisir Cekungan Sumatra Tengah, sehingga akan memperlancar proses analisis dan eksploitasi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan porositas, densitas, impedansi akustik dan saturasi fluida pada 3 (tiga) sumur. Metode yang digunakan adalah Metode Well Logging dan Seismik untuk menentukan porositas, densitas, impedansi akustik dan saturasi air (Sw). Berdasarkan integrasi seperangkat data log dan seismik 2D, jenis fluida dapat diidentifikasi dengan nilai Sw, sedangkan persebaran parameter porositas, densitas dan impedansi akustik dengan metode log dan Sequence Stratigraphy. Penentuan Sw pada sumur Merak-1, Garib-1 dan Melibur-1 menggunakan software Techlog dan Interactive Petrophysics (IP), dan untuk mendapatkan Sw dilakukan perhitungan Vshale, porositas, dan Rw. Hasil penelitian ini didapatkan Sw pada formasi Bekasap, Bangko dan Menggala pada sumur Merak-1 sekitar 20%, pada sumur Garib-1 antara 15%-55% sedangkan sumur Melibur-1 yaitu 20% dan jenis fluidanya gas dan minyak. Porositas di formasi Bekasap, Bangko dan Menggala antara 23,9%-27,8%, sedangkan nilai densitas antara 2,2-2,3 gr/cc dan nilai impedansi akustik antara 18863-22897 ft/s.gr/cc. Berdasarkan nilai saturasi fluida (Sw) tersebut diperoleh jenis fluida adalah gas dan minyak serta nilai parameter petrofisika tersebut di atas besarnya ada yang sama dalam satu sequence
Klasifikasi Penginderaan Jauh Berbasis Time Series Menggunakan Multi-Layer Perceptron (MLP) Untuk Pemetaan Jenis Tanaman (Studi Kasus: Desa Girimulyo, Lampung Timur)
Penerapan metode klasifikasi time series penginderaan jauh dengan deep learning merupakan metode inovatif yang mampu mengekstrak informasi penting dari banyaknya data observasi bumi yang beragam dengan cepat dan akurat. Penelitian ini menyajikan metode klasifikasi berbasis time series menggunakan Multi-Layer Perceptron (MLP) untuk pemetaan jenis tanaman sebagai upaya untuk mendukung ketahanan pangan dengan menyediakan produk tutupan lahan berupa peta jenis tanaman. Penelitian ini menggunakan data citra Sentinel-2A dan 150 sampel berupa koordinat titik dari lima kelas yang disimpan dalam bentuk data cube teregulerisasi sebagai dasar informasi untuk pembentukan model klasifikasi menggunakan MLP. Berdasarkan hasil penelitian, jenis tanaman pada Desa Girimulyo diklasifikasikan ke dalam lima kelas klasifikasi yakni kelas jagung dengan luas 22,2 km2, kelas tanaman lain dengan luas 9,9 km2, kelas pisang dengan luas 6,3 km2, kelas kelapa dengan luas 3,7 km2, dan kelas non-tanaman dengan luas 2,8 km2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode klasifikasi yang digunakan efektif untuk memetakan jenis tanaman di wilayah studi dibuktikan dengan nilai overall accuracy dari citra terklasifikasi yang mencapai 83%. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak pada wilayah studi dengan jenis tanaman yang lebih beragam
Karakteristik Tremor Gunung Sinabung Berdasarkan Analisis Spektrum Frekuensi, Waveform Cross-Correlation dan Polarisasi Seismik
Tremor di Gunung Sinabung pertama kali terekam pada Oktober-November 2013. Tremor dapat mengindikasikan aktivitas vulkanik pada gunung api tersebut, seperti osilasi aliran fluida, pergerakan fluida, sistem hidrotermal, dan resonansi aktivitas dapur magma, sehingga informasi karakteristik tremor yang muncul di Gunung Sinabung sangat dibutuhkan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan karakteristik tremor Gunung Sinabung pada periode Oktober-November 2013 berdasarkan analisis spektrum frekuensi, waveform cross-correlation dan polarisasi seismik. Berdasarkan metode tersebut diharapkan dapat memberikan informasi frekuensi dominan, kesamaan bentuk antardata tremor dan lokasi sumber sinyal tremor. Data tremor Gunung Sinabung periode Oktober-November 2013 telah terpilih 260 data. Analisis spektrum frekuensi menunjukkan bahwa tremor Gunung Sinabung memiliki nilai frekuensi dominan yakni 1-3 Hz. Berdasarkan bentuk spektrum frekuensinya, tremor Gunung Sinabung dibedakan menjadi dua jenis yaitu tremor harmonik dan non harmonik. Nilai koefisien korelasi 0,5-0,9 ditunjukkan dari hasil analisis waveform cross-correlation yang berarti terdapat kesamaan bentuk sinyal tremor. Berdasarkan variasi nilai koefisien korelasi dan waktu letusan Gunung Sinabung, maka terdapat tujuh zona waktu dengan letusan 8 November 2013 yang memiliki nilai koefisien korelasi tertinggi. Berdasarkan analisis polarisasi seismik diperkirakan sumber tremor berada di selatan kawah dengan arah 90°-120° dari Stasiun Mardinding. Tremor Gunung Sinabung diperkirakan bersumber di -0,5-2,4 km di atas permukaan air laut
Dinamika Vegetasi dan Suhu Permukaan Lahan Berbasis Remote Sensing di Waduk Jatigede Provinsi Jawa Barat: Studi Pendahuluan
Perubahan tutupan lahan secara spasiotemporal di sekitar area waduk Jatigede dapat mempengaruhi kondisi hidrologi. Dinamika kerapatan vegetasi dan suhu permukaan lahan sebagai parameter perubahan ekologi dapat dideteksi melalui penggunaan remote sensing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar dampak pembangunan waduk terhadap perubahan tutupan lahan, kerapatan vegetasi dan suhu permukaan secara temporal. Area penelitian berada di sekitar waduk Jatigede yang meliputi Kecamatan Cibugel, Cisitu, Darmaraja, Jatinunggal, Jatigede, dan Wado. Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan Land Surface Temperature (LST) sebagai penduga kerapatan vegetasi dan suhu permukaan lahan pada berbagai tutupan lahan dianalisis menggunakan Citra Landsat 8 OLI/TIRS. Pembangunan Waduk Jatigede memberikan dampak pengurangan luas tutupan lahan di antaranya permukiman (56,17%), hutan (37,99%), dan tanah terbuka (96,45%). Perubahan tutupan lahan berdampak pada dinamika keberadaan vegetasi yang dinilai melalui tingkat kerapatan dan kehijauan vegetasi. Keberadaan Waduk Jatigede telah menurunkan rentang nilai LST. Selain itu penurunan nilai LST sejalan dengan peningkatan elevasi dan kerapatan vegetasi. Penilaian NDVI dan LST sebagai upaya pemantauan dampak pembangunan waduk dapat dijadikan studi pendahuluan untuk pedoman perencanaan dan pengelolaan lahan ke depannya
Analisis Multikriteria Berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) terhadap Bahaya dan Resiko Banjir di Kecamatan Sirimau Kota Ambon
Banjir merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia dan memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat dan lingkungan. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam terhadap bahaya dan risiko banjir yang terjadi di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Metode yang diaplikasikan dalam penelitian ini adalah Analytical Hierarchy Process (AHP) yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Dalam analisis ini, pertimbangan multikriteria digunakan untuk mempertimbangkan berbagai faktor, seperti penggunaan lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, pola curah hujan, jarak dari sungai, dan elevasi lahan. Data yang digunakan diperoleh dari pengamatan lapangan, citra satelit Landsat, catatan curah hujan, serta data elevasi lahan, yang semuanya diintegrasikan dalam proses analisis. Analisis terhadap bahaya banjir secara khusus difokuskan pada identifikasi potensi terjadinya banjir berdasarkan faktor-faktor fisik. Sementara itu, analisis terhadap risiko melibatkan penilaian terhadap dampak potensial yang mungkin ditimbulkan oleh banjir pada berbagai aspek. Prosedur agregasi peta untuk analisis risiko dan bahaya banjir menggunakan pendekatan Weighted Linear Combination (WLC). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat dua kategori tingkat bahaya banjir, yakni kategori sangat tinggi dan tinggi sebesar 12,26%, sementara kategori sangat rendah dan rendah mencapai 87,84%. Dalam hal evaluasi risiko banjir, kategori risiko yang termasuk sangat tinggi dan tinggi mencakup sekitar 17,28%, sedangkan kategori risiko yang termasuk sangat rendah dan rendah mencapai angka 82,77%. Studi ini memberikan masukan bagi pemerintah daerah, dalam merumuskan kebijakan terkait dengan mitigasi dan pengelolaan banjir. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini memiliki potensi untuk diadopsi dalam analisis risiko bencana lainnya, dengan tujuan pengambilan keputusan yang lebih terinformasi dan rasional