Jurnal Geosains dan Remote Sensing (JGRS)
Not a member yet
84 research outputs found
Sort by
Analisis Pengaruh Intertropical Convergence Zone (ITCZ) dan Fenomena Cuaca Global terhadap Banjir di Kabupaten Wonogiri Tanggal 12 Februari 2023
Curah hujan ekstrem di Kabupaten Wonogiri yang menyebabkan banjir pada tanggal 12 Februari 2023 yang disebabkan oleh beberapa faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara menyeluruh faktor-faktor yang mempengaruhi cuaca di wilayah Indonesia, dari skala global hingga lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif pada beberapa faktor, seperti El Nino Southern Oscilation (ENSO), Dipole Mode (DM), Madden Jullian Oscillation (MJO), sistem monsun Asia-Australia, dan kondisi labilitas udara atas di lokasi kajian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat MJO aktif pada fase 3-6 dari tanggal 20 Januari 2023 hingga 23 Februari 2023, sehingga meningkatkan suplai uap air ke wilayah Indonesia. Selain itu, adanya Intertropical Convergence Zone (ITCZ) di wilayah Indonesia memicu terjadinya konvergensi angin di wilayah Wonogiri dan sekitarnya. Hasil analisis transpor kelembapannya juga menunjukkan bahwa kedua faktor tersebut meningkatkan transpor kelembapan ke wilayah Indonesia dan terjadi konvergensi transpor kelembapan di wilayah kajian. Faktor-faktor tersebut memicu kondisi udara atas di wilayah Wonogiri dan sekitarnya menjadi labil, sehingga semakin meningkatkan potensi terbentuknya awan konvektif yang menjadi penyebab hujan yang lebih dari 100 mm/hari di wilayah tersebut
Analisis Kondisi Geologi dan Rumusan Sejarah Geologi Desa Bojong dan Sekitarnya, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah
Desa Bojong dan sekitarnya, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah secara fisiografis termasuk dalam Zona Kendeng. Penelitian ini dilakukan untuk memahami kondisi dan proses geologi daerah penelitian yang berukuran 4x5 km. Penelitian didahului dengan studi literatur dan analisis data sekunder yang menghasilkan peta geomorfologi dan interpretasi awal struktur geologi. Pengambilan data lapangan sebagai data primer selanjutnya diolah menghasilkan peta-peta, analisis stratigrafi, analisis struktur geologi, serta identifikasi petrografi dan paleontologi. Seluruh analisis ini diintegrasikan untuk merekonstruksi sejarah geologi daerah penelitian. Satuan geomorfologi terbagi menjadi tiga, yaitu Punggungan Homoklin Wonosegoro terdenudasi rendah, Lembah Homoklin Wonosegoro terdenudasi sedang, dan Dataran Denudasional Wonosegoro terdenudasi kuat. Stadia daerah penelitian diklasifikasikan dalam stadia dewasa. Satuan batuan dibagi menjadi tiga, yaitu Batulempung Karbonatan yang terendapkan pada Kala Miosen Tengah, kemudian secara selaras pada Kala Miosen Akhir-Pliosen terendapkan Batupasir Karbonatan, serta pada Kala Holosen terendapkan Satuan Lempung-Kerikil secara tidak selaras. Berdasarkan karakteristik fasies, lingkungan pengendapan terdiri dari dua fase, yaitu lower fan dan channeled suprafan lobes. Struktur geologi yang ditemukan meliputi lipatan berorientasi barat-timur, sesar dekstral berorientasi timur laut-barat daya, serta kekar gerus. Pola sesar pada daerah penelitian memiliki kesamaan dengan pola meratus
Korelasi antara NDVI dan Potensi Air Tanah: Validasi Model SIG Multiparameter di DAS Mahakam Hilir, Indonesia
Sub-DAS Mahakam Hilir di Kalimantan Timur mengalami degradasi lingkungan akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan aktivitas antropogenik yang memengaruhi ketersediaan air tanah. Penelitian ini memodelkan potensi air tanah menggunakan pendekatan overlay multiparameter berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan mempertimbangkan curah hujan, jenis tanah, geologi, kemiringan lereng, tutupan lahan, dan NDVI. NDVI dihitung dari citra Sentinel-2 dan diklasifikasikan menjadi lima kelas. Validasi menggunakan 29 titik sumur bor menunjukkan akurasi model sebesar 89,7%. Daerah berpotensi tinggi berada di dataran rendah berendapan aluvial, sedangkan wilayah berbatu keras menunjukkan potensi rendah. Analisis NDVI tahun 2020–2025 menunjukkan penurunan kerapatan vegetasi sebesar 9,56%. Hasil korelasi menunjukkan hubungan yang sangat lemah dan tidak signifikan antara potensi air tanah dan NDVI (R² = 0,1018). Hal ini menunjukkan bahwa kerapatan vegetasi tidak berbanding lurus dengan potensi air tanah, dan faktor geologi serta topografi lebih dominan memengaruhinya
Pemodelan Struktur Geologi Bawah Permukaan Pulau Buru Berdasarkan Data Anomali Gaya Berat
Pulau Buru, Provinsi Maluku merupakan salah satu wilayah yang berada di Busur Banda dan memiliki struktur geologi yang cukup kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan struktur geologi bawah permukaan berdasarkan data anomali gaya berat. Peta anomali Bouguer lengkap diperoleh dari Pusat Survei Geologi (PSG), Bandung. Pengukuran data lapangan menggunakan dua buah gravimeter geodetic LaCoste and Romberg model G.646 dan G.240, dengan 71 titik pengamatan. Pemisahan anomali residual dan regional dilakukan menggunakan filter Butterworth. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anomali residual memiliki nilai antara -59 mGal hingga 58,3 mGal, yang tersebar secara acak. Nilai anomali rendah di Pulau Buru diduga berkorelasi dengan struktur sesar dan batuan berdensitas rendah, seperti batuan sedimen, sedangkan nilai anomali tinggi diduga berkorelasi dengan batuan berdensitas tinggi, seperti batuan metamorf, batuan terobosan, dan keberadaan batuan kerak samudera. Hasil pemodelan 2D menunjukkan bahwa lapisan bawah permukaan di Pulau Buru didominasi oleh batuan sedimen, batuan metamorf, dan batuan terobosan. Struktur geologi bawah permukaan di Pulau Buru terdiri dari sesar, sinklin, antiklin, dan struktur negative flower. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi studi lebih lanjut mengenai hubungan antara struktur geologi bawah permukaan dengan potensi sumber daya geologi di Pulau Buru
Analisis Hidrogeokimia dan Kualitas Air Tanah untuk Air Minum di Dataran Aluvial Kota Semarang
Kota Semarang telah lama mengandalkan air tanah sebagai salah satu sumber utama pasokan air minum bagi penduduknya. Eksploitasi berlebihan dan pencemaran terhadap air tanah memiliki dampak signifikan terhadap kualitas air yang nantinya akan dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi hidrogeokimia dan mengevaluasi kualitas air tanah di wilayah dataran aluvial Kota Semarang yang digunakan sebagai air minum. Data diperoleh dari 30 titik sampel sumur bor dan dianalisis menggunakan metode perhitungan Kurlov, diagram Piper, diagram Stiff, diagram Gibbs, analisis geospasial, serta perbandingan baku mutu indeks kualitas air tanah (Water Quality Index) milik WHO 2011 dan Permenkes 2010. Hasil analisis terhadap perhitungan Kurlov dan diagram Stiff menunjukkan kelas air tanah di dominasi oleh jenis Na-HCO3-Cl. Terdapat enam tipe fasies air tanah yang di dominasi oleh Alkaline Water : Predominantly Sulphate-Chloride/Chloride. Diagram Gibbs mengungkapkan bahwa pelapukan batuan di akuifer mengontrol kondisi kimia air tanah. Kualitas air tanah berdasarkan perhitungan WQI dan perbandingan WHO 2011 menghasilkan air tanah yang 43% berkualitas sangat baik, 46% berkualitas baik, 3% berkualitas buruk dan 6% berkualitas sangat buruk. Perhitungan WQI berdasarkan perbandingan milik Permenkes 2010 menghasilkan 66,7% sampel air tanah berkualitas sangat baik, 20% berkualitas baik, 6,67% berkualitas buruk dan 6,67% berkualitas sangat buruk. Sehingga berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa kualitas air tanah untuk kebutuhan air minum di dataran aluvial Kota Semarang masih cocok digunakan oleh penduduk sekitar
Perhitungan Net Primary Productivity (NPP) Harian Menggunakan Model CASA Berbasis Citra Penginderaan Jauh di Kabupaten Muaro Jambi
Perubahan alih fungsi lahan di Kabupaten Muaro Jambi terjadi secara masif, terutama akibat pembukaan lahan baru melalui metode pembakaran. Kebakaran hutan terbesar tercatat pada tahun 2019, menyebabkan gangguan ekosistem yang berlangsung beberapa tahun di Kabupaten Muaro Jambi. Net Primary Productivity (NPP) menjadi indikator kunci untuk mengukur dampak perubahan lingkungan, menjadikan studi ini sangat penting untuk pemantauan perubahan iklim dan pembangunan ekologi yang berkelanjutan. Umumnya NPP dihitung secara bulanan atau tahunan, namun perkembangan teknologi penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengestimasi NPP dengan efektif dan efisien pada tingkat lanskap hingga tingkatan temporal yang pendek. Model CASA, yang umum digunakan, memanfaatkan radiasi efektif fotosintesis vegetasi dan energi cahaya aktual untuk memperkirakan NPP. Penelitian ini bertujuan mengaplikasikan model CASA untuk menghitung NPP harian di Kabupaten Muaro Jambi akibat kebakaran tahun 2019. Penelitian ini menghasilkan perhitungan nilai NPP harian dalam satuan gC/MJ-1 yang disesuaikan dengan waktu perekaman citra Landsat terbersih setelah kebakaran hutan tahun 2019
Uji Perbandingan Metode Estimasi Curah Hujan Menggunakan Satelit Himawari: Metode Konvensional dan Machine Learning
Salah satu tantangan yang sering dihadapi untuk mendapatkan estimasi curah hujan adalah keterbatasan pada data dengan resolusi spasial dan temporal yang tinggi sehingga penginderaan jauh hadir untuk mengatasi masalah tersebut. Pada penelitian ini, data penginderaan jauh telah dimanfaatkan dalam beberapa metode estimasi curah hujan konvensional, seperti Auto Estimator (AE), Insat Multispectral Rainfall Algorithm (IMSRA), Nonlinear Inversion (NI), dan Nonlinear Relation (NR). Tujuan pertama penelitian ini adalah untuk membandingkan keakuratan dari empat metode konvensional untuk menentukan model yang paling sesuai di wilayah Pulau Bali. Kemudian, tujuan kedua dari penelitian ini yaitu pengembangan metode estimasi curah hujan dengan memanfaatkan data dari satelit geostasioner terbaru, Himawari-8/9, dan data curah hujan permukaan dengan menggunakan salah satu algoritma machine learning (ML) yaitu Random Forest (RF). Proses pelatihan model RF dilakukan secara bertahap yaitu (i) penggambaran daerah hujan (ii) pengklasifikasian kelas hujan dan (iii) estimasi curah hujan. Hasil analisis kuantitatif pertama pada penelitian ini diketahui bahwa IMSRA merupakan metode terbaik yang dapat diterapkan untuk estimasi curah hujan di wilayah Pulau Bali dengan nilai rata-rata eror absolut dibawah 1 mm. Pada pengembangan metode yang memanfaatkan pendekatan ML memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan model IMSRA dengan nilai Mean Absolute Error (MAE) sebesar 0,31 yang mengalami perbaikan dibandingkan dengan nilai MAE sebesar 0,94 pada model IMSRA
Spatial Analysis to Determine the Geothermal Potential Index: The Case Study of Dieng Geothermal Complex
The exploration is the activity of search areas that have the potential natural resources. Such as the exploration of geothermal potential. It can be using of spatial analysis. Spatial analysis can be base modeling of the geothermal potential in the research area. The analytic hierarchy process (AHP) is a fundamental analysis of the modeling data, where the comparison matrix from the analysis like surface temperature, lineament, and eruption center. The result of modeling in the Dieng volcanic complex has identified as the geothermal potential area. The potential area is around of G. Pakuwaja, G. Pangonan-Merdada, and G. Pagerkandang. So that the integration method of the modeling can be used as the method of the geothermal exploration activities
Comparison of Vs30 Value from Microtremor Data Based on SPT Drill Test of Young Merapi Deposits in Opak River, Yogyakarta
The 2006 Yogyakarta earthquake was caused by the tectonic movement of the Opak Fault, which is located near the Opak River. This research conducts microtremor data processing and analysis using the Horizontal Vertical Spectral Ratio (HVSR) method and the Inversion method to determine dominant frequency (fo), amplification (Ao), and shear wave velocity to a depth of 30 meters (Vs30) in Opak River area as an effort in earthquake disaster mitigation. The purpose of this research is to compare the Vs30 value of the inversion method using layer parameters according to Standard Penetration Test (SPT) data from previous research and layer parameters according to the number of lithologies. The result presents that the Vs30 values around Opak River are in the range of 183 - 301 m/s and belong to the stiff soil site classification. The comparison shows that the Vs30 values in the two different layer parameters are both still in the stiff soil site classification and have a slight difference in Vs30 values. Thus, the use of microseismic data to determine the Vs30 value is a fast and efficient way to determine the subsurface geology of the study area
Analisis Spasial Tingkat Kerawanan Banjir Rob di Wilayah Jakarta Utara
Jakarta Utara menjadi salah satu wilayah yang telah mengalami genangan banjir rob akibat pasang air laut. Wilayah yang terdampak akibat banjir rob diprediksi akan terus meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik yang dapat meningkatkan tingkat kerawanan banjir rob. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis secara spasial sebaran tingkat kerawanan banjir rob di wilayah Jakarta Utara. Penelitian ini mempertimbangkan faktor-faktor yang menjadi parameter penentu kerawanan banjir rob, seperti pasang air laut, penurunan muka tanah, jarak dari pantai, jarak dari sungai, curah hujan, ketinggian lahan, dan penggunaan lahan. Metode yang digunakan adalah analisis overlay dengan menghitung skor dan bobot yang didasarkan pada titik kejadian banjir rob di Jakarta Utara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh wilayah kecamatan yang ada di Jakarta Utara didominasi oleh kerawanan banjir dengan tingkat rendah. Luas kerawanan rendah mencapai 13.357 Ha dengan persentase sebesar 90,40%. Adapun kerawanan sedang mencapai 452 Ha dengan persentase sebesar 3,06%, serta kerawanan rendah seluas 966 Ha dengan persentase 6,54%. Wilayah kecamatan yang didominasi rawan tinggi banjir rob adalah Kecamatan Penjaringan, sedangkan Kelapa Gading merupakan wilayah yang seluruhnya tergolong rawan rendah terhadap banjir rob. Adapun kerawanan sedang dan rendah paling tinggi mendominasi wilayah Kecamatan Cilincing. Sementara itu, wilayah dengan tingkat rawan rendah paling sedikit berada pada Kecamatan Pademangan