Jurnal Geosains dan Remote Sensing (JGRS)
Not a member yet
84 research outputs found
Sort by
Facies and Sequence Stratigraphy Analysis of Carbonate Formation in “ANDRI” Field, Offshore Indonesian Basin: Impacts on Reservoir and Hydrocarbon Quality
The Baturaja Formation in the northern West Java Basin is the focus of many oil and gas exploration and production activities, mainly due to its significant reservoir potential. The formation consists of Early Miocene-aged carbonate sedimentary layers with good hydrocarbon reservoir characteristics, distribution, and quality. This study aims to identify the reservoir characteristics and hydrocarbon prospective zones of carbonate formation through integrated facies analysis, sequence stratigraphy, diagenetic processes, and petrophysical evaluation. This research uses qualitative and quantitative methods, where the qualitative stage starts with lithological interpretation from core data and thin sections of rock. Furthermore, quantitative analysis is carried out to calculate reservoir properties based on petrophysical analysis such as shale volume, porosity, permeability, and water saturation. The results show that the shoal reef facies exhibit higher hydrocarbon potential than the lagoonal facies, with greater maximum hydrocarbon thickness and more consistent hydrocarbon distribution. This follow the characteristics of the shoal reef facies, which have grain supported characteristics with low clay matrix content, a high degree of pore connectivity and high permeability Diagenetic process also plays an important role in the formation of porosity and permeability, where the shoal reef facies with fossiliferous packstone lithofacies exhibit good porosity and permeability, such as intercrystalline, intraparticle, and fracture porosity.This is due to the depositional process of the facies in a high-energy environment with abundant carbonate production growth rate
Analisis Persebaran Zona Potensi Kawasan Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kecamatan Sambelia Menggunakan Metode Penginderaan Jauh dan Analisis Spasial
Kecamatan Sambelia merupakan salah satu kecamatan yang kerap kali mengalami kejadian bencana kebakaran hutan dan lahan, baik itu disebabkan oleh faktor alami maupun disebabkan oleh ulah manusia. Kecamatan Sambelia merupakan kecamatan yang berada di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dari permasalahan yang timbul, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran zona yang berpotensi rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan secara spasial. Adapun metode analisis yang digunakan memanfaatkan sistem informasi geografis (SIG) serta teknik analisis overlay, dengan memberikan bobot dan skor kepada setiap parameter variabel yang digunakan. Dari hasil analisis di dapatkan bahwa kelas rawan kebakaran hutan dan lahan yang ada di Kecamatan Sambelia terbagi menjadi 4, yaitu di antaranya kelas tidak rawan mempunyai persentase sebesar 36%, selanjutnya pada kelas rawan mempunyai persentase sebesar 3%, pada kelas cukup rawan sebesar 29% dan sedangkan pada kelas sangat rawan mempunyai nilai persentase sebesar 32%. Selain itu, hasil validasi juga menunjukkan bahwa penggunaan variabel curah hujan, persebaran titik hotspot, LST dan NDMI dapat digunakan sebagai alat ukur untuk menganalisis dan memprediksi distribusi persebaran potensi zona kawasan rawan terhadap karhutla secara spasia
Karakteristik Kondisi Geologi di Kelurahan Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat Terhadap Potensi Bahaya Likuifaksi
Likuifaksi merupakan salah satu fenomena bencana yang dapat terjadi dari adanya kejadian gempa bumi. Likuifaksi dapat mengakibatkan lapisan tanah seolah-olah menyerupai cairan terlebih pada lapisan tanah berpasir. Penelitian ini bertujuan Menganalisis jenis dan kondisi litologi serta kedalaman muka air tanah berdasarkan pemetaan permukaan dan pengukuran menggunakan metode geolistrik 2D, menganalisis faktor pemicu dan pengontrol terjadinya likuifaksi serta membuat peta zona bahaya likuifaksi pada Kelurahan Ransiki, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat. Secara administrasi, lokasi penelitian terletak pada Kelurahan Ransiki, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat. Penelitian ini terdiri dari tahap pendahuluan, tahap survei lapangan, tahap penelitian lapangan, tahap pengolahan dan analisis data, serta tahap penyusunan laporan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah; metode geolistrik Resistivity 2D, metode pemetaan permukaan, metode AHP dan metode Weighted Overlay. Penelitian ini menghasilkan zona potensi bahaya likuifaksi tinggi ditandai dengan zona daerah yang berwarna merah (1.463,26 ha), nilai yang diperoleh dari hasil overlay peta 3,42-5. Zona bahaya likuifaksi rendah ditandai dengan daerah yang berwarna kuning (111,15 ha), nilai yang diperoleh dari hasil overlay peta 1,82-3,41. Zona yang tidak berpotensi terjadinya bahaya likuifaksi ditandai dengan daerah yang berwarna hijau (501,34 ha), nilai yang diperoleh dari hasil overlay peta adalah 0,21-1,81
Studi Geoteknik Pada Kasus Rekonstruksi Mudcell Menjadi Area Reklamasi PT. Mifa Bersaudara
Pengembangan konstruksi disposal menjadi topik menarik di kalangan praktisi dan akademisi dunia pertambangan, dimana tantangan baru muncul dalam pembentukan disposal agar sesuai dengan desain dan stabil (tidak failure). Studi kasus tersebut hadir pada PT. Mifa Bersaudara dimana area bukaan tambang yang sudah mine out, kemudian dijadikan lokasi untuk material lumpur (mudcell), dan sekarang lokasi tersebut akan di tutup untuk dijadikan in pit dump sekaligus area reklamasi. Beberapa event crack (failure) yang terjadi dan terekam oleh alat monitoring pada saat memulai penutupan Mudcell menjadi perhatian bagi Geotechnical Engineer untuk membuat studi komprehensif agar rekonstruksi disposal berjalan lancar dan aman. Pendekatan analisis balik, uji laboratorium serta tracking historical dumping-an dilakukan untuk mendapat model geoteknik dan properties material yang akurat. Rekonstrusi disposal dapat dilakukan dengan membuat counterweight (lift up 3 m jalan reklamasi existing), pemindahan paritan keluar boundary dari mudcell, serta pengaturan arah dumping material saat penutupan mudcell. Hasil yang didapatkan yaitu mudcell berhasil ditutup dan dijadikan in pit dump sekaligus area reklamasi yang sudah di tanami tanaman dengan luasan 10 Ha. Stagging plan beserta arah penelitian lanjutan dari studi kasus ini akan di jabarkan lebih lanjut pada paper ini
Evaluation of Digital Terrain Model (DTM) Accuracy Using Terrestrial Laser Scanning (TLS) in Flat and Steep Topographies
The advancement of geospatial technology has enabled various methods to produce high-accuracy Digital Terrain Models (DTMs), including Terrestrial Laser Scanning (TLS). This study evaluates the accuracy of TLS-derived DTMs in areas with varying topography at Universitas Diponegoro, Semarang. Data collection involved TLS, Total Station, and Leveling for georeferencing and accuracy assessment. The analysis included DTM visualization, RMSEz and LE90 calculations, and paired t-tests. Results show the TLS-derived DTM meets Class 1 accuracy standards for a 1:1000 map scale. Visualization demonstrated TLS's ability to represent both steep and flat terrain in detail, including contours and breaklines. The statistical test yielded a p-value of 0.710, indicating no significant difference between TLS and terrestrial data. The evaluated accuracy metrics are essential for assessing the reliability of TLS in real-world mapping. The results confirm TLS's capability to produce consistent and detailed terrain models, supporting its use in high-precision spatial applications such as infrastructure planning, environmental monitoring, and disaster mitigation. Therefore, TLS is a reliable method for generating high-quality DTMs across diverse topographic conditions
Estimasi Potensi Indeks Bahaya Bencana Banjir dan Longsor di Kabupaten Pesawaran
Bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor sering terjadi di Indonesia karena iklimnya yang tropis. Khususnya di kabupaten Pesawaran di Provinsi Lampung, di mana banjir sering terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Tahun 2008–2019 menyumbang lebih dari 60% dari semua banjir tersebut. Ketika area yang biasanya kering menjadi tergenang air, banjir terjadi. Ini sering terjadi karena limpasan air permukaan yang melebihi kapasitas saluran pembuangan atau karena air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah. Banjir dan longsor sering dikaitkan karena keduanya berkaitan dengan kondisi air di atas dan bawah permukaan. Hujan luar biasa dapat menyebabkan fenomena ini, serta kegiatan manusia seperti alih fungsi lahan dan penebangan pohon. Selama periode tersebut, Kabupaten Pesawaran mengalami 143 kejadian bencana, 102 di antaranya adalah banjir, termasuk banjir genangan, bandang, dan rob. Bencana ini menyebabkan 3 orang meninggal dan 1 orang luka-luka, dan menyebabkan kerusakan fisik pada 232 rumah rusak berat dan 1.040 rumah rusak ringan. Selain itu, terjadi 19 longsor, yang menyebabkan kerusakan ringan pada 12 rumah. Selain itu, bencana ini menimbulkan masalah penyebaran penyakit dan sumber air, sehingga indeks bahaya diperlukan untuk mendukung kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat
Pengaruh Erupsi Gunung Semeru Terhadap Variasi Precipitable Water Vapor Menggunakan Pengukuran GPS Periode 2020 – 2023
Gunung Semeru merupakan gunung api paling aktif di Indonesia dengan riwayat letusan sejak tahun 1800. Letusan gunung api dapat memengaruhi lapisan atmosfer akibat pelepasan abu dan gas dalam jumlah besar, yang berdampak pada lapisan troposfer. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati variasi kandungan uap air atau precipitable water vapor (PWV) di lapisan troposfer akibat erupsi Gunung Semeru pada periode 2020–2023. Analisis dilakukan menggunakan data PWV dari beberapa stasiun Global Positioning System (GPS) kontinu di sekitar Gunung Semeru, dengan estimasi PWV berbasis pengolahan data GPS menggunakan perangkat lunak GIPSY-X 2.1. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara peristiwa erupsi Gunung Semeru dan peningkatan kandungan uap air. Secara umum, pola variasi PWV selama erupsi menunjukkan peningkatan beberapa hari sebelum puncak erupsi, diikuti oleh penurunan bertahap pascaerupsi. Namun, dalam beberapa kejadian erupsi, pola yang berlawanan teramati, kemungkinan akibat pengaruh partikel SO₂ dan aerosol. Secara rata-rata, kandungan PWV meningkat sebesar 3,039% dalam tiga hari sebelum erupsi dan menurun sebesar 3,854% dalam tiga hari setelah erupsi pada periode 2020–2023
Analisis Kualitas Air Tanah Akuifer Bebas Menggunakan Metode Indeks Pencemaran (IP) dan Water Quality Index (WQI) di Kota Semarang, Jawa Tengah
Air tanah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat, Kota Semarang setidaknya membutuhkan air bersih sebanyak 61,7 m3 setiap tahunnya. Oleh karena itu, kualitas air tanah harus diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi, geomorfologi, hidrogeologi, kualitas air tanah, serta faktor yang berpengaruh terhadap kualitas air tanah di Kota Semarang tepatnya pada 11 kecamatan. Sebanyak 30 sampel sumur gali dilakukan analisis menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) dan Water Quality Index (WQI) dengan standar baku mengacu pada Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 dan WHO (2022). Hasil penelitian menunjukkan keterdapatan litologi aluvium dan konglomerat di daerah penelitian, bentuk lahan terbagi menjadi bergelombang landai denudasional, bergelombang miring denudasional, dan berbukit bergelombang denudasional, sedangkan aliran muka air tanah daerah penelitian menuju ke arah utara tepatnya ke arah Laut Jawa. Kualitas air tanah dengan metode IP menunjukkan nilai 0,61-7,96 dimana terbagi menjadi 3 kategori yakni kondisi baik, cemar ringan, dan cemar sedang. Kualitas air tanah berdasarkan metode WQI dengan standar baku Permenkes (2023) menunjukkan nilai 33,5-1458,36, sedangkan standar baku WHO (2022) menunjukkan nilai 19,59-978,96, kedua standar baku menunjukkan kualitas air tanah terbagi menjadi kategori sangat baik, baik, buruk, sangat buruk, dan tidak layak minum. Air tanah dengan kualitas relatif baik terdapat pada Kecamatan Ngaliyan dan Gajahmungkur