e-Journal Institut Pendidikan Indonesia
Not a member yet
    2083 research outputs found

    The Effectiveness of an ICON-Based Worksheet to Support Students’ Conceptual Understanding of Matrix Material

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis ICON pada materi matriks serta mengkaji validitas, kepraktisan, dan efektivitasnya. ICON merujuk pada model desain Interpretation–Construction, yang menekankan proses peserta didik dalam menginterpretasikan permasalahan kontekstual dan mengonstruksi konsep matematika. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Plomp yang meliputi tahap pendahuluan, perancangan, dan penilaian, dengan evaluasi formatif melalui validasi ahli, uji coba satu-satu, uji coba kelompok kecil, dan uji lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD mencapai tingkat cukup valid berdasarkan penilaian ahli terhadap aspek isi, konstruk, dan bahasa serta direvisi sesuai hasil validasi awal. LKPD juga menunjukkan kepraktisan karena mudah dipahami oleh peserta didik. Efektivitas ditunjukkan oleh 22 dari 34 peserta didik yang mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP). Temuan ini menunjukkan bahwa LKPD berbasis ICON layak digunakan dengan revisi untuk mendukung pemahaman konseptual peserta didik pada materi matriks. This study aims to develop an ICON-based student worksheet (LKPD) on matrix material for high school students and to examine its validity, practicality, and effectiveness. ICON refers to the Interpretation–Construction design model, which emphasizes students’ processes of interpreting contextual problems and constructing mathematical concepts. The research employed the Plomp development model consisting of the preliminary, prototyping, and assessment phases, supported by formative evaluation through expert review, one-to-one trials, small-group trials, and field test. The results indicate that the LKPD achieved a fairly valid level based on expert evaluations of content, construct, and language and was revised accordingly. The worksheet also demonstrated practicality, as students found the instructions and activities easy to understand. Effectiveness was indicated by 22 out of 34 students achieving the Learning Objective Achievement Criteria (KKTP). These findings suggest that the ICON-based worksheet is feasible for use with revisions to support students’ conceptual understanding of matrix concepts

    Developing a PBL–Flipped Classroom Model Based on Baduy Local Wisdom to Enhance Students’ Mathematical Critical Thinking

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis matematis siswa Indonesia, khususnya dalam menyelesaikan masalah non-rutin. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji efektivitas model Problem Based Learning–Flipped Classroom (PBL-FC) yang terintegrasi dengan kearifan lokal Baduy dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Desain penelitian menggunakan pendekatan Research & Development (R&D) dengan kerangka ASSURE untuk pengembangan model, serta desain quasi-eksperimen dengan kelompok kontrol pretest–posttest untuk menguji efektivitasnya. Penelitian melibatkan 60 siswa kelas lima SD Negeri Alaswangi 1, Lebak-Banten, yang dipilih berdasarkan kesiapan, motivasi, dan akses terhadap sumber belajar. Instrumen penelitian meliputi tes berpikir kritis matematis, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, serta kuesioner respons guru dan siswa. Data dianalisis menggunakan uji validitas dan reliabilitas, ANOVA, uji lanjut (post hoc), dan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan validasi ahli terhadap model sebesar 87,5% (sangat valid), keterlaksanaan pembelajaran 97,08% (sangat praktis), serta respons guru dan siswa masing-masing 91,67% dan 86,16% (baik hingga sangat baik). Peningkatan rata-rata kemampuan berpikir kritis matematis siswa lebih tinggi pada kelompok PBL-FC (73,91%) dibandingkan dengan kelompok PBL konvensional (56,83%). Hasil ANOVA menunjukkan efek signifikan dari kemampuan akademik (F=17,536; p<0,001), model pembelajaran (F=5,100; p<0,001), dan interaksi keduanya (F=2,100; p<0,001). Uji lanjut menegaskan adanya perbedaan signifikan antar kelompok kemampuan tinggi–sedang (9,76), tinggi–rendah (19,83), dan sedang–rendah (10,06) dengan p≤0,002. Kesimpulannya, model PBL-FC berbasis kearifan lokal Baduy efektif, valid, dan praktis untuk diterapkan dalam Kurikulum Merdeka, khususnya dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. This research is motivated by the low mathematical critical thinking skills of Indonesian students, especially in solving non-routine problems. This study aims to develop and test the effectiveness of the Problem Based Learning–Flipped Classroom (PBL-FC) model integrated with Baduy local wisdom in improving students\u27 mathematical critical thinking skills. The research design uses a Research & Development (R&D) approach with the ASSURE framework for model development, as well as a quasi-experimental design with a pretest–posttest control group to test its effectiveness. The study involved 60 fifth-grade students of Alaswangi 1 Elementary School, Lebak-Banten, who were selected based on their readiness, motivation, and access to learning resources. The research instruments included a mathematical critical thinking test, observation sheets for learning implementation, and teacher and student response questionnaires. Data were analyzed using validity and reliability tests, ANOVA, post hoc tests, and N-Gain. The results showed expert validation of the model at 87.5% (very valid), learning implementation at 97.08% (very practical), and teacher and student responses at 91.67% and 86.16% (good to very good), respectively. The average increase in students\u27 mathematical critical thinking skills was higher in the PBL-FC group (73.91%) compared to the conventional PBL group (56.83%). ANOVA results showed significant effects of academic ability (F=17.536; p<0.001), learning model (F=5.100; p<0.001), and the interaction between the two (F=2.100; p<0.001). Further tests confirmed significant differences between the high-medium ability groups (9.76), high-low (19.83), and medium-low (10.06) with p≤0.002. In conclusion, the PBL-FC model based on Baduy local wisdom is effective, valid, and practical to be implemented in the Independent Curriculum, especially in improving students\u27 mathematical critical thinking skills

    Persistent Hurdles: A Systematic Review of Limit Concept Misconceptions in Undergraduate Calculus

    No full text
    Konsep limit berfungsi sebagai fondasi kritis untuk kalkulus dan analisis matematika, sekaligus menjadi titik transisi penting menuju pemikiran matematika yang abstrak dan formal. Namun, mahasiswa secara global menghadapi kesulitan yang signifikan dan berulang dalam memahami esensi konsep ini. Tinjauan literatur sistematis ini bertujuan untuk menyintesis bukti-bukti empiris guna mengidentifikasi jenis, pola, dan faktor penyebab miskonsepsi serta kesulitan yang dialami mahasiswa dalam memahami konsep limit. Pencarian sistematis dilakukan pada database Scopus, Web of Science, ERIC, dan Google Scholar untuk studi empiris yang diterbitkan antara tahun 2001 hingga 2024. Proses seleksi dan ekstraksi data mengikuti protokol PRISMA. Data dari studi yang included dianalisis menggunakan analisis tematik, yang menghasilkan 30 studi yang memenuhi kriteria kelayakan. Sintesis dari 30 studi mengungkapkan pola miskonsepsi yang persisten, terutama pemahaman limit sebagai proses dinamis yang tidak terselesaikan, penyamaan limit dengan nilai fungsi, serta kesulitan mendalam dengan representasi berganda dan definisi formal epsilon-delta. Faktor penyebabnya bersifat multidimensi, meliputi aspek kognitif (intuisi sehari-hari, pengetahuan prasyarat lemah), epistemologis (keyakinan instrumentalis tentang matematika), dan pedagogis (pengajaran yang terlalu prosedural). Miskonsepsi tentang limit bersifat kompleks, universal, dan persisten. Diperlukan pendekatan pengajaran yang secara eksplisit dirancang untuk mengkonfrontasi miskonsepsi ini, seperti penggunaan multipresentasi dan assessment diagnostik. Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan, khususnya dalam konteks Indonesia, untuk mengembangkan dan menguji efektivitas strategi intervensi yang spesifik. The concept of the limit serves as a critical foundation for calculus and mathematical analysis, while also representing a significant transitional point towards abstract and formal mathematical thinking. However, students globally encounter substantial and recurrent difficulties in grasping the essence of this concept. This systematic literature review aims to synthesize empirical evidence to identify the types, patterns, and causal factors of misconceptions and difficulties experienced by students in understanding the concept of limits. A systematic search was conducted across the Scopus, Web of Science, ERIC, and Google Scholar databases for empirical studies published between 2001 and 2024. The selection and data extraction process followed the PRISMA protocol. Data from the included studies were analyzed using thematic analysis, resulting in the inclusion of 30 studies that met the eligibility criteria. A synthesis of the 30 studies reveals persistent patterns of misconception, particularly the understanding of a limit as an unfinished dynamic process, the conflation of a limit with a function\u27s value, and profound difficulties with multiple representations and the formal epsilon-delta definition. The causal factors are multidimensional, encompassing cognitive aspects (everyday intuition, weak prerequisite knowledge), epistemological aspects (instrumentalist beliefs about mathematics), and pedagogical aspects (overly procedural teaching). Misconceptions regarding limits are complex, universal, and persistent. Teaching approaches explicitly designed to confront these misconceptions are required, such as the use of multiple representations and diagnostic assessments. Further research is urgently needed, particularly within the Indonesian context, to develop and test the effectiveness of specific intervention strategies

    Design Thinking Dan Value Proposition Canvas Dalam Pengembangan Media Pembelajaran Augmented Reality

    No full text
    Abstrak Dalam era Society 5.0 dan Revolusi Industri 4.0, pendidikan harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan. Sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan perubahan paradigma dalam pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong inovasi dan mengintegrasikan teknologi pendidikan yang mutakhir. Salah satu teknologi yang berkembang dalam pendidikan adalah Augmented Reality (AR). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan siswa dan guru terhadap media pembelajaran berbasis AR dalam mata pelajaran ekonomi serta mengeksplorasi spesifikasi fitur AR yang relevan untuk mendukung proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan design thinking, yang terdiri dari tiga tahap utama: empathize, define, dan ideate. Tahap define dan ideate diformulasikan menggunakan Value Proposition Canvas (VPC). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara semi terstruktur dengan siswa dan guru ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa dan guru membutuhkan AR sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan interaktivitas dan pemahaman terhadap konsep ekonomi yang kompleks. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis AR memiliki potensi signifikan dalam mendukung pendidikan ekonomi. Pengembangan AR perlu mempertimbangkan kebutuhan pengguna, integrasi dengan metode pembelajaran konvensional, serta solusi terhadap kendala teknis yang ada. Kata Kunci: Design thinking; Value co-creation; Mata pelajaran ekonomi; Sekolah.   Abstract In the era of Society 5.0 and the Industrial Revolution 4.0, education must adapt to technological advancements to prepare students for future challenges. Aligned with the Merdeka Curriculum, which emphasizes a paradigm shift in learning, teachers serve as facilitators who drive innovation and integrate cutting-edge educational technology. One of the emerging technologies in education is Augmented Reality (AR). This study aims to identify the needs of students and teachers for AR-based learning media in economics and to explore the relevant AR feature specifications to support the learning process. This study employs a design thinking approach, which consists of three main stages: empathize, define, and ideate. The define and ideate stages are formulated using the Value Proposition Canvas (VPC). Data were collected through observations participant and semi-structure interviews with students and economics teachers. The findings reveal that the majority of students and teachers require AR as a learning medium to enhance interactivity and understanding of complex economic concepts. This study concludes that AR-based learning media have significant potential in supporting economics education. AR development should consider user needs, integration with conventional teaching methods, and solutions to existing technical constraints. Keyword: Design thinking; Value co-creation; Economics subject; School

    Penerapan Model Pembelajaran Visual Dengan Berbantuan Media Flipbook Pada Motivasi Belajar Siswa Mata pelajaran Informatika Kelas VII SMPN 2 Ciwaru

    No full text
    Abstrak Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah Quasi Experimental dengan desain Non-equivalent control group design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling terpilih kelas VII B sebagai kelas eksperimen dan VII C sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data menggunakan tes dan kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan Model pembelajaran visual dengan menggunakan media Flipbook terhadap motivasi belajar siswa. Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil kuesioner perbandingan rata-rata sebesar 9,83% dengan nilai pretest 17,72% menjadi 20,08%. Selain meningkatnya motivasi belajar siswa, hasil nilai belajar siswa juga meningkat dilihat dari rata-rata kelas eksperimen sebesar 87,40 dan kelas kontrol 78,84, sehingga diketahui rentang kenaikan skor akhir kelas eksperimen lebih besar 8,56 dibandingkan dengan kelas kontrol. Hasil analisis data uji paired sample t-test motivasi belajar siswa menggunakan software SPSS 26 didapatkan nilai thitung > ttabel yaitu u 3.892 > 1.71088 dan 22.126 > 2,068 dengan sig (2 tailed) = 0,000 < 0,05. Ho ditolak dan Haditerima yang berarti bahwa penerapan Model pembelajaran visual dengan menggunakan media Flipbook berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran Informatika di SMP Negeri 2 Ciwaru. Kata kunci : Model Pembelajaran Visual; Flipbook; Motivasi Belajar.   Abstract The method used in this research is Quasi-Experimental with a Non-equivalent control group design. The sampling technique used purposive sampling, selecting class VII B as the experimental class and VII C as the control class. Data collection used tests and questionnaires. Based on the research results, it can be concluded that the application of the visual learning model using Flipbook media affects student learning motivation. This is known from the questionnaire results, where the average ratio increased by 9.83% from a pretest value of 17.72% to 20.08%. Besides increasing student learning motivation, student learning outcomes also increased, as seen from the average score of the experimental class being 87.40 and the control class 78.84, indicating that the increase in the final score for the experimental class was 8.56 higher than the control class. The results of the paired sample t-test data analysis for student learning motivation using SPSS 26 software showed a t-count value > t-table, which is 3.892 > 1.71088 and 22.126 > 2.068 with a sig (2 tailed) = 0.000 < 0.05. Ho is rejected and Ha is accepted, meaning that the application of the visual learning model using Flipbook media has an effect on the learning motivation of seventh-grade students in Informatics at SMP Negeri 2 Ciwaru. Keyword: Visual Learning Model; Flipbook; Learning Motivatio

    Pengaruh Media Interland Untuk Meningkatkan Pemahaman Literasi Digital Siswa Dalam Menghadapi Ancaman Era Digital

    No full text
    Abstrak Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa dampak positif sekaligus tantangan, khususnya bagi kalangan pelajar yang aktif menggunakan internet. Rendahnya literasi digital menyebabkan siswa rentan terhadap berbagai ancaman digital seperti penipuan daring (phishing), perundungan siber (cyberbullying), dan pelanggaran privasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran Interland dalam meningkatkan pemahaman literasi digital siswa dalam menghadapi ancaman digital. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain Pretest-Posttest Control Group Design. Subjek penelitian terdiri atas siswa kelas VIII.H sebagai kelas eksperimen dan VIII.D sebagai kelas kontrol, masing-masing berjumlah 28 siswa. Instrumen penelitian berupa tes pretest dan posttest untuk mengukur tingkat literasi digital siswa. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor posttest kelas eksperimen sebesar 79,29, sedangkan kelas kontrol sebesar 67,14, dengan selisih peningkatan sebesar 12,15 poin. Uji hipotesis menggunakan uji-t menunjukkan bahwa nilai Thitung sebesar 3,568 lebih besar dari Ttabel sebesar 2,032, dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,001 < 0,05. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Hasil ini membuktikan bahwa penggunaan media Interland memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman literasi digital siswa. Kata Kunci: literasi; media; digital; interland   Abstract The rapid development of digital technology brings both positive impacts and challenges, especially for students who are actively engaged with the internet. Low levels of digital literacy make students vulnerable to various digital threats such as online scams (phishing), cyberbullying, and privacy violations. This study aims to determine the influence of using the Interland learning media on improving students\u27 understanding of digital literacy in dealing with digital threats. The research employed a quantitative method with a Pretest-Posttest Control Group Design. The subjects consisted of students from class VIII.H as the experimental group and VIII.D as the control group, with 28 students in each class. The research instruments were pretest and posttest to measure students’ digital literacy levels. The results showed that the average posttest score of the experimental class was 79.29, while that of the control class was 67.14, with an improvement difference of 12.15 points. The hypothesis testing using a t-test revealed that the t-value (3.568) was greater than the t-table value (2.032), with a significance value (p) of 0.001 < 0.05. Thus, there was a significant difference between the two groups. These findings demonstrate that the use of Interland has a significant influence on improving students\u27 understanding of digital literacy. Keyword: literacy, media, digital, interlan

    Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep IPAS Siswa Kelas III Sekolah Dasar melalui Quizizz

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemahaman konsep IPAS siswa kelas III Sekolah Dasar melalui penggunaan media evaluasi berbasis digital, yaitu Quizizz. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah rendahnya keterlibatan siswa dalam proses evaluasi pembelajaran konvensional serta kebutuhan akan metode evaluasi yang lebih interaktif dan menyenangkan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian adalah siswa kelas III di salah satu SD Negeri, dengan jumlah sampel sebanyak 30 siswa. Instrumen yang digunakan berupa soal pilihan ganda berbasis Quizizz yang dirancang untuk mengukur tingkat pemahaman konsep IPAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Quizizz mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa selama evaluasi, serta memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai tingkat pemahaman konsep mereka. Sebagian besar siswa menunjukkan pemahaman konsep yang baik dengan rata-rata nilai berada dalam kategori cukup hingga baik. Dengan demikian, Quizizz terbukti efektif sebagai alat bantu evaluasi dalam pembelajaran IPAS di tingkat sekolah dasar

    Pengaruh Model Project Based Learning (PjBL) terhadap Hasil Belajar IPAS Peserta Didik Sekolah Dasar

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya semangat dan hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di SDI Sahabat Ilmu. Rendahnya minat belajar berdampak pada pencapaian akademik yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) hasil belajar IPAS peserta didik sebelum penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL), (2) hasil belajar IPAS setelah penerapan model PjBL, dan (3) perbedaan hasil belajar antara peserta didik yang menggunakan model PjBL dengan peserta didik yang menggunakan pembelajaran konvensional. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group. Instrumen yang digunakan berupa tes hasil belajar, dan data dianalisis menggunakan uji Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PjBL memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil belajar IPAS, khususnya pada materi transformasi energi, dengan nilai signifikansi 0,00 ≤ 0,05. Model PjBL terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar IPAS peserta didik

    Analisis Kemampuan Siswa Kelas IV SDN Talun dalam Melisankan Puisi

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan siswa kelas IV SDN Talun dalam melisankan puisi, dengan fokus pada tiga aspek utama: pelafalan, intonasi, dan ekspresi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melibatkan 16 siswa dan seorang guru. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes praktik, dengan instrumen penilaian yang mencakup indikator pelafalan, intonasi (tekanan kata, tinggi rendah nada, dan tempo), serta ekspresi (mimik wajah dan gestur tubuh). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam pelafalan tergolong baik, sementara intonasi dan ekspresi masih membutuhkan perbaikan. Temuan ini merekomendasikan agar guru menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi dan memberikan contoh langsung dalam membaca puisi untuk meningkatkan keterampilan siswa secara lebih efektif

    The Roles of Teachers in Promoting 10th-Grade Students’ Learner Autonomy in Learning English Writing Skills at Trung Vuong High School

    No full text
    Grounded in Sociocultural Theory, this study investigated how teachers and tenth-grade students perceive five teacher roles: Instructor, Facilitator, Resource, Assessor, and Co-learner in promoting learner autonomy in English writing skills among tenth-grade students in one upper-secondary school in Vietnam. The study used a convergent design of mixed methods to gather data from 4 English teachers and 450 tenth-grade students. The comparison between 2 sets of perceptions showed that both teachers and students acknowledged the Instructor and Assessor roles for their contributions to the development of learner autonomy by giving formative feedback and structured direction. The Facilitator role was preferred by teachers but disapproved by students. Although students indicated positive responses to the Resource role, teachers found it ineffective because of students\u27 passive use of materials. Both groups voiced discomfort regarding the Co-learner role\u27s practicality in a teacher-centered society, making it the least desired option. These findings propose the need for contextually adapted, autonomy-supportive practices in Vietnamese EFL writing instruction

    643

    full texts

    2,083

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Institut Pendidikan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇