e-Journal Institut Pendidikan Indonesia
Not a member yet
2083 research outputs found
Sort by
EFFECTIVENESS OF THE PROJECT BASED LEARNING MODEL USED BY CANVA ON IMPROVING STUDENT CREATIVITY: ( Experimental Study of Grade XI Students of SMAN 11 Garut in the 2024-2025 Academic Year in Pancasila Education Learning)
This study aims to analyze the effectiveness of the Project Based Learning (PjBL) learning model assisted by Canva on increasing students\u27 creativity in making posters in the Pancasila Education subject at SMAN 11 Garut. The study used a quantitative approach with a quasi-experimental design of the non-equivalent control group design. The study population was all students of grade XI, while the sample was determined through purposive sampling, namely class XI.10 as the experimental class and XI.4 as the control class with a total of 40 students each. The experimental class received PjBL learning assisted by Canva, while the control class used PjBL manually. Creativity data were collected through a creativity questionnaire and poster project assessment using a rubric. Data analysis included descriptive statistics, normality tests, paired sample t-tests, independent sample t-tests, and N-Gain calculations. The results showed that the average creativity of the experimental class increased from 66.23% to 80.62%, a 14.39% increase, while the control class only increased from 67.21% to 73.83%, a 6.62% increase. The average poster project score of the experimental class (91.09; highly creative category) was higher than that of the control class (77.66; creative category). Statistical tests and N-Gain showed that Canva-assisted PjBL was more effective than manual PjBL in enhancing student creativity. Therefore, the Canva-assisted PjBL model is worthy of recommendation as an alternative learning strategy for creative project-based Pancasila Education in high schools
Penerapan Metode Think, Pair, Share Berbantuan Animaker Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa MTSN 3 Kuningan
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode pembelajaran Think, Pair, Share (TPS) yang dipadukan dengan media Animaker dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Informatika di MTsN 3 Kuningan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain pra-eksperimen one group pretest-posttest. Sampel dalam penelitian ini ialah kelas VII 6 MTsN 3 Kuningan sebanyak 30 orang. Instrumen pengumpulan data berupa tes hasil belajar yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Terdapat perbedaan hasil belajar siswa sebelum pembelajaran menggunakan metode TPS mendapatkan nilai rata-rata pre test yaitu 41,67. Setelah diberikan perlakuan, hasil belajar siswa mendapat nilai rata-rata post test yaitu 74,67. Selain itu, respon siswa terhadap pembelajaran menunjukkan kategori “baik” dengan persentase sebesar 73,13%. Temuan ini mengindikasikan bahwa metode TPS yang dikombinasikan dengan media Animaker efektif dalam meningkatkan hasil belajar serta membangkitkan minat dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran Informatika. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran interaktif yang memadukan metode kooperatif dengan media digital.
Kata Kunci: Think, Pair, Share (TPS), Media Animaker, Hasil Belajar, Informatika
Abstract
This study aims to analyze the application of the Think, Pair, Share (TPS) learning method combined with Animaker media in an effort to improve student learning outcomes in Informatics subjects at MTsN 3 Kuningan. The research approach used was quantitative with a pre-experimental one group pretest-posttest design. The sample in this study was 30 students of class VII 6 MTsN 3 Kuningan. The data collection instrument was a learning outcome test given before and after the treatment. There was a difference in student learning outcomes before learning using the TPS method, obtaining an average pre-test score of 41.67. After being given the treatment, student learning outcomes obtained an average post-test score of 74.67. In addition, student responses to learning showed a "good" category with a percentage of 73.13%. These findings indicate that the TPS method combined with Animaker media is effective in improving learning outcomes and arousing student interest and involvement in the Informatics learning process. This study is expected to be a reference for teachers to develop interactive learning that combines cooperative methods with digital media.
Keyword: Think, Pair, Share (TPS), Animaker Media, Learning Outcomes, Informatics
IMPLICATIONS OF DIFFERENTIATED INSTRUCTION STRATEGIES ON STUDENTS’ LEARNING OUTCOMES IN CIVIC EDUCATION
This study analyzes the implications of differentiated learning strategies on students’ learning outcomes in Civics Education (PPKn) for grade X at SMAN 2 Garut. Differentiated learning is understood as an approach that adjusts content, process, and product of learning to students’ readiness, interests, and learning profiles, so that each learner receives appropriate support and challenge. The research employed a quantitative approach with a quasi-experimental nonequivalent control group design. The experimental class received differentiated learning, while the control class experienced conventional instruction. Data on learning outcomes were collected through pre-test and post-test instruments that had been validated, and analyzed using normality, homogeneity, and independent samples t-tests, complemented with N-gain scores to measure improvement. The results showed that the post-test mean score of the experimental class was higher than that of the control class, and the significance value of 0.017 indicated a statistically significant difference between both groups. The N-gain of the experimental class was categorized as moderately effective, while that of the control class was categorized as less effective. These findings indicate that differentiated learning strategies contribute positively to improving students’ learning outcomes in PPKn. The study suggests that teachers need to strengthen the implementation of differentiated learning by systematically mapping students’ characteristics and designing varied tasks, groupings, and assessments that align with Kurikulum Merdeka. The results are expected to become a reference for schools and teachers in developing learning practices that are more adaptive, inclusive, and oriented toward student needs. Future research can explore differentiated learning in other school subjects.
Keywords: Differentiated Learning, Learning Outcomes, Civics Education
 
Exploring Gender Differences in Spatial Reasoning: Analyzing Hyperbolic Problem-Solving Skills Among University Students
Penelitian mengenai perbedaan penalaran spasial berdasarkan gender di tingkat universitas masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan langkah-langkah penyelesaian soal hiperbola antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini melibatkan 30 mahasiswa yang dipilih melalui rumus Slovin dari total populasi 480 mahasiswa. Instrumen penelitian meliputi tes soal hiperbola dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada aspek orientasi spasial, di mana mahasiswa perempuan menunjukkan keunggulan dalam langkah-langkah penyelesaian karena pemahaman konsep jarak yang lebih baik. Temuan ini menyimpulkan bahwa terdapat karakteristik unik pada penalaran spasial perempuan di tingkat pendidikan tinggi yang berbeda dari temuan umum di tingkat sekolah. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan literatur penalaran spasial dalam pendidikan matematika.
Research on gender-based differences in spatial reasoning at the university level requires further empirical confirmation. This study aims to describe the differences in procedural steps for solving hyperbola problems between male and female students. Employing a qualitative method, the study involved 30 students selected via Slovin’s formula from a population of 480. Research instruments consisted of hyperbola problem-solving tasks supported by interview transcripts. The findings reveal distinct differences in spatial orientation, where female students demonstrated superior performance in solving steps due to a robust understanding of distance concepts. In conclusion, these results highlight unique spatial reasoning characteristics among female students in higher education, diverging from common findings at the school level. This research contributes to the theoretical development of spatial reasoning literature within mathematics education
Exploring Mathematics Teacher Awareness and Responses to Gender-Based Classroom: A Qualitative Study in Australian Secondary School
Studi kualitatif ini menjelaskan perbedaan dalam interaksi di kelas dan hasil belajar antara kelas matematika yang hanya terdiri dari siswa laki-laki dan kelas matematika yang hanya terdiri dari siswa perempuan, dengan fokus khusus pada kesadaran guru dan strategi pengajaran adaptif di sekolah menengah Australia yang multikultural. Data dikumpulkan melalui observasi etnografis dan wawancara dengan guru matematika selama satu semester. Hasil penelitian menunjukkan pola yang jelas berdasarkan gender dalam partisipasi dan pendekatan pemecahan masalah. Siswa laki-laki diamati lebih mudah terlibat dalam proses kognitif tingkat tinggi. Sebaliknya, siswa perempuan cenderung mencari klarifikasi tentang konsep dasar sebelum mencoba tugas. Sebagai tanggapan, guru menerapkan berbagai strategi responsif gender, termasuk pertanyaan terbuka, aktivitas berbasis interaksi, dukungan satu lawan satu, dan penjelasan. Penelitian ini juga mengkaji pengaruh keragaman budaya, menemukan bahwa siswa dari latar belakang yang beragam berinteraksi dengan lancar dan tidak ada kelompok yang secara konsisten menunjukkan prestasi lebih tinggi daripada kelompok lain dalam konteks kelas yang diamati. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan kelas dan praktik pengajaran di sekolah ini berhasil mendukung partisipasi siswa dari latar belakang yang beragam.
This qualitative study explains differences in classroom interaction and learning outcomes between male students’ only and female students’ only mathematics classes, with a particular focus on teacher awareness and adaptive instructional strategies in a multicultural Australian secondary school. Data were collected through ethnographic observation and interview with the mathematics teacher over one term. The result revealed clear gender-based patterns in participation and problem-solving approaches. Male students were observed to engage more readily in higher-order cognitive processes. In contrast, female students tended to seek clarification on basic concepts before attempting tasks. In response, the teacher implemented a range of gender-responsive strategies, including open-ended questioning, interaction-based activities, one-on-one support, and explanations. The paper also explored the influence of cultural diversity, finding that students from diverse backgrounds interact smoothly and no group consistently demonstrates higher achievement than others in the observed classroom context. These findings suggest that the classroom environment and teaching practices at this school successfully support the participation of students from diverse backgrounds
Design Thinking Approach in the Development of E-Worksheets and AI Videos to Enhance Problem-Solving Skills of Senior High School Students
Penelitian ini bertujuan mengembangkan rancangan e‑worksheet dan video AI melalui pendekatan design thinking untuk meningkatkan pemecahan masalah siswa SMA di Kota Pekalongan. Subjek penelitian terdiri atas 143 siswa dan 14 guru dari beberapa SMA berbeda yang terlibat pada tahap empathize dan define untuk mengidentifikasi profil permasalahan pembelajaran, yang menunjukkan bahwa pemecahan masalah kurang berkembang karena pembelajaran masih abstrak, berfokus pada hafalan, serta minim media interaktif sementara guru terkendala waktu bimbingan. Pada tahap ideate, melalui telaah literatur dan meta‑analisis, dikembangkan gagasan E‑TopWorksheets dengan Pendekatan Matematika Realistik berbantuan Mootion AI; hasil meta‑analisis menunjukkan nilai p<0,001 dengan effect size 0,841 yang menandakan pengaruh signifikan dan kuat penggunaan media serupa terhadap peningkatan pemecahan masalah matematika yang berpotensi menjadi dasar pengembangan media dan memerlukan pengujian lanjutan. Disimpulkan bahwa pendekatan design thinking efektif sebagai kerangka kerja pengembangan prototype media yang kontekstual, adaptif, dan berkontribusi pada inovasi media pembelajaran yang relevan dengan tuntutan pembelajaran abad ke‑21.
This study aims to develop a design for e-worksheets and AI-based videos using a Design Thinking approach to enhance the problem-solving skills of Senior High School (SMA) students in Pekalongan City. The research subjects consisted of 143 students and 14 teachers from various high schools who were involved in the empathize and define stages to identify learning problem profiles; findings indicated that problem-solving skills were underdeveloped due to abstract instruction focused on rote learning, a lack of interactive media, and teachers\u27 constraints regarding guidance time. In the ideate stage, through literature review and meta-analysis, the concept of E-TopWorksheets using a Realistic Mathematics Education approach assisted by Mootion AI was developed. The meta-analysis results showed a p-value < 0.001 with an effect size of 0.841, indicating a significant and strong influence of similar media on improving mathematical problem-solving, which potentially serves as a basis for media development and requires further testing. It is concluded that the Design Thinking approach is effective as a framework for developing contextual and adaptive media prototypes, contributing to learning media innovation relevant to 21st-century learning demands
The Effectiveness of the Math Expert Application in Improving Students’ Mathematical Reasoning in Trigonometry
Kemampuan pemecahan masalah dan penalaran matematis adalah aspek krusial dalam pembelajaran matematika. Namun, ketergantungan siswa pada teknologi dalam menyelesaikan soal justru memicu penurunan kemampuan penalaran tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan penalaran matematis siswa SMK menggunakan aplikasi Math Expert. Melalui metode campuran (mixed method) tipe embedded design, penelitian ini melibatkan 86 siswa kelas X SMK di Cianjur yang terbagi ke dalam kelas eksperimen dan kontrol. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, wawancara, dan instrumen tes penalaran matematis berdasarkan standar NCTM. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan pada enam indikator penalaran NCTM, yang meliputi kemampuan: justifikasi kesimpulan; pengujian dugaan matematis; evaluasi argumen; variasi metode solusi; pengorganisasian data masalah; serta penilaian terhadap hasil kerja orang lain. Secara keseluruhan, penggunaan aplikasi Math Expert terbukti efektif meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa SMK, meskipun tingkat peningkatan pada setiap indikator bervariasi.
Problem-solving and mathematical reasoning are crucial aspects of mathematics education. However, students\u27 over-reliance on technology for problem-solving has triggered a decline in these specific reasoning abilities. This study aims to analyze the mathematical reasoning skills of vocational high school (SMK) students through the implementation of the Math Expert application. Utilizing a mixed-methods approach with an embedded design, the research involved 86 tenth-grade students in Cianjur, divided into experimental and control groups. Data were collected via questionnaires, observations, interviews, and mathematical reasoning tests based on NCTM standards. The findings indicate significant differences across six NCTM reasoning indicators, including the ability to: justify conclusions; test mathematical conjectures; evaluate arguments; employ diverse solution methods; organize situational problem data; and assess the work of others. Overall, the results demonstrate that the Math Expert application effectively enhances students\u27 mathematical reasoning skills, although the degree of improvement varies across the specific indicators
THE EFFECTIVENESS OF VILLAGE OFFICE PERFORMANCE IN MANAGING VILLAGE REVENUE AND EXPENDITURE BUDGET IN CINTA VILLAGE
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kinerja perangkat desa dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) di Desa Cinta, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut. Pengelolaan APBDes yang baik sangat penting dalam mendukung pembangunan desa yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data melalui angket, wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan APBDes tergolong cukup efektif, dibuktikan dengan adanya perencanaan anggaran yang melibatkan partisipasi masyarakat, transparansi dalam pengelolaan, serta akuntabilitas dalam pelaporan keuangan. Namun, terdapat beberapa kendala yang mempengaruhi efektivitas kinerja perangkat desa, seperti kurangnya kompetensi sumber daya manusia, terbatasnya pelatihan terkait pengelolaan keuangan, dan keterbatasan penerapan teknologi informasi. Selain itu, lemahnya pengawasan internal juga menjadi hambatan dalam memastikan anggaran dikelola secara optimal. Partisipasi masyarakat berperan penting dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan APBDes, yang terlihat dari tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan anggaran desa. Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, penelitian ini merekomendasikan peningkatan kapasitas perangkat desa melalui program pelatihan berkala, optimalisasi teknologi informasi seperti aplikasi sistem informasi keuangan desa (Siskeudes), serta penguatan mekanisme pengawasan internal dan eksternal. Dengan penerapan strategi tersebut, diharapkan efektivitas pengelolaan APBDes dapat meningkat, sehingga mendukung pembangunan desa yang lebih baik dan berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Cinta.
Kata Kunci: Efektivitas, Kinerja Perangkat Desa, Pengelolaan APBDes, Transparansi, Partisipasi Masyarakat, Desa Cinta
EFFECTIVENESS OF USING THE SCATTERGORIES GAME LEARNING MODEL TOWARDS INCREASING STUDENTS\u27 LEARNING INTEREST IN THE PANCASILA EDUCATION SUBJECT IN GRADE VII AT SMPN 5 GARUT
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat belajar peserta didik terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Disebabkan oleh pendekatan pengajaran yang kurang menarik dan dinamis pembelajaran menjadi komunikasi satu arah tanpa melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penggunaan model pembelajaran game scattergories terhadap peningkatan minat belajar peserta didik, untuk mengetahui pengaruh dalam menggunakan model pembelajaran game scattergories terhadap peningkatan minat belajar peserta didik, untuk mengetahui minat belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran game scattergories. Pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen jenis penelitian quasi experimental desain penelitian non-equivalent control grup desaign membagi kelas sampel sebanyak 70 responden terdiri dari 35 peserta didik kelas eksperimen melakukan treatment menggunakan model pembelajaran game scattergories dan 35 peserta didik kelas kontrol menggunakan model pembelajaran mind mapping dengan menyebarkan angket dan tes pada peserta didik. Hasil penelitian ini menunjukan nilai rata-rata kelas eksperimen lebih besar dibandingkan kelas kontrol dengan skor 83,42 sedangkan kelas kontrol memperoleh skor 66,85. Penggunaan model pembelajaran game scattergories terbukti efektif meningkatkan minat belajar peserta didik setelah dilakukannya analisis uji t menunjukan nilai thitung > ttabel, dan terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan model pembelajaran game scattergories terhadap peningkatan minat belajar peserta didik melalui hasil uji korelasi product moment dengan hasil person correlation nya adalah 0,608. Minat belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran game scattergories tergolong baik dengan hasil data angket memperoleh skor 2171. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran game scattergories efektif meningkatkan minat belajar peserta didik dibandingkan model pembelajaran mind mapping.
Kata kunci: Model Pembelajaran Game Scattergories, Minat Belajar Peserta didik, Pendidikan Pancasila
IMPLEMENTATION OF THE RECIPROCAL TEACHING LEARNING MODEL TO IMPROVE STUDENTS\u27 CRITICAL THINKING ABILITIES IN THE PPKN SUBJECT AT SMAN 18 GARUT
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi model pembelajaran Reciprocal Teaching dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMAN 18 Garut. Model pembelajaran Reciprocal Teaching dipilih karena diyakini mampu mendorong peserta didik untuk lebih aktif dan reflektif melalui kegiatan seperti diskusi, penyusunan pertanyaan, klarifikasi konsep, dan prediksi terhadap materi. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana model tersebut mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, yang merupakan salah satu kompetensi penting dalam pembelajaran PPKn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi experimental). Data dikumpulkan melalui tes pretest dan posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pretest dan posttest. Rata-rata nilai pretest peserta didik adalah 50,77 dan meningkat menjadi 75,87 pada posttest, dengan penurunan standar deviasi dan varians yang menunjukkan peningkatan hasil belajar lebih merata. Hasil analisis N-Gain menunjukkan rata-rata sebesar 0,4945 yang termasuk dalam kategori peningkatan sedang. Sementara itu, kelas kontrol menunjukkan N-Gain negatif atau sangat rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa model Reciprocal Teaching efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, dan dapat direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran alternatif dalam mata pelajaran PPKn.
Kata kunci: Reciprocal Teaching, berpikir kritis, PPKn, model pembelajaran, peserta didik