e-Journal Institut Pendidikan Indonesia
Not a member yet
    2083 research outputs found

    Development of RME-Based Cross Math Worksheets to Strengthen Conceptual Understanding of Number Operations

    No full text
    Pembelajaran matematika di perguruan tinggi masih didominasi oleh penggunaan lembar kerja siswa konvensional yang kurang interaktif dan belum secara optimal memperkuat pemahaman siswa tentang operasi bilangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan lembar kerja siswa berbasis permainan edukatif Cross Math yang terintegrasi dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dan untuk menguji validitas, kepraktisan, dan efektivitasnya dalam meningkatkan pemahaman konseptual siswa tentang operasi bilangan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan dengan model 4D, yang terdiri dari tahap mendefinisikan, merancang, mengembangkan, dan menyebarluaskan. Subjek penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Instrumen penelitian meliputi lembar validasi ahli, kuesioner respons siswa, dan tes pemahaman konseptual dalam bentuk pretest dan posttest. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembar kerja yang dikembangkan memenuhi kriteria validitas tinggi dan kepraktisan tinggi. Lebih lanjut, tes efektivitas menunjukkan peningkatan pemahaman konseptual siswa tentang operasi bilangan, dengan penguasaan klasik mencapai 83,33% dan peningkatan yang diamati di semua indikator pemahaman konseptual. Temuan ini menunjukkan bahwa lembar kerja berbasis permainan edukatif Cross Math yang terintegrasi dengan pendekatan RME efektif sebagai bahan pembelajaran alternatif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman konseptual dalam pembelajaran matematika

    Optimalisasi Konsentrasi Ammonium Sulfat terhadap Kandungan β-Karoten dan Acceptability Organoleptik Nata de Papaya

    No full text
    Pepaya, sebagai buah tropis yang melimpah dalam β-karoten, menghadapi kendala daya simpan yang minim pascapanen, sehingga mudah mengalami kerusakan. Mengubahnya menjadi nata de papaya menawarkan peluang untuk memperpanjang ketersediaan produk sekaligus meningkatkan nilai ekonomisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan konsentrasi ammonium sulfat yang paling efektif sebagai sumber nitrogen bagi Acetobacter xylinum dalam produksi selulosa nata, dilihat dari dampaknya pada kandungan β-karoten dan kualitas organoleptik. Metodologi penelitian didasarkan pada Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang meliputi empat level perlakuan konsentrasi (0%; 0,25%; 0,5%; 0,7%) dengan enam ulangan. Pengujian organoleptik, meliputi aspek warna, aroma, tekstur, dan rasa, dilakukan oleh 30 panelis yang tidak memiliki pengalaman sebelumnya, sementara penetapan kandungan β-karoten dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Analisis statistik menunjukkan bahwa konsentrasi ammonium sulfat berpengaruh secara signifikan (p < 0,05) terhadap seluruh aspek organoleptik. Perlakuan dengan konsentrasi 0,5% menghasilkan nilai tertinggi untuk warna dan rasa, sedangkan konsentrasi 0,7% optimal untuk tekstur dan mampu mencapai kadar β-karoten tertinggi sebesar 1,817 mg/100 g. Dengan demikian, konsentrasi 0,5% direkomendasikan sebagai kondisi yang paling optimal untuk mutu sensori yang unggul

    STEM-PBL Based E-Module with Jambi Context: Development Research to Improve Students’ 4C Skills

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi modul e-learning berbasis STEM-PBL yang terintegrasi dengan konteks budaya Jambi guna meningkatkan keterampilan 4C siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian research and development (R&D) dengan model ADDIE. Peserta penelitian terdiri dari 26 siswa dan 1 guru matematika dari kelas VII.1 MTs N 3 Batang Hari. Alat penelitian meliputi tes keterampilan 4C, lembar validasi ahli, kuesioner tanggapan guru dan siswa, serta lembar observasi. Validasi materi dan desain oleh ahli menghasilkan skor 92% dan 94%, masing-masing, dengan skor validitas keseluruhan 93%, menunjukkan bahwa e-module memenuhi standar kualitas akademik dan pedagogis. Dalam hal kepraktisan, uji coba individu memperoleh skor 92%, sementara uji coba kelompok kecil mendapatkan 89%, dengan skor kepraktisan rata-rata 90,5%, menunjukkan bahwa e-modul mudah digunakan dan mendukung pembelajaran yang efektif. Pengamatan di kelas menunjukkan skor 88,6%, menunjukkan bahwa implementasi e-modul sesuai dengan sintaks pembelajaran STEM-PBL. Selain itu, siswa mencapai skor n-gain rata-rata 0,78 pada tes keterampilan 4C. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa e-module yang dikembangkan valid dan praktis sebagai sumber belajar. Integrasi STEM-PBL dengan pedagogi yang relevan secara budaya dalam konteks pendidikan Indonesia menawarkan pendekatan yang menjanjikan untuk meningkatkan keterampilan 4C siswa. This study aimed to design and evaluate a STEM-PBL-based e-module integrated with the cultural context of Jambi to improve students’ 4C skills. The study employed a research and development (R&D) approach using the ADDIE model. The participants consisted of 26 students and 1 mathematics teachers from class VII.1 MTs N 3 Batang Hari. The research instruments included a 4C skills test, expert validation sheets, teacher and student response questionnaire, and observation sheets. The material and design expert validations yielded scores of 92% and 94%, respectively, resulting in an overall validity score of 93%, indicating that the e-module meets academic and pedagogical quality standards. In terms of practicality, the individual trial achieved a score of 92%, while the small-group trial obtained 89%, with an average practicality score of 90.5%, suggesting that the e-module is easy to use and supports effective learning. Classroom observations showed a score of 88.6%, indicating that the implementation of the e-module aligns well with the STEM-PBL learning syntax. Furthermore, students achieved an average n-gain score of 0.78 on the 4C skills test. Overall, the findings indicate that the developed e-module is valid and practical as a learning resource. Integrating STEM-PBL with culturally relevant pedagogy in the Indonesian educational context offers a promising approach to enhancing students’ 4C skills

    Mathematical Thinking Processes of Junior High School Students in Solving Contextual Problems Based on Learning Styles

    No full text
    Masalah kontekstual menuntut proses berpikir matematis yang runtut, logis, dan reflektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual berdasarkan kerangka Mason (tahap entry, attack, dan review) ditinjau dari gaya belajar. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan siswa kelas VII SMP Negeri di Kota Cirebon. Tiga subjek dipilih secara purposif untuk mewakili gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Data dikumpulkan melalui tes, angket gaya belajar, dan wawancara mendalam. Hasil menunjukkan perbedaan karakteristik berpikir: siswa visual memenuhi seluruh indikator pada semua tahapan; siswa auditori mampu pada tahap entry dan attack namun terbatas dalam mengembangkan solusi pada tahap review; sedangkan siswa kinestetik hanya memenuhi sebagian indikator dan kesulitan dalam justifikasi serta refleksi. Temuan ini menegaskan pengaruh gaya belajar terhadap kualitas proses berpikir matematis. Implikasinya, pembelajaran matematika perlu dirancang secara adaptif untuk memperkuat penalaran dan refleksi siswa sesuai karakteristik belajarnya. Contextual problems in mathematics require a mathematical thinking process that is coherent, logical, and reflective. This study aims to analyze students\u27 mathematical thinking processes in solving contextual problems based on Mason’s framework—comprising the entry, attack, and review phases—viewed through learning styles. Utilizing a descriptive qualitative approach, the study involved seventh-grade students at a state junior high school in Cirebon. Three subjects were purposively selected to represent visual, auditory, and kinesthetic learning styles. Data were gathered through mathematical thinking tests, learning style questionnaires, and in-depth interviews. The results reveal distinct characteristics: visual learners met all indicators across all phases; auditory learners succeeded in the entry and attack phases but struggled with developing alternative solutions during the review phase; while kinesthetic learners only met partial indicators and faced difficulties in providing justification and reflection. These findings underscore the influence of learning styles on the quality of mathematical thinking. Consequently, mathematics instruction should be adaptively designed to strengthen student reasoning and reflection according to their learning characteristics

    Metacognitive Scaffolding in Problem-Based Learning: A Pathway to Developing Higher-Order Thinking Skills

    No full text
    Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah, khususnya pada kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Problem-Based Learning yang diperkaya dengan scaffolding metakognitif (PBL-MS) terhadap peningkatan HOTS siswa. Penelitian kuasi-eksperimental dengan desain pretest–posttest control group melibatkan 60 siswa kelas X SMA Negeri 15 Bandung yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen (PBL-MS) dan kontrol (PBL). Data kemampuan HOTS dikumpulkan melalui tes tertulis berbentuk esai berdasarkan taksonomi Bloom revisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan HOTS siswa pada kelompok PBL-MS berada pada kategori sedang (N-Gain = 0,51), sedangkan kelompok PBL berada pada kategori rendah (N-Gain = 0,30), dengan perbedaan yang signifikan (Sig. 2-tailed < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi scaffolding metakognitif dalam PBL lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan HOTS siswa. Students’ Higher-Order Thinking Skills (HOTS) in mathematics learning remain low, particularly in analyzing, evaluating, and creating skills, indicating the need for instructional strategies that can better support students’ thinking processes. This study aimed to examine the effect of Problem-Based Learning enriched with metacognitive scaffolding (PBL-MS) on improving students’ HOTS. A quasi-experimental study with a pretest–posttest control group design was conducted at SMA Negeri 15 Bandung, involving 60 tenth-grade students divided into an experimental group (PBL-MS) and a control group (PBL). HOTS data were collected using an essay-based written test developed based on the revised Bloom’s taxonomy, covering analyzing, evaluating, and creating indicators. The results showed that the improvement in HOTS of students taught using PBL-MS was in the moderate category (N-Gain = 0.51), while students taught using PBL alone achieved a low category (N-Gain = 0.30). Statistical analysis indicated a significant difference between the two groups (Sig. 2-tailed < 0.05). These findings indicate that integrating metacognitive scaffolding into Problem-Based Learning provides a stronger effect on improving students’ higher-order thinking skills

    Exploring Self-Efficacy Profiles and Their Influence on Undergraduate Students\u27 Geometry Problem-Solving Processes: A Qualitative Case Study

    No full text
    Pemecahan masalah geometri menuntut integrasi antara kemampuan kognitif dan aspek afektif, khususnya efikasi diri. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil efikasi diri mahasiswa pendidikan matematika serta menganalisis pengaruhnya terhadap proses pemecahan masalah geometri berdasarkan tahapan Polya. Menggunakan desain studi kasus kualitatif, penelitian ini melibatkan 33 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui skala efikasi diri, tes geometri berbasis empat tahap Polya, dan wawancara semi-terstruktur dengan subjek yang merepresentasikan tingkat efikasi diri tinggi, sedang, dan rendah. Hasil penelitian mengungkap tiga profil berbeda: mahasiswa dengan efikasi diri tinggi mampu menunjukkan pemahaman mendalam hingga evaluasi reflektif; mahasiswa dengan efikasi diri sedang mampu melaksanakan prosedur namun tidak stabil pada tahap perencanaan dan evaluasi; sedangkan mahasiswa dengan efikasi diri rendah kesulitan dalam merumuskan strategi dan verifikasi hasil. Temuan ini menegaskan bahwa efikasi diri berpengaruh signifikan terhadap kualitas pemecahan masalah geometri, sehingga perlu diintegrasikan dalam perancangan pembelajaran matematika yang komprehensif. Geometric problem-solving demands the integration of cognitive abilities and affective readiness, notably self-efficacy. This study aims to identify the self-efficacy profiles of mathematics education students and analyze their influence on the geometric problem-solving process based on Polya’s stages. Employing a qualitative case study design, the research involved 33 students. Data were collected through a self-efficacy scale, geometric problem-solving tests structured according to Polya’s four stages, and semi-structured interviews with subjects representing high, moderate, and low self-efficacy levels. The findings reveal three distinct profiles: students with high self-efficacy demonstrate deep understanding followed by reflective evaluation; those with moderate self-efficacy execute procedures correctly but show instability during the planning and evaluation stages; while students with low self-efficacy struggle with strategy formulation and result verification. These findings underscore that self-efficacy significantly influences the quality of geometric problem-solving, highlighting the necessity of integrating affective factors into the design of comprehensive mathematics instruction

    Exploring the Role of ChatGPT in Enhancing Students’ Mathematical Creative Thinking in Geometry Learning: A Qualitative Case Study

    No full text
    Pikiran kreatif merupakan kompetensi kunci dalam pembelajaran geometri, yang sering melibatkan pemecahan masalah yang tidak rutin dan secara visual kompleks, namun banyak siswa mengalami kesulitan dalam mengembangkan strategi pemecahan masalah. Peningkatan penggunaan kecerdasan buatan generatif seperti ChatGPT menawarkan peluang pedagogis baru, namun perannya dalam mendukung pemikiran kreatif matematis masih belum jelas. Studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana keterkaitan pembelajaran yang didukung ChatGPT terhadap pemikiran kreatif matematis siswa dalam geometri dan menganalisis karakteristik pemecahan masalah siswa saat didukung oleh AI. Studi kasus kualitatif dilakukan dengan 29 siswa kelas tujuh dari SMP di Kampar. Data dikumpulkan melalui Tes Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika dengan empat soal geometri non-rutin, observasi kelas, dan analisis tanggapan tertulis siswa, yang dievaluasi menggunakan indikator berpikir kreatif matematika. Temuan menunjukkan bahwa berpikir kreatif siswa berada pada tingkat sedang, dengan ChatGPT paling efektif dalam mendukung elaborasi, sementara fleksibilitas dan orisinalitas tetap relatif lemah. Kesalahan utama terjadi pada tahap keterampilan transformasi dan proses, terutama dalam tugas visual-spasial. ChatGPT berfungsi sebagai scaffolding prosedural dan elaboratif rather than katalisator untuk pemikiran divergen, menyoroti kebutuhan akan integrasi AI yang terarah dan reflektif dalam pembelajaran geometri. Creative thinking is a key competency in geometry learning, which often involves solving non-routine and visually complex problems, yet many students struggle to develop problem-solving strategies. The increased use of generative artificial intelligence such as ChatGPT offers new pedagogical opportunities, but its role in supporting mathematical creative thinking remains unclear. This study aims to examine how ChatGPT-supported learning relates to students\u27 mathematical creative thinking in geometry and to analyse the characteristics of students\u27 problem solving when supported by AI. A qualitative case study was conducted with 29 seventh-grade students from a secondary school in Kampar. Data were collected through a Mathematical Creative Thinking Ability Test with four non-routine geometry questions, classroom observations, and analysis of students\u27 written responses, which were evaluated using indicators of mathematical creative thinking. Findings indicate that students\u27 creative thinking is at a moderate level, with ChatGPT most effective in supporting elaboration, while flexibility and originality remain relatively weak. The main errors occurred at the transformation and process skill stages, especially in visual-spatial tasks. ChatGPT functioned as procedural and elaborative scaffolding rather than a catalyst for divergent thinking, highlighting the need for targeted and reflective AI integration in geometry learning

    Efektivitas Metode Pembelajaran Hands-on Minds-on Activity terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Indera

    No full text
    Pendidikan abad ke-21 menuntut siswa memiliki keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif, namun dalam praktiknya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep biologi yang kompleks seperti sistem indera manusia. Hal ini ditingkatkan menjadi lebih parah dengan penggunaan metode pembelajaran konvensional yang membuat siswa kurang aktif saat proses pembelajaran. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penerapan metode pembelajaran hands on minds on activity yang menekankan agar siswa aktif, mandiri, dan terlibat langsung dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran hands on minds on activity dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi sistem indera manusia di kelas XI SMA Negeri 11 Garut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra experiment tipe one-group pretest-posstest terhadap 40 siswa, dengan pengumpulan data melalui tes pretest dan posttest yang dianalisis menggunakan uji gain ternormalisasi dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan signifikan hasil belajar siswa, dengan rata-rata gain berada pada kategori sedang dan tingkat ketuntasan mencapai 92,5%, melampaui ambang batas efektivitas sebesar 75%. Peningkatan ini dicapai melalui proses pembelajaran yang aktif dan sistematis, dimana metode pembelajaran hands on minds on activity memfasilitasi keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, metode pembelajaran hands on minds on activity efektif diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi sistem indera manusia secara aktif dan bermakna

    The Effectiveness of The Mathematics in Context Approach on Students’ Problem-Solving Ability

    No full text
    Pembelajaran matematika memerlukan pendekatan relevan untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah kompleks. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pendekatan Mathematics in Context (MiC) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas V di tiga sekolah dasar Kabupaten Pinrang. Penelitian dilakukan sebanyak 17 pertemuan menggunakan bahan ajar dan panduan guru yang telah divalidasi ahli. Data dikumpulkan melalui instrumen pretes dan postes yang mengukur lima aspek pemecahan masalah: analisis, desain, eksplorasi, implementasi, dan verifikasi. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan rata-rata kemampuan siswa yang signifikan sebelum dan sesudah perlakuan di ketiga sekolah. Berdasarkan skor N-Gain, pendekatan MiC terbukti cukup efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa; aspek analisis, desain, dan eksplorasi berada pada kategori sedang, sementara aspek implementasi dan verifikasi berada pada kategori rendah. Temuan ini menyimpulkan bahwa pendekatan MiC efektif dalam membantu siswa memahami dan merancang strategi penyelesaian, namun kurang optimal dalam meningkatkan kemampuan prosedur penyelesaian (implementasi) dan verifikasi jawaban. Mathematics education aims to cultivate students\u27 ability to solve complex mathematical problems, necessitating the use of relevant pedagogical approaches. This study evaluates the effectiveness of the Mathematics in Context (MiC) approach on the mathematical problem-solving skills of fifth-grade students across three elementary schools in Pinrang Regency. The intervention was conducted over seventeen sessions using MiC-based instructional materials and teacher guides validated by experts. Data were collected via pre-test and post-test instruments measuring five dimensions of problem-solving: analysis, design, exploration, implementation, and verification. Analysis revealed a significant difference in mean problem-solving scores before and after the MiC intervention across all schools. N-Gain analysis results indicate that the MiC approach is moderately effective in enhancing student performance; specifically, the analysis, design, and exploration aspects reached the "medium" category, while implementation and verification remained in the "low" category. These findings suggest that while the MiC approach effectively supports students in understanding and designing problem-solving strategies, it is less optimal in improving procedural execution and solution verification

    THE EFFECTIVENESS OF INTERACTIVE LEARNING MEDIA OF MENTIMETER APPLICATION IN IMPROVING STUDENT LEARNING OUTCOMES IN THE PANCASILA EDUCATION SUBJECT AT STATE HIGH SCHOOL 17 GARUT

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas media pembelajaran interaktif Aplikasi Mentimeter dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMA Negeri 17 Garut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian menggunakan Quasi Eksperiment Non-Equivalent Pre-test Post-test Control Design. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi dan tes hasil belajar. Lembar observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi lapangan serta aktivitas siswa selama pembelajaran, sedangkan tes hasil belajar yang di uji kan melalui pre-test dan post-test dengan soal berbentuk pilihan ganda. Analisis data dengan menggunakan uji t Independent Sample T-Test dan uji N-Gain Score. Berdasarkan hasil pengumpulan data menunjukkan adanya peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sesudah perlakuan, hal ini dilihat dari rata rata nilai yang rendah mengalami peningkatan rata-rata pada hasil post-test hasil pengujian hipotesis yang diperoleh nilai uji t Sig. (2-tailed) sebesar 0,01 < 0,05. Sedangkan pengolahan data melalui uji NGain diperoleh hasil sebesar 0.542381, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif Aplikasi Mentimeter di kelas eksperimen memiliki efektivitas sedang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman konsep siswa yang signifikan setelah menggunakan aplikasi Mentimeter. Sehingga penggunaan media pembelajaran interkatif Aplikasi Mentimeter efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Institut Pendidikan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇