e-Journal Institut Injil Indonesia
Not a member yet
188 research outputs found
Sort by
Air Bah Nuh: “Bukti-Bukti Yang Masih Terus Dicari”
Air Bah adalah peristiwa yang mengundang banyak kontroversi, terutama antara pandangan para teolog dan ilmuwan, apakah Air Bah itu global atau lokal dan apakah itu mitos atau fakta? Banyak pendapat yang memberikan alasan terjadinya peristiwa Air Bah menurut versinya masing-masing. Pendapat terkadang bertentangan tetapi terkadang mendukung. Diakui untuk menyatukan dua pendapat ini tidak mudah, karena masing-masing punya alasan tersendiri. Para teolog menjelaskan pendapat mereka atas dasar Biblika sebagai sumber utama mereka, sementara para ilmuwan mendasarkan bukti empiris mereka pada fakta-fakta yang mereka temukan. Tidak mudah untuk mencapai titik temu. Oleh karena itu, untuk melihat permasalahan apa yang akan dicari dari perbedaan banjir ini, maka harus dicari sumber yang kompeten dari masing-masing pendapat. Baik dari sudut pandang para teolog maupun dari sudut pandang para ilmuwan, akan terlihat di mana tepatnya perbedaan pandangan itu terjadi dan di mana kesamaan pandangan tersebut. Baik penemuan dari sudut teologi (Alkitab) maupun dari sudut geologi, arkeologi, sehingga dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki persamaan dan perbedaan penemuan masing-masing berdasarkan perspektif masing-masing
Perspektif Kristen Mengenai Hakikat Tanggungjawab Manusia
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya. Karena manusia memiliki keunikan dalam hal intelektual, sosial, fisik dan spiritual. Tentu keunikan tersebut mengandung tanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama, alam dan kepada Tuhan. Namun pada faktanya bahwa manusia telah gagal dalam hal tanggungjawab. Kegagalan itu melalui dan di dalam keserakahan dan bertindak semau-maunya. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode literatur sebagai teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, jurnal dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. Dan hasilnya adalah manusia tetap bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri yakni bertanggungjawab terhadap akalnya, hatinya dan fisiknya. Bertanggungjawab terhadap sesama karena memiliki sifat sosial yang berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya. Bertanggungjawab terhadap alam secara utuh karena sebagai mandat Tuhan yang permanen. Sebagai akhir dari tulisan ini adalah semua hal yang telah, kini dan akan dilakukan oleh manusia baik itu berhubungan dengan dirinya sendiri, sesama dan alam. Secara perspektif kristen akan bertanggungjawab kepada Tuhan.Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya. Karena manusia memiliki keunikan dalam hal intelektual, sosial, fisik dan spiritual. Tentu keunikan tersebut mengandung tanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama, alam dan kepada Tuhan. Namun pada faktanya bahwa manusia telah gagal dalam hal tanggungjawab. Kegagalan itu melalui dan di dalam keserakahan dan bertindak semau-maunya. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode literatur sebagai teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, jurnal dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. Dan hasilnya adalah manusia tetap bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri yakni bertanggungjawab terhadap akalnya, hatinya dan fisiknya. Bertanggungjawab terhadap sesama karena memiliki sifat sosial yang berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya. Bertanggungjawab terhadap alam secara utuh karena sebagai mandat Tuhan yang permanen. Sebagai akhir dari tulisan ini adalah semua hal yang telah, kini dan akan dilakukan oleh manusia baik itu berhubungan dengan dirinya sendiri, sesama dan alam. Secara perspektif kristen akan bertanggungjawab kepada Tuhan
MODEL PENYELESAIAN KONFLIK DALAM PEMILIHAN PEMIMPIN DI SINODE GEREJA KRISTEN INJILI NUSANTARA (GKIN)
Pada masa kini, konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Pemahaman tentang konflik secara komprehensif baik teori umum maupun Alkitab merupakan bagian yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap pemimpin Kristen khususnya para pemimpin di Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN). Tujuan penelitian dalam tulisan ini adalah:(1) Untuk mengetahui teori umum dan pandangan Alkitab tentang konflik. (2) Untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik dalam Pemilihan Pemimpin di Sinode GKIN. (3) Untuk menemukan model penyelesaian konflik dalam Pemilihan Pemimpin di Sinode GKIN. Observasi serta penelitian yang dilakukan peneliti dalam proses pemilihan pemimpin di sinode GKIN mengerucut pada satu bukti dan fakta yang tidak terbantahkan bahwa terjadi konflik dalam pemilihan pemimpin yang sedang berlangsung di sinode GKIN. Jika dikonstruksikan maka konflik yang terjadi karena: (1) Dukung mendukung calon yang menimbulkan konflik interpersonal, intra grup dan kelompok dalam sinode GKIN. (2) Regulasi yang mengatur tentang pemilihan pemimpin di sinode GKIN belum memadai dan memenuhi kebutuhan organisasi. (3) Karakter para pemimpin di GKIN yang belum bersesuaian dengan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen yang berdasarkan Alkitab. (4) Konflik dalam pemilihan pemimpin yang sudah berlangsung lama belum ada upaya terstruktur dan sistemik dalam mengelola potensi konflik tersebut menjadi hal positif bagi organisasi. Sinode GKIN membutuhkan sebuah model pendekatan penyelesaian konflik dengan empat model sesuai dengan konteks di sinode GKIN, yaitu: Model proposal penyelesaian masalah, model dialog terbuka untuk solusi, model solusi komprehensif dan model hikmat Allah
MODEL LIQUID CHURCH BAGI PENINGKATAN PELAYANAN PASTORAL GEREJA-GEREJA ANGGOTA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA SETEMPAT (PGIS) DI KOTA BATU
Di tengah konteks zaman yang terus mengalami perubahan, gereja sebaiknya terbuka dalam menghadapi kepelbagaian dan perubahan. Dalam melayani (pastoral), gereja harus menghayati dan menjalani kehidupannya dalam proses pembaharuan terus menerus serta menjadi cair (liquid). Apabila memerhatikan dinamika pelayanan pastoral pada saat ini, maka gereja tidak lepas dari permasalahan dalam menyikapi perubahan. Misalnya: adanya anggapan bahwa keterbukaan terhadap sesuatu di luar gereja akan mengancam eksistensi gereja pada masa kini. Akibatnya, gereja tidak mau dievaluasi, menerima kritik dan saran karena menganggap pendekatan pelayanan tradisional adalah cara/ metode terbaik dalam menerapkan pelayanan pastoral. Dalam artikel ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, yakni menggali pemahaman dan pengalaman subyektif dari para informan dengan memerhatikan konteks pelayanan pastoral gereja-gereja anggota PGIS Kota Batu. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji serta menemukan model liquid church bagi peningkatan pelayanan pastoral. Pada akhirnya, dengan mengacu pada kajian literatur, hasil dan pembahasan, maka peneliti menemukan Model Liquid Church, yakni: 1) Gereja Tidak Bersifat Eksklusif; 2) Gereja Kontekstual; 3) Gereja Adaptif; 4) Gereja yang Inovatif dan Kreatif; 5) Gereja yang Membumi dan 6) Gereja Yang Relevan dengan Situasi dan Kondisi. Model ini dapat menjadi rekomendasi bagi gereja-gereja anggota PGIS Kota Batu guna meningkatkan pelayanan pastoral
ANAK-ANAK IMAM ELI (I SAMUEL 2-3) DAN REFLEKSINYA BAGI ANAK-ANAK HAMBA TUHAN
Pengalaman anak-anak Imam Eli bisa jadi dialami oleh anak-anak hamba Tuhan. Anak-anak hamba Tuhan memiliki pergumulan khusus, yang bisa berimbas negatif tapi juga bisa berimbas positif. Hasil wawancara informal, ditemukan bahwa ada yang menanggapi negatif, misalnya merasa tertekan, dituntut terlalu banyak, tidak sebebas anak-anak lain, dibayang-bayangi oleh status orangtuanya. Namun ada yang menanggapinya secara positif, misalnya bersyukur dan bangga akan status sebagai anak-anak hamba Tuhan, karena bisa mendapat pendidikan dan keteladanan rohani yang sangat baik dari orangtua, bisa turut melayani bersama orangtua. Anak-anak imam Eli, di tengah umat Israel, ternyata menanggapi secara negatif, yaitu dengan perilaku yang sangat tidak menjadi berkat, dan menjadi perhatian Tuhan.
Pembahasan penelitian ini, kiranya dapat memberikan kontribusi bagi anak-anak hamba Tuhan agar tidak memiliki kecenderungan seperti halnya anak-anak imam Eli, dan penting juga bagi para hamba Tuhan supaya tidak mengalami kegagalan seperti imam Eli. Metode penelitian yang penulis pakai adalah kualitatif, dengan mewawancarai 13 mahasiswa Institut Injil Indonesia yang orangtuanya (ayah atau ibunya) adalah hamba Tuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69% informan kecewa menjadi anak hamba Tuhan, 46% informan pernah minder menjadi anak hamba Tuhan, dan informan berpendapat bahwa jika anak-anak hamba Tuhan tidak mengaktualisasikan Firman Tuhan secara benar maka akan menjadi batu sandungan bagi jemaat, merusak pekerjaan Tuhan, nama baik orangtua tercemar, dan wibawa orangtua hilang
Pendekatan Kotekstualisasi Misi Bagi Kaum Milenial
Topik kontektualisasi misi selalu relevan untuk dibahas, karena setiap era memiliki budaya masing-masing, termasuk era Milenial sudah pasti di dalamnya terdapat generasi di era tersebut. Ini penting untuk dipahami oleh gereja sebagai agen misi Allah bagi dunia. Kontekstualisasi juga merupakan upaya untuk memahami cara-cara komunitas Kristen menghayati Injil di tengah budaya non-Kristen dan tentang bagaimana menyeberangkan Injil ditengah-tengah konteks. Karena itu, tujuan artikel ini, adalah mengusulkan atau mengupayakan pendekatan kontekstualisasi yang relevan bagi generasi milenial. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini menggunakan studi lieratur. Penelitian studi literatur adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengidentifikasi sumber-sumber primer dan sekunder baik berupa buku, skripsi, tesis dan artikel-artikel terkini. Untuk memfokuskan pembahasan maka penulis membuat dua pertanyaan untuk mengarahkan pembahasan: apa yang dimaksud dengan kaum milenial atau generasi milenial? dan pendekatan kontekstualisasi misi apa yang akan diusulkan? Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan maka temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahwa generasi milenial memiliki karakteristik yang unik, karena pengaruh kemajuan teknologi dan informasi dunia digital, sehingga masyarakatnya pun disebut sebagai masyarakat nitizen dengan budaya popular yang berkembang. Disamping itu juga, pandangan dunia yang mereka miliki inheren dengan pengaruh dunia maya sebagai tempat mengaktualisasi diri. Itulah sebabnya diperlukan pendekatan relasionalitas, inkarnatif dan eklesiastik, termasuk memanfaatkan media teknologi informasi untuk memberitakan Injil keselamatan
HAKIKAT IBADAH VS IBADAH STREEMING: STUDI KONTEN ANALISIS
Ibadah streaming merupakan salah satu cara untuk memfasilitas jemaat untuk dapat dilayani melalui ibadah yang didalamnya juga terkandung pujian, penyembahan dan firman Tuhan. Dalam pengertian, hakikat ibadah menentukan ibadah streaming layak disebut sebagai ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauhmana pentingnya memahami hakikat ibadah dalam ibadah streaming. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian konten analisis yang di jelaskan secara deskriptif. Berdasarkan analisis isi yang dilakukan, ditemukan hubungan antara hakikat ibadah dengan ibadah streaming pada konten: 1) Perjanjian Lama: Sejak zaman Kain dan Habel, Patriakh (Abraham, Ishak, Yakub), Musa, Para Hakim, Daud, Salomo, Nabi-nabi, Mazmur. 2) Perjanjian Baru: Sinagoge, Injil Sinoptik (sikap hati, Menyembah dalam roh dan kebenaran), Paulus (Mengenal Allah yang disembah, Mempersembahkan totalitas hidup, ibadah tanpa kepura-puraan, ibadah berguna dalam segala hal), Ibrani (menyucikan hati nurani, Mengekang lidah). Sehingga pelaksanaan ibadah bukan masalah dimana dan kapan dilaksanakan tetapi bagaimana spiritualitas pribadi seseorang dalam menghormati Tuhan dalam ibadahnya, baik melalui ibadah streaming. Karena sejarah Alkitab membuktikan para tokoh-tokoh Alkitab melakukan ibadah dimana mereka memiliki keterikatan spiritualitas dengan Allah
Budaya Bantengan: Pemuridan Komunitas Remaja Pemuda Kristen Sitiarjo (Kompas)
Pemuridan merupakan bagian yang sangat penting dalam kekirstenan. Pemuridan sebagai langkah membina anggota komunitas untuk bertumbuh secara rohani maupun secara doktrinal. Komunitas remaja pemuda Kristen Sitiarjo memiliki kerinduan dan beban untuk membangun spiritualitas anggota komunitasnya. Namun, tidak sedikit dari anak remaja pemuda di Sitiarjo yang terlibat dalam kesenian Bantengan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti sejauhmana pemuridan Kristen memiliki pengaruh positif dalam spiritualitas anggota komunitas remaja pemuda Kristen, sehingga mereka tidak lagi terlibat dalam kegiatan Bantengan. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pengumpulan data uji dan statistik, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan penyebaran angket melalui googleform. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ditemukan bahwa: 1) Pemuridan Kristen memiliki dampak yang signifikan, karena berhasil mengingatkan dan membimbing anggota komunitas untuk tidak terlibat dengan kesenian bantengan. 2) Pembina rohani perlu memberikan pemahaman yang Alkitabiah sehingga anggota komunitas betul-betul memahami dampak kesenian Bantengan dari keterikatan dengan Okultisme. 3) Pembina rohani perlu meningkatkan dan bekerjasama dengan gereja-gereja dimana anggota komunitas berjemaat supaya mulai melibatkan anggota komunitas melayani. 4) Sebagian anggota komunitas masih belum dapat membedakan, bagian mana dalam Kesenian Bantengan yang bisa dilakukan dan dibagian mana yang tidak bisa dilakukan. Hal ini disebabkan minimnya pemahaman doktrinal dalam proses pembinaan, mengingat pembinapun tidak memiliki latarbelakang teologi.Pemuridan merupakan bagian yang sangat penting dalam kekirstenan. Pemuridan sebagai langkah membina anggota komunitas untuk bertumbuh secara rohani maupun secara doktrinal. Komunitas remaja pemuda Kristen Sitiarjo memiliki kerinduan dan beban untuk membangun spiritualitas anggota komunitasnya. Namun, tidak sedikit dari anak remaja pemuda di Sitiarjo yang terlibat dalam kesenian Bantengan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti sejauhmana pemuridan Kristen memiliki pengaruh positif dalam spiritualitas anggota komunitas remaja pemuda Kristen, sehingga mereka tidak lagi terlibat dalam kegiatan Bantengan. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pengumpulan data uji dan statistik, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan penyebaran angket melalui googleform. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ditemukan bahwa: 1) Pemuridan Kristen memiliki dampak yang signifikan, karena berhasil mengingatkan dan membimbing anggota komunitas untuk tidak terlibat dengan kesenian bantengan. 2) Pembina rohani perlu memberikan pemahaman yang Alkitabiah sehingga anggota komunitas betul-betul memahami dampak kesenian Bantengan dari keterikatan dengan Okultisme. 3) Pembina rohani perlu meningkatkan dan bekerjasama dengan gereja-gereja dimana anggota komunitas berjemaat supaya mulai melibatkan anggota komunitas melayani. 4) Sebagian anggota komunitas masih belum dapat membedakan, bagian mana dalam Kesenian Bantengan yang bisa dilakukan dan dibagian mana yang tidak bisa dilakukan. Hal ini disebabkan minimnya pemahaman doktrinal dalam proses pembinaan, mengingat pembinapun tidak memiliki latarbelakang teologi
HARMONISASI POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PENGAJARAN SEKOLAH MINGGU TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK USIA DINI BERDASARKAN NILAI-NILAI SPIRITUAL DI GKPB JEMAAT GALANG NING SABDA CICA BALI
Pertumbuhanan dan perkembangan karakter anak tidak terlepas dari tanggunjgawab orang tua dalam menerapkan pola asuh dalam keluarga dan juga pengajaran yang diberikan disekolah, termasuk sekolah minggu. Orang tua sebagai penanggungjawab utama dari pertumbuhan dan karakter anak, maupun guru-guru sekolah minggu, sama berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah tidak adanya harmoni (Dishamorni) antara orang tua dan guru sekolah minggu. Tidak adanya harmoni ini terlihat dari sikap acuhnya orang tua terhadap pengajaran sekolah minggu yang diterima oleh anak-anak mereka. Disisi lain, kurangnya komunikasi guru-guru sekolah minggu dengan orang tua juga menjadi salah satu satu penyebab disharmoni. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola asuh orang tua dengan pengajaran sekolah minggu, menentukan karakter anak usia dini berdasarkan nilai-nilai spiritual, menghasilkan model harmonisasi pola asuh orang tua dengan pembelajaran sekolah minggu pada pembentukan karakter anak usia dini berdasarkan nilai-nilai spiritual yang ada di GKPB Jemaat Galang Ning Sabda Cica Bali. Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang Model Harmonisasi Pola Asuh Orang Tua dan Pengajaran Sekolah Minggu Terhadap Pembentukan Karakter Anak Usia Dini Berdasarkan Nilai Spiritual di GKPB Galang Ning Jemaat Sabda Cica Bali. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa Model Harmonisasi antara Pola Asuh Orang Tua di rumah dengan Pengajaran sekolah minggu yang dapat diterapkan adalah model komunikasi, model kerja sama, model sharing of life dan model pertemuan rutin
MODEL KEMARTIRAN DALAM PENGINJILAN RASUL PAULUS BERDASARKAN KISAH PARA RASUL TERHADAP KELOMPOK KABAR BAIK DI MALANG
Penginjilan merupakan tindakan pelaksanaan Amanat Agung. Penginjilan selalu berkaitan erat dengan kemartiran. Setiap anak-anak Tuhan yang terlibat dalam penginjilan harus selalu siap dengan dampak yang diterima baik itu kesulitan, tantangan, penderitaan ataupun kematian. Martir identik dengan saksi. Martir Kristus berkaitan dengan tindakan dalam menjadi saksi Kristus baik dalam pewartaan maupun dalam sikap sehari-hari. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengenai kemartiran yang dialami oleh Rasul Paulus. Paulus bukan hanya berbicara tentang berita Injil kasih karunia, tetapi juga mengalami dampak dari pemberitaan Injil itu sendiri, masuk penjara, dianiaya bahkan sampai mati. Jadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kemartiran penginjilan Rasul Paulus