e-Journal Institut Injil Indonesia
Not a member yet
188 research outputs found
Sort by
Spiritualitas Kaum Muda di Tengah Perkotaan dalam Era Digital
Spiritualitas kaum muda di era digital sangat penting. Apalagi di tengah kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan bagi kaum muda dalam mencari berbagi informasi yang mereka perlukan. Melihat kemudahan seperti ini kaum muda secara perlahan kurang menyadari tentang spiritualitas. Kurangnya kesadaran kaum muda dalam menghidupi spiritualitas di tengah zaman ini di pengaruhi oleh beberapa aspek salah satunya aspek internal. Dimana kaum muda lebih senang dengan dunianya sendiri daripada bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Namun pergaulan mereka cendrung pada orang yang lama daripada orang yang baru. Hal ini yang membuat mereka terjebak dalam dunia teknologi, sehingga membuat sikap mereka menjadi individualis atau suka dengan dunia sendiri. Sikap seperti ini menjadi sebuah persoalan dalam mewujudkan spiritualitas di tengah dunia teknologi sekarang. Metode penulisan yang digunakan adalah literature review dengan menggunakan sumber buku dan jurnal. Selain itu menggunakan Kuesioner untuk lebih mengetahui pemahaman kaum muda tentang spiritualitas di era digital. Tujuan dari penulisan ini melihat problem yang dialami oleh kaum muda tentang spiritualitas, di era digital ini. Spiritualitas adalah sikap yang sebenarnya harus mereka miliki secara penuh. Namun mereka mulai kurang menyadari betapa pentingnya spiritualitas di tengah kehidupann mereka sebagai penerus bangsa dan gereja di zaman ini. Dalam penulisan ini penulis juga menemukan bahwa kaum muda masih memiliki sikap individualis. Sikap seperti ini dilihat dari beberapa sumber yang kaitannya dengan topic ini. Maka dalam menghidupi spiritualitas ini harus memiliki relasi, kerendahan hati dan kesadaran dari kaum muda di era digital. Hal tersebut akan sangat membantu kaum muda di tengah dunia teknologi sekarang
KAJIAN DOGMATIS TENTANG PEMAHAMAN ANGGOTA JEMAAT BUNTU PAYUNG KLASIS MENGKENDEK UTARA MENGENAI KONSEP IMAMAT AM RAJANI MENURUT PANDANGAN CALVIN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESETARAAN JABATAN PELAYANAN
Tujuan yang hendak dicapai di dalam penulisan jurnal ini adalah melalui jurnal ini penulis hendak memaparkan bagaimana pemahaman jemaat mengenai imamat am rajani dan bagaimana implikasinya bagi kesetaraan jabatan pelayanan yang ada di Jemaat Buntu Payung. Di dalam tulisan ini, metode penelitian yang penulis gunakan ialah metode kualitatif. Metode ini merupakan sebuah metode penelitian yang bertujuan untuk memahami pemahaman jemaat tersebut. Selain itu, penulis juga menggunakan kajian pustaka dan melakukan studi literature. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut,penulis dapat menyimpulkan bahwa pada dasarnya sebagian warga jemaat kurang memahami apa sebenarnya itu imamat am dan rajani, tetapi warga jemaat sudah mengetahui mengenai jabatan jabata gerejawi yang ada di dalam sebuah gereja. Pendapat calvin pun mengambil bagian di dalam masalah imamat am rajani yang mana berkaitan juga dengan jabatan gerejawi. Karena gereja Toraja masuk ke dalam system presbiterial sinodal maka jabatan pelayanan harus setara di dalam lingkup gereja .
 
Penginjilan Dan Pertumbuhan Gereja Di Provinsi Yogyakarta
Diidentifikasi masalah mengapa pertumbuhan gereja lambat yaitu karena kurangnya keterlibatan anggota. Hal ini terjadi karena kurangnya dorongan dan pelatihan jemaat untuk melayani. Kemudian kurangnya strategi dan inovasi dalam penginjilan. Adapun maksud dan tujuan penulis melakukan makalah ini adalah sebagai berikut: Agar anggota GMAHK boleh memiliki tingkat pemahamanakan pentingnya pertumbuhan gereja secara kuantitas dan kualitas. Agar anggota memiliki pemahaman yang benar tentang pentingnya peranan anggota dalam pertumbuhan gereja. Agar para anggota terlibat aktif dalam penginjilan supaya banyak jiwa yang diselamatkan. Metode Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif, dengan menganalisa data-data yang diperoleh dari daftar Pustaka sehingga mengasilkan penelitian kepada pertumbuhan gereja. Gereja yang sehat adalah gereja yang bertumbuh. Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang mengalami pertumbuhan atau peningkatan, baik secara kualitas ataupun secara kuantitas. Secara kualitas, pertumbuhan gereja dapat dilihat dari peningkatan kerohanian anggota jemaat gereja. Sedangkan secara kuantitas, pertumbuhan gereja dapat dilihat dari pertambahan jumlah keanggotaan gereja. Gereja yang sehat itu diawali dari pertumbuhan secara kualitas yang menuju kepada pertumbuhan secara kuantitas. Pertumbuhan Gereja dan Penginjilan secara khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta perlu dihadirkan satu strategi. Dimana dimulai dari kebangunan rohani, doa yang sungguh-sungguh. Melatih anggota jemaat untuk menginjil dan mengutus mereka. Gereja harus memberitakan Injil supaya bertumbuh dan bertambah, kalau tidak gereja akan hilang
KAJIAN TERHADAP MODEL TRAUMA HEALING PENDETA TERHADAP ANAK KELUARGA KORBAN PEMBUNUHAN TERORIS DI DESA KALEMAGO, POSO
The author raised this title starting from the problem where there children who are families of victims of terrorist killings in Kalemago Village, Poso who are traumatized must be helped in the right way. In this case, the Pastor carries out her role as a counselor to help these children so they can recover from the trauma experienced by carrying out the trauma healing process.
This research wants to find out how the results of the trauma healingmodel used by the Pastor in Kalemago Village in carrying out therapy for children in the village are.
This research is a descriptive qualitative research. Research data is data collected by the author through the interview stage as well as through the observation stage conducted by the author as the research location. The research data was obtained by interview method which then went through the process of reduction, presentation and drawing conclusions.
He results of this study indicate that the trauma healing model used is play therapy where this model is appropriate but the results are not optimal because the trauma recovery process takes a long time and is gradual, while the pastor only does this therapy three times in a period of two months.
 
Keterlibatan Keluarga Dalam Pendidikan Karakter Mengampuni Pada Anak Usia Muda
Penelitian ini difokuskan pada tinjauan pendidikan agama dalam keluarga sebagai landasan karakter mengampuni pada usia muda. Hal ini dilakukan karena semakin banyaknya kasus bunuh diri, lari dari rumah, narkoba, seks bebas di kalangan muda-mudi. Terjadinya kasus-kasus tersebut dilatarbelakangi pendidikan agama dalam keluarga yang tidak memadai dan hubungan keluarga yang tidak harmonis. Akhirnya anak-anak dalam usia muda terikat pada amarah dan dendam yang dibalaskan dengan merusak diri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan induktif dan model interaktif. Hasil ditemukan bahwa keterlibatan orang tua dalam mendidik anak mengampuni sesuai Firman Tuhan sangat mempengaruhi perkembangan karakter anak diusia muda. Pada usia muda anak- anak dapat bersosialisasi dengan baik dan dapat menerima dan mengampuni kesalahan atau kekurangan keluarga dan teman-teman.Abstrak
Penelitian ini berbicara mengenai tinjauan pendidikan agama dalam keluarga sebagai landasan karakter mengampuni pada usia muda. Hal ini dilakukan karena semakin banyaknya kasus bunuh diri, lari dari rumah, narkoba, seks bebas di kalangan muda-mudi. Terjadinya kasus-kasus tersebut dilatarbelakangi pendidikan agama dalam keluarga yang tidak memadai dan hubungan keluarga yang tidak harmonis. Akhirnya anak-anak dalam usia muda terikat pada amarah dan dendam yang dibalaskan dengan merusak diri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan induktif dan model interaktif. Dasar dari penelitian merujuk kepada teori Thomas Lickona mengenai pendidikan karakter dan Matt Chandler dan Adam Griffin pemuridan dalam keluarga. Hasil ditemukan bahwa keterlibatan orang tua dalam mendidik anak mengampuni sesuai Firman Tuhan sangat mempengaruhi perkembangan karakter anak diusia muda. Pada usia muda dapat bersosialisasi dengan baik dan dapat menerima dan mengampuni kesalahan atau kekurangan keluarga dan teman-teman.
Kata Kunci: Keluarga, Pendidikan Karakter, Mengampuni, Usia Mud
Membangun Iman Kristen di Kalangan Suku Dayak Kanayatn Melalui Pendekatan Kontekstual Upacara Adat Kamang Tariu
In general, the customs, traditions and culture of each ethnic group differ depending on the geographical location and the way of life of each. Almost all customs and cultural traditions of each ethnic group become a benchmark for ethics, morals and habits that occur and are always positive according to their ethnicity, although there are some other cultural views that consider it not necessarily positive. For the Dayak Kanayatn tribe, traditions, customs and culture are the most important things in managing daily life. Dayak Kanayatn is very thick with tradition and culture. One of the most feared Dayak traditions is the "baparang or bakayo (cut the enemy head)" tradition, because it is related to supernatural powers. The tradition of “baparang or bakayo (cut the enemy head)” for the Dayak Kanayatn tribe cannot be separated from “Kamang Tariu Traditional Ceremony”. It is said that the story of “Kamang Tariu” can give supernatural powers to Dayak people who are going to “baparang or bakayo (cut the enemy head)”, so that they are immune to machetes, fire, rifles and others. In order for this paper to be accurate, the author discusses it using a descriptive method sourced from the existing literature and also from the results of interviews related to the discussion of this article. Then it will look for correlations from a biblical point of view, with contextual approach using the “Kamang Tariu Tradisional Ceremony”, so that the expected results can contribute to building Christian faith among the Kanayatn Dayak tribe.Secara umum adat, tradisi dan budaya setiap suku bangsa berbeda-beda tergantung letak geografis dan tatanan hidup masing-masing. Hampir semua adat dan tradisi budaya setiap suku bangsa menjadi tolak ukur bagi etika, moral dan kebiasaan yang terjadi dan selalu positif menurut suku bangsanya, walaupun ada beberapa pandangan budaya lain menganggapnya belum tentu positif. Bagi suku Dayak Kanayatn, tradisi, adat dan budaya merupakan hal yang paling utama dalam menata kehidupan sehari-hari. Dayak Kanayatn sangat kental dengan tradisi dan budaya. Salah satu tradisi dayak yang sangat ditakuti adalah tradisi “baparang atau bakayo (memotong kepala musuh)”, karena berkaitan dengan kekuatan supranatural. Tradisi “baparang atau bakayo (memotong kepala musuh”) bagi suku Dayak Kanayatn ini tidak lepas dari “Upacara Adat Kamang Tariu”. Konon ceritanya “Kamang Tariu” ini dapat memberikan kukuatan supranatural kepada orang Dayak yang akan “baparang atau bakayo (memotong kepala musuh)”, supaya kebal terhadap parang, api, senapang dan lain-lain. Supaya tulisan ini akurat penjelasannya maka penulis membahasnya dengan metode deskriptif yang bersumber dari literatur-literatur, jurnal dan juga dari hasil wawancara terkait pembahasan artikel ini. Kemudian akan mencari korelasinya dari sudut pandang Alkitab dengan pendekatan kontekstual “Upacara Adat Kamang Tariu” sehingga hasil yang diharapkan dapat berkontribusi untuk membangun Iman Kristen di kalangan suku Dayak Kanayatn
PERAN ORANG TUA DALAM PENDAMPINGAN PASTORAL BAGI ANAK USIA REMAJA AWAL MENURUT 2 TIMOTIUS 1:3-18
Pendampingan Pastoral atau Pastoral Care adalah sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang yang bersedia untuk memberikan perhatian, perawatan, pemeliharaan, atau perlindungan kepada seseorang lain yang membutuhkan. Pendampingan pastoral memberikan pertolongan yang menghubungkan antara pendamping, orang yang didampingi, dengan Allah. Orang tua sebagai “manager” atau “penjaga” bagi anak-anaknya memiliki peran penting dalam pendampingan pastoral untuk menolong anak-anaknya khususnya bagi anak-anak remaja awal yang memasuki masa-masa krisis peralihan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran orang tua dalam pendampingan pastoral bagi anak usia remaja awal menurut 2 Timotius 1:3-18. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan grammatical analysis. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan tekni studi literatur dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa peran orang dalam pendampingan pastoral bagi orang tua anak remaja awal harus meliputi ucapan syukur, mendoakan, mendidik, memberi kasih sayang, memberi disiplin, serta memberi teladan kepada anak. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa masa-masa krisis peralihan anak remaja awal tidak bisa dihindari, namun kesadaran dan kesigapan orang tua dalam peran pendampingan pastoral terhadap anak remaja awal ini sangat signifikan karena dapat menolong anak mereka menghadapi masa-masa peralihan tersebut
Peran Yusuf Dalam Misi: Implementasinya Bagi Kaum Profesional Di Gereja Protestan Indonesia (GPI) Jemaat Diaspora Sorong
Pelaksanaan misi Allah tidak hanya menjadi tugas seorang Pendeta tetapi juga menjadi tugas jemaat dengan profesi masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauhmana kaumprofesional di Gereja Protestan Indonesia Jemaat Diaspora Sorong memahami misi dan terlibat didalamnya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Metode merupakan cara kerja ilmiah, yang secara teknis dipergunakan sebagai alat atau sarana dalam suatu penelitian. Metode lebih menekankan pada aspek teknis penelitian, sehingga fungsinya sangat penting dalam suatu pelaksanaan penelitian. Untuk itu metode menunjuk pada teknik yang digunakan dalam penelitian seperti survey, wawancara, dan observasi. Metode penelitian adalah suatu teknik atau prosedur yang digunakan sebagai sarana untuk memahami dan mengerti serta mendapatkan pengetahuan yang benar atas suatu masalah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, menemukan bahwa Jemaat GPI Diaspora Sorong sudah memiliki pemahaman yang benar dan sudah mengajarkan kepada kaum profesi mengenai peran Yusuf sebagai orang percaya dalam misi. Tetapi yang menjadi permasalahannya adalah gembala mengakui bahwa belum menyeluruh dalam memberikan penjelasan mengenai misi yang dapat dilakukan oleh kaum profesi melalui pekerjaan yang dimiliki seperti yang dilakukan Yusuf dalam Alkitab.Pelaksanaan misi Allah tidak hanya menjadi tugas seorang Pendeta tetapi juga menjadi tugas jemaat dengan profesi masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauhmana kaumprofesional di Gereja Protestan Indonesia Jemaat Diaspora Sorong memahami misi dan terlibat didalamnya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Metode merupakan cara kerja ilmiah, yang secara teknis dipergunakan sebagai alat atau sarana dalam suatu penelitian. Metode lebih menekankan pada aspek teknis penelitian, sehingga fungsinya sangat penting dalam suatu pelaksanaan penelitian. Untuk itu metode menunjuk pada teknik yang digunakan dalam penelitian seperti survey, wawancara, dan observasi. Metode penelitian adalah suatu teknik atau prosedur yang digunakan sebagai sarana untuk memahami dan mengerti serta mendapatkan pengetahuan yang benar atas suatu masalah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, menemukan bahwa Jemaat GPI Diaspora Sorong sudah memiliki pemahaman yang benar dan sudah mengajarkan kepada kaum profesi mengenai peran Yusuf sebagai orang percaya dalam misi. Tetapi yang menjadi permasalahannya adalah gembala mengakui bahwa belum menyeluruh dalam memberikan penjelasan mengenai misi yang dapat dilakukan oleh kaum profesi melalui pekerjaan yang dimiliki seperti yang dilakukan Yusuf dalam Alkitab
Kontekstualisasi Misi Terhadap Budaya Bakar Batu Suku Lani dan Implementasinya bagi Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Jemaat Jigunikime Puncak Jaya Papua
Bakar Batu merupakan adat istiadat memasak makanan menggunakan batu panas. Bakar Batu berfungsi sebagai tradisi makan bersama, berkumpul, mengungkapkan rasa syukur, saling berbagi, dan damai. Bakar Batu merupakan warisan nenek moyang suku Lani yang dilakukan apabila merasa bingung, takut, lemah dan sakit. Ritual ini dilakukan untuk` mencari petunjuk sehingga mereka terlibat dalam kuasa gelap. Kontekstualisasi misi tehadap budaya Bakar Batu Suku Lani bukanlah Bakar Batu yang bertujuan makan bersama melainkan Bakar Batu yang mengadakan ritual gaib yang bertentangan dengan Alkitab. Rumusan masalahnya adalah Bagaimana implementasi kontekstualisasi misi terhadap budaya Bakar Batu Suku Lani bagi jemaat Jigunikime? Tujuan penelitian untuk menjelaskan bahwa dengan memakai model kontekstualisasi misi yang tepat, maka jemaat Jigunikime dapat memberitakan Injil melalui kontekstualisasi budaya Bakar Batu. Metode yang digunakan adalah metode penelitian studi kasus dan analisis isi dengan pendekatan kualitatif. Respondennya adalah 60 jemaat dari usia 25 tahun ke atas. Dari 60 jemaat yang aktif ke gereja hanya 35 orang, Jadi, sampel yang diambil 35 orang jemaat. Instrumen pengumpulan informasi yang dipakai dalam riset ini adalah angket dan wawancara. Hasil yang didapat dalam riset ini yaitu jemaat Jigunikime dapat memakai 3 model kontekstualisasi misi yakni transformasi: Melalui kebudayaan, Allah berhubungan dengan seseorang saat seseorang diperbaharui Allah, hingga budayanya pula diperbaharui (2 kor 5:17). dan model akomodasi: tindakan menghormati serta keterbukaan kepada budaya asli yang dilakukan di dalam tindakan, sikap, dan pendekatan praktis kontekstualisasi misi. Serta model transendental, menjadi tekanan utamanya adalah pengalaman individu sehingga praktisi kontekstualisasi harus orang dari budaya itu sendiri.Bakar Batu merupakan adat istiadat memasak makanan menggunakan batu panas. Bakar Batu berfungsi sebagai tradisi makan bersama, berkumpul, mengungkapkan rasa syukur, saling berbagi, dan damai. Bakar Batu merupakan warisan nenek moyang suku Lani yang dilakukan apabila merasa bingung, takut, lemah dan sakit. Ritual ini dilakukan untuk` mencari petunjuk sehingga mereka terlibat dalam kuasa gelap. Kontekstualisasi misi tehadap budaya Bakar Batu Suku Lani bukanlah Bakar Batu yang bertujuan makan bersama melainkan Bakar Batu yang mengadakan ritual gaib yang bertentangan dengan Alkitab. Rumusan masalahnya adalah Bagaimana implementasi kontekstualisasi misi terhadap budaya Bakar Batu Suku Lani bagi jemaat Jigunikime? Tujuan penelitian untuk menjelaskan bahwa dengan memakai model kontekstualisasi misi yang tepat, maka jemaat Jigunikime dapat memberitakan Injil melalui kontekstualisasi budaya Bakar Batu. Metode yang digunakan adalah metode penelitian studi kasus dan analisis isi dengan pendekatan kualitatif. Respondennya adalah 60 jemaat dari usia 25 tahun ke atas. Dari 60 jemaat yang aktif ke gereja hanya 35 orang, Jadi, sampel yang diambil 35 orang jemaat. Instrumen pengumpulan informasi yang dipakai dalam riset ini adalah angket dan wawancara. Hasil yang didapat dalam riset ini yaitu jemaat Jigunikime dapat memakai 3 model kontekstualisasi misi yakni transformasi: Melalui kebudayaan, Allah berhubungan dengan seseorang saat seseorang diperbaharui Allah, hingga budayanya pula diperbaharui (2 kor 5:17). dan model akomodasi: tindakan menghormati serta keterbukaan kepada budaya asli yang dilakukan di dalam tindakan, sikap, dan pendekatan praktis kontekstualisasi misi. Serta model transendental, menjadi tekanan utamanya adalah pengalaman individu sehingga praktisi kontekstualisasi harus orang dari budaya itu sendiri
PEMBINAAN WARGA GEREJA YANG KECANDUAN NARKOBA BERDASARKAN MATIUS 18: 12 – 14 SUATU STUDI FENOMENOLOGI
Kecanduan narkoba sudah menjadi permasalahan besar dihadapi dan mengkawatirkan, di dunia. Pada tahun 2017 sampai 2019 ada sekitar 3,3 sampai 3,6 juta jiwa lebih diantara umur 10 tahun sampai 59 tahun, dan termasuk pelajar. Mereka yang berusia 15 tahun sampai 35 tahun (generasi milenial) lebih cenderung pecandu narkoba. Berdasarkan data ini, penelitian bermaksud agar gereja dan gembala mengadakan pembinaan kepada warga gereja dan kepada mereka yang telah menggunakan narkoba sebagai mana dalam Matius 18:12 – 14, dengan tujuan mencegah menjadi pecandu dan pengguna narkoba. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yaitu mengungkap makna dan pengalaman subjek serta mengutip literatur-literatur dari internet dan pengalaman penulis selama tinggal di rumah satu keluarga dimana ada anaknya yang kecanduan narkoba yang tidak mendapatkan pembinaan serta pendampingan. Hasilnya agar warga gereja dapat mengetahui efek dan bahayanya narkoba dan kepada mereka yang ketergantungan narkoba menyadari kesalahaan dan dapat sembuh serta dapat diterima menjadi warga gereja