e-Journal Institut Injil Indonesia
Not a member yet
    188 research outputs found

    Kritik Yesus Terhadap Rabi (Guru) Yahudi Berdasarkan Analisis Eksegetis Atas Kecaman Yesus Terhadap Ahli-Ahli Taurat Dan Orang-Orang Farisi Dalam Matius 23: 1-12

    Full text link
                   Yesus sering berselisih dengan para rabi orang Yahudi, Kaum Tuarat dan Farisi menentang Yesus karena Dia menyatakan ajaran dan tindakannya berbeda dari para rabi lainnya. Mengenai pendidikan dan pelatihan formal Yesus sebagai rabi untuk menjadi pengajaran di Bait Allah, adat atau tradisi dalam mengajar orang Yahudi bagi komunitas Yahudi pada waktu itu, juga menjadi persoalan. Oleh sebab itu topik ini sangat menarik untuk diteliti.                 Metode penelitian yang digunakan dalam melaksanakan penelitian ini ialah metode penelitian kualitatif kajian pustaka. Peneliti akan mencari referensi dan hasil penelitian relevan yang kemudian akan diolah untuk menjadi suatu jawaban mengenai permasalahan ini.                 Dengan penelitian ini ditemukan bahwa Yesus sebagai seorang rabi) menyampaikan kritiknya terhadap orang Farisi dan ahli Taurat (berdasarkan Matius 23:1-12), meliputi masalah: nilai/posisi ahli Taurat dan orang Farisi- sebagai rabi, integritas, dan otoritas Yesus sebagai Rabbi sejati, sehingga Yesus mengutuk Ahli Taurat dan Orang Farisi

    Persahabatan Inkarnatif Dalam Mempertahankan Solidaritas Masyarakat Pada Acara Slametan

    Full text link
    Tujuan penelitian: Menganalisis keyakinan warga mempertahankan tradisi Slametan, proses kegiatannya, sebagai media interaksi dan komunikasi dimana terjadi perjumpaan antara komunitas Islam dan Kristen, maka persahabatan Inkarnatif menjadi model pendekatan dalam mempertahankan solidaritas. Metode penelitiannya kualitatif dan kajian literatur. pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian: (1) Tradisi Slametan masih menjadi keyakinan warga, karena memaknai keselamatan, sebagai waktu yang sakral, saat terbaik untuk mengirim doa kepada arwah keluarga, (2) sarana mengumpulkan warga saling berinteraksi. (3) Proses pelaksanaannya pada tiga pedukuhan (Tambuh, Songgoriti dan Krajan / Klumutan) di rumah dan mushola kemudian diakhiri di ruang serbaguna kelurahan Songgokerto (4) Slametan sebagai media komunikasi untuk berinteraksi antar individu, (5) Perilaku tradisi ini berfungsi mempertahankan solidaritas

    Yesus Kristus Sebagai Wahyu Terakhir Allah Dalam Konteks Kitab Ibrani 1:1-4

    Full text link
    Penelitian ini berusaha menjawab tentang sosok Yesus Kristus yang diyakini orang-orang percaya (Kristen) tentang iman mereka yang meyakini seutuhnya bahwa Yesus Kristus (Sang Logos) itu adalah wahyu terakhir Allah, yang mana sebelumnya di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, Allah telah berbicara kepada umat-Nya lewat perantaraan nabi-nabi-Nya kepada Israel. Dan di zaman akhir inilah, Allah berbicara lewat perantaraan Anak-Nya yang diutus ke dalam dunia untuk menggenapi seluruh kitab Perjanjian Lama. Maksud tujuan Yesus Kristus sebagai sebuah penggenapan dari karya Allah untuk keselamatan umat manusia dari kengerian kekal Di dalam sejarah keselamatan manusia, sejak manusia pertama yang diciptakan TUHAN jatuh ke dalam dosa, manusia seharusnya menerima upahnya yaitu mati kekal karena pelanggaran atau ketidaktaatan Adam dan Hawa saat itu (Kejadian 2:17). Tetapi inisiatif Allahlah yang merencanakan keselamatan bagi manusia hingga saat ini (Kejadian 3:21).  Penggenapan itu dengan mengutus Yesus Kristus yang adalah inkarnasi Allah turun ke dalam dunia, masuk dalam sejarah umat manusia. Yesus Kristus berperan sebagai Juruselamat manusia bahkan dikatakan satu-satunya jalan menuju ke Sorga (Yohanes 4:16). Tidak ada seorangpun, pemuka agama manapun, pendiri agama manapun yang dapat melakukan hal ini. Pribadi kedua dari Allah Trinitas inilah yang menjelma menjadi manusia bernama Yesus Kristus, sesuai dengan yang dikatakan kitab suci sebagai Juruselamat manusia. Yesus Kristus menggenapi semua pemberitaan nabi-nabi dalam keseluruhan kitab Perjanjian Lama, mulai dari kitab Taurat, kitab nabi besar dan nabi kecil, artinya sebagai wahyu terakhir atau pernyataan Allah yang final bagi keselamatan umat manusia. Dikatakan sebagai wahyu terakhir karena nubuatan kitab suci mengatakan demikian, dan dipertegas lagi oleh penulis kitab Ibrani bahwa pada zaman akhir, Allah berbicara kepada manusia lewat perantaraan Anak-Nya (Ibrani 1:2).Penelitian ini berusaha menjawab tentang sosok Yesus Kristus yang diyakini orang-orang percaya (Kristen) tentang iman mereka yang meyakini seutuhnya bahwa Yesus Kristus (Sang Logos) itu adalah wahyu terakhir Allah, yang mana sebelumnya di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, Allah telah berbicara kepada umat-Nya lewat perantaraan nabi-nabi-Nya kepada Israel. Dan di zaman akhir inilah, Allah berbicara lewat perantaraan Anak-Nya yang diutus ke dalam dunia untuk menggenapi seluruh kitab Perjanjian Lama. Maksud tujuan Yesus Kristus sebagai sebuah penggenapan dari karya Allah untuk keselamatan umat manusia dari kengerian kekal Di dalam sejarah keselamatan manusia, sejak manusia pertama yang diciptakan TUHAN jatuh ke dalam dosa, manusia seharusnya menerima upahnya yaitu mati kekal karena pelanggaran atau ketidaktaatan Adam dan Hawa saat itu (Kejadian 2:17). Tetapi inisiatif Allahlah yang merencanakan keselamatan bagi manusia hingga saat ini (Kejadian 3:21).  Penggenapan itu dengan mengutus Yesus Kristus yang adalah inkarnasi Allah turun ke dalam dunia, masuk dalam sejarah umat manusia. Yesus Kristus berperan sebagai Juruselamat manusia bahkan dikatakan satu-satunya jalan menuju ke Sorga (Yohanes 4:16). Tidak ada seorangpun, pemuka agama manapun, pendiri agama manapun yang dapat melakukan hal ini. Pribadi kedua dari Allah Trinitas inilah yang menjelma menjadi manusia bernama Yesus Kristus, sesuai dengan yang dikatakan kitab suci sebagai Juruselamat manusia. Yesus Kristus menggenapi semua pemberitaan nabi-nabi dalam keseluruhan kitab Perjanjian Lama, mulai dari kitab Taurat, kitab nabi besar dan nabi kecil, artinya sebagai wahyu terakhir atau pernyataan Allah yang final bagi keselamatan umat manusia. Dikatakan sebagai wahyu terakhir karena nubuatan kitab suci mengatakan demikian, dan dipertegas lagi oleh penulis kitab Ibrani bahwa pada zaman akhir, Allah berbicara kepada manusia lewat perantaraan Anak-Nya (Ibrani 1:2)

    Tantangan dan Peluang Budaya Lokal Dalam Misi Pemberitaan Injil

    Full text link
    Culture is something that cannot be separated from human life. On the other hand, culture is an inseparable part of humans in their totality. There are various cultures in the world and they are local to certain communities. This is the fact that Christians face in carrying out their mission of preaching the Gospel with various difficulties. However, there are opportunities that can become a way of spreading the Gospel, because cultures have points of contact that can be a way of connecting one another. In that case opportunities for preaching the Gospel can be made possible. The method used in this research is the library research method. The results of this research are that, to carry out the mission of preaching the Gospel in local culture, a Gospel preacher must be able to understand the local language and culture, and be able to contextualize it with the social life of the local community.Kebudayaan merupakan hal yang tidak terlepas dari hidup manusia. Sebaliknya kebudayaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia dalam totalitasnya. Ada beragam kebudayaan di dunia dan sifatnya lokal bagi Masyarakat tertentu. Fakta itulah yang dihadapi oleh orang Kristen dalam menjalankan misi pemberitaan Injil dengan berbagai kesulitannya. Meskipun demikian tersedia peluang yang dapat menjadi jalan pemberitaan Injil, sebab kebudayaan mempunyai titik kontak yang dapat menjadi jalan penghubung antara satu dengan yang lainnya. Dalam hal itulah peluang untuk pemberitaan Injil dapat dimungkinkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pustaka. Hasil dari penelitian ini bahwa, untuk melaksanakan misi pemberitaan Injil dalam budaya lokal, maka seorang pemberita Injil harus dapat memahami Bahasa dan budaya setempat, serta mampu berkontekstualisasi dengan kehidupan sosial masyarakat setempat

    Gereja Metaverse dan Aspek Kosmis dari Sang Anak Domba: Tinjauan Kritis Gereja Metaverse berdasarkan Aspek Kosmis dari Anak Domba yang Terdapat dalam Wahyu Pasal 5

    Full text link
    The metaverse Church is a virtual reality church that exists to respond to the demands of these days work culture that is all digital, instant, individualistic, practical, and pragmatic. For the reason of effectiveness and time efficiency, some church members today seem to be starting to shift from conventional models of worship to the virtual church model. But, is virtual reality church theologically correct? This article will discuss the advantages and disadvantages of virtual church reality based on the theological foundations found in The Book of Revelation chapter 5 which contains the cosmic aspect of Christ. This article uses two research methodologies, namely the qualitative literature research method and the biblical interpretation methodology. Through this writing, readers are expected to be able to understand some of the advantages and disadvantages of virtual reality churches.  ________________________________________________________________Gereja metaverse adalah gereja realitas virtual yang hadir untuk menjawab tuntutan zaman yang serba digital, instan, individualistis, praktis, dan pragmatis. Demi efektifitas dan efisiensi waktu, berapa anggota gereja masa kini tampak mulai beralih dari model ibadah yang konvensional ke model yang lebih ramah waktu, salah satunya adalah model gereja realitas virtual. Namun apakah gereja realitas virtual tepat secara teologis? Artikel ini akan membahas tentang kelebihan dan kekurangan gereja realitas virtual berdasarkan dasar-dasar teologis yang ditemukan dalam Wahyu pasal 5 yang berisi tentang aspek kosmis Kristus. Artikel ini menggunakan dua metodologi penelitian, yaitu metode penelitian kualitatif kepustakaan dan metodologi tafsir biblika. Melalui tulisan ini, pembaca diharapkan dapat memahami beberapa kelebihan dan kekurangan gereja realitas virtual. &nbsp

    Tanggung Jawab Misioner Guru Kristen Dalam Dunia Pendidikan

    Full text link
    Education is an important part of the Christian mission because the Lord Jesus himself emphasized it in the Great Commission as a command that must be carried out. This task is for all Christians who are responsible for transmitting God\u27s truth from generation to generation through teaching. The aim of this research is to focus on Christian teachers as a profession and part of all God\u27s people, who are allowed to be preachers and teachers of God\u27s truth to sinners. The hope is that Christian teachers will not only act as professional workers, but more than that they must carry out their missionary duties as a manifestation of God\u27s call to them. The research method used is the library method. The results of this research are that teachers are a noble task because they carry out the main responsibility of the church, namely education as part of the mission. In this regard, the status as a Christian teacher is God\u27s call which confirms his missionary function and responsibility, namely bringing students or students to the knowledge of the Lord Jesus Christ.Pendidikan merupakan bagian penting dari misi Kristen sebab Tuhan Yesus sendiri menegaskannya dalam Amanat Agung sebagai perintah yang harus dilakukan. Tugas tersebut diperuntukkan bagi semua orang Kristen yang bertanggungjawab meneruskan kebenaran Allah dari generasi ke generasi melalui pengajaran. Tujuan penelitian ini difokuskan pada guru Kristen sebagai salah satu profesi sekaligus bagian dari semua umat Allah, yang diperkenankan untuk menjadi pemberita dan pengajar kebenaran Allah kepada orang berdosa. Harapannya agar guru Kristen tidak hanya bertindak sebagai pekerja professional saja, tetapi lebih dari pada itu ia harus menjalankan tugas misionernya sebagai wujud dari panggilan Tuhan kepadanya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah guru adalah tugas mulia sebab ia menjalankan tanggung jawab utama gereja yaitu Pendidikan sebagai bagian dari misi. Sehubungan dengan itu, status sebagai guru agama Kristen adalah panggilan Allah yang menegaskan fungsi dan tanggung jawab misionernya, yaitu membawa murid atau nara didik kepada pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus

    Lingkup Pertumbuhan Gereja: Memahami Hakekat, Ciri dan Tujuan Bergereja

    Full text link
    Church growth is an important thing that cannot be ignored, but the reality is not as expected. This is because a certain number of churches are experiencing a shift until they fall into a decline that has fatal consequences. The causal factor is the church\u27s weakness in realizing its nature and purpose so that it is wrong in its practices, therefore a renewal of awareness is needed. The research method used in this research is a descriptive qualitative method using books, journal articles, mass media both print and online. To answer the problem of church growth, this article explains the essence, characteristics and goals of church which are useful for renewing the church\u27s awareness to rise again from its decline and grow in accordance with God\u27s will.Pertumbuhan gereja adalah hal penting yang tidak dapat diabaikan, namun kenyataan yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Hal tersebut disebabkan karena dalam jumlah tertentu gereja sedang mengalami pergeseran hingga jatuh pada kemerosotan yang berakibat fatal. Faktor penyebabnya adalah kelemahan gereja menyadari hakekat dan tujuannya sehingga salah dalam praktekknya, oleh karena itu diperlukan pembaharuan kesadaran. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan buku, artikel jurnal, media massa baik cetak maupun online. Untuk menjawab masalah pertumbuhan gereja, maka artikel ini memaparkan hakekat, ciri, dan tujuan bergereja yang berguna untuk membaharui kesadaran gereja untuk bangkit kembali dari kemerosotannya dan bertumbuh sesuai dengan kehendak Allah

    Nilai Dan Otoritas Firman Tuhan Menurut Kitab Mazmur 19 Bagi Kehidupan Para Hamba Tuhan

    Full text link
                    Taurat, yakni Firman Allah, merupakan landasan hidup umat Tuhan. Dualoh batu berisi ringkasan dari semua perintah dan ketetapan Tuhan yang diberikan kepada Musa, bagi umat Tuhan. Dua loh batu itu kemudian disimpan dalam tabut perjanjian, yang selalu diletakkan di ruang Maha Kudus, kemah pertemuan atau di Bait Allah. Disebut “kemah pertemuan” atau Bait Allah karena merupakan tempat di mana Allah ingin bersekutu dengan umat-Nya.                 Dalam sejarah bangsa Israel, ternyata mereka sering mendukakan hati Tuhan, dengan mengabaikan atau menyimpang dari Firman Tuhan, yang berdampak dalam kehidupan yang tidak berkenan kepada Tuhan, baik secara spiritual, moral, dan praktis.                 Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bahwa Firman Allah memiliki nilai dan otoritas tinggi dalam hidup orang percaya. Dan metode penelitian yang penulis pakai adalah eksegetis terhadap teks Mazmur 19, dan untuk mendapat data konkrit tetang kehidupan orang percaya dalam kaitannya dengan Firman Tuhan, maka penulis menyebarkan angket, dengan sembilan pertanyaan terbuka dan satu pertanyaan tertutu

    “Jika Ditampar Pipi Kanan, Beri Pipi Kiri”: Pacifisme Kristen sebagai Wujud Iman dalam Pendamaian (Reconciliation) dan Perdamaian (Peace)

    Full text link
    Perlawanan tanpa kekerasan sering dikaitkan dengan istilah pacifisme. Istilah pacifisme berasal dari bahasa Latin yaitu paci- yang berarti “perdamaian” dan –ficus yang berarti “membuat”. Pacifisme adalah komitmen terhadap pengusahaan perdamaian. Namun, karena banyaknya variasi makna dari istilah “perdamaian” itu sendiri, pacifisme didefinisikan secara sederhana sebagai “ideologi anti-perang” atau sebagai komitmen terhadap “anti-kekerasan”. Dalam kaitan dengan melawan kekerasan, pacifisme dalam hal ini mencakup pandangan tentang penolakan akan kekerasan dan penggunaan kekerasan dalam keadaan apapun. Penolakan akan kekerasan ini sendiri bukan berarti sikap diam atau pasif menerima kekerasan tanpa perlawanan (non resistance), tetapi bertindak tanpa kekerasan (non violence).  Dalam tulisan ini akan ditinjau bagaimana pacifisme Kristen yang bepusat pada Yesus Kristus berpengaruh terhadap adanya perdamaian. Pacifisme dalam kekristenan sejatinya adalah suatu bentuk perlawananan terhadap kesenjangan, ketidakadilan dan mengupayakan agar kedamaian dan kesejahteraan hadir di setiap bidang kehidupan. Sebagaimana manusia berdosa yang telah dahulu mengalami pendamaian atau reconciliation dari Yesus Kristus, demikianlah hendaknya hal tersebut disadari sebagai wujud iman umat Kristen sebagai pembawa perdamaian di kehidupannya. Oleh karena itu hidup tanpa kekerasan merupakan suatu tindakan agar tidak muncul kekerasan-kekerasan selanjutnya yang dapat merusak kerukunan umat beragama. Dengan pilihan jalan tanpa kekerasan, berarti bukan mengandalkan senjata dan manipulasi politik sesaat, melainkan justru dengan kerelaan untuk membungkus senjata, mengandalkan diri pada budi luhur, dan kebijaksaan yang membawa pembebasan struktural maupun personal, sebagai upaya untuk menegakkan nilai-nilai warga dunia yaitu kemerdekaan, kesaudaraan, keadilan sosial dan kerakyatan.Perlawanan tanpa kekerasan sering dikaitkan dengan istilah pacifisme. Istilah pacifisme berasal dari bahasa Latin yaitu paci- yang berarti “perdamaian” dan –ficus yang berarti “membuat”. Pacifisme adalah komitmen terhadap pengusahaan perdamaian. Namun, karena banyaknya variasi makna dari istilah “perdamaian” itu sendiri, pacifisme didefinisikan secara sederhana sebagai “ideologi anti-perang” atau sebagai komitmen terhadap “anti-kekerasan”. Dalam kaitan dengan melawan kekerasan, pacifisme dalam hal ini mencakup pandangan tentang penolakan akan kekerasan dan penggunaan kekerasan dalam keadaan apapun. Penolakan akan kekerasan ini sendiri bukan berarti sikap diam atau pasif menerima kekerasan tanpa perlawanan (non resistance), tetapi bertindak tanpa kekerasan (non violence).[1] Dalam tulisan ini akan ditinjau bagaimana pacifisme Kristen yang bepusat pada Yesus Kristus berpengaruh terhadap adanya perdamaian. Pacifisme dalam kekristenan sejatinya adalah suatu bentuk perlawananan terhadap kesenjangan, ketidakadilan dan mengupayakan agar kedamaian dan kesejahteraan hadir di setiap bidang kehidupan. Sebagaimana manusia berdosa yang telah dahulu mengalami pendamaian atau reconciliation dari Yesus Kristus, demikianlah hendaknya hal tersebut disadari sebagai wujud iman umat Kristen sebagai pembawa perdamaian di kehidupannya. Oleh karena itu hidup tanpa kekerasan merupakan suatu tindakan agar tidak muncul kekerasan-kekerasan selanjutnya yang dapat merusak kerukunan umat beragama. Dengan pilihan jalan tanpa kekerasan, berarti bukan mengandalkan senjata dan manipulasi politik sesaat, melainkan justru dengan kerelaan untuk membungkus senjata, mengandalkan diri pada budi luhur, dan kebijaksaan yang membawa pembebasan struktural maupun personal, sebagai upaya untuk menegakkan nilai-nilai warga dunia yaitu kemerdekaan, kesaudaraan, keadilan sosial dan kerakyatan.   [1] Yussar Yanto, Menghadapi Kekerasan dengan Nir-Kekerasan” ,dalam Stop Kekerasan: Pemahaman Alkitab Tentang Nir-Kekerasan Vol 2, Redaksi PT. BPK-Gunung Mulia, 43

    Menelisik Gejolak Spiritualitas Gereja di Tengah Pasang Surut Pandemi Covid-19: Evaluasi bagi Spiritualitas Pasca Pendemi

    Full text link
    Even though Covid-19 appears to be receding and under control, its impact is not over. One of them is related to the spirituality of the church which has surfaced as an expression of Christian faith amid the threat of Covid-19. This article wants to examine the spirituality of the church with the aim of understanding its contents, whether it continues to develop or changes following the ups and downs of Covid-19. This study uses library research methods, both printed and digital libraries which are the source of reference. The results of the study show that the spirituality of the church still has its ups and downs according to the flow of challenges it faces. This condition occurs as it did in previous times. Therefore, the church needs to re-evaluate the weakness and fragility of its spiritual condition to reorient it towards its faith commitment which is based on God\u27s faithfulness towards post-pandemic conditions.Meskipun covid-19 tampak surut dan dapat dikendalikan, namun dampaknya belum usai. Salah satunya adalah terkait spiritualitas gereja yang mengemuka sebagai ekspresi iman orang Kristen di tengah ancaman covid-19. Artikel ini hendak menelisik spiritualitas gereja dengan tujuan memahami kandungannya, apakah terus berkembang atau berubah mengikuti pasang surut covid-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pustaka, baik kepustakaan cetak maupun kepustakaan digital yang menjadi sumber rujukannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, spiritualitas gereja masih mengikut pasang surut seturut dengan alur tantangan yang dihadapi. Kondisi tersebut terjadi sebagaimana halnya yang terjadi pada masa-masa sebelumnya. Karena itu, gereja perlu mengevaluasi kembali kelemahan dan kerapuhan kondisi spiritualitasnya untuk diarahkan kembali pada komitmen imannya yang berpijak pada kesetiaan Allah

    184

    full texts

    188

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Institut Injil Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇