e-Journal Institut Injil Indonesia
Not a member yet
    188 research outputs found

    Peran Pendidikan Swasta Kristen di Indonesia sebagai Suatu Upaya Pelayanan Holistik Misi Kristen

    Full text link
    Pendidikan Kristen ialah pendidikan yang bersumber dan berpusat pada firman Allah. Meskipun demikian, pendidikan Kristen tidak hanya ditujukan kepada orang Kristen saja, melainkan dapat menjangkau berbagai kalangan. Hal inilah yang menggambarkan sikap holistiknya. Harapannya demikian, namun masalah yang sering timbul adalah pendidikan Kristen tidak lagi menunjukkan corak kekristenannya, tetapi sebaliknya bersifat umum sehingga kehilangan kekhususannya. Masalah ini perlu menjadi evaluasi untuk mengembalikannya kepada tujuan misionernya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan sumber-sumber pustaka. Hasil yang ditemukan adalah bahwa, pendidikan Kristen memegang peranan penting dalam pembangunan generasi bangsa baik secara spiritual maupun jasmani searah dengan maksud Injil yang bersifat holistik sebagaimana yang ditekankan dalam Alkitab dalam Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Prinsip ini harus menjadi pokok pendidikan Kristen, sebab pendidikan Kristen dimaksudkan untuk mengajarkan dan mengimplemtasikan kebenaran Injil.Pendidikan Kristen ialah pendidikan yang bersumber dan berpusat pada firman Allah. Meskipun demikian, pendidikan Kristen tidak hanya ditujukan kepada orang Kristen saja, melainkan dapat menjangkau berbagai kalangan. Hal inilah yang menggambarkan sikap holistiknya. Harapannya demikian, namun masalah yang sering timbul adalah pendidikan Kristen tidak lagi menunjukkan corak kekristenannya, tetapi sebaliknya bersifat umum sehingga kehilangan kekhususannya. Masalah ini perlu menjadi evaluasi untuk mengembalikannya kepada tujuan misionernya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan sumber-sumber pustaka. Hasil yang ditemukan adalah bahwa, pendidikan Kristen memegang peranan penting dalam pembangunan generasi bangsa baik secara spiritual maupun jasmani searah dengan maksud Injil yang bersifat holistik sebagaimana yang ditekankan dalam Alkitab dalam Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Prinsip ini harus menjadi pokok pendidikan Kristen, sebab pendidikan Kristen dimaksudkan untuk mengajarkan dan mengimplemtasikan kebenaran Injil

    Peran Guru Sekolah Minggu dalam Menghadapi Anak Nakal pada Usia 12-14 Tahun

    Full text link
    Guru Sekolah Minggu memiliki peran penting dalam membentuk generasi pada keluarga, gereja, dan negara. Anak Sekolah Minggu seringkali diabaikan oleh Gereja. Gereja banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan jemaat-jemaat yang sudah dewasa. Tujuan penelitian ini hendak menemukan peran guru Sekolah Minggu dalam menghadapi anak nakal pada usia 12-14 Tahun. Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil temuan bahwa peran guru Sekolah Minggu adalah: Pertama, dalam praktek mengajar dan membina, guru Sekolah Minggu harus menciptakan suasana yang baru dengan memunculkan kreativitas dalam kegiatan Sekolah Minggu. Kedua, guru Sekolah Minggu harus lebih memahami setiap kepribadian anak yang berbeda-beda dan ada baiknya untuk mengadakan pembinaan atau konseling di luar kegiatan Sekolah Minggu jika mereka memiliki permasalahan. Ketiga, guru Sekolah Minggu harus mengajar dengan penuh kasih dan kesabaran serta tidak membeda-bedakan.Guru Sekolah Minggu memiliki peran penting dalam membentuk generasi pada keluarga, gereja, dan negara. Anak Sekolah Minggu seringkali diabaikan oleh Gereja. Gereja banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan jemaat-jemaat yang sudah dewasa. Tujuan penelitian ini hendak menemukan peran guru Sekolah Minggu dalam menghadapi anak nakal pada usia 12-14 Tahun. Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil temuan bahwa peran guru Sekolah Minggu adalah: Pertama, dalam praktek mengajar dan membina, guru Sekolah Minggu harus menciptakan suasana yang baru dengan memunculkan kreativitas dalam kegiatan Sekolah Minggu. Kedua, guru Sekolah Minggu harus lebih memahami setiap kepribadian anak yang berbeda-beda dan ada baiknya untuk mengadakan pembinaan atau konseling di luar kegiatan Sekolah Minggu jika mereka memiliki permasalahan. Ketiga, guru Sekolah Minggu harus mengajar dengan penuh kasih dan kesabaran serta tidak membeda-bedakan

    Peranan Roh Kudus sebagai Pembimbing kepada Kebenaran Allah: Refleksi Atas Kerohanian Hidup Sehari-Hari

    Full text link
    Konsep mengenai kebenaran Allah merupakan salah satu topik yang sangat penting dan menarik bagi orang Kristen karena topik ini berkaitan dengan bagaimana Allah menjadi sumber dan standar dari segala kebenaran. Peranan roh kudus dalam kehidupan orang percaya bisa dilihat melalui perubahan yang terjadi dalam kehidupan orang tersebut sehingga bisa menjadi pribadi yang memberkati orang yang ada di sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen sering kali tidak menggambarkan identitas kekristenan. Hal tersebut terbukti dari cara hidup yang tidak selaras dengan kebenaran Firman Tuhan. Cara hidup yang tidak selaras dengan kebenaran Firman Tuhan tentunya menjadi bukti bahwa orang percaya memerlukan peranan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, artikel ini dituliskan dengan tujuan untuk membahas mengenai peranan Roh Kudus sebagai penuntun kepada kebenaran Allah sehubungan dengan kerohanian hidup sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian literatur atau kepustakaan. Dalam metode ini peneliti mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi informasi dari berbagai sumber literatur yang relevan dengan topik penelitian. Dari hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, Roh Kudus memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Dalam hidup sehari-hari, Roh Kudus mempengaruhi tindakan manusia melalui beberapa cara, seperti mengubah sifat manusia, memberikan karunia-karunia rohani, membimbing orang Kristen dalam mengambil keputusan yang benar, menguduskan orang percaya, dan mengubah pikiran manusia.Konsep mengenai kebenaran Allah merupakan salah satu topik yang sangat penting dan menarik bagi orang Kristen karena topik ini berkaitan dengan bagaimana Allah menjadi sumber dan standar dari segala kebenaran. Peranan roh kudus dalam kehidupan orang percaya bisa dilihat melalui perubahan yang terjadi dalam kehidupan orang tersebut sehingga bisa menjadi pribadi yang memberkati orang yang ada di sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen sering kali tidak menggambarkan identitas kekristenan. Hal tersebut terbukti dari cara hidup yang tidak selaras dengan kebenaran Firman Tuhan. Cara hidup yang tidak selaras dengan kebenaran Firman Tuhan tentunya menjadi bukti bahwa orang percaya memerlukan peranan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, artikel ini dituliskan dengan tujuan untuk membahas mengenai peranan Roh Kudus sebagai penuntun kepada kebenaran Allah sehubungan dengan kerohanian hidup sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian literatur atau kepustakaan. Dalam metode ini peneliti mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi informasi dari berbagai sumber literatur yang relevan dengan topik penelitian. Dari hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, Roh Kudus memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Dalam hidup sehari-hari, Roh Kudus mempengaruhi tindakan manusia melalui beberapa cara, seperti mengubah sifat manusia, memberikan karunia-karunia rohani, membimbing orang Kristen dalam mengambil keputusan yang benar, menguduskan orang percaya, dan mengubah pikiran manusia

    Persepsi Gembala Jemaat Mengenai Pastoral Konseling

    Full text link
    Pastoral Konseling merupakan salah satu aspek penting di dalam pelayanan gereja. Pelayanan ini berkaitan dengan tugas penggembalaan dan lebih sering melakukan pendampingan kepada jemaat-jemaat yang memiliki masalah baik secara pribadi, keluarga bahkan juga pekerjaan dan lingkungan masyarakat. Pastoral Konseling menjadi bagian integral dari penggembalaan itu senidir. Melalui pelayanan ini jemaat dapat mengalami kedewasaan dan pertumbuhan rohani yang sehat. Jemaat lebih siap menghadapi masalah persoalan dan mengalami perubahan dalam hal karakter pada khususnya. Pelayanan pastoral konseling jarang terlihat dilakukan di Gereja Jemaat Kristus Indonesia “Mahanaim” Blitar, hal ini mendorong peneliti untuk meneliti dan memperoleh pengetahuan mengenai persepsi gembala jemaat mengenai pastoral konseling   dan   apa yang   melatarbelakanginya.   Penelitian   ini mengunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti mengumpulkan data dan melakukan coding data serta menganalisis data wawancara tersebut mengunakan software Nvivo 12. Hasilnya persepsi gembala jemaat mengenai pastoral konseling adalah   sebagai   media   pendampingan,   membangun komunikasi gembala dengan jemaat, wadah perjumpaan jemaat dengan Kristus dan bentuk dari penggembalaan itu sendiri. Hasil penelitian ini telah diuji keabsahan data penelitiannya dengan menggunakan Uji Triangulasi Sumber dengan rumus uji Kappa Koefisien, dan memperoleh hasil sebesar 0,80 atau 80% tingkat kesesuaian jawaban informan. Sehingga tingkat kesesuaian sangat tinggi dan keabsahan data penelitian dapat dikatakan sangat valid.Pastoral Konseling merupakan salah satu aspek penting di dalam pelayanan gereja. Pelayanan ini berkaitan dengan tugas penggembalaan dan lebih sering melakukan pendampingan kepada jemaat-jemaat yang memiliki masalah baik secara pribadi, keluarga bahkan juga pekerjaan dan lingkungan masyarakat. Pastoral Konseling menjadi bagian integral dari penggembalaan itu senidir. Melalui pelayanan ini jemaat dapat mengalami kedewasaan dan pertumbuhan rohani yang sehat. Jemaat lebih siap menghadapi masalah persoalan dan mengalami perubahan dalam hal karakter pada khususnya. Pelayanan pastoral konseling jarang terlihat dilakukan di Gereja Jemaat Kristus Indonesia “Mahanaim” Blitar, hal ini mendorong peneliti untuk meneliti dan memperoleh pengetahuan mengenai persepsi gembala jemaat mengenai pastoral konseling   dan   apa yang   melatarbelakanginya.   Penelitian   ini mengunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti mengumpulkan data dan melakukan coding data serta menganalisis data wawancara tersebut mengunakan software Nvivo 12. Hasilnya persepsi gembala jemaat mengenai pastoral konseling adalah   sebagai   media   pendampingan,   membangun komunikasi gembala dengan jemaat, wadah perjumpaan jemaat dengan Kristus dan bentuk dari penggembalaan itu sendiri. Hasil penelitian ini telah diuji keabsahan data penelitiannya dengan menggunakan Uji Triangulasi Sumber dengan rumus uji Kappa Koefisien, dan memperoleh hasil sebesar 0,80 atau 80% tingkat kesesuaian jawaban informan. Sehingga tingkat kesesuaian sangat tinggi dan keabsahan data penelitian dapat dikatakan sangat valid

    Pelayanan Pastoral Terhadap Orang yang Berdukacita Karena Kematian Kerabat yang Dikasihi

    Full text link
    Dukacita atau kedukaan merupakan situasi dimana seseorang mengalami keadaan yang sangat memilukan atau menyedihkan dalam hidupnya, karena terputusnya hubungan dengan orang yang dikasihi, terlebih itu dikarenakan kematian, Dimana hubungan akan terputus untuk selama-lamanya. Situasi ini merupakan hal yang serius karena kedukaan menyebabkan gangguan pada seluruh aspek kehidupan baik itu psikologis maupun spiritualitas, yang jika tidak disikapi dengan baik akan berakibat fatal, bisa menyebabkan kesedihan yang berkelanjutan, depresi atau stress dan bahkan bunuh diri. Maka diperlukan pelayanan pastoral dengan tujuan mendampingi orang atau keluarga yang sedang berdukacita untuk pulih dan menjalani kehidupan kembali dengan penuh semangat dan berpengharapan didalam Tuhan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan langkah-langkah: pengumpulan, klasifikasi dan analisis, membuat kesimpulan dan laporan dengan tujuan utama untuk membuat penggambaran tentang suatu keadaan secara objektif dalam suatu deskripsi. Hasil penelitian ini ialah  kedukaan merupakan situasi yang pasti akan dialami oleh semua orang, kedukaan yang sangat menyakitkan ialah kematian orang yang dikasihi, tingkat kedukaan dipengaruhi oleh hubungan orang yang ditinggalkan dengan yang meninggal dan penyebab kematiannya, peran pelayanan pastoral sangat penting untuk mendampingi orang yang berdukcita sehingga mengalami pemulihan.Dukacita atau kedukaan merupakan situasi dimana seseorang mengalami keadaan yang sangat memilukan atau menyedihkan dalam hidupnya, karena terputusnya hubungan dengan orang yang dikasihi, terlebih itu dikarenakan kematian, Dimana hubungan akan terputus untuk selama-lamanya. Situasi ini merupakan hal yang serius karena kedukaan menyebabkan gangguan pada seluruh aspek kehidupan baik itu psikologis maupun spiritualitas, yang jika tidak disikapi dengan baik akan berakibat fatal, bisa menyebabkan kesedihan yang berkelanjutan, depresi atau stress dan bahkan bunuh diri. Maka diperlukan pelayanan pastoral dengan tujuan mendampingi orang atau keluarga yang sedang berdukacita untuk pulih dan menjalani kehidupan kembali dengan penuh semangat dan berpengharapan didalam Tuhan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan langkah-langkah: pengumpulan, klasifikasi dan analisis, membuat kesimpulan dan laporan dengan tujuan utama untuk membuat penggambaran tentang suatu keadaan secara objektif dalam suatu deskripsi. Hasil penelitian ini ialah  kedukaan merupakan situasi yang pasti akan dialami oleh semua orang, kedukaan yang sangat menyakitkan ialah kematian orang yang dikasihi, tingkat kedukaan dipengaruhi oleh hubungan orang yang ditinggalkan dengan yang meninggal dan penyebab kematiannya, peran pelayanan pastoral sangat penting untuk mendampingi orang yang berdukcita sehingga mengalami pemulihan

    Sinergitas Penyataan Allah dan Respon Orang Percaya Beribadah: Kajian Biblis Roma 12:1

    Full text link
    Ibadah merupakan suatu aktifitas religious yang mencerminkan intimasi seseorang dengan Allah yang disembahnya. Hal ini merupakan konsepsi umum dari pluralitas agama yang ada di dunia. Ibadah sering dipahami secara umum sebagai kegiatan agamawi setiap agama kepada Tuhan yang disembahnya. Dalam konteks ke-Kristenan sendiri ibadah juga dianggap sebagai kegiatan agamawi yang harus dilakukan oleh setiap umat Kristen baik secara komunal maupun secara personal. Akibatnya kegiatan ibadah Kristen terkesan hanyalah seremonial dan formalitas belaka. Melalui penelitian ini, peneliti ingin menemukan persepsi biblis (Alkitabiah) dengan memaparkan hakikat Ibadah dalam perspektif Roma 12:1 untuk menjelaskan sinergitas penyataan Allah dan respon manusia dalam konteks ibadahnya. Peneliti menggunakan metode Exegetis dengan pendekatan kualitatif, dengan menganalisis konteks dan teks Roma 12:1 agar memahami makna yang mendalam terkait penyataan Allah dan respon manusia beribadah.  Berdasarkan hasil exegetis, Peneliti menemukan konsep dasar Paulus mengenai Ibadah, yang di dalamnya memiliki sinergitas antara penyataan Allah dan respon manusia beribadah melalui 1) Ibadah merupakan inisiatif dan kehendak Allah; 2) Ibadah adalah Persembahan Diri Manusia Sebagai Respon kepada Allah. Jadi, penyataan Allah yang dimulai dari inisiatif dan kehendak Allah dan respon manusia sama-sama berperan penting untuk mewujudkan ibadah yang berkenan di hadapan Allah.Ibadah merupakan suatu aktifitas religious yang mencerminkan intimasi seseorang dengan Allah yang disembahnya. Hal ini merupakan konsepsi umum dari pluralitas agama yang ada di dunia. Ibadah sering dipahami secara umum sebagai kegiatan agamawi setiap agama kepada Tuhan yang disembahnya. Dalam konteks ke-Kristenan sendiri ibadah juga dianggap sebagai kegiatan agamawi yang harus dilakukan oleh setiap umat Kristen baik secara komunal maupun secara personal. Akibatnya kegiatan ibadah Kristen terkesan hanyalah seremonial dan formalitas belaka. Melalui penelitian ini, peneliti ingin menemukan persepsi biblis (Alkitabiah) dengan memaparkan hakikat Ibadah dalam perspektif Roma 12:1 untuk menjelaskan sinergitas penyataan Allah dan respon manusia dalam konteks ibadahnya. Peneliti menggunakan metode Exegetis dengan pendekatan kualitatif, dengan menganalisis konteks dan teks Roma 12:1 agar memahami makna yang mendalam terkait penyataan Allah dan respon manusia beribadah.  Berdasarkan hasil exegetis, Peneliti menemukan konsep dasar Paulus mengenai Ibadah, yang di dalamnya memiliki sinergitas antara penyataan Allah dan respon manusia beribadah melalui 1) Ibadah merupakan inisiatif dan kehendak Allah; 2) Ibadah adalah Persembahan Diri Manusia Sebagai Respon kepada Allah. Jadi, penyataan Allah yang dimulai dari inisiatif dan kehendak Allah dan respon manusia sama-sama berperan penting untuk mewujudkan ibadah yang berkenan di hadapan Allah

    Persoalan Hermeneutis tentang Konsep Allah Kaum Feminis Berdasarkan Perspektif Teologi Injili

    Full text link
    Teologi Feminis merupakan teologi yang dibangun berdasakan perspektif kaum Perempuan yang berdampak pada cara tefsir terhadap Alkitab. Prinsip hermeneutik atau penafsiran yang digunakan bertolak pada pengalaman konteks, sehingga otoritas teks Alkitab tidak dimutlakkan melainkan terbuka bagi kritik. Dari upaya tersebut, Allah pun kemudian ditafsir dari perspektif gender. Masalah inilah yang menjadi tujuan penelitian, sebab berdampak juga pada kekeliruan berteologi khususnya dari kalangan kaum Injili. Masalah yang disoroti di sini adalah terkait persoalan hermeneutis yang turut memengaruhi cara berteologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini adalah bahwa hermeneutik kaum feminis telah menyebabkan kekeliruan berteologi melalui metode pendekatan terhadap Alkitab yang tidak kredibel. Teologi feminis juga memakai Alkitab sebagai sumber yang mendukung asumsi teologi mereka, namun tidak dengan tujuan mempertahankan otoritasnya. Sebaliknya teks Alkitab dibiarkan terbuka bagi kemungkinan baru melalui kritik demi melayani kepentingan konteks. Feminisme menempatkan Alkitab dibawah perspektif pengalaman manusia, sehingga mendistorsi kewibawaannya. Hal tersebut bertolak belakang dengan kaum injili yang memegang teguh kemutlakan Alkitab sebagai firman Allah.Teologi Feminis merupakan teologi yang dibangun berdasakan perspektif feminis. Kaum feminis melakukan penyelidikan terhadap Alkitab berdasarkan perspektif mereka. Prinsip hermeneutik atau penafsiran yang digunakan bertolak pada pengalaman, sehingga teks kehilangan otoritasnya. Hal tersebut memicu munculnya paham tentang Allah yang dipandang dari perspektif gender.  Pola berteologi seperti itu merupakan suatu kekeliruan yang berseberangan dengan kebenaran Alkitab sebagai firman Allah yang berotoritas. Hal inilah mendorong penulis untuk mengadakan penelitian guna menemukan akar persoalannya dan memberikan pandangan-pandangan kritis dari perspektif teologi injili yang merupakan basis teologi penulis. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan metode Penelitian Kualitatif deskriftif. Metode penelitian ini berkaitan dengan pengumpulan data yakni memberikan deskripsi dan penegasan suatu konsep. Penelitian kualitatif ini bersifat deskriftif analisis, yaitu menganalisa suatu konsep tidak menggunakan angka-angka. Selain itu penelitian kualitatif mengutamakan makna yang diperoleh dari persepsi dan asumsi atas suatu masalah. Hasil penelitian ini adalah bahwa hermeneutik teologi feminis telah keliru dalam menafsir Alkitab, oleh karena metode pendekatan terhadap Alkitab yang tidak kredibel. Teologi feminis juga memakai Alkitab sebagai pendukung teologi mereka, namun mereka pun memberi ruang sebebas-bebasnya untuk mengkritik Alkitab. Feminisme menempatkan Alkitab dibawah perspektif manusia (pengalaman), sehingga membawa teologinya pada distorsi yang ekstrim terhadap kebenaran Alkitab. Dengan demikian problematika teologi ini perlu dibenahi baik dalam tataran konseptual maupun praksis berteologi

    Sorotan Etis Kristen Terhadap Eksploitasi Seksual di Kalangan Remaja

    Full text link
    Manusia diciptakan Allah khusus dengan seks yang bertujuan untuk memuliakan-Nya dan menggenapi tujuan-Nya. Allah menyetujui aktivitas seksual tetapi wadah bagi ekspresi seksual tersebut hanya di dalam pernikahan (Kej. 2:24-25) sehingga ekspresi seksual menjadi eksklusif, intim, permanen, menggembirakan dan mengikat. Oleh karna itu, semua aktivitas seks diluar pernikahan merupakan suatu tindakan yang melanggar perintah Allah.Cara pandang dan perilaku terhadap seks yang berubah terjadi karena dosa mencemari seluruh bagian dalam diri manusia (total depravity). Ketika manusia jatuh di dalam dosa maka “...segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,” (Kej. 6:5) sehingga mengakibatkan seks seringkali digunakan untuk kesenangan dan untuk melampiaskan hasrat seksual dengan mengabaikan siapa yang menjadi objeknya. Inilah yang memunculkan begitu banyak pernyimpangan seksual dimana perempuan mengalami kekerasan seksual maupun eksploitasi seksual. Tujuan Penelitian adalah untuk menjelaskan sorotan etis Kristen terhadap eksploitasi seksual. Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian literatur. Hasil penelitian yang diperoleh adalah eksploitasi seksual adalah kejahatan yang sudah dan sedang terjadi di dalam masyarakat dan korbannya adalah anak-anak yang berusia remaja. Faktor pemicu anak rentan menjadi korban eksploitasi seksual adalah karena keterbatasan kemampuan fisik anak, psikis, sosial dan pengetahuan, juga berasal dari orang terdekat yang terdesak dengan kebutuhan, bahkan pacar bisa menjadi mucikari yang dengan sengaja menjual korban untuk mendapatkan keuntungan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tindakan eksploitasi seksual adalah tindakan yang melanggar etika Kristen,  bertentangan dengan hakekat seksualitas, bertentangan dengan tujuan seksualitas, dan eksploitasi seksual bertentangan dengan natur manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah. Eksploitasi seksual sangat nyata melanggar Firman Tuhan.Manusia diciptakan Allah khusus dengan seks yang bertujuan untuk memuliakan-Nya dan menggenapi tujuan-Nya. Allah menyetujui aktivitas seksual tetapi wadah bagi ekspresi seksual tersebut hanya di dalam pernikahan (Kej. 2:24-25) sehingga ekspresi seksual menjadi eksklusif, intim, permanen, menggembirakan dan mengikat. Oleh karna itu, semua aktivitas seks diluar pernikahan merupakan suatu tindakan yang melanggar perintah Allah.Cara pandang dan perilaku terhadap seks yang berubah terjadi karena dosa mencemari seluruh bagian dalam diri manusia (total depravity). Ketika manusia jatuh di dalam dosa maka “...segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,” (Kej. 6:5) sehingga mengakibatkan seks seringkali digunakan untuk kesenangan dan untuk melampiaskan hasrat seksual dengan mengabaikan siapa yang menjadi objeknya. Inilah yang memunculkan begitu banyak pernyimpangan seksual dimana perempuan mengalami kekerasan seksual maupun eksploitasi seksual. Tujuan Penelitian adalah untuk menjelaskan sorotan etis Kristen terhadap eksploitasi seksual. Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian literatur. Hasil penelitian yang diperoleh adalah eksploitasi seksual adalah kejahatan yang sudah dan sedang terjadi di dalam masyarakat dan korbannya adalah anak-anak yang berusia remaja. Faktor pemicu anak rentan menjadi korban eksploitasi seksual adalah karena keterbatasan kemampuan fisik anak, psikis, sosial dan pengetahuan, juga berasal dari orang terdekat yang terdesak dengan kebutuhan, bahkan pacar bisa menjadi mucikari yang dengan sengaja menjual korban untuk mendapatkan keuntungan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tindakan eksploitasi seksual adalah tindakan yang melanggar etika Kristen,  bertentangan dengan hakekat seksualitas, bertentangan dengan tujuan seksualitas, dan eksploitasi seksual bertentangan dengan natur manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah. Eksploitasi seksual sangat nyata melanggar Firman Tuhan

    Menyasar Peluang Pemberitaan Injil dalam Lintasan Arus Informasi di Media Sosial

    Full text link
    Injil adalah berita keselamatan yang harus diberitakan dan semua orang percaya bertanggung jawab atas tugas tersebut. Untuk menjalankan peran tersebut media sosial adalah salah satu ruang yang tersedia serta peluang untuk memerankan tugas pemberitaan Injil. Tujuan penelitian ini adalah menyasar peluang pemberita Injil di tengah ruang bebas teknologi informasi yang terbuka lebar serta padat dengan lalu lintas informasi yang tidak terbendung. Ruang tersebut dengan sendirinya menjadi peluang sebab informasi yang disebarkan adalah hak pengguna media sosial. Meskipun bebas, namun tidak mudah untuk menarik pengunjung yang sedang mengalihkan perhatian pada ragam informasi menarik lainnya. Kenyataan ini dengan sendirinya memerlukan kreatifitas gereja dan orang percaya dalam mempresentasikan berita Injil melalui media sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa, media sosial adalah ruang bebas bagi para penggunannya untuk menyebarkan informasi yang mereka inginkan. Dalam ruang tersebut berita Injil mendapat peluang yang efektif, namun diperlukan kemasan yang menarik untuk dikunjungi oleh para penjelajah informasi di media sosial. Untuk menyikapinya, maka diperlukan Sumber Daya Manusia yang berkompetensi guna menjalankan perannya secara professional dengan keahlian yang dimilikinya untuk mempresentasikan kemuliaan Allah secara kreatif bagi generasi masa kini.Injil adalah berita keselamatan yang harus diberitakan dan semua orang percaya bertanggung jawab atas tugas tersebut. Untuk menjalankan peran tersebut media sosial adalah salah satu ruang yang tersedia serta peluang untuk memerankan tugas pemberitaan Injil. Tujuan penelitian ini adalah menyasar peluang pemberita Injil di tengah ruang bebas teknologi informasi yang terbuka lebar serta padat dengan lalu lintas informasi yang tidak terbendung. Ruang tersebut dengan sendirinya menjadi peluang sebab informasi yang disebarkan adalah hak pengguna media sosial. Meskipun bebas, namun tidak mudah untuk menarik pengunjung yang sedang mengalihkan perhatian pada ragam informasi menarik lainnya. Kenyataan ini dengan sendirinya memerlukan kreatifitas gereja dan orang percaya dalam mempresentasikan berita Injil melalui media sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa, media sosial adalah ruang bebas bagi para penggunannya untuk menyebarkan informasi yang mereka inginkan. Dalam ruang tersebut berita Injil mendapat peluang yang efektif, namun diperlukan kemasan yang menarik untuk dikunjungi oleh para penjelajah informasi di media sosial. Untuk menyikapinya, maka diperlukan Sumber Daya Manusia yang berkompetensi guna menjalankan perannya secara professional dengan keahlian yang dimilikinya untuk mempresentasikan kemuliaan Allah secara kreatif bagi generasi masa kini

    Tinjauan Teologis Terhadap Konsep Predestinasi Berdasarkan Injil Yohanes 6:44 dan Implikasinya bagi Orang Percaya

    Full text link
    Konsep predestinasi adalah suatu gagasan Alkitab yang menyatakan bahwa sejak semula Allah telah memilih bagi-Nya siapa yang akan diselamatkan. Dalam sejarah kekristenan, konsep ini sering diperdebatkan di sepanjang abad. Pemahaman yang berbeda terhadap konsep ini melahirkan doktrin keselamatan yang juga berbeda. Ditengah pemahaman yang beragam ini, Yohanes 6:44 mampu memberikan solusi yang teologis untuk mengevaluasi kekeliruan pemahaman terhadap konsep predestinasi. Berdasarkan Yohanes 6:44, konsep predestinasi berhasil dirangkum menjadi suatu kesatuan yang utuh juga sistematis, logis dan teologis yaitu ketidakmampuan secara total, Bapa menarik secara efektif, Yesus sebagai pusat predestinasi, dan kebangkitan orang-orang pilihan. Memaknai konsep predestinasi dengan benar adalah bentuk komitmen kepada Allah yang wajib bagi setiap orang percaya sehingga berdampak bagi pertumbuhan iman bahkan juga kemuliaan bagi Allah yang berdaulat, Tuhan Yesus Kristus.Konsep predestinasi adalah suatu gagasan Alkitab yang menyatakan bahwa sejak semula Allah telah memilih bagi-Nya siapa yang akan diselamatkan. Dalam sejarah kekristenan, konsep ini sering diperdebatkan di sepanjang abad. Pemahaman yang berbeda terhadap konsep ini melahirkan doktrin keselamatan yang juga berbeda. Ditengah pemahaman yang beragam ini, Yohanes 6:44 mampu memberikan solusi yang teologis untuk mengevaluasi kekeliruan pemahaman terhadap konsep predestinasi. Berdasarkan Yohanes 6:44, konsep predestinasi berhasil dirangkum menjadi suatu kesatuan yang utuh juga sistematis, logis dan teologis yaitu ketidakmampuan secara total, Bapa menarik secara efektif, Yesus sebagai pusat predestinasi, dan kebangkitan orang-orang pilihan. Memaknai konsep predestinasi dengan benar adalah bentuk komitmen kepada Allah yang wajib bagi setiap orang percaya sehingga berdampak bagi pertumbuhan iman bahkan juga kemuliaan bagi Allah yang berdaulat, Tuhan Yesus Kristus

    184

    full texts

    188

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Institut Injil Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇