e-Journal Institut Injil Indonesia
Not a member yet
    188 research outputs found

    Mengusik Ekslusivisme dalam Pelayanan Okultisme Serta Tanggapan Teologisnya: Harus Memiliki Kualifikasi, Namun Tidak Ekslusif

    Full text link
    Pelayanan okultisme merupakan salah satu pelayanan yang penting dalam kekristenan, sebab berkaitan langsung dengan tantangan utama iman Kristen yaitu kuasa Iblis. Sudah semestinnya pelayanan ini dapat dilakukan oleh semua orang percaya yang telah diselamatkan, namun kenyataannya tidak demikian sebab yang sering tampak adalah pelayanan tersebut ditangani oleh figur-figur ekslusif yang dianggap khusus dan lebih berkompetensi. Hal ini menjadi masalah sebab dapat menggiring pelayanan Tuhan Yesus yang telah didelegasikan kepada gereja dan orang percaya masuk dalam ekslusivisme yang sempit. Tujuan penelitian ini adalah mengusik masalah eksluvisme dalam pelayanan okultisme sebagaimana yang sering terjadi melalui penyelidikan, dan kemudian memberikan tanggapan teologis atas masalah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis isi dengan mengacu pada teks-teks jurnal online dan buku cetak. Hasil dari pembahasan ini adalah bahwa pelayanan okultisme dapat dilakukan oleh semua orang percaya yang telah diselamatkan dan hidup di bawah kuasa Tuhan Yesus Kristus. Beberapa kualifikasi yang perlu adalah kualifikasi diri yang diselamatkan, kualifikasi spiritualitas hidup yang baik berdasarkan prinsi-prinsip teologis dan alkitabiah, serta kualifikasi moral yang baik menurut iman dan etika Kristen. Kualifikasi-kualifikasi tersebut mutlak diperlukan, namun tidak bersifat ekslusif.Pelayanan okultisme merupakan salah satu pelayanan yang penting dalam kekristenan, sebab berkaitan langsung dengan tantangan utama iman Kristen yaitu kuasa Iblis. Sudah semestinnya pelayanan ini dapat dilakukan oleh semua orang percaya yang telah diselamatkan, namun kenyataannya tidak demikian sebab yang sering tampak adalah pelayanan tersebut ditangani oleh figur-figur ekslusif yang dianggap khusus dan lebih berkompetensi. Hal ini menjadi masalah sebab dapat menggiring pelayanan Tuhan Yesus yang telah didelegasikan kepada gereja dan orang percaya masuk dalam ekslusivisme yang sempit. Tujuan penelitian ini adalah mengusik masalah eksluvisme dalam pelayanan okultisme sebagaimana yang sering terjadi melalui penyelidikan, dan kemudian memberikan tanggapan teologis atas masalah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis isi dengan mengacu pada teks-teks jurnal online dan buku cetak. Hasil dari pembahasan ini adalah bahwa pelayanan okultisme dapat dilakukan oleh semua orang percaya yang telah diselamatkan dan hidup di bawah kuasa Tuhan Yesus Kristus. Beberapa kualifikasi yang perlu adalah kualifikasi diri yang diselamatkan, kualifikasi spiritualitas hidup yang baik berdasarkan prinsi-prinsip teologis dan alkitabiah, serta kualifikasi moral yang baik menurut iman dan etika Kristen. Kualifikasi-kualifikasi tersebut mutlak diperlukan, namun tidak bersifat ekslusif

    Pentingnya Penginjilan Terhadap Orang Yang Terlibat Okultisme Dalam Kisah Para Rasul 19: 1-20

    Full text link
    Penginjilan memiliki peran krusial dalam membantu jemaat memahami dan menghindari praktik okultisme. Okultisme, yang berasal dari kata "occult" (gelap, tersembunyi) dan "isme" (paham), merujuk pada kepercayaan terhadap kekuatan gaib di luar kuasa Tuhan. Kepercayaan ini sering mengarah pada praktik-praktik yang melibatkan roh-roh dan kekuatan supernatural, seperti mitos, perbintangan, dan ritual adat yang dapat menjebak individu dalam kuasa kegelapan. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana penginjilan dapat mencegah keterlibatan jemaat dalam okultisme dengan menekankan pentingnya pemahaman dan pengajaran yang benar tentang hal tersebut. Teks Kisah Para Rasul 19:1-20 dijadikan dasar untuk menganalisis penginjilan Paulus dalam menghadapi praktik okultisme di Efesus. Melalui survei terhadap penelitian-penelitan terdahulu, tampaknya belum ada yang mengkaitkan teks Kisah Para Rasul 19:1-20 dengan pentingnya penginjilan terhadap praktik okultisme. Penelitian ini menggunkana metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, serta metode hermeneutik untuk menganalisi teks Alkitab. Penelitian ini menemukan bahwa penginjilan tidak hanya penting untuk menyebarkan Injil tetapi juga untuk mengatasi tantangan kontemporer seperti okultisme. Melalui metode penelitian kualitatif pendekatan kepustakaan, juga diperkaya dengan hermeneutika analisis deskriptif, penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja perlu mengintegrasikan pentingnya penginjilan terhadap orang-orang yang terlibat praktik okultisme.Penginjilan memiliki peran krusial dalam membantu jemaat memahami dan menghindari praktik okultisme. Okultisme, yang berasal dari kata "occult" (gelap, tersembunyi) dan "isme" (paham), merujuk pada kepercayaan terhadap kekuatan gaib di luar kuasa Tuhan. Kepercayaan ini sering mengarah pada praktik-praktik yang melibatkan roh-roh dan kekuatan supernatural, seperti mitos, perbintangan, dan ritual adat yang dapat menjebak individu dalam kuasa kegelapan. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana penginjilan dapat mencegah keterlibatan jemaat dalam okultisme dengan menekankan pentingnya pemahaman dan pengajaran yang benar tentang hal tersebut. Teks Kisah Para Rasul 19:1-20 dijadikan dasar untuk menganalisis penginjilan Paulus dalam menghadapi praktik okultisme di Efesus. Melalui survei terhadap penelitian-penelitan terdahulu, tampaknya belum ada yang mengkaitkan teks Kisah Para Rasul 19:1-20 dengan pentingnya penginjilan terhadap praktik okultisme. Penelitian ini menggunkana metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, serta metode hermeneutik untuk menganalisi teks Alkitab. Penelitian ini menemukan bahwa penginjilan tidak hanya penting untuk menyebarkan Injil tetapi juga untuk mengatasi tantangan kontemporer seperti okultisme. Melalui metode penelitian kualitatif pendekatan kepustakaan, juga diperkaya dengan hermeneutika analisis deskriptif, penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja perlu mengintegrasikan pentingnya penginjilan terhadap orang-orang yang terlibat praktik okultisme

    Mendidik Kesadaran Gereja Terhadap Tugas Misi Allah

    Full text link
    Misi Allah adalah tugas utama gereja dan orang percaya yang mesti ditunaikan, namun hal tersebut tampaknya kurang disadari oleh kalangan tertentu dalam tubuh gereja. Penelitian ini bertujuan mengemukakan pentingnya kesadaran gereja sebagai jalan meningkatkan pemahaman tentang misi Allah yang menghantar gereja berpartisipasi aktif di dalamnya demi menyelamatkan dunia dari dosa. Salah satu upaya yang efektif dalam membangun kesadaran gereja adalah melalui pendidikan sebagai wadah membentuk murid Kristus secara berkelanjutan. Pendidikan yang dimaksudkan adalah pendidikan secara formal maupun non formal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan menggunakan buku dan artikel jurnal secara selektif sesuai pokok penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pendidikan merupakan upaya yang efektif dan efisien dalam membangun kesadaran gereja akan tugas dan tanggung jawab misionernya. Perkembangan kekristenan dan pertumbuhan gereja, serta pergerakan misi yang meluas di berbagai belahan dunia mengonfirmasi indikator tersebut.Misi Allah adalah tugas utama gereja dan orang percaya yang mesti ditunaikan, namun hal tersebut tampaknya kurang disadari oleh kalangan tertentu dalam tubuh gereja. Penelitian ini bertujuan mengemukakan pentingnya kesadaran gereja sebagai jalan meningkatkan pemahaman tentang misi Allah yang menghantar gereja berpartisipasi aktif di dalamnya demi menyelamatkan dunia dari dosa. Salah satu upaya yang efektif dalam membangun kesadaran gereja adalah melalui pendidikan sebagai wadah membentuk murid Kristus secara berkelanjutan. Pendidikan yang dimaksudkan adalah pendidikan secara formal maupun non formal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan menggunakan buku dan artikel jurnal secara selektif sesuai pokok penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pendidikan merupakan upaya yang efektif dan efisien dalam membangun kesadaran gereja akan tugas dan tanggung jawab misionernya. Perkembangan kekristenan dan pertumbuhan gereja, serta pergerakan misi yang meluas di berbagai belahan dunia mengonfirmasi indikator tersebut

    Penerapan Pujian Orang Percaya kepada Allah: Saluran, Manfaat, dan Lingkupnya

    Full text link
    Manusia diciptakan Allah khusus dengan seks yang bertujuan untuk memuliakan-Nya dan Masalah yang mendasari implementasi pujian orang percaya/kristen kepada Allah adalah kebutuhan orang percaya dalam memiliki hubungan yang kuat dengan Allah yang dilakukan melalui pujian. Namun, seringkali tantangan yang dihadapi adalah kurangnya impelementasi akan makna dan cara yang benar dalam melakukan pujian. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam implementasi pujian ini adalah studi pustaka yang melibatkan pengajaran yang benar mengenai prinsip-prinsip pujian yang bermakna. Tujuan dari implementasi pujian ini adalah agar orang percaya dapat mengalami pertumbuhan spiritual dan hubungan yang lebih dalam dengan Allah melalui pujian yang memuliakan-Nya. Pujian juga dapat mendorong orang percaya untuk memperkuat persepsi dan iman mereka terhadap karakter Allah. Hasil yang diharapkan dari implementasi pujian adalah terciptanya sebuah lingkungan pujian yang bersahabat dan kebersamaan yang saling mendukung sehingga tercipta sebuah iklim pujian yang bermakna dalam setiap kegiatan ibadah yang dilakukan. Hal ini tentunya akan berdampak positif pada kesehatan rohani dan mental setiap individu yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Dalam kesimpulan, implementasi pujian orang percaya/kristen kepada Allah adalah sebuah upaya yang penting untuk membangun hubungan yang lebih erat antara orang percaya dengan Allah. Melalui pengajaran yang benar dan pemahaman yang baik mengenai prinsip-prinsip pujian yang bermakna, orang percaya dapat memperoleh manfaat dari aktivitas pujian dalam membangun iklim kehidupan rohani yang sehat. Dengan demikian, implementasi pujian ini menjadi sangat penting untuk pembangunan karakter keimanan setiap orang percaya.Manusia diciptakan Allah khusus dengan seks yang bertujuan untuk memuliakan-Nya dan Masalah yang mendasari implementasi pujian orang percaya/kristen kepada Allah adalah kebutuhan orang percaya dalam memiliki hubungan yang kuat dengan Allah yang dilakukan melalui pujian. Namun, seringkali tantangan yang dihadapi adalah kurangnya impelementasi akan makna dan cara yang benar dalam melakukan pujian. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam implementasi pujian ini adalah studi pustaka yang melibatkan pengajaran yang benar mengenai prinsip-prinsip pujian yang bermakna. Tujuan dari implementasi pujian ini adalah agar orang percaya dapat mengalami pertumbuhan spiritual dan hubungan yang lebih dalam dengan Allah melalui pujian yang memuliakan-Nya. Pujian juga dapat mendorong orang percaya untuk memperkuat persepsi dan iman mereka terhadap karakter Allah. Hasil yang diharapkan dari implementasi pujian adalah terciptanya sebuah lingkungan pujian yang bersahabat dan kebersamaan yang saling mendukung sehingga tercipta sebuah iklim pujian yang bermakna dalam setiap kegiatan ibadah yang dilakukan. Hal ini tentunya akan berdampak positif pada kesehatan rohani dan mental setiap individu yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Dalam kesimpulan, implementasi pujian orang percaya/kristen kepada Allah adalah sebuah upaya yang penting untuk membangun hubungan yang lebih erat antara orang percaya dengan Allah. Melalui pengajaran yang benar dan pemahaman yang baik mengenai prinsip-prinsip pujian yang bermakna, orang percaya dapat memperoleh manfaat dari aktivitas pujian dalam membangun iklim kehidupan rohani yang sehat. Dengan demikian, implementasi pujian ini menjadi sangat penting untuk pembangunan karakter keimanan setiap orang percaya

    Jejak Misi Calvin: Melampaui Kata, Menggerakkan Dunia

    Full text link
    Pemikiran John Calvin (1509–1564) dikenal luas dalam bidang dogmatika dan etika, namun kontribusinya terhadap misi Gereja lintas budaya kerap dipandang kontroversial. Sejumlah kritik, seperti dari Gustav Warneck dan Kenneth Scott Latourette, menyebut bahwa teologi Calvin cenderung menghambat semangat misi dan penginjilan lintas budaya. Namun, kajian-kajian terbaru mulai menunjukkan bahwa pemahaman ini perlu ditinjau ulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kembali dimensi misioner dalam kehidupan dan pemikiran teologis Calvin, serta relevansinya bagi misi Gereja masa kini. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan historis-teologis melalui studi kepustakaan. Literatur-literatur diperoleh dari karya-karya Calvin, termasuk Institutes of the Christian Religion, khotbah, surat pribadi, dan dokumen Consistory Gereja Jenewa. Analisis dilakukan dengan metode analisis isi, analisis historis-kritis, dan sintesis teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun tidak mengembangkan model misi formal seperti dalam misiologi modern, teologi Calvin secara implisit memiliki landasan misioner yang kuat. Pemahaman Calvin tentang kedaulatan Allah, pemilihan, dan pengutusan Gereja justru mendorong penginjilan aktif. Praktik pengutusan penginjil dari Gereja Jenewa ke wilayah-wilayah lain di Eropa menjadi bukti konkret perhatian Calvin terhadap mandat misi. Dengan demikian, pemikiran Calvin dapat memberikan kontribusi penting bagi pengembangan teologi misi yang berakar pada Kitab Suci dan kontekstual bagi tantangan Gereja masa kini.Pemikiran John Calvin (1509–1564) dikenal luas dalam bidang dogmatika dan etika, namun kontribusinya terhadap misi Gereja lintas budaya kerap dipandang kontroversial. Sejumlah kritik, seperti dari Gustav Warneck dan Kenneth Scott Latourette, menyebut bahwa teologi Calvin cenderung menghambat semangat misi dan penginjilan lintas budaya. Namun, kajian-kajian terbaru mulai menunjukkan bahwa pemahaman ini perlu ditinjau ulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kembali dimensi misioner dalam kehidupan dan pemikiran teologis Calvin, serta relevansinya bagi misi Gereja masa kini. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan historis-teologis melalui studi kepustakaan. Literatur-literatur diperoleh dari karya-karya Calvin, termasuk Institutes of the Christian Religion, khotbah, surat pribadi, dan dokumen Consistory Gereja Jenewa. Analisis dilakukan dengan metode analisis isi, analisis historis-kritis, dan sintesis teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun tidak mengembangkan model misi formal seperti dalam misiologi modern, teologi Calvin secara implisit memiliki landasan misioner yang kuat. Pemahaman Calvin tentang kedaulatan Allah, pemilihan, dan pengutusan Gereja justru mendorong penginjilan aktif. Praktik pengutusan penginjil dari Gereja Jenewa ke wilayah-wilayah lain di Eropa menjadi bukti konkret perhatian Calvin terhadap mandat misi. Dengan demikian, pemikiran Calvin dapat memberikan kontribusi penting bagi pengembangan teologi misi yang berakar pada Kitab Suci dan kontekstual bagi tantangan Gereja masa kini

    Yesus sebagai Potret Ideal Gembala Masa Kini: Suatu Studi Biblis-Teologis atas Teks Yohanes 10:11

    Full text link
    Gembala merupakan figur utama dalam organisasi gereja, sebab seluk beluk kemajuan maupun kemunduran gereja secara organisatoris ditentukan oleh peran dan fungsi gembala sebagai pemimpinnya. Karena itu status sebagai gembala menuntut pertanggungjawaban yang besar pula. Hal itu jugalah yang dipraktekkan oleh Yesus ketika Ia hadir di dunia dan berhadapan dengan kondisi domba-domba gembalaan-Nya. Yesus menunjukkan peran yang sempurna tentang apa dan bagaimana menjadi gembala, karena itu gembala masa kini harus bercermin pada-Nya. Terkait itu, maka tujuan penelitian ini adalah menemukan figur Yesus sebagai potret ideal gembala yang tampak tidak umum dalam praktek penggembalaan masa kini. Hal tersebut penting bagi gembala masa kini untuk memahami dan mendalami peran dan fungsinya dengan baik dan benar. Metode penelitian yang digunakan adalan metode hermeneutik atau penafsiran Alkitab guna menemukan makna teks yang diteliti sehubungan dengan pokok penelitian. Teks yang diteiti adalah Yohanes 10:11. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa gembala yang ideal adalah, Berlandas Pada Tuhan Yesus Kristus sebagai Dasar Penggembalaan, rela berkorban, Setia dan Taat Terhadap Panggilan, tidak mencari kepentingan sendiri. Prinsip inilah yang dijalankan secara radikal oleh Yesus dan menjadi potret ideal bagi praksis gembala masa kini.Gembala merupakan figur utama dalam organisasi gereja, sebab seluk beluk kemajuan maupun kemunduran gereja secara organisatoris ditentukan oleh peran dan fungsi gembala sebagai pemimpinnya. Karena itu status sebagai gembala menuntut pertanggungjawaban yang besar pula. Hal itu jugalah yang dipraktekkan oleh Yesus ketika Ia hadir di dunia dan berhadapan dengan kondisi domba-domba gembalaan-Nya. Yesus menunjukkan peran yang sempurna tentang apa dan bagaimana menjadi gembala, karena itu gembala masa kini harus bercermin pada-Nya. Terkait itu, maka tujuan penelitian ini adalah menemukan figur Yesus sebagai potret ideal gembala yang tampak tidak umum dalam praktek penggembalaan masa kini. Hal tersebut penting bagi gembala masa kini untuk memahami dan mendalami peran dan fungsinya dengan baik dan benar. Metode penelitian yang digunakan adalan metode hermeneutik atau penafsiran Alkitab guna menemukan makna teks yang diteliti sehubungan dengan pokok penelitian. Teks yang diteiti adalah Yohanes 10:11. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa gembala yang ideal adalah, Berlandas Pada Tuhan Yesus Kristus sebagai Dasar Penggembalaan, rela berkorban, Setia dan Taat Terhadap Panggilan, tidak mencari kepentingan sendiri. Prinsip inilah yang dijalankan secara radikal oleh Yesus dan menjadi potret ideal bagi praksis gembala masa kini

    Signifikansi Hidup Baru Menurut Roma 6:1-4 bagi Orang Percaya Masa Kini

    Full text link
    Kehidupan seorang yang telah lahir baru menuntut adanya perubahan yang serius dan radikal, perlu adanya komitmen yang kuat dan kerja keras untuk meninggalkan kedagingan, manusia lama dan mulai mengenakan manusia baru. Hidup baru seharusnya menghasilkan perubahan dan pembaharuan hidup yang seturut dengan firman-Nya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka yaitu berupaya untuk menguraikannya dengan cara hermeneutik yaitu sebuah metode yang mengekpresikan, menterjemahkan dan menafsirkan, sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman dari teks alkitab. Tujuan penelitian ini adalah menemukan prinsip-prinsip hidup baru berdasarkan Roma 6: 1-4 supaya orang percaya masa kini memahami pentingnya hidup baru sehingga dapat mengambil keputusan untuk hidup menjalani dalam kehidupan yang baru. Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dasar hidup baru yaitu kasih karunia dan kematian Kristus, hidup baru adalah mati bagi dosa, hidup baru adalah dibaptisan, dikuburkan, dan dibangkitkan dalam kematian Kristus, hidup baru adalah hidup dalam kehidupan yang baru.Kehidupan seorang yang telah lahir baru menuntut adanya perubahan yang serius dan radikal, perlu adanya komitmen yang kuat dan kerja keras untuk meninggalkan kedagingan, manusia lama dan mulai mengenakan manusia baru. Hidup baru seharusnya menghasilkan perubahan dan pembaharuan hidup yang seturut dengan firman-Nya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka yaitu berupaya untuk menguraikannya dengan cara hermeneutik yaitu sebuah metode yang mengekpresikan, menterjemahkan dan menafsirkan, sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman dari teks alkitab. Tujuan penelitian ini adalah menemukan prinsip-prinsip hidup baru berdasarkan Roma 6: 1-4 supaya orang percaya masa kini memahami pentingnya hidup baru sehingga dapat mengambil keputusan untuk hidup menjalani dalam kehidupan yang baru. Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dasar hidup baru yaitu kasih karunia dan kematian Kristus, hidup baru adalah mati bagi dosa, hidup baru adalah dibaptisan, dikuburkan, dan dibangkitkan dalam kematian Kristus, hidup baru adalah hidup dalam kehidupan yang baru

    Bersaksi Bagi Kristus Melalui Lagu: Menggugah Jiwa Melalui Pujian

    Full text link
    Bersaksi adalah tanggung jawab semua orang Kristen dan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satu cara yang dipandang efektif adalah melalui lagu pujian kepada Allah. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki efektivitas kesaksian Kristen melalui lagu dengan mempertimbangkan potensialitasnya yang dapat menggugah para pendengarnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Hasil yang ditemukan adalah bahwa lagu berpengaruh besar pada manusia karena mengandung potensialitas untuk menggugah jiwa. Potensi tersebut dapat menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan kesaksian tentang berita keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Selain itu, lagu rohani Kristen juga memiliki dimensi teologis yang menekankan tentang Allah sebagai sumber dari segala keindahan. Hal inilah yang menggugah jiwa yang mendengarnya. Oleh karena itulah bersaksi melalui lagu menjadi efektif tidak hanya dalam lingkup gereja saja, tetapi juga melintasi perbedaan-perbedaan keyakinan.Bersaksi adalah tanggung jawab semua orang Kristen dan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satu cara yang dipandang efektif adalah melalui lagu pujian kepada Allah. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki efektivitas kesaksian Kristen melalui lagu dengan mempertimbangkan potensialitasnya yang dapat menggugah para pendengarnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Hasil yang ditemukan adalah bahwa lagu berpengaruh besar pada manusia karena mengandung potensialitas untuk menggugah jiwa. Potensi tersebut dapat menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan kesaksian tentang berita keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Selain itu, lagu rohani Kristen juga memiliki dimensi teologis yang menekankan tentang Allah sebagai sumber dari segala keindahan. Hal inilah yang menggugah jiwa yang mendengarnya. Oleh karena itulah bersaksi melalui lagu menjadi efektif tidak hanya dalam lingkup gereja saja, tetapi juga melintasi perbedaan-perbedaan keyakinan

    Tinjauan Teologis Terhadap Doktrin Soteriologi Hyper Grace

    Full text link
    Konsep keselamatan (Soteriologi) dalam teologi Kristen merupakan suatu pengajaran yang krusial. Berdasarkan kajian hermeneutika, ada beberapa teori atau konsep yang berkaitan dengan Soteriologi yang ikut memberi warna dalam kajian teologi tentang doktrin keselamatan. Salah satunya adalah Hyper Grace, yang menempatkan posisi kasih karunia di posisi yang sangat tinggi, tetapi mengabaikan tanggung jawab orang percaya yang sudah diselamatkan. Tulisan ini akan mengkaji dan meninjau asumsi-asumsi dasar kelompok Hyper Grace tentang doktrin keselamatan, sehingga dapat menyajikan konsep keselamatan yang benar menurut pandangan Alkitab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa ajaran Hyper Grace ini memberikan pemahaman-pemahaman yang keliru, tidak alkitabiah, dan berakhir pada penyesatan terhadap analisanya kepada doktrin keselamatan, khususnya mengenai respon atau tanggung jawab manusia setelah diselamatkan. Hal ini disebabkan karena kajian hermeneutika kelompok Hyper Grace yang keliru dalam menafsirkan teks-teks kasih karunia dan keselamatan. Gereja dan orang percaya harus berhati-hati dengan konsep ini, supaya tidak jatuh ke dalam penyesatan mengenai doktrin keselamatan.Konsep keselamatan (Soteriologi) dalam teologi Kristen merupakan suatu pengajaran yang krusial. Berdasarkan kajian hermeneutika, ada beberapa teori atau konsep yang berkaitan dengan Soteriologi yang ikut memberi warna dalam kajian teologi tentang doktrin keselamatan. Salah satunya adalah Hyper Grace, yang menempatkan posisi kasih karunia di posisi yang sangat tinggi, tetapi mengabaikan tanggung jawab orang percaya yang sudah diselamatkan. Tulisan ini akan mengkaji dan meninjau asumsi-asumsi dasar kelompok Hyper Grace tentang doktrin keselamatan, sehingga dapat menyajikan konsep keselamatan yang benar menurut pandangan Alkitab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa ajaran Hyper Grace ini memberikan pemahaman-pemahaman yang keliru, tidak alkitabiah, dan berakhir pada penyesatan terhadap analisanya kepada doktrin keselamatan, khususnya mengenai respon atau tanggung jawab manusia setelah diselamatkan. Hal ini disebabkan karena kajian hermeneutika kelompok Hyper Grace yang keliru dalam menafsirkan teks-teks kasih karunia dan keselamatan. Gereja dan orang percaya harus berhati-hati dengan konsep ini, supaya tidak jatuh ke dalam penyesatan mengenai doktrin keselamatan

    Kontribusi Psikologi Pendidikan Bagi Mentor dan Tutor di Pusat Pengembangan Anak “Dorkas” (PPA) Gereja Misi Injili Indonesia “Tesalonika” Batu

    Full text link
    Pengetahuan atau pemahaman mengenai psikologi pendidikan harus menjadi kebutuhan yang mendasar bagi para pendidik. Penelitian ini dilakukan di Pusat Pengembangan Anak “Dorkas” Batu dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman para mentor dan tutor mengenai pengetahuan psikologi pendidikan serta problematika yang dialami dalam pelayanan di PPA “Dorkas” terkait dengan proses belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan pendekatam penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yakni melakukan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi dengan para mentor dan tutor, serta pengurus PPA “Dorkas”. Analisa data menunjukkan bahwa sebagian besar mentor dan tutor belum pernah belajar psikologi pendidikan sehingga pemahaman mengenai psikologi pendidikan belum secara mendalam. Menurut para mentor dan tutor di PPA “Dorkas”, psikologi pendidikan penting untuk dipelajari dan bermanfaat dalam pelayanan anak di PPA “Dorkas” karena memperlengkapi para mentor dan tutor untuk lebih memahami anak-anak yang dilayani. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk para mentor dan tutor perlu mempelajari pengetahuan ini melalui buku-buku, internet juga mengikuti seminar pendidikan yang berkaitan dengan psikologi pendidikan.Pengetahuan atau pemahaman mengenai psikologi pendidikan harus menjadi kebutuhan yang mendasar bagi para pendidik. Penelitian ini dilakukan di Pusat Pengembangan Anak “Dorkas” Batu dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman para mentor dan tutor mengenai pengetahuan psikologi pendidikan serta problematika yang dialami dalam pelayanan di PPA “Dorkas” terkait dengan proses belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan pendekatam penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yakni melakukan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi dengan para mentor dan tutor, serta pengurus PPA “Dorkas”. Analisa data menunjukkan bahwa sebagian besar mentor dan tutor belum pernah belajar psikologi pendidikan sehingga pemahaman mengenai psikologi pendidikan belum secara mendalam. Menurut para mentor dan tutor di PPA “Dorkas”, psikologi pendidikan penting untuk dipelajari dan bermanfaat dalam pelayanan anak di PPA “Dorkas” karena memperlengkapi para mentor dan tutor untuk lebih memahami anak-anak yang dilayani. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk para mentor dan tutor perlu mempelajari pengetahuan ini melalui buku-buku, internet juga mengikuti seminar pendidikan yang berkaitan dengan psikologi pendidikan

    184

    full texts

    188

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Institut Injil Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇