e-Journal Institut Injil Indonesia
Not a member yet
    188 research outputs found

    Menilik Model Kontekstualisasi Misi Kristen Melalui Ritual Hamayang di Desa Rindi Kabupaten Sumba Timur

    Full text link
    Penelitian ini mengkaji kontekstualisasi misi melalui ritual hamayang di desa Rindi kabupaten Sumba Timur. Kontekstualisasi misi adalah sebuah pendekatan dalam memberitakan Injil agar Injil mudah dipahami dan diterima dalam budaya setempat. Dalam kehidupan sebagian masyarakat Sumba Timur, ritual hamayang adalah bagian penting dari kepercayaan marapu, ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk permohonan, penyembahan, dan penghormatan kepada mawullu tau ji tau (yang menciptakan manusia) yang namanya tidak dapat disebut dan dipanggil (napanda tikki tamu napanda nyurra ngara). Studi ini bertujuan menganalisa praktik ritual hamayang, dan mengeksplorasi peluang untuk mengkontekstualisasikan Injil dalam budaya dengan pendekatan yang relevan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, termasuk observasi, wawancara dengan tokoh adat serta pelaku ritual hamayang bersama dengan masyarakat, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan beberapa model kontekstualisasi yang relevan yaitu: pertama, Model Dialektik melalui dialog untuk menterjemahkan Injil dalam budaya guna meluruskan pandangan yang keliru. Model Adaptasi untuk mencari titik temu antara budaya dan ajaran Iman Kristen, dan menggunakan simbol atau makna untuk berkontekstualisasi memberitakan Injil. Model Transformasi yang bertujuan mengubah perspektif masyayarat untuk agar dapat memahami Iman Kristen.Penelitian ini mengkaji kontekstualisasi misi melalui ritual hamayang di desa Rindi kabupaten Sumba Timur. Kontekstualisasi misi adalah sebuah pendekatan dalam memberitakan Injil agar Injil mudah dipahami dan diterima dalam budaya setempat. Dalam kehidupan sebagian masyarakat Sumba Timur, ritual hamayang adalah bagian penting dari kepercayaan marapu, ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk permohonan, penyembahan, dan penghormatan kepada mawullu tau ji tau (yang menciptakan manusia) yang namanya tidak dapat disebut dan dipanggil (napanda tikki tamu napanda nyurra ngara). Studi ini bertujuan menganalisa praktik ritual hamayang, dan mengeksplorasi peluang untuk mengkontekstualisasikan Injil dalam budaya dengan pendekatan yang relevan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, termasuk observasi, wawancara dengan tokoh adat serta pelaku ritual hamayang bersama dengan masyarakat, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan beberapa model kontekstualisasi yang relevan yaitu: pertama, Model Dialektik melalui dialog untuk menterjemahkan Injil dalam budaya guna meluruskan pandangan yang keliru. Model Adaptasi untuk mencari titik temu antara budaya dan ajaran Iman Kristen, dan menggunakan simbol atau makna untuk berkontekstualisasi memberitakan Injil. Model Transformasi yang bertujuan mengubah perspektif masyayarat untuk agar dapat memahami Iman Kristen

    Mangokal Holi sebagai Tradisi Budaya dan Ekspresi Iman: Kajian Teologi Kontekstual atas Praktik Sosial Masyarakat Batak Toba

    Full text link
    Mangokal Holi merupakan salah satu praktik adat yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Tradisi ini dilaksanakan dengan membongkar makam leluhur dan memindahkan tulang-belulang ke dalam tugu keluarga sebagai bentuk penghormatan terhadap nenek moyang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Mangokal Holi sebagai praktik sosial dan ekspresi iman dengan menggunakan pendekatan teologi kontekstual, khususnya konsep teologi tanpa tinta dari Izak Lattu, serta teori tindakan sosial dari Max Weber. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka untuk menggali makna spiritual, nilai budaya, serta peran sosial dari tradisi ini dalam konteks masyarakat Batak Toba. Hasil kajian menunjukkan bahwa Mangokal Holi tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga menjadi medium untuk memperkuat identitas kultural, solidaritas antar anggota marga, serta pewarisan nilai-nilai leluhur kepada generasi muda. Selain itu, tradisi ini mencerminkan bentuk spiritualitas kontekstual di mana iman Kristen tidak bertentangan, tetapi justru dihayati melalui praktik budaya lokal. Dalam konteks ini, Mangokal Holi menjadi bentuk “teologi tanpa tinta” yang hidup melalui narasi, simbol, dan ritus masyarakat. Tradisi ini membuktikan bahwa adat dan iman dapat saling menyatu dalam pengalaman keberimanan yang kontekstual dan bermakna.Mangokal Holi merupakan salah satu praktik adat yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Tradisi ini dilaksanakan dengan membongkar makam leluhur dan memindahkan tulang-belulang ke dalam tugu keluarga sebagai bentuk penghormatan terhadap nenek moyang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Mangokal Holi sebagai praktik sosial dan ekspresi iman dengan menggunakan pendekatan teologi kontekstual, khususnya konsep teologi tanpa tinta dari Izak Lattu, serta teori tindakan sosial dari Max Weber. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka untuk menggali makna spiritual, nilai budaya, serta peran sosial dari tradisi ini dalam konteks masyarakat Batak Toba. Hasil kajian menunjukkan bahwa Mangokal Holi tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga menjadi medium untuk memperkuat identitas kultural, solidaritas antar anggota marga, serta pewarisan nilai-nilai leluhur kepada generasi muda. Selain itu, tradisi ini mencerminkan bentuk spiritualitas kontekstual di mana iman Kristen tidak bertentangan, tetapi justru dihayati melalui praktik budaya lokal. Dalam konteks ini, Mangokal Holi menjadi bentuk “teologi tanpa tinta” yang hidup melalui narasi, simbol, dan ritus masyarakat. Tradisi ini membuktikan bahwa adat dan iman dapat saling menyatu dalam pengalaman keberimanan yang kontekstual dan bermakna

    Implikasi Studi Hermeneutika Teologis Mengenai Tuhan Mengutus Roh Dusta Menurut 1 Raja-Raja 22:20-22

    Full text link
    Tuhan Mengutus Roh Dusta adalah sebuah konsep yang muncul dalam Alkitab, khususnya pada 1 Raja-raja 22:20-22. Konsep ini menunjukkan bahwa pada saat tertentu, Tuhan mengizinkan roh jahat untuk memimpin orang-orang yang hidup dalam ketidakbenaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pengertian dan implikasi konsep Tuhan Mengutus Roh Dusta dalam konteks kepercayaan Kristiani. Peneliti menggunakan penelitian pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutika teologis yakni dengan melakukan studi eksploratori terhadap teks Alkitab dan melakukan analisis berdasarkan konteks historis dan sosial yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Tuhan Mengutus Roh Dusta memiliki implikasi yang penting dalam kepercayaan Kristiani, khususnya dalam mengenai kebenaran dan keikhlasan. Konsep ini mengajarkan bahwa Tuhan memiliki kuasa penuh atas segala sesuatu, termasuk kejahatan dan ketidakbenaran. Namun, kepercayaan bahwa Tuhan mengizinkan roh jahat untuk memimpin hidup seseorang juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam praktik keagamaan. Dalam kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa pengertian Tuhan Mengutus Roh Dusta dapat membuka wawasan dan memperkaya pemahaman tentang kepercayaan Kristiani. Namun, penting bagi orang-orang yang hidup dalam kepercayaan tersebut untuk memahami implikasi yang terkait dengan konsep ini agar dapat membantu mereka tumbuh dan berkembang secara spiritual.Tuhan Mengutus Roh Dusta adalah sebuah konsep yang muncul dalam Alkitab, khususnya pada 1 Raja-raja 22:20-22. Konsep ini menunjukkan bahwa pada saat tertentu, Tuhan mengizinkan roh jahat untuk memimpin orang-orang yang hidup dalam ketidakbenaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pengertian dan implikasi konsep Tuhan Mengutus Roh Dusta dalam konteks kepercayaan Kristiani. Peneliti menggunakan penelitian pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutika teologis yakni dengan melakukan studi eksploratori terhadap teks Alkitab dan melakukan analisis berdasarkan konteks historis dan sosial yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Tuhan Mengutus Roh Dusta memiliki implikasi yang penting dalam kepercayaan Kristiani, khususnya dalam mengenai kebenaran dan keikhlasan. Konsep ini mengajarkan bahwa Tuhan memiliki kuasa penuh atas segala sesuatu, termasuk kejahatan dan ketidakbenaran. Namun, kepercayaan bahwa Tuhan mengizinkan roh jahat untuk memimpin hidup seseorang juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam praktik keagamaan. Dalam kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa pengertian Tuhan Mengutus Roh Dusta dapat membuka wawasan dan memperkaya pemahaman tentang kepercayaan Kristiani. Namun, penting bagi orang-orang yang hidup dalam kepercayaan tersebut untuk memahami implikasi yang terkait dengan konsep ini agar dapat membantu mereka tumbuh dan berkembang secara spiritual

    Tinjauan Teologis Kritis mengenai dampak pemali “Ungkattai Bubun” dalam Konteks Toraja dan Implementasinya

    Full text link
    Kebudayaan merupakan kekayaan alam yang dimiliki oleh umat manusia dalam keberlangsungan hidup mereka karena dengan kebudayaan segala bentuk kehidupan manusia berlangsung, secara moral dan perilaku, bentuk-bentuk aturan yang harus dipatuhi agar keberlangsungan kehidupan menjadi harmonis, baik itu antar sesama manusia dan juga dengan alam. Secara khusus dalam kehidupan orang Toraja yang juga kaya akan kebudayaan, memiliki salah satu kebudayaan yang terus dihidupi yakni budaya pemali , dimana budaya tersebut merupakan larangan-larangan yang harus dijauhi agar kehidupan saling komplementer. Budaya pemali ungkattai bubun masih terus dihidupi masyarakat Toraja hingga sekarang ini. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif yaitu deskriptif, dan melakukan pengumpulan data dengan wawancara pada yang bersangkutan. Tujuan dari penelitian ini, ingin menemukan makna dan nilai dari budaya pemali ungkattai bubun yang masih terus dihidupi masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa budaya pemali ungkattai bubun merupakan bentuk larangan yang memiliki nilai moral dan nilai kehidupan bagi orang Toraja, dimana orang Toraja sangat menganggap sakral bubun atau sumur sebagai sumber primer kebutuhan dan aspek kehidupan manusia. Jadi mengotori bubun atau sumur akan menghambat keberlangsungan hidup manusia dan secara moral orang tidak menghargai dan menghormati alam yang telah memberikannya kehidupan.Kebudayaan merupakan kekayaan alam yang dimiliki oleh umat manusia dalam keberlangsungan hidup mereka karena dengan kebudayaan segala bentuk kehidupan manusia berlangsung, secara moral dan perilaku, bentuk-bentuk aturan yang harus dipatuhi agar keberlangsungan kehidupan menjadi harmonis, baik itu antar sesama manusia dan juga dengan alam. Secara khusus dalam kehidupan orang Toraja yang juga kaya akan kebudayaan, memiliki salah satu kebudayaan yang terus dihidupi yakni budaya pemali , dimana budaya tersebut merupakan larangan-larangan yang harus dijauhi agar kehidupan saling komplementer. Budaya pemali ungkattai bubun masih terus dihidupi masyarakat Toraja hingga sekarang ini. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif yaitu deskriptif, dan melakukan pengumpulan data dengan wawancara pada yang bersangkutan. Tujuan dari penelitian ini, ingin menemukan makna dan nilai dari budaya pemali ungkattai bubun yang masih terus dihidupi masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa budaya pemali ungkattai bubun merupakan bentuk larangan yang memiliki nilai moral dan nilai kehidupan bagi orang Toraja, dimana orang Toraja sangat menganggap sakral bubun atau sumur sebagai sumber primer kebutuhan dan aspek kehidupan manusia. Jadi mengotori bubun atau sumur akan menghambat keberlangsungan hidup manusia dan secara moral orang tidak menghargai dan menghormati alam yang telah memberikannya kehidupan

    Peran Guru Sekolah Minggu dalam Mengembangkan Talenta Anak Usia13-14 Tahun Melalui Tindakan Membangkitkan Semangat

    Full text link
    Bakat anak sering kali terabaikan oleh orang tua dan guru. Hal ini dikarenakan kesibukan pekerjaan dan kurangnya perhatian terhadap pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan peran guru Sekolah Minggu dalam mengembangkan talenta melalui membangkitkan semangat. Usia objek penelitian adalah 13-14 tahun. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membangkitkan semangat anak sekolah minggu dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, peran guru sekolah minggu yang maksimal. Kedua, memahami psikologi anak usia 13-14 tahun. Ketiga, memfokuskan anak pada talenta yang dimiliki dengan melibatkan mereka dalam pelayanan di gereja. Manfaat dari penelitian ini adalah mengefektifkan anak-anak sekolah minggu dalam melayani di gereja dengan mengembangkan talenta. Talenta akan berfungsi secara efektif jika semangat anak Sekolah Minggu dibangkitkan dalam kegiatan sehari-hari.Bakat anak sering kali terabaikan oleh orang tua dan guru. Hal ini dikarenakan kesibukan pekerjaan dan kurangnya perhatian terhadap pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan peran guru Sekolah Minggu dalam mengembangkan talenta melalui membangkitkan semangat. Usia objek penelitian adalah 13-14 tahun. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membangkitkan semangat anak sekolah minggu dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, peran guru sekolah minggu yang maksimal. Kedua, memahami psikologi anak usia 13-14 tahun. Ketiga, memfokuskan anak pada talenta yang dimiliki dengan melibatkan mereka dalam pelayanan di gereja. Manfaat dari penelitian ini adalah mengefektifkan anak-anak sekolah minggu dalam melayani di gereja dengan mengembangkan talenta. Talenta akan berfungsi secara efektif jika semangat anak Sekolah Minggu dibangkitkan dalam kegiatan sehari-hari

    Prinsip-Prinsip Teologis dalam Menghadapi Ajaran Sesat: Belajar dari Kitab Kolose 2:16-23; 3:1-4

    Full text link
    Pemahaman Teologi sangat penting dimiliki oleh orang Kristen untuk menjawab persoalan atau bertumbuhnya ajaran-ajaran sesat. Tidak dapat dipungkiri bahwa ajaran sesat juga menghikuti perkembangan zaman yang juga menyesatkan orang-orang yang memiliki pemahaman teologi yang dangkal. Metode penelitian yang digunakan dalam menganalisi teks adalah metode konten analisis. Berdasarkan hasil penelitian analisis isi maka ditemukan prinsip-prinsip teologis dalam menghadapi ajaran sesat berdasarkan kitab Kolose 2: 16-23; 3: 1-4 adalah Firman Allah mengajar kepada setiap orang percaya dalam kitab Kolose pada khususnya, bahwa konsep “Pikirkanlah perkara yang di atas” adalah suatu hal yang sangat serius berhubungan dengan prinsip-prinsip Ilahi yang telah di kerjakan oleh Kristus. Hal ini menangkis segala ajaran sesat yang berkembang dan meneguhkan iman kita kepada Tuhan Yesus karena kita sudah di bangkitkan bersama dengan Kristus, dan kita telah di sembunyikan oleh Yesus di dalam Allah.Pemahaman Teologi sangat penting dimiliki oleh orang Kristen untuk menjawab persoalan atau bertumbuhnya ajaran-ajaran sesat. Tidak dapat dipungkiri bahwa ajaran sesat juga menghikuti perkembangan zaman yang juga menyesatkan orang-orang yang memiliki pemahaman teologi yang dangkal. Metode penelitian yang digunakan dalam menganalisi teks adalah metode konten analisis. Berdasarkan hasil penelitian analisis isi maka ditemukan prinsip-prinsip teologis dalam menghadapi ajaran sesat berdasarkan kitab Kolose 2: 16-23; 3: 1-4 adalah Firman Allah mengajar kepada setiap orang percaya dalam kitab Kolose pada khususnya, bahwa konsep “Pikirkanlah perkara yang di atas” adalah suatu hal yang sangat serius berhubungan dengan prinsip-prinsip Ilahi yang telah di kerjakan oleh Kristus. Hal ini menangkis segala ajaran sesat yang berkembang dan meneguhkan iman kita kepada Tuhan Yesus karena kita sudah di bangkitkan bersama dengan Kristus, dan kita telah di sembunyikan oleh Yesus di dalam Allah

    Dari Petrus ke Guru Sekolah Minggu: Panggilan untuk Menggembalakan Anak Berdasarkan Yohanes 21:15-17

    Full text link
    Secara fungsional tugas penggembalaan bukan hanya menjadi tanggung jawab pendeta, melainkan dapat diperankan oleh semua orang percaya, termasuk di dalamnya guru sekolah minggu. Peran guru sekolah minggu penting, sebab melalui mereka anak-anak memperoleh bimbingan untuk bertumbuh dalam iman. Sehubungan dengan itu, penelitian ini mengkaji tentang peran guru sekolah minggu sebagai gembala anak yang mengacu pada Yohanes 21:15-17. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran gembala bagi domba-domba sebagaimana yang tampak dalam undangan Yesus kepada Petrus dan korelasinya dengan pelayanan anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis teks Alkitab dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa "domba-domba" Yesus merujuk pada anak-anak yang harus dibimbing dalam iman. Guru Sekolah Minggu sebagai penerima amanat penggembalaan bertanggung jawab untuk merawat dan mengarahkan anak-anak kepada Tuhan dengan kasih dan pengajaran. Penggembalaan ini diterapkan dengan pendekatan yang meneladani Yesus sebagai Gembala Agung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran guru Sekolah Minggu sangat penting dalam membentuk pertumbuhan rohani anak-anak, yang melibatkan seluruh umat percaya dalam menjalankan amanat Yesus untuk menggembalakan umat-Nya.Secara fungsional tugas penggembalaan bukan hanya menjadi tanggung jawab pendeta, melainkan dapat diperankan oleh semua orang percaya, termasuk di dalamnya guru sekolah minggu. Peran guru sekolah minggu penting, sebab melalui mereka anak-anak memperoleh bimbingan untuk bertumbuh dalam iman. Sehubungan dengan itu, penelitian ini mengkaji tentang peran guru sekolah minggu sebagai gembala anak yang mengacu pada Yohanes 21:15-17.  Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran gembala bagi domba-domba sebagaimana yang tampak dalam undangan Yesus kepada Petrus dan korelasinya dengan pelayanan anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis teks Alkitab dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa "domba-domba" Yesus merujuk pada anak-anak yang harus dibimbing dalam iman. Guru Sekolah Minggu sebagai penerima amanat penggembalaan bertanggung jawab untuk merawat dan mengarahkan anak-anak kepada Tuhan dengan kasih dan pengajaran. Penggembalaan ini diterapkan dengan pendekatan yang meneladani Yesus sebagai Gembala Agung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran guru Sekolah Minggu sangat penting dalam membentuk pertumbuhan rohani anak-anak, yang melibatkan seluruh umat percaya dalam menjalankan amanat Yesus untuk menggembalakan umat-Nya

    Kajian tentang Pentingnya Kualifikasi Keahlian Seorang Gembala Sidang dalam Melaksanakan Pelayanan Pastoral berdasarkan Surat Titus

    Full text link
    Tugas pastoral yang dilaksanakan oleh seorang penatua atau yang juga dikenal sebagai penilik jemaat oleh rasul Paulus, disebut sebagai ‘pekerjaan yang indah’ (1 Tim. 3:1), namun mengandung tanggungjawab yang besar. Ada tiga kualifikasi yang perlu di kembangkan oleh seorang penatua (gembala sidang) agar tugas yang diembannya dapat berjalan dengan baik yaitu kualifikasi spiritual (moral dan etika), kualifikasi intelektual (akademis/pengetahuan) dan kualifikasi keahlian (keterampilan). Oleh karena banyak kajian telah dilakukan untuk membahas pentingnya kualifikasi spiritual dan kualifikasi intelektual dari seorang penatua berdasarkan surat-surat pastoral, maka penelitian ini dilakukan secara khusus untuk membahas pentingnya kualifikasi keahlian bagi seorang penatua berdasarkan Surat Paulus kepada Titus. Penelitian ini juga akan fokus kepada Titus akan menjadikannya sebagai model pemimpin rohani dengan kualifikasi keahlian yang memadai yang membuat ia efektif dalam penggembalaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research melalui langkah-langkah biblical hermeneutic. Seorang gembala sidang tidak cukup hanya memiliki kualifikasi spiritual dan intelektual tetapi perlu mengembangkan diri dengan kualifikasi keahlian sehingga terampil dalam menangani pelayanan pastoral yang dipercayakan kepadanya.Dalam sejumlah surat di Perjanjian Baru, salah satu alasan penulisannya adalah untuk menghadapi masalah pengajaran sesat. Secara khusus, dalam tiga surat penggembalaan (1 & 2 Timotius dan Titus), rasul Paulus mengingatkan kedua gembala muda tersebut untuk mewaspadai ajaran sesat. Kajian ini secara khusus dibuat untuk menyoroti pentingnya kehadiran seorang pemimpin rohani di tengah-tengah jemaat yang mengalami masalah pastoral yang mendesak. Dalam perjalanan ke Pulau Kreta pada misi penginjilan yang keempat, Paulus tampak khawatir dengan kondisi jemaat-jemaat di berbagai kota di Pulau Kreta yang telah terkontaminasi ajaran sesat. Oleh karena itu, ia meninggalkan Titus di pulau tersebut untuk membenahi gereja setempat. Tinjauan ini bertujuan untuk melihat bagaimana Titus melaksanakan tugas pastoralnya dalam memulihkan jemaat Kristen di Kreta dan apa implikasinya bagi gereja masa kini. Kajian ini dilakukan dengan metode penelitian pustaka melalui pendekatan hermeneutika

    Penggunaan Yesaya 7:14 oleh Matius Sebagai Nas Profetik Mesianik Kelahiran Yesus: Studi Intertekstual

    Full text link
    Melalui Artikel ini. Penulis menganalisis dan membagikan hasil penelitian penggunaan Yesaya 7:14 dalam Matius 1:23. Penggunaan Yesaya 7:14 oleh Matius memiliki kesulitan untuk memahami makna pengutipan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitiatif, khususnya studi pustaka yang melibatkan tahap analisis konteks, kutipan dan teologis. Maksud penggunaan Yesaya 7:14 yang dilakukan Matius yaitu: Pertama, Yesaya 7:14 merupakan nas profetik yang berbicara akan kedatangan Mesias melalui seorang Perawan sehingga ayat itu harus dipahami memiliki penggenapan. Natur makna Yesaya 7:14 ialah single meaning, unified referent. Kedua, Matius memberitahu pembaca Injilnya bahwa Yesus adalah Raja yang dijanjikan untuk meneruskan eksistensi dinasti Daud yang dijanjikan Allah dalam Yesaya 7:14. Ia adalah Raja yang memiliki rasa takut akan Allah, berhikmat, adil dan pemerintahan di atas taktha Daud bahkan dunia tidak akan berkesudahan. Ketiga, Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah sekaligus Allah itu sendiri yang menjadi Mesias. Penyematan nama Imanuel pada diri Yesus mengindikasikan natur-Nya adalah pribadi sang Ilahi yang sama yang juga turut menyertai bangsa Yehuda di masa krisis. Allah yang menjadi Mesias. Singkatnya, Yesaya 7:14 adalah nubuat yang telah digenapi hanya melalui peristiwa di Matius 1:23. Dinasti Davidik diteruskan dalam kehidupan Yesus sebagai penggenapan yang sejati.Melalui Artikel ini. Penulis menganalisis dan membagikan hasil penelitian penggunaan Yesaya 7:14 dalam Matius 1:23. Penggunaan Yesaya 7:14 oleh Matius memiliki kesulitan untuk memahami makna pengutipan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitiatif, khususnya studi pustaka yang melibatkan tahap analisis konteks, kutipan dan teologis. Maksud penggunaan Yesaya 7:14 yang dilakukan Matius yaitu: Pertama, Yesaya 7:14 merupakan nas profetik yang berbicara akan kedatangan Mesias melalui seorang Perawan sehingga ayat itu harus dipahami memiliki penggenapan. Natur makna Yesaya 7:14 ialah single meaning, unified referent. Kedua, Matius memberitahu pembaca Injilnya bahwa Yesus adalah Raja yang dijanjikan untuk meneruskan eksistensi dinasti Daud yang dijanjikan Allah dalam Yesaya 7:14. Ia adalah Raja yang memiliki rasa takut akan Allah, berhikmat, adil dan pemerintahan di atas taktha Daud bahkan dunia tidak akan berkesudahan. Ketiga, Yesus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah sekaligus Allah itu sendiri yang menjadi Mesias. Penyematan nama Imanuel pada diri Yesus mengindikasikan natur-Nya adalah pribadi sang Ilahi yang sama yang juga turut menyertai bangsa Yehuda di masa krisis. Allah yang menjadi Mesias. Singkatnya, Yesaya 7:14 adalah nubuat yang telah digenapi hanya melalui peristiwa di Matius 1:23. Dinasti Davidik diteruskan dalam kehidupan Yesus sebagai penggenapan yang sejati

    Model Harmonisasi Unitas Allah Tritunggal dan Sumbangsihnya bagi Hamba Tuhan Masa Kini

    Full text link
    Doktrin Allah Tritunggal adalah doktrin sentral kekristenan tetapi sulit dimengerti tanpa didalami atau dipelajari dengan saksama. Doktrin ini juga jarang dikhotbahkan secara sistimatis dan kurang bahkan tidak sama sekali diajarkan dalam kelas pembinaan iman terutama gereja-gereja yang beraliran Pentakosta dan karismatik. Padahal doktrin-doktrin utama ini dapat menghasilkan suatu pengetahuan atau pandangan yang sangat berguna bahkan dapat menjadi jawaban atau jalan keluar dari permasalahan yang tidak terselesaikan/terpecahkan dalam gereja dalam kaitannya dengan doktrin. Melalui penelitian ini penulis mengharapkan agar orang percaya khususnya para hamba Tuhan memahami betapa pentingnya memahami doktrin Allah Tritunggal. Penulis juga mengharapkan agar harmonisasi kesatuan Allah Tritunggal yang pada gilirannya menjadi suatu model yang diterapkan dalam persekutuan para hamba Tuhan dalam mengembalakan jemaat. Penulisan ini menggunakan penelitian yang didasarkan pada metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan. Dengan demikian, data yang dikumpulkan bersifat sistematis, relevan, dan dijelaskan secara alami. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, doktrin Allah Tritunggal efektif sebagai dasar membangun kesatuan hidup atau harmonisasi hamba Tuhan dalam hal kasih, kesucian, kesetiaan, ketaatan, dan pengorbanan.Doktrin Allah Tritunggal adalah doktrin sentral kekristenan tetapi sulit dimengerti tanpa didalami atau dipelajari dengan saksama. Doktrin ini juga jarang dikhotbahkan secara sistimatis dan kurang bahkan tidak sama sekali diajarkan dalam kelas pembinaan iman terutama gereja-gereja yang beraliran Pentakosta dan karismatik. Padahal doktrin-doktrin utama ini dapat menghasilkan suatu pengetahuan atau pandangan yang sangat berguna bahkan dapat menjadi jawaban atau jalan keluar dari permasalahan yang tidak terselesaikan/terpecahkan dalam gereja dalam kaitannya dengan doktrin. Melalui penelitian ini penulis mengharapkan agar orang percaya khususnya para hamba Tuhan memahami betapa pentingnya memahami doktrin Allah Tritunggal. Penulis juga mengharapkan agar harmonisasi kesatuan Allah Tritunggal yang pada gilirannya menjadi suatu model yang diterapkan dalam persekutuan para hamba Tuhan dalam  mengembalakan jemaat. Penulisan ini menggunakan penelitian yang didasarkan pada metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan. Dengan demikian, data yang dikumpulkan bersifat sistematis, relevan, dan dijelaskan secara alami. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, doktrin Allah Tritunggal efektif sebagai dasar membangun kesatuan hidup atau harmonisasi hamba Tuhan dalam hal kasih, kesucian, kesetiaan, ketaatan, dan pengorbanan

    184

    full texts

    188

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Institut Injil Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇