e-Journal Institut Injil Indonesia
Not a member yet
    188 research outputs found

    YESUS: SOSOK GURU AGUNG (KOMPETENSI DAN PROFESIONALITAS DASAR GURU PAK)

    Get PDF
    Guru merupakan figur penting dalam menyukseskan kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan belajar-mengajar senantiasa mengharapkan guru berkualitas. Guru berkualitas artinya berkaitan dengan iman, spiritualitas, watak, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan. Guru Kristen perlu memahami pribadi Yesus sebagai guru yang harus diteladani dalam hidup sehari-hari dan dalam pelaksanaan tugas keguruan. Seorang guru Kristen juga perlu menyadari bahwa peranan Roh Kudus bukan hanya berlangsung dalam rangka pendewasaan iman dan kesadaran akan kesucian hidup, tetapi juga dalam rangka mengemban profesi sehari-hari. Seorang guru,  sebagai pengajar iman Kristen, sudah tentu sangat memerlukan ketergantungan terhadap kuasa, urapan dan kehadiran Roh Kudus. Sebab Dia-lah yang sanggup membuka mata hati orang untuk memahami kebenaran (Ef. 3:16,17,18). Guru yang berkualitas harus memahami profesi keguruan. Guru perlu meningkatkan dirinya menjadikan pribadinya sebagai instrumen yang handal di dalam Tuhan. Dalam melakukan kewenangan profesionalnya, seorang guru dituntut memiliki kompetensi yang beraneka ragam. Guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dengan demikian, guru PAK harus dapat melaksanakan tugas mengajar dan mendidik di bidang PAK dengan berkarakter dan berdisiplin tinggi, mampu menggunakan berbagai wacana dalam rangka mengembangkan visi dan kemampuan mengajar serta dapat mengembangkan keterampilan dengan mengikuti berbagai kegiatan pelatihan, lokakarya maupun seminar. Jadi guru PAK yang profesional tidak hanya terpaku kepada kurikulum yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, tetapi harus mampu mengembangkan kurikulum tersebut untuk pertumbuhan iman peserta didik. Pertumbuhan iman harus dimulai dari diri guru. Jati dirinya dalam Kristus harus terbentuk dengan kuat. Guru profesional harus dapat menghayati permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran, sehingga termotivasi, kritis dan reflektif untuk memecahkan persoalan pendidikan. Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Secara khusus dalam konteks sekolah, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompentensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, sehingga profesionalitas guru PAK juga melekat pada dirinya sebagai seorang pendidik, maka termasuk di dalamnya tuntutan kompetensi dan profesional yang sama. Sedangkan salah satu cara efektif untuk menggali serta meningkatkan kemampuan tersebut adalah dengan mengevaluasi diri sendiri, secara khusus bentuk evaluasi pada materi profesionalisme guru PAK itu, mengacu pada sosok Tuhan Yesus sebagai  Guru Agung. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hal utama bagi seorang guru PAK adalah mengajarkan Firman Allah agar siswa memiliki pedoman dalam kehidupannya, yang pada akhirnya mereka mengalami suatu perubahan, oleh karena di dalamnya terkandung maksud dari firman Allah yang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim 3:16).   &nbsp

    PEMBINAAN WARGA GEREJA DEWASA MENURUT SURAT EFESUS 4:11-16

    Get PDF
    Berdasarkan hasil analisa dan eksegese Surat Efesus 4:11-16 yaitu bahwa Kristus memperlengkapi orang-orang kudus dengan berbagai karunia adalah merupakan wujud dari pembinaan yang dilakukan-Nya sendiri. Keperbedaan karunia-karunia tersebut semuanya mengarah kepada pemberitaan Injil, sehingga Tubuh Kristus dapat bertumbuh mencapai kedewasaan penuh di dalam Kristus. Jemaat Efesus merupakan jemaat yang  sudah percaya kepada Kristus, akan tetapi Kristus menginginkan agar keberadaan orang percaya yang telah diselamatkan itu dapat hidup berpadanan dengan panggilannya sebagai orang-orang yang telah dipanggil dan dikuduskan Allah. Oleh karena itu setiap gereja atau orang-orang yang telah dikuduskan Allah adalah anggota  Tubuh Kristus, di mana Kristus sebagai Kepala. Tubuh membutuhkan suatu pertumbuhan agar mencapai kedewasaaan, sehinggga bukan lagi seperti anak-anak, akan tetapi bertumbuh menjadi dewasa, yaitu memiliki pengetahuan dan pengenalan yang benar akan Anak Allah, serta bertumbuh di dalam Kristus. Adapun wujud pemberian Allah adalah rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar, menunjuk kepada tugas yang Tuhan berikan kepada seorang anggota jemaat. Oleh karena itu seseorang yang memperoleh jabatan khusus itu, berarti bahwa ia dipilih Tuhan untuk suatu pekerjaan khusus dalam jemaat-Nya. Keberagaman karunia ini bukan untuk mempertentangkan antara karunia yang satu dengan yang lainnya, demikian pula bukan sesuatu yang harus dibangga-banggakan karena karunia-karunia tersebut tidak ada yang lebih tinggi/rendah, melainkan masing-masing diberikan oleh Kristus untuk suatu maksud atau tujuan yang khusus, memperlengkapi dan memberi sarana orang-orang percaya bagi pembangunan Tubuh Kristus, sehingga gereja dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang yang dipanggil Allah/rekan sekerja-Nya yaitu memberitakan Injil sesuai dengan karunia masing-masing. Paulus sebagai rasul Kristus melakukan pembinaan bagi murid-muridnya, bahkan kepada seluruh jemaat di Efesus melalui berbagai macam cara/ metode pembinaan yaitu: melalui persekutuan-persekutuan, khotbah-khotbah, pengajaran-pengajaran, nasihat-nasihat, doa, bahkan melalui sarana pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari usaha Paulus dengan menyewa sebuah ruang kuliah dan setiap hari ia berbicara, penyampaian pengajaran-pengajaran tentang Kristus di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19). Paulus memberikan pembinaan bagi setiap penatua, dan diaken yang ada di Efesus melalui doa dan nasihat-nasihat, agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan yaitu menggembalakan jemaat dengan melengkapi/ mempersiapkan orang-orang percaya lainnya (sebagai anggota Tubuh Kristus) untuk lebih produktif, yaitu siap melayani Tuhan dan aktif turut membangun Tubuh Kristus (Kis. 20). Tugas panggilan gereja tidak pernah berubah. Tetapi bentuk-bentuk penerapannya tidak selalu sama dari tempat ke tempat, dan dari jaman ke jaman. Strategi pelayanan bagi orang dewasa disesuaikan dengan fungsi perkembangan, serta dengan isu penting di sekitar usia tersebut.[1] Rancangan program pembinaan di jemaat harus disesuaikan dengan pergumulan individu maupun kelompok.   [1] Samuel Sidjabat, Pendewasaan ...., 3

    RELEVANSI LUKAS 10:1-12 BAGI HAMBA TUHAN SEBAGAI PELAKSANA MISI ALLAH

    Get PDF
    Pekerjaan misi yaitu membawa orang-orang berdosa untuk mengenal Tuhan Yesus merupakan tugas semua orang yang percaya kepada-Nya. Semua orang percaya mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memberitakan Injil, seperti yang diamanatkan Tuhan Yesus (Mat 28:18-20). Namun lebih khusus lagi Allah memanggil dan menetapkan orang-orang tertentu untuk mengerjakan tugas misi itu. Dalam pekerjaan misi membutuhkan banyak pekerja, karena ladang misi sangat luas. Pekerja yang dibutuhkan adalah hamba Tuhan yang memiliki beban misi untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa bagi kemuliaan Tuhan. Hamba Tuhan perlu memahami misi sehingga dapat terlibat dalam pelayanan misi. Injil Kerajaan Allah harus diberitakan kapada semua orang, terutama kepada orang-orang yang belum mengenal Injil, seperti penugasan Yesus kepada ketujuh puluh murid (Luk 10:1-12). Injil adalah berita sukacita yang harus diberitakan kepada segala bangsa melalui para Hamba-Nya, sehingga setiap orang percaya dan mengenal Yesus sebagai Juruselamat dunia. Dalam pelayanan misi Tuhan memakai hamba Tuhan, tentunya dengan penyertaan-Nya melalui kuasa Roh Kudus

    KELUARGA KRISTEN YANG DIBERKATI TUHAN: OBSERVASI TERHADAP MAZMUR 133:1-3

    Get PDF
    Tema “Keluarga Kristen yang Diberkati Tuhan” di atas merupakan tujuan dari setiap keluarga Kristen, yakni untuk mengalami kerukunan dan kebahagiaan dalam keluarga. Di sisi lain, penulis juga melihat bahwa saat ini, ada begitu banyak keluarga Kristen yang mengalami konflik antara suami dengan istri dan antara orangtua dengan anak-anak. Oleh karena itu, ada banyak keluarga Kristen mengalami keretakan dalam rumah tangga bahkan perceraian antara suami dengan istri. Dengan memahami konsep keluarga Kristen yang hidup bersama dalam kerukunan yang diberkati Tuhan, saya berharap bahwa kualitas keluarga akan lebih baik, sehingga mereka akan mampu bertahan hidup di era ini, dengan hidup berjalan bersama-sama dengan Tuhan, bersekutu dalam keluarga, membaca Alkitab, berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan bersama-sama setiap hari.&nbsp

    SINERGISME MISI PERKATAAN DAN PERBUATAN SUATU EKSPOSISI MAZMUR 19:1–15

    Get PDF
    Mamur 19:1-15 dibagi dalam dua bagian besar berdasarkan dua syair yang berbeda, namun sinergis, yaitu syair pertama dalam ayat 1–7, dan syair kedua dalam ayat 8–15. Sinergisnya kedua syair ini membahas tentang pujian-pujian kepada Allah. Dan secara terpisah namun berkaitan, maka syair pertama membahas tentang keagungan dan kebesaran penyataan Allah dalam karya penciptaan langit dan segala sesuatu yang ada di dalamnya (General Revelation); sedangkan syair kedua membahas tentang keagungan dan kebesaran penyataan Allah secara khusus dalam Hukum Taurat (Special Revelation). Keduanya bersinergi satu dengan yang lain, sebagai modus Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Misi Allah adalah misi Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Ada dua modus misi penyataan Allah, yaitu modus penciptaan dan modus perkataan. Dengan kata lain, misi Allah adalah misi melalui aksi penciptaan dan misi melalui perkataan yang ditulis dan yang kemudian diberitakan. Gereja, dalam sejarahnya, jatuh hanya pada salah satu sisi misi Allah, sehingga membentuk kutub misi ekstrim kiri, yakni misi penciptaan (humanity) dan misi ekstrim kanan yakni misi pemberitaan Firman (spirituality), pada hal, Allah tidak bermaksud demikian. Penyusun Mazmur 19 mengajak dua kutub misi yang ekstrim untuk memformulasi misi yang seutuhnya, lepas dari kutub ekstrim dan berani untuk berangkulan dengan kutub yang lain, sehingga menghasilkan suatu bangunan misi yang seutuhnya. Misi Allah tidak berhenti pada misi penciptaan, sebagaimana Pemazmur yang menulis Mazmur 19 tidak hanya berhenti pada ayat 7, melainkan berlanjut pada misi pemberitaan, yaitu misi melalui Firman Tuhan, sebagaimana yang dikemukakan Pemazmur pada ayat 8 dan seterusnya. Misi yang hanya berhenti pada ayat 7 menghasilkan misi agama-agama, karena agama ada sebagai respon terhadap penyataan Allah secara umum. Inilah misi yang tidak bersingungan dengan tema keselamatan, pada hal, setelah penciptaan, dunia bukan hanya dinodai, melainkan dirusak oleh dosa manusia, sehingga misi penciptaan tidak mungkin lagi berlanjut. Misi penciptaan sesungguhnya berhenti pada kitab Kejadian pasal dua. Karena itu, Allah melanjutkan dengan misi, yaitu keselamatan dari dosa dengan cara memberikan Firman, yang membebaskan manusia dari dosa (Kej 3:15). Misi ini dimulai oleh Allah dengan memilih orang tertentu, seperti Abraham, sampai memilih bangsa tertentu, seperti Israel untuk menjadi alat misi. Misi ini dilaksanakan secara eksklusif oleh orang atau bangsa tertentu, namun untuk menjangkau orang atau bangsa secara inklusif. Dari uraian di atas, maka misi yang bersifat inklusif yaitu misi ALLAH melalui ciptaan-Nya, dan misi ini berlanjut pada misi yang bersifat eksklusif, yaitu misi TUHAN melalui Firman-Nya. Misi inklusif melalui penciptaan adalah misi universal, sedangkan misi ekslusif melalui firman adalah misi bersifat partikular. Allah hanya memberikan Firman-Nya (Taurat, Peraturan, Titah, Perintah, Takut akan Tuhan, dan Hukum) kepada umat pilihan-Nya. Karena itu, Mazmur 19:8-11 adalah himne pujian umat Allah, yaitu umat yang berkitab, yang memuji Allah karena mengenal Allah melalui Firman Allah. Lebih jauh lagi, misi penyataan Allah melalui alam semesta, hanya dapat dimengerti dan dialami melalui misi penyataan Allah secara khusus yaitu Firman Tuhan. Artinya, manusia dapat mengenal Allah melalui alam semesta dalam terang Firman Tuhan. Tanpa beriman kepada Firman, manusia tidak dapat mengenal Allah melalui alam semesta. Akhirnya, sekalipun dua modus tidak dapat dipisahkan, namun keduanya dapat dibedakan. Misi Allah menyatakan diri-Nya melalui penciptaan adalah bersifat umum karena dialamatkan kepada semua orang; sedangkan misi Allah menyatakan diri-Nya melalui Firman-Nya adalah bersifat tertentu, yaitu khusus kepada umat pilihan atau umat yang berkitab. Pengenalan akan Allah melalui Taurat Tuhan adalah lebih jelas atau lebih terang dibandingkan dengan pengenalan melalui alam. Karena pengenalan melalui Taurat Tuhan adalah bersifat obyektif, yaitu manusia mengenal berdasarkan wahyu Allah  yang tertulis; sedangkan pengenalan akan Allah melalui alam adalah bersifat subyektif, yaitu manusia mengenal Allah berdasarkan sudut pandang dan latar belakang dari manusia itu sendiri melihat dan memaknai ciptaan Allah. Karena itu, penyataan Allah secara umum melalui alam melahirkan penyembahan dan pujian kepada Allah yang tidak dikenal atau penyembahan berhala. Sedangkan penyataan Allah secara khusus melalui Firman melahirkan ibadah kepada yang dikenal melalui hubungan. Karena itu, kekristenan bukan hanya suatu agama, melainkan lebih dari itu, yaitu hubungan dengan Allah. Kristen bukan hanya agama yang mengakui adanya Allah, melainkan mengenal Allah dan Tuhan dengan cara berhubungan secara intim

    RELEVANSI PERJANJIAN LAMA BAGI KEHIDUPAN GEREJA MASA KINI

    Get PDF
    Pertanyaan mendasar bagi kita dalam mempelajari Perjanjian Lama adalah: apakah Perjanjian Lama masih relevan bagi kehidupan kita masa kini? Jika Perjanjian Lama masih relevan, bagaimana menerapkannya? Untuk memahami relevansi Perjanjian Lama bagi kehidupan dan pelayanan gereja masa kini, maka dalam tulisan singkat ini penulis memaparkan antara lain: probelamatika studi Perjanjian Lama, Isu-isu theologis yang berkembang mengenai relavansi Perjanjian Lama sepanjang sejarah, landasan theologis sebagai dasar relevansitas Perjanjian Lama untuk masa kini serta pengajaran-pengajaran berharga dari Perjanjian Lama yang relavan bagi kehidupan dan pelayanan gereja masa kin

    DIPANGGIL UNTUK DIUTUS

    Get PDF
    Profil Yunus menarik untuk disimak, karena Yunus bisa dikatakan sebagai misionari pertama yang dicatat di dalam Perjanjian Lama. Di tengah pelayanannya sebagai nabi di kerajaan Israel Utara, Tuhan mengutus dia untuk pergi ke Niniwe dengan tugas yang jelas, yakni menyampaikan pesan Tuhan yang sangat penting. Dalam 2Raja-raja 14:25 disebutkan bahwa Yunus bin Amitai dari Gat-Hefer, menubuatkan bahwa Yerobeam II, raja Israel Utara (793-753 SM) akan mengambil kembali daerah milik Israel yang telah diduduki bangsa Aram, karena saat itu pemerintahan Aram melemah, di bawah Raja Benhadad II. Dan pemerintahan Israel Utara saat itu sangat kuat atau jaya di bawah Yerobeam II, meskipun raja itu tidak hidup takut akan Tuhan, dan memerintah sangat lama (2 Raja-raja 14:23-24)

    BERJALAN BERSAMA ALLAH: REFLEKSI THEOLOGIS BERDASARKAN PENGALAMAN ABRAHAM, ISHAK, DAN YAKUB; SUATU PELAJARAN BAGI GEREJA MASA KINI

    Get PDF
    Pemilihan Allah untuk berjalan bersama Dia, penyataan diri-Nya, ikatan perjanjian dan pemberian berkat-berkat-Nya, pada zaman Perjanjian Baru ini tidak terbatas lagi pada golongan-golongan rohaniawan semata, tetapi Allah dalam kemurahan-Nya dan kedaulatan-Nya telah membentuk suatu partner kerja bagi rasul-rasul-Nya, nabi-nabi-Nya atau murid-murid-Nya untuk mewujudkan rancangan-Nya pada akhir zaman ini, suatu golongan manusia rohani yang bergelar Imamat orang percaya (1Ptr 2:9). Baik rasul-rasul-Nya atau murid-murid-Nya pada satu sisi maupun para imam-imam Perjanjian Baru pada sisi lain, Allah telah mengaruniakan semua kekayaan kemuliaan-Nya kepada kita, agar kita semua baik Yahudi maupun non Yahudi, budak atau merdeka telah diterima di dalam keluarga Allah dan persekutuan dengan Dia dan berita Injil-Nya, supaya kita bersama-sama dan bersatu menikmati segala kekayaan sorgawi itu dan menyampaikan kepada dunia ini agar dunia percaya kepada Kristus dan taat kepada kehendak-Nya (Yoh 17:20-21; Ef 2:12-22). Oleh karena itu setiap orang percaya kepada Kristus yang berasal dari latar belakang dan status sosial serta golongan apapun mendapat tempat yang pantas dan proposional di dalam keluarga Allah dan kerajaan Allah. Mereka turut mengambil bagian dalam hidup berjalan bersama Allah pada satu sisi, dan pada sisi lain menerapkan cara hidup seperti ini dalam dinamika dan romantika hidup setiap hari. Dan justru inilah tugas gereja dan hamba Tuhan nuntuk mengajarkan cara hidup seperti ini kepada mereka melalui strategi dan program yang relevan, kontekstual, dan efektif. Baik tugas intern ke dalam persekutuan gereja maupun ke luar kepada lingkungan di luar gereja. dan dalam kebersamaan dengan orang-orang percaya kita memenangkan dunia ini bagi Kristus (Mat 28:18-20; Mrk 16:15-18; Kis 1:8)

    PERAN ORANG PERCAYA DALAM MEWUJUDKAN KEADILAN SOSIAL

    Get PDF
    Peran serta orang Kristen dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan hanya partial, tetapi harus holistik. Karena tujuan pencapaian ini adalah manusia seutuhnya yang pada prinsipnya adalah keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya, antara sesama manusia serta lingkungan alam sekitarnya, keserasian hubungan antara bangsa-bangsa dan juga keselarasan antara cita-cita hidup di dunia dan mengejar kebahagian di akhirat. Jadi orang Kristen adalah agen untuk mewujudkan cita-cita mulia ini dengan berlandaskan kepada Kristus yang adalah sumber keadilan, serta status orang Kristen yang adalah warga kerajaan surga seperti yang digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 3:20. Implementasi dari warga kerajaan surga adalah menjadi warga negara Indonesia yang benar dan bertanggung jawab, sehingga jelas bahwa orang Kristen harus mengambil peran dalam menentukan arah bangsa ini. Sikap skeptis dan pesimistis bukanlah bagian dalam diri orang Kristen. Lebih jelas lagi dalam ranah praksis orang Kristen wajib: 1) Memiliki perbuatan yang luhur, yang tercermin dalam sikap dan suasana kekeluargaan serta gotong royong; 2) Menjalankan sikap adil terhadap sesama dengan cara menghormati hak-hak orang lain; 3) Sistem balancing yaitu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban; 4) Tidak menciptakan dehumanisasi melalui pereduksian harkat dan martabat manusia; 5) Memiliki cara hidup dan gaya hidup sederhana (menentang sifat hedonisme dan materialisme yang menonjolkan spirit individualisme); dan 6) Bekerja keras, memiliki integritas diri yang tinggi, kreatif dan  inovatif serta nasionalis

    MAKNA PENDERITAAN ORANG SALEH MENURUT KITAB AYUB

    Get PDF
    Hukum providensia Tuhan, seringkali diinterpresentasikan terlalu dangkal: Orang saleh diberkati, orang fasik dihukum. Akibatnya pada hakikatnya kata saleh dan menderita tidak dapat bertemu. Kendati demikian, justru kitab Ayub memaparkan bahwa kedua hal itu bertemu di dalam pengalaman hidup Ayub

    184

    full texts

    188

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Institut Injil Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇