e-Journal Institut Injil Indonesia
Not a member yet
188 research outputs found
Sort by
STRATEGI PELAYANAN PASTORAL KONSELING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN ANTUSIASME JEMAAT DALAM BERIBADAH
Gereja selama ini belum memiliki strategi dalam menerapkan pelayanan pastoral konseling terhadap jemaat yang antusiasme ibadahnya rendah. Gereja selama ini juga kurang tanggap dalam memberikan perhatian dan tindak lanjut terhadap ketidakhadiran jemaat pada jam-jam ibadah di gereja. Hamba Tuhan dan pengerja gereja belum memiliki rencana untuk memantau alasan-alasan atas ketidakhadiran jemaat dalam setiap kegiatan peribadahan di gereja. Kegiatan bezuk baru dilakukan setelah rentang waktu yang terlalu lama yaitu satu sampai dua bulan tidak hadir. Sementara itu, masalah lemahnya antusiasme sering terjadi dalam diri jemaat yang tengah memiliki persoalan dan krisis yang belum tertangani. Gereja seharusnya jangan hanya fokus pada tata liturgi dan pelayanan altar, tetapi perlu lebih memperhatikan kebutuhan psikologis jemaat yang sering membutuhkan pertolongan untuk menghadapi krisis-krisis dalam hidupnya. Gereja jarang memiliki seorang hamba Tuhan konselor cakap dan terlatih yang dapat menerapkan strategi pelayanan pastoral konseling bagi jemaat. Gembala seringkali tidak mengetahui secara persis kondisi keseharian jemaat yang sewaktu-waktu memerlukan pelayanan pastoral konseling.Disinilah letak perlunya gereja memperlengkapi para pelayan untuk bisa melayani jemaat secara menyeluruh. Gereja perlu memiliki figur hamba Tuhan konselor yang dapat melakukan pelayanan pastoral konseling secara efektif. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pembekalan dan peningkatan kapasitas bagi hamba Tuhan yang memiliki talenta dan kerinduan menjadi konselor Kristen. Tidak kalah pentingnya bagi gembala untuk lebih memperhatikan pelayanan pastoral konseling pada jemaat dengan mengatur waktu untuk melakukan kunjungan pastoral ke rumah jemaat dan untuk melakukan pelayanan konseling. Penerapan strategi pelayanan pastoral konseling yang tepat akan membantu gereja untuk mengurai masalah lemahnya antusiasme jemaat untuk beribadah. Gembala belum memiliki rencana program, target dan sasaran kerja yang jelas untuk melaksanakan peran pelayanan pastoral. Fasilitas-fasilitas yang ada di gereja seharusnya juga bisa dipergunakan untuk menunjang pelayanan pastoral konseling secara lebih efektif. Termasuk adanya tim pelayanan seharusnya dapat dikoordinir supaya dapat bekerjasama dengan baik. Penerapan strategi pelayanan pastoral konseling dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: melibatkan tim yang dimiliki gereja, menguatkan kapasitas hamba Tuhan konselor, melakukan peran pelayanan pastoral konseling secara tepat, menetapkan sasaran dan target pelayanan serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil pelayanan. Gereja perlu memotivasi dan mengajak seluruh jemaat dan pelayan Tuhan untuk memiliki hubungan pribadi yang indah dengan Tuhan. Jemaat didoktrin untuk memprioritaskan ibadah lebih dari apapun dalam hidupnya dan diarahkan hatinya untuk tetap berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Gereja jangan sampai kehilangan api semangat dan antusiasme dalam beribadah dan menyembah Tuhan Sang Gembala Agung. Pengajaran tentang apa itu ibadah, bagaimana motivasi yang benar dalam beribadah dan tentang antusiasme dalam menyembah Tuhan perlu sering disampaikan kepada jemaat baik melalui khotbah secara tematis, melalui tulisan-tulisan dalam media gereja atau dengan cara-cara lain. Melalui pengajaran dari gereja, jemaat diajak untuk menyadari perilaku-perilaku yang salah dalam beribadah dan komitmen kerohaniannya diharapkan dapat mengalami pembaharuan. Pengajaran yang berulang-ulang dan mendalam akan mendukung keberhasilan penerapan strategi dalam pelayanan pastoral konseling, sebab proses konseling itu sendiri selalu berupaya menolong jemaat untuk memiliki pengetahuan rohani yang benar akan Allah
PELAYANAN PASTORAL BAGI ANAK-ANAK BURUH
Problematika buruh di Indonesia memang sangat kompleks. Tetapi ini tidak berarti bahwa hal ini didiamkan saja atau “let it go with the wind”.Sebagai anak bangsa kita harus meberikan perhatian khusus terhadap hal ini secara khusus kepada nasib anak-anak para buruh. Jika kita hanya berharap kepada satu instansi saja dalam penanganan anak-anak para buruh, maka di waktu yang akan datang Indonesia akan menjadi negara “peng-eksport” tenaga buruh terbesar dan itu adalah buruh anak. Karena itu gereja sebagai lembaga spiritual yang memiliki pengaruh besar harus mengambil peran dalam upaya mencegah perlakuan yang tidak layak terhadap anak-anak para buruh. Tulisan ini masih sangat sederhana dan perlu dikaji secara ilmiah lagi secara khusus model pendekatan karena model pendekatan biasanya tergantung konteks dimana para buruh berada. Tulisan ini hanyalah langkah awal untuk menstimulir semua mereka yang merasa diri terpanggil sebagai pelayan Tuhan utnuk memikirkan pelayanan secara holistik atau memikirkan dan memberikan sumbangsih bagi pelayanan pastoral holistik.Konsep bentuk pelayanan pastoral ini masih perlu masukan lagi demi keefektifan pelayanan pastoral kepada anak-anak para buruh. Serta bagaimana cara pemberdayaan anak-anak para buruh yang maksimal untuk mencegah kegiatan buruh anak. Anak adalah generasi penerus bangsa termasuk anak para buruh.Mereka berhak untuk mendapat perlakuan dan pelayanan pastoral bahkan mereka juga berhak untuk menjadi agen perubahan di bangsa ini
PELAYANAN TERHADAP JEMAAT LANJUT USIA SEBAGAI PENGEMBANGGAN PELAYANAN KATEGORIAL
Lanjut usia adalah mereka yang rata-rata telah memasuki usia 60 tahun ke atas. Dalam usia seperti ini setiap orang mengalami perubahan-perubahan yang mengarah pada kemunduran-kemunduran, baik dari segi fisik maupun rohani. Perubahan fisik akan mempengaruhi segi psikologis, sosiologis, dan pneumatologis para lanjut usia, sehingga mereka akan mengalami perasaan rendah diri karena merasa tidak mampu dan tidak berguna lagi.Hal tersebut akan membuat mereka menutup diri, akibatnya mereka merasa kesepian. Masalah ini akan terasa lebih berat lagi oleh karena memang para lanjut usia akan ditinggalkan oleh anak-anak yang telah terpencar ke berbagai tempat untuk membangun rumah tangga sendiri (sidron “sarang kosong”). Dalam keadaan demikian para lanjut usia cenderung untuk berdiam diri di rumah saja, suatu kondisi yang menjadi penyebab timbulnya masalah baru bagi para lanjut usia. Mereka akan menjadi asing bagi linkungan dan dilupakan orang, akibatnya mereka tertolak dan kehilangan harga diri. Oleh karena itu pelayanan gereja terhadap para lanjut usia haruslah ditempatkan sebagai satu pelayanan kategorial dan serius ditangani oleh pekerja dan hamba Tuhan khusus yang sungguh memahami persoalan atau permasalahan lanjut usia.Pelayanan kategorial tersebut akan membuat gereja terikat secara moril pada penanganan yang serius dan bertanggung jawab terhadap para lanjut usia yang menjadi anggota jemaat. Itu berarti pelayanan kategorial akhirnya memberikan keseimbangan dalam perhatian dan aksi penatalayanan dalam seluruh gerak pelayanan gereja
PELAYANAN PASTORAL KONSELING BERDASARKAN 1 PETRUS 5 : 1 – 11
Pergantian sistem pemerintahan di Israel dalam 1 Samuel 8:1-22 yang menyoroti suasana transisi dari pemerintahan hakim ke pemerintahan raja menuntut agar kita tidak menghayati iman secara naif, dalam arti hitam-putih saja, tetapi secara mendalam, secara dialektis. Di dalam ayat 7 barulah jelas bahwa persoalan dalam perikop ini bukanlah sekadar masalah sekular mengenai pergantian sistem, tetapi persoalan iman. Sebab dengan mengajukan tuntutan meminta raja, bukannya Israel menolak Samuel, tetapi menolak Tuhan sendiri. Kesetiaan iman terhadap Tuhan ternyata tidak menuntut agar kita mengidentikkan iman dengan zaman apa saja, entah itu masa lalu, masa kini atau masa depan. Kerajaan Allah melampaui gambaran apa pun yang dapat digambarkan oleh manusia. Maka yang dituntut dari orang beriman dalam rangka menghadapi perubahan zaman sehingga dapat setia kepada imannya maupun kepada konteks, adalah sikap dialektis. Tetapi yang ditekankan adalah kesetiaan iman saja, dan tidak peduli pada perubahan konteks yang terjadi di sekitarnya. Penulis melihat bahwa hal tersebut yang membuat bebarapa anggota gereja Bala Keselamatan Jember, akhirnya kalah dalam peperangan rohani karena tidak peduli dengan konteks, imannya “terjual” karena menikah dengan orang yang tidak seiman dan akhir terjadi perceraian karena tidak adanya kesesuaian dalam hidup rumah tangga. Bagaimana supaya kita dapat terhindar dari kesalahan ini, sehingga bisa membangun sikap dialektis yang dapat memampukan kita untuk setia pada iman sekaligus setia pada konteks?. Emanuel Gerrit Singgih mengemukakan tiga hal, sebagai berikut: Pertama, kita perlu kembali kepada Alkitab. Harus bertolak dari teks Alkitab sehingga dapat menuntun kita untuk mengambil sikap yang tepat sesuai dengan suasana perubahan sehingga bisa menghayati imannya sesuai dengan konteks yang ada. Kedua, kita perlu kembali kepada reformator-reformator, yang adalah para pembaru gereja dengan prinsip reformasi: yaitu “Ecclesia Reformata, semper roformanda” (gereja reformasi selalu bereformasi). Para reformator telah berhasil memecahkan kebekuan teologis yang ada dengan memprotes konteks, “penggunaan bahasa Latin sebagai bahasa ibadah dan menggantikan dengan bahasa setempat (konteks). Ketiga, beralih dari managemen top-down, kepada managemen bottom-up, sehingga jemaat yang ada dalam segala pergumulan hidupnya tetap dihargai karena mereka adalah domba dari Kristus, jemaat dan gembala/majelis semuanya adalah kawan sekerja Allah.
 
MODEL MISI PERKOTAAN RASUL PAULUS DI KORINTUS
Model Misi Perkotaan yang dilakukan oleh rasul Paulus di Korintus menjadi suatu bentuk pelayanan misi, yang kontekstual. Adapun bentuk model misi perkotaan yang dilakukan Paulus adalah “menjadi seperti”. Dengan menjadi seperti, memudahkan dalam pendekatan untuk menyampaikan kabar baik. Tetapi patut diperhatikan dan digaris-bawahi, bahwa dalam model pendekatan ini jangan sampai kebablasan, yaitu kehilangan kontrol diri. Ada rambu-rambu yang harus diperhatian, di mana firman Allah adalah sebagai tolok ukur. Dan tujuan dari pelaksanaan model misi ini adalah memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi kemuliaan nama Tuhan. Untuk terwujudnya akan hal ini, maka makna dari “menjadi seperti” dapat pula berarti bahwa umat Krisrtus dapat menjadi teladan, sebagai kesaksian yang hidup bagi orang lain. Pelayanan misi perkotaan harus menjadi perhatian gereja. Karena di perkotaan itu terdapat multikompleks permasalahan. Yang paling menyolok adalah adanya kesenjangan sosial, yang membuat orang lain enggan dekat dengan gereja. Belum lagi keegosian, yang mementingkan kepentingan pribadi, membuat ketidak-pedulian dengan sesama. Tetapi dengan konsep yang dilakukan Paulus, yaitu “menjadi seperti”, dapat menciptakan keterbukaan dengan orang lain. Di sinilah kesempatan untuk dapat menjadi saksi. Yang tidak kalah penting dalam pendekatan secara kontekstualisasi ini adalah bahwa firman Allah menjadi barometernya. Jangan sampai firman Allah yang menyesuaikan diri dengan budaya. Dengan menjadi seperti, bisa saling memahami, dan berempati, yang tentunya dilandasi dalam kasih Kristus, sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain.
 
PASTORAL KONSELING PSIKOLOGI ALKITABIAH BAGI PEREMPUAN YANG TELAH MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS SEBELUM MENIKAH
Pertama, Pelayanan pastoral konseling merupakan pelayanan yang efektif untuk memahami dan menolong jemaat dalam setiap persoalan mereka. Secara khusus para hamba Tuhan harus memberikan pelayanan pastoral konseling bagi jemaat yang memiliki pergumulan khusus salah satunya bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah, supaya jemaat dikuatkan, jiwanya diselamatkan dan mengalami pemulihan di dalam Tuhan. Dalam melakasankan pastoral konseling bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah perlu menggunakan pendekatan psikologis Alkitabiah. Psikologi Alkitabiah dapat diterapkan para konselor Kristen untuk memudahkan memahami pikiran, perasaan dan keadaan yang sedang dialami konseli. Maka, psikologi berguna sebagai prinsip pendekatan supaya konseli dapat lebih terbuka, sehingga tujuan pastoral konseling itu sendiri dapat tercapai. Kedua, Perempuan merupakan ciptaan Tuhan yang mulia, berharga dan istimewa di hadapan Allah. Perempuan juga memiliki natur segambar dan serupa dengan Allah sehingga perempuan sehakikat dengan laki-laki. Tuhan menciptakan perempuan memiliki peranan sebagai penolong bagi suami, mengajarkan kebenaran kepada anak dan memberikan hidup untuk melayani Tuhan. Kemudian seks adalah merupakan ciptaan Tuhan yang baik bagi manusia. Tuhan punya tujuan menciptakan seks bagi manusia agar manusia memiliki keintiman, satu keastuan dan kenikmatan. Seks yang berkenan kepada Allah ialah hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan suami-istri yang sudah diberkati dalam pernikahan kudus. Seks menurut Alkitab memiliki dimensi prokreasi, dimensi relasi, dimensi rekreasi dan dimensi refleksi. Namun, fakta membuktikan bahwa seks seringkali dipahami secara salah oleh sebagian manusia. Kosekuensi logis dari pemahaman seks yang salah akan menimbulkan hubungan seksual yang terlarang misalnya hubungan seks sebelum menikah. Secara khusus perempuan melakukan hubungan seks sebelum menikah, memiliki beberapa faktor diantaranya pertumbuhan biologis, pacaran, pelecehan seksual, teknologi dan sebagainya. Perilaku hubungan seks sebelum menikah akan berdapak terhadap spritual, psikologi, fisik dan sosial. Ketiga, Kasus perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah adalah dosa yang sangat serius di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menginzikan hubungan seksual di luar penikahan kudus. Dosa seks sebelum menikah mengakibatkan seseorang berstatus manusia berdosa di hadapan Allah. Perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah permasalahannya bisa diselesain dengan metode pastoral konseling yang tepat. Berdasarkan hasil temuan penelitian di lapangan mengenai faktor dan dampak hubungan seks sebelum memikan, maka cara untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan menerapkan model pastoral konseling psikologi Alkitabiah bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah
 
POLA PEMBINAAN BERDASARKAN EFESUS 5 : 22- 33 BAGI PERNIKAHAN DINI WARGA JEMAAT MASA KINI
Berdasarkan acuan pada kajian teoritik dan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sesuai fokus dan subfokus peneliti mengenai exegese Kitab Efesus 5:22-33 sebagai pola pembinaan bagi pernikahan, maka ditemukan sebab-sebab lemahnya penerapan pola pembinaan bagi pernikahan di Gereja Bala Keselamatan Desa Pani’i dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Pernikahan yang baik adalah komitmen total dari dua orang di hadapan Tuhan dan sesama. Pernikahan yang baik didasarkan pada kesadaran bahwa pernikahan ini adalah kemitraan yang mutual. Pernikahan yang baik juga melibatkan Tuhan secara proaktif di dalam setiap pengambilan keputusan, sebab pernikahan adalah sebuah rencana ilahi yang istimewa. Dengan demikian, pernikahan seharusnya tetap dijaga dan dipertahankan di dalam kekuatan Roh yang mempersatukan kedua insan. Kedua menurut penulis pola pembinaan dalam pernikahan merupakan suatu metode yang paling efektif dalam memberikan pembekalan kehidupan suami istri melalui konseling pranikah dimulai dari pengertian tentang hakekat pernikahan kristen, mengetahui pernikahan itu adalah rencana dan rancangan Allah dalam hidup manusia, dan pentingnya pola diterapkan pada setiap pelayanan diharapkan dapat membuat pelayanan menjadi berkualitas. Setiap gereja memiliki pola yang menjadi ciri dalam pelayanannya, bukan hanya sekedar untuk membuat pelayanan kelihatan aktivitasnya namun untuk dapat memaksimalkan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan jemaat. Ketiga, pola pembinaan pernikahan Kristen yang telah menjadi bagian dari pelayanan gereja ini sejak lama tidak diterapkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan ibadah yang mengedepankan pembinaan pemuda dalam menghadapi pergaulan dan perencanaan masa depan memlalui rencana penikahan yang ada pada dasarnya memiliki pola pengajaran yang sama. Hanya disebagian ibadah ketegorial yang memiliki sedikit perbedaan. Penyebabnya adalah hamba Tuhan tidak dapat melihat tanda-tanda perubahan zaman dan menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi jemaat yang juga berubah. Hasilnya jemaat menjadi kurang peduli pentingnya pembinaan pernikahan Keempat, pola pembinaan pernikahan tidak mendapat perhatian dari hamba Tuhan dan kurangnya pemahaman dari hamba Tuhan mengenai pola pembinaan disebabkan kurangnya pengalaman dalam pembinaan, dalam hal ini hamba Tuhan harus terus meningkatkan dan memperlengkapi diri melalui buku-buku serta perlunya berelasi dengan gereja lain atau hamba Tuhan baik dari denominasi yang sama maupun dari denominasi gereja yang berbeda. Kelima, pembinaan melalui koseling merupakan pembelajaran khusus yang bertujuan untuk membentuk pasangan suami istri sampai akhirnya mereka memahmi benar arti sebuah pernikahan Kristen dan menjalani hidup sebagai pasangan suami istri. Hamba Tuhan harus menerapkan pola yang dapat membuat pasangan suami istri merasa dewasa dalam menjalani kehidupan berumah tidak kehilangan esensi dari pembelajaran itu sendiri. Dalam penerapan pola ini, pemberitaa melalui firman Tuhan didaarkan pada kitab Efesus 5:22-33. Pola itu, sesungguhnya di zaman ini sangat diperlukan dikarenakan pengaruh-pengaruh sekuler yang begitu cepat mempengaruhi prilaku hidup dalam pernikahan yang dipengaruhi oleh: (1) Kekuatan Teknologi yang cepat sehingga antara kebutuhan dan keinginan tidak sesuai; (2) Komunikasi yang tidak harus dibangun ,justru membuat keretakan hidup suami istri dengan adanya perselingkuhan; dan (3) Tayangan-tayangan yang tidak lagi terbatas dapat disaksikan sehingga membentuk pola kehidupan yang tidak lagi mengutamakan kesucian hidup. Lemahnya pelayanan ini juga disebabkan: (a) Karena gereja kurang peduli akan pentingnya pembinaan sejak awal arti pernikahan Kristen (b) Gereja terlalu sibuk mengurusi hal-hal kegiatan gereja saja dan mulai meninggalkan perhatian kepada kehidupan keluarga. (c) Gereja tidak melaksanakan pola pembinaan sejak muda kepada pemuda-pemudi gereja untuk mempersiapkan hidup dalam berumah tangga (d) Karena kurang memperlengkapi diri, gereja tidak dapat menerapkan pola yang ada dalam Alkitab, sesungguhnya ada pola yang sangat ideal yang dapat diterapkan dalam pelayanan
SOROTAN YOHANES 17:20-23 TENTANG KESATUAN ALLAH DAN MANUSIA TERHADAP MISTIK TOENGGOEL WOELOENG
Bila kita tinjau mistik Toenggoel Woeloeng dalam terang firman Tuhan, secara khusus dari Yoh. 17:20-23, maka jelaslah bahwa konsep Toenggoel Woeloeng mengenai dirinya sebagai Kanjeng Rama Ana atau Kristus yang kelihatan adalah tidak alkitabiah sehingga tidak dapat dibenarkan karena hal itu merupakan sinkretisme. Hal ini dilatarbelakangi bahwa ia adalah seorang Jawa yang tidak mau meninggalkan kebiasaan nenek moyangnya yang telah berurat akar dalam masyarakatnya. Ia beranggapan bahwa pelajaran yang diberikannya sesudah ia menjadi seorang Kristen tidaklah jauh berbeda dengan apa yang diberikannya di lereng Gunung Kelud. Dengan menyebut dirinya sebagai Kanjeng Rama Ana sebenarnya dapatlah disimpulkan bahwa dia sedang memposisikan dirinya sebagai “manusia sempurna” dalam pengertian mistik Jawa. Itu berarti bahwa dia adalah representasi dari Allah Bapa, atau dengan kata lain ia sedang menyejajarkan dirinya dengan Kristus. Sehingga tidaklah mengherankan kalau dia mengajarkan bahwa setiap bangsa yang menjadi Kristen harus punya pemimpinnya sendiri yang dapat dilihat. Bahwa orang Jawa bergabung dengan penginjil Eropa adalah salah: mereka harus menjadi orang Kristen Jawa dan mencari Kristus-nya “sendiri”. Oleh sebab itu, para murid Toenggoel Woeloeng mengharapkan bahwa Ratu Adil akan datang di sekitar Bondo. Pengajarannya lebih mudah diterima oleh orang Jawa, sehingga pengikutnya banyak, bahkan ia dipuja-puja oleh pengikutnya sebagai kiai dan dianggap sakti serta punya kekuatan magis karena ia punya kesaktian dari pertapaanya di Gunung Kelud
PEMULIHAN ALKITABIAH TERHADAP KONSEP DIRI IRASIONAL KAUM MUDA
Pertama konsep diri adalah pandangan manusia tentang diri sendiri yang meliputi dimensi pengetahuan tentang diri sendiri, pengharapan mengenai diri sendiri dan penilaian tentang diri sendiri baik secara fisik, psikis, sosial, intelektual, moral maupun spiritual dalam seluruh kehidupannya. Setiap pribadi manusia bisa mengalami konsep diri irasional termasuk kaum muda baik; laki-laki maupun perempuan namun konsep diri irasional bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Sebab konsep diri berkembang terus sepanjang hidup manusia, namun bisa kembali normal setelah menemukan konsep diri yang tepat sesuai persfektif Allah. Konsep diri irasional muncul dalam diri seseorang karena faktor pembentukan yang mempengaruhi; bisa melalui pola asuh orang tua, lingkungan, dan pengalaman yang dinilai dalam dirinya dan menentukan itulah penilaiannya terhadap dirinya. Dampak yang diperlihatkan oleh priibadi yang mengalami konsep diri irasional tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab dan bisa membahayakan dirinya karena itu mempengaruhi spritual – gangguan mental dalam dirinya. Oleh sebab itu setiap pribadi yang mengalami konsep diri irasional perlu ditangani dan dilayani. Kedua, konsep diri pada manusia bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan ini dalam pandangan Alkitab sangat jelas. Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, manusia sangat dikasihi, dihargai dan berharga dalam pandangan Tuhan. Seperti apapun kehadiran pribadi dalam dunia, Allah mengetahui dan sudah memiliki rancangan yang indah. Karena itu seharusnya manusia memiliki penilaian terhadap konsep dirinya sesuai persfektif Allah. Tidak dapat dipungkiri akibat dosa manusia salah dan cenderung untuk melakukan kesalahan dalam menilai Tuhan dan dirinya yang berakibat manusia memiliki konsep diri irasional. Namun Allah terus mencari dan menawarkan keselamatan (Yohanes 3:16) supaya manusia tidak binasa dan dipulihkan Tuhan untuk keberadaannya. Tujuan Allah pada setiap pribadi ialah semakin bertumbuh menyerupai Kristus (Efesus 4:13-15) karena manusia dikasihi dan berharga (Yesaya 43:4). Ketiga, dalam penelitian didapati bahwa kaum muda di GPIN Bandar Lampung ada yang mengalami konsep diri irasional. Kondisi yang diperlihatkan dan teraktualisasi sangat memprihatinkan. Karena itulah peneliti mencoba menawarkan pelayanan untuk menangani pribadi-pribadi yang mengalami konsep diri irasional dengan Model Pemulihan Alkitabiah sebagai langkah-langkah untuk memulihkan kehidupan pribadi yang mengalami konsep diri irasional. Keempat, oleh sebab itu setelah mengadakan penelitian melalui wawancara kepada informan yang terkait baik kepada kaum muda yang mengalami konsep diri irasional, orang tua, gereja atau gembala jemaat, dan psikolog. penulis menyimpulkan bahwa, 1) Penanganan kepada kaum muda yang mengalami konsep diri irasional tidaklah mudah sebab pribadi ini tertutup dan tidak bersedia untuk siapa pun masuk dalam kehidupan pribadinya karena mengganggap dirinya benar dan bertindak benar meskipun secara sadar mengakui bahwa tidak nyaman dengan kehidupannya saat ini. 2) Tidak dapat dipungkiri keterbatasan dan kelemahan dalam penangan kepada pribadi yang mengalami konsep diri irasional sudah dilakukan oleh gereja dan orang tua. 3) Model Pemulihan Alkitabiah memang dipakai dalam melayani namun cenderung kepada konseling pribadi atau konseling Kristen (memecahkan masalah) bukan pemulihan (dari dosa – masa lalu – mempersiapkan untuk berani menghadapi kenyataan dan keyakinan bahwa Tuhan bersama dengan dirinya)
PERSEPULUHAN MENURUT MALEAKHI 3:7-12
Kitab Maleakhi menyatakan ketertinggalan bangsa Israel dalam mewujudkan ketaatannya kepada Allah. Meskipun demikian Allah tetap mengasihi mereka. Maleakhi mengajak bangsa ini untuk memulihkan hubungan mereka dengan Tuhan dengan cara memulihkan kerohanian mereka. Tidak hanya kepada seluruh suku, tetapi juga sampai kepada pelayan Tuhan yaitu Lewi dan Imam. Maleakhi berbicara dalam otoritas ucapan ilahi. Taurat adalah pemberian Tuhan untuk mengatur prilaku bangsa Israel sebagai umat kepunyaan Allah. Persepuluhan adalah bentuk peribadatan dan wujud keaktifan dalam mendukung kegiatan keimamatan dalam bait Allah. Pengabaian persepuluhan berdampak kepada terhambatnya pelayanan karena para imam bekerja bagi nafkah mereka masing-masing. Taurat itu sendiri tidak hanya berlaku kepada bangsa Israel, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain yang percaya kepada YHWH. Perbuatan baik adalah penting, tetapi persepuluhan juga penting. Tidak boleh mengabaikan salah satunya. Suku Lewi tidak menerima persepuluhan sebagai upah, tetapi sebagai warisan. Persepuluhan adalah wajib. Tidak memandang pekerjaan ataupun tingkat penghasilan. Suku Lewi hidup dari persepuluhan, namun mereka juga memberikan persepuluhan terbaik mereka kepada para imam. Bangsa Israel telah menghina Tuhan, khususnya para imam dengan tidak hormat dan tidak takut kepada Tuhan. Hidup mereka sudah jauh bertentangan dengan hukum Tuhan dengan mempersembahkan persembahan yang tidak layak, kawin-cerai dan kawin campur dengan bangsa kafir. Mereka juga berbicara dengan sembarangan memuji orang-orang gegabah dan fasik. Tuhan mengingatkan mereka bahwa ada hari penghakiman dan penghukuman bagi orang angkuh dan berbuat jahat, namun juga hari kemenangan bagi orang benar. Dalam menjalankan persepuluhan memerlukan kesungguhan seperti yang diteladani dari Abraham (dan Yakub). Persepuluhan Musa juga memandang kepada teladan Abraham. Persepuluhan harus jujur dan utuh. Sejak nenek moyang mereka, bangsa Israel sudah mengesampingkan ketetapan Tuhan. Masalah ini akan tetap berlangsung jika mereka tidak bertobat. Mereka juga sudah lama tidak menjalankan persembahan persepuluhan sehingga tempat perbendaharaan tidak terisi dan tidak ada makanan bagi orang Lewi. Tuhan kecewa kepada Lewi dan Imam yang mengabaikan tugas mereka dan bertindak dengan pandang bulu. Mereka gagal memberikan instruksi yang benar dalam Taurat. Mengakibatkan Bangsa Israel bertindak menyimpang dan tidak tahu bahwa itu salah. Bangsa ini hancur dalam ketidaktahuan. Mereka merampok Allah dengan terus menerus tidak memberikan persepuluhan dan persembahan. Tindakan itu sudah menjadi kebiasaan buruk (profesi). Maleakhi menyerukan pertobatan dan supaya bangsa Israel mengingat kembali akan kesetiaan Tuhan. Mereka dituduh telah merampok Tuhan karena lalai pada persepuluhan dan persembahan khusus yang adalah nafkah para imam. Persepuluhan adalah serius, sehingga dengan tidak memberikannya sama saja dengan merampok Tuhan. Cara untuk kembali kepada Tuhan di antaranya adalah dengan menghiraukan persepuluhan. Bangsa Israel tidak memberikan persepuluhan atau memberikan namun tidak sebagaimana seharusnya. Kesulitan ekonomi menjadi alasan bangsa Israel untuk tidak memberikan persepuluhan. Mereka merasa dirinya begitu susah sehingga layak jika bertindak tidak hormat kepada Tuhan. padahal justru pengabaiannya terhadap persepuluhan itulah yang membuat berkat mereka terhambat. Mereka tidak sadar bahwa tindakan mereka justru memperburuk keadaan karena mendatangkan pengadilan, peringatan dan kutuk dari Tuhan. “Dengan kutukan kamu terus menerus dikutuk, tetapi masih tetap terus menerus merampok Tuhan”. Kutuk itu mengikat dan membatasi berkat. Bangsa Israel menjadi bangsa yang besar karena Tuhan, namun mereka tetap merampok Tuhan. Orang yang tidak tahu bagaimana memberi, maka mereka akan menerima makin lama makin sedikit. Tuhan meminta mereka menguji Dia dengan persepuluhan karena Ia pasti memulihkan perekonomian mereka. Berkat akan dicurahkan berlimpah sampai tidak lagi diperlukan. Tuhan adalah sumber penghidupan mereka, karena itu memberikan persepuluhan tidak mengurangi penghasilan mereka, justru lebih. Allah memerintahkan agar kembali melakukan persepuluhan yang lama diabaikan ke Bait Allah yang adalah rumah perbendaharaan. Ketaatan mereka memenuhinya adalah wujud ketaatan kepada Allah. Ada jaminan bagi yang taat. “Ujilah Aku” perintah Tuhan sebagai bukti kesetiaan-Nya. Bangsa Israel meragukan pemeliharaan Tuhan dalam ketidaktahuan mereka, karena itu tantangan dari Tuhan ini muncul. Mereka bertanggungjawab jika Imam dan Lewi kelaparan karena absen nya persepuluhan. Karena memberi persepuluhan semata-mata karena menghormati Tuhan. Kegagalan persepuluhan sebenarnya berakar kepada kekikiran karena tidak percaya/ meragukan Allah. Memberikan Persepuluhan merupakan bentuk ketaatan. Allah adalah sumber berkat dan hanya dirasakan oleh orang yang takut kepada-Nya. Berkat adalah Kekuatan dari Allah yang datang dari Allah yang mendatangkan keberuntungan dan kekayaan bagi manusia. Tuhan menjaga sumber penghasilan umat-Nya. Tuhan akan menghardik belalang pelahap tidak hanya saat ini tetapi seterusnya. Allah mengusir binatang pelahap agar tidak merusak hasil panen mereka. Negeri itu menjadi negeri kesukaan karena tanah tersebut menjadi berkat bagi setiap orang dan setiap orang menjadi kesukaan atas negeri.